BAB III :PENYELENGGARAAN ANGKUTAN UDARA OLEH PT GIA
B. Tata Cara Penyelenggaraan Angkutan Barang
Menurut Pasal 1 ayat (4) UUPK, yang dimaksud dengan barang (selanjutnya bagasi disebut barang) adalah :
Setiap benda baik berwujud maupun tidak berwujud, baik bergerak maupun tidak bergerak, dapat dihabiskan maupun tidak dihabiskan, yang dapat diperdagangkan, dipakai, dipergunakan, atau dimanfaatkan oleh konsumen.32 Defenisi bagasi dalam Ordinansi Pengangkutan Udara 1939 adalah “semua barang kepunyaan atau dibawah kekuasaan penumpang yang olehnya atau namanya,sebelum ia menumpang pesawat terbang dimunta untuk diangkut melalui angkutan udara.33
Selain Ordinasi Pengangkutan Udara 1939 ada juga Konvensi Warsawa yang mengatur ketentuan tentang tanggung jawab dalam hal bagasi tercatat dan kargo. Bagasi tersebut lazim disebut bagasi tercatat. Yang tidak termasuk dalam pengertian bagasi adalah barang-barang kecil untuk pengunaan pribadi yang ada pada/dibawa oleh penumpang sendiri.
32
Indonesia,Undang-Undang Perlindungan Konsumen,Pasal 1 Ayat (4)
33
Terdapat dalam Pasal 18 ayat (1) konvensi warsawa “Pengangkut bertanggung jawab atas kerugian yang timbul akibat kemusnahan, kehilangan atau kerusakan bagasi tercatat atau kargo jika peristiwa yang menyebabkan kerugian tersebut terjadi dalam pengangkutan udara.34
Jenis-jenis Bagasi
Dalam Ordinasi Pengangkutan Udara Tahun 1939terdapat 2 sistem tanggung jawab,satu untuk penumpang, bagasi tercatat, dan barang dan satu sistem untuk bagasi tangan. Bagi penumpang, bagasi tercatat dan barang berlaku sistem berdasarkan prinsip “anggapan bahwa pengangkut selalu bertanggung jawab untuk kerugian yang ditimbulkan karena penumpang luka atau penumpang meninggal dunia, karena bagasi tercatat musnah atau hilang, musnah atau rusak.Pihak yang tidak dirugikan tidak harus membuktikan kesalahan atau kelalaian pengangkut,yang harus dirugikan hanyalah berapa besar kerugian yang diderita.’
Bagasi terbagi atas tiga jenis, yaitu Checked bagasi, Cabin Baggage/Cabin Baggage, and Carry-on Baggage.
Checked Baggage :
1. Checked baggage adalah bagasi penumpang yang telah ditimbang dan dimuat ke dalam kargo pesawat. Checked baggage harus diberikan label identitas
2. Proses penerimaan bagasi harus dilakukan bersamaan dengan proses check in penumpang
3. Bagasi tersebut harus diberi tag/lebel sesuai dengan ketentuan
34
Unchecked Baggage :
1. Unchecked baggage adalah bagasi penumpang yang diizinkan untuk dibawa ke dalam cabin pesawat dan dipertanggung jawabkan oleh pemiliknya/penumpang.
2. Carry on baggage tidak dikenakan biaya tambahan
3. Demi keselamatan dan kenyamanan, maka dianjurkan hanya 1 buah carry on baggage yang diijinkan dibawa oleh penumpang ke dalam cabin
4. Petugas harus memastikan bahwa hanya 1 buah bagasi yang dibawa penumpang ke dalam cabin
5. Penumpang harus menempatkan cabin baggage di bawah tempat duduk atau di head rack di dalam cabin pesawat
6. Apabila ukuran cabin baggage melebihi ketentuan maka petugas berhak menolak menerima cabin baggage tersebut.
Sweeping carry on baggage :
1. Sarankan kepada penumpang agar segera mengambil barang berharga dan dokumen yang diperlukan dari cabin baggage, apabila besar cabin baggage melebihi ketentuan
2. Konfirmasikan mengenai tujuan penumpang.
Carry-on Baggage adalah Barang-barang yang boleh dibawa tanpa dikenakan biaya sebagai tambahan dari kuota barang bawaan yang boleh di-check in dengan gratis (disesuaikan dengan peraturan keamanan), yaitu :
1. Tas tangan wanita, buku saku atau dompet yang sesuai untuk perjalanan normal dan yang tidak digunakan untuk tempat penampungan alat-alat yang dihitung sebagai barang bawaan.
v. 2. Mantel, syal atau selimut.
3. Kamera kecil dan/atau teropong kecil.
4. Makanan bayi untuk dikonsumsi selama penerbangan. 5. Keranjang pembawa bayi.
6. Payung atau tongkat jalan.
7. Bahan bacaan dalam jumlah yang wajar.
8. Kursi roda yang dapat dilipat untuk orang cacat dan/atau sepasang tongkat pemapah dan/atau kawat gigi atau alat prostetik lainnya yang harus digunakan oleh penumpang.
Acceptance of baggage :
A. Passengers Name and Address Identification :
1. Bagasi yang akan diberangkatkan harus dalam keadaan baik dan pastikan tercantum nama dan alamat penumpang
2. Informasikan kepada penumpang agar nama yang dituliskan pada baggage tag sama dengan yang tertera pada tiket
3. Beritahukan kepada penumpang bahwa barang-barang berharga, uang, perhiasan, obat-obatan pribadi, dokumen penting agar jangan ditempatkan di dalam checked baggage
4. Apabila ada bagasi yang dibungkus dalam karton atau box, sehingga menyerupai cargo, pastikan petugas telah memberi label bagasi.
B. Movement of Baggage :
1. Bagasi akan diberangkatkan dengan pesawat yang sama dengan penumpangnya, kecuali terjadi sesuatu di luar kebiasaan, maka bagasi akan segera diberangkatkan dengan penerbangan pertama ke tujuan yang sama.
C. Refusal of baggage :
1. Kondisi bagasi yang rusak, dapat membahayakan penerbangan, membahayakan alat-alat atau bagasi lain, membahayakan penumpang lain, membahayakan petugas akan ditolak untuk diterima untuk diberangkatkan.
D. Security Removed Items :
Mengacu pada SKEP Dirjen Perhubungan Udara no 40/II/95
1. Senjata api, senjata tajam yang berukuran lebih dari 5 cm dan barang lain yang dapat digunakan sebagai senjata harus dilaporkan dan dititipkan kepada pengangkut
2. Apabila penumpang tidak melaporkan barang tersebut, dan kemudian ketahuan oleh keamanan, maka penumpang harus melaporkan kepada pengangkut sebagai security item
3. Security item harus ditempatkan di dalam cargo compartment
4. Di stasiun kedatangan, petugas akan memberikan kembali security removed item tersebut kepada penumpang.
E. Free Baggage Allowance
a). Weight system :
1. Bagasi yang beratnya melebihi ketentuan wajib membayar biaya kelebihan berat bagasi
2. Anak kecil dan bayi hanya membayar 50% dari tariff dewasa
3. Incapacitated passenger bebas biaya untuk wheelcairs atau alat orthopedic lainya
b). Piece system
System ini berdasarkan jumlah bagasi, dimensi dan berat, berlaku untuk penerbangan dan ke dari Amerika, system ini berlaku untuk penumpang dan bagasi yang melakukan through check in dan tidak melakukan stop over di bandara lain.
Seaman yang melakukan perjalanan dengan kelas ekonomi, baik sendiri maupun secara group, free baggage allowance yang diijinkan adalah…..kg.
d). Pooling of baggage
Apabila ada keluaraga atau rombongan yang melakukan perjalanan ke tujuan yang sama, maka total baggage allowance yang diijinkan adalah kumulatif dari seluruh penumpang yang melakukan perjalanan.
Baggage Handling Procedure :
1. Demi kenyamanan penumpang, maka sebaiknya bagasi diberangkatkan dengan operator penerbangan yang sama, pesawat yang sama sehingga bagasi bisa segera diambil oleh penumpang
2. bagasi yang melalui interline airlines harus diperiksa dengan benar dan periksalah dengan teliti tiket penumpang agar tidak terjadi kesalahan penanganan bagasi di stasiun transit.
3. Beberapa perusahaan penerbangan tidak menerima bagasi dengan kondisi rusak, overpack, rusak pada saat check in, perusahaan penerbangan tidak akan bertanggung jawab apabila bagasi mengalami kerusakan dan atau kehilangan.
Baggage Irregularity :
Identifiable by airline baggage tag :
1. Kirimkan bagasi ke kantor lost and found di stasiun tujuan seperti yang tertera di baggage tag
2. Jangan ambil baggage tag asli yang tergantung pada bagasi
3. Kirimkan forwarding advice massage kepada kantor lost and found di stasiun tujuan dan pada stasiun transit
4. Apabila bagasi akan dikirim ke suatu kota yang mempunyai beberapa bandara maka pastikan bahwa bagasi dikirimkan ke bandara yang benar.
B. Damaged Baggage
Apabila ada penumpang yang datang dan melakukan claim terhadap kerusakan bagasinya maka tindakan yang dilakukan adalah :
1. Check the tag 2. Procedures 3. Claim settlement
4. Claim settlemen document
C. Pilfered Baggage
Apabila ada penumpang yang melaporkan pilfered terhadap bagasinya maka, petugas yang menerima pengaduan harus :
· Kirimkan telex kepada boarding station atau kepada seluruh airlines yang terlibat dalam pengangkutan bagasi tersebut.
· Selesaikan di local station.
D. Delayed Baggage
Apabila bagasi mengalami delay akibat mishandling dan pembayaran harus dilakukan maka masalah ini harus dilaporkan kepada central baggage traving airlines yang bersangkutan.
b. Penerimaan dan Penolakan Barang Bagasi
Atas nama perusahaan penerbangan, pegawai check-in counter wajib memeriksa isi dari barang bagasi yang dibawa oleh penumpang. Pemeriksaan bagasi harus disaksikan oleh pemiliknya.
Barang bagasi yang dapat diterima oleh pegawai check-in counter adalah : c. Barang bagasi tersebut aman terkunci, dan dikemas dalam kemasan yang
tahan lama.
d. Beratnya dalam batas yang diizinkan, kelebihan bagasi akan dikenakan biaya tambahan.
a. Bagasi diberi label sesuai dengan tujuan dan jenis bagasi
b. Penumpang akan menerima label rilis terbatas bersama-sama
dengan boarding passdan tiket
Bagian penanganan barang bagasi dapat menolak bagasi tertentu yang bertanggung jawab untuk menjadi ancaman bagi pesawat, penumpang dan bagasi lainnya, atau bagasi yang dapat rusak saat diangkut akibat pengemasan
yang tidak memadai. Bagasi tanpa jaminan harus diberitahukan
kepada penumpang dan disarankan untuk kembali ke daerah x-
d. Penamaan Penumpang dan Identifikasi Alamat Penumpang
Barang bagasi harus dikemas secara hati-hati atau ditempatkan di dalam koper dan diberi label sesuai dengan nama dan alamat penumpang. Label dengan nama keluarga, inisial, alamat, dan nomor telepon harus dilekatkan pada bagian luar dan bagian dalam masing-masing checked baggage.
C. PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PENUMPANG DAN
BARANG BAGASI MENURUT UNDANG-UNDANG NO. 1 TAHUN 2009 TENTANG PENERBANGAN
1. Pengertian Perlindungang Hukum
Padanan kata perlindungan dalam bahasa Inggris adalah protection35 yang berarti sebagai: (1) protecting or being protected; (2) system protecting; (3) person or thing that protect. Bentuk kata kerjanya, protect(vt), artinya: (1) keep safe; (2) guard . Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia36
1. Unsur tindakan melindungi;
perlindungan diartikan (1) tempat berlindung; (2) perbuatan atau hal dan sebagainya memperlindungi . Dari kedua defenisi tersebut secara kebahasaan terdapat makna kemiripan unsur-unsur dari makna perlindungan, yaitu:
2. Unsur adanya pihak-pihak yang melindungi;
35
Hornby, AS dan AP. Cowie, 1974, oxford Advance Learner’s Dictionary of Current English(London: Oxford University Press) hal 671
36
Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 1991. Kamus Besar Bahasa Indonesia, Edisi Kedua, cet ke:1, (Jakarta: Balai Pustaka) hal 595),
3. Unsur cara melindungi
Berdasarkan unsur-unsur di atas, berarti kata perlindungan mengandung makna, yaitu suatu tindakan perlindungan atau tindakan melindungi dari pihak- pihak tertensu yang ditujukan untuk pihak tertentu dengan menggunakan cara-cara tertentu. Dalam kehidupan berbangsa dan bernegara perlindungan terhadap konsumen dapat dilakukan melalui berbagai bentuk diantaranya perlindungan ekonomi, sosial, politik dan perlindungan hukum. Tetapi dari bentuk-bentuk perlindungan terhadap konsumen tersebut yang terpenting adalah perlindungan yang diberikan oleh hukum, sebab hukum dapat mengakomodir berbagai kepentingan konsumen, selain itu hukum memiliki daya paksa sehingga bersifat permanen karena sifatnya yang konstitusional yang diakui dan ditaati keberlakuannya dalam kehidupan bermasyarakat. Perlindungan hukum dapat diartikan perlindungan oleh hukum atau perlindungan dengan menggunakan pranata dan sarana hukum. Ada beberapa cara perlindungan secara hukum, antara lain sebagai berikut37
2. Membuat peraturan (by giving regulation), yang bertujuan untuk:
a. Memberikan hak dan kewajiban; b. Menjamin hak-hak para subyek hukum
3. menegakkan peraturan (by the law enforcement) melalui:
2. Hukum administrasi Negara yang berfungsi untuk mencegah (preventif) terjadinya pelanggaran hak-hak konsumen, dengan perijinan dan pengawasan;
37
Wahyu Sasongko, 2007, Ketentuan-Ketentuan Pokok Hukum Perlindungan Konsumen,(Bandar Lampung:Penerbit Universitas Lampung) hal 31
3. Hukum pidana yang berfungsi untuk menanggulangi (repressive) setiap pelanggaran terhadap peraturan perundang-undangan, dengan cara mengenakan sanksi hukum berupa sanksi pidana dan hukuman;
4. Hukum perdata yang berfungsi untuk memulihkan hak (curative, recovery), dengan membayar kompensasi atau ganti kerugian.
Suatu sistem perlindungan hukum bagi konsumen jasa angkutan udara adalah suatu sistem yang terdiri dari peraturan perundang-undangan dan prosedur yang mengatur semua aspek yang baik langsung maupun tidak langsung mengenai kepentingan dari konsumen jasa angkutan udara, perlindungan konsumen merupakan perlindungan hukum total akan memberikan perlindungan pada penumpang mulai dari taraf pembuatan pesawat udara sampai pada saat ia telah selamat sampai di tempat tujuan, atau kalau mengalami kecelakaan, sampai ia atau ahli warisnya yang berhak memperoleh ganti rugi dengan cara yang mudah, murah dan cepat. Unsur-unsur perlindungan konsumen jasa angkutan udara secara lengkap meliputi berbagai aspek antara lain aspek keselamatan; aspek keamanan; aspek kenyamanan; aspek pelayanan; aspek pertarifan dan aspek perjanjian angkutan udara.
Angkutan udara adalah setiap kegiatan dengan menggunakan pesawat udara untuk mengangkut penumpang, kargo, dan/atau pos untuk satu perjalanan atau lebih dari satu bandar udara ke bandar udara yang lain atau beberapa bandar udara.Sementara pengertian dari tanggung jawab pengangkut adalah kewajiban perusahaan angkutan udara untuk mengganti kerugian yang diderita oleh penumpang dan/atau pengirim barang serta pihak ketiga.Tanggung jawab dapat diketahui dari kewajiban yang telah ditetapkan dalam perjanjian atau undang-
undang. Kewajiban pengangkutan adalah menyelenggarakan pengangkutan. Kewajiban ini mengikat sejak penumpang atau pengirim melunasi biaya angkutan.38
38
Komar Kanta A, Tanggung Jawab Profesional, (Jakarta : Ghalia Indonesia, 1994) Hal. 3
Perlindungan hukum terhadap penumpang menurut Pasal 141 Undang- Undang No. 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan adalah pengangkut bertanggung jawab atas kerugian penumpang yang meninggal dunia, cacat tetap, luka-luka, yang diakibatkan kejadian angkutan udara di dalam pesawat dan/atau naik turun pesawat udara.
Perlindungan hukum terhadap barang bagasi menurut Pasal 144 Undang- Undang No. 1 Tahun 2009 Tentang Penerbangan adalah pengangkut bertanggung jawab atas kerugian yang diderita oleh penumpang karena bagasi tercatat hilang, musnah, atau rusak yang diakibatkan oleh kegiatan angkutan udara selama bagasi tercatat dalam pengawasan pengangkut.