• Tidak ada hasil yang ditemukan

TANGGAPAN TERHADAP RESENSI BERNARD LEWIS 17

Dalam dokumen KONTROVERSI ORIENTALISME DALAM STUDI ISLAM (Halaman 83-89)

S

aya memiliki sedikit keluhan terhadap resensi Bernard Lews berjudul “The Question of Orientalism,” ter­

hadap karya Edward W. Said Orientalism. Menyangkut kritikan tajamnya terhadap masing­masing poin yang dikemukakan oleh para anti­orientalisme dan juga elaborasi umumnya tentang banyak hal dan penyelesaian yang kompleks oleh para sarjana yang bangga disebut sebagai orientalis. Dalam hal keduanya, Lewis hampir­hampir semua nya benar. Hal demikian harus diterima, sejauh ia secara jujur mengakui kecurigaan­ kecurigaan yang mungkin memang tidak bisa dihindari. Jika tidak, maka

17 Diambil sepenuhnya dari Respons Oleg Grabar (Profesor dari Harvard University) terhadap resensi yang ditulis Bernard Lewis, terbit di The New York Review tanggal 24 Juni 1982 halaman 46.

para sarjana terkemuka dan juga yang biasa dan juga secara anakronik akan terjadi penggunaan yang salah menyangkut label­label tertentu seperti ahli Arab (Arabist) atau juga orientalis. Yang paling penting dari semua itu, Profesor Lewis secara absolut juga benar, ketika menekankan satu pandangan bahwa terdapat satu level kegiatan akademik yang sama sekali tidak mengenal dan bebas dari ideologi, etnik, kebangsaan, atau batas­batas budaya, bahkan hingga batas­batas tertentu bisa dipahami, jika para praktisi yang secara individual kadangkala salah dengan melakukan kecurigaan dalam arti sempit dan terbatas, atau salah menempatkan dirinya terhadap aliansi­aliansi intelektual.

Namun demikian, Profesor Lewis tidak secara sungguh­

sungguh mengajukan pertanyaan­pertanyaan fundamental mengapa gerakan anti­orientalis sangat berhasil, walaupun telah ada resensi negatif dari para ahli. Hal ini sekaligus sesuai dengan hal yang berakar secara mendalam pada pemikiran­pemikiran begitu banyak sarjana dari dunia Islam, baik yang masih muda maupun yang sudah relatif berusia. Semua ini tidak bisa dijawab dengan sekedar menunjuk kesalahan­kesalahan dan juga kesalahpahaman yang ada. Alinea­alinea awal pada artikel Profesor Lewis yang mengusulkan satu model kajian­kajian klasik yang bersifat revisionis untuk kemudian diaplikasikan secara adaptif terhadap hal­hal yang nampaknya telah terjadi dalam kajian­kajian Islam. Semua ini merupakan suatu karikatur yang tidak layak dan tidak pantas (tetapi juga menarik), menyangkut fenomena yang tidak bisa dikatakan sekedar sebagai reaksi murahan terhadap sesuatu yang memuakkan

dan juga terhadap sesuatu yang secara bahasa atau mental dipandang sebagai intelektual yang sempit. Walaupun saya setuju dengan Profesor Lewis bahwa bukunya V.S.

Naipaul merupakan suatu gambaran menarik (tetapi juga menyakitkan), tentang dunia Islam, sebagaimana nampak pada penilaian para intelijen luar (yang demikian saya rasa­

kan tetap benar), bahwa ini merupakan satu buku yang berasal dari orang luar, yang tidak mampu merasakan pen­

deritaan sekaligus harapan para penganut agama itu sendiri.

Bagi saya, nampaknya kata kuncinya adalah bahwa sebagian besar kita, para sarjana tentang Muslim masa lalu, baik para Orientalis Barat atau para Orientalis de l’interrieur, telah memisahkan satu masa lalu yang lengkap dan saling berkait (Turki Usmani, Mughal, Umayyah) dari fenomena saat ini. Namun demikian, banyak di antara kita telah seringkali mencoba untuk melompat dari kompetensi yang kita miliki pada masa lalu kepada penjelasan yang terkait dengan masa kini. Seberapa besar jumlah para sarjana Barat abad tengah yang terpanggil untuk menjelaskan budaya kontemporer saat ini? Pada sisi lain, kepada orang­

orang Islam yang muda dan kepada sejumlah orang Barat yang telah hidup dengan melalui guncangan dan konflik pada tahun­tahun belakangan ini di dunia Islam, isu yang muncul adalah bagaimana bisa melakukan rekonsiliasi dari kekacauan­kekacauan saat ini berdasarkan bayangan kita tentang masa lalu, baik yang benar atau yang tidak.

Dalam bidang saya, seni dan arsitektur, pertanyaan­

per tanyaan mendasar telah muncul. Mengapa bangunan­

bangunan pada model­model internasional saat ini telah

diterapkan secara paksa dengan begitu mudah terhadap arsitektur Islam tradisional di banyak kota? Apakah ada sesuatu yang secara fundamental bisa disebut Islam pada masa lalu yang bisa diekspresikan dalam terminologi­

terminologi saat ini? Apakah ada satu legitimasi untuk menginterpretasikan bentuk­bentuk Islam didasarkan pada kriteria­kriteria Barat? Semua ini bukan sesuatu yang aneh, bodoh, atau pertanyaan tidak berharga. Bahkan, jika hal­hal tersebut kadangkala disajikan dengan istilah­

istilah yang kasar dan tidak penting sekalipun. Semua ini bisa dimasukkan kepada penelitian yang orisinil untuk identitas diri pada dunia kontemporer saat ini yang dilawan secara sukses dengan suatu interpretasi tentang tradisi Muslim masa lampau. Adalah suatu kebodohan untuk menjelaskan Perancis kontemporer dengan menggunakan terminologi­terminologi yang berasal sejak masa Romawi hingga Gothik, tetapi inilah yang kita saksikan yang secara konsisten dilakukan dalam menghadapi masalah dunia Muslim. Hal demikian dilakukan baik oleh non­Muslim maupun Muslim, dengan pola saling mempengaruhi yang boleh jadi merupakan sesuatu yang terkait dengan kegiatan menarik para orientalis dengan pengetahuan yang berasal dari masa lalu. Serangan­serangan tehadap orientalisme pada sebagian besarnya merupakan hasil perasaan frustasi yang lahir dari kegagalan orientalisme untuk menyediakan jawaban­jawaban terhadap isi­isu kontemporer. Tentu saja yang demikian ini salah dalam upayanya mendapatkan jawaban­jawaban ini dari orientalisme, tetapi para orientalis telah (dan seringkali dijustifikasi) mengakui bahwa mereka

memiliki jawaban­jawaban dimaksud.

Pendek kata, semua pendapat Profesor Lewis benar da lam me nunjukkan kemajuan­kemajuan akademik dan, dengan berbagai cara, kualitas akademik dan keder­

mawa nan dari apa yang kita sebut orientalisme. Tetapi pada sisi lain Profesor Lewis telah memberikan gambaran tidak lengkap, bahkan bisa dikatakan tidak fair terhadap perasaan takut, khawatir dan juga harapan­harapan dunia Islam kontemporer yang juga merupakan perasaan genuin dan terhormat. Bahkan, jika hal itu diekspresikan melalui terminologi­terminologi sedih dan marah sekalipun.

Pelajaran yang mungkin dapat ditarik dari debat ini berupa: baik bagi orientalis maupun anti­orientalis harus mendefinisikan secara lebih jelas dan tajam dari apa yang telah mereka lakukan selama ini, baik menyangkut batasan­

batasan yang jelas dari kompetensi yang mereka miliki pada satu sisi, dan pertanyaan­pertanyaan yang mereka ajukan pada sisi lain. Dalam atmosfir saling menuduh yang berlangsung saat ini, hal demikian boleh jadi tidak mengandung pelajaran bagi kita; tetapi, jika terdapat suatu kekuatan pada kegiatan akademik tradisional, di situlah kita dapat mengetahui secara benar batasan­batasan dari semua yang kita maksudkan.

Dalam dokumen KONTROVERSI ORIENTALISME DALAM STUDI ISLAM (Halaman 83-89)

Dokumen terkait