Perencanaan pajak dalam rangka mengefisiensikan PPh Badan dapat diupayakan melalui:
1. Pemilihan Alternatif Dasar Pembukuan
Dasar pembukuan yang diakui oleh DIP adalah basis akrual (accrual basis) dan basis kas yang dimodifikasi (modified cash basis).
Pada basis akrual, pendapatan dan biaya dicatat dan dilaporkan pada saat timbulnya kewajiban, meskipun uangnya belum diterima atau dibayar.
Basis kas (cash basis) yang diakui oleh DIP bukan basis kas murni. Pada basis kas murni, pendapatan dan biaya dicatat dan dilaporkan pada saat terjadinya penerimaan dan pengeluaran uang. Pemilihan dasar pembukuan harus dilakukan secara konsisten.
Basis kas yang diakui oleh DIP atas pelaporan pendapatan dan biaya dalam rangka menghitung PPh Badan sebagai berikut:
25
a. Penghitungan jumlah penjualan dalam suatu periode harus meliputi seluruh penjualan, baik yang tunai maupun yang bukan. Dalam menghitung harga pokok penjualan harus diperhitungkan seluruh pembelian dan persediaan b. Dalam memperoleh harta yang dapat disusutkan dan hak-hak yang dapat
diamortisasi, biaya-biaya yang dikurangkan dari penghasilan hanya dapat dilakukan melalui penyusutan dan amortisasi
c. Biaya-biaya yang boleh dibebankan adalah biaya-biaya yang telah dibayar. Apabila dibandingkan basis akrual dan basis kas menurut versi perpajakan, yang berbeda hanyalah biaya administrasi dan umum pada basis akruaf dibebankan pada saat timbulnya kewajiban, sedangkan pada basis kas, biaya tersebut baru dilaporkan pada saat terjadinya pembayaran. Jika dipandang dari segi strategi perpajakan, maka memilih basis akrual lebih menguntungkan daripada basis kas.
Sejak tahun 1995, seluruh Wajib Pajak Badan diwajibkan menyelenggarakan pembukuan. Hanya WP perorangan yang peredaran brutonya dalam satu tahun kurang dari Rp 600 juta yang diperkenankan untuk menghitung penghasilan bruto dengan menggunakan "Norma Penghitungan Penghasilan Neto (hanya menyelenggarakan pencatatan atas penghasilan bruto saja, tidak menyelenggarakan pembukuan). Batasan jumlah Rp 600 juta, berubah menjadi Rp 1,8 miliar sejak 1 Januari 2007, dan berubah lagi menjadi Rp 4,8 miliar sejak 1 Januari 2009.
26
2. Pengelolaan transaksi yang berhubungan dengan pemberian kesejahteraan karyawan
Pada biaya-biaya yang berkaitan dengan pemberian kesejahteraan karyawan terdapat banyak peluang untuk melakukan efisiensi PPh badan. Strategi utama efisiensi PPh badan yang berkaitan dengan biaya kesejahteraan karyawan ini, sangat tergantung dari kondisi perusahaan sebagai berikut:
a. Pada perusahaan yang memperoleh Penghasilan Kena Pajak di atas Rp 100 juta dan pengenaan PPh Badannya tidak final, diupayakan seminimal mungkin memberikan kesejahteraan karyawan dalam bentuk natura ng tidak diperkenankan sebagai biaya. Apabila perusahaan sudah terlanjur memberikan rumah dinas/mess masih ada cara-cara legal yang dapat ditempuh untuk mengatasi hal ini, yang akan dibahas secara rind dalam hand out ini.
b. Pada perusahaan yang dikenakan PPh badan secara final, diupayakan secara minimal memberikan kesejahteraan kepada karyawan dalam bentuk natura karena pemberian natura dari pemberi kerja merupakan obyek PPh Pasal 21. Pada sisi perusahaan, biaya biaya pemberian natura tersebut tidak mempengaruhi besarnya PPh badan karena PPh Badan final dihitung dari prosentase atas penghasilan bruto sebelum dikurangi dengan biaya-biaya. c. Pada perusahaan yang rugi, merubah pemberian natura/kenikmatan menjadi
tunjangan hanya akan menaikkan PPh Pasal 21, sementara PPh badan tetap nihil.
27
Peluang-peluang efisiensi beban pajak yang berkaitan dengan kesejahteraan karyawan adalah biaya yang berkaitan dengan:
a. PPh Pasal 21 karyawan.
PPh Pasal 21 karyawan dapat berupa:
1).PPh Pasal 21 merupakan beban pegawai, dalarn hal ini perusahaan hanya perantara pemotong PPh Pasal 21.
2).Karyawan diberikan tunjangan PPh Pasal 21, tunjangan ini tercantum dalarn slip/daftar gaji pegawai, sehingga tunjangan tersebut dikenakan PPh. Dalam perhitungan laba rugi perusahaan, tunjangan PPh Pasal 21 ini menyatu dalarn pos gaji dan tunjangan karyawan. Tunjangan PPh Pasal 21 in! boleh dibebankan sebagai biaya.
3).PPh Pasal 21 ditanggung oleh perusahaan, PPh Pasal 21 ini tidak tercantum sebagai tunjangan. Dalam laporan laba rugi perusahaan akan terlihat biaya PPh Pasal 21 terpisah dengan gaji dan tunjangan karyawan. PPh Pasal 21 ini merupakan kenikmatan dan tidak boleh dibebankan sebagai biaya.
b. Pengobatan/kesehatan karyawan.
Pengobatan/kesehatan karyawan dapat diberikan dalarn bentuk: 1). Perusahaan mendirikan rumah sakit/klinik berikut dokter.
2). Pegawai berobat di RS atau dokter langganan dan pengambilan obat dari apotik langganan.
28
Nomor 1 dan nomor 2 ini merupakan natura/kenikmatan sehingga tidak boleh dibebankan sebagai biaya.
3). Karyawan diberikan tunjangan kesehatan, sakit maupun tidak sakit. 4). Karyawan diperkenankan berobat ke rumah sakit / dokter atas nama
karyawan, membayar terlebih dahulu kemudian oleh perusahaan diberikan penggantian. Jika penggantian memenuhi syarat-syarat: tidak ada mark up atau mark down, bukti asli diserahkan ke perusahaan, bukti atas nama perusahaan atau atas nama karyawan qq perusahaan, dan diatur dalarn kontrak kerja, maka esensinya merupakan natura dan tidak boleh dibebankan sebagai biaya perusahaan. Nomor 3 dan nomor 4 ini boleh dibiayakan tetapi harus ditambahkan ke dalarn penghasilan karyawan. c. Pembayaran premi asuransi untuk pegawai.
Perusahaan seringkali memberikan kesejahteraan kepada karyawan dalam bentuk asuransi di samping Tabungan Hari Tua. Asuransi yang diberikan dapat berupa asuransi kesehatan, asuransi dwiguna, asuransi jiwa, asuransi kematian, asuransi kecelakaan kerja, dan asuransi bea siswa.
Premi asuransi yang dibayarkan oleh perusahaan dapat dibebankan sebagai biaya, tetapi premi asuransi tersebut harus terlebih dahulu dimasukkan sebagai unsur penghasilan karyawan.
d. Iuran pensiun dan iuran JHT yang dibayar oleh perusahaan.
Iuran pensiun dan tabungan hari tua yang dibayarkan oleh perusahaan merupakan biaya perusahaan, dan iuran yang dibayarkan oleh pemberi kerja
29
tersebut bukan penghasilan bagi karyawan sehingga tidak dikenakan PPh Pasal 21, dengan syarat dana pensiunnya telah disahkan oleh Menteri Keuangan (Pasal 6 UU No. 17J2000).
e. Perumahan untuk karyawan.
Kesejahteraan berupa perumahan untuk karyawan dapat diberikan dalam bentuk:
1). Perusahaan menyediakan rumah dinas yang dibuat atau dibeli oieh perusahaan.
2). Perusahaan menyediakan rumah dinas yang disewa oleh perusahaan.
Kelompok 1 dan 2 ini termasuk dalarn kategori pemberian natura/kenikmatan sehingga biaya-biaya terkait seperti biaya penyusutan, biaya eksploitasi/pemeliharaan, biaya sewa, tidak boleh dibebankan sebagai biaya.
Kelompok 1 dapat diupayakan agar tidak dikategorikan sebagai natura dengan cara: kepada karyawan yang menempati rumah dinas diberikan tunjangan perumahan yang dimasukkan ke dalarn slip/daftar gaji. Besarnya tunjangan ini tidak boleh lebih kecil dari biaya eksploitasi dan penyusutan rumah tersebut. Dengan demikian biaya eksploitasi rumah dan biaya penyusutannya dapat dibebankan sebagai biaya (SE Dirjen Pajak No. SE- 42/PJ.23/1984),
30
3). Perusahaan memberikan penggantian sewa rumah dinas yang dibayar oleh karyawan, penggantian ini dimasukkan ke dalarn tunjangan perumahan bagi pegawai.
4). Perusahaan memberikan tunjangan perumahan kepada karyawan.
Kelompok 3 dan 4 ini boleh dibiayakan sebagai biaya, tetapi tunjangan perumahan harus dimasukkan sebagai unsur penghasilan bagi karyawan. f. Transportasi untuk karyawan.
Transportasi karyawan dari rumah ke tempat kerja dapat diberikan dalam bentuk:
1). Karyawan diantar jemput khusus dengan mobil perusahaan
Biaya eksploitasi dan penyusutan kendaraan boleh dibebankan sebagai blaya, dan bukan merupakan penghasilan karyawan (Surat Dirjen Pajak No. 5-1215/PJ.23/1984 dan UU No. 17/2000, penjelasan pasal 9 ayat 1 huruf e).
2). Karyawan diberikan tunjangan transport, tunjangan transport ini boleh dibebankan sebagai biaya, tetapi tunjangan tersebut merupakan penghasilan karyawan yang dikenakan PPh Pasal 21.
3). Kendaraan yang dikuasai oleh karyawan tertentu/dibawa pulang.
Biaya penyusutar; dan biaya eksploitasi kendaraan boleh dibiayakan sebagai biaya perusahaan sebesar 50% (KEP Dirjen Pajak No. KEP-220/PJ./2002 Tanggal 18 April 2002).
31
Apabila pada posisi jabatan tertentu diberikan kendaraan, agar biaya kendaraan tersebut dapat dibebankan sebagai biaya dapat diatasi dengan cara: kepada karyawan yang menguasai kendaraan diberikan pinjaman (car loan) seharga mobil yang diperuntukkannya, setiap bulan karyawan tersebut diberikan tunjangan transport setelah dikurangi PPh Pasal 21, diperlakukan sebagai unsur pengurangan piutang pegawai yang bersangkutan.
Masalah lain yang dapat timbul adalah berkaitan dengan biaya operasional kendaraan tersebut seperti bensin, penggantian oli, parkir, tol dan sebagainya. Jika melihat ketentuan KEP-220/PJ./2002 tersebut semestinya juga hanya sebesar 50% yang dapat dibebankan sebagai biaya. g. Pakaian seragam untuk karyawan.
Pemberian kepada karyawan dalam bentuk natura dan kenikmatan yang merupakan keharusan dalam rangka pelaksanaan pekerjaan, keamanan dan keselamatan atau yang berkenaan dengan situasi lingkungan kerja, dapat dikurangkan dari penghasilan bruto pemberi kerja dan bukan merupakan penghasilan bagi pegawai walaupun diberikan bukan di daerah terpencil. Pengertian keharusan dalam pelaksanaan pekerjaan ini berkaitan dengan keamanan atau keselamatan kerja yang biasanya diwajibkan oleh Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi dan atau Pemda setempat, termasuk pakaian dan peralatan bagi pegawai pemadam kebakaran, proyek, pakaian seragam pabrik, hansip/satpam, dan penginapan untuk awak
32
kapal/pesawat, serta antar jemput pegawai (Lihat PMK-83/PMK.03/2009 jo PER-51/PJ./2009 sebagai pengganti KMK-466/KMK.03/2000 jo. KEP-213/PJ./2001 tanggal 15 Maret 2001 dan penjelasan Pasal 9 ayat 1 huruf e UU No. 17/2000).
h. Pemberian natura lainnya untuk karyawan.
Terhadap pemberian natura lainnya kepada karyawan yang tidak boleh dibebankan sebagai biaya perusahaan dapat diupayakan agar dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan dengan cara karyawan diberikan tunjangan yang merupakan penghasilan karyawan yang dikenakan PPh pasal 21, sepanjang tarif PPh Pasal 21 untuk pegawai yang menerima tunjangan tersebut lebih rendah dari tarif PPh Badan.
i. Perjalanan dinas karyawan.
Biaya dalam rangka menjalankan tugas perusahaan misalnya biaya transport, hotel dan sebagainya merupakan biaya perusahaan dan bukan penghasilan karyawan, sepanjang jumlahnya tidak mengandung unsur-unsur untuk keperluan pribadi (Surat Dirjen Pajak No. S-1215/PJ.23/1984 butir 5.4). j. Bonus dan jasa produksi.
1). Bonus dan jasa produksi kepada karyawan merupakan biaya perusahaan, apabila dibebankan dalam biaya tahun berjalan.
2). Apabila bonus, gratifikasi dan jasa produksi yang dibayarkan kepada karyawan dan direksi dibebankan ke laba ditahan (Retained Earning) bukan merupakan biaya perusahaan.
33
3). Tantiem merupakan bagian keuntungan yang diberikan kepada Direksi dan Komisaris dari pemegang saham yang didasarkan pada prosentase tertentu dari laba perusahaan, tidak dapat dibebankan sebagai biaya perusahaan dan bagi penerimanya merupakan penghasilan dan dikenakan PPh Pasal 21.
Pembayaran gaji, bonus, jasa produksi yang melebihi kewajaran yang dibayarkan kepada pemegang saham yang juga menjadi Komisaris, Direksi, atau Pegawai, tidak boleh dibebankan sebagai biaya perusahaan. Pembayaran tersebut merupakan dividen sehingga dipotong PPh Pasal 23/26. (SE Dirjen Pajak No. 5E-16/P].44/1992 tanggal 12 Mei 1992 mengenai: pembagian bonus, gratifikasi, jasa produksi dan tandem, dan SEli/P7.44/1992 serta penjelasan Pasal 9 ayat 1 huruf f UU No. 17/2000) k. Pemberian natura di daerah terpencil.
Pemberian natura dan kenikmatan di daerah terpencil, diatur dalam KMK-466/KMK.03/2000 jo. KEP-213/PJ./2001 tanggal 15 Maret 2001 dan penjelasan Pasal 9 ayat 1 huruf e UU No. 17/2000.
1). Pengertian daerah terpencil:
i. Daerah yang mempunyai potensi ekonomi yang layak dikembangkan, namun daerah tersebut sulit dijangkau karena sangat terbatasnya sarana angkutan umum baik melalui darat, laut dan udara, serta sarana prasarana lain tidak tersedia, sehingga untuk menjalankan usahanya para penanam modal harus menyediakan sendiri sarana prasarana
34
sosial ekonomi dimaksud misalnya fasilitas jalan, perumahan, listrik dan air bersih.
ii. Daerah perairan laut dengan kedalaman lebih dari 50 m yang didasar lautnya memiliki cadangan mineral.
2). Natura dan kenikmatan yang boleh dibebankan sebagai biaya adalah: i. Tempat tinggal, termasuk perumahan bagi pegawai dan keluarganya
sepanjang di lokasi pekerja tersebut tidak ada tempat tinggal yang dapat disewa.
ii. Pelayanan kesehatan, sepanjang di lokasi pekerja tersebut tidak ada tempatnya
iii. Pendidikan bagi pegawai dan keluarganya, sepanjang di lokasi pekerja tersebut tidak ada sarana pendidikan yang setara.
iv. Pengangkutan bagi pegawai di lokasi pekerja. Untuk pengangkutan bagi keluarga terbatas pada pengangkutan sehubungan dengan kedatangan pertama ke lokasi kerja dan kepergian pegawai dan keluarganya karena terhentinya hubungan kerja.
v. Olahraga bagi pegawai dan keluarganya, sepanjang di lokasi pekerja tidak ada sarana yang dimaksud. Sarana olahraga ini tidak termasuk boating, golf dan pacuan kuda.
3). Pengeluaran perusahaan dalam bentuk natura di atas bukan merupakan penghasilan karyawan.
35
4). Penetapan daerah terpencil diberikan untuk jangka waktu 10 tahun dan dapat diperpanjang.
5). Permohonan keputusan tentang penerapan daerah terpencil diajukan kepada Kantor Wilayah DIP yang membawahi KPP tempat Wajib Pajak yang bersangkutan terdaftar.
3. Pemilihan metode penyusutan aktiva tetap dan amortisasi atas aktiva tidak berwujud.
Penyusutan dan amortisasi aktiva tetap / aktiva tidak bewujud yang diakui oleh fiskus sejak tahun 1995 terdiri dari dua metode yaitu:
a. Metode garis lurus b. Metode garis menurun
Penyusutan dengan menggunakan metode garis lurus akan menghasilkan beban penyusutan yang sama besarnya setiap tahun.
Penyusutan dengan menggunakan metode saldo menurun akan menghasilkan beban penyusutan lebih besar pada awal perolehan/pembelian aktiva dan makin menurun pada tahun-tahun berikutnya, tetapi pada akhir umur ekonomis aktiva tersebut jumlah akumulasi penyusutan akan sama. Penyusutan metode penyusutan saldo menurun ini menguntungkan bagi Wajib Pajak dari segi likuiditas.
Pemilihan metode penyusutan yang cocok sangat tergantung pada jenis usaha, jangka waktu pengembalian modal, pengenaan pajak pada bidang usaha tersebut dan sebagainya. Jika secara akuntansi, perusahaan tidak memiliki
36
tujuan lain, maka menyamakan pengelompokan, penentuan masa manfaat dan metode penyusutan dengan ketentuan fiskal akan relatif memudahkan bagi perusahaan.
4. Transaksi yang berhubungan dengan withholding tax
Dalam dunia usaha, tidak jarang perusahaan memiliki transaksi yang mengharuskan adanya pemungutan/pemotongan pajak dari pihak ketiga di mana pihak yang bersangkutan tidak bersedia dipotong pajaknya. Apabila perusahaan tidak memotong withholding tax (PPh Pasal 21, Pasal 22, Pasal 23, PPh final, PPh Pasal 26 dsb), maka jika dilakukan pemeriksaan oleh fiskus, perusahaan akan dikenakan kewajiban untuk membayar withholding tax dimaksud ditambah denda keterlambatan penyetoran sebesar 2% sebulan dari pokok pajak.
Untuk mengatasi hal tersebut dapat ditempuh:
a. Perusahaan membayarkan withholding tax, pajak yang dibayarkan ini tidak boleh dibebankan sebagai biaya.
b. Nilai transaksi di-gross-up, sehingga jumlah transaksi dalam kontrak sudah termasuk pajak yang harus dipungut. Atas jumlah pajak yang dibayarkan boleh dibebankan sebagai biaya, kecuali untuk PPh final dan dividen.
Contoh gross-up yang dilakukan:
Perusahaan akan menyewa kantor dari Sdr. Ali sebesar Rp 90.000.000,00 untuk 3 tahun. Sdr. Ali tidak bersedia dipotong pajak sebesar 10% final atas sewa bangunan kantor tersebut.
37
a. Apabila pajak sebesar 10% atau sebesar Rp 9.000.000,00 tersebut dibayar oleh perusahaan, maka perusahaan tersebut tidak boleh membebankannya sebagai biaya. Dengan demikian, untuk transaksi ini perusahaan harus mengeluarkan uang sebesar Rp 99 juta.
b. Perusahaan dapat melakukan gross-up atas sewa bangunan tersebut menjadi: 100/90 X Rp 90 juta = Rp 100 juta. Di sini perusahaan membayar Rp 100 juta, tetapi ada tax saving sebesar 2,5 juta (25% dari Rp 10 juta pajak atas sewa bangunan 10% dari Rp 100 juta), sehingga pembayaran net atas transaksi ini sebetulnya Rp 97,5 juta, lebih menguntungkan ketimbang tidak di-gross-up.
5. Penyertaan pada Perseroan Terbatas dalam negeri
Penyertaan modal saham pada Perseroan Terbatas dalam negeri dapat dilakukan atas nama PT atau perorangan.
Apabila modal saham atas nama perorangan, maka dividen yang diperoleh perorangan tersebut merupakan obyek PPh dan dikenakan pemotongan PPh Pasal 23.
Apabila modal saham atas nama PT, Koperasi, BUMN, dan BUMD, maka penerimaan dividen tersebut bukan obyek pajak, sehingga tidak dikenakan pajak, sepanjang memenuhi persyaratan:
a. Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan, dan b. Bagi PT, BUMN dan BUMD yang menerima dividen:
38
1). Kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor.
2). Mempunyai usaha aktif di luar kepemilikan saham tersebut di atas (Pasal 4 ayat 3 huruf f UU No. 17/2000).
Catatan:
Untuk tahun 2009 ketentuan ini mengalami perubahan, yaitu:
Apabila modal saham atas nama PT, Koperasi, BUMN, dan BUMD, maka penerimaan dividen tersebut bukan obyek pajak, sehingga tidak dikenakan pajak, sepanjang memenuhi persyaratan:
a. Dividen berasal dari cadangan laba yang ditahan, dan b. Bagi PT, BUMN dan BUMD yang menerima dividen:
c. Kepemilikan saham pada badan yang memberikan dividen paling rendah 25% dari jumlah modal yang disetor.
(Pasal 4 ayat 3 huruf f UU No. 36/2008).
(Menghilangkan ketentuan mempunyai usaha aktif di luar kepemilikan saham tersebut).
6. Optimalisasi pengkreditan Pajak Penghasilan yang telah dibayar
Pajak Penghasilan yang dapat dikreditkan dengan PPh badan yang terutang selain PPh Pasal 25 adalah Pajak Penghasilan yang dibayar sendiri maupun yang dipungut oleh pihak lain yang sifatnya tidak final.
39
PPh yang dapat dikreditkan antara lain PPh atas pengalihan tanah/bangunan bagi perusahaan yang tidak bergerak di bidang real estate, PPh Pasal 22 atas impor, PPh Pasal 22 atas pembelian BBM dari Pertamina untuk selain penyalur, PPh fiskal luar negeri karyawan (setoran atas nama karyawan qq Perusahaan berikut NPWP perusahaan), PPh Pasal 23 atas bunga dari non bank, royalti, PPh Pasai 24 yang dipotong di luar negeri. Agar menenuhi kelengkapan formal, maka setiap kali dilakukan pemotongan pajak oleh pihak lain sebaiknya langsung diminta Bukti Pemotongan PPh-nya dan tidak perlu menunggu sampai akhir tahun pajak.
7. Pengajuan penurunan lump-sum PPh Pasal 25
Kenaikan pembayaran lump-sum PPh pasal 25 disebabkan adanya SKPKB (Surat Ketetapan Pajak Kurang Bayar) karena pemeriksaan untuk tahun yang lalu, atau karena adanya kenaikan laba pada tahun berjalan dibandingkan dengan laba pada tahun yang lalu.
Akan tetapi, di lain pihak bisa saja terjadi bahwa dalam tahun pajak yang bersangkutan terjadi penurunan laba. Apabiia kita mengangsur PPh Pasat 25 tetap seperti tahun lalu dikhawatirkan pada akhir tahun berjalan akan terjadi kelebihan pembayaran pajak. Untuk mengatasi hat ini, mulai bulan April tahun yang bersangkutan perusahaan dapat mengajukan permohonan penurunan lump-sum PPh Pasal 25 dengan disertai proyeksi laba pada akhir tahun dan alasan terjadinya penurunan laba. Untuk bisa mengajukan permohonan
40
penurunan PPh Past 25 tersebut dimungkinkan bila penurunan laba usaha tersebut mencapai minimum 25% bila dibandingkan dengan laba fiskal tahun lalu yang digunakan sebagai dasar penghitungan PPh Pasal 25.
Dasar hukum KEP-537/PJ./2000 jo PER-10/PJ./2009.
8. Pengajuan SKB PPh Pasal 22 dan PPh Pasal 23.
Untuk beberapa jenis withholding tax seperti PPh Pasal 22, PPh Pasal 23 (tidak termasuk PPh final) dapat diajukan Permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) oleh Wajib Pajak yang memenuhi kriteria.
Beberapa kriteria yang harus dipenuhi adalah sebagai berikut:
a. Wajib Pajak yang dalam tahun pajak berjaian dapat menunjukkan tidak akan terutang Pajak Penghasilan karena mengalami kerugian fiskal, atau
b. Wajib Pajak berhak melakukan kompensasi kerugian fiskal (baik yang dicantumkan dalam SO atau SPT PPh dalam hat belum ada SKP) sepanjang kerugian tersebut jumlahnya lebih besar daripada perkiraan penghasilan netto tahun pajak yang bersangkutan, atau
c. Pajak Penghasilan yang telah dibayar lebih besar dari Pajak Penghasilan yang akan terutang.
Yang dimaksud dengan kerugian fiskal dalam angka 1 adalah kerugian fiskal yang terjadi karena:
a. Wajib Pajak yang baru berdiri dan masih dalam tahap investasi, atau b. Wajib Pajak belum sampai pada tahap produksi komersial, atau
41
c. Untuk perusahaan yang sudah berjalan, yang karena suatu peristiwa yang berada di luar kemampuan (force majeur) sehingga akan mengakibatkan menderita kerugian dan tidak akan terutang Pajak Penghasilan.
Dalam menqajukan permohonan, Wajib Pajak harus melampirkan: a. Perkiraan penghasilan neto dalam tahun berjalan
b. Daftar pihak-pihak pemberi penghasilan beserta nilai transaksi yang diperkirakan akan diterima/diperoleh.
Dasar hukum: KEP-192/PJ./2002, tentang Tata Cara Penerbitan Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemotongan/Pemungutan Pajak Penghasilan.