Kehidupan manusia di dunia ini tidak luput dari tantangan maupun hambatan yang bersifat internal (dari dalam) maupun bersifat eksternal (dari luar diri manusia).
Kedua sifat tantangan dan hambatan itu memunculkan daya diri untuk menghadapi
39Tata Sukayat, Quantum Dakwah, h. 106.
40Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 314.
41Mafri Amir, Etika Komunikasi Massa dalam Pandangan Islam, h. 80.
22
dan mengatasi tantangan dan hambatan. Tantangan dan hambatan kehidupan manusia adalah bagian dari sunnatullah yang harus dihadapi dan diatasi, baik secara perorangan maupun secara bersama-sama.42
Adapun Tantangan dan Hambatan dalam Penyuluhan Islam yang bersifat Internal maupun Eksternal yaitu:43
1. Faktor internal(dari dalam)
Faktor internal adalah faktor yang menyebabkan terjadinya hambatan dalam pembinaan kehidupan beragama masyarakat yang berasal dari dalam diri setiap manusia. Faktor yang menghambat pembinaan kehidupan beragama yang dipengaruhi oleh faktor internal yaitu:
a. Faktor pendidikan
Pendidikan adalah salah-satu proses yang bertujuan untuk membentuk pola perilaku, salah satunya adalah pendidikan agama. Proses tersebut biasanya membutuhkan peran pendidik, tetapi pendidik yang biasa mendidik diri sendiri setelah berjumpa dengan pengalaman pendidik. Oleh karena itu, pendidik harus lebih menekankan kepada pemberian kesempatan agar seseorang mengalami sendiri atau pengalaman agama.
b. Faktor hereditas
Jiwa keagamaan memang bukan secara langsung sebagai faktor bawaan yang diwariskan secara turun temurun, melainkan terbentuk dari berbagai unsur kejiwaan lainnya yang mencakup kognitif, afektif, dan psikomotorik, tetapi dalam penelitian terhadap janin yang dikandung. Meskipun belum dilakukan penelitian mengenai
42Malik Idris, Strategi Dakwah Kontemporer (Makassar: Sarwah Press, 2007), h.91
43Jumriati, “Peran Bimbingan Penyuluhan dalam Pembinaan Kehidupan Beragama Masyarakat di Desa Balangtanaya Kecamatan Polongbangkeng Utara Kabupaten Takalar”,Skripsi(
Uin Alauddin Makassar:2016),h.17-19
hubungan antara sifat kejiwaan anak dengan orang tuanya, tampaknya pengaruh tersebut dapat dilihat dari hubungan emosional.
c. Faktor kepribadian
Faktor kepribadian adalah perilaku individu merupakan cirinya yang khas dalam interaksi dengan lingkungannya. Kepribadian sering disebut sebagai identitas diri (jati diri). Dari individu satu dengan yang lain, manusia memiliki perbedaan dalam kepribadian. Dengan perbedaan ini diperkirakan berpengaruh terhadap perkembangan aspek kejiwaan, termaksud dalam kejiwaan dalam kehidupan beragama.
2. Faktor eksternal(dari luar)
Faktor eksternal adalah faktor yang menyebabkan terjadinya hambatan dalam pembinaan kehidupan beragama masyrakat yang berasal dari luar lingkungannya.
Faktor yang menghambat pembinaan kehidupan beragama masyarakat yang dipengaruhi oleh faktor eksternal yaitu:
a. Faktor lingkungan masyarakat
Lingkungan masyrakat merupakan unsur yang berpengaruh dalam norma dan nilai dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan masyarakat yang memiliki tradisi keagamaan berpengaruh terhadap kehidupan keagamaan yang terkondisi dalam tatanan nilai maupun institusi keagamaan. Bagaimanapun kondisi seperti ini sangat berpengaruh dalam pembentukan kehidupan keagamaan masyarakat.
b. Faktor adat atau kebiasaan-kebiasaan
Adat dan kebiasaan juga dapat menghambat pembinaan kehidupan beragama pada masyarakat. Unsur-unsur baru dianggap oleh sebagian masyarakat dapat merusak adat atau kebiasaan yang dianut menjadi punah jika mereka menerimah
24
unsur-unsur baru bahkan dianggap dapat merusak tatanan kelembagaaan sosial yang mereka bangaun dalam masyarakat.44
Berdasarkan faktor Hambatan dan Rintangan bimbingan Islam diatas masih banyak faktor-faktor yang lain, Salah-satu Faktor Tantangan dan hambatan dalam Bimbingan Islam biasanya antara lain:45
a. Perkembangan ilmu pengetahuan lambat
Terlambatnya ilmu pengetahuan dapat diakibatkan karena suatu masyrakat tersebut hidup dalam keterasingan dan dapat pula karena ditindas oleh masyrakat lain.
b. Sikap masyrakat yang tradisoanal
adanya suatu sikap yang membanggakan dan mempertahankan tradisi-tradisi lama dari suatu masyarakat akan berpengaruh pada terjadinya proses perubahan, karena adanaya anggapan bahwa perubahan yang akan terjadi belum tentu lebih baik dari yang sudah ada.
c. Adanya kepentingan yang telah tertananm dengan kuat
Organisasi yang telah mengenal sistem lapisan dapat dipastikan akan ada sekelompok individu yang memanfaatkan kedudukan dalam proses perubahan tersebut. Contoh dalam masyarakat feodal dan juga masyarakat yang sedang mengalami transisi.Pada masyarakat yang mengalami transisi, tentunya ada golongan-golongan dalam masyarakat yang dianggap sebagai pelopor proses transisi, karena selalu mengidentifikasi diri dengan usaha-usaha dan jasa-jasanya, sulit bagi mereka untuk melepaskan kedudukannya di dalam suatu proses perubahan.
45Abd Jabbar, “Peran Penyuluh Agama dalam Pembinaan Jiwa Keagamaan Masyarakat di Desa Pattallassang Kecamatan Pattallassang Kabupaten Gowa”, Skripsi (Uin Alauddin Makassar:
2014),h.19-21
d. Kurangnya hubungan dengan masyrakat lain
Hal ini biasanya terjadi dalam suatu masyarakat yang kehidupannya terasing, yang membawa akibat suatu masyrakat tidak akan mengetahui terjadinya perkembangan yang ada pada masyrakat tersebut tidak mendapatkan bahan perbandingan yang lebih baik untuk dapat dibandingkan dengan pola-pola yang telah ada pada masyrakat tersebut.
e. Adanya prasangka buruk terhadap hal-hal baru
Anggapan seperti ini biasanya terjadi pada masyrakat yang pernah mengalami hal yang pahit dari suatu masyarakat yang lain. Jadi bila hal-hal yang baru dan berasal dari masyrakat yang pernah membuat suatu masyarkat tersebut menderita maka masyrakat itu akan memiliki prasangka buruk terhadap hal yang baru tersebut, karena adanya kekhwatiran kalau hal yang baru diikuti dapat menimbulkan kepahitan atau penderitaan lagi.
f. Adanya hambatan yang bersifat ideologis
Hambatan ini biasnya terjadi pada adanya usaha-usaha untuk merubah unsur-unsur kebudayaan rohaniah, karena akan diartikan usaha yang bertentangan dengan ideologi masyarakat yang telah menjad dasar yang kokoh bagi suatu masyrakat.
g. Adat atau kebiasaan
Biasanya pola perilaku yang sudah menjadi adat bagi suatu masyarkat akan selalu dipatuhi dan dijalankan dengan baik. Apabila pola perilaku yang sudah menjadi adat tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi, maka akan sulit untuk merubahnya karena masyrakat tersebut akan mempertahankan adat yang diangggapnya telah membawa sesuatu yang baik bagi pendahulu-pendahulunya.
Maka dengan demikian dapat kita ketahui hambatan dan rintangan Bimbingan Islam mengenai pemahamaan keagamaan yang ada pada masyarakat
26
yang tidak bisa dirubah begitu saja perlu dilakukan bimbingan secara bertahap agar bisa membuat masyarakat tertarik dan termotivasi dan berubah sedikit demi sedikit.
C. Pentingnya Penyuluhan Islam Terhadap Peningkatan Pemahaman Keagamaan