• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tugas pemerintah desa adalah menyelenggarakan rumah tangga sendiri, di samping itu ia dapat dibebani tugas-tugas pembantuan yang diberikan pleh instansi vertikal (garis menegak) atau daerah otonom atasan. Desa adalah daerah otonom asli berdasarkan

hukum adat berkembang dari rakyat sendiri menurut perkembangan sejarah yang dibebani oleh instansi atasan tugas-tugas pembantuan.

Pemerintah Kelurahan merupakan suatu wilayah administratif berada langsung dibawah Pemerintah Kecamatan dalam kota. Tugas Pemerintah Kelurahan jadinya berlandaskan atas deskonsentrasi, yang tentu saja tidak menghalanginya melaksanakan tugas-tugas dibidang desentralisasi melalui saluran Camat, Bupati, Walikota dan Gubernur Kepala Daerah.

Dalam penjelasan umum undang-undang nomor 5 tahun 1979 tentang Pemerintahan Desa, undang-undang ini mengarah kepada penyeragaman bentuk dan susunan pemerintahan desa dengan corak nasional yang menjamin terwujudnya Demokrasi Pancasila secara nyata dengan menyalurkan pendapat masyarakat dalam wadah yang disebut Lemabaga Masyarakat Daerah (LMD).

Secara tegas dinyatakan bahwa hak menyelenggarakan rumah tangga sendiri bagi Pemerintahan Desa bukanlah hak otonomi sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1974 tentang pokok-pokok Pemerintahan di Daerah tetapi mengatur Desa dari segi pemerintahannya yag berdasarkan Demokrasi Pancasila. Undang-undang ini menurut penjelasannya tetap mengakui kesatuan masyarakat hukum, adat istiadat, kebiasaan-kebiasaan yang masih hidup sepanjang menunjang kelangsungan pembangunan dan ketahanan nasional. Dengan demikian dari penjelasan itu dapat kita lihat bahwa Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1979 tetap mendambakan kehidupan demokrasi berdasarkan Pancasiladengan cara musyawarah untuk mufakat. Undang-undang Nomor 5 Tahun 1979 tidak menghendaki kehidupan yang demokratis berdasarkan asas liberalisme dngan cara membuka peluang bagi terbentuknya arena tempat wakil-wakil golongan yang memerintah dan golongan oposisi mengadakan diskusi yang menjurus pada perdebatan-perdebatan yang lebih mengarah kepada demokrasi liberal dan lebih banyak membawa kecenderungan pada ketegangan dan perpecahan perasaan, sehingga usaha untuk mencapai tujuan memperkuat kesatuan dari masyarakat desa dan memperlancar Pemerintahan Desa akan berjalan dengan tersendat-sendat. Di tingkat kesatuan masyarakat terdepan bukanlah cara demokrasi formal yang penting tetapi yang lebih penting adalah demokrasi material isi daripada masyarakat yang perlu ditingkatkan ke arah pencapaian tujuan, kesejahteraan dan keadilan dengan melalui cara-cara musyawarah untuk mufakat.

Tata kelola yang baik menuntut lebih dari sekedar kapasitas pemerintah yang memadai, akan tetapi juga mencakup kaidah aturan yang menciptakan suatu legitimasi, kerangka kerja yang efektif dan efisien dalam melaksanakan kebijakan publik. Tata kelola yang baik berimplikasi pada pengelolaan urusan masyarakat dengan cara yang transparan, akuntabel, partisipatif dan berkesetaraan.

Dari perspektif ini, kualitas tata-kelola direfleksikan dalam kapasitas pemerintah untuk merancang, memformulasikan dan mengimplementasikan kebijakan yang tepat. Namun demikian, merumuskan kebijakan yang baik adalah jauh lebih mudah dibandingkan dengan mewujudkan kebijakan tersebut dalam praktiknya mengatasi permasalahan dalam pembangunan. Hal ini bergantung tidak hanya kepada tujuan khusus pembangunan apakah itu pertumbuhan ekonomi, pengurangan kemiskinan dan mengurangi ketimpangan ekonomi, akan tetapi juga bergantung kepada konteks politik, budaya dan sejarah serta kapasitas para penyelenggara negara.

Jika kita merujuk pada UU No. 5 Tahun 1974, dab juga defenisi tata kelola, dalam hal ini Desa Cukangkawung sudah dapat dikatakan sebagai salah satu desa yang sudah menerapkan ketentuan yang tertuang dalam undang-undang tersebut. Setiap kebijakan yang dibuat oleh pemerintahan desa dalam hal ini kepala desa beserta jajarannya, terlebih dahulu melakukan musyawarah bersama-sama dibalai desa. Hal itu dimaksudkan agar setiap kebijakan yang akan dibuat hendaknya mengakomodir semua kepentingan.

Fungsi pemerintah menurut Irving Swerdlow yaitu:

 Operasi langsung (operations), yang pada pokoknya pemerintah menjalankan sendiri kegiatan-kegiatan tertentu.

 Pengawasan langsung (direct control), yaitu penggunaan perizinan, lisensi (untuk kredit, kegiatan ekonomi dll), penjatahan dan lain-lain. Ini dilaksanakan oleh badan-badan pemerintah yang “action laden” (yang berwenang dalam berbagai perizinan, alokasi, tarif dan lain-lain) atau kalau tidak, berusaha untuk menjadi action laden.

 Pengawasan tidak langsung (indirect control), yakni dengan memberikan pengaturan dan syarat-syarat, misalnya pengaturan penggunaan dana devisa tertentu diperbolehkan asal untuk barang-barang tertentu.

 Pengaruh langsung (direct influence), maksudnya dengan persuasi dan nasehat, misalnya saja supaya golongan masyarakat tertentu dapat turut menggabungkan diri dalam koperasi tertentu, atau ikut jadi akseptor program keluarga berencana.

 Pengaruh tidak langsung (indirect influence), yang merupakan bentuk keterlibatan kebijaksaan ringan. Hal ini misalnya berbentuk pemberian informasi, penjelasan kebijaksanaan, pemberian tauladan, serta penyuluhan dan pembinaan agar masyarakat bersedia menerima hak-hak baru (promoting a receptive attitude toward innovation).

Penerapan prisif-prinsif good governace pada tata kelola pemerintahan Desa Cukangkawung bisa dikatakan sudah cukup baik. Jika kita kembali melihat tentang defenisi good governace yaitu: Good governance mengandung arti hubungan yang sinergis dan konstruktif di antara negara, sektor swasta, dan masyarakat (society). Dalam hal ini adalah kepemerintahan yang mengembangkan dan menerapkan prinsip – prinsip profesionalitas, akuntabilitas, transparansi, pelayanan prima, demokrasi, efesiensi, efektivitas, supremasi hukum, dan dapat diterima oleh seluruh masyarakat. Pemerintah yang berfungsi baik adalah pemerintah yang memiliki birokrasi berkualitas tinggi, sukses dalam menyediakan layanan publik yang esensial, dapat mengelola anggaran negara yang efektif, tepat sasaran dan betul-betul untuk kemaslahatan rakyat kebanyakan, serta demokratis. Oleh karenanya, pemerintah sudah seyogyanya harus berpacu dengan waktu dan berupaya untuk memperbaiki kualitas tata kelolanya sehingga ancaman terwujudnya Indonesia sebagai negara yang gagal ( failed state ) tidak terjadi.

Menurut para warga Desa Cukangkawung , semenjak desa tersebut dipimpin oleh M. Arif ,S.Pd. I. Sebagai kepala desa, terdapat hal positif yang masyarakat rasakan. Sosialisasi M. Arif ,S.Pd. I sebagai kepala desa sangat baik terhadap masyarakatnya, akibatnya terjalin hubungan komunikasi antara kepala desa dengan para wagara.

Komunikasi yang baik menjadi salah satu factor penyebab ketidak seganan para warga Desa Cukangkawung dalam menyampakan saran dan kritik mereka kepada para aparat desa khususnya kepala desa. Ketidak seganan warga dalam menyampaikan aspirasi mereka terhadap pemrintahan desa menimbulkan suatu tindakan responsif para aparat desa dalam menangulangi seluruh keluhan-keluhan masyarakat.

Selain hubungan komunikasi yang baik antara kepala desa dengan masyarakat, masih ada beberapa factor lain yang mendukung terwujudnya penerapan good governace di Desa Cukangkawung . Transparansi para aparatur desa dalam pengadaan dan pengelolahan APBDes, sehingga mimbulkan rasa kepercayaan masyarakat yang cujub baik terhadap aparat desa setempat. Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan setempat sangat diperlukan, karena baik-buruknya tingkat partisipasi masyarakat terhadap jalannya roda pemerintahan didukung oleh kepercayaan masyarakat terhadap pemerintahan setempat.

Kemudian factor lain yang menyebabkan baiknya roda pemerintahan Desa Cukangkawung , karena seluruh aparatur desa baik dari kepala desa, sekretaris desa dan para perangkat lainnya adalah asli penduduk desa setempat atau pribumi setempat. Hal itu menyebabkan, para aparatur sudah sangat dikenal dengan baik oleh para warga setempat dan para aparatur desa benar-benar memiliki keinginan yang kuat dalam membangunan desa mereka, karena ego kewiliyahan yang dimiliki oleh para aparatur. Dari beberapa factor pendukung yang kami tulisakan tadi, ternyata masih belum bisa mewujudkan penerapan good governace dalam tata kelola pemerintahan Desa Cukangkawung secara maksimal. Masih ada beberap faltor penghambat yang kami temui dilapangan.

Beberapa factor penghambat itu antara lain: Kemiskinan

Factor penghambat terbesar menurut kami adalah kemiskinan. Melihat dari pekerjaan warga yang manyoritas bekerja sebagai buruh, baik buruh tani, buruh bangunan hingga buruh pabrik. Menyebabkan warga sedikit malas untuk berpartisipasi dalam jalannya roda pemerintahan setempat. Masyarakat lebih focus untuk bekerja ketimbang ikut aktif dalam kegiatan pemerintahan

Tingkat pendidikan

Masyarakat Desa Cukangkawung mayoritas hanya mengenyam pendidikan pada tingkat sekolah menengah pratama (SMP), sehingga dapat dikatakan tikatakan bahwa tingkat pendidikan masyarakat Desa Cukangkawung masih rendah. Tingkat pendidikan yang rendah mungkin disebabkan oleh factor ekonomi yang kurang memadai dan kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan. Tingkat pendidikan yang redah menyebabkan pengetahuan warga akan penerapan good governace sangat minim sehingga masyarakat tidak mengetahui pentingnya akan penerapan prinsif-prinsif good governace dalam tata kelola pemerintahan Desa Cukangkawung .

Rendahnya partisipasi masyarakat

Partisipasi masyarakat sangat diperlukan untuk mewujudkan good governance. Partisipasi yakni setiap pembuatan peraturan dan/ atau kebijakan selalu melibatkan unsur masyarakat (melalui wakil – wakilnya). Ketika kami melakukan obserpasi melalui

wawancara dengan kepala desa dan beebarpa warga setempat, tingkat partisipasi masyarakat masih sangat rendah, hal itu mungkin dikarenakan oleh 2 faktor yang telah disebutkan terlebih dahulu. Ekonomi yang rendah dan tingkat pendidikan yang rendah menyebabkan tingkat partisipasi masyarakat menjadi rendah pula.

BAB V

Kesimpulan dan saran A. Kesimpulan

Seiring dengan arus deras reformasi yang melanda negara ini pasca jatuhnya rezim Orde Baru, berkembang pula satu terminologi dalam manajemen pemerintahan, yang mewarnai agenda politik bangsa ini. Terminologi itu tak lain adalah good governance. Kita pun sebagai masyarakat, mau tak mau, menjadi akrab dengan istilah ini. Betapa tidak, good governance pada gilirannya tampil sebagai salah satu wacana politik yang sering didengungkan oleh pemerintah, termasuk pimpinan daerah, guna meraih hati rakyat.

Namun, satu pertanyaan yang layak kita ajukan, apakah kita sejatinya telah cukup memahami makna terminologi tersebut? Apakah kita sudah mengetahui akar serta latar belakang kemunculannya? Ataukah wacana itu mewujud hanya dalam batas istilah, sebagai pemanis retorika pemerintah yang kering akan makna? Pertanyaan ini terutama ditujukan bagi para birokrat sebagai pihak yang paling sering mempromosikan wacana good governance.

Jika ditarik lebih jauh, lahirnya wacana good governance berakar dari penyimpangan-penyimpangan yang terjadi pada praktik pemerintahan, seperti Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN). Penyelenggaraan urusan publik yang bersifat sentralistis, non-partisipatif serta tidak akomodatif terhadap kepentingan publik, telah menumbuhkan rasa tidak percaya dan bahkan antipati kepada rezim pemerintahan yang ada. Masyarakat tidak puas dengan kinerja pemerintah yng selama ini dipercaya sebagai penyelenggara urusan publik. Beragam kekecewaan terhadap penyelenggaraan pemerintahan tersebut pada akhirnya melahirkan tuntutan untuk mengembalikan fungsi-fungsi pemerintahan yang ideal. Good governance tampil sebagai upaya untuk memuaskan dahaga publik atas kinerja birokrasi yang sesungguhnya.

Berhasil tidaknya penciptaan good governance, banyak tergantung kepada para pelaksananya ( pejabat publik maupun pejabat politik) yang telah diamanahkan oleh masyarakat dan negara ini .Disamping setiap instansi punya rencana strategis, punya sistim pelaksana dan control yang baik,transparan dll, yang tidak kalah pentingnya adalah para abdi negara itu harus punya iman yang kuat dan siap memulai dari diri sendiri, dari yang kecil-kecil dan sekarang juga ( A.A.Gym.)

Jika kita merujuk pada pemerintahan Desa Cukangkawung , penerapan good governace yang dilakukan dalam pelaksanaan roda pemerintah sampai saat ini sudah cukup baik. Para aparatur desa berusaha menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Masyarakat yang menerima pelayananpun dapat menerima pelayanan itu dengan baik dan tidak ada unsur kekecewaan oleh masyarakat terhadap kegiatan pemerintahan desa dalam melaksanakan tugasnya yaitu sebagai abdi masyarakat.

Hal yang menyebabkan terhambatnya penerapan good governace di Desa Cukangkawung adalah karena kurangnya kesadaran akan pentingnya pendidikan oleh warga dan rendahnya tingkat ekonomi masyarakat. Kedua hal tersebut menyebabkan kepasifan masyarakat untuk berpasrtisipasi dalam pelaksanaan roda pemerintahan, karena masyarakat umumnya lebih fokus untuk bekerja dan memenuhi kebutuhannya. Waktu masyarakat sebagian besar digunakan untuk bekerja sehingga fungsi kontrol masyarakat terhadap aparatur pemerintahan desa tidak berjalan sebagaimestinya.

B. Saran

Good Governance (tata pemerintahan yang baik) merupakan praktek penyelenggaraan pemerintahan dalam rangka memberikan pelayanan kepada masyarakat. Good governance telah menjadi isu sentral, dimana dengan adanya era globalisasi tuntutan akan penyelenggaraan pemerintahan yang baik adalah suatu keniscayaan seiring dengan meningkatnya pengetahuan masyarakat.

Good governance menuntut keterlibatan seluruh elemen yang ada di masyarakat. Ini hanya bisa jika pemerintahan itu dekat dengan rakyat. Maka sangat cocok dengan sistim desentralisasi dan otonomi daerah yang saaat in telah diterapkan oleh Negara Indonesia. Good governance dapat berlangsung dengan baik jika

kondisi masyarakat saat ini adalah mereka semakin sadar akan apa yang menjadi hak dan kewajibannya sebagai warga negara. Mereka semakin berani untuk mengajukan tuntutan, keinginan dan aspirasinya. Mereka semakin kritis untuk melakukan control terhadap apa yang dilakukan oleh pemerintah, lembaga legislatip maupun judikatip. Maka pemerintah harus dapat memberikan pelayanan publik yang lebih professional, efektif, efisien, sederhana, transparan, terbuka, tepatwaktu, responsif dan adaptif dan sekaligus dapat membangun kualitas manusia dalam arti meningkatkan kapasitas individu dan masyarakat untuk secara aktip menentukan masa depannya sendiri ( Effendi 1986: 213)

Tetapi hal itu sangat sulit diterapakan di Desa Cukangkawung mengingat tinkat pendidikan dan tingkat ekonomi masyarakat yang masih cukup rendah, maka dalam hal ini kami menyarankan agar pemerintahan setempat berfokus pada dua jail, yaitu:

Pengadaan sarana dan prasarana pendidikan

Sesuai dengan kebijakan pemerintah pusat yaitu wajib belajar 9 tahun, dan juga salah satu tujuan yang tertuang dalam UUD 1945 yaitu mencerdaskan kehidupan berbangsa dan bernegara. Maka dapat disimpulkan bahwa pendidikan merupakan salah satu item yang sangat penting untuk diperhatikan. Jika tingkat pendidikan masyarakat Desa Cukangkawung cukup baik kemungkinan penerapan good governace dalam tata kelola pemerintahan Desa Cukangkawung akan dapat diwujudkan karena masyarakat sudah mengerti dang mengetahui akan pentingnya penerapan good governace. Masyarakat di pastikan akan lebih aktif untuk berpartisipasi dalam pelaksanaan roda pemerintahan di Desa Cukangkawung .

Oleh sebab itu kami menyarankan kepada perintahan Desa Cukangkawung agar melakukan kerjasama dengan Pemerintahan Daerah Tingkat II dalam pengadaan sarana

dan prasarana pendidikan terhadap masyarakat Desa Cukangkawung . Hal itu di anjurkan mengingat pendidkan adalah tanggung jawab bersama dan sangat tidak munkin pemerintah Desa Cukangkawung melaksanakan pengadaan sara dan prasaran pendidian secara sendiri tanpa bantuan dari Pemerintah Daerah Desa Tingkat II.

Pemberian modal pinjaman kepada masyarakat

Masyarakat Desa Cukangkawung pada umumnya bekerja sebagai buruh,yang tidak jarang pekerjaan sebagai buruh mereka lakukan di tempat yang sangat jauh dari tempat tinggal mereka, kemudian aktifitas sebagai buruh sangat menyita waktu dan tenaga. Alhasil masyarakat menjadi sangat pasif untuk berpastisipasi dalam pelaksanaan pemerintahan Desa Cukangkawung . Sebagaian besar masyarakat Desa Cukangkawung bekerja sebagi buruh, karena masyarakat tidak memiliki modal untuk membuat usaha sendiri yang harapannya bisa menberikan penghasilan yang cukup dan waktu masyarakat tidak terlalu tersita untuk bekerja.

Oleh karena itu kami juga meminta kepada pemerintahan Desa Cukangkawung untuk membuat sebuah program perkreditan usaha rakyat yang nantinya di jadikan sebagi modal untuk usaha. Harapannya dengan pemberian pinjaman modal tersebut masyarakat dapat bekerja lebih baik dan tingkat ekonomi mereka dapat ditingkatkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sehingga waktu masyarakat tidak terkuras habis hanya untuk bekerja, masyarakat juga masih dapat melakukan kegiatan lain yaitu mengontrol segala tindakan aparatur desa dalam pelaksanaan roda pemerintahan.

Demikian lah tugas ini kami buat, kami sadar bahwa kami masih harus belajar lebih lagi mengingat kemampuan kami yang masih sangat kurang dalam melakukan penelitian. Harapannya tugas ini dapat menjadi suatu batu loncatan bagi kami untuk melakukan penelitian yang lebih baik lagi.

Daftar Pustaka

Santosa, Pandji.2008.Administrasi Publik Teori dan Aplikasi Good Governance.Bandung:Refika Aditama

Makhya, Syarief. 2006. Ilmu Pemerintahan (Telaah Awal). Bandarlampung: Unila.

Kencana, Inu Syafiie. 1994. Sistem Pemerintahan Indonesia. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Ndaraha, Taliziduhu. 1983. Metodologi Pemerintahan Indonesia. Jakarta: Bina Aksara.

Kencana, Inu Syafiie. 2003. Kepemimpinan Pemerintahan Indonesia. Bandung: Refika Aditama.

Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Admnistrasi (Dilengkapi dengan metode R&D). Bandung: Alfabeta.

Dokumen terkait