ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN
A. Landasan Teori 1 Pengertian Pajak
4. Tata Cara Pengajuan Permohonan Pengurangan PBB.
Berdasar Peraturan Direktur Jenderal Pajak Nomor PER-46/PJ/2009 Tentang Tata Cara Pengajuan dan Penyelesaian Permohonan Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan, pengajuan permohonan pengurangan PBB adalah sebagai berikut:
a. Permohonan pengurangan diajukan secara tertulis dalam bahasa Indonesia kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak Pratama yang menerbitkan Surat Pemberitahuan Pajak Terutang (SPPT)/ Surat Ketetapan Pajak (SKP) dengan menyebutkan persentase pengurangan yang dimohonkan.
b. Pengajuan permohonan dilakukan dengan ketentuan :
1) Untuk wajib pajak orang pribadi harus diajukan dengan
melampirkan fotokopi SPPT/ SKP PBB Tahun Pajak yang dimohonkan.
2) Untuk wajib pajak badan, melampirkan fotokopi :
commit to user
- SPT PPh tahun terakhir beserta lampirannya.
- STTS tahun pajak terakhir atau struk ATM/ Counter Teller
pembayaran PBB.
- laporan keuangan perusahaan.
3) Untuk objek pajak yang terkena bencana alam, hama tanaman, dan sebab lain yang luar biasa dan bersifat kolektif diajukan oleh Kepala Desa/ Lurah dengan diketahui oleh Camat dengan mencantumkan nama-nama wajib pajak yang dimohonkan pengurangannya dengan menggunakan formulir yang telah ditentukan.
4) Permohonan diajukan selambat-lambatnya 3 bulan sejak SPPT/ SKP
diterima wajib pajak atau sejak terjadinya bencana alam atau sebab- sebab lain yang luar biasa.
5) Pengurangan secara kolektif diajukan sebelum SPPT diterbitkan selambat-lambatnya tanggal 10 Januari untuk tahun pajak yang bersangkutan.
6) Apabila batas waktu pengajuan tersebut tidak dipenuhi, maka permohonannya tidak diproses, dan Kepala Kantor KPP Pratama yang bersangkutan harus memberitahukan secara tertulis kepada wajib pajak/ Kepala Desa/ Lurah, disertai penjelasan seperlunya. 5. Tata Cara Penyelesaian Pengurangan PBB
Berdasar Surat Edaran Direktur Jenderal Pajak Nomor SE- 77/PJ/2009 tentang Petunjuk Pelaksanaan Penyelesaian Permohonan Pengurangan Pajak Bumi dan Bangunan adalah sebagai berikut :
commit to user
a. Penerimaan Berkas Permohonan Pengurangan dan Penelitian Persyaratan
1) Permohonan pengurangan disampaikan ke KPP Pratama, baik secara
langsung atau melalui pos dengan bukti pengiriman surat.
2) Tanggal penerimaan surat permohonan pengurangan yang dijadikan dasar untuk memproses permohonan pengurangan adalah tanggal terima surat permohonan pengurangan, dalam hal disampaikan secara langsung oleh wajib pajak atau kuasanya kepada Petugas Tempat Pelayanan Terpadu (TPT). Tanggal tanda pengiriman surat permohonan pengurangan dalam hal disampaikan melalui pos dengan bukti pengiriman surat.
3) KPP Pratama melaksanakan penelitian persyaratan terhadap
permohonan pengurangan dengan menggunakan lembar penelitian persyaratan permohonan pengurangan.
4) Permohonan pengurangan yang tidak memenuhi persyaratan,
dianggap bukan sebagai permohonan sehingga tidak dapat dipertimbangkan. Dalam hal permohonan pengurangan diajukan secara kolektif dan terdapat sebagian permohonan pengurangan tidak
memenuhi persyaratan, maka atas sebagian permohonan
pengurangan yang tidak memenuhi persyaratan dimaksud tidak dapat dipertimbangkan.
5) Dalam hal permohonan pengurangan tidak dapat dipertimbangkan, Kepala KPP Pratama dalam jangka waktu paling lama 10 (sepuluh)
commit to user
hari kerja sejak tanggal penerimaan surat permohonan pengurangan harus memberitahukan secara tertulis disertai alasan yang mendasari kepada:
a) Wajib pajak atau kuasanya dalam hal permohonan pengurangan diajukan secara perseorangan, atau
b) Pengurus LVRI/organisasi terkait atau Kepala Desa/ Lurah setempat dalam hal permohonan pengurangan diajukan secara kolektif.
b. Penanganan Berkas Permohonan Pengurangan yang Memenuhi Persyaratan
1. KPP Pratama mengelompokkan berkas permohonan pengurangan
yang telah memenuhi persyaratan berdasarkan arestasi kewenangan penyelesaian permohonan, yaitu kewenangan pada Kepala KPP Pratama, pada Kepala Kanwil DJP atau pada Direktur Jenderal Pajak.
2. Dalam hal kewenangan penyelesaian berada pada Kepala Kanwil DJP atau Direktur Jenderal Pajak, Kepala KPP Pratama meneruskan berkas permohonan pengurangan kepada Kepala kanwil DJP atau Direktur Jenderal Pajak, dengan dilampiri lembar penelitian persyaratan permohonan pengurangan dan dilakukan paling lambat 10 (sepuluh) hari kerja sejak surat permohonan pengurangan diterima.
commit to user
3. Kepala KPP Pratama atau pejabat serendah-rendahnya eselon III pada Kanwil DJP atau unit eselon II Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak yang menyelenggarakan fungsi pengurangan PBB, menindaklanjuti dengan menerbitkan Surat Tugas kepada Petugas Peneliti untuk melakukan penelitian.
4. Penerbitan Surat Tugas dilakukan dengan ketentuan:
a) dalam hal penelitian di kantor dilanjutkan dengan penelitian di lapangan, surat tugas diterbitkan secara terpisah masing-masing untuk penelitian di kantor dan penelitian di lapangan;
b) dalam hal jumlah permohonan pengurangan yang diajukan secara perseorangan cukup banyak, bentuk surat tugas dapat disesuaikan guna menampung beberapa permohonan sekaligus;
c) untuk permohonan yang diajukan secara kolektif, surat tugas dibuat untuk satu surat permohonan.
5. Pelaksanaan penelitian dilakukan dengan ketentuan:
a) petugas peneliti melakukan penelitian di kantor terhadap berkas permohonan pengurangan, dan apabila diperlukan petugas peneliti dapat melakukan penelitian di lapangan,
b) dalam hal dilakukan penelitian di lapangan, Kepala KPP Pratama, atau pejabat serendah-rendahnya eselon III pada Kanwil DJP atau unit eselon II Kantor Pusat Direktorat Jenderal Pajak yang menyelenggarakan fungsi pengurangan PBB, harus terlebih dahulu memberitahukan secara tertulis mengenai waktu
commit to user
pelaksanaan penelitian di lapangan kepada wajib pajak atau kuasanya, atau pengurus LVRI/pengurus organisasi terkait lainnya/ Kepala Desa/ Lurah untuk permohonan yang diajukan secara kolektif,
c) hasil penelitian dituangkan dalam laporan hasil penelitian pengurangan PBB.
6. Penerbitan Surat Keputusan Menteri Keuangan tentang pengurangan
PBB dilakukan berdasarkan laporan hasil penelitian pengurangan PBB.
7. Jangka waktu pelaksanaan penelitian dan penerbitan Surat
Keputusan Pengurangan PBB disesuaikan dengan jangka waktu penyelesaian permohonan pengurangan sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 10 Peraturan Menteri Keuangan Nomor
110/PMK.03/2009. Namun demikian dalam rangka meningkatkan
pelayanan kepada wajib pajak, penyelesaian permohonan
pengurangan tidak menunggu batas akhir waktu penyelesaian permohonan.
Prosedur Pengurangan PBB menurut SOP (Standard Operating Procedure):
1. Wajib pajak mengajukan surat permohonan pengurangan PBB secara
tertulis ke KPP Pratama.
2. Petugas TPT menerima permohonan pengurangan PBB kemudian
commit to user
belum lengkap, akan dikembalikan kepada wajib pajak untuk dilengkapi. Dalam hal berkas sudah lengkap, petugas TPT akan mencetak Bukti Penerimaan Surat (BPS) dan Lembar Pengawasan Arus Dokumen (LPAD). BPS akan diserahkan kepada wajib pajak sedangkan LPAD akan digabungkan dengan berkas permohonan pengurangan PBB dan kemudian diteruskan kepada Seksi Pengawasan dan Konsultasi.
3. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi menugaskan dan memberi disposisi kepada account representative (AR) untuk membuat uraian/ rekomendasi permohonan pengurangan PBB.
4. Account representative menyiapkan konsep uraian/ rekomendasi permohonan pengurangan PBB kemudian menyerahkan kepada Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi.
5. Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi meneliti, menyetujui dan memaraf konsep uraian/ rekomendasi permohonan pengurangan dan menyerahkan kepada Kepala Kantor. Dalam hal Kepala Seksi Pengawasan dan Konsultasi tidak menyetujui konsep uraian, maka account representative harus memperbaiki konsep pengurangan PBB tersebut.
6. Kepala Kantor mereview, menetapkan dan menandatangani uraian permohonan pengurangan PBB, kemudian meneruskan kepada Kepala Seksi Pelayanan.
commit to user
7. Kepala Seksi Pelayanan menerima uraian pengurangan PBB dan
menugaskan Pelaksana Seksi Pelayanan untuk mencetak konsep surat pengantar permohonan pengurangan kepada Kepala Kantor Wilayah DJP.
8. Pelaksanaan Seksi Pelayanan mencetak konsep surat pengantar
permohonan pengurangan dan meneruskan kepada Kepala Seksi Pelayanan.
9. Kepala Seksi Pelayanan meneliti, menyetujui dan memaraf konsep surat pengantar pemohonan, kemudian meneruskan kepada Kepala Kantor. Dalam hal Kepala Seksi Pelayanan tidak menyetujui konsep surat pengantar permohonan tersebut, Pelaksana Seksi Pelayanan harus memperbaiki konsep surat tersebut.
10. Kepala Kantor mereview, menetapkan dan menandatangani surat pengantar permohonan PBB. Dalam hal Kepala Kantor tidak menyetujui konsep tersebut, Pelaksana Seksi Pelayanan harus memperbaiki konsep surat tersebut.
11. Proses dilanjutkan ke SOP tentang Tata Cara Penatausahaan Dokumen Wajib Pajak dan SOP tentang Tata Cara Penyampaian Dokumen. 12. Pemrosesan permohonan pengurangan PBB dilaksanakan di Kanwil
dengan SOP Tata Cara Penyelesaian Permohonan Pengurangan PBB Terutang.
commit to user
memberikan pelayanan pengurangan PBB kepada wajib pajak yang tidak mampu dalam rangka pemenuhan asas keadilan.
Tabel II.1
Alasan Pengajuan Permohonan Pengurangan PBB Tahun 2010
e
Rekapitulasi data pengurangan PBB tahun 2010 Seksi Pelayanan KPP Pratama Surakarta
Tabel di atas menunjukkan alasan pengajuan pengurangan PBB di KPP Pratama Surakarta sebagian besar berasal dari wajib pajak veteran yaitu sebesar 174 wajib pajak.
Untuk wajib pajak baru yang ingin mengajukan pengurangan dapat mendatangi KPP Pratama Surakarta khususnya petugas TPT, untuk memperoleh informasi mengenai persyaratan yang harus dipenuhi.
No Alasan Pengajuan Jumlah
Pengajuan Persentase Pengurangan (%) 1 Veteran 174 50-75 2 Pensiun 78 5-35 3 Janda 64 5-50 4 Tidak Mampu 104 5-50 5 Pegawai swasta 81 0-30 6 Wiraswasta/ dagang 67 0-35 7 PNS 44 0-25 8 RS swasta/PTS 5 50 9 PT/ CV 10 0-15 10 Yayasan 1 5 11 Lain-lain 9 0-30 Jumlah pengurangan pengajuan 637
commit to user
Kemudian petugas TPT akan memberikan formulir permohonan pengurangan PBB, surat pernyataan besar penghasilan, dan SPOP yang masih harus dilengkapi oleh wajib pajak
Permohonan pengajuan pengurangan PBB untuk wajib pajak orang pribadi dilampiri dengan:
1) Fotokopi SPPT/ SKP tahun pajak yang diajukan permohonan
pengurangan.
Untuk mengetahui apakah wajib pajak telah menerima SPPT/ SKP dan untuk memperoleh informasi mengenai kondisi objek pajak, besarnya pajak yang terutang dan mencocokkan antara data yang ada di KPP Pratama Surakarta dengan data wajib pajak.
2) Fotokopi STTS tahun pajak terakhir.
Bertujuan mengetahui apakah wajib pajak telah melunasi PBB terutang tahun sebelumnya untuk objek pajak yang sama dan tidak memiliki tunggakan pajak.
3) Fotokopi Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga.
Kartu Tanda Penduduk untuk mengetahui domisili wajib pajak. Dan Kartu Keluarga untuk mengetahui jumlah tanggungan keluarga, alamat yang benar dan menghindari wajib pajak mendapat dua kali pengurangan untuk objek pajak yang berbeda. 4) Fotokopi rekening listrik, air dan telepon 3 bulan terakhir.
Mengetahui seberapa besar konsumsi wajib pajak. 5) Surat pernyataan besarnya penghasilan.
commit to user
Untuk mengetahui besarnya penghasilan, sedangkan untuk anggota veteran/pensiun harus melampirkan bukti penerimaan pensiun. 6) Surat ketetapan tidak mampu dari kelurahan.
Untuk mengetahui wajib pajak tersebut tidak mampu dan diketahui oleh pemerintah setempat.
7) Surat Keputusan Pensiun dan Karip atau Surat Keputusan Veteran. Bertujuan untuk mengetahui latar belakang wajib pajak dari pensiunan departemen atau pensiunan veteran.
8) Fotokopi surat keputusan pemberian pengurangan tahun
sebelumnya.
Sebagai acuan bagi Kepala Kantor untuk memutuskan pengurangan yang akan diberikan.
Permohonan dapat diajukan selambat-lambatnya tiga bulan sejak tanggal diterimanya SPPT atau SKP atau sejak terjadinya bencana alam atau sebab-sebab lain yang luar biasa. Namun KPP Pratama Surakarta masih dapat menerima pengajuan permohonan yang telah melewati batas waktu yang ditentukan dengan syarat wajib pajak dapat memberikan alasan yang sesuai dengan peraturan perpajakan yang berlaku.
Lihat tabel II.2, selama tahun 2010 wajib pajak yang mengajukan pengurangan PBB di KPP Pratama Surakarta sebanyak 637 dan 39 dari pengajuan tersebut ditolak.
commit to user Tabel II.2
Jumlah Penyelesaian Pengurangan PBB
Tahun
Penyelesaian pengurangan
Jumlah Orang
Pribadi Badan Ditolak
2008 647 12 117 776
2009 614 13 68 695
2010 583 15 39 637
Sumber : Seksi Pelayanan KPP Pratama Surakarta
Wajib pajak yang mengajukan permohonan akan diberikan tanda terima yang berisi revisi nama pemohon, kelurahan, tanggal diterima, tanggal penyelesaian pemberian keputusan pengurangan dihitung sejak tanggal tanda terima surat permohonan, dalam hal surat permohonan disampaikan secara langsung atau tanggal stempel pos apabila dikirim melalui pos. Tanda terima ini harus dibawa pada saat pengambilan surat keputusan pengurangan.
a. Mekanisme Pengajuan Pengurangan PBB untuk Wajib Pajak Badan di KPP Pratama Surakarta.
Wajib pajak badan yang mengalami kesuliltan finansial sehingga tidak dapat memenuhi kewajiban perpajakannya dapat mengajukan permohonan pengurangan PBB dengan memenuhi syarat-syarat :
1) Fotokopi SPPT/ SKP tahun pajak yang diajukan permohonan
pengurangan PBB
Memberikan informasi kondisi objek pajak, besarnya pajak dan dapat diketahui bahwa badan usaha tersebut telah menjadi wajib
commit to user
pajak. Digunakan juga untuk pemeriksaan lebih lanjut seperti pencocokan data PBB dengan data di lapangan.
2) Fotokopi STTS tahun pajak terakhir.
Mengetahui wajib pajak telah melunasi pajak terutang tahun sebelumnya dan tidak memiliki tunggakan pajak dengan objek pajak yang sama dan hanya satu objek pajak yang dimiliki, dikuasai dan dimanfaatkan dalam satu wilayah Dati II yang diajukan pengurangan.
3) Fotokopi SPT PPh Badan.
Sebagai bukti pendukung dalam pertimbangan pemberian keputusan. Jika pengenaan pajak penghasilan badan adalah nihil, maka hal ini menjelaskan bahwa perusahaaan yang bersangkutan dalam keadaan rugi dan kesulitan finansial.
4) Laporan Keuangan Perusahaan.
Dapat diketahui rasio likuiditas dan solvabilitas perusahaan yang menunjukkan bahwa perusahaan mengalami kerugian atau kesulitan finansial dan dapat sebagai dasar penentuan besarnya pemberian persen pengurangan PBB.
Pengajuan pengurangan dilakukan dengan mendatangi KPP Pratama Surakarta di bagian TPT, dengan melengkapi persyaratan pengajuan atau mengirimkannya melalui pos. Pada tabel II.2 menunjukkan bahwa selama tahun 2010 terdapat 15 wajib pajak badan yang mengajukan pengurangan PBB di KPP Pratama Surakarta.
commit to user
Dalam penyelesaian pengajuan pengurangan wajib pajak badan dengan pokok ketetapan lebih dari Rp 500.000.000,00 wewenang pemberian keputusannya berada pada Kepala Kantor Wilayah DJP. Selama tahun 2010 tidak terdapat pengajuan pengurangan dengan besar pokok ketetapan lebih dari Rp 500.000.000,00 di KPP Pratama