DAN TUNTUTAN PERDATA
B. TATACARA TUNTUTAN PERBENDAHARAAN
1. Pengungkapan Terjadinya Kekurangan Perbendaharaan
Informasi mengenai terjadinya kekurangan perbendaharaan dapat diperoleh dari:
a. Laporan Bendahara;
b. Laporan Ape.rat Pengawasan Fungsional; c. Laporan Aparat Pengawasan Melekat;
d. Laporan Tim Perhitungan Pertanggung Jawaban Ex-Officio.
2. Pengungkapan peristiwa kekurangan perbendaharaan tersebut diperlukan untuk memperoleh kepastian tentang:
a. Penyebab terjadinya kekurangan perbendaharaan; b. Jumlah kekurangan perbendaharaan;
c. Para pihak yang diduga terlibat dalam peristiwa kekurangan perbendaharaan tersebut; d. Informasi lainnya yang dianggap perlu.
3. Untuk mengungkapkan terjadinya kekurangan perbendaharaan yang informasinya diperoleh dari Bendahara, Atasan Langsung Bendahara perlu melakuk&n tindakan pengamanan sebagai berikut
1) Melakukan pemenksaan kas untuk mengetahui-keadaan saldo kas. Apabila keadaan saldo kas (tunai ditambah saldo bank) lebih kecil dari saldo buku berarti terjadi kekurangan perbendaharaan.
2) Hasil pemeriksaan kas dituangkan dalam Berita Acara Pemeriksaan Kas dan Register Penutupan Kas yang menunjukkan jumlah penerimaan dan pengeluaran serta saldo kas yang dikelola Bendahara.
b. Apabila Bendahara tidak berada ditempat (karena sebab-sebab tertentu misalnya melarikan din, meninggal dunia, sakit berat, dibawah pengampuan):
1) Melakukan pengamanan bukti kas dengan memberikan garis penutup pada semua Buku Kas kemudian dimasukkan ke dalam temari dan disegel. Demikian pula-brandkas/peti penyimpanan uahg disegel. Tindakan pengamanan dan penyegelan tersebut dituangkan dalam Berita Acara Penyegelan.
2) Memberitahukan kepada ahli waris Bendahara tentang pengamanan yang telah dilakukan dan waktu akan dilakukennya pembukaan segel dan perhitungan uang kas.
3) Melakukan pembukaan segel dan menghitung uang kas dengan disaksikan oleh ahli warisnya. Pembukaan segel dan perhitungan uang kas dituangkan ke dalam Berita Acara Pembukaan Segel dan Berita Acara Pemeriksaan Kas. Berita Acara ini ditandatangani pula oleh ahli waris.
4) Apabila pemeriksaan kas menunjukkan saldo kas kurang berarti teriadi kekurangan perbendaharaan dan hal ini harus diketahui oleh ahli waris.
4. Tindakan Pendahuluan
a. Untuk menjamin kepentingan negara maka upaya yang pertama kali periu dilakukan oleh Atasan Langsung Bendahara adalah meminta kepada Bendahara atau ahli warisnya untuk mengganti kekurangan perbendaharaan tersebut secara tunai.
b. Apabila tidak diperoleh penyelesaian, Atasan Langsung segera melaporkannya kepada Menteri untuk memperoleh penanganan lebih lanjut.
c. Berdasarkan laporan tersebut Menteri akan membentuk Tim Pemeriksa/Tim Perhitungan Ex-Officio untuk mengetahui secara pasti besamya kerugian negara dan mereka yang bertanggung jawab.
5. Penyelesalan Secara Damai
a. Setelah diketahuinya junlah kekurangan perbendaharaan secara pasti. upaya pertama kali yang dilakukan aparat pengawasan adalah raelakukan upaya penyelesaian damai tanpa melalui proses Tuntutan Perbendaharaan. Penyelesaian damai dilakukan dengan menandatangani Surat Keterangan Tanggung Jawab Mutlak (SKTJM) dengan disertai jaminan (agunan) yang setara.
b. Dalam hal upaya penyelesaian damai tidak berhasil maka Menteri akan minta pertimbangan BPK-Rl tentang perlu tidaknya yang bersangkutan dikenakan Tuntutan Perbendaharaan. Pertimbangan ini sifatnya tidak mengikat.
6. Proses Tuntutan Perbendaharaan
a. Tanpa atau/dengan pertimbangan BPK-RI Menteri akan menyerahkan semua berkas mengenai kekurangan perbendaharaan tersebut kepada BPK-RI untuk diproses. Sejak penyampaian berkas peristiwa terhadap proses Tuntutan Perbendaharaan dimulai.
b. Bersamaan dengan itu Menteri mengeluarkan Keputusan tentang penggantian sementara dan tindakan lainnya untuk menjamin kepentingan negara antara lain melalui pemotongan gaji dan penghasilan lainnya dan jika perlu dilakukan sita jaminan atas kekayaan yang bersangkutan.
c. Disamping itu dilakukan pula upaya pembetulan secara administrasi melalui peniadaan selisih saldo kas dan saldo buku. Pembetulan buku ini dilakukan dengan penerbitan SP2D Nihil ini.
d. BPK-RI menyampaikan "surat persilaan" kepada Bendahara yang berisi pemintaan pertanggung jawaban atas kekurangan perbendaharaan seperti dilaporkan oleh Menteri dan memberi waktu 14 hari seterimanya surat percilaan tersebut untuk mengajukan keberatan/pembelaan. Dalam pembelaan ini Bendahara tidak boleh didamplngi pembela/pengacara karena proses Tuntutan Perbendaharaan dilakukan secara tertulis dengan perantaraan Menteri.
e. Bendahara harus membuktikan dirinya tidak bersalah dalam peristiwa kekurangan perbendaharaan tersebut. berdasarkan hal tersebut BPK (Majelis Tinqkat I) akan mengeluarkan Surat Keputusan Pembebanan Bendahara Japat mengajukan banding kepada BPK (Majelis Tingkat II).
f. BPK-RI (Maielis Tingakt II) dapat menerima atau menolak upaya banding Bendahara. Penerimaan Upaya banding Bendahara baik seluruhnya atau
sebagian akan berarti bahwa keberatan Bendahara diterima dan keputusan sebelumnya akan dikoreksi baik sebagian atau seluruhnya khususnya yang menyangkut pembebanan untuk mengganti. Penolakan upaya banding berarti pengukuhan atas keputusan Majelis Tingkat I.
g. Keputusan Majelis Tingkat II bersifat final artinya keputusan tersebut mempunyai kekuatan eksekotorial (untuk dilaksanakan) sama seperti keputusan Pengadilan Negeri. Pelaksanaan keputusan tersebut diserahkan kepada Menteri.
7. Beban Pembuktian
Beban pembuktian bersalahAidaknya Bendahara terletak pada Bendahara sendiri. Dalam peristiwa kekurangan perbendaharaan Bendahara a-priori bersalah kecuali dapat membuktikan bahwa dirinya tidak bersalah.
8. Keputusan BPK-RI
Di dalam pengambilan keputusan BPK dapat mempertimbangkan 3 (tiga) pilihan:
a. Bendahara dinyatakan tidak bersalah dengan demikian tanggung jawab kekurangan perbendaharaan diambil alih negara.
b. Bendahara dinyatakan sepenuhnya bersalah, sehingga seluruh kekurangan perbendaharaan menjadi tangung jawab Bendahara untuk mengganti.
c. Bendahara dinyatakan tidak sepenuhnya bersalah, sehinga tanggung jawab kekurangan perbendaharaan sebagian menjadi tanggung jawab Bendahara untuk mengganti dan sebagian lainnya menjadi tanggung Jawab mereka yang dinyatakan ikut bertanggung Jawab dalam peristiwa tersebut (tanggungjawab renteng).
9. Penyelesalan Administratif
a. Terjadinya kekurangan perbendaharaan akan mengakibatkan saldo kas kurang pada pembukuannya. Hal ini harus diperbaiki agar Bendahara yang akan menggantikannya tidak mewarisi pembukuan yang belum beres. Untuk itu perlu diupayakan penyelesaian secara administrasi melalui peniadaan selisih kas dengan saldo buku.
b. Untuk keperluan tersebut Menteri akan meminta izin Menteri Keuangan untuk meniadakan selisih kas tersebut secara administratif dan pembukuan dan sekaligus diminta agar diterbitkan SKO sebesar kekurangan perbendaharaan yang akan dijadikan dasar untuk mengajukan penerbitan SPM/SP2D Nihil ke KPPN setempat.
c. Dengan surat izin Menteri Keuangan tereebut di atas Menteri akan menerbitkan keputusan peniadaan selisih kas dengan saldo buku dan selanjutnya memberikan kuasa kepada KPPN untuk menerbitkan SPM/SP2D Nihil.
d. Berdasarkan Surat Keputusan Menteri dan SKO dart Menteri Keuangan KPPN akan menerbitkan SP2D Nihit. Dengan SP2D Nihil inilah selisih kas dengan saldo buku secara administratif dihapus dari pembukuan, namun secara materil tetap akan ditagih terus kepada Bendahara atau ahli warisnya sampai lewat waktu 30 tahun.
10. Penyelesaian Secara Material
a. Penyelesaian kerugian negara secara materiil dllakukan sebagal berikut:
1) Apabila yang bersangkutan masih berstatus pegawai negeri:
a) Dilakukan pemotongan gaji dan penghasilan lainnya. dan atau
b) Penjualan kekayaannya (barang bergerak/barang tidak bergerak).
2) Apabila yang bersangkutan sudah tidak berstatus pegawai negeri atau telah meninggal dunia upaya penagihan dilakukan melalui:
a) Tuntutan Perdata kepada yang bersangkutan di Pengadilan Negeri;
b) Tuntutan kepada ahli warisnya.
b. Dalam hal tuntutan diajukan kepada ahli warisnya, maka ahli waris mempunyai 3 (tiga) pilihan:
1) Bertanggung Jawab sepenuhnya tanpa syarat
2) Bertanggung Jawab hanya sebatas harta warisan (menerima warisan dengan syarat)
3) Tidak bertanggung jawab atas kekurang perbendaharaan (menolak warisan).
Pernyataan menerima atau menolak warisan ini harus dikukuhkan dengan penetapan hakim Pengadilan Negeri.
c. Kekurangan perbendaharaan yang tidak dapat dilunasi oleh yang bersangkutan atau ahli warisnya yang disebabkan ketidakmampuan ekonominya dapat diambil alih oleh negara asalkan ada surat keterangan tidak mampu yang dikeluarkan oleh Pamong
Praja setempat. Pengambil alihan ini harus dituangkan dalam surat keputusan Menteri bahwa kerugian tersebut menjadi beban negara.
11. Kadaluwarsa
a. Hak negara untuk menuntut ganti rugi kepada Bendahara akan kadaluwarsa setelah lewat 30 tahun (pasal 1967 KUH Perdata).
b. Batas tanggung jawab ahli waris atas kerugian negara menurut pada 86 ICW adalah: 1) 3 (tiga) tahun telah lewat sejak Bendahara meninggal dunia, melarikan diri dibawah
pengampuan dan kepada ahli warisnya tidak diberitahukan adanya perhitungan yang dibuat secara ex-officio.
2) 3 (tiga) tahun sejak batas waktu untuk mengajukan pembelian telah lewat dan BPK tidak mengambil keputusan.
12. Kekurangan Perbendaharaan yang Terjadi di Luar Kesalahan Bendahara.
Bendahara dapat dihapus dari tanggung Jawab Perbendaharaan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 20 dan 21 tahun 1956 Lembaran Negara nomor 35 dan 36 tahun 1956 tangal 8 September 1956 tanpa melalui proses Tuntutan Perbendaharaan.
13. Unsur Pidana
Kekurangan perbendaharaan yang timbul akibat adanya unsur tindak pidana, wajib dilaporkan kepada aparat Kepolisian dan atau Kejaksaan Negeri untuk mendapatkan penanganan lebih lanjut.
Keputusan Pengadilan Negeri yang menghukum atau membebaskan Bendahara dari Tuntutan Pidana tidak menghapuskan keputusan BPK yang menghukum yang bersangkutan untuk mengganti kerugian negara bersangkutan.