SEBAGAI GERAKAN PEMUDA ISLAM DI INDONESIA
E. Tantangan JIB sebagai Gerakan Pemuda Islam
Sebenarnya tantangan-tantangan terhadap pemuda Islam mempunyai kekhususan tersendiri. Tantangan tersebut seirama dengan babakan sejarah pada periode tertentu. Hal itu wajar terjadi karena pengaruh situasi dan kondisi mengiringi pertumbuhan gerakan pemuda Islam pada waktu itu.
Tantangan Islam merupakan tantangan pemuda Islam juga. Sebab sejak zaman Belanda terlihat bahwa serangan-serangan pada umumnya ditujukan kepada bagian yang paling strategis dari tubuh umat Islam, yaitu pemuda Islam. Hal tersebut dilakukan untuk degenerasi Islam dan pelumpuhan kaderisasi Islam, sebut saja misalnya kebijaksanaan pemerintah Belanda tentang pendidikan, yang mempunyai arah yang jelas yaitu lumpuhnya pembangunan generasi muda Islam.46
45
Ridwan Saidi, Kebangkitan Islam Era Orde Baru ; Studi Kepeloporan Cendikiawan Islam Sejak Zaman Belanda Sampai ICMI,h. 54
46
Berikut adalah tantangan-tantangan yang dihadapi pemuda Islam, baik dari segi ideologi, modernitas maupun tantangan invansi budaya.
1. Tantangan Ideologi
Tantangan yang sering terjadi dalam gerakan pemuda Islam adalah tantangan infiltrasi dari kalangan manapun yang berniat negatif terhadap eksistensi organisasi, seperti yang pernah terjadi / dialami oleh JIB. Di mana Ahmadiyah melakukan propaganda terselubung kepada organisasi pelajar atau mahasiswa dengan tujuan menyerang ideologi Islam.47 Hal ini seperti yang dilakukan oleh Ahmad Beig selaku utusan Ahmadiyah, ia sering kali memberi ceramah-ceramah dalam forum JIB yang di dalamnya terselubung faham Ahmadiyah yaitu adanya nabi setelah Nabi Muhammad SAW., yaitu Mirza Ghulam Ahmad.
Lebih lanjut dikatakan bahwa pemuda Islam harus waspada terhadap setiap aliran-aliran, kekuatan politik atau sistem yang tidak sesuai dengan Islam, antara lain kristenisasi sekularisasi di bidang intelektual, gerakan Yahudi internasional, komunisme internasional.48
Ideologi-ideologi yang tidak sesuai dengan Islam merupakan tantangan eksternal dan yang harus diwaspadai pemuda Islam adalah tantangan intern, yaitu menjaga persatuan kesatuan pemuda Islam yang berideologi berbeda, seperti pemuda Islam yang mempunyai ideologi nasionalis dan sosialis dalam asas perjuangannyam karena ideologi tersebut masih sesuai dengan Islam.49
47
Ridwan Saidi, Pemuda Islam dalam Dinamika Politik Bangsa 1925-1984, h. 16 48
Ridwan Saidi, Pemuda Islam dalam Dinamika Politik Bangsa 1925-1984, h. 158 49
Ridwan Saidi, Cendikiawan Islam Zaman Belanda Studi Pergerakan Intelektual JIB dan SIS (1925-1942), h. 3-5
Di samping itu tantangan ideologi pemuda Islam adalah penanaman pengaruh oleh rupa-rupa aliran dan kekuatan politik yang ada dalam masyarakat ke dalam perkumpulan pemuda Islam. Menurut Ridwan Saidi penanaman pengaruh ke dalam perkumpulan pemuda Islam tidak langsung diarahkan kepada organisasi, tetapi biasanya mereka membina pemuda Islam lainnya dengan perkumpulan yang bersifat sekular. Sehingga terdapat dua kecenderungan dalam pemikiran ataupun aliran. Seperti yang terjadi pada zaman kolonial Belanda, di mana pemerintah Belanda membina pemuda Islam dalam wadah Dienaren Van Vereenigig, sebuah perkumpulan yang hendak membangun nilai-nilai “supra agama”, yaitu nilai-nilai yang mengatasi sistem nilai agama. Sedangkan perkumpulan Islam tidak mendapat pembinaan. Oleh karena itu, nantinya terdapat dikotomi pemuda Islam (mahasiswa / pelajar) yang santri dan non santri.
Gerakan pemuda Islam sedikitnya berhati-hati terhadap paham-paham yang coba memberikan kesan bahwa antara Islam dan wawasan kebangsaan berada dalam posisi yang saling berhadapan, karena hal tersebut dapat memecah belah persatuan, mungkin yang harus ditentang adalah paham yang sempit tentang nasionalisme/kebangsaan yang menjurus pada chauvinisme.50
Hendaknya pemuda Islam menjaga persatuan dan kesatuan bangsa. Karena hal-hal sensitif dapat menimbulkan friksi di antara pemuda Islam, tetapi juga dengan organisasi kelompok lain. Atau dengan kata lain pemuda Islam tetap menjaga identitasnya sebagai orang Islam.
Pada hakikatnya tantangan ideologi gerakan pemuda Islam berkaitan erat dengan eksistensi gerakan tersebut. Apabila organisasi pemuda Islam tidak eksis,
50
maka dengan sendirinya tantangan ideologi tersebut tidak berhasil dijawab. Sedangkan organisasi-organisasi kaum muda lainnya siap dengan ideologi dan eksistensinya.
Bahwa untuk memelihara eksistensi organisasi adalah dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang mendukung eksistensi itu sendiri.51 Kemudian tantangan ideologi terhadap pemuda Islam adalah dengan diterimanya pancasila sebagai satu-satunya asas, dan dinyatakan oleh pemerintah sebagai ideologi terbuka, maka menjadi tantangan dan kewajiban pemuda Islam untuk mengisinya, pemuda Islam mempunyai kecenderungan untuk menerima Pancasila dan kecenderungan untuk tidak melakukan isolasi politik pada satu pihak. Karena pada lain pihak tetap ingin menjaga identitasnya sebagai orang Islam.52
2. Tantangan Modernitas
Biasanya organisasi pemuda Islam memiliki buletin intern, sebut saja misalnya JIB dengan majalah bulanannya Het Licht (an-Noer) yang terbit bulan Maret 1925 dan SIS dengan majalah bulanannya Moslimse Reveil (kebangkitan jiwa orang-orang Islam) yang terbit bulan Maret 1935, tetapi itu agaknya tidak memadai, walaupun majalah yang diterbitkan dengan kualitas yang dapat dipertanggungjawabkan, namun terdapat dua faktor yang harus diperhatikan, yaitu masalah manajemen dan isi yang berwibawa, karena dewasa ini perlu dipikirkan kembali dalam menghadapai modernitas adalah menerbitkan majalah yang berkesinambungan, tentunya dengan manajemen yang baik dan isi majalah yang
51
Ridwan Saidi, Pemuda Islam dalam Dinamika Politik Bangsa 1925-1984, h. 58 52
Ridwan Saidi, Cendikiawan Islam Zaman Belanda Studi Pergerakan Intelektual JIB dan SIS (1925-1942), h. 67
berkualitas. Hal itu agar penyebarluasan pengetahuan Islam dapat diterima dengan baik oleh umat Islam melalui media.53
Selanjutnya dikatakan bahwa untuk menjawab tantangan modernitas diperlukan kemantapan iman dan ilmu pengetahuan yang luas, karena tanpa kedua hal tersebut pemuda Islam tidak sanggup menyahut persoalan yang berhubungan dengan teknologi dan ideologi-ideologi besar di dunia.54
Kenyataan-kenyataan di atas haruslah diiringi dengan ditegakkannya nilai-nilai Islam di bidang keilmuan (konsepsi sains dan teknologi), jika tidak hanya menjadikan mereka (pemuda Islam) hanya bermental Barat.55 Oleh karena itu kelestarian nilai-nilai Islam bagi kehidupan pelajar harus tetap dijaga, sebab kelestarian Islam sebagai ajaran terancam dengan adanya kurikulum dan sistem serta metode didaktik yang berlaku pada dunia pendidikan resmi dewasa ini. Sementara kompetisi intelektual dengan pelajar yang beragama lain berlangsung secara “kurang fair”, di dalam pengertian untuk pelajar yang secara ideologis dan kultural berasal dari lingkungan bukan Islam dirangsang oleh lembaga swasta untuk meningkatkan kemampuan intelektualnya lewat pembinaan tertentu, misalnya pemberian beasiswa.56
Bahkan dewasa ini pusat-pusat pendidikan di Kanada dan Amerika Serikat menjadi tempat yang lebih penting peranannya untuk penggodokan cendikiawan muda Islam dibanding dengan Madinah dan Kairo, yang pernah berjaya di masa lalu. “Training grounds” pemuda Islam jauh lebih beragam, tidak saja berbentuk
53
Ridwan Saidi, Pemuda Islam dalam Dinamika Politik Bangsa 1925-1984, h. 57 54
Ridwan Saidi, Pemuda Islam dalam Dinamika Politik Bangsa 1925-1984, h. 59 55
Ridwan Saidi, Pemuda Islam dalam Dinamika Politik Bangsa 1925-1984, h. 158 56
Ridwan Saidi, Cendikiawan Islam Zaman Belanda Studi Pergerakan Intelektual JIB dan SIS (1925-1942), h. 19
organisasi formal dan media cetak tetapi munculnya lembaga swadaya masyarakat dan masjid-masjid kampus merupakan gejala baru dalam lima belas tahun terakhir ini, sudah barang tentu tantangan yang dihadapi dalam bidang pemikiran jauh berbeda.57
3. Tantangan Invasi Budaya
Dalam menghadapi tantangan invasi budaya yang diperlukan pemuda Islam adalah melestarikan budaya Islam karena untuk menghayati dan memahami kebudayaan Islam diperlukan penghayatan terhadap kebudayaan Indonesia, sehingga mampu mengantisipasi kecenderungan masyarakat dunia. Maka dengan itu, pemuda Islam hendaknya memacu keterampilan dan potensinya dalam kerangka penyusunan peradaban dan kebudayaan Islami.58
Dalam sejarah pemuda Islam telah diingatkan oleh penjajahan, di mana budaya kemiskinan, kemelaratan, ketidakadilan sosial atau kebodohan merupakan alat yang ampuh terhadap invasi budaya di Indonesia, oleh karena itu pemuda Islam memerlukan kemampuan intelektual yang lebih, agar tidak menjadi orang minoritas.59
Hendaknya pemuda Islam menjaga kesinambungan organisasi dalam dunia intelektual, apabila organisasi tersebut tetap eksis dan bangkit dalam gelombang pasang surut sejarah maka tantangan tersebut dapat terjawab.60 Dengan demikian bahwa tantangan ideologi, modernitas dan invasi budaya harus
57
Ridwan Saidi, Cendikiawan Islam Zaman Belanda Studi Pergerakan Intelektual JIB dan SIS (1925-1942), h. 67
58
Ridwan Saidi, Pemuda Islam dalam Dinamika Politik Bangsa 1925-1984, h. 157 59
Ridwan Saidi, Cendikiawan Islam Zaman Belanda Studi Pergerakan Intelektual JIB dan SIS (1925-1942), h. 24
60
dijawab dengan gerakan pemuda Islam dengan menjaga eksistensi organisasi tentunya dengan melakukan kegiatan-kegiatan yang menjaga eksistensi organisasi gerakan pemuda Islam tersebut.