BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA
2.7. Variabel-variabel yang berhubungan dengan Out-of-Pocket
2.7.5.1 Tarif Rumah Sakit
Tarif rumah sakit merupakan suatu elemen yang amat esensial bagi rumah sakit yang tidak dibiayai penuh oleh pemerintah atau pihak ketiga. Suatu rumah sakit bisa untung dengan tarif tertentu, akan tetapi rumah sakit yang lain belum tentu bisa bertahan dengan tarif yang sama. Rumah sakit swasta, baik yang bersifat mencari laba maupun yang nirlaba harus mampu mendapatkan biaya untuk membiayai segala aktifitasnya dan untuk dapat terus memberikan pelayanan kepada masyarakat sekitarnya.
Pada dasarnya ada pertimbangan yang relatif sama di dalam penetapan tarif rumah sakit, yaitu mendapatkan revenue yang mencukupi untuk menjalankan rumah sakit. Meskipun demikian, tetap saja penetapan tarif pelayanan rumah sakit akan sangat bervariasi tergantung sifat masing-masing rumah sakit itu sendiri.
Dari perbedaan jenis kepemilikkan RS ini, terdapat pula perbedaan tarif antar keduanya. Di rumah sakit pemerintah, tarif tersebut tentu saja disubsidi oleh anggaran pemerintah, baik pusat maupun daerah. Hal ini dimaksudkan untuk menjamin bahwa masyarakat kelas bawah dapat terlayani dengan biaya yang terjangkau, sementara pada rumah sakit swasta atau non-pemerintah penetapan tariff lebih leluasa dan sangat bervariasi. Bahkan seiring berjalannya waktu dan maraknya arus swatanisasi banyak rumah sakit pemerintah di swadanakan yang tentunya menyebabkan variasi yang lebih besar dalam penetapan tarif antar rumah sakit yang satu dengan yang lainnya (Thabrany, 1998).
2.7.6 Diagnosis Penyakit dan ICD X
Diagnosis adalah suatu pernyataan singkat tentang keadaan atau kondisi suatu penyakit (Graham Brown, 2005). Fakta-fakta yang akan dijadikan sebagai dasar seorang klinisi untuk membuat diagnosis harus diperoleh terlebih dahulu dan terutama didapatkan dari keterangan pasien, serta tidak ada yang bisa menggantikan wawancara dan pemeriksaan langsung pada pasien.
Terdapat beberapa manfaat dari diagnosis ini, yaitu:
1. Memberikan pertunjuk kerja (label) yang dapat dikenali oleh orang lain. 2. Mengimplikasikan beberapa kesamaan dengan pasien-pasien lain yang
penyebab, patologi, gambaran (ciri-ciri) klinis, dan respon terhadap pengobatan.
3. Memberikan prognosis dan informasi tentang sumber penularan atau faktor keturunan.
4. Memberikan pengetahuan tentang metode pengobatan.
Diagnosis penyakit merupakan hal penting dan harus terdokumentasi dengan baik. Oleh karena itu untuk memudahkan pencatatan dibuatlah suatu sistem pengklasifikasian penyakit yang disebut dengan ICD yang diterbitkan oleh WHO.
International Statistical Classification of Disease and Related Health Problems (ICD) selalu direvisi secara berkala untuk memasukkan perubahan dalam
bidang medis. Saat ini ICD sudah mencapai revisi ke 10 sehingga penyebutannya adalah ICD X atau ICD-10.
Klasifikasi penyakit ini dapat didefinisikan sebagai suatu sistem penggolongan/pengkategorian dimana kesatuan penyakit disusun berdasarkan kriteria yang telah ditentukan. Tidak hanya untuk memudahkan pencatatan data kesehatan, ICD mempunyai tujuan untuk mendapatkan rekaman sistematik, melakukan analisis, interpretasi serta membandingkan data morbiditas dan mortalitas dari negara yang berbeda atau antar wilayah dan pada waktu yang berbeda. ICD digunakan untuk menerjemahkan diagnosis penyakit dan masalah kesehatan dari kata-kata menjadi kode alfanumerik yang akan memudahkan penyimpanan, mendapatkan data kembali dan analisis data.
Tabel 2.2 Klasifikasi Penyakit Utama yang Terdapat Pada ICD X
ICD X Jenis Penyakit
A00-B99 C00-D48 D50-D89 E00-E90 F00-F99 G00-G99 H00-H59 H60-H95 I00-I99 J00-J99 K00-K93 L00-L99 M00-M99 N00-N99 O00-O99 P00-P96 Q00-Q99 R00-R99 S00-T98 V01-Y98 Z00-Z99 U00-U99
INFEKSI DAN PARASIT NEOPLASMA
DARAH, ORGAN PEMBENTUK DARAH, SISTEM IMUN ENDOKRIN, NUTRISI, GANGGUAN METABOLIK GANGGUAN JIWA DAN PERILAKU
SISTEM SYARAF MATA DAN ADNEXA TELINGA DAN MASTOID SISTEM SIRKULASI SISTEM PERNAPASAN SISTEM PENCERNAAN
KULIT DAN JARINGAN SUBKUTAN SISTEM MUSCULOSKLETAL
SALURAN KEMIH DAN GENITAL KEHAMILAN DAN KELAHIRAN PERIODE PERINATAL
MALFORMASI KONGENITAL, DEFORMASI GEJALA, TANDA, KELAINAN KLINIS DAN LAB
KERACUNAN, CEDERA, BEBERAPA PENYEBAB LUAR MORBIDITAS DAN KEMATIAN EKSTERNAL
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI STATUS KESEHATAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN JASA KESEHATAN KODE KEGUNAAN KHUSUS
2.7.7 Aneka Pemeriksaan Penunjang Diagnostik 1. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksan laboratorium adalah suatu tindakan dan prosedur pemeriksaan khusus dengan mengambil bahan/sampel dari penderita, dapat berupa urin, darah, sputum (dahak), atau sampel dari hasil biopsi (www.dokter.indo.net.id.). Beberapa contoh pemeriksaan laboratorium yaitu, pemeriksaan darah rutin, hemoglobin, SGOT/SGPT, ureum darah, dll.
Pemeriksaan laboratorium sebenarnya merupakan bagian dari proses medis, baik sejak awal hingga pemantauan perkembangan terapi. Ada beberapa tujuan dalam pemeriksaan laboratorium, yaitu skrining suatu penyakit, menunjang diagnosis, menyingkirkan suatu diagnosis penyakit, memantau pengobatan/perkembangan terapi, dan menentukan pengobatan dan kekambuhan.
2. Radiologi
Pemeriksaan radiologi adalah pemeriksaan sederhana menggunakan sinar rontgen (sinar X) dengan atau tanpa obat kontras (www.rscm.co.id). Contoh pemeriksaan radiologi adalah foto thorax, tengorak AP&Lat, abdomen/BNO, dll.
3. Patologi Anatomi
Patologi anatomi (PA) adalah spesialisasi medis yang berurusan dengan diagnosis penyakit berdasarkan pada pemeriksaan kasar, mikroskopik, dan molekuler atas organ, jaringan, dan sel (www.med.unhas.ac.id). Beberapa contoh pemeriksaan PA adalah sitologi sputum, sitologi urin, hispatologi, dll.
4. Pemeriksaan elekromedik
Beberapa contoh pemeriksaan elektromedik antara lain: EEG, ECG, EMG USG, CT Scaning, Test Treadmill, dll.
5. Emergency/Gawat Darurat
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, gawat berarti genting; berbahaya, sedangkan darurat berarti keadaan sukar (sulit) yang tidak tersangka-sangka yang memerlukan penanggulangan segera. Dapat dikatakan, kasus emergency adalah kasus yang genting dan berbahaya jika tidak segera ditangani.
Menurut Weinerman (1966) emergency adalah kondisi yang memerlukan perhatian medis segera, penundaan waktu berbahaya bagi pasien; gangguan akut dan berpotensi mengancam kehidupan.
Pada peserta asuransi managed care, jika seseorang mendapatkan keadaan emergency perihal kesakitan/kecelakaan/penyakitnya maka seseorang tersebut bisa langsung mencari pertolongan di rumah sakit yang ditunjuk maupun yang tidak ditunjuk oleh perusahaan asuransi-nya. Oleh karena itu, klaim perorangan pada perusahaan asuransi managed care terjadi pada kasus-kasus tertentu seperti kasus emergency ini. Setiap peserta yang mendapatkan keadaan emergency ini, masuk ke rumah sakit tertentu melalui instalasi gawat darurat (IGD) dan mendapatkan pertolongan dengan segera. Setelah dilakukan pengobatan, barulah peserta atau keluarga yang bersangkutan mengajukan klaim reuimbersment untuk biaya pengobatan yang telah dikeluarkannya.