• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENERAPAN DOKTRIN PIERCING THE CORPORATE VEIL PADA SUATU PERSEROAN TERBATAS

B. Tanggung Jawab dan Kewenangan Direks

1. Tanggung jawab direksi Menurut Munir Fuady :

Pada prinsipnya, direksi bertanggungjawab secara pribadi tidak hanya terhadap tindakannya yang dilakukannya dalam kapasitasnya sebagai pribadi, tetapi juga dalam hal-hal tertentu, terhadap perbuatan yang dilakukan dalam kedudukannya sebagai direktur perusahaan. Bahkan dalam kedudukannya sebagai direktur, dalam hal-hal tertentu, direksi bertanggungjawab tidak hanya atas tindakan yang dilakukannya sendiri, melainkan juga atas tindakan direktur lainnya, atau bahkan sampai batas- batas tertentu direksi bertanggungjawab juga atas tindakan orang lain yang bukan direktur yang dilakukan untuk dan atas nama perseroan.80

80

Selanjutnya Munir Fuadi mengatakan “Apabila oleh direksi dilakukan secara sah perbuatan tertentu dalam kedudukannya sebagai direksi perusahaan tersebut, dalam artian bukan dalam kapasitasnya selaku pribadi, maka dalam hal yang demikian direksi tersebut telah melakukan tindakan untuk dan atas nama perusahaan. Sehingga, tindakan yang demikian telah merupakan tindakan perusahaan”.81

Pada prinsipnya, setiap konsekuensi yuridis atas tindakan perseroan, baik atau buruk, akan dipikul sendiri oleh perseroan tersebut. Namun demikian, undang-undang mengenal juga beberapa pengecualian. Walaupun tindakan tersebut merupakan tindakan perseroan, akan tetapi terdapat kemungkinan bukan perusahaan yang bertanggungjawab, tetapi pihak lainnya. Misalnya direktur secara pribadi ataupun secara renteng.

Tanggung jawab direksi dapat dibedakan dalam :

1) Tanggung jawab internal, yang meliputi tugas dan tanggung jawab direksi terhadap perseroan dan pemegang saham perseroan; dan

2) Tanggung jawab eksternal, yang berhubungan dengan tugas dan tanggung jawab direksi kepada pihak ketiga yang berhubungan hukum langsung maupun tidak langsung dengan perseroan.82

a. Tanggung jawab direksi dalam Perseroan Terbatas

Direksi bertanggungjawab penuh atas pengurusan perseroan untuk kepentingan dan tujuan perseroan serta mewakili perseroan baik di dalam maupun

81 Ibid 82

di luar pengadilan. Jadi “selain bertanggungjawab penuh atas pengurusan, direksi juga bertindak mewakili perseroan (persona standi in judicio). Dalam menjalankan tugas untuk kepentingan dan usaha perseroan, maka setiap anggota direksi wajib dengan itikad baik (in good faith) dan penuh tanggung jawab (full

responsibility)”.83 Namun apabila tidak demikian, maka setiap anggota direksi bertanggungjawab penuh secara pribadi, apabila yang bersangkutan bersalah atau lalai dalam menjalankan tugasnya sebagaimana yang dibebankan dan diwajibkan kepadanya.

b. Tanggung jawab direksi kepada perseroan dan pemegang saham perseroan Tugas dan pertanggungjawaban direksi kepada perseroan dan pemegang saham perseroan dimulai sejak perseroan memperoleh status badan hukum sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (4) UUPT. Setiap kesalahan atau kelalaian anggota direksi dalam melaksanakan kewajibannya terhadap perseroan dan pemegang saham perseroan, memberikan hak kepada pemegang saham untuk:

1) Secara sendiri-sendiri atau bersama-sama, yang mewakili jumlah sepersepuluh pemegang saham perseroan melakukan gugatan untuk dan atas nama prseroan terhadap direksi perseroan, yang atas kesalahan dan kelalaiannya telah menyebabkan kerugian pada perseroan (derivative action);

2) Secara sendiri-sendiri melakukan gugatan langsung untuk dan atas nama pribadi pemegang saham terhadap direksi perseroan atas setiap keputusan atau tindakan direksi perseroan yang merugikan pemegang saham.84

83

I.G. Rai Widjaya, Op cit, hal. 215 84

c. Tanggungjawab kepada pihak ketiga

Tugas dan kewajiban direksi perseroan terhadap pihak ketiga terwujud dalam kewajiban direksi untuk melakukan keterbukaan (disclosure) terhadap pihak ketiga atas setiap kegiatan perseroan yang dianggap dapat mempengaruhi kekayaan perseroan.

Kewajiban-kewajiban itu adalah:

1) Dalam hal perseroan ingin mengadakan pengurangan atas modal dasar, modal dikeluarkan, ataupun modal disetor dari perseroan; 2) Dalam hal perseroan bermaksud untuk melakukan penggabungan,

peleburan dan pengambilalihan; 3) Dan bagi :

(a) Perseroan yang bidang usahanya berkaitan dengan pengerahan dana masyarakat;

(b)Perseroan yang mengeluarkan surat pengakuan hutang; (c) Perseroan terbuka.

direksi perseroan diwajibkan untuk menyerahkan hasil perhitungan tahunan perseroan untuk diperiksa oleh akuntan publik sebelum perhitungan tahunan tersebut disahkan oleh Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan. Dan segera setelah disahkan oleh rapat, diumumkan untuk kepentingan pihak ketiga. Khusus untuk perseroan terbatas terbuka, direksi perseroan juga diwajibkan untuk mengumumkan setiap maksud dan rencana penyelenggaraan Rapat Umum Pemegang Saham.85

Ketentuan tersebut di atas tidak menutup adanya kemungkinan permintaan pemberian data dan atau keterangan mengenai perseroan oleh pihak ketiga yang berkepentingan, berdasarkan pada perjanjian antara para pihak. Dalam hal-hal yang demikian tersebut di atas, direksi berkewajiban

85

untuk memberikan data dan atau keterangan tersebut secara benar dan akurat.

d. Tanggungjawab renteng antara sesama anggota direksi perseroan

Menurut sistem hukum di Indonesia, demikian juga hukum di kebanyakan negara yang menganut sistem Civil Law, hubungan antara direktur dengan perusahaan adalah bersifat kontraktual. Artinya, sungguhpun antara perusahaan dengan direkturnya tidak terdapat suatu kontrak tertentu, tetapi oleh hukum "dianggap" (fiksi) ada kontrak pemberian kuasa.86 Karena itu, hubungan antara direktur dengan perusahaan tidak merupakan hubungan antara "trustee" dengan "beneficiary" seperti dalam sistem Anglo Saxon.87 Sebagai konsekuensi yuridisnya, direktur sebagai pemegang kuasa tidak boleh bertindak melebihi dari kekuasaan yang diberikan kepadanya. Seberapa jauh kekuasaan diberikan kepadanya, dapat dilihat dalam anggaran dasar perusahaan yang bersangkutan. Apabila direktur bertindak melampaui wewenang yang diberikan kepadanya tersebut, direktur tersebut ikut bertanggungjawab secara pribadi. Jika perusahaan yang bersangkutan kemudian jatuh pailit, beban tanggung jawab tidak cukup ditampung oleh harta

86

Munir Fuady, III, 1996, Hukum Bisnis Dalam Teori dan Praktek, Buku Ketiga, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 93

87

Munir Fuady, IV, 1994, Hukum Bisnis Dalam Teori dan Praktek, Buku Kesatu, PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 59

perusahaan (harta pailit), maka direksipun ikut bertanggungjawab secara renteng.88

Dalam Pasal 14 ayat (1) UUPT dinyatakan bahwa :

Perbuatan hukum atas nama perseroan yang belum memperoleh status badan hukum, hanya boleh dilakukan oleh semua anggota direksi bersama-sama semua pendiri serta semua anggota dewan komisaris perseroan dan mereka semua bertanggungjawab secara tanggung renteng atas perbuatan hukum tersebut.

Terhitung sejak saat pengesahan, para pendiri perseroan terbatas tidak lagi bertanggungjawab secara tidak terbatas atas tiap perikatan yang dibuat untuk dan atas nama perseroan, dan hanya akan menanggung kerugian yang terbatas pada nilai seluruh saham yang dimilikinya. Selama pengesahan tersebut belum diperoleh, maka para pendiri (dan sekalian pengurusnya) bertanggungjawab sepenuhnya secara tanggung renteng atas setiap perbuatan hukum yang dilakukan untuk dan atas nama perseroan. Ketiadaan pengesahan itu tidak meniadakan perseroan yang hendak dibentuk, hanya saja sifat pertanggungjawabannya yang belum tidak terbatas.

Berdasarkan pada sifat pertanggungjawaban renteng tersebut, oleh kalangan ahli hukum, status hukum dari perseroan terbatas dalam pendirian diperlakukan sama dengan atau sebagaimana layaknya suatu persekutuan dengan firma, dimana para pengurus bertindak selaku kuasa dari para pendiri dalam menjalankan kegiatan atau usaha perseroan. Dengan ini berarti bahwa

88

selama harta kekayaan perseroan tidak mencukupi untuk menutupi seluruh kewajiban perseroan (dalam pendirian) tersebut, maka para pendiri (dan pengurus) bertanggung jawah secara pribadi untuk memenuhi seluruh kewajiban yang belum terlunasi.89