Target dan Realisasi Belanja Daerah adalah Anggaran Rp. 4.358.328.271.526 Realisasi Rp. 3.018.858.152.493 _
Selisih kurang Rp. (1.339.470.119.033) Kurang 30,73 % dari Anggaran Belanja Tahun 2015
NO URAIAN ANGGARAN 2015 REALISASI 2015 SELISIH PERSEN TASE REALISASI 2014 1 Belanja Tidak Langsung 1.683.530.502.900 1.361.662.523.163 (321.867.979.737) 80,88 1.232.457.912.913 2 Belanja Langsung 2.674.797.768.626 1.657.195.629.330 (1.017.602.139.296) 61,96 1.729.518.776.473 Belanja 4.358.328.271.526 3.018.858.152.493 (1.339.470.119.033) 69,27 2.961.976.689.386 Sumber : Data Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Semarang Tahun 2015
Target dan Realisasi Belanja dapat dirinci sebagai berikut :
a. Belanja Tidak Langsung
Target dan Realisasi Belanja Tidak Langsung adalah : Anggaran Rp.1.683.530.502.900,-
Realisasi Rp.1.361.662.523.163,- _ Selisih kurang Rp. (321.867.979.737,-)
Atau kurang 19,12% dari Anggaran Belanja Tidak Langsung Tahun 2015.
NO URAIAN ANGGARAN 2015 REALISASI 2015 SELISIH PERSEN
TASE REALISASI 2014 1 Belanja Pegawai 1.508.021.694.600 1.323.678.903.513 (184.342.791.087) 87,78 1.178.286.258.488 2 Belanja Bunga 0 0 0 0 250.000.000 3 Belanja Subsidi 0 0 0 0 0 4 Belanja Hibah 80.633.775.000 34.097.478.825 (46.536.296.175) 42,29 44.933.676.000 5 Belanja Bantuan Sosial 4.875.000.000 1.998.500.000 (2.876.500.000) 40,99 6.301.500.000 6 Belanja Bagi Hasil 0 0 0 0 0 7 Belanja Bantuan Keuangan 984.262.000 865.658.275 (118.603.725) 87,95 870.104.900 8 Belanja Tidak terduga 89.015.771.300 1.021.982.550 (87.993.788.750) 1,15 1.816.373.525 Belanja Tidak Langsung 1.683.530.502.900 1.361.662.523.163 (321.867.979.737) 80,88 1.232.457.912.913
Sumber : Data Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Semarang Tahun 2015
Pemerintah Kota Semarang dalam Realisasi Belanja Daerah diupayakan menghindari adanya pelampauan. Realisasi kurang dari target belanja apabila target sasaran output terpenuhi berarti terjadi efisiensi. Adapun selisih kurang Belanja pada Belanja Tidak langsung dapat diuraikan sebagai berikut :
a) Belanja Pegawai :
Selisih kurang diakibatkan adanya pegawai pensiun, mutasi pegawai, pegawai yang cuti dan meninggal. Kurang Belanja Pegawai terdapat pada setiap SKPD dengan selisih terkecil di SKPD Kecamatan Semarang Selatan dan terbesar di SKPD BKD.
b) Belanja Bunga :
c) Belanja Subsidi
Belanja subsidi tidak dianggarkan.
d) Belanja Hibah
Selisih kurang terjadidikarenakan adanya pengendalian pemberian hibah berdasarkan Permendagri nomor 39 tahun 2012 sebagai perubahan Permendagri nomor 32 tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bansos yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah. Serta ketentuan pasal 298 ayat (5) huruf d Undang-Undang Nomor 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, sebagaimana telah diubah beberapa kali, terakhir dengan Undang-Undang Nomor 9 Tahun 2015 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah, maka organisasi kemasyarakatan yang diperbolehkan untuk menerima hibah adalah organisasi kemasyarakatan yang berbadan hukum Indonesia. Sehingga dikarenakan peraturan tersebut, maka SKPD pengelola Hibah lebih berhati-hati dalam mengajukan pencairan Hibah.
e) Belanja Bantuan Sosial :
Selisih kurang terjadi dikarenakan belanja bantuan sosial diberikan sesuai dengan ketentuan Permendagri nomor 39 tahun 2012 sebagai perubahan Permendagri nomor 32 tahun 2011 tentang Pedoman Pemberian Hibah dan Bansos yang Bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah.
Kebijakan Pemerintah dalam pemberian bantuan sosial diberikan secara selektif, tidak terus menerus/tidak mengikat (pemberian bersifat tidak wajib dan tidak harus diberikan tiap tahun), kecuali dalam keadaan tertentu serta memiliki kejelasan peruntukan penggunaannya dengan mempertimbangkan kemampuan keuangan daerah.
f) Belanja Bantuan Keuangan :
Bantuan keuangan merupakan bantuan kepada partai politik yang diberikan kepada 9 partai politik dengan jumlah suara sebanyak 656.683 suara, dengan nilai Rp1.325,00 per suara. SKPD pengelola bantuan keuangantersebut adalahBadan Kesbangpolinmas, Adapun Partai Golongan Karya dan Partai Persatuan pembangunan tidak dicairkan karena tidak ada pengajuan dari Kesbangpolinmas untuk kedua partai tersebut disebabkan karena kelengkapan persyaratan yang kurang
lengkap yaitu tidak dikeluarkan surat Pengesahan dari Kementerian Hukum dan HAM kepada kedua Partai tersebut.
g) Belanja Tidak Terduga :
Belanja Tidak Terduga digunakan sesuai dengan kebutuhan yaitu untuk restitusi sedangkan sisanya dicadangkan apabila terjadi bencana alam.
b. Belanja Langsung
Target dan Realisasi Belanja Langsung adalah :
Anggaran Rp. 2.674.797.768.626,- Realisasi Rp. 1.657.195.629.330,- - Selisih kurang Rp.(1.017.602.139.296,-)
Atau kurang sebesar 38,04 % dari target Belanja Langsung Tahun 2015:
NO URAIAN ANGGARAN 2015 REALISASI 2015 SELISIH PERSEN
TASE REALISASI 2014 1 Belanja Pegawai 159.188.977.295 133.048.408.412 (26.140.568.883) 83,58 133.988.263.889 2 Belanja Barang dan Jasa 1.166.259.301.809 838.106.540.994 (328.152.760.815) 71,86 808.370.385.171 3 Belanja Modal 1.349.349.489.522 686.040.679.924 (663.308.809.598) 50,84 787.160.127.413 Belanja Langsung 2.674.797.768.626 1.657.195.629.330 (1.017.602.139.296) 61,96 1.729.518.776.473 Sumber : Data Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Semarang Tahun 2015
Keterangan kurang belanja pada Belanja Langsung sebagai berikut :
a) Belanja Pegawai :
Selisih kurang belanja pegawai disebabkan karena :
Sesuai dengan kegiatan yang dilaksanakan masing-masing SKPD. Kurang Belanja Langsung Pegawai terdapat pada beberapa SKPD yaitu RSUD, Dinas PJPR, Dishubkominfo, Disnakertrans dan Sekretariat DPRD.
b) Belanja Barang dan Jasa :
Pada belanja barang dan jasa selisih kurang disebabkan karena :
1) Adanya beberapa program dan kegiatan yang dilaksanakan oleh beberapa SKPD ( Satuan Kerja Perangkat Daerah) yang tidak dapat dicairkan SP2D ( Surat Perintah Pencairan Dana) nya . Hal tersebut disebabkan karena adanya keterlambatan pengajuan SPM (Surat Perintah Membayar) dari SKPD pengampu kegiatan.
2) Belanja barang jasa disesuaikan dengan kebutuhan kegiatan yang dilaksanakan.
3) Pemakaian telepon, listrik, dan air disesuaikan dengan kebutuhan kedinasan.
4) Pengadaan dan penyediaan ATK, komponen instalasi listrik/penerangan bangunan kantor, dan pengadaan dan penyediaan peralatan gedung kantor disesuaikan dengan harga pasar dan menyesuaikan dengan E-Catalog.
5) Adanya kegiatan yang dilaksanakan tetapi target dan penyerapan belanjanya tidak mencapai 100% dan ada beberapa kegiatan yang tidak dilaksanakan atau 0% .
Kurang Belanja Barang dan Jasa terdapat pada SKPD Dinas Pendidikan, RSU, Dinas Bina Marga, Dinas PSDA dan ESDM, Sekretariat DPRD, DPKAD, Dishubkominfo, DKK dan Dinas PJPR.
Belanja Modal :
Pada belanja modal selisih kurang belanja disebabkan karena :
1) Pembelian barang modal memiliki kualitas dan kuantitas dan pelaksanaannya di bawah standar indeks harga yang sudah ditentukan. 2) Belanja modal pengadaannya dilakukan secara selektif yaitu dengan
melakukan perbandingan harga yang menguntungkan bagi pemerintah daerah yaitu melalui mekanisme lelang.
3) Belanja modal pengeluarannya sesuai kebutuhan.
4) Kegiatan yang tidak mencapai 100% terdiri dari SKPD : Dinas Pendidikan, RSU, Dinas Bina Marga, Dinas PSDA dan ESDM, DPKAD, PJPR, DTKP ,Satpol PP, kecamatan Semarang Selatan, Kecamatan Semarang Timur, Kecamatan Semarang Barat, Kecamatan Gunungpati, Kecamatam Banyumanik, Kecamatan Ngaliyan sedangkan kegiatan yang tidak dilaksanakan (0%) yaitu dari SKPD : Dinas Bina Marga, Dinas PSDA dan ESDM, RSUD, Dinas Tata Kota dan Perumahan dan Dinas Pasar, BLH, Dinas Koperasi, Dinsospora, Kecamatan : Mijen, Genuk, Gunungpati. Semarang Barat, Semarang Tengah, Satpol PP.
4. Permasalahan dan Solusi
Permasalahan belanja Daerah yang timbul dalam pelaksanaan. Tahun Anggaran 2015 adalah sebagai berikut :
a) Mekanisme pembayaran atas pekerjaan yang belum selesai, yang Berita Acara Penyelesaian Pekerjaan-nya (BAPP) diperkirakan akan terjadi sampai dengan tanggal 31 Desember 2015. Pekerjaan yang belum selesai tersebut adalah pekerjaan-pekerjaan yang masih dalam tahap penyelesaian dan belum dilakukan Serah Terima Barang/Jasa,
sementara batas akhir penyampaian Surat Perintah Membayar (SPM) ke DPKAD sudah berakhir. Hal ini mengindikasikan masih cukup besar prosentase pekerjaan pada instansi pemerintah kota Semarang yang belum dilaksanakan atau setidak-tidaknya yang belum diselesaikan pengerjaannya serta belum dilakukan pencairan anggarannya.
b) Permasalahan pembebasan pada pertanahan masih banyak tanah sengketa di masyarakat harga negosiasi yang dikehendaki masyarakat dan kemampuan keuangan pemerintah belum mencapai sepakat sehingga memerlukan waktu lama penyelesaiannya, maka pembebasan belum dapat diselesaikan semua
c) Beberapa program dan kegiatan dari pusat yang ditetapkan belum diikuti dengan Petunjuk Pelaksanaan (Juklak) dengan tepat waktu sehingga bila direalisasikan pelaksanaannya sering terbentur dengan waktu dan kondisi di lapangan.
Solusi dalam Pengelolaan Belanja Daerah adalah sebagai berikut :
a) Disusun Peraturan Walikota tentang Perubahan APBD Tahun 2016 sesuai dengan Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 52 Tahun 2015 Tentang Pedoman Penyusunan APBD 2016.
b) Permasalahan pembebasan tanah diselesaikan dengan komunikasi dan pendekatan persuasif kepada masyarakat serta tokoh-tokoh masyarakat selain dengan musyawarah mufakat.
c) Melakukan koordinasi dan komunikasi dalam rangka sinkronisasi program dan kegiatan dengan Petunjuk Pelaksanaan (juklak) dari pusat.
C. PEMBIAYAAN DAERAH
Pembiayaan daerah merupakan pembiayaan yang disediakan untuk menganggarkan setiap penerimaan yang perlu dibayar kembali dan/atau pengeluaran yang akan diterima kembali, baik pada tahun anggaran yang bersangkutan maupun pada tahun-tahun berikutnya. Pembiayaan dalam struktur APBD merupakan akibat dari penerapan surplus/defisit anggaran. Pembiayaan untuk menutup defisit anggaran disebut sebagai penerimaan pembiayaan, sedang pembiayaan yang dilakukan untuk memanfaatkan surplus disebut pengeluaran
pembiayaan. Sehingga penyusunan anggaran pembiayaan daerah akan dipengaruhi oleh kondisi surplus/defisit anggaran.
1. Penerimaan Pembiayaan
a. Kebijakan Penerimaan Pembiayaan
Sumber penerimaan pembiayaan daerah pada tahun anggaran 2015 bersumber dari sisa lebih perhitungan anggaran daerah (SilPA) dan pencairan Dana Cadangan. Penganggaran SiLPA didasarkan pada penghitungan yang cermat dan rasional dengan mempertimbangkan perkiraan realisasi anggaran di tahun anggaran 2014.
Penerimaan pembiayaan di tahun 2015 direncanakan akan dianggarkan dari pencairan dana cadangan yang akan dipergunakan untuk mendukung pelaksanaan Pemilihan Walikota dan Wakil Walikota Semarang Tahun 2015, baik yang berbentuk hibah maupun belanja langsung program dan kegiatan pada SKPD terkait.
b. Target dan Realisasi Penerimaan Pembiayaan
Anggaran Rp.1.136.190.735.526,-
Realisasi Rp.1.073.208.844.976,- _ Selisih kurang Rp. (62.981.890.550,-)
Atau kurang 5,54 % dari Target Penerimaan Pembiayaan Tahun 2015.
Penerimaan Pembiayaan adalah berasal dari Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) Tahun 2014, yaitu sebesar Rp.1.073.208.844.976,- dan Pencairan Dana Cadangan sebesar Rp.62.981.890.550,-.
NO URAIAN ANGGARAN 2015 REALISASI 2015 SELISIH PERSEN
TASE REALISASI 2014 1 Penggunaan Sisa Lebih Perhitungan Anggaran (SILPA) 1.073.208.844.976 1.073.208.844.976 0 100 912.721.021.842 2 Pencairan Dana Cadangan 62.981.890.550 0 (62.981.890.550) 0 0 3 Hasil Penjualan Kekayaan Daerah yang Dipisahkan 0 0 0 0 0 4 Penerimaan Pinjaman Daerah 0 0 0 0 0 5 Penerimaan Kembali Pemberian Pinjaman Daerah 0 0 0 0 0 6 Penerimaan Piutang Daerah 0 0 0 0 0 Penerimaan Pembiayaan 1.136.190.735.526 1.073.208.844.976 (62.981.890.550) 94,46 912.721.021.842 Sumber : Data Dinas Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah Kota Semarang Tahun 2015