Dengan kewenangannya sebagai subyek desa berhak untuk merencanakan dan menyelenggarakan Pembangunannya sendiri, termasuk melakukan kerja sama antar desa. Praktek kerja sama antar desa adalah kearifan tradisional desa dalam mengoptimasi sumber daya alam yang dalam bahasa norma UU Desa ditetapkan sebagai sebuah model Pembangunan Kawasan Perdesaan. Pasal 83, Ayat (1) UU No.6/2014 menyebutkan, pembangunan Kawasan Perdesaan merupakan perpaduan pembangunan antar-Desa dalam 1 (satu) Kabupaten/Kota.
Pembangunan Kawasan Perdesaan bertujuan untuk mempercepat dan meningkatkan kualitas pelayanan, pembangunan, dan pemberdayaan masyarakat Desa melalui pendekatan pembangunan partisipatif. Pasal 83 ayat (2) UU Desa tersebut merupakan dasar normatif sekaligus acuan dalam penyusunan platform Pembangunan Kawasan Perdesaan. Sesuai amanat pasal tersebut platform Pembangunan Kawasan Perdesaan setidaknya menyakup rencana dan strategi meningkatkan tiga bidang kehidupan desa yaitu kualitas pembangunan, kualitas pemberdayaan, dan kualitas pelayanan.
Bidang pembangunan yang dimaksud Undang-undang Desa adalah pengembangan kualitas sosial-ekonomi yang menyakup diantarnya; pengadaan dan peningkatan sarana serta pra-sarana produksi, pengelolaan sumber daya alam dan lingkungan, peningkatan kualitas produk pertanian, serta pengembangan teknologi tepat guna (Pasal 83, ayat (3)). Di samping aspek ekonomi pembangunan Kawasan Perdesaan perlu juga mempertimbangkan aspek-aspek sosial-budaya, lingkungan hidup.
Panduan Umum:
Bidang pemberdayaan merupakan bidang yang terkait dengan peningkatan kesadaran dan kualitas kemampuan masyarakat desa untuk mengambil bagian dalam Pembangunan Kawasan Perdesaan. Sedangkan bidang pelayanan lebih berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan fasilitasi untuk memudahkan masyarakat desa, baik dalam mendapatkan hak-hak dasar maupun dalam upaya meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan.
III.1. Tahap Pembangunan Kawasan Perdesaan
Kata Pembangunan dalam frasa Pembangunan Kawasan Perdesaan ditulis dalam huruf “P” besar untuk mengindikasikan sebagai sebuah kesatuan sistemik yang terdiri dari beberapa tahap yang berkesinambungan. Pasal 4 ayat (1) Permen Desa PDTT Nomor 5 Tahun 2015 menjelaskan bahwa penyelenggaraan Pembangunan Kawasan Perdesaan merupakan sebuah mekanisme pembangunan yang menyakup 4 tahap yang terintegrasi satu dengan yang lain. Keempat tahap yang dimaksud adalah:
a) Pengusulan Kawasan Perdesaan;
b) Penetapan dan perencanaan Kawasan Perdesaan; c) Pelaksanaan pembangunan Kawasan Perdesaan, dan;
d) Pelaporan serta evaluasi pembangunan Kawasan Perdesaan.
Terkait dengan tahap pengusulan, Undang-undang Desa mendudukkan pembangunan Kawasan Perdesaan pada kerangka hak asal-usul dan kewenangan lokal berskala Desa. Hal itu ditegaskan dalam pasal 123, ayat (3), PP No.43/2014. Artinya pembangunan Kawasan Perdesaan tidak terlepas dari keberadaan Desa sebagai subyek yang memiliki hak (Pasal 67 UU Desa) dan kewenangan (Pasal 19 UU Desa) dalam membangun Desanya. Pembangunan Kawasan Perdesaan ditetapkan di atas pengakuan kemampuan Desa untuk mengatur dan mengurus Desanya. Pengakuan atas otoritas atau kedaulatan Desa tidak hanya sebatas membangun Desanya sendiri, tetapi juga dalam kerangka kerja sama dengan Desa lain. Ketentuan itu secara tidak langsung berkait dengan kewenangan Desa dalam menetapkan peraturan bersama Kepala Desa (Pasal 69 UU Desa).
III.1.A. Mekanisme Pengusulan Dan Perencanaan
Sesuai dengan prinsip partisipatif pembangunan kawasan pada dasarnya merupakan program yang melibatkan secara aktif dua pihak yaitu pemerintah daerah, dalam hal ini kabupaten/kota dengan beberapa desa dengan tetap memperhatikan aspirasi masyarakat desa. Kedua pihak dimungkinkan melibatkan pihak ketiga untuk membantu dalam mekanisme usulan dengan mengikuti ketentuan yang berlaku.
Usulan kawasan perdesaan yang akan dibahas dan ditetapkan harus merupakan rancangan gagasan pembangunan yang mempercepat, meningkatkan kualitas pelayanan, pengembangan ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Usulan yang merupakan prakarsa desa baru akan dibahas bersama setelah disepakati oleh Kepala Desa yang wilayahnya menjadi bagian dari kawasan dalam bentuk Surat Keputusan para kepala desa. Bupati/Walikota dapat memprakarsai prencanaan pembangunan kawasan melalui TKPKP untuk mendapatkan persetujuan dari Kepala Desa dan tokoh masyarakat yang wilayahnya diusulkan menjadi kawasan perdesaan.
Pasal 79, ayat (1) UU No. 6/2014 menyatakan bahwa pemerintah desa wajib mengacu pada perencanaan pembangunan kabupaten/kota dalam menyusun perencanaan pembangunan desa, sesuai dengan kewenangannya. Dalam Pasal 79, ayat (7) menyatakan, “Perencanaan Pembangunan Desa sebagaimana dimaksud pada
Panduan Umum:
ayat (1) merupakan salah satu sumber masukan dalam perencanaan pembangunan Kabupaten/Kota.” Pemahaman dari pernyataan pasal ini memberikan implikasi bahwa antara pembangunan kabupaten/kota dengan pembangunan desa merupakan satu kesatuan dan memerlukan koordinasi pembangunan yang optimal, sesuai dengan kewenangan/urusannya.
Sebagaimana diatur dalam Pasal 7, ayat (4) usulan pembangunan Kawasan Perdesaan setidaknya memuat;
a) isu strategis kawasan perdesaan;
b) tujuan dan sasaran pembangunan kawasan perdesaan; c) strategi dan arah kebijakan kawasan perdesaan;
d) program dan kegiatan pembangunan kawasan perdesaan; e) indikator capaian kegiatan; dan
f) kebutuhan pendanaan.
Dari usulan desa , selanjutnya Bupati/Walikota melakukan kajian untuk disesuaikan dengan rencana dan program pembangunan kabupaten/kota. Dari hasil kajian atas usulan tersebut bupati/walikota menetapkan lokasi pembangunan kawasan pedesaan dengan keputusan bupati/walikota (PP No. 43/2014, psl 124 (2)). Penetapan dan perencanaan kawasan perdesaan ditetapkan dengan memperhatikan RTRW Kabupaten/Kota dan RPJMD Kabupaten/Kota, terutama dalam penentuan prioritas, jenis, dan lokasi program pembangunan.
Sesuai Peraturan Pemerintah No.47/2015 Bupati/Walikota dapat mengusulkan kawasan perdesaan yang telah ditetapkan baik kepada gubernur maupun kepada Pemerintah melalui gubernur. Begitu pun sebaliknya pembangunan kawasan perdesaan dapat dilakukan oleh gubernur, oleh Pemerintah dengan tetap memperhatikan rencana pembangunan daerah dan aspirasi masyarakat desa. Program pembangunan kawasan perdesaan yang berasal dari pemerintah daerah provinsi ditetapkan oleh gubernur. Namun prakarsa pembangunan Kawasan Perdesaan dari Pemerintah dan Pemerintah Provinsi ke pemerintah kabupaten/kota bersifat penugasan yang diberikan berdasarkan asas tugas pembantuan (Pasal 12, ayat (3) Permen Desa No.5/2016).
III.1.B. Mekanisme Pelaksanaan Pembangunan Serta Evaluasi
Pembangunan kawasan perdesaan merupakan perwujudan program dan kegiatan pembangunan tahunan pada kawasan perdesaan yang dilaksanakan dengan memperhatikan kewenangan lokal berskala Desa serta pengarusutamaan perdamaian dan keadilan sosial melalui pencegahan dampak sosial dan lingkungan yang merugikan sebagian dan/atau seluruh Desa di kawasan perdesaan. Pokok penting dari gagasan tersebut sejalan dengan nilai partisipasi yang menjadi prinsip Desa Membangun (UU Desa No 6/2014) dan pembangunan kawasan perdesaan (PP No.43/2016).
Dalam hal pembangunan kawasan Pemerintah dan pemerintah daerah Provinsi dapat menugaskan kepada Daerah kabupaten/kota untuk melaksanakan pembangunan kawasan perdesaan berdasarkan asas tugas pembantuan. Terkait dengan mekanisme koordinasi pelaksanaan pembangunan, Pasal 79, ayat (6) UU 6/2014 menyebutkan bahwa program pemerintah dan/atau pemerintah daerah yang berskala lokal desa dikoordinasikan dan/atau didelegasikan pelaksanaannya kepada desa. Pasal 81, ayat (5) UU 6/2014 menyebutkan bahwa pelaksanaan program sektoral yang masuk ke desa diinformasikan kepada pemerintah desa untuk diintegrasikan dengan pembangunan desa.
Selanjutnya program pembangunan kawasan perdesaan ditetapkan sebagai program pembangunan berkelanjutan yang menjadi bagian dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah pemerintah kabupaten/kota. Dalam pelaksanaan program jangka panjang yang berkelanjutan, evaluasi menjadi momen penting untuk menjaga kesinambungan program dalam mencapai tujuan sesuai ketentuan Pereaturan Menteri Desa PDTT, No.5/Th 2016. Dalam kerangka pembangunan berkelanjutan setiap tahun anggaran menjadi satu periode pembangunan yang menentukan rencana dan pembangunan pada periode berikutnya.
Evaluasi merupakan salah satu komponen penting untuk mengukur seberapa besar capaian hasil dari setiap periode pembangunan. Evaluasi dilakukan berdasarkan laporan kinerja per tiga bulan yang disampaikan kepada Bappeda berbasis desa dilakukan oleh pelaksana pembangunan dengan mendasarkan pada indikator kinerja capaian yang ditetapkan dalam Rencana Pembangunan Kawasan Perdesaan. Selanjutnya Bupati/Walikota menindaklanjuti hasil evaluasi sebagai arahan kebupaten/kota dalam pelaksanaan pembangunan kawasan perdesaan pada tahun selanjutnya.
Panduan Umum:
III.2. Strategi Pertumbuhan Kawasan Perdesaan
Desa Membangun merupakan paradigma yang menempatkan desa sebagai penentu pengembangan Pembangunan Kawasan Perdesaan. Dalam konsep pengembangan wilayah terdapat dua pandangan: pertama, yang berfokus pada sistem wilayah sebagai fungsi (function) dari mata rantai simpul-simpul pertumbuhan dari desa – kota kecil – kota menengah – kota besar. Kedua adalah pandangan yang berfokus pada kemandirian kawasan perdesaan (territory) sebagai pondasi kemandirian untuk kesejahteraan kawasan perdesaan. Konsep yang berfokus pada fungsi (simpul-simpul pertumbuhan) didasari keyakinan bahwa pembangunan akan menjalar dari pusat-pusat utama ke pusat-pusat pertumbuhan di bawahnya hingga ke kota kecil dan desa.
Dua fokus pandangan tersebut masing-masing telah diadopsi dalam kebijakan pemerintah, sehingga dalam pengembangan kawasan perdesaan tercermin dua pandangan:
1) Kebijakan yang melihat kawasan perdesaan sebagai strategi untuk menguatkan basis ekonomi nasional; sebagai area pengembangan sumber daya alam dan sektor primer/ ekstraktif untuk mendukung daya saing ekonomi nasional, mendukung fungsi kota kecil;
2) Kebijakan yang mengembangkan kemandirian kawasan perdesaan dengan perspektif lebih luas, untuk mengembangkan kemampuan sumber daya manusia (human capital), sumber daya sosial dan kelembagaan (social capital), sumber daya budaya dan kearifan lokal (cultural capital), sumber daya ekonomi dan keuangan (economic and financial capital), serta sumber daya alam dan kelestarian lingkungan (natural and environmental capital).
Dalam hal tujuan peningkatan kesejahteraan dan penanggulangan kemiskinan perlu dipahami bahwa pertumbuhan suatu wilayah, “lapangan kerja” merupakan faktor dominan yang menentukan berkembang atau merosotnya suatu wilayah. Oleh karena itu pengembangan kawasan perdesaan diawali dengan mengidentifikasi “kegiatan ekonomi unggulan” kawasan tersebut.
Identifikasi dan analisis untuk menentukan kegiatan utama ini (“economic base”) merupakan proses yang penting dan menentukan. Contoh dari economic base di antaranya kawasan horticultura, kawasan agro-wisata, kawasan bahari, kawasan perkebunan rakyat, dan basis kegiatan pertanian dan pengelolaan sumber daya alam, dan lainnya. Identifikasi tersebut strategis untuk menentukan pengembangan kegiatan utama
permukiman, penyediaan pelayanan sosial, pelayanan jasa pemerintahan dan lainnya. Sebagai ilustrasi dengan berfokus pada pengembangan potensi sumber daya alam seperti perkebunan rakyat jeruk dan sebuah goa, masyarakat di kawasan tersebut dapat mengembangkan kegiatan agro-wisata. Wisatawan diajak mengunjungi kabun jeruk, menikmati buah, melihat proses pembuatan jus jeruk, manisan dan lainnya. Berikutnya mengunjungi goa, dikisahkan legenda setempat, menyaksikan seni tari, nyanyi, kerajinan tenun, ukir, dan lainnya. Maka berawal dari kegiatan utama perkebunan jeruk dan adanya atraksi alam goa, kegiatan gandanya (multiplier) dapat berkembang. Selanjutnya masyarakat mempunyai lapangan kerja yang kian meluas, dan meningkat pendapatan, dan daya belinya.
Untuk mencapai tujuan pembangunan kawasan perdesaan, dibutuhkan beberapa kriteria sebagai pertimbangan dalam menentukan kegiatan unggulan (leading sector) antara lain: (a) potensi ke-khas-an produk utama dan potensinya untuk dijual (market demand) ke luar kawasan/daerah; luasnya rantai penggandaan (multiplier-effect) kegiatannya di kawasan sendiri; jumlah pelaku (wisausaha kecil, pekerja) yang terlibat; keunggulan produk terhadap produk daerah lain; tingkat terorganisasinya kegiatan ekonomi tersebut.; kemungkinan hasil ekonomi segera dirasakan masyarakat; dan kesesuaian dengan prioritas pembangunan ekonomi daerah.
Percepatan pengembangan Kawasan Perdesaan perlu dilakukan dengan penyelenggaraan program atau kegiatan-kegiatan pendukung. Beberapa program yang berpotensi mendukung pengembangan kegiatan unggulan di Kawasan Perdesaan diantaranya pembangunan dan peningkatan pelayanan pendidikan dan kesehatan, pengembangan dan pelestarian potensi budaya dan kearifan lokal, pembangunan dan pemeliharaan prasarana dan sarana, pengembangan kapasitas manusia.
Di samping program atau kegiatan pembangunan sektor, pengembangan Kawasan Perdesaan perlu juga didukung penguatan kelembagaan pada tingkat kawasan, baik kelembagaan ekonomi (BUMDes, BUMDes Bersama Antar-Desa, koperasi), maupun kelembagaan sosial-kemasyarakatan (BKAD, MAD), dan jejaring kerjasama lembaga pemerintah – swasta – masyarakat.
Panduan Umum:
III.3. Kelembagaan Kawasan Perdesaan
Pengertian kelembagaan masih sering dipahami berbeda arti. Dalam hal tertentu pengertian kelembagaan dipahami sebagai norma atau aturan yang menentukan terbentuknya pola hubungan sosial dalam masyarakat. Dalam hal itu kelembagaan merupakan social institution, nilai yang diterima oleh masyarakat dalam suatu lingkungan sebagai suatu ketentuan yang mengatur tata kehidupan bersama, baik relasi antar manusia maupun relasi manusia dengan alam lingkungannya. Tetapi kelembagaan juga dimengerti juga sebagai hal yang berkaitan dengan lembaga atau berkaitan dengan hal ihwal organisasi formal yang dibentuk oleh para pihak yang mempunyai kepentinga bersama. Cakupan kedua pengertian tersebut dipergunakan dalam kerangka Pembangunan Kawasan Perdesaan karena keduanya de facto hidup dan bersinggungan. Pengertian pertama lebih berkaitan dengan nilai-nilai tradisional. Salah satu wujud kelembagaan nilai tradisional adalah kearifan lokal (local wisdom) yang tidak tertulis. Sekalipun tidak tertulis norma sosial tersebut tidak datang dari ruang hampa, tetapi terbangun dari konsepsi masyarakat tradisional tentang hubungannya dengan lingkungan sosial maupun lingkungan alam yang disepakati, dipercaya dan dihormati sebagai nilai yang menggerakkan dan mengatur kehidupan kolektif. Nilai sosial yang dijaga turun temurun tersebut di tempat tertentu berfungsi effektif sebagai suatu sistem kontrol sosial untuk menjaga atau melestarikan sumber daya milik bersama (common pool resources).
Secara tradisional kelembagaan juga terbentuk karena penghormatan atas nilai yang berorientasi pada pembagian peran masyarakat dalam menentukan tata kehidupan bersama. Pembagian peran tersebut menyangkut struktur dan kewenangan. Sampai saat ini pembagian struktur peran dalam masyarakat yang didasarkan pada nilai lokal masih hidup dan menghidupi masyarakat adat. Masyarakat adat yang dimaksud adalah masyarakat asli yang hidup dalam wilayah tertentu yang tunduk pada norma dan nilai tertetentu sejak sebelum masuknya pengaruh luar. Norma dan nilai itu yang menjadi aturan atau hukum adat yang tak tertulis yang mengikat, memiliki sanksi dan dipertahankan. Dewan adat adalah salah satu contoh kelembagaan tradisional yang berkewenangan menjaga nilai-nilai hukum adat.
Pengertian kedua kelembagaan adalah organisasi sosial atau hal yang bersifat organisasional yang dibentuk oleh berbagai pihak untuk kepentingan mengatur dan mengelola kepentingan bersama. Dalam hal ini kelembagaan dimengerti sebagai mekanisme koordinasi antar lembaga yang memiliki kepentingan bersama dalam
di dalamnya terdapat antara lain Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, Pemerintah Desa, BUM Desa dengan mengikut sertakan masyarakat Desa sebagai kesatuan hukum (Pasal 85, ayat (1) UU No.6/2014). Lembaga juga berarti korporasi, institusi pendidikan atau perguruan tinggi yang juga diundang untuk terlibat dalam Pembangunan Kawasan Perdesaan, sebagaimana diatur pada Pasal 10 Permen Desa PDTT No.5/2015. Llebih lanjut Permen Desa, PDTT No.5/2015 memunculkan sebuah lembaga baru yang diberi mandat untuk menyelenggarakan pembangunan Kawasan Perdesaan yang disebut Tim Koordinasi Pelaksana Pembangunan Kawasan Perdesaan (TKPKP) yang dibentuk di tingkat Pusat, Provinsi, dan Kabupaten/Kota (Pasal 15, ayat (1)).
Untuk melancarkan mekanisme koordinasi antar lembaga tersebut, Ditjen PKP menyediakan dan memobilisasi Pendamping Kawasan Perdesaaan di Kabupaten-kabupaten yang telah dipilih, untuk bekerja bersama. Sesuai dengan namanya, keseluruhan tugas Pendamping Kawasan Perdesaan adalah untuk memfasilitasi bertemu dan dan bersinerginya berbagai kebutuhan, kepentingan, sumber daya anggaran, serta potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia desa ke dalam pembangunan kawasan yang partisipatif sehingga dapat mensejahterakan utamanya masyarakat desa di kawasan yang ditetapkan. Utamanya diharapkan baik pendamping manajemen maupun pendamping teknis dapat bekerja sama dengan satuan kerja perangkat daerah kabupaten/kota dan kader Desa, dan/atau pihak ketiga.
Panduan Umum: