Tanggung Jawab Menghormati HAM (Responsibility to Respect) Kompetensi Akhir Peserta diharapkan dapat :
1. Memahami maksud dan pengertian penghormatan HAM oleh pelaku usaha (responsibility to respect);
2. Memahami upaya-upaya pelaku usaha dalam membuat kebijakan HAM di lingkungan aktivitas bisnisnya.
3. Memahami tanggung jawab perusahaan terhadap mata rantai bisnis (suppy chain);
4. Memahami pembangunan dan pelaksanaan penilaian dampak pada bidang usaha;
5. Mengetahui urgensi pemantauan dan pelaporan oleh perusahaan dalam skema bisnis dan HAM.
6. Mengerti mengenai konsep dan mekanisme akuntabilitas perusahaan terhadap penanganan resiko dampak negatif terhadap HAM.
Metode Ceramah dan diskusi
Alat Perlengkapan yang diperlukan
1. Komputer, proyektor, dan layar;
2. Audio;
3. Spidol dan kertas berwarna-warni.
Narasumber Narasumber mempunyai kriteria:
1. Mempunyai pemahaman mengenai pengertian, isi, dan penjabaran dari pilar kedua dari UNGP yaitu pertanggung jawaban pelaku usaha untuk
menghormati HAM;
2. Mempunyai pengetahuan dan pengalaman mengenai berbagai macam praktek pemantauan, penilaian, dan pelaporan oleh pelaku usaha dalam skema bisnis dan HAM;
Bahan
bacaan/literatur
1. Panduan Prinsip PBB Untuk Bisnis dan HAM;
2. Global Business Initative and Institute for Human Rights and Business, State of Play The Corporate Responsibility to Respect Human Rights in Business Relationships, (2012):
3. OHCHR, The Corporate Responsibility to Respect Human Rights: An Interpretative Guide, (2012).
Waktu Sesi 1: 90 Menit – Pemaparan Narasumber & Diskusi Sesi 2: 90 Menit – Pendalaman Materi
Tahapan Fasilitasi
A. Sesi 1: Pemaparan Narasumber & Diskusi
1. Untuk mengawali pertemuan, Fasilitator menyampaikan salam kepada peserta.
2. Fasilitator menjelaskan tentang tujuan pelajaran pada sesi ini dan bagaimana metode pembelajaran dilakukan.
3. Sebelum masuk ke dalam sesi pemaparan narasumber, disampaikan bahwa Sesi ini akan dibagi menjadi dua sesi. Sesi pertama adalah pemaparan narasumber. Sesi kedua adalah pendalaman materi berupa pemahaman terhadap pertanggung jawaban pelaku usaha untuk menghormati HAM.
4. Fasilitator mengundang Narasumber untuk hadir di forum pelatihan. Mintalah peserta memperhatikan materi yang akan disampaikan sebagai modal dasar untuk memahami materi-materi pelatihan selanjutnya.
5. Setelah menerima materi yang disampaikan oleh narasumber, fasilitator memimpin diskusi dan tanya jawab terkait dengan
materi. Bila tidak ada pertanyaan, maka berikan satu atau dua pertanyaan kepada narasumber untuk memperdalam tema-tema khusus dari materi yang penting untuk diperdalam.
6. Sebelum penutup sesi 1, fasilitator menegaskan kembali mengenai pertanggungjawaban pelaku usaha untuk menghormati HAM sebagai kesimpulan:
Pertanggung jawaban Pelaku Usaha untuk Menghormati HAM Secara umum, pelaku usaha memegang tanggung jawab untuk menghormati yang artinya pelaku usaha tidak melanggar HAM yang diakui secara internasional dengan menghindari, mengurangi, atau mencegah dampak negatif dari operasional bisnisnya. Secara sederhana, tidak mengancam hak asasi orang lain. Hal ini menjadi sebuah dasar ekspektasi untuk semua sektor usaha di segala situasi.
Dalam hal penghormatan terhadap HAM, pelaku usaha harus berkomitmen penuh untuk memenuhi aturan hukum dan kebijakan terkait bisnis dan HAM serta prinsip-prinsip HAM yang diakui secara universal di tempat bisnisnya beroperasi. Pelaku usaha juga harus memahami betul isu, permasalahan, dan risiko dampak pelanggaran HAM dalam ruang lingkup usahanya.
Pelaku usaha kemudian diharapkan mampu mengetahui, menghindari dan melakukan perbaikan/pemulihan atas dampak operasionalnya terhadap HAM. Konsep ini yang kemudian dikenal sebagai konsep uji tuntas HAM (human rights due diligence). Secara substantif, sebuah uji tuntas HAM menggunakan prinsip-prinsip HAM yang diakui secara internasional (seminimumnya: Kovenan Internasional mengenai Hak Sipil dan Politik, Kovenan Internasional mengenai Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya) dan Konvensi inti dari International Labor Organization/ILO (Deklarasi Universal ILO 1998 mengenai Hak-hak dan Prinsip-prinsip Mendasar di Tempat Kerja).
Tiga Kondisi Perusahaan Melakukan Pelanggaran HAM
UNGP menegaskan bahwa setiap perusahaan harus menghindarkan diri dari pelanggaran HAM orang lain dan harus mengatasi akibat HAM yang
dapat merugikan ketika menjalankan bisnisnya. Ada tiga kondisi perusahaan potensial melakukan pelanggaran HAM, yaitu:
1. Causing (menyebabkan), yaitu perusahaan sebagai aktor bisnis yang langsung menyebabkan terjadinya pelanggaran HAM.
2. Contributing (berkontribusi), yaitu perusahaan tidak bertindak langsung pada pelanggaran HAM, namun keberadaannya berkontribusi pada pelanggaran HAM. Hal ini biasanya terkait dengan supply chain.
3. Link in (memiliki hubungan), yaitu perusahaan bisa jadi tidak terlibat langsung sebagai pelaku atau tidak pula berkontribusi pada pelanggaran HAM, namun perusahaan terlibat dalam hubungan dengan perusahaan lain yang melakukan (menyebabkan atau berkontribusi) pelanggaran HAM.
Untuk itu, pencegahan terhadap pelanggaran oleh perusahaan ini dapat dilakukan dengan sejumlah cara, yaitu:
1) mengadakan komitmen kebijakan (policy commitment) yang mendukung tanggung jawab menghormati HAM;
2) menjalankan uji tuntas HAM (human rights due diligence) secara terus-menerus untuk mengidentifikasi, mencegah, mitigasi dan menghitung dampak HAM;
3) memiliki proses-proses yang memungkinkan remediasi (remediation) bagi dampak yang mengurangi HAM atas aktivitas dan kontribusi bisnis mereka.
B. Sesi 2: Pendalaman: Studi Kasus (Kerja Kelompok dan Presentasi) 1. Untuk memperdalam materi tersebut, masing-masing kelompok
diberikan satu kasus yang akan dibahas dalam kelompok.
Berdasarkan kasus tersebut, setiap kelompok harus menjawab bertanyaan-pertanyaan berikut:
a. Apa saja yang pelanggaran HAM yang terjadi dalam kasus tersebut dan siap yang terlibat? (mapping stakeholder)
b. Upaya apa yang harus dilakukan oleh perusahaan untuk mencegah terjadinya pelanggaran pertanggung jawaban HAM dengan mengacu pada tiga sebab potensial terjadinya pelanggaran di atas? (mapping preventive measurement)
2. Setiap kelompok diberikan waktu 10 menit untuk berdiskusi dan menuangkan hasil pembahasan kelompok di atas kertas plano.
3. Setelah selesai, fasilitator meminta perwakilan dari setiap kelompok untuk mempresentasikan hasil kelompoknya (masing-masing diberi waktu 5 – 10 menit untuk mempresentasikan hasil diskusinya).
4. Fasilitator dapat mempersilahkan kelompok lain untuk menanggapi atau mengajukan pertanyaan kepada kelompok yang mempresentasikan. Fasilitator dapat memancing diskusi lanjutan dari setiap presentasi yang dilakukan.
5. Setelah selesai semua, fasilitator dapat memberikan refleksi dan kesimpulan.
6. Fasilitator memberi salam sebagai penutup.
Contoh Kasus 1
Kasus Pekerja Anak di Sektor Perkebunan Kelapa Sawit Berdasarkan data PBB sekitar 168 juta anak-anak di dunia terperangkap sebagai pekerja anak dan banyak diantaranya berstatus pekerja purna waktu (full time). Mereka tidak bersekolah dan tidak punya banyak waktu untuk bermain. Banyak dari mereka yang tidak mendapatkan gizi dan pengasuhan yang baik. Lebih dari setengah jumlah mereka bekerja pada bidang kerja berbahaya, perbudakan, kegiatan melanggar hukum, seperti perdagangan obat-obatan terlarang, prostitusi, dan terlibat dalam konflik bersenjata (Menghapus Pekerja Anak, Kompas, Jumat, 16 Juni 2017).
Kondisi pekerja anak di Indonesia terutama di bidang perkebunan sangat memprihatinkan. Mereka rentan terhadap berbagai penyakit akibat lingkungan yang terkontaminasi akibat hasil pengolahan industri kelapa sawit. Semakin dekat pemukiman warga dengan area perkebunan akan semakin rentan terhadap penurunan kualitas kehidupan warga, karena pembukaan lahan yang berjuta hektar telah mengubah keseimbangan ekosistem alam. Hal ini menyebabkan penurunan kualitas hidup warga untuk memperoleh udara, air, keragaman pangan, dan sarana bermain anak. International Labour Organization memperkirakan lebih dari 1,5 juta anak Indonesia bekerja diperkebunan yang tersebar di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Nusa Tenggara Barat, dan wilayah timur Bali.
Seperti kasus yang terjadi di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Bimo (13 thn.) siswa SMP kelas I ini membantu ayahnya bekerja di Kebun Sawit Desa Urungpane, Sei Silau Timur. Bimo menjadi buruh harian lepas dengan gaji Rp25.000 per hari mengangkut sawit ke truk dan bekerja usai sekolah sekitar pukul 15.00 hingga petang.
“Awak udah sejak SMP kelas I bantu ayah. Lumayan, kalau dua truk satu hari dapat Rp50.000. Kalau satu minggu bisa bantu bayar sekolah” (Bimo, 13 th.).
Sulistyo (46 th.) sang ayah sebelumnya bekerja di pabrik mentega di Pematang Siantar namun perusahaan tersebut bangkrut yang menyebabkan Sulistyo sekeluarga pindah ke Asahan menjadi buruh angkut buah sawit.
“Tiga tahun lalu ada truk beko buat ngangkut buah sawit. Sekarang udah gak ada. Mungkin jika pakai beko biaya lebih mahal ketimbang pakai tenaga manusia lebih murah,” (Sulistyo 46 thn.).
Ternyata bukan Bimo saja yang bekerja, setidaknya ada 10 anak menjadi buruh harian lepas memanggul sawit. Modus perusahaan agar bisa lepas dari jerat hukum dengan melibatkan pihak ketiga atau dikenal dengan middleman. Jadi, jika terjadi sesuatu terhadap pekerja anak-anak, mereka mengelak dan mengatakan tidak ada hubungan kontrak kerja dengan pekerja. (http://www.mongabay.co.id/2014/12/17/kala-anak-anak-jadi-buruh-harian-pemanggul-sawit/).
Sampai saat ini belum ada regulasi jelas mengatur pekerja anak, meskipun ada beberapa aturan tentang spesifikasi beberapa pekerjaan khusus, dan kondisi yang harus diciptakan tanpa menghilangkan hak mereka untuk belajar dan mengembangkan diri. Namun pada prakteknya masih dijumpai pelanggaran-pelanggaran oleh pihak korporasi.
Khusus di perkebunan sawit, buruh diberi target cukup tinggi. Selain memanen juga mengambil gerondolan, mengangkut hingga memotong buah sawit. Tak jarang, orangtua atau suami melibatkan anak dan istri demi mencapai target produksi. Dampak dari target yang tinggi ini berakibat pekerja anak kehilangan hak-haknya untuk bertumbuh dan berkembang dengan layak.
Pemerintah juga meratifikasi berbagai instrumen internasional seperti melalui UU No. 1 Tahun 2000 tentang Konvensi ILO No. 182 Mengenai Pelarangan dan Tindakan segera Penghapusan Bentuk-Bentuk Pekerjaan Terburuk untuk Anak serta UU No. 20 Tahun 1999 tentang Pengesahan Konensi ILO No. 138 Mengenai Usia Minimum untuk Diperbolehkan Bekerja. Namun, pada implementasinya di lapangan masih banyak oknum yang mempekerjakan anak karena perusahaan dikejar oleh target produksi dan berorientasi pada keuntungan semata. Faktor kemiskinan pun membuat orang tua mengizinkan anak-anaknya untuk bekerja di perkebunan kelapa sawit untuk menambah pendapatan keluarga.
Kemudian dalam industri perkebunan sawit, Indonesia menjalankan dua standarisasi, yaitu: Sistem Sertifikasi Indonesian Sustainable Palm Oil (ISPO) yang diluncurkan pada bulan Maret 2011 sebagai sertifikasi nasional yang wajib di mana skema sertifikasinya dikelola oleh Pemerintah Indonesia (Kementerian Pertanian); dan standar RSPO.
Pada tahun 2004 dunia internasional membentuk Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO) di Zurich yang bertujuan mendorong pengelolaan kelapa sawit berkelanjutan yang membantu mengurangi deforestasi, melestarikan kekayaan alam, dan membantu masyarakat pedesaan di negara pengahasil kelapa sawit. Namun, RSPO hanya menjamin tidak ada hutang primer atau kawasan bernilai konservasi tinggi yang dikorbankan untuk perkebunan kelapa sawit.
Saat ini pihak RSPO Indonesia telah membentuk kelompok kerja yang mengkaji unsur HAM dalam pembaharuan standar. Kelompok kerja ini sudah mulai bekerja sejak awal 2017. Terkait tenaga kerja di bawah umur RSPO menggandeng UNICEF untuk merumuskan beberapa poin tambahan yang akan dimasukkan ke dalam RSPO. Hal ini dilakukan dalam rangka untuk memenuhi standar dan konvensi ILO. Harapannya perusaan kelapa sawit bisa memerhatikan kebutuhan anak seperti membuat sarana bermain anak, sarana pendidikan anak, dan perlindungan dari dampak aktivitas perkebunan kelapa sawit sehingga mereka dapat menikmati lingkungan ramah anak.
Contoh Kasus 2
Kasus Bidang Pariwisata di Labuan Bajo
Labuan Bajo yang terletak di Kabupaten Manggarai Barat di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu tulang punggung sektor pariwisata nasional. Ibukota kabupaten tersebut kemudian terpilih menjadi salah satu dari 10 destinasi pariwisata prioritas 2016. Namun, di balik perkembangan pariwisatanya yang pesat, Labuan Bajo memiliki berbagai masalah terkait tanah dan kepemilikan properti oleh warga negara asing yang bermuara pada pelanggaran hak asasi manusia.
Pembangunan pariwisata yang membutuhkan investasi asing untuk meningkatkan penerimaan negara menjadi akar masalah terkait tanah dan kepemilikan properti di Labuan Bajo. Kebutuhan akan hotel, restoran, dan resor meningkat. Investasi dari warga negara asing pun semakin banyak ditanamkan di Labuan Bajo. Implikasinya adalah permintaan tanah melonjak tajam. Banyak warga negara asing yang tidak hanya menanamkan investasi, namun juga membeli tanah bahkan dalam beberapa kasus membeli pulau di sekitar Labuan Bajo akibat mudahnya membuat sertifikat
tanah dan banyaknya calo tanah di sana.
(http://sp.beritasatu.com/home/timbulkan-konflik-klaim-atas-tanah-orang-sering-terjadi-di-labuan-bajo/118025) Hal ini tentu saja menunjukkan adanya penyalahgunaan hukum yang sering dilakukan dalam proses bisnis pariwisata di Labuan Bajo.
Kepemilikan tanah dan properti oleh warga negara asing di Labuan Bajo kemudian banyak menimbulkan masalah baru terkait banyaknya tanah yang bersertifikat ganda, tempat-tempat umum yang dijadikan hak milik pribadi, dan kerugian sosial yang dialami masyarakat lokal. Akibat dari aktivitas bisnis tersebut, masyarakat lokal terlanggar haknya.
Kepemilikan properti oleh warga negara asing tersebut kerap menimbulkan masalah baru terkait hak asasi manusia, terutama 8 hak di bidang ekonomi, sosial dan budaya yaitu hak atas kepemilikan, hak atas rumah serta pemukiman, hak atas keluarga, hak atas pekerjaan, hak atas kelangsungan hidup, hak atas air, hak atas kesehatan, dan hak atas pangan.
Banyak yang tidak mampu membeli tanah di Labuan Bajo karena harganya mahal (Rp 400.000,00 – Rp 1.000.000,00 per meter persegi) . Akses bagi masyarakat lokal di kawasan pariwisata tersebut pun menjadi terbatas sehingga aktivitas ekonomi terutama bagi nelayan menjadi terhambat.
Lingkungan hidup yang sehat pun semakin sulit untuk didapatkan karena aktivitas bisnis pariwisata yang ada menimbulkan berbagai kerusakan lingkungan mulai dari pencemaran air hingga kerusakan terumbu karang.
Hal ini jelas menunjukkan bahwa aktivitas bisnis di Labuan Bajo melanggar hak asasi manusia masyarakat lokal.
Berdasarkan hal tersebut dibutuhkan pendataan kembali oleh pemerintah atas seluruh warga negara asing yang memiliki properti di Indonesia, khususnya yang memiliki bisnis berskala besar nasional maupun internasional terkait pariwisata di Labuan Bajo. Selain itu, pelaku usaha pariwisata di Labuan Bajo pun harus melakukan pemulihan atas hak-hak yang terlanggar. Pemulihan ekonomi, sosial, dan lingkungan kemudian menjadi tanggung jawab perusahaan.
Terkait pemulihan lingkungan, Menko Kemaritiman telah melakukan upaya dalam menangani sampah di Labuan Bajo dengan melalui koordinasi dengan LHK, Kementerian Kehutanan, Dinas Pariwisata setempat, serta PT Pupuk Indonesia. Pemerintah Kabupaten Manggarai Barat tersebut akan membuka lahan seluas 10 Ha untuk mengelola limbah pariwisata yang akan dijadikan pupuk. Upaya pemerintah lainnya yaitu otoritas penyelenggara pelabuhan Labuan Bajo mengeluarkan surat edaran bagi kapal-kapal yang bersandar di pulau tersebut untuk menjaga kebersihan.
(https://kupang.antaranews.com/berita/5653/upaya-membersihkan-labuan-bajo-dari-noda-sampah)
Contoh Kasus 3
Kasus Bekas Tambang di Kalimantan Timur
Propinsi Kalimantan Timur adalah salah satu provinsi utama penghasil batu bara. Terdapat 1.488 izin usaha pertambangan (IUP) yang dikeluarkan oleh pemerintah daerah, baik pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota.
Selain IUP, juga terdapat izin tambang yang diterbitkan oleh pemerintah pusat melalui Kementerian ESDM yang disebut Perjanjian Kerjasama Pertambangan Batubara (PKP2B) sebanyak 33 perjanjian. Total luas tambang mengkapling 7,2 juta Ha atau 70% dari 12,7 juta Ha daratan Kaltim.
Dampak dari obral izin pertambangan ini adalah tumpang tindih antar kawasan dan tambang di kawasan padat pemukiman. Lubang-lubang eks
tambang telah meninggalkan air beracun dan logam berat.
Berdasarkan laporan Komnas HAM, selama kurun waktu 2011 s.d.
pertengahan 2016, tidak adanya upaya yang serius dari pemerintah maupun pelaku usaha dalam upaya penanganan terhadap kegiatan reklamasi dan pasca tambang di Kalimantan Timur sehingga menyebabkan jatuhnya puluhan korban jiwa dan kerusakan atas lingkungan. Korban jiwa mencapai 25 orang yang sebagian besar adalah anak-anak. Sebanyak 24 orang masuk ke bekas lubang tambang dan 1 orang balita terpeleset di daerah pertambangan sehingga kaki harus diamputasi namun sayangnya bocah tersebut tidak dapat bertahan hidup.
Akibat pembiaran pemerintah dan pelaku usaha pada persoalan ini, masyarakat hidup dalam ancaman persoalan. Saat ini masyarakat memasang pipa-pipa air ke lubang-lubang bekas tambang itu untuk kebutuhan air sehari-hari. Padahal air yang mereka ambil itu sarat dengan kandungan logam berat. Di sekitar kawasan lubang-lubang bekas tambang juga tidak dipasang tanda peringatan bahaya.
Proses penegakan hukum terkait masalah ini pun belum menjangkau luasnya persoalan maupun jumlah korban. Sejauh ini hanya satu kasus yang diproses secara hukum dan pelaku hanya mendapatkan ganjaran 2 (dua) bulan penjara karena kasus semacam ini hanya diidentifikasi sebagai kelalaian (tipiring), bukan tindak pidana umum.
Potensi pelanggaran HAM dalam pertambangan tersebut tidak hanya terkait tenggelamnya 25 orang di bekas tambang batubara di Kalimantan Timur yang terkait dengan pelanggaran hak atas hidup, namun juga dapat dilihat melanggar hak atas kesehatan dan lingkungan yang sehat, hak untuk memperoleh keadilan, hak atas rasa aman, serta hak anak. Dalam hal ini dapat dilihat bahwa belum adanya hukum atau peraturan yang mengatur tanggung jawab pemerintah dan pelaku usaha terhadap HAM turut melestarikan pelanggaran HAM yang terjadi.
Terkait upaya pemerintah untuk mengatur pertambangan, Pemerintah Indonesia sudah mengeluarkan UU No. 4 Tahun 2009 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara yang ditindaklanjuti dengan PP RI No.
22 Tahun 2010 tentang Wilayah Pertambangan, PP RI No. 23 Tahun 2010 tentang Pelaksanaan Kegiatan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara, serta PP No. 5 Tahun 2010 tentang Pembinaan dan Pengawasan
Penyelenggaraan Pengelolaan Usaha Pertambangan Mineral dan Batubara.
Ada pula Peraturan Daerah No. 1 Tahun 2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup serta Peraturan Gubernur Kalimantan Timur No. 17 Tahun 2015 tentang Penataan Pemberian izin dan Non Perizinan Serta Penyempurnaan Tata Kelola Perizinan di Sektor Pertambangan, Kehutanan, dan Perkebunan Sawit di Kalimantan Timur.
Kasus 4
Kasus NIKE di Indonesia
Indonesia tidak hanya kaya akan sumber daya alam, namun Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar ke- 4 dunia juga menyumbang sumber daya manusia sebagai tenaga kerja produktif murah dan siap pakai.
Kondisi ini dilirik oleh perusahaan multinasional NIKE Inc untuk menjalankan operasinya di Indonesia yang dimulai pada tahun 1988.
Beberapa perusahaan di Indonesia yang bekerja sama dengan NIKE Inc.
antara lain PT Hardaya Aneka Shoes Industri dan PT Naga Sakti Parama Soes Industri. Dalam perkembangannya, persaingan dalam industri sepatu olah raga baik di tingkat dunia maupun pada tingkat nasional sangat kompetitif. Kedua PT tersebut dituntut untuk senantiasa meningkatkan mutu produk serta meningkatkan efektifitas dan efisiensi proses produksinya. Kondisi ini mengakibatkan pemenuhan hak-hak pekerja tidak dipenuhi, dimana pekerja dituntut lebih produktif namun hak-haknya diabaikan demi efisiensi biaya produksi. Misalnya, pada tahun 2001, manajer pabrik yang membuat produk Nike di Indonesia dituduh melakukan pembatasan layanan kesehatan, sistem produksi yang tinggi polusi dan kerja lembur.
Pada akhirnya di tahun 2007, Nike Inc. melakukan pemutusan hubungan kontrak dengan beberapa PT yang beraliansi dengan NIKE Inc karena sebagai akibat dari laporan-laporan NGO mengenai kasus pelanggaran hak buruh pabrik-pabrik NIKE di Indonesia. Laporan tersebut memuat tentang kondisi tempat kerja perusahaan-perusahaan asing di Indonesia yang tidak memadai dan upah buruh yang dibayarkan terlalu rendah.
Dalam beberapa kasus di atas tersebut setidaknya pemerintah dan pelaku usaha telah melaksanakan berbagai upaya dalam rangka melaksanakan 3 pilar bisnis dan HAM. Upaya pemerintah Indonesia dalam menanggapi
kasus PT Nike yaitu dengan cara memfasilitasi mediasi yang melibatkan PT Nike, para buruh dan Pemerintah dari beberapa kementerian yaitu Menperin, Menakertrans dan Kepala BKPM. Dari pihak PT Nike juga telah melakukan berbagai kegiatan CSR seperti perbaikan sistem pabrik dengan mengurangi polusi.
Penjelasan Materi
Secara umum, pelaku usaha memegang tanggung jawab untuk menghormati yang artinya pelaku usaha tidak melanggar HAM yang diakui secara internasional dengan menghindari, mengurangi, atau mencegah dampak negatif dari operasional bisnisnya. Secara sederhana, tidak mengancam hak asasi orang lain. Hal ini menjadi sebuah dasar ekspektasi untuk semua sektor usaha di segala situasi.5
Dalam hal penghormatan terhadap HAM, pelaku usaha harus berkomitmen penuh untuk memenuhi aturan hukum dan kebijakan terkait bisnis dan HAM serta prinsip-prinsip HAM yang diakui secara universal di tempat bisnisnya beroperasi. Pelaku usaha juga harus memahami betul isu, permasalahan, dan risiko dampak pelanggaran HAM dalam ruang lingkup usahanya.
Pelaku usaha kemudian diharapkan mampu mengetahui, menghindari dan melakukan perbaikan/pemulihan atas dampak operasionalnya terhadap HAM. Konsep ini yang kemudian dikenal sebagai konsep uji tuntas HAM (human rights due diligence). Secara substantif, sebuah uji tuntas HAM menggunakan prinsip-prinsip HAM yang diakui secara internasional (seminimumnya: Kovenan Internasional mengenai Hak Sipil dan Politik, Kovenan Internasional mengenai Hak Ekonomi, Sosial, dan Budaya) dan Konvensi inti dari International Labor Organization/ILO (Deklarasi Universal ILO 1998 mengenai Hak-hak dan Prinsip-prinsip Mendasar di Tempat Kerja).6
5Prinsip 11, UNGPs
6Prinsip 12, UNGPs
Selanjutnya langkah-langkah kunci yang perlu dilakukan adalah:7
1. Mengadopsi kebijakan hak asasi manusia (adopt human rights policies);
2. Melakukan penilaian dampak (conduct impact assessments);
3. Mengintegrasikan kebijakan hak asasi manusia di seluruh departemen pelaku usaha (integrate human rights policies throughout the company’s departments);
4. Melacak kinerja melalui pemantauan dan audit (track performance through monitoring and possibly auditing);
5. Mengomunikasikan dan melaporkan penanganan risiko dampak pelanggaran HAM (communicate and report how they address their human rights impacts)
7Prinsip 15,18-21, UNGPs