• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

2. Crossover 29

3.2 Tata Laksana

Data yang dikumpulkan terdiri dari data statis dan data dinamis. Data statis adalah data yang tidak bisa diubah, karena merupakan data dari pabrik. Misalnya: Linearitas amplifier(SSPA), gain flatness, SFD dan lain- lain. Data dinamis adalah data-data yang bisa disesuaikan dengan keperluan di lapangan. Misalnya: diameter antena,

power transmit, dan lain-lain.

Langkah- langkah yang dilakukan adalah seperti berikut ini:

1. Rekayasa GA untuk domain kasus yang diangkat. GA yang diperoleh dari internet sesuai dengan gambar 3.2 disebut dengan GAOT. Langkah pertama adalah melakukan rekayasa terhadap kromosom dan fungsi evaluasi agar sesuai dengan domain kasus.

Tabel 3.1 Rekayasa GAOT GAOT GA untuk optimisasi transponder

Kromosom {k1,k2,…}, dimana k[0,1] {k1,k2,…}, dimana k (0, 32, 56, 64, 96, 128, 256, 1024, 2048) untuk Proses 1. {k1,k2,…}, dimana k [0,2048] untuk Proses 2

Fungsi evaluasi F = f(x,y)

= = n i i trans Rc R 1

2. Suatu function dibuat khusus untuk keperluan penelitian ini. Fungsi ini bertujuan untuk memeriksa setiap allele (bit rate) di dalam suatu individu apakah sesuai dengan batasan-batasan bandwidth dan power flux density untuk setiap FEC dan modulasi yang

dicoba. Kemudian menentukan frekuensi center uplink, FEC dan modulasi yang mana yang paling cocok pada gen (posisi string) tersebut.

Gambar 3.2 GA hasil download

3. Masukan sistem adalah deretan bilangan float yang merepresentasikan besar datarate yang dicoba untuk setiap frekuensi uplink. Penentuan frekuens i uplink yang digunakan

adalah dimulai dari frekuensi terkecil dari rentang frekuensi yang ada pada transponder yang ditinjau.

4. Sebagai output sistem adalah:

• Solusi optimal yaitu deretan data rate untuk tiap frekuensi uplink. • Modulasi dan FEC yang digunakan.

Bandwidth yang terpakai.

Power flux density yang digunakan.

Bandwith masing- masing deretan data rate. • Frekuensi uplink untuk masing-masing data rate.

3.3 Penentuan Parameter GA

Sebelum melakukan optimisasi terlebih dahulu dilakukan penentuan parameter-parameter GA yang akan mendasari seluruh proses optimisasi.

Seleksi yang digunakan adalah Seleksi Normalized Geometric karena lebih baik dibanding roulette (Ilsoo Yun dan Byungkyu “Brian” Park. 2003).

• Terminasi dilakukan berdasarkan jumlah generasi, dengan pertimbangan bahwa konvergensi dengan batasan BW = 36 Mhz dan Power satelit = -95.5 dBW/m^2 akan sulit diperoleh. Dengan terminasi tersebut diharapkan bahwa nilai optimal diperoleh ketika nilai batasan tersebut sudah didekati.

• Daya pancar antena stasiun bumi (Watt) ditentukan melalui beberapa percobaan. Percobaan ini dilakukan dengan mengubah-ubah nilai daya pancar dengan jumlah genotif yang tetap. Daya pancar yang menghasilkan kapasitas tertinggi ditentukan sebagai nilai daya pancar yang digunakan untuk masing- masing diameter antena pada proses optimisasi selanjutnya.

• Jumlah individu (N) dalam satu populasi yang dibangkitkan dalam tahapan inisialisasi ditentukan melalui beberapa percobaan. Percobaan ini dilakukan dengan mengubah-ubah N dalam satu populasi dimana jumlah genotif tetap dan daya pancar yang telah diperoleh sebelumnya tetap. Jumlah individu yang digunakan adalah N yang menghasilkan kapasitas terbaik dari beberapa percobaan tersebut.

• Jumlah genotif ditentukan dengan beberapa percobaan. Percobaan ini dilakukan dengan mengubah-ubah jumlah genotif, kemudian menentukan mana yang menghasilkan kapasitas transponder yang terbaik.

3.4 Pengukuran Kinerja Sistem

Pengukuran kinerja sistem dilakukan setelah proses optimisasi (gambar 3.1). Pertama, optimisasi dilakukan terhadap kemampuan transponder dengan asumsi gain

flatness nya sempurna yaitu 0 dB. Kemudian penelitian lanjutan terhadap data-data dinamik

dengan memasukkan data gain flatness yang sebenarnya. Hasil ini dibandingkan dengan kondisi yang diperoleh secara konvensional.

Parameter yang diteliti adalah:

• Konvergensi GA yaitu untuk mengetahui kemampuan GA didalam melakukan optimisasi transponder. Untuk keperluan ini dilakukan proses iterasi dengan jumlah generasi yang berbeda-beda. Kemudian dilihat kecenderungan konvergensi proses iterasi.

• Kompleksitas algoritma yaitu untuk mengetahui tingkat kompleksitas jaringan terhadap waktu proses yang dibutuhkan. Untuk keperluan ini dilakukan proses untuk diameter antenna yang tetap, daya transmit yang tetap, tetapi diproses dengan jumlah gen yang berbeda.

• Nilai-nilai kromosom (alele), yaitu untuk mengetahui komposisi FEC, modulasi, datarate, diameter antena, dan daya pancar (Watt) yang menghasilkan individu (solusi) yang paling unggul.

3.5 Disain Jaringan Komunikasi Satelit.

Disain jaringan komunikasi didasarkan pada solusi-solusi optimal yang diperoleh pada beberapa proses dengan parameter-parameter yang berbeda. Proses disini adalah pemilihan kanal-kanal yang cocok untuk dipasangkan dengan lainnya di dalam melayani link-link komunikasi satelit.

Secara teknis seluruh skema modulasi dan datarate yang ada bisa dipasangkan untuk membentuk link komunikasi dua arah. Tetapi kebanyakan link yang ada adalah besar datarate yang dikirim pengirim biasanya sama dengan besar datarate yang dikirim kembali oleh penerima.

IV. PERANCANGAN SISTEM

4.1 Rancangan Sistem

Untuk keperluan penelitian, algoritma genetika yang telah diperoleh dimodifikasi

(3.2 Tata Laksana). Garis besar hasil modifikasi dapat dilihat sebagai berikut:

CekBER merupakan suatu function untuk memeriksa setiap allele (data rate) di

dalam suatu individu apakah sesuai dengan kualitas link budget, batasan Eb/No,

batasan-batasan bandwidth dan power flux density untuk setiap FEC dan modulasi yang dicobakan.

Kemudian menentukan frekuensi center uplink, FEC dan modulasi yang paling cocok pada

gen (posisi string) tersebut. Diagram alirnya adalah sebagai berikut:

Gambar 4.2 Diagram alir pengujian tiap allele

Ya Tidak

Pemrograman genetika yang digunakan dimodifikasi dari Genetic Algorithm for

Optimization Toolbox (GAOT). Masing- masing terdiri dari modul- modul berupa function

seperti pada tabel di bawah ini.

Tabel 4.1 Fungsi- fungsi yang digunakan oleh sistem

Filename.m Fungsi

floattesis1.m floattesis2.m

Fungsi utama menjalankan proses optimisasi

ga.m memanggil proses Algoritma Genetika sebagai fungsi dari pada Seleksi, Crossover, Mutasi

initializega.m menginisialisasi masukan terhadap GA.

batas.m membatasi setiap masukan datarate setiap Carrier gaTdreval.m mengevaluasi fitness (kapasitas transponder)

cekBER.m Mengevaluasi setiap data rate yang dicobakan terhadap masing carrier, menghitung C/N total untuk masing-masing allele. Kemudian membandingkan dengan batasan masing-masing modulasi. Output dari fungsi ini adalah populasi yang baru, indeks modulasi dan FEC yang sesuai, BW allocated, Power flux Density (PFD), serta Frequency uplink. simpleXover.m Untuk melakukan crossover sederhana

arithXover.m Melakukan crossover pada dua induk P1,P2 dan melakukan interpolasi sepanjang jalur kedua induknya.

boundaryMutation.m Metode mutasi yang terjadi pada batas atas atau batas bawah yang dilakukan secara random terhadap individu yang dimutasi heuristicXover.m Operator Heuristic crossover pada dua induk P1,P2 dan

membentuk ekstrapolasi sepanjang garis yang dibentuk oleh kedua induk tersebut yang mengarah pada induk yang terbaik. maxGenTerm.m Sebagai syarat untuk penghentian proses generasi.

multiNonUnifMutation.m Mengubah seluruh parameter induk berdasarkan distribusi probabilitas non-uniform.

nonUnifMutate.m Mengubah satu dari parameter-parameter induk didasarkan pada distribusi probabilitas non-uniform.

uniformMutate.m Mengubah satu dari parameter-parameter induk didasarkan pada distribusi probabilitas uniform.

normGeomSelect.m Melakukan seleksi berdasarkan ranking yang paling fit yang didasarkan pada distribusi geometrik ternormalisasi.

Selain function di atas, terdapat tiga file.m yang berisi data yang bukan merupakan

function yakni:

1. data_sat_sb.m, adalah file yang berisi parameter-parameter satelit dan stasiun

bumi serta data propagasi, yakni:

%Data Satelit

EIRPsat=38.0; %Efective Isotropic Radiated Power satelit [dBW]

GTsat=0.00; %Figure of merit satelit [ dB/K]

PAD=10.00; %Atenuator di transponder 6H (adjustable) [dB]

SFDensity=-102.50; %Saturated Fux Density transponder 6H [dBW/m^2 ]

BWxpndr=36.0; %Bandwidth Transponder 6H [MHz]

IBOagg=3.00; %input backoff aggregate [dB]

OBOagg=2.50; %output backoff aggregate [dB]

PWRdensity_ul=-47.00; %Power density uplink [dBW/Hz]

EIRPdensity_dl=-36.00; %EIRP density downlink [dBW/Hz]

%Data Propagasi

AtmAttn_ul=0.02; % redaman atmosfir uplink [dB]

AtmAttn_dl=0.02; % redaman atmosfir downlink [dB]

Rain_att=0.7; % redaman hujan berkisar 0.5 - 5 dB

FSL_loss=198; % free space loss berkisar 196 - 200 dB

Point_loss= 0.4; % pointing loss berkisar 0.2 - 0.6 dB

CI_sb=28.00; % Carrier to Interference stasiun bumi [dBc] CI_sat=17.00; % Carrier to Interference satelit [dBc] CI_ul=24.00; % Carrier to Interference uplink [dBc] CI_dl=24.00; % Carrier to Inte rference downlink [dBc]

CI_xpol=30.00; % Carrier to Interference crosspolarization [dBc]

Loss_prop_ul=FSL_loss+Rain_att+AtmAttn_ul+Point_loss;%Loss propagasi up link Loss_prop_dl=FSL_loss+Rain_att+AtmAttn_dl+Point_loss;%LossPropagasi downlink

%Data Earth Station Tx (Pengirim)

D_ant_tx=2.40; %diameter antena pengirim(adjustable)[m]

Eff_ant_tx=0.6; %efisiensi antena pengirim

IFL_loss=1.00; %rugi-rugi IFL[dB]

Ptx=10*log10(5) ; %Daya pancar stasiun pengirim(adjustable) [dBW]

%Data Earth Station Rx (Penerima)

D_ant_rx=10.00; %diameter antena penerima (adjustable) [m]

Eff_ant_rx=0.6; %efisiensi antena penerima

TEMP_ant=25.00; %Temperatur antena [K]

PreLNA_loss=0.10; %rugi-rugi sebelum LNA [dB]

2. gainflat.m, suatu file yang berisi karakteristik transponder seperti pada gambar

berikut:

Gambar 4.3 Gainflatness SSPA transponder 6H Satelit Telkom-1

3. batasEbNo.m, suatu file yang berisi batasan-batasan Eb/No minimum untuk

masing- masing indeks modulasi dan FEC agar mendapatkan bit error rate (BER)

= 10e-8. Batasan ini diperoleh dari Manual Book Comtech CDM 600 Satellite

Modem. File tersebut berisi:

dr=[ 2 3/4 3.8; % QPSK Rate 3/4 Turbo

3 (2/3)*(204/188) 6.5; % 8PSK Rate 2/3 TCM and Reed Solomon 3 3/4 6.8; % 8PSK rate 3/4 Turbo

4 3/4 7.8; % 16QAM Rate 3/4 Turbo

4 3/4*(204/188) 8.1; % 16QAM Rate 3/4 Viterbi/Reed Solomon 4 7/8*(204/188) 9.5]; % 16QAM Rate 7/8 Viterbi/Reed Solomon cr=[3/2 2*(204/188) 9/4 3 3*(204/188) 7/2*(204/188)];

Penulisan di atas didasarkan pada representasi matriks dalam Matlab. Command

tersebut akan menghasilkan matriks dengan ukuran 6x3. Kolom 1 menunjukkan

indeks modulasi, kolom 2 menunjukkan code FEC, dan kolom 3 menunjukkan

Eb/No minimal yang harus diperoleh. Sebagai contoh: makna baris 1 adalah

indeks modulasi = 2, code FEC = ¾, dan Eb/No minimum untuk mendapatkan

BER ≤ 10e-8 adalah 3.8 dB.

4.2 Masukan

Masukan data dimulai dengan mendefenisikan representasi, inisialisasi, evaluasi,

seleksi, crossover, dan mutasi. Inisialisasi dilakukan dengan membangkitkan bilangan

random untuk masing- masing allele setiap individu dalam suatu populasi(kromosom).

Kemudian hasil inisialisasi ini langsung dilakukan pengujian cekBER. Demikan juga

individu- individu yang dihasilkan oleh crossover maupun mutasi langsung dilakukan

pengujian terhadap cekBER. Dengan demikian seluruh allele yang ikut proses genetika

(seleksi, crossover dan mutasi) sudah lolos dari uji cekBER.m.

Struktur data berisi suatu populasi datarate dalam suatu matriks tunggal dengan

ukuran Nind X Lind, dimana Nind = jumlah carrier dalam populasi dan Lind adalah

panjang representasi genotip individual tersebut. Masing- masing baris merupakan

genotip suatu individual, yang merupakan nilai float. Data populasi dibangkitkan secara

acak oleh initializega.m dengan batasan batas.m seperti ditunjukkan di bawah ini,

Populasi =

Lind Nind Nind Nind Lind Lind

g

g

g

g

g

g

g

g

g

, 2 , 1 , . , 2 2 , 2 1 , 2 , 1 2 , 1 1 , 1

...

...

...

...

...

...

...

Nind

individual

individual

individual

_

.

2

_

1

_

Setiap individu (data) membutuhkan panjang yang sama untuk seluruh populasi.

Suatu solusi yang bermanfaat dari individu atau kromosom untuk optimasi fungsi

adalah dengan melibatkan sebaran nilai gen atau variabel yang nilainya terletak dalam

batas atas dan bawah ruang solusi. Pengkajian ini telah diteliti oleh Michalewicz(1995)

dengan melakukan perluasan percobaan melalui perbandingan kinerja Binary Genetic

Algorithm (BGA) dan Float Genetic Algorithm (FGA). Hasilnya menunjukkan bahwa

FGA merupakan orde magnitude yang lebih efisien dalam kaitannya dengan beban dan

waktu komputasi.

Sebelum tahapan proses optimisasi dimulai, terlebih dahulu dilakukan

penyesuaian parameter sesuai dengan keperluan yang diinginkan, yaitu:

• Diameter antena Tx maupun Rx serta daya transmit stasiun bumi pengirim(Pt) dapat

diubah langsung dari data_sat_sb.m, seperti visual berikut:

Untuk proses gainflatness yang ideal (gainflat=0) dilakukan dengan menonaktifkan

komponen g_flat pada cekBER.m yaitu dengan menambahkan ;% pada titik sebelum

+g_flat seperti visual berikut:

Gambar 4.5 Penyesuaian gainflatness ]

Jumlah frekuesi uplink (carrier) dan batasan datarate untuk masing- masing carrier

disesuaikan melalui floattesis.m seperti gambar berikut:

Terminasi berdasarkan jumlah generasi disesuaikan melalui ga.m seperti berikut:

Gambar 4.6a Penyesuaian kriteria terminasi

Setiap perubahan parameter yang diinginkan untuk masing- masing filename.m harus

dilakukan penyimpanan (save) pada memory komputer.

4.3 Proses Optimisasi

Proses optimisasi dimulai dengan memanggil floattesis.m dari command prompt

Matlab seperti gambar berikut:

Fungsi untuk melakukan pemrosesan optimisasi (proses genetika) adalah ga.m.

Modul ini dieksekusi dua kali. Eksekusi pertama dan eksekusi kedua dibedakan oleh

operator genetik yang digunakan.

• Eksekusi pertama :

[x xx endPop bestPop trace FEC Bewe F_uplink pefede]=ga(bounds,evalFn,evalOps,startPop,gaOpts,... termFns,termOps,selectFn,selectOps,xFns,xOpts,mFns,mOpts);

Operator genetik yang digunakan pada eksekusi pertama adalah

normGeomSelect.m, simpleXover.m, dan boundaryMutation.m. Kedua operator

terakhir sangat cocok digunakan pada datarate-datarate modem komunikasi satelit

yang banyak digunakan, yaitu:

Input datarate = {k1,k2,…}

dimana k

(0, 32, 56, 64, 96, 128, 256, 1024, 2048)(Kbps) Keluaran datarate = {k1,k2,…}

dimana k

(0, 32, 56, 64, 96, 128, 256, 1024, 2048)(Kbps) Keluaran seperti di atas dapat diperoleh karena sifat

simpleXover.m

adalah hanya mengubah posisi masing-masing allele, tanpa mengubah nilai allele tersebut (pers. (2.16)). Sedangkan

boundaryMutation.m

hanya memutasikan allele tertentu dengan batas atas atau batas bawah dari deretan data yang diberikan. Keluaran seperti di atas sangat cocok dengan kondisi real di lapangan.

• Eksekusi kedua :

[x xx endPop bestPop trace FEC Bewe F_uplink pefede]=ga(bounds,evalFn,evalOps,[],ga Opts);

Operator genetika yang digunakan pada eksekusi kedua adalah

normGeomSelect.m, simpleXover.m, boundaryMutation.m dan lainnya (lihat table

4.1).

Keluaran datarate = {k1,k2,…} dimana k

[0 2048](Kbps)

Jika masukan dipaksa seperti pada eksekusi pertama, maka keluaran akan tetap

bilangan yang kontinu pada rentang [0,2048]. Hal ini disebabkan sifat

masing-masing operator yang melakukan perubahan nilai allele dengan delta yang kecil.

Untuk menyesuaikan keluaran ini dengan aturan ASCII yakni 1 byte = 8 bit, maka

keluaran yang dihasilkan dibulatkan ke kelipatan 8 terdekat.

Selama pemrosesan maka nilai- nilai fitness untuk tiap generasi ditampilkan, seperti

gambar 4.8. Proses dilakukan dengan jumlah generasi yang berbeda-beda dengan tujuan

melihat konvergensi pencarian optimasi.

Pada gambar di atas terlihat bahwa iterasi sudah dilakukan sebanyak 9 generasi,

dimana nilai fitness pada generasi pertama adalah 55296 Kbps dan nilai fitness generasi

kesembilan adalah 60416 Kbps.

4.4 Keluaran

Sebagai output dari proses ini adalah seperti pada gambar berikut:

Gambar 4.9 Keluaran Sistem

• Solusi terbaik, berupa deretan datarate yang terbaik (solusi optimal) yang

dihasilkan oleh proses iterasi.

• Alokasi BW yang digunakan untuk solusi terbaik.

• Jumlah BW transponder yang terpakai ( BW <= 36 Mhz)

Jumlah Power Flux Density (PFD) yang terpakai, dimana PFD maksimum

yang bisa digunakan adalah:

PFDtotal = saturated Power flux density + pad attenuator – IBOagg

= -102.50 + 10 – 3

= -95.5 dBW

Frekuensi uplink yang digunakan sebagai carrier solusi terbaik.

Selain itu, diperoleh juga grafik konvergensi yang ditampilkan pada window lainnya,

seperti berikut:

4.5 Kompleksitas Sistem

Untuk mengukur kompleksitas sistem dilakukan dengan cara mengukur waktu

(running time ) yang dibutuhkan untuk beberapa proses iterasi. Iterasi dilakukan untuk

beberapa proses dengan mengubah-ubah masukan jumlah genotip (carrier). Jumlah

genotip ini menggambarkan jumlah masukan data yang harus diproses untuk setiap

generasi. Hasil proses untuk beberapa jumlah genotip adalah sebagai berikut:

Tabel 4.2 Kompleksitas Sistem Jumlah

Generasi

Jumlah

Genotip Waktu (detik) 5 10 16.37 5 20 32.23 5 30 45.75 5 40 61.94 5 50 80.25 5 60 100.23

Dari tabel di atas , dapat dituangkan ke dalam grafik berikut:

Kompleksitas 16.37 3 2 . 2 3 4 5 . 7 5 61.94 8 0 . 2 5 100.23 0 20 40 60 80 100 120 10 20 30 40 50 60 Jumlah Genotif

Waktu eksekusi (detik)

Gambar 4.11 Kompleksitas Sistem

Grafik di atas menunjukkan bahwa running time process adalah linier terhadap jumlah

masukan data. Atau dapat ditulis:

V. PERBANDINGAN KINERJA SISTEM

Metode perencanaan frekuensi pada transponder dalam jaringan komunikasi

satelit yang diusulkan oleh Gwang dan kawan-kawan (Gwang, et al., 1997)

mempertimbangkan fakta bahwa efek interferensi pada sinyal baseband bergantung pada

skema sistem transmisinya (Gambar 2.7). Walaupun sejumlah interferensi yang

diakibatkan oleh inter/intra-sistem adalah sama, pengaruh dari interferensi tersebut

terhadap performansi sistem baseband ternyata berbeda-beda tergantung skema transmisi

yang digunakan. Sebagai contoh efek interferensi pada performansi sinyal baseband yang

diakibatkan oleh skema modulasi QPSK dan 7/8 convolutional code berbeda dengan

modulasi QPSK dan 1/2 convolutional code, walaupun besar interferensi pada tingkat

radio frequency (RF) sama. Sebagai output dari metode yang diusulkan adalah bahwa

tiap transponder (BW = 36 MHz) diproyeksikan untuk melayani satu layanan dengan

modulasi dan FEC rate tertentu. Penentuan modulasi dan FEC rate dilakukan dengan

menghitung nilai cost yang paling minimum. Pencarian nilai minimum menggunakan

algoritma genetika. Nilai cost berkaitan dengan Margin, dimana Margin = (C/N) -

(C/N)required, tanpa mempertimbangkan gain flatness.

Penelitian ini berbeda dengan penelitian di atas. Penelitian ini difokuskan pada

penentuan modulasi dan FEC rate untuk multikanal (multi layanan) dalam satu

transponder dengan pertimbangan skema modulasi dan FEC rate dan juga

mempertimbangkan gain flatness, batasan power dan BW (Bab III Metodologi). Dimana

untuk menjaga agar operating power SSPA berada pada daerah linier maka batasan

power yang membebani SSPA adalah SFD + PAD – OBO = -102.5 +10-3 = -95.5

dBW/m^2, dimana SFD=saturated flux density, PAD = attenuator, dan OBO = output

back off. Sementara batasan bandwidth adalah 36 MHz.

Hasil- hasil penelitian dapat dilihat pada Lampiran 2. Untuk mendapatkan

hasil-hasil tersebut dilakukan dengan mengubah-ubah parameter sesuai dengan yang

diinginkan.

5.1 Penentuan Parameter GA

Untuk mendasari penggunaan parameter proses optimisasi yang dilakukan,

terlebih dulu dilakukan percobaan-percobaan untuk menentukan parameter yang akan

digunakan, seperti berikut:

• proses mencari daya pancar (watt) untuk setiap diameter antena stasiun bumi yang

menghasilkan nilai optimum.

Data : jumlah genotif = 48

Diproses dengan Proses 1

Tabel 5.1. Penentuan daya pancar antena

Diameter Antena Daya Pancar (watt) Carrier Terbentuk Kapasitas Transponder (Kbps) 3.8 1.5 34 59160 2 30 55608 3.5 48 71680 4 35 67328 5 0.5 46 54280 1 47 66520 1.5 34 60592 2 48 73728 2.5 24 55926 7 0.1 18 22392 0.5 40 68408 1 37 75776 1.5 46 73728

Dari tabel di atas, terlihat bahwa kapasitas tertinggi diperoleh ketika:

Ptx = 3.5 Watt untuk antenna D = 3.5 m.

Ptx = 2 Watt untuk antenna D = 5 m

Ptx = 1 Watt untuk antenna D = 7 m.

Selanjutnya nilai-nilai di atas digunakan untuk proses selanjutnya.

• proses mencari jumlah individu dalam satu populasi yang dibangkitkan dalam proses

inisialisasi

Data : jumlah genotif = 48

Tabel 5.2a. Proses mencari jumlah individu dalam satu populasi dengan Proses 1

Diameter Antena Daya Pancar (watt) Individu dalam satu populasi Carrier Terbentuk Kapasitas Transponder (Kbps) BW Total (Mhz) Power Total (dbW/m^2) 3.8 3.5 5 35 64344 34.21 -97.41 10 48 71680 35.53 -96.03 15 41 67576 35.46 -96.83 5 2 5 28 55296 29.35 -98.59 10 48 74752 35.93 -96.08 20 47 75776 35.76 -96.17 30 45 75776 35.91 -96.36 7 1 5 48 76968 35.72 -96.17 10 37 75776 35.64 -96.08 15 28 55424 26.81 -98.52 20 35 67328 31.22 -97.55

Tabel 5.2b. Proses mencari jumlah individu dalam satu populasi dengan Proses 2

Diameter Antena Daya Pancar (watt) Individu dalam satu populasi Carrier Terbentuk Kapasitas Transponder (Kbps) BW Total (Mhz) Power Total (dbW/m^2) 3.8 3.5 5 48 72424 35.99 -96.03 10 48 74840 35.99 -96.03 15 48 72720 35.96 -96.04 5 2 5 47 76824 35.76 -96.08 10 48 75736 35.96 -96.17

15 48 75552 35.97 -96.08 7 1 5 27 76968 25.76 -98.68 10 37 80752 35.97 -96.17 15 48 74912 33.79 -96.17

Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah individu dalam satu populasi, N = 10

lebih baik dari yang lainnya.

• proses mencari jumlah genotif dalam satu individu

Data : Dengan gainflatness

Populasi = 10 individu

Diameter antenna = 5.0 m

Daya Pancar Antena = 2.0 Watt

Tabel 5.3. Proses mencari jumlah jumlah genotif

Jumlah genotif Carrier Terbentuk Kapasitas Transponder (Kbps) BW Total (Mhz) Power Total (dbW/m^2) 42 42 73728 35.55 -96.66 48 46 73728 35.86 -96.26 55 53 77824 35.91 -95.65 60 54 75776 35.63 -95.57

Dari tabel di atas terlihat bahwa jumlah genotif = 60 memastikan seluruh carrier

yang akan terbentuk bisa diakomodasi. Oleh karena itu, untuk memperoleh kapasitas

optimum digunakan jumlah genotif = 60.

5.2 Pengaruh Gainflatness

Gainflatness diteliti dengan membuat nilai gain flatness = 0 atau disebut dengan

tanpa gain flatness. Kemudian mencari kapasitas transponder dengan menggunakan

masing- masing antena. Setelah itu komponen gain flatness diberi nilai sesuai dengan

karakteristik SSPA yang digunakan. Hasilnya seperti dibawah ini:

Data : jumlah genotif = 60

Populasi = 10 individu

Tabel 5.4 Kapasitas transponder dengan pengaruh gain flatness

dengan gain flatness tanpa gain flatness Diameter Antena Daya Pancar (watt) Carrier Terbentuk Kapasitas Transponder (Kbps) BW Total (Mhz) Power Total (dbW/m^2) Carrier Terbentuk Kapasitas Transponder (Kbps) BW Total (Mhz) Power Total (dbW/m^2) 3.8 3.5 54 72704 35.68 -95.52 54 73728 35.38 -95.53 5 2 54 75776 35.63 -95.57 53 77824 35.82 -95.65 7 1 56 78984 35.83 -95.5 56 79872 35.63 -95.5

Dari tabel di atas ternyata gain flatness berpengaruh negatif (1.71%). Artinya adalah

bahwa gain flatness berpotensi mengurangi kapasitas optimum suatu transponder. Seperti

bisa dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel 5.5. Pengaruh gain flatness

Tanpa Gain flatness

Dengan gain

flatness delta Prosentasi 73728 72704 1024 1.39% 77824 75776 2048 2.63% 79872 78984 888 1.11%

rata-rata 1320 1.71%

5.3 Kinerja Transponder dengan Konvensional

Kinerja transponder dengan konvensional dapat dilihat pada tabel 5.6 berikut:

Tabel 5.6. Kinerja Transponder dengan Konvensional

Diameter antena (m) Ptx (Watt) Jmlh Carrier output Kapasitas Transponder BW total terpakai (MHz) Power total terpakai

(dBW/m^2) Modulasi FEC rate 3.8 3.5 34 69632 35.2512 -101.453 16QAM 3/4 Viterbi/Reed Solomon

5 2 34 69632 35.2512 -99.98 16QAM 3/4 Viterbi/Reed Solomon

5.4 Kinerja Transponder dengan GA Proses 1 dan GA Proses 2

Seluruh parameter disesuaikan dengan metode konvensional. Kinerja dengan GA

proses 1 dan GA proses 2 adalah sbb:

Tabel 5.7. Kinerja Transponder dengan GA proses 1 dan proses 2

GA Proses 1 GA Proses 2 Diam . Antena Daya Pancar (watt) Carrier Terbentuk Kap. Transp. (Kbps) BW Tot (Mhz) Pwr Total (dbW/m^2) Carrier Terbentuk Kap. Trans. (Kbps) BW Total (Mhz) Pwr Tot. (dbW/m^2) 3.8 3.5 54 72704 35.68 -95.52 54 75536 35.99 -95.52 5 2 54 75776 35.63 -95.57 53 78008 35.98 -95.57 7 1 56 78984 35.83 -95.5 56 81872 36 -95.5

Dari tabel diatas dan keluaran proses optimisasi dapat dicatat beberapa hal:

datarate total yang diperoleh maksimum secara konvensional adalah 69632 KBps

sedangkan dengan GA adalah 72704 KBps, 75776 Kbps dan 78984 Kbps. Terdapat

rata-rata peningkatan kapasitas sebesar 6189 Kbps atau 8.88 %.

• Jumlah carrier yang dihasilkan oleh GA lebih banyak dari yang dihasilkan secara

konvensional.

Selain itu, ternyata modulasi yang dihasilkan GA lebih bervariasi dibanding dengan yang

dihasilkan secara konvensional.

5.5 Perbandingan Kinerja Konvensional, GA Proses 1, dan GA Proses 2

Dari tabel 5.6 dan tabel 5.7 dapat dilihat hubungan antara diameter antena stasiun

bumi dengan kapasitas transponder yang dituangkan dalam grafik berikut:

Gambar 5.1 Perbandingan Kinerja Sistem

5.6 Konve rgensi Sistem

Grafik pada gambar 5.2 berikut merupakan salah satu grafik dari proses yang

menghasilkan hasil optimum. Jumlah iterasi (generasi) yang relatif sedikit menandakan

sistem ini cepat mencapai titik optimum. Solusi optimum ditandai dengan nilai yang

stabil untuk beberapa generasi. Jika keadaan konvergensi belum didapatkan, atau dengan

kata lain bila nilai stabil untuk iterasi yang cukup banyak belum diperoleh, maka tindakan

yang dilakukan adalah dengan menambah jumlah generasi yang digunakan sebagai dasar

terminasi proses optimisasi, sementara parameter yang lain tetap seperti semula. Dari

beberapa percobaan, kejadian tidak mencapai konvergensi jarang terjadi karena jumlah

generasi yang ditetapkan umumnya sudah cukup untuk mendapatkan nilai konvergen.

Diameter antena -vs- Kapasitas Transponder

62000 64000 66000 68000 70000 72000 74000 76000 78000 80000 82000 84000 3.8 5 7 Diameter (m) Datarate (Kbps

)

Gambar 5.2. Konvergensi algoritma genetika untuk manajemen transponder

Tabel berikut merupakan konvergensi pada optimisasi GA Proses 1 tanpa gain

Dokumen terkait