• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

F. Tata Cara Penelitian

Sampel yang dipilih dan digunakan dalam penelitian ini adalah sediaan

racikan pulveres dengan zat aktif hidroklorotiazid dan captopril yang diracik di

apotek X dengan resep sebagai berikut :

R/ Captopril 12,5 mg

Hidroklorotiazid 25 mg

Mfla. Pulv. d.td. no IX

Berdasarkan resep diketahui kadar teoritis hidroklorotiazid adalah 25 mg

dan captopril adalah 12,5 mg. Selanjutnya ketika dilakukan penimbangan tablet

captopril dan hidroklorotiazid yang digunakan apotek X untuk membuat

sediaan racikan pulveres didapatkan bobot teoritis adalah 276,6 mg dengan

Pengambilan sampel dilakukan sebanyak tiga kali dalam waktu yang

berbeda-beda, dan setiap pengambilan didapatkan 9 bungkus pulveres. Seluruh

sampel pulveres yang diperoleh diuji terlebih dahulu keragaman bobotnya,

kemudian dari total sembilan bungkus pulveres diambil tiga bungkus untuk uji

keseragaman kandungan dan enam bungkus untuk dilakukan pengujian kadar

air. Total sampel pulveres yang digunakan dalam penelitian ini adalah 27

bungkus.

2. Uji keragaman bobot pulveres

Sembilan bungkus pulveres ditimbang satu persatu menggunakan neraca

analitik. Proses penimbangan adalah ditimbang terlebih dahulu isi pulveres

dengan bungkusnya, kemudian isi pulveres dikeluarkan dan bungkus pulveres

ditimbang kembali. Bobot isi tiap bungkus pulveres didapatkan dari hasil

selisih antara nilai bobot pulveres dan bungkusnya dengan nilai bobot bungkus

pulveres dengan sisanya.

Uji kadar air Uji keragaman bobot Uji keseragaman kandungan 3x 3x 6 Bungkus 3 Bungkus 9 Bungkus Ran d o m 3x

3. Uji keseragaman kandungan

a. Verifikasi metode KCKT.

1) Pembuatan fase gerak dan pelarut. Fase gerak dan pelarut yang

digunakan dalam penelitian ini adalah campuran metanol dan air dengan

perbandingan 95:5 v/v. Metanol grade KCKT dan air (aquabidestilata) masing-masing disaring menggunakan organic solvent membrane filter

untuk metanol, dan anorganic solvent membrane filter untuk aquabidestilata dengan bantuan pompa vaccum. Kemudian diletakkan pada wadah fase gerak KCKT, di mana metanol di wadah fase gerak B

sedangkan aquabidestilata di wadah fase gerak A, lalu fase gerak tadi

di-degassing menggunakan ultrasonikator selama 15 menit sebelum digunakan. Fase gerak dan pelarut pada penelitian ini menggunakan

komposisi dan senyawa yang sama, dengan tujuan untuk meminimalisir

gangguan pelarut pada detektor KCKT seperti jika komposisi fase gerak

dan pelarut berbeda.

2) Pembuatan larutan baku hidroklorotiazid.

a) Pembuatan larutan stok baku hidroklorotiazid. Hidroklorotiazid

ditimbang lebih kurang 100 mg secara seksama, dan dimasukkan ke

dalam labu ukur 50 mL kemudian dilarutkan dengan pelarut berupa

campuran metanol dan air (95:5) sampai batas tanda hingga diperoleh

larutan stok hidroklorotiazid dengan konsentrasi 2 mg/mL.

b) Pembuatan larutan intermediet baku hidroklorotiazid. Sebanyak 5 mL

dalam labu ukur 10 mL. Kemudian diencerkan dengan pelarut sampai

batas tanda hingga diperoleh larutan intermediet hidroklorotiazid

dengan konsentrasi 1 mg/mL.

c) Pembuatan seri kurva baku hidroklorotiazid. Larutan intermediet

hidroklorotiazid diambil sebanyak 20, 40, 60, 80, 100, 120, 140 dan

160 µl. Masing-masing larutan tersebut kemudian diencerkan dengan

pelarut dalam labu takar 10 mL hingga batas tanda dan didapatkan 8

seri baku yaitu 0,002; 0,004; 0,006; 0,008; 0,01; 0,012; 0,014 dan

0,016 mg/mL. Seri baku hidroklorotiazid disaring dengan milipore

dan di-degassing selama 5 menit.

3) Penentuan panjang gelombang pengamatan hidroklorotiazid. Tiga seri

konsentrasi baku 0,012; 0,014; dan 0,016 mg/mL diambil kemudian

larutan di-scanning pada panjang gelombang 200-400 nm dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis. Panjang gelombang

pengamatan ditentukan berdasarkan spektra serapan maksimum yang

dihasilkan sehingga diperoleh panjang gelombang maksimum yang akan

diaplikasikan pada pengukuran dengan KCKT.

4) Pembuatan persamaan kurva baku. Larutan 8 seri baku hidroklorotiazid

yaitu 0,002; 0,004; 0,006; 0,008; 0,01; 0,012; 0,014 dan 0,016 mg/mL

disaring dengan milipore dan di-degassing 5 menit, kemudian disuntikkan ke dalam sistem KCKT fase terbalik dengan fase diam

oktadesil silika (C18) dan fase gerak metanol : air (95:5), dengan

masing-masing konsentrasi seri baku dibuat kurva regresi linier yang

menyatakan hubungan antara konsentrasi seri baku hidroklorotiazid

dengan AUC untuk memperoleh regresi linier dengan persamaan y = bx

+ a dan nilai koefisien korelasinya (r).

5) Preparasi sampel.

a) Pembuatan larutan stok sampel. Satu bungkus pulveres digerus dan

dihomogenkan menggunakan mortir dan steamper. Sampel yang telah dihomogenkan ditimbang seksama lebih kurang 50 mg, kemudian

dilarutkan dengan pelarut. Larutan dimasukkan ke dalam labu ukur 25

mL, dan ditambahkan pelarut sampai tanda, sehingga diperoleh

larutan stok sampel.

b) Pembuatan larutan intermediet sampel. Sebanyak 5 mL larutan stok

sampel diambil, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL dan

diencerkan dengan pelarut hingga tanda.

c) Pembuatan larutan sampel. Sebanyak 500 µL larutan intermediet

sampel diambil, kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL dan

diencerkan dengan pelarut hingga tanda. Larutan tersebut disaring

dengan milipore dan dimasukkan ke dalam vial KCKT, kemudian

di-degassing selama 5 menit. b. Validasi metode analisis.

1) Penentuan resolusi sampel. Larutan sampel dibuat dari 3 bungkus

dengan konsentrasi 10 µL, kemudian disaring, di-degassing, dan diinjeksikan pada sistem KCKT fase terbalik yang telah dioptimasi.

2) Penentuan akurasi dan presisi. Penentuan akurasi dan presisi berdasar

pada persen perolehan kembali (recovery) dan nilai koefisien variasi (KV). Sebanyak 500 µL larutan intermediet sampel diambil sebanyak 4

kali. Masing-masing larutan dimasukkan kedalam labu ukur 10,0 mL dan

diberi label a, b, c, dan d. Larutan a diencerkan dengan pelarut hingga

tanda sehingga diperoleh larutan sampel tanpa adisi. Larutan b, c, dan d

ditambahkan baku hidroklorotiazid masing-masing sebanyak 40µL,

60µL, dan 80 µL. Kemudian masing-masing diencerkan dengan pelarut

hingga tanda, sehingga diperoleh larutan sampel adisi 4 µg/mL, 6 µg/mL,

8 µg/mL. Replikasi dilakukan 3 kali. Kedua macam sampel ini digunakan

untuk memperoleh nilai persen perolehan kembali dan nilai koefisien

variasi.

3) Pembuatan kurva baku dan penentuan linieritas. Sebanyak 8 seri larutan

baku hidroklorotiazid yaitu 0,002 mg/mL; 0,004 mg/mL; 0,006 mg/mL;

0,008 mg/mL; 0,01 mg/mL; 0,012 mg/mL; 0,014 dan 0,016 mg/mL

disaring dengan milipore dan di-degassing 5 menit, kemudian disuntikkan ke dalam sistem KCKT fase terbalik dengan fase diam

oktadesil silika (C18) dan fase gerak metanol : air (95:5), dengan

kecepatan alir 1,0 mL/menit. Hasil yang didapat berupa AUC pada

masing-masing konsentrasi seri baku dibuat kurva regresi linier yang

dengan AUC untuk memperoleh regresi linier dengan persamaan y = bx

+ a dan nilai koefisien korelasinya (r) yang akan digunakan untuk

menentukan parameter validasi linearitas.

c. Penetapan kadar hidroklorotiazid dalam pulveres. Sebanyak tiga bungkus

pulveres dalam setiap pengambilan sampel ditimbang secara seksama,

masing-masing bungkus direplikasi tiga kali. Setiap replikasi ditimbang

secara seksama sampel sejumlah 50 mg, dimasukkan ke dalam labu ukur

25,0 mL, kemudian dilarutkan dengan pelarut sampai tanda hingga

didapatkan larutan stok sampel. Larutan stok sampel yang sudah dibuat

kemudian disaring menggunakan kertas saring selanjutnya dilakukan

penyaringan menggunakan milipore untuk menghilangkan partikel-partikel kecil yang dapat mengganggu proses elusi di KCKT. Sebanyak 5 mL larutan

stok sampel diambil dan dimasukkan ke dalam labu ukur 10,0 mL untuk

selanjutnya diencerkan dengan pelarut sampai tanda sehingga diperoleh

larutan intermediet sampel. Selanjutnya diambil 500 µL larutan intermediet

dan dimasukkan ke dalam labu ukur 10,0 mL, diencerkan dengan pelarut

hingga batas tanda dan di-degassing selama 15 menit. Sebanyak 10 µL larutan sampel diinjeksikan ke dalam sistem KCKT dengan kolom oktadesil

silika (C18) (250 x 4,6 mm), menggunakan perbandingan fase gerak metanol

: air (95:5) dan kecepatan alir 1,0 mL/menit.

4. Uji kadar air

Uji kadar air dalam pulveres dilakukan untuk melihat salah satu

bungkus pulveres untuk setiap waktu pengambilan dengan menggunakan moisture analyzer dan parameter yang diukur adalah % moisture content.

Tiga serbuk pulveres yang baru diambil dari apotek digerus dalam mortir

dan stamper kemudian dimasukkan ke dalam moisture analyzer sebanyak lebih

kurang 100 mg. Suhu alat diatur pada 120˚C dan waktu pengeringan diatur selama

90 detik. Nilai % moisturecontent yang ditampilkan pada alat setelah pengukuran dicatat sebagai kadar air sebelum penyimpanan. Penyimpanan dilakukan selama 9

hari pada suhu ruangan, kemudian dilakukan pengujian yang sama terhadap tiga

bungkus sisa dan dicatat sebagai kadar air setelah penyimpanan.

G. Analisis Hasil

Dokumen terkait