• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tata Cara Pengawasan Pelaksanaan Penanaman

BAB II PENGENDALIAN PELAKSANAAN PENANAMAN

3. Tata Cara Pengawasan Pelaksanaan Penanaman

Pengawasan adalah upaya atau kegiatan yang dilakukan guna mencegah dan mengurangi terjadinya penyimpangan terhadap ketentuan pelaksanaan penanaman modal dan penggunaan fasilitas penanaman modal. Tata cara pengawasan diatur pada Pasal 19-20 Perka BKPM 3/2012.

Pasal 19 menguraikan kegaiatan pengawasan sebagaimana dimaksud, dilaksanakan melalui pemeriksaan ke lokasi proyek penanaman modal, sebagai tindak lanjut dari :

a. Evaluasi atas pelaksanaan penanaman modal berdasarkan perizinan dan non-perizinan yang dimiliki;

b. Adanya indikasi penyimpangan atas ketentuan pelaksanaan penanaman modal;

c. Penggunaan fasilitas pembebasan bea masuk sesuai dengan tujuan pemberian fasilitas pembebasan bea masuk.

Mekanisme pengawasan ke lokasi proyek sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 dilakukan secara terkoordinasi dengan memberitahukan terlebih dahulu kepada perusahaan. Pemberitahuan dilakukan paling lambat 5 (lima) hari kerja sebelum pelaksanaan pengawasan dengan menggunakan bentuk surat yang tersedia. Piminan/penanggung jawab perusahaan di lokasi proyek wajib memberikan informasi yang diperlukan terkait dengan objek pemeriksaan. Hasil pemeriksaan di lokasi proyek dituangkan dalam BAP yang ditandatangani oleh pemeriksan dan pimpnan/penanggung jawab perusahaan (Pasal 20).

B. Lembaga yang Berwenang Melakukan Pengendalian Pelaksanaan Penanaman

Modal

Badan Koordinasi Penanaman Modal, yang selanjutnya disingkat BKPM, adalah Lembaga Pemerintah Non Kementerian yang bertanggung jawab di bidang penanaman modal yang dipimpin oleh seorang kepala yang bertanggung jawab langsung kepada Presiden.

Dengan ditetapkannya Undang-Undang tentang Penanaman Modal pada tahun BKPM menjadi sebuah lembaga Pemerintah yang menjadi koordinator kebijakan penanaman modal, baik koordinasi antar instansi pemerintah, pemerintah denga pemerintah denga BKPM juga diamanatkan sebagai badan advokasi bagi para investor, misalnya menjamin tidak adanya ekonomi biaya tinggi.30

a. Merumuskan kebijakan penanaman modal dan menyampaikannya kepada Presiden untuk mendapatkan persetujuan;

Mengenai kedudukan, tugas, fungsi, dan susunan organisasi Badan Koordinasi Penanaman Modal diatur melalui Keputusan Presiden Nomor 1991 tentang Tugas, Fungsi, dan Susunan Organisasi Badan Koordinasi Penanaman Modal. BKPM mempunyai tugas pokok membantu dalam menetapkan kebijakan di bidang penanaman modal, memberikan persetujuan dan perizinan penanaman modal serta melakukan pengawasan atas pelaksanaannya (Pasal 2).

Dalam melaksanakan tugas sebagaimana dimaksud dalam Pasal 2, BKPM menyelenggarakan fungsi:

b. Melakukan koordinasi perencanaan penanaman modal baik sektoral maupun regional serta mengadakan sinkronisasi rencana tersebut ke dalam suatu rencana terpadu dalam rangka Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967 dan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1968 maupun yang diatur di luar Undang-undang Penanaman Modal;

30

Wkipedia, Badan Koordinasi Penanaman Modal,

c. Menyusun daftar bidang usaha penanaman modal secara berkala sebagai pedoman pembangunan sektor-sektor penanaman modal, dengan Memperhatikan pandangan dan bahan-bahan yang disampaikan oleh Departemen/Instansi yang terkait dan Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah;

d. Mengajukan daftar bidang usaha penanaman modal tersebut huruf c kepada Presiden untuk mendapatkan penetapan dengan Keputusan Presiden;

e. Mengarahkan penyebaran kegiatan penanaman modal tersebut di daerah-daerah sesuai dengan kebijakan pembangunan;

f. Menyelenggarakan kegiatan pengkajian dan pengembangan dalam rangka menyediakan informasi seluas-luasnya mengenai proyek-proyek penanaman modal;

g. Menyelenggarakan komunikasi, promosi, dan penerangan yang efektif dengan para penanam modal khususnya dan dunia usaha pada umumnya;

h. Menilai/mengevaluasi permohonan penanaman modal sesuai dengan kebijakan dan ketentuan-ketentuan penanaman modal yang berlaku;

i. Mengajukan hasil penelitian/penilaian permohonan penanaman modal asing kepada Presiden untuk memperoleh keputusan;

j. Memberikan persetujuan permohonan penanaman modal dalam negeri dan perubahan penanaman modal asing atas Pemerintan Republik Indonesia;

k. Atas nama Menteri yang membina nidang usaha penanaman modal yang bersangkutan, dalam rangka Pelaksanaan Undang-undang Nomor 1 Tahun 1967, dan Undang-undang Nomor 6 Tahun 1968 menerbitkan izin dan keputusan pelaksanaan penanaman modal sesuai pelimpahan wewenang dari Menteri yang bersangkutan;

l. Menyelenggarakan pembinaan dan penyuluhan serta memberi petunjuk untuk pemecahan masalah agar pelaksanaan proyek-proyek penanaman modal berjalan dengan lancar;

m. Menyelenggarakan pengawasan pelaksanaan proyek penanaman modal yang telah disetujui Pemerintah bekerja sama dengan Badan Koordinasi Penanaman Modal Daerah (BKPMD) dan Departemen/Lembaga Pemerintah yang terkait, agar sejalan dengan perizinan dan peraturan perundang-undangan yang berlaku serta mengenakan sanksi bila terjadi penyimpangan.

2. Perangkat Daerah Provinsi bidang Penanaman Modal (PDPPM)

Perangkat Daerah Provinsi bidang Penanaman Modal, yang selanjutnya disingkat PDPPM adalah unsur pembantu kepala daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah provinsi, dengan bentuk sesuai dengan kebutuhan masing-masing pemerintah provinsi, yang menyelenggarakan fungsi utama koordinasi di bidang Penanaman Modal di pemerintah provinsi (Pasal 1 butir 10 Perka BKPM 3/2012).

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu, PDPPM bertugas melaksanakan fungsi PTSP dalam bidang perizinan dan non perizinan, berdasarkan pendelegasian wewenang yang diberikan oleh gubernur.

Adapun kewenangan penyelenggaraan PTSP di bidang penanaman modal oleh pemerintah provinsi yang dilaksanakan oleh PDPPM, meliputi :31

a. Penanaman Modal lintas kabupaten/kota

b. Penanaman Modal urusan pemerintah provinsi berdasarkan PP Nomor 38 Tahun 2007 c. Penanaman Modal urusan pemerintah yang diberikan pelimpahan wewenang kepada

gubernur berdasarkan hak subtitusi.

Adapun kewenangan pengendalian pelaksanaan penanaman modal yang dilakukan PDPPM, meliputi :32

31

BKPM, Slide Diklat PTSP bidang Penanaman Modal Tingkat Pertama bagi Aparatur Negara, pusdiklat.bkpm.go.id/asset/media/2.%20PTSP%20di%20Bidang%20PM.pdf , diakses pada 05 Agustus 2012 pukul 11.37 WIB

32

BKPM, Slide Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal dalam Rangka Mendorong Peningkatan Realisasi Penanaman Modal di Daerah,

a. Pemantauan : sesuai dengan kewenangan dalam melakukan pendaftaran/izin prinsip/persetujuan penanaman modal dan izin usaha.

b. Pembinaan : terhadap seluruh kegiatan penanaman modal yang tidak dapat dilaksanakan oleh kabupaten/kota, berkoordinasi dengan instansi daerah terkait.

c. Pengawasan : terhadap penanaman modal yang kegiatannya bersifat lintas kabupaten/kota, yang mewakili kewenangan pemerintah provinsi, berkoordinasi dengan instansi daerah terkait.

3. Perangkat Daerah Kabupaten/Kota bidang Penanaman Modal (PDKPM)

Perangkat Daerah Kabupaten/Kota bidang Penanaman Modal, yang selanjutnya disingkat PDKPM adalah unsur pembantu kepala daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan daerah kabupaten/kota, dengan bentuk sesuai dengan kebutuhan masing-masing pemerintah kabupaten/kota, yang menyelenggarakan fungsi utama koordinasi di bidang Penanaman Modal di pemerintah kabupaten/kota (Pasal 1 butir 11 Perka BKPM 3/2012).

Berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu, PDKPM bertugas melaksanakan fungsi PTSP dalam bidang perizinan dan non perizinan, berdasarkan pendelegasian wewenang yang diberikan oleh bupati/walikota.

Adapun kewenangan penyelenggaraan PTSP di bidang penanaman modal oleh pemerintah kabupaten/kota yang dilaksanakan oleh PDKPM, meliputi :33

a. Penanaman Modal lingkup satu kabupaten/kota

b. Penanaman Modal urusan pemerintah kabupaten/kota berdasarkan PP Nomor 38 Tahun 2007

pukul 13.30 WIB 33

c. Penanaman Modal urusan pemerintah yang diberikan penugasan kepada pemerintah kabupaten/kota berdasarkan hak subtitusi.

Adapun kewenangan pengendalian pelaksanaan penanaman modal yang dilakukan PDKPM, meliputi :34

a. Pemantauan : sesuai dengan kewenangan dalam melakukan pendaftaran/izin prinsip/persetujuan penanaman modal dan izin usaha.

b. Pembinaan : terhadap seluruh kegiatan penanaman modal yang di kabupaten/kota, berkoordinasi dengan instansi daerah terkait.

c. Pengawasan : terhadap seluruh kegiatan penanaman modal yang di kabupaten/kota, berkoordinasi dengan instansi daerah terkait.

C. Pengaturan Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal di Indonesia

Pengendalian pelaksanaan penanaman modal sebagai kebijakan pemerintah dalam upaya melakukan pemantauan, pembinaan, dan pengawasan agar pelaksanaan penanaman modal sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan, diatur melalui beberapa peraturan yang diantaranya sebagai berikut :

1. Undang-undang Nomor 25 Tahun 2007 tentang Penanaman Modal

Undang-undang ini mencakupi semua kegiatan penanaman modal langsung di semua sektor. Undang-undang ini juga memberikan jaminan perlakuan yang sama dalam rangka penanaman modal. Selain itu, undang-undang ini memerintahkan agar pemerintah meningkatkan koordinasi antar instansi pemerintah, antar instansi pemerintah dengan Bank Indonesia, dan antara instansi pemerintah dengan pemerintah daerah.

Permasalahan pokok yang dihadapi penanam modal dalam memulai usaha di Indonesia diperhatikan oleh undang-undang ini sehingga terdapat pengaturan mengenai

34

pengesahan dan perizinan yang di dalamnya terdapat pengaturan mengenai pelayanan terpadu satu pintu. Dengan sistem itu, sangat diharapkan bahwa pelayanan terpadu di pusat dan di daerah dapat menciptakan penyederhanaan perizinan dan percepatan penyelesaiannya. Selain pelayanan penanaman modal di daerah, BKPM di daerah diberi tugas mengkoordinasikan pelaksanaan kebijakan penanam modal. Jabaran tugas pokok dan fungsi BKPM pada dasarnya memperkuat peran badan tersebut guna mengatasi hambatan penanaman modal, meningkatkan kepastian pemberian fasilitas kepada penanam modal, dan memperkuat peran penanam modal. Peningkatan peran penanam modal tersebut harus tetap dalam koridor kebijakan pembangunan nasional yang direncanakan dengan tahap memperhatikan kestabilan makro ekonomi dan keseimbangan ekonomi antarwilayah, sektor, pelaku usaha, dan kelompok masyarakat, mendukung peran usaha nasional, serta memenuhi kaidah tata kelola perusahaan yang baik (good corporate governance).35

a. Kepastian hak, hukum, dan perlindungan;

Pasal 3 ayat (1) huruf h menghendaki penanaman modal terselenggara berasaskan wawasan lingkungan. Kehendak ini merupakan suatu upaya pemanfaatan sumber daya yang ada secara efektif dan efisien sehingga mencapai kesejahteraan rakyat, namun tetap menjaga keberlangsungan dan keberlanjutan lingkungan hidup. Untuk itu, secara mendasar dibutuhkan suatu upaya pengendalian terhadap pelaksanaan penanaman modal di Indonesia. Pengaturan pengendalian pelaksanaan penanaman modal dilakukan guna melaksanakan amanat Pasal 14, Pasal 15, dan Pasal 28 ayat (1) UUPM.

Pasal 14 UUPM mengatur mengenai hak setiap penanam modal, yaitu :

b. Informasi yang terbuka mengenai bidang usaha yang dijalankannya; c. Hak pelayanan; dan

35

d. Berbagai bentuk fasilitas kemudahan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 15 UUPM mengatur mengenai kewajiban setiap penanam modal, yaitu : a. Menerapkan prinsip tata kelola perusahaan yang baik;

b. Melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan;

c. Membuat laporan tentang kegiatan penanaman modal dan menyampaikannnya kepada Badan Koordinasi Penanaman Modal;

d. Menghormati tradisi budaya masyarakat sekitar lokasi kegiatan usaha penanaman modal; dan

e. Mematuhi semua ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 28 ayat (1) UUPM mengatur mengenai tugas dan fungsi BKPM, yaitu sebagai berikut : a. Dalam rangka koordinasi pelaksanaan kebijakan dan pelayanan penanaman modal,

Badan Koordinasi Penanaman Modal mempunyai tugas dan fungsi sebagai berikut. 1) Melaksanakan tugas dan koordinasi pelaksanaan kebijakan di bidang penanaman

modal;

2) Mengkaji dan mengusulkan kebijakan pelayanan penanaman modal;

3) Menetapkan norma, standar, dan prosedur pelaksanaan kegiatan dan pelayanan penanaman modal;

4) Mengembangkan peluang dan potensi penanaman modal di daerah dengan memberdayakan badan usaha;

5) Membuat peta penanaman modal Indonesia; 6) Mempromosikan penanaman modal;

7) Mengembangkan sektor usaha penanaman modal melalui pembinaan penanaman modal, antara lain meningkatkan kemitraan, meningkatkan daya saing, menciptakan

persaingan usaha yang sehat, dan menyebarkan informasi yang seluas-luasnya dalam lingkup penyelenggaraan penanaman modal;

8) Membantu penyelesaian berbagai hambatan dan konsultasi permasalahan yang dihadapi penanam modal dalam menjalankan kegiatan penanaman modal;

9) Mengoordinasi penanam modal dalam negeri yang menjalankan kegiatan penanaman modalnya di luar wilayah di Indonesia; dan

10) Mengoordinasi dan melaksanakan pelayanan terpadu satu pintu.

2. Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Pengaturan tentang pelayanan terpadu satu pintu melalui peraturan presiden ini dibentuk guna melaksanakan Pasal 26 ayat (3) UUPM, yang mengatakan “ketentuan mengenai tata cara dan pelaksanaan pelayanan terpadu satu pintu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) diatur dengan Peraturan Presiden”.

Untuk melaksanakan PTSP berdasarkan UUPM , pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 27 Tahun 2009 tentang Pelayanan Terpadu Satu Pintu yang mencabut beberapa ketentuan sebelumnya mengenai PTSP. Praktik pelayanan terpadu satu pintu sebelum terbitnya Perpres No.27 Tahun 2009, melalui dasar hukum :

a. Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilam untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu dan/atau di Daerah-Daerah Tertentu;

b. Peraturan Presiden Nomor 76 Tahun 2007 tentang Kriteria dan Persyaratan Penyusunan Bidang Usaha yang Tertutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal;

c. Peraturan Presiden Nomor 77 Tahun 2007 tentang Daftar Bidang Usaha yang Tetrtutup dan Bidang Usaha yang Terbuka dengan Persyaratan di Bidang Penanaman Modal; d. Peraturan Presiden Nomor 90 Tahun 2007 tentang Badan Koordinasi Penanaman Modal;

e. Keputusan Presiden Nomor 29 Tahun 2004 tentang Penyelenggaraan Penanaman Modal Dalam Rangka Penanaman Modal Asing dan Penanaman Modal Dalam negeri melalui Sistem Pelayanan Satu Atap;

f. Permendagri Nomor 24 Tahun 2006 (tanggal 6 Juli 2006) tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PPTSP) ;

g. Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor 24 Tahun tentang Pedoman Penyelenggaraan Pelayanan Terpadu Satu Pintu;

h. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor 63/Kep/M.Pan/7/2003 tentang Pedoman Umum Penyelenggaraan Pelayanan Publik. Dalam praktik, penyusunan peraturan pelaksanaan dari peraturan “payung” tidak selalu lebih mudah membuat “payung”nya. Penyusun pertauran harus memperhatikan berbagai kepentingan sektor-sektor dan peraturan perundang-undangan terkait.

i. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor KEP/25/M/PAN/2/2004 tentang Pedoman Umum Penyusunan Indeks Kepuasan Masyarakat Unit Pelayanan Instansi Pemerintah.

j. Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara Nomor KEP/26/M.PAN/2/2004 tentang Teknis Transparansi dan Akuntabilitas dalam Penyelenggaraan Pelayanan Publik.

3. Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal RI Nomor 3 Tahun 2012 tentang Pedoman dan Tata Cara Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal

Pengaturan tentang pedoman dan tata cara pengendalian pelaksanaan penanaman modal ini diatur melalui Peraturan Kepala BKPM Nomor 3 Tahun 2012. Sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, bahwa sebelum Perka ini berlaku, pengaturan pedoman dan tata cara pengendalian pelaksanaan penanaman modal diatur melalui Perka BKPM 13/2009.

Sebagaimana diuraikan pada Pasal 1 Perka BKPM 7/2010, ada beberapa perubahan ketentuan dalam Perka BKPM 13/2009, yaitu pada Pasal 13 dan Pasal 27. Adapun yang menjadi tujuan penggantian ketentuan ini adalah dalam rangka untuk lebih mengefektifkan pengendalian pelaksanaan penanaman modal dan pengawasan pemanfaatan fasilitas penanaman modal. Perubahan ketentuan ini perlu dilakukan untuk melaksanakan peningkatan pemantauan perkembangan realisasi penanaman modal yang dapat memberikan akurasi data kontribusi terhadap perekonomian nasional, perlu dilakukan perubahan waktu penyampaian Laporan Kegiatan Penanaman Modal ( Konsideran Perka BKPM 7/2010)

Secara umum, sistematika Perka BKPM 3/2012 ini adalah sebagai berikut : 1. Bab I Ketentuan Umum

2. Bab II Maksud, Tujuan, Sasaran, dan Ruang lingkup

3. Bab III Hak, Kewajiban, dan Tanggung jawab penanam modal

4. Bab IV Penyelenggaraan pengendalian pelaksanaan penanaman modal 5. Bab V Tata cara pemantauan

6. Bab VI Tata cara pembinaan 7. Bab VII Tata cara pengawasan 8. Bab VIII Berita acara pengawasan

9. Bab IX Rekomendasi pembukaan blokir Nomor Identitas Kepabeaan (NIK) 10. Bab X Tata cara pembatalan perizinan penanaman modal

11. Bab XI Tata cara pencabutan perizinan penanaman modal 12. Bab XII Biaya

13. Bab XIII Sanksi

14. Bab XIV Ketentuan lain-lain 15. Bab XV Ketentuan peralihan 16. Bab XVI Ketentuan penutup.

Perka BKPM 3/2012 juga melampirkan bentuk-bentuk laporan dan surat yang berlaku bagi proses pelaksanaan pengendalian penanaman modal yang dilaksanakan. Hal ini diharapkan memudahkan bagi pelaksana maupun pemohon pelaksanaan pengendalian penanaman modal.

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kekayaan alam yang melimpah dan beraneka ragam terbentang dari Sabang sampai Merauke. Dengan kekayaan alam yang melimpah sudah sepatutnya jika Bangsa Indonesia selalu memperbanyak rasa syukur atas nikmat yang tidak ternilai harganya dan tak terhitung banyaknya. Namun perlu disadari bahwa sumber daya alam yang terus dikonsumsi dan dimanfaatkan dari waktu ke waktu tentu semakin habis. Karena itulah untuk menyelamatkan bangsa Indonesia di masa depan, di tengah-tengah terbatasnya sumber daya alam dan tantangan globalisasi, Pemerintah harus mampu mengelola pemanfaatan sumber daya alam ini dengan sebaik-baiknya.

Tujuan dan arah pembangunan nasional ditetapkan dalam Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) yakni, berusaha mewujudkan suatu masyarakat adil dan makmur, dimana masyarakat adil dan makmur itu akan diwujudkan melalui pembangunan di berbagai bidang di antaranya bidang ekonomi. Pembangunan ekonomi identik dengan pembangunan sektor-sektor ekonomi yang ada di negara ini, seperti sektor pertanian, kehutanan, perikanan, peternakan, pertambangan, industri, perdagangan, jasa-jasa, dan lain-lain. 1

Pembangunan bidang ekonomi di Indonesia telah berjalan kurang lebih 44 tahun lamanya sejak dicanangkan oleh Pemerintah Orde Baru pada tahun 1970. Kurun waktu hampir setengah abad itu membawa perubahan dalam masyarakat Indonesia lewat pembangunan ekonomi sehingga mengalami peningkatan di tengah berbagai dinamikanya. Keberhasilan pembangunan Indonesia dapat dilihat dari angka statistik yang menunjukkan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional rata-rata 5-6 % per tahun sebelum era krisis berlangsung. Keberadaan tersebut menandai keberhasilan pemerintah untuk mengurangi

1

angka kemiskinan di Indonesia yang disinyalir masih terdapat kurang lebih 27 juta rakyat yang berada di bawah garis kemiskinan.2

Pelaksanaan pembangunan seperti diketahui memerlukan modal dalam jumlah yang cukup besar dan tersedia pada waktu yang tepat. Modal dapat disediakan oleh Pemerintah dan oleh masyarakat luas, khususnya di dunia usaha swasta. Keadaan yang ideal, dari segi nasionalisme adalah apabila kebutuhan akan modal tersebut sepenuhnya dapat disediakan oleh kemampuan modal dalam negeri sendiri, apakah itu oleh Pemerintah dan atau dunia usaha swasta dalam negeri. Namun dalam kenyataannya tidaklah demikian sebab pada umumnya negara-negara berkembang dalam hal ketersediaan modal yang cukup untuk melaksanakan pembangunan secara menyeluruh mengalami berbagai kesulitan yang disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain; tingkat tabungan (saving) masyarakat yang masih rendah, akumulasi modal yang belum efektif dan efisien, keterampilan (skill) yang belum memadai serta teknologi yang belum modern.3

Keterbatasan dalam bidang permodalan dan penguasaan teknologi merupakan kendala yang umum dihadapi oleh hampir setiap negara dalam rangka pembangunan ekonomi nasionalnya yang bersifat multi kompleks. Indonesia sebagai salah satu negara berkembang juga menghadapi masalah tersebut. Salah satu alternatif pemecahan masalah adalah dengan mendatangkan dana bantuan luar negeri baik berupa pinjaman luar negeri maupun penanaman modal asing.4

Keberadaan modal asing melalui berbagai kebijakan di bidang investasi asing di negara-negara berkembang tidak dilepaskan kaitannya dengan kepentingan penyelenggaraan

2 Ibid, Hal 1 3 Ibid, Hal 1-2 4

Sumartono, Bunga Rampai Permasalahan Penanaman Modal dan Pasar Modal/Problems of Investment in Equities and in Securities, ( Bandung: Bina Cipta, 1984), Hal 129.

pembangunan nasional untuk merealisasikan cita-cita bangsa.5 Muchammad Zaidun dalam orasi ilmiahnya menyebutkan, Investasi bagi suatu negara marupakan suatu keharusan atau keniscayaan, investasi merupakan salah satu motor penggerak roda ekonomi agar negara dapat mendorong perkembangan ekonominya selaras dengan tuntutan perkembangan masyarakatnya. Investasi di suatu negara akan dapat berlangsung dengan baik dan bermanfaat bagi negara dan rakyatnya, mana kala negara mampu menetapkan kebijakan invetasi sesuai amanah konstitusinya.6

Pengendalian penanaman modal merupakan salah satu kebijakan yang dilakukan pemerintah untuk melakukan pengendalian fungsi penanaman modal dengan melakukan pemantauan, pembinaan, dan pengawasan dalam pelaksanaan penanaman modal. Pedoman dan tata cara pengendalian penanaman modal tersebut diatur melalui Peraturan Kepala Badan Koordinator Penanaman Modal (Perka BKPM) Nomro 3 Tahun 2012 tentang Pedoman dan Cukup beralasan jika setiap negara saling bersaing untuk menarik calon penanam modal untuk menanamkan modal di negaranya. Di dalam berbagai upaya yang dilakukan dalam rangka pembangunan melalui penanaman modal tersebut, Pemerintah harus senantiasa memperhatikan aspek lingkungan sebagai aspek yang penting guna keberlangsungan hidup masyarakat.

Ada berbagai upaya yang dilakukan pemerintah dalam rangka menjaga keberlangsungan hidup masyarakat, salah satunya dengan melakukan perlindungan terhadap lingkungan hidup. Salah satu upaya perlindungan lingkungan hidup yang dilakukan oleh pemerintah dalam kaitannya dengan kegiatan penanaman modal adalah melalui pengaturan pengendalian penanaman modal di Indonesia.

5

Ridwan Khairandy, Peranan Perusahaan Penanaman Modal Asing Joint Venture dalam Alih Teknologi di indonesia, Jurnal Hukum Bisnis, Volume 22-Nomor 5, (Jakarta: Yayasan Pengembangan Hukum Bisnis, 2003), Hal 51.

6

Tata Cara Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal. Di dalam Perka BKPM tersebut juga diatur mengenai lembaga yang berwenang melakukan pengendalian penanaman modal.

Seperti yang termaktub dalam Pasal 1 ayat (5) Peraturan Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (Perka BKPM) No. 3 Tahun 2012 tentang Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal atau selanjutnya disebut pengendalian penanaman modal adalah kegiatan pemantauan, pembinaan, dan pengawasan, agar pelaksanaan penanaman modal sesuai dengan peraturan perundang-undangan.

Pengendalian pelaksanaan penanaman modal merupakan upaya mengevaluasi kegiatan penanaman modal. Kegiatan ini meiputi pemantauan, pembinaan, dan pengawasan terhadap aktivitas proyek investasi sesuai hak, kewajiban, dan tanggung jawab yang dimiliki investor.7

Upaya perlindungan lingkungan hidup melalui pengaturan pengendalian penanaman modal ini menimbulkan akibat hukum apabila penanaman modal yang dilakukan tidak memenuhi kewajiban dan tanggung jawab dalam rangka perlindungan lingkungan hidup sesuai dengan ketentuan peraturan yang berlaku. Akibat hukum tersebut merupakan akibat yang timbul karena adanya pelanggaran-pelanggaran atau sengketa penanaman modal yang mengakibatkan timbulnya dampak negatif terhadap lingkungan. Adapun sengketa yang Selain dari pada kebijakan pengendalian penanaman modal di atas, ada pembentukan kebijakan lain yang dilakukan oleh pemerintah untuk melakukan perlindungan terhadap lingkungan hidup. Perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dilakukan yaitu melalui kebijakan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) dalam penyelenggaraan perizinan

Dokumen terkait