• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tebal minimum 600 mm untuk tanah ekspansif

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 36-44)

4. Elevasi permukaanlapis penopang harus memenuhi persyaratan tinggi minimum tanah dasar di atas muka air tanah dan muka air banjir.

5. Kedalaman alur roda pada lapis penopang akibat lalu lintas selama periode konstruksi tidak lebih dari 40 mm. 6. Mencapai ketebalan tertentu sehinggapermukaan lapis penopang dapat dipadatkan dengan alat pemadat berat.

b. Metode pemadatan

Lapis penopang harus dipadatkan dengan metode dan mencapai tingkat kepadatan yang ditentukan atau yang disetujui oleh direksi pekerjaan. Pada bagian bawah lapis penopang kepadatan yang mungkin dapat dicapai cenderung lebih kecil daripada 95% kepadatan kering maksimum.

c. Geotekstil

Jika tanah asli jenuh atau cenderung akan jenuh pada masa pelayanan, geotekstil sebagai pemisah harus dipasang diantara lapis

45 penopang dan tanah asli. Material lapis penopang yang terletak langsung di atas geotekstil harus material berbutir. Untuk pemilihan desain pondasi jalan dengan berbagai parameter menurut Direktorat Jendral Bina Marga (2017: 6-12) dapat dilihat pada Tabel 2.15 dan Tabel 2.16 berikut ini:

Tabel 2. 15 Desain pondasi Jalan Minimum

CBR Tanah

Perkerasan Lentur Perkerasan Kaku 200 mm Tebal Gembur)

Tidak Perlu

Tanah Gambut dengan HRS atau DBST untuk perkerasan untuk jalan raya minor (nilai

minimum-ketentuan lain berlaku)

Lapis Penopang Berbutir 1000 1250 1500

Sumber: Direktorat Jendral Bina Marga (2017: 6-12)

46 Tabel 2. 16 Tinggi minimum tanah dasar di atas muka air tanah dan muka air

banjir

Kelas Jalan Tinggi Tanah Dasar diatas MukaAir Tanah (mm)

Tinggi Tanah

1200 (jika ada drainase bawah permukaan di median)

500 (banjir 50 tahunan) 1700 (tanpa drainase bawah permukaan di median)

Jalan Raya

1200 (tnah lunak jenuh atau gambut tanpa lapis drainase)

800 (tanah lunak jenuh atau gambut tapa lapis drainase)

600 (tanah dasar normal)

Jalan Sedang 600 500 (banjir 10

tahunan)

Jalan Kecil 400 NA

Sumber: Direktorat Jendral Bina Marga (2017: 5-2) 2.7 Prosedur Desain Overlay

Terdapat tiga prosedur tebal overlay berdasarkan beban lalu lintas.

1. Lalu Lintas lebih kecil atau sama dengan 100.000 ESA4

Retak lelah bukan merupakan kerusakan yang umum terjadi pada jalan dengan lalu lintas ringan dan perkerasan dengan HRS. Berdasarkan pertimbangan itu, desain jalan dengan beban lalu lintas rencana lebih kecil dari 100.000 ESA4 dan perkerasan dengan HRS kinerja fatigue overlay tidak diperlukan. Desain tebal overlay cukup dengan pendekatan lendutan maksimum (D0).

2. Lalu Lintas lebih besar dari 100.000 ESA4

Pada jalan dengan lalu lintas lebih besar dari 100.000 ESA4 terdapat potensi retak Lelah lapisan aspal. Dengan demikian, kriteria deformasi permanen (pendekatan lendutan maksimum D0) dan kriteria retak lelah (pendekatan lengkung lendutan, D0) harusdiperhitungkan. Penjelasan lebih rinci mengenai lengkung lendutan dan ilustrasi penggunaan kedua grafik desain tersebut diuraikan pada butir 6.5.

47 3. Lalu Lintas lebih besar 10x10

ESA4 atau 20x106 ESA5 Untuk pekerjaan rehabilitasi dengan beban lalu lintas lebih besar daripada 10x10 ESA4 atau lebih besar daripada 20x106 ESA5 harus digunakan prosedur mekanistik empiris atau metode metode Pt T-01-2002-B atau metode AASHTO 1993. Pada prosedur mekanistik empiris, data lendutan permukaan dan tebal perkerasan eksisting digunakan untuk perhitungan-balik (back calculation) nilai modulus lapisan perkerasan. Selanjutnya nilai modulus ini digunakan untuk menentukan solusi desain rekonstruksi atau overlay dengan program analisis perkerasan multi-layer. Garis besar prosedur mekanistik empiris diuraikan pada Bab 7 Manual Bagian 1. Pada prosedur pelapisan tambah perkerasan lentur berdasarkan lendutan permukaan AASHTO 1993 atau Pt T-01-2002-B temperatur standar untuk lendutan maksimum (D0) yang digunakan adalah 680 F atau 200 C. Dengan demikian, lendutan maksimum pada temperatur saat pengukuran harus distandarkan ke temperatur 20 C.

2.7.1 Tebal Overlay berdasarkan Lendutan Maksimum

Bagan desain Gambar 6.1. digunakan untuk menentukan kebutuhan overlay untuk mengantisipasi deforamasi permanen. Desain berdasarkan Gambar 6.1.

menghasilkan desain dengan biaya lebih rendah daripada desain menggunakan Pd T-05-2005 yang telah dimodifikasi menjadi pedoman interim No.002/P/BM/2011 dan perangkat-lunaknya SDPJL. Untuk lalu lintas dengan beban >100.000 ESA4, desain tebal menggunakan tersebut harus digunakan bersamaan dengan Gambar 6.3.a. dan Gambar 6.3.b. untuk mengantisipasi retak lelah. Dalam penggunaannya dibutuhkan justifikasi teknis, jika tidak ada indikasi potensi kegagalan tanah dasar, solusi berdasarkan lengkung lendutan sudah cukup memadai. Untuk menentukan tebal overlay berdasarkan lendutan balik maksimum (yang diukur dengan alat Benkelman Beam). Hitung dan masukkan nilai lendutan karakteristik dan beban lalu lintas desain (ESA4) pada Gambar 6.1, serta dapatkan tebal overlay pada sumbu vertikal. Apabila pengukuran lendutan dilakukan dengan menggunakan alat Falling Weight Deflectometer (FWD), gunakan faktor penyesuaian lendutan.

Bagan desain Gambar 6.1. berlaku untuk beban rencana sampai dengan 10 x 10 ESA4.

48 Sumber: Bina Marga (2017:6-4)

Gambar 2. 6 Solusi Overlay Berdasarkan Lendutan Balik Benkelman Beam untuk

2.8 Analisis Harga Satuan

Menurut Permen PUPR No 28/PRT/M/2016 (2016: 9) Analisis harga satuan digunakan sebagai suatu dasar untuk menyusun perhitungan harga perkiraan sendiri (HPS) atau owner’s estimate (OE) dan harga perkiraan perencana (HPP) atau engineering’s estimate (EE) yang dituangkan sebagai kumpulan harga satuan pekerjaan seluruh mata pembayaran. Analisis harga satuan dapat diproses secara manual atau menggunakan perangkat lunak.

Analisis harga satuan ini menetapkan suatu perhitungan harga satuan upah, tenaga kerja, dan bahan, serta pekerjaan yang secara teknis dirinci secara detail berdasarkan suatu metode kerja dan asumsi-asumsi yang sesuai dengan yang diuraikan dalam suatu spesifikasi teknik, gambar desain dan komponen harga satuan, baik untuk kegiatan rehabilitasi/pemeliharaan, maupun peningkatan infrastruktur ke-PU-an.

Harga satuan pekerjaan terdiri atas biaya langsung dan biaya tidak langsung.

Komponen biaya langsung terdiri atas upah, bahan dan alat, sedangkan komponen

49 biaya tidak langsung terdiri atas biaya umum atau overhead dan keuntungan. Dalam Gambar 2.4 diperlihatkan struktur analisis Harga Satuan Pekerjaan (HSP)

Sumber : Menurut Permen PUPR No 28/PRT/M/2016 (2016: 11) Gambar 2. 7 Struktur analisis Harga Satuan Pekerjaan (HSP)

2.9 Komponen Utama Harga Satuan

Menurut Permen PUPR No 28/PRT/M/2016 (2016: 13) komponen utama harga satuan, yaitu untuk tenaga kerja, bahan dan alat, yang masing-masing dianalisis sebagai harga satuan dasar (HSD).

2.9.1 HSD Tenaga Kerja

Komponen tenaga kerja berupa upah yang digunakan dalam mata pembayaran tergantung pada jenis pekerjaannya, Permen PUPR No 28/PRT/M/2016 (2016: 13). Faktor yang mempengaruhi harga satuan dasar tenaga kerja antara lain jumlah tenaga kerja dan tingkat keahlian tenaga kerja. Penetapan jumlah dan keahlian tenaga kerja mengikuti produktivitas peralatan utama. Suatu produksi jenis pekerjaan yang menggunakan tenaga manusia pada umumnya dilaksanakan oleh perorangan atau kelompok kerja dilengkapi dengan peralatan yang diperlukan berdasarkan metode kerja yang ditetapkan yang disebut alat bantu (contoh: sekop, palu, gergaji, dan sebagainya) serta bahan yang diolah. Biaya

50 tenaga kerja standar dapat dibayar dalam sistem hari orang standar atau jam orang standar. Besarnya sangat dipengaruhi oleh jenis pekerjaan dan lokasi pekerjaan.

Secara lebih rinci faktor tersebut dipengaruhi antara lain oleh:

- keahlian tenaga kerja, - jumlah tenaga kerja, - faktor kesulitan pekerjaan, - ketersediaan peralatan, - pengaruh lamanya kerja, dan

- pengaruh tingkat persaingan tenaga kerja.

Untuk pekerjaan bangunan gedung yang dilaksanakan secara manual, koefisien bahan dan tenaga kerja sudah tersedia dalam tabel yang dipergunakan untuk satu satuan volume pekerjaan atau satu satuan pengukuran tertentu.

2.9.2 Harga Satuan Dasar Bahan

Faktor yang mempengaruhi harga satuan dasar bahan antara lain adalah kualitas, kuantitas, dan lokasi asal bahan. Faktor-faktor yang berkaitan dengan kuantitas dan kualitas bahan harus ditetapkan dengan mengacu pada spesifikasi yang berlaku, Permen PUPR No 28/PRT/M/2016 (2016: 28). Data harga satuan dasar bahan dalam perhitungan analisis ini berfungsi untuk kontrol terhadap harga penawaran penyedia jasa. Harga satuan dasar bahan dapat dikelompokkan menjadi tiga bagian yaitu:

• Harga satuan dasar bahan baku, misal: batu, pasir, semen, baja tulangan, dan lain-lain.

• Harga satuan dasar bahan olahan, misal: agregat kasar dan agregat halus, campuran beton semen, campuran beraspal, dan lain-lain.

• Harga satuan dasar bahan jadi, misal tiang pancang beton pracetak, panel pracetak,geosintetik dan lain-lain.

Harga pokok bahan dapat terjadi melalui persyaratan jual beli. Masukan input) harga bahan yang dibutuhkan dalam proses perhitungan HSD bahan yaitu harga komponen bahanper satuan pengukuran. Satuan pengukuran bahan tersebut misalnya m¹, m², m³, kg, ton, zak, dan sebagainya.

51 Untuk pekerjaan bangunan jalan, jembatan, dan bangunan air, pada umumnya memerlukan alat secara mekanis terutama memproduksi bahan olahan dan proses pelaksanaan pekerjaan di lapangan, sebagian kecil memerlukan pekerjaan secara manual. Untuk pekerjaan bangunan gedung, biasanya material diterima di lokasi kerja dalam keadaan siap dicampur, siap dirakit, atau siap dipasang, sehingga tidak ada tahap pekerjaan pengolahan, karena itu analisis HSD bahan baku tidak diperlukan, kecuali analisis HSD bahan jadi atau HSD bahan olahan. Koefisien bahan dan tenaga kerja sudah tersedia dalam tabel yang dipergunakan untuk satu satuan volume pekerjaan atau satu satuan pengukuran tertentu.

2.9.3 Harga Satuan Dasar Alat

Menurut Permen PUPR No 28/PRT/M/2016 (2016: 13) komponen alat digunakan dalam mata pembayaran tergantung pada jenis pekerjaannya. Faktor yang mempengaruhi harga satuan dasar alat antara lain: jenis peralatan, efisiensi kerja, kondisi cuaca, kondisi medan, dan jenis material/bahan yang dikerjakan.

Untuk pekerjaan tertentu, kebutuhan alat sudah melekat dimiliki oleh tenaga kerja karena umumnya pekerjaan dilaksanakan secara manual (misal cangkul, sendok tembok, roskam, dan lain-lain). Untuk pekerjaan yang memerlukan alat berat, misal untuk pemancangan tiang beton atau pipa baja ke dalam tanah, dan/atau pekerjaan vertikal, penyediaan alat dilakukan berdasarkan sistem sewa. Jika beberapa jenis peralatan yang digunakan untuk pekerjaan secara mekanis dan digunakan dalam mata pembayaran tertentu, maka besarnya suatu produktivitas ditentukan oleh peralatan utama yang digunakan dalam mata pembayaran tersebut.

2.10 Rencana Anggaran Biaya (RAB)

Rencana Anggaran Biaya (RAB) Proyek merupakan total penjumlahan dari hasil perkalian antara volume suatu item pekerjaan dengan harga satuannya, Ibrahim (2021: 165) . Merujuk pada sebuah item pekerjaan, maka pada dasarnya untuk melaksanakan sebuah item pekerjaan membutuhkan upah, material, peralatan yang digunakan (sebagai biaya langsung) dan overhead, profit dan tax (sebagai biaya tidak langsung).

Adapun penjelasan secara rinci mengenai komponen-komponen penyusun dari Rencana Anggaran Biaya (RAB) Proyek adalah sebagai berikut :

52 1) Komponen Biaya Langsung (Direct Cost)

Biaya langsung atau direct cost adalah biaya untuk segala sesuatu yang akan menjadi komponen permanen hasil akhir bangunan konstruksi.

Biaya langsung terdiri dari:

a) Biaya bahan/material

Merupakan harga bahan atau material yang digunakan untuk proses pelaksanaan konstruksi, yang sudah memasukan biaya angkutan, biaya loading dan unloading, biaya pengepakkan, penyimpanan sementara di gudang, pemeriksaan kualitas dan asuransi

b) Upah tenaga kerja

Biaya yang dibayarkan kepada pekerja/buruh dalam menyelesaikan suatu jenis pekerjaan sesuai dengan keterampilan dan keahliannya.

Biasa dipakai cara harian sebagai unit waktu dan banyaknya pekerjaan yang dapat diselesaikan dalam satu hari. Porsi tenaga kerja dapat mencapai 25 – 35% dari total biaya proyek

c) Biaya peralatan

Biaya yang diperlukan untuk kegiatan sewa, pengangkutan, pemasangan alat, memindahkan, membongkar dan biaya operasi, juga dapat dimasukkan upah dari operator mesin dan pembantunya.

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 36-44)

Dokumen terkait