BAB IV : PERTANGGUNGJAWABAN KLIEN KEPADA
B. Tanggungjawab Klien kepada Perusahaan Factoring dalam
kredit
Jual beli piutang dagang, juga berlaku persyaratan tersebut, yaitu: barang yang menjadi objek kontrak harus terdiri dari barang yang dapat diperdagangkan; barang itu sudah dapatditentukan jenisnya ketika kontrak ditandatangani; jumlah barang boleh tidak tertentu asalkan jumlahnya kemudian dapat ditentukan atau dihitung; barang itu dapat juga berupa barang yang baru akan ada di kemudian hari; dan bukan merupakan barang yang masih dalam warisan yang belum terbuka. Klien mengikatkan diri dan menjamin factor bahwa piutang dagang yang dialihkan adalah piutang dagang yang timbul dan memenuhi persyaratan: akan dibayar tepat waktu oleh nasabah, nasabah mampu untuk membayar utangnya setiap saat, nasabah tidak akan menerbitkan dan/atau menarik cek atau surat berharga lain yang tidak ada dananya, tidak sah, cacat hukum atau kedaluwarsa, nasabah tidak dalam keadaan pailit, nasabah tidak dalam keadaan di bawah pengampuan, nasabah tidak
62
Hasil Wawancara Tanggal 27 Maret 2015 dengan narasumber Irwan Simanullang selaku
akan melakukan tindakan atau hal-hal yang tidak dapat disetujui perusahaan factoring tidak dalam keadaan terlibat suatu perkara yang menyebabkan seluruh atau sebagian harta bendanya (dapat) dibebani dengan sitaan oleh pihak manapun juga; nasabah tidak akan menghentikan atau mengancam untuk menghentikan usahanya dengan alasan apapun juga.
Menurut Pasal 1534 KUH Perdata yang pada pokoknya menyatakan penjual/klien bertanggung jawab akan piutang yang dijualnya tersebut, yaitu harus benar-benar ada pada waktu diserahkan. Meskipun perjanjian ini tidak disertai adanya jaminan dari pihak penjual/klien (recourse and without recourse factoring). Hal ini kiranya sangat logis karena menyangkut objek dari suatu perjanjian dan tentunya pihak factor juga tidak akan gegabah dalam menganalisis piutang tersebut. Namun, bila dikaji secara yuridis, tanggung jawab pihak penjual/klien harus diberikan legalitasnya, karena Indonesia bukan penganut system hukum kebiasaan. Pasal 1536 KUH Perdata lebih merinci lagi tentang tanggung jawab penjual/klien tersebut, yaitu dalam hal penjual/klien menjamin kemampuan membayar pihak pembeli/customer. Namun, dibatasi hanya untuk waktu sekarang, buakn untuk waktu kemudian hari, kecuali penjual/klien mengikatkan diri untuk waktu yang akan datang juga. Hal ini tentu saja mempengaruhi harga jual piutang tersebut.
Berdasarkan hasil wawancara saya yang bersumber dari Ibu Dysi Rusmin Lawin selaku kepala service credit bahwa melakukan transaksi anjak piutang, terutama anjak piutang financing, tidak semua transaksi dagang dapat dibiayai oleh BTN Cabang Medan. BTN Cabang Medan biasanya memberikan transaksi dagang secara terbuka (open account) yang bersifat sederhana, berkesinambungan, dan
bersifat langsung antara klien, sehingga BTN Cabang Medan dapat meakukan hal-hal sebagai berikut atas piutang dagang yang berasal dari penjualan barang dan jasa:
1. Pembelian piutang dagang untuk diuangkan secara seketika.
2. Mengusahakan pembukuan dan administrasi penjualan yang berhubungan dengan piutang dagang.
3. Menagih piutang yang dialihkan.
4. menanggung kerugian yang mungkin timbul akibat tidak dibayarnya piutang dagang (nonrecourse)
Untuk mengatasi timbulnya akibat pengalihan piutang dari klien kepada perusahaan anjak piutang (factoring) tersebut, pada saat kontrak/ perjanjian dibuat maka perlu ditetapkan pihak yang bertanggung jawab atas penanggungan resiko. Jika nasabah tidak dapat memenuhi kewajibannya dan yang menanggung resiko tersebut perusahaan (klien) maka perjanjiannya dinamakan with recourse factoring. Sedangkan jika BTN Cabang Medan yang menanggung risiko kerugiaannya maka perjanjiannya dinamakan without recourse factoring. Jika melihat fasilitas-fasilitas yang disediakan lembaga anjak piutang, ternyata usaha anjak piutang lebih dominan kepada pemberian jasa pembiayaan (financing service) atas pengalihan piutang dari klien (perusahaan). Namun demikian BTN Cabang Medan juga memberikan jasa dibidang non pembiayaan (non financing service). Jasa non pembiayaan ini pada dasarnya untuk melayani pengelolaan piutang (kredit) perusahaan klien.
Ibu Dysi Rusmin Lawin selaku kepala service credit menyatakan bahwa alasan ketidakmampuan nasabah mengembalikan kredit di BTN Cabang Medan karena :63
a. Saldo rekening sering mengalami over draf
Bila terjadi overdraf adalah suatu hal yang dapat ditolerir dalam bisnis, namun jika sering terjadi perlu diwaspadai kemungkinan menurunnya kemampuan finansial nasabah.
b. Terjadi penurunan saldo secara mencolok
Turunnya saldo secara mencolok dapat mengancam likuiditas perusahaan, selanjutnya dapat mengganggu kelancaran roda perusahaan. Bila nasabah dapat membuktikan bahwa menurunannya saldo secara mencolok menjadi aset lain, seperti: membeli persediaan yang diharapkan segera dapat diolah dan dijual, adalah tidak bermasalah. Tetapi jika menurunnya saldo untuk membiayai operasional secara rutin maka hal ini perlu diwaspadai.
c. Saldo giro rata-rata menurun
Menurunnya saldo giro rata-rata perlu diwaspadai sebagai indikasi menurunnya likuiditas perusahaan nasabah, karena gejala ini merupakan indikasi menurunnya kemampuan keuangan nasabah.
d. Pembayaran angsuran maupun bunga tersendat-sendat
Setiap nasabah yang lancar usahanya dan baik itikadnya, maka ia selalu ingat akan selalu ingat akan pembayaran bunga dan angsuran pinjaman. Adalah wajar jika terjadi sekali dua kali keterlambatan. Hanya saja keterlambatan kesibukan rutin nasabah. Tetapi jika terlambatnya sudah tidak wajar maka petugas bank
63
Hasil Wawancara Tanggal 16 Maret 2015 dengan narasumber Dysi Rusmin Lawin selaku kepala Layanan Kredit (Loan Service Kredit) BTN KC Medan.
harus waspada dan bertanya-tanya, apakah gerangan yang menyebabkan keterlambatan tersebut.
e. Sering mengajukan permintaan penundaan pembayaran
Umumnya jika tidak ada gangguan kelancaran usaha, maka pembayaran kepada bank juga lancar. Namun kadang-kadang bank bisa mentolerir jika nasabah mohon dilakukan penundaan. Namun perlu juga diwaspadai, kemungkinan penundaan sebagai bentuk ketidak lancaran usahanya.
f. Terjadi penyimpangan penggunaan kredit
Setiap penggunaan kredit sebelum direalisir dicantumkan dengan jelas dalam akad kredit tujuan penggunaannya. Jika terjadi penyimpangan, perlu diwaspadai akan mungkin terjadinya kredit bermasalah.
g. Mengajukan perpanjangan kredit
Setiap terjadi perpanjangan bukan selalu berarti akan terjadi kredit bermasalah. Jika permohonan perpanjangan benar-benar demi kepentingan bisnis, seperti peningkatan omzet, melakukan kontrak bisnis dengan pihak ketiga, maka permohonan tersebut adalah wajar. Tetapi jika alasan yang tidak jelas, maka perlu diwaspadai kemungkinan permohonan perpanjangan sebagai upaya menutupi ketidak mampuan nasabah mengembalikan kredit.
h. Terlibat cek kosong
Melakukan penarikan cek dengan nilai tidak mencukupi adalah suatu gejala yang tidak sehat, bahkan bisa ditafsirkan sebagai karakter yang tidak baik dari pemilik rekening. Kalau nasabah melakukan ini perlu diingatkan bahwa dia telah berbuat sesuatu yang dapat menghilangkan kepercayaan yang telah diberikan kepadanya.
i. Kesehatan nasabah memburuk
Menurunnya kesehatan fisik nasabah. Karena dikhawatirkan menurun pula tingkat kegiatan kerja dan produktivitas perusahaan.
Berdasarkan hasil wawancara saya yang bersumber dari Ibu Dysi Rusmin Lawin selaku kepala service credit pihak klien akan bertanggung jawab atas ketidakmampuan pihak nasabah, apabila para pihak memilih jenis anjak piutang without recourse factoring maka pihak perusahaan anjak piutang saja akan bertanggung jawab atas ketidakmampuan pihak debitur.
BTN Cabang Medan menanggung resiko atas tidak tertagihnya piutang yang telah dialihkan oleh kilen. Namun, dalam perjanjian anjak piutang dapat dicantumkan bahwa diluar keadaan macetnya tagihan dapat diberlakukan bentuk recourse. Ini untuk menghindarkan tagihan yang tidak dibayar karena pihak klien ternyata pihak lain mengirimkan barang yang cacat atau tidak sesuai dengan perjanjian yang tidak sesuai dengan nasabahnya. Dengan demikian customer berhak mengembalikan barang yang telah diserahkan tersebut dan terlepas dari kewajiban pembayaran utang. Dalam hal terjadi kasus demikian, BTN Cabang Medan dapat mengembalikan tagihan kepada klien. Berkaitan dengan resiko debitor yang tidak mampu memenuhi kewajibannya. Keadaan ini bagi BTN Cabang Medan merupakan ancaman resiko. Dalam perjanjian with recourse recourse, klien akan menanggung resiko kredit terhadap piutang yang dialihkan pada BTN Cabang Medan. Oleh karena itu, perusahaan anjak piutang akan mengembalikan tanggung jawab (recourse) pembayaran piutang kepada klien atas piutang yang tak tertagih dari customer. Klien sebagai penjual piutang bertanggungjawab atas piutang yang tidak dibayar oleh pihak nasabah. Bentuk
tanggung jawab klien yakni membayar sesuai dengan jumlah harga pembelian piutang yang telah diterimanya kepada BTN Cabang Medan.
Pengelolaan piutang perusahaan factoring harus dilakukan dengan baik karena piutang tersebut merupakan sumber pendapatan perusahaan yang tertunda dan merupakan hal yang sangat sensitive untuk dibicarakan karena sebagian besar dana perusahaan dialokasikan dalam bentuk piutang dan pengelolaan yang baik dapat memberikan kesan yang positif terhadap perusahaan dalam kualitas manajemennya. Ketika terjadi kemacetan dalam penagihan Piutang dagang, perusahaan akan mengalami kerugian yang besar karena terganggunya perputaran barang dan perputaran keuangan. Dan apa yang harus dilakukan ketika penjual tersebut sedang membutuhkan uang atau membutuhkan perputaran modal yang cepat untuk perputaran selanjutnya. Salah satu solusinya adalah dengan menjual piutang yang ada kepada pihak lain. Sehingga BTN Cabang Medan memberikan jasa anjak piutang yang bertujuan untuk memperlancar kegiatan penyelesaian utang-piutang dan membantu perusahaan dalam mengelola penjualan secara kreditnya agar baik dan teratur.
C. Perlindungan Hukum Bagi Pihak Klien Pada Perusahaan Factoring