• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

E. Tatacara Penelitian

Determinasi tanaman apel beludru dilakukan di Laboratorium

Farmakognosi-Fitokimia Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma dengan

acuan dari web USDA (2013) dan Morton (1987).

2. Pembuatan dan penyiapan bahan

a. Pengumpulan bahan

Tanaman apel beludru diperoleh dari kompleks Kampus III Universitas

Sanata Dharma, Paingan, Maguwoharjo, Sleman, Yogyakarta. Pengumpulan pada

musim penghujan bulan Januari tahun 2013. Pemanenan dilakukan pagi hari

pukul 07.00 saat tanaman sedang berbuah dengan bahan yang dipakai adalah daun

dewasa, yaitu daun yang berwarna hijau tua, berada pada ruas ketiga sampai

b. Sortasi basah

Bahan baku dipisahkan dari bahan-bahan pengganggu seperti tanah,

kerikil, rumput, bagian tanaman yang tidak dibutuhkan (ranting dan bunga),

bagian dari tanaman lain (tangkai, daun, bunga dan biji inang), bahan yang rusak

dan lain-lain.

c. Pencucian

Daun apel beludru dicuci dengan cara dialiri air sumur sambil

dibersihkan kotoran yang melekat pada daun. Pencucian ini dilakukan sebanyak

tiga kali.

d. Perajangan

Daun apel beludru dirajang dengan ukuran seragam, kurang lebih

panjang daun menjadi 1 cm.

e. Pengeringan

Daun apel beludru yang masih basah dikeringanginkan pada udara

terbuka dan terlindung dari sinar matahari. Cara pengeringan adalah bahan

dihamparkan di atas kertas koran diatur agar tidak terlalu menumpuk. Posisi daun

harus sering dibalik sehingga pengeringan dapat merata. Akhir pengeringan

ditandai dengan mudah dipatahkannya daun apel beludru.

f. Sortasi kering

Daun apel beludru yang sudah kering (ditandai dengan mudah hancur

ketika diremas) dipisahkan dari bahan-bahan pengganggu seperti tanah, kerikil,

g. Penyerbukan

Daun apel beludru dibuat menjadi serbuk dengan bantuan alat penyerbuk,

kemudian dilakukan pengayakan dengan ayakan nomor mesh 40.

h. Pengepakan dan penyimpanan

Serbuk daun apel beludru kemudian dibungkus dengan menggunakan

wadah kedap udara. Penyimpanan dilakukan di suhu ruangan.

3. Ekstraksi

Daun apel beludru yang telah menjadi serbuk ditimbang sebanyak 50,0 g

dan dimasukkan ke dalam bejana maserasi, ditambah pelarut pertama yaitu

metanol:air (9:1) sampai terendam sempurna, dan dicampur homogen. Campuran

dimaserasi pada suhu ruangan selama satu hari. Filtrat diperoleh melalui

penyaringan dengan corong Buchner dengan bantuan pompa vakum. Ampas

penyaringan dimaserasi dengan pelarut kedua, yaitu metanol:air (1:1) secukupnya

selama satu hari kemudian disaring. Filtrat hasil maserasi pelarut pertama dan

kedua digabungkan, lalu filtrat diuapkan pelarutnya hingga volumenya menjadi

sepertiga dari volume awal. Diperoleh ekstrak metanolik daun apel beludru.

4. Pembuatan fraksi etil asetat

Ekstrak metanolik daun apel beludru di ekstraksi cair-cair menggunakan

washbensin dengan perbandingan larutan ekstrak : washbensin (1:1 v/v),

kemudian didiamkan hingga terpisah sempurna. Fase air akan berada pada paling

Hasil fraksinasi diperoleh dua fraksi, yaitu fraksi washbensin dan fraksi

air. Selanjutnya, fraksi air diekstraksi cair-cair lagi menggunakan etil asetat

dengan perbandingan larutan fraksi air : etil asetat (1:1 v/v) sehingga didapatkan

fraksi air dan fraksi etil asetat. Setelah dipisahkan, fraksi etil asetat diuapkan

dengan vacum rotary evaporator dan dimasukkan dalam cawan porselin yang

sebelumnya telah ditimbang. Cawan berisi fraksi kental dimasukkan dalam oven

hingga 24 jam. Fraksi kering yang didapat digunakan untuk analisis lebih lanjut.

5. Pembuatan larutan pembanding, DPPH dan uji

a. Pembuatan larutan baku asam galat

Sebanyak 10,0 mg asam galat ditimbang, lalu ditambahkan 10,0 mL

akuades : metanol p.a (1:1) sehingga diperoleh konsentrasi larutan asam galat

sebesar 1000,0 µg/mL. Diambil sebanyak 0,5; 0,75; 1,0; 1,25 dan 1,5 mL

larutan tersebut, kemudian ditambahkan akuades : metanol p.a (1:1) sampai

10,0 mL, sehingga diperoleh konsentrasi larutan baku asam galat 50; 75; 100;

125; dan 150 µg/mL.

b. Pembuatan larutan DPPH

Sebanyak 0,0158 g DPPH dilarutkan dengan metanol p.a sampai 100 mL

sehingga diperoleh larutan DPPH dengan konsentrasi 0,4 mM. Larutan tersebut

ditutup dengan alumunium foil dan harus selalu dibuat baru.

c. Pembuatan larutan stok dan intermediet kuersetin

Sebanyak 10,0 mg kuersetin dilarutkan dengan metanol p.a sampai 10,0

1,0 mL larutan stok kuersetin dan ditambahkan metanol p.a sampai 10,0 mL,

sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi sebesar 100,0 μg/mL. d. Pembuatan larutan pembanding

Diambil sebanyak 0,5; 0,75; 1,0; 1,25; 1,5 mL larutan kuersetin

konsentrasi 100,0 μg/mL, kemudian ditambahkan metanol p.a sampai 10,0 mL, sehingga diperoleh konsentrasi larutan standar kuersetin sebesar 5,0; 7,5; 10,0;

12,5; dan 15,0 μg/mL. e. Pembuatan larutan uji

1). Larutan uji untuk penentuan kandungan fenolik total

Sebanyak 10,0 mg fraksi etil asetat ditimbang, lalu ditambahkan 10,0

mL metanol p.a sehingga diperoleh konsentrasi sebesar 1000,0 µg/mL.

Kemudian larutan tersebut diambil 1,0 mL dan ditambahkan 10,0 mL metanol

p.a sehingga diperoleh konsentrasi larutan uji sebesar 100,0 µg/mL.

2). Larutan uji untuk aktivitas antioksidan

Sejumlah 10,0 mg fraksi etil asetat ditimbang dan ditambahkan metanol

p.a sampai 10,0 mL sebagai larutan stok. Kemudian dibuat larutan intermediet

dengan mengambil 1,0 mL stok larutan uji dan ditambahkan metanol p.a sampai

10,0 mL, sehingga diperoleh larutan dengan konsentrasi sebesar 100,0 μg/mL. Diambil sebanyak 0,75; 1,0; 1,25; 1,5; 1,75 mL larutan tersebut, kemudian

ditambahkan metanol p.a sampai 10,0 mL, sehingga diperoleh konsentrasi larutan

6. Uji pendahuluan

a. Uji keberadaan senyawa fenolik

Larutan uji dengan konsentrasi 200,0 μg/mL dan larutan pembanding asam galat 150,0 μg/mL diambil sebanyak 0,5 mL kemudian ditambahkan 2,5 mL pereaksi fenol Folin-Ciocalteu yang telah diencerkan dengan akuades (1:10 v/v)

ke dalam tabung reaksi lalu didiamkan selama 10 menit. Larutan natrium karbonat

1 M ditambahkan sebanyak 2,0 mL, kemudian amati warna larutan tersebut.

Bandingkan dengan warna larutan yang berisi air:metanol (1:1) + pereaksi, fraksi

etil asetat dan asam galat tanpa diberi pereaksi.

b. Uji pendahuluan aktivitas antioksidan

Larutan DPPH diambil sebanyak 1,0 mL dimasukan ke dalam

masing-masing tiga tabung reaksi. Larutan DPPH ditambahkan masing-masing-masing-masing dengan

1,0 mL metanol p.a, larutan pembanding kuersetin 37,5 μg/mL, dan larutan uji 200,0 μg/mL. Selanjutnya, larutan tersebut ditambahkan dengan 3,0 mL metanol p.a. Larutan tersebut kemudian digojok dengan vortex selama 30 detik. Setelah 30

menit, diamati warna pada larutan tersebut. Bandingkan juga dengan warna

larutan fraksi etil asetat dan kuersetin tanpa ditambahkan DPPH.

7. Optimasi metode penetapan kandungan fenolik total

a. Penentuan operating time (OT)

Sebanyak 0,5 mL larutan asam galat 50; 100; dan 150 μg/mL ditambahkan dengan 5 mL reagen Folin-Ciocalteu yang telah diencerkan dengan

karbonat 1 M. Setelah itu dibaca absorbansinya dengan spektrofotometer visibel

pada panjang gelombang 750 nm selama 30 menit. Dilakukan demikian juga

untuk larutan uji 100 μg/mL dengan waktu pengamatan selama 60 menit. b. Penentuan panjang gelombang maksimum

Sebanyak 0,5 mL larutan asam galat 50; 100; dan 150 μg/mL ditambahkan dengan 5,0 mL reagen Folin-Ciocalteu yang telah diencerkan dengan

air (1:10 v/v). Larutan selanjutnya ditambahkan dengan 4,0 mL natrium karbonat

1 M. Diamkan selama operating time, dibaca panjang gelombang pada absorbansi

maksimum dengan spektrofotometer visibel pada panjang gelombang 600-800

nm.

8. Penetapan kandungan fenolik total

a. Pembuatan kurva baku asam galat

Sebanyak 0,5 mL larutan asam galat 50; 75; 100; 125; dan 150 μg/mL ditambah dengan 5,0 mL reagen Folin-Ciocalteu yang telah diencerkan dengan

akuades (1:10 v/v). Larutan selanjutnya ditambah dengan 4,0 mL natrium

karbonat 1 M. Setelah operating time, absorbansinya dibaca pada panjang

gelombang maksimum terhadap blanko yang terdiri atas akuades : metanol p.a

(1:1), reagen Folin-Ciocalteu dan larutan natrium karbonat 1M. Pengerjaan

dilakukan tiga kali.

b. Estimasi kandungan fenolik total larutan uji

Diambil 0,5 mL larutan uji 100 μg/mL, lalu dilanjutkan sebagaimana perlakuan pada pembuatan kurva baku asam galat. Kandungan fenolik total

dinyatakan sebagai mg ekuivalen asam galat per g fraksi etil asetat. Dilakukan tiga

kali replikasi.

9. Optimasi metode uji aktivitas antioksidan

a. Penentuan panjang gelombang serapan maksimum

Pada tiga labu ukur 10 mL, dimasukkan masing-masing 0,5; 1,0; 1,5

mL larutan DPPH. Larutan tersebut ditambahkan dengan metanol p.a hingga

tanda batas sehingga konsentrasi DPPH menjadi 0,020; 0,040; dan 0,060.

Larutan tersebut kemudian digojok dengan vortex selama 30 detik. Diamkan

selama operating time, lalu dilakukan scanning panjang gelombang serapan

maksimum dengan spektrofotometer visibel pada panjang gelombang 400-600

nm.

b. Penentuan operating time (OT)

Sebanyak 2,0 mL larutan DPPH dimasukan kedalam masing-masing

tiga labu ukur 10 mL, ditambahkan masing-masing dengan 2,0 mL larutan

pembanding kuersetin 5,0; 10,0 dan 15,0 μg/mL. Selanjutnya larutan tersebut ditambahkan dengan metanol p.a hingga tanda batas. Larutan tersebut

kemudian digojok dengan vortex selama 30 detik. Setelah itu dibaca

absorbansinya dengan spektrofotometer visibel pada panjang gelombang 516

nm selama 1 jam. Dilakukan demikian juga untuk larutan uji 7,5; 12,5; 17,5

10. Uji aktivitas antioksidan

a. Pengukuran absorbansi larutan DPPH (kontrol)

Pada labu ukur 10 mL, dimasukkan sebanyak 2,0 mL larutan DPPH.

Ditambahkan metanol p.a hingga tanda batas. Kemudian larutan tersebut dibaca

absorbansinya pada saat OT dan panjang gelombang maksimum. Pengerjaan

dilakukan sebanyak tiga kali. Larutan ini digunakan sebagai kontrol untuk

menguji larutan pembanding dan uji.

b. Pengukuran absorbansi larutan pembanding dan uji

Larutan DPPH sebanyak 2,0 mL dimasukkan ke dalam labu ukur 10 mL

kemudian ditambah dengan 2,0 mL larutan pembanding dan uji pada berbagai seri

konsentrasi yang telah dibuat. Selanjutnya larutan tersebut ditambah dengan

metanol p.a hingga tanda batas. Larutan tersebut kemudian digojok dengan vortex

selama 30 detik dan didiamkan selama OT. Larutan dibaca absorbansinya dengan

spektrofotometer visibel pada panjang gelombang maksimum hasil optimasi.

Pengujian dilakukan dengan tiga kali replikasi.

c. Estimasi aktivitas antioksidan

Hasil dari prosedur 10a dan 10b, dihitung nilai %IC dan IC50 untuk

kuersetin dan fraksi etil asetat.

Dokumen terkait