• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Tata Cara Penelitian

Determinasi tanaman apu-apu yang diperoleh dari Kebun Tanaman Obat

Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta dilakukan di

Laboratorium Kebun Tanaman Obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta berdasarkan USDA (2014) dengan mencocokkan karakteristik

tanaman apu-apu yang digunakan dengan gambar, taksonomi, dan keterangan

kelompok tumbuhan, seperti monokotil dan dikotil, dari USDA (2014).

2. Pengumpulan bahan

Bahan uji yang digunakan adalah akar apu-apu yang diperoleh dari

kolam di Kebun Tanaman Obat Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma

Yogyakarta pada Januari 2014. Pemanenan dilakukan saat pagi hari untuk

mengcegah kandungan metabolit sekunder yang terdapat dalam tanaman apu-apu

agar tidak diolah menjadi metabolit lainnya dalam proses fotosintesis yang

melibatkan cahaya matahari.

3. Preparasi akar apu-apu

Akar apu-apu sebanyak 600 gram dibersihkan dari pengotor-pengotor

dengan cara dicuci dengan air mengalir, kemudian diangin-anginkan. Akar

apu-apu yang telah cukup kering dihaluskan menggunakan blender dengan bantuan

sedikit metanol sebagai cairan penyari. Akar yang telah halus dituang ke dalam

bejana maserasi, lalu ditambahkan metanol hingga terendam sempurna. Maserasi

dilakukan selama 24 jam pada suhu ruang. Filtrat diperoleh melalui penyaringan

Ampas hasil maserasi pertama diremaserasi kembali selama 24 jam, lalu

dilakukan penyaringan kembali.Filtrat hasil maserasi diuapkan pelarutnya dengan

vacuum rotary evaporator, lalu dipekatkan di atas waterbath, dan oven pada suhu

40 C hingga diperoleh ekstrak metanol akar apu-apu dengan bobot tetap. Ekstrak

metanolik akar apu-apu digunakan untuk analisis selanjutnya.

4. Pembuatan larutan pembanding dan uji

a. Pembuatan larutan DPPH

Sebanyak 15,8 mg DPPH dilarutkan hingga 100,0 mL dengan

metanol, sehingga diperoleh larutan DPPH dengan konsentrasi 0,4 mM.

Larutan ditutup dengan alumunium foil dan selalu dibuat baru.

b. Pembuatan larutan stok rutin

Sebanyak 2,5 mg rutin dilarutkan dengan metanol hingga 10,0 mL.

c. Pembuatan larutan pembanding

Larutan stok rutin diambil sebanyak 0,5; 1,0; 1,5; 2,0; dan 2,5 mL

kemudian metanol p.a ditambahkan hingga 10,0 mL, sehingga diperoleh

konsentrasi larutan standar rutin sebesar 5; 10; 15; 20; dan 25 µg/mL.

d. Pembuatan larutan uji

i. Larutan uji untuk aktivitas antioksidan.

Sebanyak 25,0 mg ekstrak metanolik ditimbang, lalu

metanol p.a ditambahkan hingga 25 mL. Larutan tersebut

kemudian diambil sebanyak 1,0; 2,0; 3,0; 4,0; dan 5,0 mL, lalu

ditambah dengan metanol hingga 10,0 mL, sehingga diperoleh

ii. Larutan uji untuk penetapan kandungan fenolik total.

Sebanyak 200 mg ekstrak metanolik ditimbang dan

dilarutkan dengan metanol p.a hingga 10,0 mL, sehingga diperoleh

konsentrasi larutan uji sebesar 20000 µg/mL.

e. Pembuatan larutan asam galat

Larutan asam galat dibuat dengan konsentrasi 500 µg/mL

dalam akuades dan metanol p.a dengan perbandingan 1:1 v/v.

Larutan tersebut diambil sebanyak 1,0; 1,5; 2,0; 2,5; dan 3,0 mL,

lalu ditambah dengan akuades : metanol p.a (1:1) ad hingga 10,0

mL, sehingga diperoleh konsentrasi larutan baku asam galat

sebesar 50, 75, 100, 125, dan 150 µg/mL.

5. Uji pendahuluan

a. Uji fenolik

Sebanyak 0,5 ml larutan uji dan larutan pembanding asam galat

dengan konsentrasi 150,0 µg/mL masing-masing dimasukkan ke dalam

tabung reaksi, kemudian ditambah dengan 2,5 mL reagen

Folin-Ciaocalteu yang telah diencerkan dengan akuades dengan perbandingan

1:10 v/v dalam tabung reaksi. Campuran didiamkan selama 10 menit,

lalu ditambah dengan 7,5 mL larutan natrium karbonat 1 M. Warna

larutan diamati secara visual dengan mata.

b. Uji pendahuluan aktivitas antioksidan

Sebanyak 1,0 mL larutan DPPH dimasukkan ke dalam

reaksi ditambahkan 1,0 mL metanol p.a, larutan pembanding rutin 25

µg/mL, dan larutan uji 500,0 µg/mL. Campuran tersebut ditambah

dengan 3 mL metanol p.a, lalu divortex selama 30 detik. Setelah 30

menit, warna larutan tersebut diamati secara visual dengan mata.

6. Optimasi metode penetapan kandungan fenolik total

a. Penentuan operating time (OT)

Sebanyak 0,5 mL larutan asam galat dengan konsentrasi 50, 100,

dan 150 µg/mL ditambah dengan 5 mL reagen Folin-Ciaocalteu yang

telah diencerkan dengan akuades dengan perbandingan 1:10 v/v. Setelah

itu, 4,0 mL larutan natrium karbonat 1M ditambahkan dan dibaca

serapannya menggunakan spektrofotometer visibel pada panjang

gelombang 760 nm selama 30 menit.

b. Penentuan panjang gelombang serapan maksimum

Sebanyak 0,5 mL larutan asam galat dengan konsentrasi 50, 100,

dan 150 µg/mL ditambah dengan 5,0 mL reagen Folin-Ciaocalteu yang

telah diencerkan dengan air dengan perbandingan 1:10 v/v. Setelah itu,

sebanyak 4,0 mL larutan natrium karbonat 1M ditambahkan dan

didiamkan selama operating time. Scanning panjang gelombang

maksimum asam galat yang direaksikan dengan Folin Ciocalteu

dilakukan pada rentang panjang gelombang 600-800 nm, di mana panjang

gelombang teoritisnya yaitu 760 nm, sehingga masuk dalam rentang

7. Penetapan kandungan fenolik total

a. Pembuatan kurva baku asam galat

Sebanyak 0,5 mL larutan asam galat dengan konsentrasi 50, 75,

100, 125, dan 150 µg/mL ditambah dengan 5 mL reagen Folin-Ciaocalteu

yang telah diencerkan dengan air dengan perbandingan 1:10 v/v. Setelah

itu, 4,0 mL larutan natrium karbonat 1M ditambahkan dan didiamkan

selama operating time. Serapan dibaca pada panjang gelombang

maksimum terhadap blanko yang terdiri dari akuades dan metanol p.a

dengan perbandingan 1:1 v/v, reagen Folin-Ciaocalteu, dan larutan

natrium karbonat 1M. Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali.

b. Estimasi kandungan fenolik total larutan uji

Larutan uji diambil sebanyak 0,5 mL, lalu dimasukkan ke dalam

labu ukur 10 mL, kemudian diberi perlakuan seperti pada pembuatan

kurva baku asam galat. Kandungan fenolik total dinyatakan sebagai gram

ekivalen asam galat (mg ekivalen asam galat per g ekstrak metanolik).

Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali.

8. Optimasi metode uji aktivitas antioksidan

a. Penentuan operating time (OT)

Sebanyak 1,0 mL larutan DPPH, 1 mL larutan pembanding rutin 5;

15; dan 25 µg/mL masing-masing dimasukkan ke dalam tiga buah labu

ukur 5 mL, kemudian ditambah dengan metanol p.a hingga tanda batas.

Larutan divortex selama 30 detik dan dibaca serapannya dengan

selama 60 menit. Pada larutan uji 100, 200, dan 300 µg/mL juga

dilakukan perlakuan yang sama.

b. Penentuan panjang gelombang serapan maksimum

Sebanyak 0,5; 1,0; dan 1,5 ml larutan DPPH masing-masing

dimasukkan ke dalam tiga buah labu ukur 10 mL, kemudian ditambah

dengan metanol p.a hingga tanda batas, sehingga diperoleh konsentrasi

DPPH 0,020; 0,040; dan 0,060 mM. Larutan divortex selama 30 detik,

lalu didiamkan selama operating time teoritis 30 menit. Setelah itu

dilakukan scanning panjang gelombang maksimum dengan menggunakan

spektrofotometer visibel pada panjang gelombang 400-600 nm.

9. Uji aktivitas antioksidan

a. Pengukuran absorbansi larutan kontrol DPPH

Sebanyak 2,0 mL larutan DPPH dimasukkan ke dalam labu ukur

10 mL dan ditambah dengan metanol p.a hingga tanda batas. Larutan

dibaca serapannya dengan menggunakan spektrofotometer visibel pada

panjang gelombang maksimum yang didapatkan dari scanning panjang

gelombang maksimum, setelah operating time. Replikasi dilakukan

sebanyak 3 kali.

b. Pengukuran absorbansi larutan pembanding dan uji

Sebanyak 2,0 mL larutan DPPH dimasukkan ke labu ukur 10 mL,

kemudian ditambah dengan 2,0 mL larutan pembanding dan larutan uji

pada berbagai seri konsentrasi yang telah dibuat. Setelah itu, metanol p.a

didiamkan selama operating time (OT), kemudian dilakukan pembacaan

serapan menggunakan spektrofotometer visibel pada panjang gelombang

maksimum. Replikasi dilakukan sebanyak 3 kali.

c. Estimasi aktivitas antioksidan

Penghitungan nilai %IC dan IC50 dilakukan berdasarkan hasil dari

prosedur 9 a dan b untuk rutin dan ekstrak metanolik akar apu-apu.

Dokumen terkait