BAB II PEMBAHASAN
2.1 Landasan Teori
2.1.2 Waria
2.1.2.3 Tekanan Sosial Terhadap Waria
Waria banyak menghadapi masalah dari dalam maupun luar sebagai konsekuensi pemilihan hidup sebagai waria. Mereka cenderung mengalami kebingungan mengenai identitas diri, selain itu adanya penolakan sosial dari lingkungan atas penentangan konstruksi gender. Waria juga akan menghadapi betapa rumitnya legalitas. Hukum norma tertulis maupun tidak tertulis yang menempatkan pada hak dan kewajibannya serta mereka juga memiliki dorongan seksual yang sama dengan manusia lainnya (Lerner dan Spanier dalam Mardha, 2007).
Menurut hasil penelitian Yuliani (2006), waria dijauhi atau didiskriminasi oleh masyarakat karena homophobia atau ketakutan dan kebencian terhadap kaum homoseksual. Beberapa orang mengira bahwa homoseksual bisa menular ke orang lain, sehingga ada ketakutan untuk berdekatan dan bergaul dengan orang yang mereka kira atau ketahui homoseks. Situasi seperti ini membuat mereka yang merasa dirinya waria atau gay banyak yang menjadi depresi, menarik diri dan mempunyai rasa percaya diri yang rendah.
Diskriminasi dan intoleransi masih terus berlangsung dalam masyarakat.
Kelompok waria termasuk yang rentan mengalami diskriminasi dan intolerans.
Mereka sering mengalami perlakuan diskriminasi karena penampilan fisiknya yang tidak bisa disembunyikan. Berbeda dengan kelompok gay, lesbian atau biseksual, meski mendapat perlakuan yang diskriminatif, mereka masih bisa tetap eksis karena penampilan fisiknya dapat dibedakan melalui pandangan sempit dua jenis kelamin, yaitu perempuan dan laki-laki. Apabila dicermati, stigma dan pandangan stereotip sebagai bagian dari persoalan diskriminasi dan intoleransi yang berkembang di masyarakat terhadap kelompok waria, pertama-tama memang disebabkan oleh konstruksi sosial berbasis gender yang tidak mengakui keberagaman. Konflik sosial berdampak dengan adanya tekanan sosial yang dihadapi waria. Kehidupan waria harus menghadapi tekanan sosial, yaitu paksaan dari lingkungan yang mengharuskan tingkah laku mereka mau mengikuti kebiasaan yang ada di lingkungan tersebut. Ada dua tekanan sosial yang dihadapi waria yaitu (1) tekanan dari keluarga yang biasanya waria dipandang sebagai aib karena dalam dunia waria banyak dibingkai oleh dunia pelacuran dan perilaku seksual yang abnormal, hal ini biasanya menjadikan waria
tidak betah di lingkungan keluarga. (2) Tekanan selanjutnya adalah tekanan dari masyarakat, biasanya dikarenakan perilakunya yang menyimpang dari norma (Jurnal Connie Siagian).
Menurut Gerungan yang dikutip oleh Yuiani dalam jurnalnya yaitu “Sikap masyarakat (sikap sosial) dinyatakan oleh cara-cara kegiatan yang sama dan berulang-ulang terhadap objek sosial, dan biasanya sikap sosial tersebut tidak hanya dinyatakan oleh seorang saja, melainkan juga oleh orang-orang lainnya atau sekelompok masyarakat”. Dapat disimpulkan bahwa sikap masyarakat merupakan kecenderungan atau kesediaan berperilaku, apabila individu dihadapkan pada stimulus yang menghendaki adanya respon. Kecenderungan potensial tersebut sebelumnya didahului oleh dorongan individu berdasarkan keyakinan terhadap objek-objek sikap atau stimulus yang diterimanya. Melalui sikap, kita memahami proses kesadaran yang menentukan tindakan nyata dan tindakan yang mungkin dilakukan individu dalam kehidupan sosialnya.
Menurut Pedoman Umum Pelayanan Waria (2008:8-9) ada dua permasalahan yang dialami waria yaitu:
a. Permasalahan Internal
1). Merasa tidak jelas identitas dan kepribadiannya mengakibatkan waria berada dalam posisi kebingungan, canggung, tingkah laku berlebihan, dampak lainnya sulit mencari pekerjaan behkan depresi dan mau bunuh diri.
2). Merasa terasing dan merasa ditolak yang mengakibatkan para waria meninggalkan rumah, frustasi, kesepian, mencari pelarian yang seringkali semakin merugikan dirinya.
3). Merasa ditolak dan didiskriminasi mengakibatkan permasalahan terutama dalam kehidupan sosial, pendidikan, akses pekerjaan baik formal maupun informal. Implikasinya adalah banyak waria yang merasa kesulitan memperoleh pekerjaan, pendidikan, maupun terhambat proses interaksi sosial.
b. Permasalahan Eksternal
Menurut Yuliani (2006), permasalan eksternal dalam tekanan sosial yang dialami waria diuraikan sebagai berikut :
1). Permasalahan Keluarga
Dalam keluarga, waria umumnya ditolak dengan kemarahan dan kesedihan dari orang tuanya karena anaknya dianggap tidak normal. Orang tua cenderung memukul, mengusir dari rumah, atau justru mengabaikan anaknya yang memilih hidup sebagai waria. Para waria juga seringkali dianggap sebagai aib dan mendatangkan kesialan dalam keluarga sehingga banyak diantara mereka tidak diakui, dikucilkan, dibuang, ditolak, dicemooh, bahkan diasingkan. Selain itu, keluarga juga menutup atau menarik diri dari masyarakat.
2). Permasalahan masyarakat
Masyarakat luas menganggap waria sebagai sebuah lelucon, rendah dan sering dikaitkan dengan prostitusi. Hal ini memunculkan berbagai tindakan yang mewakili rasa penolakan terhadap waria yang diantaranya cemoohan, pengucilan hingga kekerasan secara fisik maupun verbal. Adapula masyarakat yang mengaggap bahwa kecenderungan sebagai waria dapat menular sehingga masyarakat cenderung menarik diri dan takut berdekatan
dengan waria. Para waria dan komunitasnya dianggap sebagai sosok yang melakukan penyimpangan yang banyak menimbulkan masalah di lingkungan masyarakat. Dalam masyarakat juga mempunyai stigma dan penolakan terhadap waria dan keluarganya sehingga berdampak pada pengucilan sosial, diskriminasi dan pelecehan serta perlakuan salah lainnya.
3). Data
Karena waria memiliki identitas gender yang kuat bahwa dirinya memiliki kepribadian feminim sehingga sulit untuk diubah meskipun dipaksa oleh lingkungannya sehingga dengan adanya penolakan terhadap kehadirannya, waria cenderung mengisolasi diri dan membentuk komunitas sendiri namun belum terdaftar sehingga sulit untuk mendata para waria yang menyebabkan belum adanya data yang akurat dan mutakhir tentang bagaimana gambaran profil waria. Hal ini menyebabkan sulitnya merumuskan program dan kebijakan serta rencana kerja bagi lembaga/instansi terkait dan melaksanakan koordinasi secara terpadu.
4). Kebijakan
Waria pada umumnya diperlakukan diskriminaif dan tidak memperoleh kesetaraan secara hukum dalam hak-hak sosial, politik, ekonomi maupun budaya. Waria dianggap menyimpang secara budaya dan agama karena berperilaku feminim, memiliki ketertarikan seksual terhadap sesama jenis sehingga dianggap cacat sosial yang patut dikucilkan dan diasingkirkan.
Waria juga sering dilecehkan di tempat umum, disingkirkan dari aktivitas sosial, tidak diberi akses untuk mendapatkan fasilitas publik, tidak diakui
identitasnya dan menjadi korban tindak kekerasan aparat. Belum optimalnya kebijakan dan peraturan yang memberikan pelayanan sosial terhadap waria secara terkordinasi, terpadu dan berkelanjutan sehingga kebutuhan waria terhadap akses ke dunia pendidikan dan pekerjaan belum memperoleh perhatian yang optimal.