Secara nasional, seperti halnya pembangunan, upaya penanggulangan bencana harus dilakukan secara komprehensif dan sistematis, namun hal ini masih terkendala dua masalah utama, yaitu:
1. Belum memadainya kinerja aparat dan kelembagaan penanggulangan bencana;
2. Masih rendahnya kesadaran terhadap risiko bencana dan pemahaman terhadap kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana.
Tantangan pengembangan pelayanan di tingkat nasional adalah sebagai berikut :
1. Belum sepenuhnya penyelenggaraan penanganan bencana di Indonesia dilaksanakan sesuai dengan UU Nomor 24 Tahun 2007 terutama untuk kewenangan-kewenangan yang sebelumnya sudah ada di Kementerian/Instansi selain BNPB;
2. Terbatasnya anggaran yang tersedia di masing-masing unit Kementerian/Instansi bagi kegiatan penyelenggaraan penanggulangan bencana di Indonesia;
3. Adanya perubahan iklim global yang berpotensi meningkatkan intensitas bencana alam di dunia;
4. Adanya keterbatasan sarana komunikasi di daerah sehingga menghambat kecepatan penyebaran arus data ke pusat maupun daerah lain; dan
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 37
5. Luasnya cakupan wilayah penanganan penanggulangan kebencanaan dengan jenis potensi bencana yang beragam.
Peluang pengembangan pelayanan di tingkat nasional adalah sebagai berikut :
1. Adanya komitmen dari seluruh komponen bangsa dalam penyelenggaraan penangulangan bencana;
2. Pesatnya perkembangan teknologi untuk menunjang kegiatan di bidang kebencanaan yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi risiko-risiko bencana;
3. Adanya sinkronisasi dan koordinasi dalam penyelenggaraan penanggulangan bercana bersama perangkat daerah (propinsi, kabupaten/kota); dan
4. Adanya peran serta masyarakat, LSM baik nasional maupun internasional dalam penanggulangan bencana.
Potensi bencana yang terjadi di Jawa Tengah meliputi seluruh jenis bencana baik yang disebabkan oleh alam, non alam maupun sosial. Bencana alam meliputi banjir, tanah longsor, kekeringan, gempabumi, tsunami, kebakaran hutan dan lahan, kebakaran permukiman, cuaca ekstrem, gunungapi, abrasi, sedangkan bencana non alam meliputi Gagal Teknologi, gagal modernisasi, epidemi, dan wabah penyakit, Epidemi dan Wabah Penyakit, serta bencana sosial berupa Konflik Sosial antar masyarakat dan teror.
Kejadian dan dampak bencana di Jawa Tengah cukup dinamis dan cenderung meningkat baik intensitas maupun kualitas. Bencana mempunyai dampak yang sangat signifikan terhadap hasil-hasil pembangunan berupa infrastruktur masyarakat, harta benda, korban jiwa maupun kerugian dan kerusakan aset masyarakat yang lain.
Tantangan pengembangan pelayanan di tingkat provinsi adalah sebagai berikut :
1. Tingkat kerawanan bencana di Jawa Tengah sangat tinggi baik bencana alam, non alam dan sosial dengan luas wilayah Jawa Tengah;
2. Penanggulangan bencana merupakan urusan bersama antara pemerintah, masyarakat dan dunia usaha, namun dalam kenyataannya perhatian masyarakat untuk penanggulangan bencana lebih condong kepada pemerintah;
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 38
3. Belum semua regulasi mengacu pada penjabaran Peraturan Daerah Jawa Tengah No 11 tahun 2009 tentang penyelenggaraan Penanggulangan bencana;
4. Penanggulangan bencana belum menjadi prioritas utama, meskipun dianggap sebagai urusan yang penting dalam pembangunan. Paradigma pengurangan risiko bencana belum sepenuhnya mejadi arus utama bagi para pemangku kepentingan sehingga keberadaan dan kinerja BPBD baru diperhatikan manakala terjadi bencana
5. Era otonomi daerah kewenangan provinsi tidak dapat mengintervensi secara langsung kepada pemerintah kabupaten/kota namun untuk penanggulangan bencana masih dapat dilakukan untuk alas an kemanusiaan;
6. Belum optimalnya kualitas sumberdaya para aparatur pemangku kepentingan, pelaku penanggulangan bencana dalam penanganan darurat bencana,
7. Sumberdaya manusia di BPBD Prov Jawa Tengah sangat terbatas dan tidak ada penambahan jumlah pegawai secara signifikan, kompetensi pegawai yang ada belum sebanding dengan cakupan kinerja penyelenggaraan PB yang sangat luas,
8. Distribusi kompetensi pegawai yang masih timpang/belum ideal antara kompetensi dengan bidang/tanggungjawab pekerjaan.
9. Penganggaran dalam kebencanaan masih mengikuti prosedur normatif, sebagaimana penganggaran rutin, padahal untuk kebencanaan diperlukan terobosan dan lebih persuasive terutama untuk kondisi darurat ataupun memerlukan pendanaan khusus, segera/mendesak 10. Kurangnya penguasaan dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan
teknologi termasuk teknologi bidang komunikasi dan informasi di pemerintah daerah;
11. Basis data bidang penanggulangan bencana belum tertata secara rapi dan tertib, adanya beberapa aplikasi untuk penunjang pengelolaan data masih belum diimbangi dengan belum ketelitian, kelengkapan supply data dari daerah,
12. Partisipasi masyarakat sudah cukup tinggi namun masih belum ada standarisasi terutama untuk para relawan
13. Partisipasi dunia usaha melalui dana CSR masih belum terkelola untuk Penanggulangan bencana secara menyeluruh dan komprehensif
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 39
terutama untuk pra dan pasca bencana. Bantuan dunia usaha lebih banyak dialokasikan untuk tanggap darurat.
Peluang pengembangan pelayanan di tingkat provinsi adalah sebagai berikut :
1. Legislasi,
Ditingkat pusat dilakukan atas dasar undang-undang, peraruran pemerintah, peraturan presiden, peraturan menteri dalam negeri maupun peraturan kepada BNPB.
Di tingkat provinsi ataupun kabupaten/kota peraturan dan petunjukan teknis terkait penanggulangan bencana masih cukup minim, sehingga dapat mengacu pada peraturan di tingkat pusat. upaya yang dilakukan pada prioritas di Jawa Tengah adalah penyusunan lembaga BPBD dengan peraturan daerah dan peraturan daerah untuk penyelenggaraan penanggulangan bencana
2. Perencanaan
Perencanaan dalam penanggulangan bencana dapat dibedakan menjadi 2 yaitu :
a. Perencanaan untuk semua jenis bencana, yaitu rencana penanggulangan bencana (RPB), yang kemudian dideskripsikan menjadi rencana aksi
b. Perencanaan untuk 1 (satu) jenis bencana 3. Kelembagaan
Kelembagaan PB dapat dibedakan atas kelembagaan formal (BNPB, BPBD) dan kelembagaan non formal.
4. Pengembangan kapasitas
Pengembangan kapasitas secara efektif akan terjadi bila 3 (tiga) sub sistem dalam sistem penangulangan bencana dijalankan dengan baik. 5. Pendanaan
Pendanaan dalam penangulangan bencana dikelompokkan dalam 2 (dua) kategori, yaitu :
a. Pendanaan dari pemerintah.
b. Pendanaan dari masyarakat, merupakan dana yang dikumpulkan oleh masyarakat, baik organisasi masyarakat (Ormas), perguruan tinggi, media massa, maupun masyarakat internasional
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 40
Tantangan dan peluang pengembangan pelayanan SKPD BPBD Kabupaten Magelang hampir sama dengan yang ada di BNPB maupun di BPBD Provinsi Jawa Tengah, perbedaannya pada cakupan wilayah yang lebih sempit yaitu di lingkup kabupaten.
1. Tantangan
Masalah yang dihadapi oleh BPBD Kabupaten Magelang selama ini adalah :
a. Belum memadainya kinerja aparat dan kelembagaan penanggulangan bencana;
b. Masih rendahnya kesadaran terhadap risiko bencana dan pemahaman terhadap kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana c. Letak geografis dan topografi yg potensial terhadap terjadinya
bencana alam dan Luasnya cakupan wilayah penanganan penanggulangan kebencanaan dengan jenis potensi bencana yang beragam;
d. Adanya keterbatasan sarana komunikasi di daerah/ desa-desa sehingga menghambat kecepatan penyebaran arus data
e. Penganggaran dalam kebencanaan masih mengikuti prosedur normative, sebagaimana penganggaran rutin, padahal untuk kebencanaan diperlukan terobosan dan lebih persuasive terutama untuk kondisi darurat ataupun memerlukan pendanaan khusus, segera/mendesak
f. Basis data bidang penanggulangan bencana belum tertata secara rapi dan tertib, adanya beberapa aplikasi untuk penunjang pengelolaan data masih belum diimbangi dengan belum ketelitian, kelengkapan supply data dari daerah,
g. Partisipasi dunia usaha melalui dana CSR masih belum terkelola untuk Penanggulangan bencana secara menyeluruh dan komprehensif terutama untuk pra dan pasca bencana. Bantuan dunia usaha lebih banyak dialokasikan untuk tanggap darurat.
2. Peluang
a. Pesatnya perkembangan teknologi untuk menunjang kegiatan di bidang kebencanaan yang dapat dimanfaatkan untuk mengurangi risiko-risiko bencana;
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 41
b. Adanya sinkronisasi dan koordinasi dalam penyelenggaraan penanggulangan bercana bersama perangkat daerah (propinsi, kabupaten, kecamatan dan desa);
c. Adanya peran serta masyarakat, LSM dalam penanggulangan bencana.
d. Peraturan dan petunjukan teknis terkait penanggulangan bencana masih cukup minim, sehingga dapat mengacu pada peraturan di tingkat pusat.
e. Perencanaan untuk semua jenis bencana, yaitu rencana penanggulangan bencana (RPB), yang kemudian dideskripsikan menjadi rencana aksi
f. Pengembangan kapasitas secara efektif dalam penanggulangan bencana
g. Pendanaan dalam penangulangan bencana dari berbagai sumber yaitu pendanaan dari pemerintah dan pendanaan dari masyarakat, merupakan dana yang dikumpulkan oleh masyarakat, baik organisasi masyarakat (Ormas), perguruan tinggi, media massa, maupun masyarakat internasional.
Peran BPBD Kabupaten Magelang dalam penanggulangan bencana tidak secara serta merta mengambil alih pekerjaan teknis dari SKPD lain dalam penanggulangan bencananya. Sesuai dengan UU dan Perda Kabupaten Magelang, maka BPBD Kabupaten Magelang mempunyai 3 (tiga) fungsi utama PB yaitu pelaksana, koordinasi dan komando.
a. Sebagai pelaksana, BPBD Kabupaten Magelang memiliki peran untuk memberikan perlindungan masyarakat melalui upaya penanggulangan dan pengurangan risiko bencana baik pra, saat maupun pasca bencana. b. BPBD berfungsi sebagai leading sektor dan mengkoordinasikan dengan
SKPD Teknis, seperti Badan Lingkungan Hidup, Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, Dinas PU dan ESDM dan yang terkait dalam bidang pekerjaan teknis. BPBD mengkoordinasikan seluruh penyelenggaraan penanggulangan bencana baik pra, saat maupun pascabencana yang dilakukan oleh SKPD teknis. SKPD tersebut dalam struktur organisasi BPBD. Pelaksanaan program dan kegiatan yang terkait penanggulangan bencana dilaksanakan oleh masing-masing SKPD namun berkoordinasi secara efektif dengan BPBD sehingga saling menunjang antara pembangunan fisik/infrastruktur dan aman berdasarkan pada aspek kebencanaan.
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 42
c. Fungsi komando melekat pada BPBD untuk memberikan komando kepada para pemangku kepentingan untuk memobilisasi sumberdaya untuk penanggulangan bencana, terutama pada saat darurat bencana. Dengan peran sebagai incider commander, BPBD memberikan komando untuk melakukan evakuasi, penyelamatan dan pada saat yang bersamaan SKPD teknis melakukan perbaikan dan rehabilitasi sarana dan prasarana penting dan vital dengan segera.
Perlu diingat bahwa pendanaan PB tidak hanya berasal dan dikelola oleh BNPB, BPBD Provinsi maupun BPBD Kabupaten/Kota namun pendanaan PB juga melekat pada kementerian/Lembaga teknis, SKPD teknis terkait kebencanaan.
Dalam rangka melaksanakan tugas pokok dan fungsi terutama BPBD Kabupaten Magelang mengkoordinasikan berbagai program dan kegiatan yang terkait dengan upaya penanggulangan dan pengurangan risiko bencana. Dalam melaksanakan tugasnya BPBD Kabupaten Magelang dibantu oleh 10 sektor Penanggulangan bencana. Data SKPD 10 sektor disajikan dalam tabel berikut.
Tabel 2.9
SKPD 10 Sektor Penanggulangan Bencana
No Sektor Koordinator Anggota Tugas
1 2 3 4 5
1 Sektor Manajemen dan Koordinasi/ Posko
BPBD Kodim, Polres,
Bappeda, DPU dan ESDM, Humas & Protokol, Bag Umum,
Disdukcapil, Diskominfo,Dinkes dan Dishub
a. Mendirikan Posko PB dari Tingkat Kab sampai Desa
b. Mengadakan Rakor Penanggulangan Bencana c. Mengkoordinir kegaiatan Sektoral d. Membuat laporan menyeluruh e. Membuat laporan pengungsi
f. Pendataan korban dan kaji cepat g. Memberikan arah pelaksanaan Penanggulangan Bencana h. Menerima dan menyampaikan informasi terbaru i. Menyiapkan kebutuhan Personil j. Menyiapkan kebutuhan kelengkapan Posko k. Memproses masuk keluarnya bantuan
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 43
1 2 3 4 5
2 Sektor Kesehatan Dinas
Kesehatan
Dinkes, RSUD,
Puskesmas, SAR, Pramuka dan PMI
a. Menyiapkan TRC Yankes.
b. Menyiapkan Tim Kaji
Cepat Kesehatan
c. Menyiapkan obat, bahan habis pakai dan alat kesehatan
d. Membentuk Pos
Kesehatan sesuai jumlah Barak
e. Menyiapkan Puskesmas
f. Menyiapkan ambulance
sesuai jumlah Barak g. Menyiapkan RS Lapangan h. Pelayanan rujukan ( ke
RS rujukan)
i. Menyiapkan personil tiap pos kesehatan
j. Menyusun kebutuhan
kelengkapan sektor
kesehatan 3 Sektor Evakuasi dan Transportasi Dinas
Perhubungan
Kodim, Polres,
BPBD, SAR, PMI, DPU & ESDM, Dinkes, Perhutani/ TNGM, Pasag Merapi, Tagana, CBDRM NU, Pramuka, Linmas, Kec. Srumbung, Dukun, Sawangan. a. Menyiapkan armada evakuasi (1937 kend roda 4, 1787 milik masy, 150 disiapkan Pemerintah ) b. Menyiapkan BBM, Oli,
suku cadang c. Menyiapkan jalur
evakuasi (jalan dan jembatan)
d. Menyiapkan rambu evakuasi
e. Menyusun skematik arah evakuasi.
f. Evakuasi penduduk rentan dan pengungsi lainnya sampai TPS / TPA/ Barak g. Menyiapkan personil h. Menyusun kebutuhan kelengkapan evakuasi lainnya
4 Sektor Logistik Disnakersostr
ans
Disnakersostran, BPBD, Bag Tata Pemerintahan, Bag Perekon, DPU dan ESDM, Dinkes.
a. Menyiapkan logistik
sesuai kebutuhan (beras, LP, Susu, Air
mineral, Vitamin, Sabun,
pempers, Handuk,
selimut, alas tidur, dll ). b. Distribusi logistik sampai
tujuan (TPA/TPS)
c. Menerima dan mensortir logistic d. Menyiapkan personil di tiap Barak/TPA/TPS e. Menyusun kebutuhan kelengkapan Sektor Logistik lainnya.
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 44
1 2 3 4 5
5 Sektor Barak DPU dan
ESDM
DPU \dan , Kodim, BPBD,
PMI,Disnakersostr an, Kecamatan & Desa lokasi barak
a. Menyiapkan barak sesuai
kebutuhan dan
memenuhi syarat.
b. Menyiapkan sarana / kelengkapan
barak (Air bersih,
Penerangan, Sanitasi,
Tenda, MCK, alas tidur, bantal, selimut,TV, bilik mesra,dll).
c. Menyiapkan personil.
d. Menyusun kelengkapan
lainnya.
6 Sektor Umum Dapur Disnakersostr
an Kodim, PMI, Tagana, CBDRM NU, Pramuka, PKK lokasi TPS/TPA a. Menyiapkan makanan dan
minuman bagi pengungsi.
b. Menyiapkan makanan
dan
minuman bagi petugas.
c. Menyiapkan peralatan Dapur Umum d. Menyiapkan gudang logistik darurat di TPS/ TPA. e. Menyiapkan personil f. Menyusun kebutuhan kelengkapan lainnya 7 Sektor Komunikasi dan
Dokumentasi Diskominfo Diskominfo, Humas, Kodim, Polres, RAPI, ORARI, Pasag Merapi, Peduli Merapi, Kompak Merapi, BPBD, LPBI NU, Kokam, 7 Kecamatan, Guruh Merapi, GRCC, JME, a. Menyiapkan peralatan
komunikasi pada titik yg telah ditentukan (Posko Desa, Posko Kecamatan, Posko Kabupaten, TPS dan TPA).
b. Pengerahan personil
komunikasi pada titik yg telah ditentukan.
c. Terlaksananya arus
komunikasi dari Posko Kabupaten sampai Posko
Kecamatan dan Desa
serta TPS/ TPA.
d. Menyusun kebutuhan
kelengkapan lainnya 8 Sektor Keamanan Polres Kodim, Satpol PP, Linmas Polres,
Desa, BPBD,
Polsek & Koramil 7 Kecamatan Pasag Merapi, LPBI NU.
a. Pengerahan personil
keamanan di desa lokasi bencana yg ditinggalkan pengungsi dan lokasi
pengungsian.
b. Patroli keamanan di Desa
lokasi bencana yg
ditinggalkan pengungsi
dan lokasi pengungsian.
c. Pengawalan arus
evakuasi pengungsi
d. Menyusun kebutuhan
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 45
1 2 3 4 5
9 Sektor Pendidikan Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga
Bag Umum,
Perpus Daerah,
SD/MI dan SMP lokasi bencana dan lokasi
pengungsian, LSM
a. Pendataan penduduk
usia sekolah di Desa terancam b. Penyiapan tempat pendidikan darurat dilokasi pengungsian. c. Penyiapan sarana pendidikan Dilokasi pengungsian. d. Melaksanakan kegiatan belajar mengajar dilokasi pengungsian. e. Menyusun kebutuhan lainnya
f. Menyiapkan personil dan guru
10 Sektor Ekonomi Bagian Perekonomian Setda Bag. Perekonomian, Distanbunhut, Peterikan, BP2KP, Disperinkop, Disdagsar, LH a. Pendataan potensi
ekonomi sebelum dan saat bencana b. Penyiapan kebutuhan personil dan perlengkapannya c. Pembinaan dan penyuluhan ekonomi
sebelum terjadi bencana di desa terancam. d. Panen dini peternakan
dan perikanan serta
pertanian. e. Pelatihan peningkatan ketrampilan bidang ekonomi. f. Melaporkan setiap perkembangan sektor ekonomi.
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 46 Tabel 2.10
Komparasi Capaian Sasaran Renstra SKPD Badan Penanggulangan Bencana Daerah Terhadap Sasaran Renstra SKPD Provinsi dan Renstra Kementrian/Lembaga
No Indikator Kinerja Capaian Sasaran Renstra
SKPD Kabupaten/Kota Sasaran pada Renstra SKPD Provinsi Sasaran pada Renstra K/L
1 2 3 4 5
1 Dokumen penanggulangan bencana 8 dokumen
penanggulangan bencana
Terintegrasinya dokumen RPB(umum dan tematik) dalam rencana pembangunan daerah
-
2 pengerahan dalam penanganan darurat bencana
112 kali pengerahan relawan
- -
3 Posko penanggulangan bencana 252 hari posko Tersedianyan pusat data dan informasi bencana, basis data dan informasi bencana terkini
-
4 Pemangku kepentingan yang terlibat dalam penanggulangan bencana
255 orang 1. Terpenuhinya sumber daya yang siap dalam penanggulangan bencana
-
2. Penguatan dan sinergi kelembagaan PB -
5 Masyarakat yang memahami penanggulangan bencana
774 orang 1. Meningkatnya kesadaran dan pemahaman masyarakat untuk mengenali dan
mengantisipasi ancaman bahaya
Terwujudnya kesadaran, kesiapan dan kemampuan (pemerintah dan masyarakat) dalam upaya penanggulangan bencana melalui peningkatan kapasitas tingkat pusat dan daerah
2. Terwujudnya kemandirian masyarakat dalam penyelenggaraan PB
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 47 6 Logistik dalam penanganan darurat
bencana
6 paket Terpenuhinya sarana dan prasarana penanggulangan bencana
Terwujudnya sistem penanganan kedaruratan bencana yang efektif melalui peningkatan koordinasi penanganan kedaruratan, peningkatan sarana dan prasarana
pendukung, serta peningkatan sistem logistik dan peralatn penanggulangan bencana yang efektif dan efisien
7 Dokumen pembangunan gedung 1 dokumen - -
8 Dokumen administrasi perkantoran 1 dokumen - -
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 48 Tabel 2.11
Hasil Telaahan Struktur Ruang Wilayah Kabupaten Magelang SKPD Badan penanggulangan Bencana Daerah
No Rencana Struktur Ruang Struktur Ruang Saat Ini
Indikasi Program pemanfaatan Ruang
pada Periode Perencanaan Berkenaan
Pengaruh Rencana Struktur Ruang terhadap Kebutuhan Pelayanan
SKPD Arahan Lokasi pengembangan Pelayanan SKPD 1 2 3 4 5 6
Pengembangan sistem jaringan
prasarana lainnya pengembangan jaringan evakuasi
bencana lainnya
1 penetapan jalur evakuasi dengan mengoptimalkan jaringan jalan yang ada menyiapkan konstruksi, sarana prasarana lalu lintas (rambu lalu lintas, rambu evakuasi dan marka jalan) yang memadai
Pegembangan jalur
evakuasi bencana; pembangunan jalur evakuasi direncanakan sesuai kebutuhan karena banyak jalur evakuasi yang sudah rusak saat ini.
Pembangunan jalur evakuasi sangat mendukung kelancaran proses evakuasi jika suatu saat terjadi bencana.
Kecamatan Srumbung,
Dukun, Sawangan , Salam, Muntilan
2 penetapan balai desa yang berada di dalam KRB difungsikan sebagai titik kumpul evakuasi
Penyediaan sarana
evakuasi bencana penambahan penyediaan sarana evakuasi berupa TEA karena saat ini masih sangat kurang daya tampungnya terutama di luar kawasan bencana sebagai daerah aman.
Kecamatan Muntilan, Salam, Ngluwar,
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 49
3 penyediaan dan pengembangan
ruang evakuasi bencana dengan mengoptimalkan semua balai desa dan lapangan di luar
kawasan rawan bencana
pengembangan sistem informasi tanggap bencana
Sistem yang terbangun akan memberikan kemudahan dalam pendataan, pemetaan dan proses evakuasi.
4 pemetaan jalur evakuasi bencana berdasarkan skema
arah evakuasi bencana
penguatan kelembagaan
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 50 Tabel 2.12
Hasil Telaahan Pola Ruang Wilayah Kabupaten Magelang SKPD Badan Penanggulangan Bencana Daerah
No Rencana Pola Ruang Pola Ruang Saat Ini
Indikasi Program Pemanfaatan Ruang pada Periode Perencanaan
Berkenaan
Pengaruh Rencana Pola Ruang terhadap Kebutuhan
Pelayanan SKPD Arahan Lokasi pengembangan Pelayanan SKPD 1 2 3 4 5 6 pengembangan
kawasan rawan bencana alam
pencegahan dan penanganan kawasan rawan bencana erupsi dan banjir lahar dingin gunung api
penyediaan jalur evakuasi terhadap ancaman bencana erupsi dan banjir lahar dingin gunung api
Adanya jalur evakuasi terhadap bencana erupsi dan lahar dingin memudahkan proses evakuasi yang dilakukan SKPD saat terjadi bencana Kawasan rawan bencana sekitar gunung merapi, merbabu dan sumbing
menghindari kawasan rawan bencana alam erupsi dan banjir lahar dingin gunung api sebagai kawasan terbangun
Pemberian informasi bagi masyarakat sekitar gunung api dan sungai-sungai yang berhulu di gunung merapi agar selalu waspada sangat membantu masyarakat jika terjadi bencana dengan kegiatan sosialisasi
pengembangan sistem
penanggulangan bencana yang berbasis masyarakat
Pembangunan Sistem Informasi Desa untuk desa-desa di daerah rawan dan aman sangat
berpengaruh kelancaran
pelayanan publik di desa masing-masing yang di dukung oleh OPRB Desa.
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 51
mengidentifikasi dan menetapkan zona
aman dan rawan erupsi dan banjir lahar dingin gunung api
Pembagian dan pemetaan zona aman dan rawan erupsi dan lahar dingin memudahkan SKPD dalam mengidentifikasi dan melaksanakan kegiatan. pencegahan dan penanganan kawasan rawan bencana gempa bumi
mengidentifikasi dan menetapkan wilayah rawan bencana alam gempa bumi
Identifikasi dan penetapan wilayah rawan bencana alam gempa bumi sangat berpengaruh dalam pelaksanaan kegiatan SKPD
Kecamatan Borobudur
mengantisipasi bencana dengan
membangun bangunan tahan gempa memngurangi resiko rumah rusak akibat gempa bumi
membangun sistem penanggulangan
bencana yang berbasis masyarakat Pembangunan Sistem Informasi Desa untuk desa-desa di daerah rawan dan aman sangat
berpengaruh kelancaran
pelayanan publik di desa masing-masing yang di dukung oleh OPRB Desa. pencegahan dan penanganan kawasan rawan bencana gerakan tanah
mengidentifikasi dan menetapkan wilayah rawan bencana alam gerakan tanah
Identifikasi dan penetapan wilayah rawan bencana alam gerakan tanah sangat
berpengaruh dalam pelaksanaan kegiatan SKPD
Kecamatan Pakis, Grabag, Kajoran, Kaliangkrik
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 52
menghindari kawasan rawan bencana alam gerakan tanah sebagai kawasan terbangun
Penghijauan kembali lahan-lahan rawan gerakan tanah sangat berpengaruh terhadap kestabilan
lereng
membangun sistem penanggulangan bencana yang berbasis masyarakat
Pembangunan Sistem Informasi Desa untuk desa-desa di daerah rawan dan aman sangat
berpengaruh kelancaran
pelayanan publik di desa masing-masing yang di dukung oleh
Renstra BPBD Kabupaten Magelang Tahun 2014-2019 Page 53
Tabel 2.13
Hasil Analisa Terhadap Dokumen KLHS Kabupaten Magelang SKPD Badan Penanggulangan Bencana Daerah
No Aspek Kajian Ringkasan KLHS Implikasi terhadap Pelayanan SKPD Perumusan Program Catatan bagi
dan Kegiatan SKPD
1 2 3 4 5
1 Kapasitas daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup untuk
pembangunan
Kegiatan pengembangan sarana dan prasarana daerah dilakukan dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan dengan memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan melalui upaya pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan. Hal ini dilakukan untuk menjamin kelestarian lingkungan hidup guna menjaga keselamatan, kemampuan, kesejahteraan dan mutu lingkungan hidup bagi generasi masa kini dan yang akan datang.
Pembangunan tanpa memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup dapat menimbulkan risiko bencana di masa mendatang. Program dan
kegiatan yang terkait dengan
pembangunan harus memperhatikan daya dukung dan daya tampung lingkungan hidup
2 Perkiraan mengenai dampak dan risiko lingkungan hidup
Kerusakan Lingkungan yang terjadi di Kabupaten Magelang dipicu oleh meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas mereka untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Kerusakan lingkungan ini dapat berdampak kumulatif di masa yang akan datang. Kegiatan alih fungsi lahan tanpa mempertimbangkan daya dukung dan daya tampung lingkungan,
kebakaran hutan, pertambangan serta aktvitas masyarakat lainnya dapat