be 13. Kegiatan dia Temp
VI. TANTANGAN DAN REKOMENDASI
Pelaksanaan program ini menghadapi banyak persoalan yang menjadi tantangan serius dalam mencapai tujuannya. Berdasarkan analisa terhadap tantangan tersebut dan pengalaman mengatasinya maka rekomendasi untuk perbaikan dimasa mendatang telah dikembangkan.
.1. Tantangan program
tu untuk pengalokasian dan administrasi keuangan proyeknya. Selain itu, program emberdayaan juga membutuhkan tidak hanya indikator kuantitatif dalam targetnya, namun juga kualitatif
rsement engan keterlambatan sampai mencapai satu tahun dalam pembayarannya menyebabkan program
eh lembaga seperti Seknas Pekka.
alam konteks pemberdayaan. BLM enjadi tujuan utama dengan tidak mempunyai rasa tanggungjawab untuk mengelola, memutarkan serta asyarakat karena dianggap hibah dari pemerintah sebagaimana zimnya selama ini.
6
o Program pemberdayaan vs proyek penanggulangan kemiskinan
Tantangan terbesar dari pelaksanaan program ini adalah tidak sinkronnya konsep program dengan mekanisme pendanaan proyeknya. Sebagai sebuah program pemberdayaan, dibutuhkan fleksibilitas dan waktu terten
p
berkaitan dengan pengembangan aspek sosial manusianya. Namun sebagai sebuah proyek dalam mekanisme birokrasi, pendanaan program ini sangatlah berorientasi pada pendekatan proyek dengan sistem birokrasi yang tidak luwes. Sistem anggaran tahunan yang hampir tidak memungkinkan untuk diubah dalam perjalanannya merupakan hambatan yang kerap muncul. Selain itu, sistem reimbu
d
seperti ini hampir tidak mungkin bisa dilaksanakan ol
Bantuan langsung masyarakat (BLM) yang dalam konsep pemberdayaan hanya sebagai alat dan stimulasi untuk penguatan, menjadi tujuan utama dalam konsep proyek di kerangka pemerintah. Sebagai akibatnya penetapan pagu BLM untuk tiap wilayah yang harus dilakukan pada tahap awal proyek tanpa data yang akurat tentang jumlah calon penerima manfaat dan kebutuhan aktual mereka menyebabkan terjadinya mis-alokasi dana BLM di beberapa wilayah, dan rendahnya absorbsi dana BLM tersebut oleh masyarakat.
Tidak jelasnya sistem koordinasi dan aliran informasi dalam birokrasi pemerintah dari pusat ke daerah menyebabkan seringnya terjadi salah informasi dan komunikasi antara pelaksana dengan fihak birokrasi. Tidak jelasnya status dan dana pendampingan proyek ini di mata pemerintah daerah menyebabkan dipersulitnya pelaksanaan program di tingkat lapangan oleh oknum-oknum pemerintah setempat.
o Kondisi sosial, ekonomi, politik dan kultural
Tantangan lain yang tidak kalah beratnya adalah kondisi ekonomi, sosial, dan kultural dan kultural anggota kelompok pekka di wilayah-wilayah program. Kemiskinan, penderitaan dan trauma yang berkepanjangan menyebabkan sulitnya menumbuhkan kembali motivasi mereka untuk bangkit dan mempergunakan kekuatan yang ada dalam mengatasi berbagai persoalannya. Nilai-nilai budaya yang cenderung menghambat ruang gerak mereka merupakan salah satu kondisi yang cukup sulit untuk diatasi dalam mengorganisir mereka. Ketertinggalan dan keterpinggiran mereka dari sistem yang ada selama ini, menyebabkan mereka tidak mempunyai wawasan dan pengalaman dalam berkelompok. Kerangka proyek adalah uang, yang selama ini selalu diterapkan dalam mengembangkan program di pedesaan telah mengurangi nilai dan motivasi mereka untuk mengorganisir diri d
m
mengembalikannya bagi kepentingan m la
Di wilayah konflik bersenjata seperti NAD dan wilayah pasca konflik seperti Maluku Utara, atau wilayah pengungsian akibat konflik seperti Buton, tantangan terberatnya adalah memeprgunakan program ini sebagai salah satu alternatif membangun perdamaian dan kehidupan lebih baik bagi mereka, dan mengatasi trauma dan ketakutan yang mendera dan menghantui mereka. Rasa curiga antar satu kelompok masyarakat yang bertikai juga membuat proses pengorganisasian terhambat dalam hal ini.
Tingkat pendidikan yang sangat rendah bahkan cukup banyak yang buta huruf, kesibukan mencari nafkah, dan keterkucilan di medan yang sulit dijangkau, merupakan aspek lainnya yang mempengaruhi kualitas pendampingan yang dapat dilakukan. Dibutuhkan upaya yang sangat serius untuk meningkatkan kapasitas mereka agar mampu setara dengan anggota masyarakat lainnya. Hidup dalam situasi keterbelakangan dalam waktu lama menyebabkan mereka sangat sulit untuk mencerna berbagai
formasi dan proses pembelajaran yang dilakukan bersama mereka. Kapasitas organisasi pelaksana
hal kapasitas mengelola ana proyek dengan sistem yang diberlakukan oleh pemerintah. Seknas dan tim PL memiliki pengalaman
ng dihadapi di
selama ini.
dikembangkan secara lebih luas dan mendalam maka dibutukan
perubahan-gka proyek pada umumnya.
khir dari pengembangan kelompok simpan pinjam
an yang objektif. BLM harus dikampanyekan sebagai
anpa menyeragamkan target yang harus dicapai oleh
agar tercipta kondisi yang lebih kondusif bagi pekka.
Diperlukan alokasi budget yang lebih besar untuk berbagai aktivitas pelatihan, lokakarya, diskusi, dialog, kampanye dan studi banding bagi anggota kelompok agar dapat mengembangkan kegiatannya dalam kondisi yang mereka hadapi.
o Dibutuhkan pengembangan sistem pendanaan yang berkelanjutan misalnya melalui pembiayaan rutin oleh pemerintah daerah dalam program pembangunannya agar kegiatan seperti ini dapat terus dilakukan meskipun tanpa dukungan proyek.
o Dibutuhkan lembaga keuangan mikro yang berada dekat dengan anggota kelompok pekka agar in
o
Dari segi organisasi pelaksana program, tantangan juga muncul terutama dalam d
yang tidka memadai dlaam pengelolaan prpoyek dengan pemerintah dan dalam bekerjasama dengan birokrasi pemerintah. Selain itu, sebagian besar PL merupakan orang-orang yang belum mempunyai pengalaman lapang yang memadai sehingga pada tahap awal banyak kesulitan ya
lapangan. Sistem komunikasi baik karena infrastruktur yang tidak memadai maupun karena keterbatasan kemampuan personal dalam hal ini, juga menjadi tantangan yang cukup serius dalam pelaksanaan program selama ini. Kerap terjadi kesalahfahaman dalam manajemen program karena kurang komunikasi. Lemahnya kemampuan pelaksanan program dalam mengembangkan data base merupakan tantangan yang cukup berpengaruh dalam kinerja program
6.1. Rekomendasi Jika program ini akan
perubahan mendasar sebagai rekomendasi dari pelajaran berharga selama ini. o Sistem pendanaan program seperti ini haruslah ke luar dari keran
Membuat sistem pendanaan rutin dan blok grant yang dapat diakses sesuai kebutuhan dan kondisi lapang dengan jangka waktu yang panjang merupakan salah satu rekomendasinya.
o Komponen BLM harus dibuat sebagai stimulan a
atau lembaga keuangan mikro jika tahapan pemberdayaan telah memasuki masa pengembangan ekonomi kelompok. Alokasi BLM harus berdasarkan proposal kelompok yang dibuat secara partisipatif dengan analisa sosial dan kebutuh
dana berputar bukan hibah yang tidak dikembalikan.
o Untuk mengatasi kendala ekonomi, sosial, politik dan kultural, diperlukan strategi beragam untuk setiap wilayah dengan memfokuskan pada persoalan khusus yang dihadapi. Pendekatan yang dilakukan harus dalam konteks masyarakat t
semua wilayah.
o Advokasi kebijakan dan kampanye publik secara lebih luas dan terstruktur merupakan hal yang harus dilakukan dalam pengembangan program kedepan guna berkontribusi dalam proses perubahan sosial masyarakat
mereka dapat terus mempunyai akses terhadap sumberdaya ekonomi untuk kebutuhan hidup mereka. Agar LKM ini benar-benar berfihak pada mereka, maka pengembangannya harus dirintis dari kelompok simpan pinjam mereka sendiri.
o Pengembangan sistem pengelolaan data yang profesional dan dapat diandalkan serta diakses sesuai kebutuhan menjadi rekomendasi penting yang harus diperhatikan mengingat tidak adanya data tentang pekka selama ini dan pentingnya data untuk menentukan berbagai strategi program dan advokasi mereka.