• Tidak ada hasil yang ditemukan

Target Perbaikan Input dan Output untuk mencapai kondis

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

4.5 Hasil Penelitian

4.5.3 Target Perbaikan Input dan Output untuk mencapai kondis

Metode DEA ini akan menghasilkan efisiensi relatif. Untuk meningkatkan efisiensi sempurna yang ditunjukkan dengan angka 100 persen, maka dapat diketahui input mana saja yang belum efisien penggunaannya dan output mana saja yang harus tingkatkan. Salah satu keunggulan analisis perhitungan efisiensi dengan menggunakan metode DEA adalah selain mampu menemukan nilai efisiensi relatif dari masing-masing UKE, DEA juga mampu membuat skenario perbaikan input dan output yang sebaiknya digunakan bagi UKE yang belum efisien melalui langkah identifikasi input yang terlalu banyak atau output yang rendah. Skenario perbaikan yang dihasilkan DEA dapat

digunakan untuk memperbaiki tingkat efisiensi daerah atau UKE yang belum efisien.

Ada tiga faktor yang menyebabkan efisiensi, yaitu apabila dengan input yang sama menghasilkan output yang lebih besar, dan dengan input yang lebih kecil menghasilkan output yang sama, dan dengan input yang lebih kecil menghasilkan menghasilkan output yang lebih besar. Meskipun dengan orientasi maksimasi output, hasil metode analisis efisiensi dengan DEA juga dipengaruhi oleh tingkat input.

Salah satu keunggulan metode DEA dalam menganalisis tingkat efisiensi adalah kemampuannya dalam membuat perhitungan lebih lanjut tentang nilai target secara relatif yang harus dicapai oleh UKE yang belum mencapai kondisi efisien agar mampu mencapai tingkat efisiensi yang sempurna.

Daerah yang telah mencapai kondisi efisiensi sempurna dalam anggaran belanja kesehatan adalah daerah yang baik secara teknis biaya maupun secara teknis sistem telah berhasil mencapai nilai efisiensi sempurna sebesar 100 persen, sebagaimana yang telah dicapai oleh Kabupaten Magelang, Kabupaten Wonogiri, Kabupaten Pemalang, Kota Surakarta, dan Kota Semarang. Berdasarkan Hasil perhitungan efisiensi relatif diketahui bahwa daerah-daerah tersebut berhasil mencapai kondisi efisiensi sempurna baik secara teknis biaya maupun teknis sistem. Dengan demikian di dalam perhitungan target perbaikan input dan output untuk daerah-daerah tersebut tidak ditemukan adanya nilai target dan potential improvement yang harus diubah oleh Pemerintah kabupaten/kota yang bersangkutan. Daerah-daerah yang telah efisien secara teknis biaya dan teknis

sistem dapat dijadikan daerah tujuan kegiatan benchmarking pemerintah daerah kabupaten/kota yang belum efisien secara teknis biaya maupun yang belum efisien teknis sistem.

Hasil perhitungan menunjukkan perhitungan lebih lanjut mengenai target perbaikan yang harus dicapai oleh daerah kabupaten/kota yang belum efisien baik secara teknis biaya maupun teknis sistem dalam belanja kesehatan. Berikut hasil perhitungan target perbaikan untuk beberapa kabupaten/kota yang belum mencapai nilai efisiensi teknis biaya maupun efisiensi teknis sistem.

1. Kabupaten Cilacap

Kabupaten Cilacap telah mencapai kondisi efisien sempurna secara teknis biaya sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis sistem masih dalam kriteria efisiensi tinggi dengan capaian 99,57 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis sistem.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Cilacap dari sisi input perlu mengurangi rasio jumlah bidan sebesar -40,45% dari jumlah aktual 68,23 menjadi 40,63 bidan per 100.000 penduduk. Sedangkan dari sisi output, Kabupaten Cilacap perlu meningkatkan ABH dari 995,10 menjadi 999,38 per 100.000 kelahiran hidup, AIMS dari 107750,72 menjadi 108344,69 per 100.000 kelahiran hidup, dan AHH dari 72,80 menjadi 73,11.

2. Kabupaten Banyumas

Kabupaten Banyumas telah mencapai kondisi efisien sempurna secara teknis sistem sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis biaya masih dalam

kriteria efisiensi sedang dengan capaian 61,14 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Banyumas dari sisi input telah efisien dalam penggunaan anggaran belanja kesehatan yang tersedia. Sedangkan dari sisi output, Kabupaten Banyumas perlu meningkatkan variabel output sebesar 63,55% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 7,22 menjadi 11,81 unit, rasio jumlah bidan dari 39,11 menjadi 63,96 bidan, dan rasio jumlah tempat tidur dari 145,90 menjadi 238,61 unit per 100.000 penduduk. 3. Kabupaten Purbalingga

Kabupaten Purbalingga telah mencapai kondisi efisien sempurna secara teknis sistem sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis biaya masih dalam kriteria efisiensi rendah dengan capaian 55,69 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Purbalingga dari sisi input telah efisien dalam penggunaan anggaran belanja kesehatan yang tersedia. Sedangkan dari sisi output, Kabupaten Purbalingga perlu meningkatkan variabel output sebesar 79,56% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 9,11 menjadi 16,36 unit, rasio jumlah bidan dari 32,95 menjadi 59,16 bidan, dan rasio jumlah tempat tidur dari 47,12 menjadi 84,61 unit per 100.000 penduduk.

4. Kabupaten Banjarnegara

Kabupaten Banjarnegara pencapaian secara teknis biaya maupun teknis sistem belum mencapai kondisi efisien yaitu baik teknis biaya dan teknis sistem dengan capaian kriteria efisiensi tinggi yaitu (84,79%) dan (99,87%). Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya dan teknis sistem.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Banjarnegara ditinjau dari segi teknis biaya perlu meningkatkan rasio jumlah puskesmas sebesar 17,94% dari jumlah aktual 12,50 menjadi 14,74 unit, rasio jumlah bidan dari 47,77 menjadi 56,34 bidan, dan rasio jumlah tempat tidur sebesar 31,05% dari jumlah aktual dari 50,34 menjadi 65,97 unit per 100.000 penduduk.

Adapun dari segi teknis sistem, dari sisi input dengan mengurangi rasio jumlah bidan sebesar -09,29% dari 47,77 menjadi 43,33 bidan per 100.000 penduduk. Selain itu dari segi output perlu meningkatkan ABH dari 997,47 menjadi 998,77 per 100.000 kelahiran hidup, AIMS dari 112477,61 menjadi 112624,51 per 100.000 kelahiran hidup, dan AHH dari 73,39 menjadi 73,66. 5. Kabupaten Kebumen

Kabupaten Kebumen pencapaian secara teknis biaya maupun teknis sistem belum mencapai kondisi efisien yaitu baik teknis biaya dan teknis sistem dengan capaian kriteria efisiensi tinggi yaitu (94,68%) dan (99,62%). Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya dan teknis sistem.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Kebumen ditinjau dari segi teknis biaya perlu meningkatkan variabel output sebesar 05,62% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 12,62 menjadi 13,33 unit, rasio jumlah bidan dari 68,25 menjadi 72,09 bidan, dan rasio jumlah tempat tidur dari 87,30 menjadi 92,21 unit per 100.000 penduduk.

Adapun dari segi teknis sistem, dari sisi input dengan mengurangi rasio jumlah bidan sebesar -35,36% dari 68,25 menjadi 44,11 bidan per 100.000 penduduk. Selain itu dari segi output perlu meningkatkan ABH dari 996,98 menjadi menjadi 1000,78 per 100.000 kelahiran hidup, AIMS dari 105652,30 menjadi 110152,98 per 100.000 kelahiran hidup, dan AHH dari 72,67 menjadi 72,95.

6. Kabupaten Purworejo

Kabupaten Purworejo telah mencapai kondisi efisien sempurna secara teknis biaya sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis sistem masih dalam kriteria efisiensi tinggi dengan capaian 99,59 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis sistem.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Purworejo dari sisi input perlu mengurangi rasio jumlah bidan sebesar -34,69% dari jumlah aktual 66,10 menjadi 43,17 bidan per 100.000 penduduk. Sedangkan dari sisi output, Kabupaten Purworejo perlu meningkatkan ABH dari 996,13 menjadi 1000,21 per 100.000 kelahiran hidup, AIMS sebesar 2,63% dari 108146,16 menjadi 110994,70 per 100.000 kelahiran hidup, dan AHH dari 73,83 menjadi 74,13.

7. Kabupaten Wonosobo

Kabupaten Wonosobo pencapaian secara teknis biaya maupun teknis sistem belum mencapai kondisi efisien yaitu baik teknis biaya dan teknis sistem dengan capaian kriteria efisiensi sedang dan tinggi yaitu (76,53%) dan (99,72%). Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya dan teknis sistem.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Wonosobo ditinjau dari segi teknis biaya perlu meningkatkan variabel output sebesar 30,67% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 12,93 menjadi 16,90 unit, rasio jumlah bidan dari 44,23 menjadi 57,79 bidan, dan rasio jumlah tempat tidur dari 63,11 menjadi 82,46 unit per 100.000 penduduk.

Adapun dari segi teknis sistem, dari sisi input dengan mengurangi rasio jumlah puskesmas sebesar -30,56% dari 12,93 menjadi 8,98 dan rasio jumlah bidan sebesar -3,74% dari 44,23 menjadi 42,57 bidan per 100.000 penduduk. Selain itu dari segi output perlu meningkatkan ABH dari 998,91 menjadi 1001,73 per 100.000 kelahiran hidup, AIMS dari 108700,71 menjadi 109464,32 per 100.000 kelahiran hidup, dan AHH dari 70,82 menjadi 71,02.

8. Kabupaten Boyolali

Kabupaten Boyolali pencapaian secara teknis biaya maupun teknis sistem belum mencapai kondisi efisien yaitu baik teknis biaya dan teknis sistem dengan capaian kriteria efisiensi sedang (70,64%) dan efisiensi tinggi (99,75%). Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya dan teknis sistem.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Boyolali ditinjau dari segi teknis biaya perlu meningkatkan variabel output sebesar 41,56% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 11,07 menjadi 15,67 unit, rasio jumlah bidan dari 45,94 menjadi 65,03 bidan, dan rasio jumlah tempat tidur dari 96,05 menjadi 135,97 unit per 100.000 penduduk.

Adapun dari segi teknis sistem, dari sisi input dengan mengurangi rasio jumlah puskesmas sebesar -4,30% dari 11,07 menjadi 10,59 per 100.000 penduduk. Selain itu dari segi output perlu meningkatkan ABH dari 995,35 menjadi 997,89 per 100.000 kelahiran hidup, AIMS dari 108102,90 menjadi 108379,15 per 100.000 kelahiran hidup, dan AHH dari 75,61 menjadi 75,80. 9. Kabupaten Klaten

Kabupaten Klaten telah mencapai kondisi efisien sempurna secara teknis biaya sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis sistem masih dalam kriteria efisiensi tinggi dengan capaian 99,98 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis sistem.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Klaten dari sisi input perlu mengurangi rasio jumlah puskesmas sebesar -5,01% dari jumlah aktual 13,00 menjadi 12,35 unit, serta rasio jumlah bidan sebesar -1,44% dari 51,04 menjadi 50,30 bidan per 100.000 penduduk. Sedangkan dari sisi output, Kabupaten Klaten perlu meningkatkan AIMS sebesar 1,23% dari 107237,07 menjadi 108558,46 per 100.000 kelahiran hidup, dan AHH dari 76,54 menjadi 76,56.

10. Kabupaten Sukoharjo

Kabupaten Sukoharjo telah mencapai kondisi efisiens sempurna secara teknis sistem sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis biaya masih dalam kriteria efisiensi tinggi dengan capaian 98,79 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Sukoharjo dari sisi input telah efisien dalam penggunaan anggaran belanja kesehatan yang tersedia. Sedangkan dari sisi output, Kabupaten Sukoharjo perlu meningkatkan variabel output sebesar 1,23% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 16,10 menjadi 16,30 unit, rasio jumlah bidan dari 54,61 menjadi 55,28 bidan, dan rasio jumlah tempat tidur dari 87,87 menjadi 88,95 unit per 100.000 penduduk.

11. Kabupaten Karanganyar

Kabupaten Karanganyar telah mencapai kondisi efisien sempurna secara teknis sistem sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis biaya masih dalam kriteria efisiensi tinggi dengan capaian 86,52 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Karanganyar dari sisi input telah efisien dalam penggunaan anggaran belanja kesehatan yang tersedia. Sedangkan dari sisi output, Kabupaten Karanganyar perlu meningkatkan variabel output sebesar 15,59% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 12,85

menjadi 14,85 unit, rasio jumlah bidan dari 51,75 menjadi 59,82 bidan, dan rasio jumlah tempat tidur dari 67,55 menjadi 78,08 unit per 100.000 penduduk.

12. Kabupaten Sragen

Kabupaten Sragen telah mencapai kondisi efisien sempurna secara teknis biaya sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis sistem masih dalam kriteria efisiensi tinggi dengan capaian 99,81 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis sistem.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Sragen dari sisi input perlu mengurangi rasio jumlah puskesmas sebesar -17,72% dari jumlah aktual 14,39 menjadi 11,84 unit, dan rasio jumlah bidan sebesar -34,72% dari jumlah aktual 75,72 menjadi 49,43 bidan per 100.000 penduduk. Sedangkan dari sisi output, Kabupaten Sragen perlu meningkatkan ABH dari 997,08 menjadi 998,96 per 100.000 kelahiran hidup, AIMS dari 107910,13 menjadi 109736,03 per 100.000 kelahiran hidup, dan AHH dari 75,31 menjadi 75,45.

13. Kabupaten Grobogan

Kabupaten Grobogan pencapaian secara teknis biaya maupun teknis sistem belum mencapai kondisi efisien yaitu baik teknis biaya dan teknis sistem dengan capaian kriteria efisiensi tinggi (84,68%) dan (98,55%). Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya dan teknis sistem.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Grobogan ditinjau dari segi teknis biaya perlu meningkatkan variabel output sebesar 18,09% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 9,67 menjadi 11,42 unit, rasio jumlah

bidan dari 54,69 menjadi 64,58 bidan, dan rasio jumlah tempat tidur dari 73,07 menjadi 86,29 unit per 100.000 penduduk.

Adapun dari segi teknis sistem, dari sisi input dengan mengurangi rasio jumlah bidan sebesar -24,02% dari 54,69 menjadi 41,55 bidan per 100.000 penduduk. Selain itu dari segi output perlu meningkatkan ABH dari 983,02 menjadi 997,45 per 100.000 kelahiran hidup, AIMS dari 109451,93 menjadi 111058,39 per 100.000 kelahiran hidup, dan AHH dari 74,07 menjadi 75,16. 14. Kabupaten Blora

Kabupaten Blora pencapaian secara teknis biaya maupun teknis sistem belum mencapai kondisi efisien yaitu baik teknis biaya dan teknis sistem dengan capaian kriteria efisiensi sedang (77,36%) dan efisiensi tinggi (99,36%). Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya dan teknis sistem.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Blora ditinjau dari segi teknis biaya perlu meningkatkan variabel output sebesar 29,26% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 12,14 menjadi 15,69 unit, rasio jumlah bidan dari 51,98 menjadi 67,19 bidan, dan rasio jumlah tempat tidur dari 63,53 menjadi 82,12 unit per 100.000 penduduk.

Adapun dari segi teknis sistem, dari sisi input dengan mengurangi rasio jumlah bidan sebesar -16,35% dari 51,98 menjadi 43,48 per 100.000 penduduk. Selain itu dari segi output perlu meningkatkan ABH dari 991,99 menjadi 998,38 per 100.000 kelahiran hidup, AIMS dari 111819,08 menjadi 112539,26 per 100.000 kelahiran hidup, dan AHH dari 73,84 menjadi 74,32.

15. Kabupaten Rembang

Kabupaten Rembang telah mencapai kondisi efisien sempurna secara teknis sistem sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis biaya masih dalam kriteria efisiensi tinggi dengan capaian 85,32 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Karanganyar dari sisi input telah efisien dalam penggunaan anggaran belanja kesehatan yang tersedia. Sedangkan dari sisi output, Kabupaten Karanganyar perlu meningkatkan variabel output sebesar 17,21% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 16,77 menjadi 19,66 unit, rasio jumlah bidan dari 42,66 menjadi 50,00 bidan, dan meningkatkan rasio jumlah tempat tidur sebesar 141,48% dari jumlah aktual 53,41 menjadi 128,97 unit per 100.000 penduduk.

16. Kabupaten Pati

Kabupaten Pati telah mencapai kondisi efisien sempurna secara teknis sistem sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis biaya masih dalam kriteria efisiensi tinggi dengan capaian 85,32 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Pati ditinjau dari segi teknis biaya perlu meningkatkan rasio jumlah puskesmas sebesar 42,51% dari jumlah aktual 8,81 menjadi 12,56 unit serta meningkatkan variabel output sebesar 25,22% berupa rasio jumlah rasio bidan dari jumlah aktual 57,93 menjadi 72,54 bidan, dan rasio jumlah tempat tidur dari 76,45 menjadi 95,73 unit per 100.000

penduduk. Adapun dari segi teknis sistem, dari sisi input dengan mengurangi rasio jumlah bidan sebesar -23,62% dari 57,93 menjadi 44,25 per 100.000 penduduk. 17. Kabupaten Kudus

Kabupaten Kudus telah mencapai kondisi efisien sempurna secara teknis sistem sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis biaya masih dalam kriteria efisiensi tinggi dengan capaian 81,24 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Kudus dari sisi input telah efisien dalam penggunaan anggaran belanja kesehatan yang tersedia. Sedangkan dari sisi output, Kabupaten Kudus perlu meningkatkan rasio jumlah puskesmas sebesar 45,30% dari jumlah aktual 9,38 menjadi 13,63 unit, rasio jumlah bidan sebesar 23,08% dari 57,48 menjadi 70,75 bidan, dan rasio jumlah tempat tidur sebesar 23,08% dari jumlah aktual 145 menjadi 178,67 unit per 100.000 penduduk.

18. Kabupaten Jepara

Kabupaten Jepara telah mencapai kondisi efisien sempurna secara teknis sistem sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis biaya masih dalam kriteria efisiensi sedang dengan capaian 63,19 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Jepara dari sisi input telah efisien dalam penggunaan anggaran belanja kesehatan yang tersedia. Sedangkan dari sisi output, Kabupaten Jepara perlu meningkatkan variabel output sebesar 58,25% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 7,26 menjadi

11,49 unit, rasio jumlah bidan dari 36,47 menjadi 57,71 bidan, dan rasio jumlah tempat tidur dari 65,25 menjadi 103,26 unit per 100.000 penduduk.

19. Kabupaten Demak

Kabupaten Demak telah mencapai kondisi efisien sempurna secara teknis sistem sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis biaya masih dalam kriteria efisiensi sedang dengan capaian 67,59 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Demak dari sisi input telah efisien dalam penggunaan anggaran belanja kesehatan yang tersedia. Sedangkan dari sisi output, Kabupaten Demak perlu meningkatkan variabel output sebesar 47,96% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 8,41 menjadi 12,44 unit, dan rasio jumlah bidan dari 37,24 menjadi 55,10 bidan, serta meningkatkan rasio jumlah tempat tidur sebesar 74,36% dari jumlah aktual 42,84 menjadi 74,70 unit per 100.000 penduduk.

20. Kabupaten Semarang

Kabupaten Semarang telah mencapai kondisi efisien secara sempurna teknis sistem sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis biaya masih dalam kriteria efisiensi sedang dengan capaian 67,66 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Semarang dari sisi input telah efisien dalam penggunaan anggaran belanja kesehatan yang tersedia. Sedangkan dari sisi output, Kabupaten Semarang perlu meningkatkan variabel

output sebesar 47,80% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 12,45 menjadi 18,40 unit, dan rasio jumlah bidan dari 37,47 menjadi 55,38 bidan, serta meningkatkan rasio jumlah tempat tidur sebesar 140,03% dari jumlah aktual 35,74 menjadi 85,78 unit per 100.000 penduduk.

21. Kabupaten Temanggung

Kabupaten Temanggung telah mencapai kondisi efisien sempurna secara teknis biaya sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis sistem masih dalam kriteria efisiensi tinggi dengan capaian 99,43 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis sistem.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Temanggung dari sisi input perlu mengurangi rasio jumlah puskesmas sebesar -40,00% dari jumlah aktual 16,24 menjadi 9,74 unit, dan rasio jumlah bidan sebesar -17,41% dari jumlah aktual 53,32 menjadi 44,04 bidan per 100.000 penduduk. Sedangkan dari sisi output, Kabupaten Temanggung perlu meningkatkan ABH dari 991,81 menjadi 997,46 per 100.000 kelahiran hidup, AIMS dari 104640,19 menjadi 106373,31 per 100.000 kelahiran hidup, dan AHH dari 75,34 menjadi 75,77. 22. Kabupaten Kendal

Kabupaten Kendal telah mencapai kondisi efisien sempurna secara teknis sistem sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis biaya masih dalam kriteria efisiensi sedang dengan capaian 69,63 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Kendal dari sisi input telah efisien dalam penggunaan anggaran belanja kesehatan yang tersedia. Sedangkan dari sisi output, Kabupaten Kendal perlu meningkatkan variabel output sebesar 43,62% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 11,56 menjadi 16,60 unit, dan rasio jumlah bidan dari 37,98 menjadi 54,55 bidan, serta meningkatkan rasio jumlah tempat tidur sebesar 46,15% dari jumlah aktual 49,54 menjadi 72,40 unit per 100.000 penduduk.

23. Kabupaten Batang

Kabupaten Batang pencapaian secara teknis biaya maupun teknis sistem belum mencapai kondisi efisien yaitu baik teknis biaya dan teknis sistem dengan capaian kriteria efisiensi tinggi (86,36%) dan (99,56%). Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya dan teknis sistem.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Batang ditinjau dari segi teknis biaya perlu meningkatkan variabel output sebesar 15,79% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 11,81 menjadi 13,67 unit, rasio jumlah bidan dari 61,11 menjadi 70,76 bidan, dan meningkatkan rasio jumlah tempat tidur sebesar 68,26% dari 46,85 menjadi 78,83 unit per 100.000 penduduk.

Adapun dari segi teknis sistem, dari sisi input dengan mengurangi rasio jumlah bidan sebesar -35,24% dari 61,11 menjadi 39,57 per 100.000 penduduk. Selain itu dari segi output perlu meningkatkan ABH dari 994,40 menjadi 998,76 per 100.000 kelahiran hidup, AIMS dari 104203,64 menjadi 107298,42 per 100.000 kelahiran hidup, dan AHH dari 74,40 menjadi 74,73.

24. Kabupaten Pekalongan

Kabupaten Pekalongan pencapaian secara teknis biaya maupun teknis sistem belum mencapai kondisi efisien yaitu baik teknis biaya dan teknis sistem dengan capaian kriteria efisiensi sedang (73,61%) dan efisiensi tinggi (99,92%). Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya dan teknis sistem.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Pekalongan ditinjau dari segi teknis biaya perlu meningkatkan variabel output sebesar 35,85% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 12,10 menjadi 16,44 unit, rasio jumlah bidan dari 48,87 menjadi 66,39 bidan, dan meningkatkan rasio jumlah tempat tidur sebesar 41,73% dari 66,97 menjadi 94,92 unit per 100.000 penduduk.

Adapun dari segi teknis sistem, dari sisi input dengan mengurangi rasio jumlah bidan sebesar -9,97% dari 48,87 menjadi 44,00 per 100.000 penduduk. Selain itu dari segi output perlu meningkatkan ABH dari 999,44 menjadi 1000,28 per 100.000 kelahiran hidup, AIMS dari 102712,50 menjadi 109784,33 per 100.000 kelahiran hidup, dan AHH dari 73,33 menjadi 73,39.

25. Kabupaten Tegal

Kabupaten Tegal telah mencapai kondisi efisien sempurna secara teknis sistem sebesar 100 persen, akan tetapi secara teknis biaya masih dalam kriteria efisiensi sedang dengan capaian 66,45 persen. Maka langkah perbaikan yang perlu dilakukan adalah lebih berorientasi pada pencapaian efisiensi teknis biaya.

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa Kabupaten Tegal dari sisi input telah efisien dalam penggunaan anggaran belanja kesehatan yang tersedia.

Sedangkan dari sisi output, Kabupaten Tegal perlu meningkatkan variabel output sebesar 50,49% berupa rasio jumlah puskesmas dari jumlah aktual 8,45 menjadi

Dokumen terkait