BAB 2 TINJAUAN PUSTAKA
2.3 Putusnya Hubungan Perkawinan serta Akibatnya
2.3.2 Tata Cara Putusnya Perkawinan (Cerai Gugat)
Perceraian gugatan perceraian dapat dilakukan oleh seorang isteri yang melangsungkan perkawinannya menurut agama islam dan oleh seorang suami atau seorang isteri yang melangsungkan perkawinan menurut agamanya dan kepercayaannya itu selain agama islam. Bagi perkawinannya dilaksanakan menurut agama islam, gugatan perceraian isteri diajukan kepada Pengadilan Agama, sedangkan bagi mereka yang perkawinannya dilaksanakan menurut agamanya dan kepercayaanya masing – masing selain agama islam, gugatan perceraian baik suami maupun isteri diajukan kepada Pengadilan Negeri.
Sesuai dengan ketentuan dalam pasal 40 Undang – undang Nomor 1 Tahun 1974, tata cara pemeriksaan cerai gugat ditentukan dan diatur lebih lanjut dalam pasal 20 sampai dengan pasal 36 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 1975. Sementara itu tata cara pemeriksaan cerai gugat
yang diajukan ke Pengadilan Agama diatur lebih lanjut dalam pasal 73 sampai dengan pasal 86 Undang – undang Nomor 7 tahun 1989 dan pasal 132 sampai dengan 148 Kompilasi Hukum Islam. Berdasarkan pada ketentuan yang disebutkan sebelumnya , maka tata cara pemeriksaan cerai gugat sebagai berikut :
1. Pengajuan gugatan
Gugatan perceraian diajukan oleh suami atau isteri atau kuasanya kepada Pengadilan yang daerah hukumnya meliputi tempat kediaman tergugat. Jika kediaman tergugat tidak jelas maka gugatan ditujukan kepada Pengadilan di tempat kediaman penggugat, dan selanjutnya Ketua Pengadilan di tempat kediaman penggugat menyampaikan permohonan tersebut kepada tergugat melalui perwakilan Republik Indonesia setempat.
Gugatan dengan alasan salah satu pihak meninggalkan pihak lain selama 2 tahun berturut turut tanpa izin pihak lain tanpa alasan yang sah, dapat diajukan setelah lampau dua tahun terhitung sejak tergugat meninggalkan rumah kepada Pengadilan di tempat kediaman penggugat. Gugatan dengan alasan ini dapat diterima apabila tergugat menyatakan atau menunjukan sikap tidak mau lagi kembali ke rumah kediaman bersama.
Gugatan perceraian dengan alasan antara suami isteri terjadi pertengkaran dan tidak ada harapan untuk rukun dapat diterima apabila telah cukup jelas bagi Pengadilan mengenai sebab – sebab
perselisihan dan setelah mendengar pihak keluarga serta orang – orang yang dekat dengan suami maupun isteri.
Sementara itu bila gugatan perceraian didasarkan atas alasan salah satu pihak mendapat pidana maka untuk memperoleh putusan perceraian, sebagai bukti penggugat cukup menyampaikan putusan pengadilan pidana yang berwenang memutuskan perkara disertai keterangan yang menyatakan bahwa putusan itu telah memperoleh kekuatan hukum tetap.
2. Pemanggilan
Dalam sidang pemeriksaan, pengadilan yang memeriksa gugatan perceraian melakukan pemanggilan terhadap penggugat maupun tergugat untuk menghadiri sidang , yang dilakukan oleh juru sita atau petugas pengadilan yang ditunjuk Ketua Pengadilan.
Panggilan dilakukan dan disampaikan secara patut dan sudah diterima baik penggugat dan tergugat ataupun kuasa hukumnya selambat-lambatnya 3(tiga) hari sebelum sidang dibuka, yang disampaikan langsung kepada pribadi yang bersangkutan. Panggilan terhadap tergugat dilampiri salinan surat gugatan. Apabila penggugat atau tergugat tidak dapat dijumpai di kediaman masing – masing maka dapat disampaikan kepada Lurah setempat atau sederajat dengan itu. Panggilan dilakukan dengan menempel gugatan perceraian pada papan pengumuman di pengadilan dan mengumumkannya melalui media massa yang ditunjuk oleh pengadilan seandainya tempat kediaman
tergugat tidak jelas atau tidak memiliki kediaman tempat tinggal. Pengumuman tersebut dilakukan 2 kali dengan tenggang waktu satu bulan antara pengumuman pertama dan kedua. Tenggang waktu antara panggilan terakhir dengan persidangan adalah sekurang – kurangnya tiga bulan. Dalam hal demikian sudah dilakukan dan dan tergugat atau kuasanya tetap tidak hadir, gugatan tetap diterima tanpa hadirnya tergugat. Walaupun demikian tidak dengan sendirinya gugatan tersebut dikabulkan apabila gugatan perceraian tersebut tidak didasarkan pada alasan yang dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974.
3. Pemeriksaan
Pemeriksaan gugatan perceraian dilakukan oleh hakim selambat-lambatnya 30 hari setelah diterimanya berkas / surat gugatan perceraian di Kepaniteraan Pengadilan. Sedangkan terhadap gugatan perceraian yang tergugatnya bertempat tinggal di luar negeri , sidang pemeriksaannya ditetapkan sekurang – kurangnya 6 bulan sejak masuknya berkas / surat gugatan masuk ke Kepaniteraan pengadilan.
Pada sidang pemeriksaan, baik tergugat maupun penggugat dapat menghadiri sendiri dan didampingi kuasanya atau bahkan menyerahkan kepada kuasanya dengan membawa surat nikah / rujuk, akta perkawinan, surat keterangan lainnyayang diperlukan. Pemeriksaan gugatan perceraian dilakukan dalam sidang tertutup untuk umum dikarenakan menyangkut rahasia sebuah keluarga.
4. Perdamaian
Dalam proses pemeriksaan sengketa perkawinan, baik sebelum dan selama gugatan perceraian belum diputuskan oleh pengadilan, usaha mendamaikan kedua belah pihak terus diupayakan oleh Pengadilan melalui hakim yang ditunjuk untuk menyelesaikan perkara tersebut. Selain itu dalam mendamaikan kedua belah pihak, Pengadilan dapat meminta bantuan terhadap orang atau badan lain yang dianggap perlu. Pasal 130 HIR / 154 RBG menetapkan bahwa jika perdamaian yang mana suami isteri diwajibkan untuk melaksanakan isi perdamaian itu, yang berkekuatan hukum dan harus dijalankan sama seperti putusan biasa dan tidak dapat dimohonkan banding. Jadi akta perdamaian tersebut memiliki kekuatan hukum tetap yang sama seperti keputusan pengadilan dan suami isteri wajib melaksankan isinya, sebab didalam akta tersebut hakim telah memuat apa saja yang menjadi kehendak dan keinginan para pihak yang berperkara, dalam rangka mengakhiri gugatan perceraian tersebut.
Apabila terjadi perdamaian, tidak dapat diajukan gugatan perceraian baru berdasarkan alasan alasan yang ada sebelum perdamaian dan telah diketahui oleh penggugat pada waktu dicapainya perdamaian.
5. Pisah rumah dan kewajiban nafkah
Sebelum putusan dijatuhkan, selama proses dalam penyelesaian gugatan perceraian atas permohonan penggugat atau
tergugat serta menimbang bahaya yang dapat timbul demi kebaikan suami isteri bahkan anak – anak, Pengadilan dapat mengizinkan suami isteri untuk tidak tinggal satu rumah. Demikian pula dalam proses penyelesaian gugatan perceraian berlangsung, tidak dapat dijadikan alasan suami untuk melalaikan tugasnya dalam memberi nafkah isteri dan anak-anaknya.
Oleh karena itu, selama berlangsungnya gugatan perceraian, atas permohonan penggugat atau tergugat pengadilan dapat :
1. Menentukan nafkah yang harus ditanggung suami
2. Menentukan hal – hal yang perlu untuk menjamin pemeliharaan dan pendidikan anak;
3. Menentukan hal – hal yang perlu untuk menjamin terpeliharanya barang – barang yang menjadi hak bersama suami isteri (bersama) atau yang menjadi hak isteri.
(Usman, 2005 : 408) 6. Putusan Pengadilan
Putusan pengadilan mengenai gugatan perceraian diucapkan dalam sidang terbuka, meskipun sidang pemeriksaan gugatan perceraian dilaksanakan secara tertutup. Jika tidak demikian dapat diancam dengan kebatalan demi hukum, yaitu putusan yang tidak (akan) memiliki kekuatan hukum tetap dan tidak sah sebagai suatu putusan yang akan dijalankan. Atas putusan pengadilan ini dapat
diajukan banding oleh pihak yang berperkara, kecuali perundangan mengatur lain.
Suatu perceraian dianggap terjadi beserta segala akibatnya terhitung sejak saat pendaftarannya pada daftar pencatatan kantor pencatatan oleh pegawai pencatat perkawinan, kevuali bagi mereka yang beragama islam terhitung sejak jatuhnya putusan Pengadilan Agama yang memiliki kekuatan hukum tetap.
Panitera atau Pejabat Pengadilan yang ditunjuk berkewajiban untuk mengirimkan satu helai salinan putusan pengadilan yang telah memiliki kekuatan hukum tetap tanpa bermaterai kepada Pegawai Pencatat Perkawinan di tempat perceraian tersebut terjadi.