HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Penelitian
4.2.1 Tekanan Darah
Pada penelitian ini anestesi umum merupakan teknik anastesi yang dilakukan pada 39 kasus pasien dengan pembedahan Open Reduction of Internal Fixation (ORIF) patah tulang lengan atas. Hasil penelitian ini didapatkan tekanan darah sistolik pada pasien dengan induksi propofol mengalami presentase penurunan sebesar 10,42 % pasca operasi, sedangkan untuk tekanan darah diastolic di dapatkan
20 penurunan sebesar 2,5%. Dan adanya perununan MAP 5,9% pasca operasi. Hasil ini sesuai dengan penelitian oleh Mahajan (2010) yang membandingkan kombinasi propofol- fentanyl (PF) dimana didapatkan penurunan bermakna pada ketiga parameter hemodinamik tersebut. Penurunan yang terjadi pada kelompok PF lebih besar dan melebihi rentang 10 % dari tekanan darah sebelum operasi.
Perlu dicermati bahwa perubahan hemodinamik intraoperatif merupakan salah satu prediktor kejadian komplikasi pascaoperasi dimana beberapa poin penting dalam pengendalian hemodinamik intraoperatif.
Hasil penelitian ini di dukung oleh literature yang ada, salah satu penelitian yang dilakukan oleh Muzi (2012) menunjukkan bahwa adanya perunan tekanaan darah >10% pasca induksi propofol. Hal ini tentunya disebabkan karena propofol secara langsung menyebabkan dilatasi di sistem vena. Meningkatnya volume di vena berperan penting dalam terjadinya penurunan tekanan darah selama pemberian propofol sehingga di rekomendasikan pemberian cairan intravena untuk mengganti defisit cairan dan memberi tambahan volume intravaskuler untuk meminimalkan efek hipotensi selama pemberian propofol.
Bajwa et al (2010) pemberian fentanil-propofol pada induksi anestesi dapat menjaga kestabilan hemodinamik pasien dengan penurunan nilai MAP <
20% selama induksi anestesi dikarenakan fentanil tidak langsung menekan reflek simpatis, namun cenderung mempertahankan tekanan darah pasien. Fadhina et al (2010) menyatakan bahwa koinduksi fentanyl dapat menyebabkan vasodilatasi sehingga pemberian koinduksi ini memiliki peranan terjadinya penurunan MAP.
Temuan ini serupa dengan penelitian yang dilakukan oleh Tan CH et al (2011) memaparkan bahwa induksi propofol dengan koinduksi fentanyl pasien
21 maksimum memiliki tekanan darah sistolik pada kisaran 90 sampai 110 mmHg pasca induksi. Tekanan darah diastolik rata-rata akan mengalami penurunaan sebesar 2,5% dari tekanan darah awal sebelum induksi anastesi. Dengan demikian, di simpulkan bahwa di dapatkan hemodinamik yang relatif stabil di pada kombinasi tersebut meskipun terdapat penurunan tekanan darah pasca induksi.
Penurunan Mean Arterial Pressure (MAP) setelah induksi dengan propofol secara teori terjadi karena penurunan tonus otot polos pada pembuluh darah dan penurunan tahanan pembuluh darah sistemik serta penekanan dari aktivitas saraf simpatis sehingga terjadi penurunan yang signifikan pada MAP setelah induksi dengan propofol. Penurunan MAP ini pada penggunaan propofol saja tanpa agen koinduksi dapat mencapai antara 20-25% yang mana penurunan MAP diatas 20%
pada saat induksi dikatakan sebagai kondisi hemodinamik yang tidak stabil.
Namun ada perbedaan pada penelitian yang dilakukan Uzul (2011) induksi propofol pada dewasa sehat sekitar 1,5 sampai 2,5 mg/kg bb i.v. Hal ini akan menghasilkan kadar dalam darah sekitar 2-6 µg/ml yang dapat menyebabkan pasien tidak sadar, namun dosis propofol juga dipengaruhi oleh usia pasien dan obat-obatan yang dikonsumsi. Menurut Billard et al (2012) dilaporkan bahwa rata-rata penurunan tekanan darah sistolik setelah pemberian propofol 2 mg/kgbb sekitar 28 mmHg jika fentanyl tidak diberikan. Bila dikombinasi dengan fentanyl 2 µg/kgbb atau 4 µg/kgbb akan menyebabkan penurunan tekanan darah sistolik sekitar 50 mmHg atau 53 mmHg.
Sedangkan Hui TW (2011) memperlihatkan dosis induksi propofol 2 mg/
kgbb menghasilkan penurunan tekanan darah sistolik lebih kurang 10% hingga 20%. Hal ini disebabkan oleh fentanyl menghasilkan penurunan tekanan arteri dan
22 detak jantung yang signifikan dan menyebabkan penurunan yang signifikan pada tekanan darah sistolik dan diastolik. Hal ini terjadi akibat dari induksi fentanyl yang diketahui memiliki efek parasimpatis sehingga menyebabkan bradikardia dan hipotensi. Sedangkan induksi propofol menyebabkan penurunan tekanan darah tanpa peningkatan denyut jantung.
Begitupula penelitian yang dilakukan oleh Mayer M (2012) pada pasien dengan induksi propofol-fentanyl mengalami penurunan tekanan darah baik sistolik dan diastolic namun masih dalam penurunan minimal dan bukan suatu hipotensi. Perubahan hemodinamik ini di pengaruh oleh faktor fentanyl pada depresi sistem kardiovaskuler.
Pada penelitian lain yang dilakukan Sandi P (2015), tekanan darah sistolik pada kelompok dengan induksi propofol fentanyl mengalami perubahan sebesar >
10 % didapatkan pada saat setelah induksi. Sedangkan di dapatkan hasil yang berbeda dari penelitian ini pada tekanan darah diastolik pada induksi propofol-fentanyl juga menunjukkan perubahan sebesar > 10 % dan perubahan tekanan arteri rerata sebesar > 10 % didapatkan pada setelah induksi.
4.2.2 Usia
Pada penelitian yang dilakukan oleh Smith (2010) pada pasien pasca induksi anastesi pada rentang umur diatas 40 tahun maupun dibawah 40 tahun, tentunya akan mendapatkan penurunan tekanan darah sistolik maupun diastolik, akibat farmakologi dari induksi propofol-fentanyl yang menyebabkan depresi pada kardiovaskuler. Sehingga kondisi usia 20-40 tahun tidak bermakna secara spesifik terhadap perbedaan rentang penurunan tekanan darah. Bila terjadi
23 penurunan tekanan darah yang sangat drastis pada rentang usia tersebut hingga pasien mengalami hipotensi, maka harus di perhatikan riwayat penyakit sistemik yang diderita. Namun tentunya penurunan ini akan lebih sensitif pada usia diatas 40 tahun pasa induksi anastesi.
Studi yang di lakukan Smith (2010) memaparkan bahwa angka morbiditas penurunan darah pasca induksi anastesi akan di temukan pada usia di atas 60 tahun. Ini tentunya di sebabkan akibat penyakit sistemik yang menyertai dan juga perfusi yang sudah mulai menurun pada usia diatas 60 tahun. Sehingga angka morbiditas akan meningkat hingga 3,6%. Sedangkan untuk usia di atas 40 tahun akan terjadi penurunaan tekanan darah akan bersifat minimal tentunya penurunan ini akibat dari farmakologi obat anastesi itu sendiri, walaupun pada beberapa kasus menyebabkan hipotensi yang cukup serius. Sehingga penurunan tekanan darah akan di pengaruhi oleh usia.