• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

E. Teknik Analisis Bahan Hukum

Seluruh data yang berhasil dikumpulkan, selanjutnya diinventarisasi, diklasifikasi, dan dianalisis menggunakan analisis deskriptif dengan menggunakan interpretasi sistematis yang bertujuan untuk menguraikan berbagai permasalahan yang ada dalam pelaksanaan suatu ketentuan hukum mengenai margin ideal pemenuhan kebutuhan biologis narapidana di lembaga pemasyarakatan. Analisis deskriptif ini juga dilakukan untuk mengungkapkan bentuk tanggung jawab negara selama ini dalam pemenuhan hak biologis narapidana di lembaga pemasyarakatan, sehingga dapat menghasilkan rekomendasi reformulasi model pemenuhan hak biologis narapidana yang ideal di Indonesia.

63 F. Definisi Konseptual

a. Tanggung Jawab Negara

Tanggung jawab negara adalah kewajiban negara untuk memenuhi segala yang menjadi kewajibannya untuk rakyatnya.

b. Hak Biologis

Hak biologis adalah hak mengenai kebutuhan seksual yang harus dipenuhi oleh seorang manusia untuk menjaga unsur-unsur fisiknya.

c. Narapidana

Narapidana adalah seseorang yang telah mendapat putusan hakim sanksi pidana penjara dan tinggal di lembaga pemasyarakatan dengan hak kemerdekaan yang telah dicabut.

64 BAB IV

PEMBAHASAN

A. Hak Biologis Narapidana sebagai Hak Asasi Manusia

Agama telah mengakui bahwa dorongan nafsu seksual adalah hal yang fitrah dan tidak dapat dilepaskan bagi manusia. Pasangan suami dan istri dalam agama Islam mengatur secara tegas mengenai hak dan kewajiban dari pada suami dan istri, seperti yang dijelaskan didalam kitab Al-Majmu’ Syarah Al-Muhadzdzab karya Abu Ishaq Asy-Syirazi bahwa yang ditetapkan dalam pernikahan adalah kewajiban untuk memberi pelayanan seksual (istimta’). Ketika salah satu pasangan suami istri ini harus mendekam dibalik jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan tentu secara otomatis ketika ia seorang istri maka ia tidak dapat memenuhi kewajibannya untuk melakukan hubungan badan dengan suaminya dan ketika ia seorang laki-laki ia juga tidak dapat mendapatkan haknya melakukan hubungan suami istri dari seorang istrinya. Hak dan kewajiban suami istri ini dijamin oleh Negara melalui UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan didalam Pasal 33 yang menyatakan bahwa “suami isteri wajib saling cinta mencintai, hormat menghormati, setia dan memberi bantuan lahir bathin yang satu kepada yang lain”. Hukum islam mengatur mengenai ketentuan bahwa jika suami tidak memberi nafkah wajib selama 3 (tiga) bulan lamanya baik secara lahir dan batin dan membuat sang istri tidak ridho maka istri berhak untuk mengadukan suaminya ke Pengadilan Agama. Nafkah secara lahir diwujudkan dalam bentuk sandang, pangan dan papan sebagai kebutuhan sehari-hari dalam rumah tangga, sedangkan kebutuhan secara batin ialah kebutuhan yang berkaitan dengan biologis

65 dan psikologis seperti kasih sayang, perhatian, dan hubungan seksual (sexual intercourse).

Kebutuhan batin khususnya kebutuhan seksual adalah kebutuhan yang sama pentingnya dengan kebutuhan secara lahir yang juga wajib dipenuhi dan didapatkan oleh kedua belah pihak. Namun, berbagai penelitian yang telah dilakukan oleh para peneliti dan berita mengenai kebutuhan biologis narapidana adalah bentuk justifikasi bahwa hak biologis merupakan hak yang selama ini tidak dipenuhi oleh pemerintah. Rezim pemasyarakatan dengan komitmen hanya menghilangkan hak kemerdekaan juga telah menghilangkan hak biologis dari narapidana. Pengingkaran terhadap adanya kebutuhan biologis bagi narapidana merupakan pengingkaran pula terhadap state of nature (sifat alamiah) seorang narapidana sebagai manusia.1 Bahwa hak untuk membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah telah dijamin didalam Pasal 10 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia karena keluarga adalah kesatuan alamiah dari masyarakat yang harus dilindungi beserta unsur-unsurnya oleh pemerintah.

Disebutkan juga didalam Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik bahwa keluarga adalah kesatuan kelompok yang alamiah serta mendasar dan berhak dilindungi oleh masyarakat dan Negara.2 Prinsip dasar deklarasi International Planned Parenthood Federation (IPPF)3 menyebutkan

1 Aditya Yulis Sulistyawan, Membangun Model Hukum yang Memerhatikan Kebutuhan Seksual Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan: Telaah Paradigma Konstruktivisme.

Semarang: Jurnal Ilmu Hukum Volume 4. No.1. Tanpa Tahun. Hlm. 213

2 Lihat Pasal 23 Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik

3 Menurut IPPF, seksualitas sebagai bahan pribadi semua orang yang terintegrasi dalam tatanan sosial. Sementara individu mengalami seksualitasnya melalui kehidupan mereka dengan cara yang bervariasi tergantung dengan faktor internal dan eksternal, hak asasi manusia yang berhubungan

66 bahwa “Seksualitas merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan setiap orang. Oleh karena itu perlu diciptakan suatu lingkungan yang menjamin terlaksananya hak-hak seksual sebagai bagian dari pengembangan diri”. Komite Hak Asasi Manusia untuk Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik (International Covenant on Civil and Political Rights) yang memiliki wewenang untuk memberikan batasan penafsiran yang bersifat otoritatif (authoritative interpretation) terhadap kovenan tersebut, menjelaskan bahwa “the right to found a family implies, in principle the possibility to procreate and live together”.4 Dari penafsiran tersebut, negara pada prinsipnya wajib melindungi individu dalam membentuk keluarga beserta unsur-unsur ikutan lainnya. Aturan HAM yang ada belum mengatur secara spesifik tentang ruang lingkup masalah pribadi vis-a-vis kebutuhan biologis narapidana. Tetapi, dalam praktik perlindungan HAM di Pengadilan Hak Asasi Manusia Eropa (European Court of Human Rights), kehidupan pribadi (private life) merupakan konsep yang mencakup integritas fisik dan moral seseorang, termasuk kehidupan seksualnya.5

Tujuan pemberian nestapa kepada narapidana tidak semata-semata menghilangkan hak dasar dari esensi manusia. Lembaga Pemasyarakatan yang bertujuan untuk melakukan pendidikan, rehabilitasi dan reintegrasi sosial narapidana harus memperhatikan hak-hak dasar narapidana salah satunya ialah dengan seksualitas, perlindungan dan promosi hak seksual seharusnya menjadi bagian dari keberadaan keseharian semua individu dimanapun. Sesuai dengan piagam kesehatan reproduksi dan kesehatan seksual, IPPF menjamin bahwa semua orang merupakan subyek pembangunan yang sentral/pokok dan penghargaan pentingnya penciptaan lingkungan yang kondusif dimana semua individu dapat menikmati semua hak-hak seksual agar dapat dilakukan bagian yang aktif dalam proses pembangunan ekonomi, sosial dan budaya dan politik. Seksualitas sebagai aspek kehidupan manusia dan sosial yang akan selalu terikat dengan badan pikiran, politik, kesehatan dan tatanan sosial.

4 Lihat General Comment Nomor 19 Protection of the Family, the Right to Marriage and Equality of the Spouses. Article 23

5 Lihat Judgement of 26 March 1985 European Court of Human Rights

67 hak biologis tanpa mengabaikan unsur hukuman yang dijatuhkan. Filosofi pemidanaan yang telah berubah dari sistem kepenjaraan menjadi sistem pemasyarakatan menuntut narapidana untuk dapat diperlakukan secara manusiawi walapun hilang kemerdekaannya. Berbagai dampak negatif yang ditimbulkan baik secara fisik dan psikologis akibat pengabaian hak biologis narapidana ini membuat narapidana digolongkan dalam hukuman yang tidak manusiawi.

Pemerintah dalam konsepsi pemasyarakatan melalui UU Pemasyarakatan telah berkomitmen secara penuh bahwa narapidana yang dikenai hukuman penjara dan tinggal didalam Lembaga Pemasyarakatan tidak boleh menjadi pribadi yang lebih buruk setelah keluar.

Pasal 7 Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik melarang seorang pun dapat dikenakan penyiksaan atau perlakuan atau hukuman lain yang keji, tidak manusiawi atau merendahkan martabat. Selain itu Convention Against Torture and Other Cruel, Inhuman or Degrading Treatment or Punishment yang ratifikasi Negara Indonesia melalui Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1998 mensyaratkan bahwa penyiksaan adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan sengaja sehingga menimbulkan rasa sakit atau penderitaan yang hebat, baik jasmani maupun rohani. Kebutuhan biologis narapidana pada praktiknya ikut terderogasi dengan adanya pidana penjara yang dijatuhkan dengan putusan pengadilan menimbulkan penderitaan jasmani dan rohani bagi narapidana.

Narapidana yang terkurung didalam Lembaga Pemasyarakatan tidak dapat berhubungan dengan keluarganya, terutama istrinya untuk dapat berhubungan suami istri. Perampasan kebutuhan biologis ini menimbulkan rasa sakit dan penderitaan secara jasmani dan rohani baik yang terjadi kepada narapidana

68 maupun pasangan resminya. Penderogasian kesempatan untuk memenuhi kebutuhan biologis ini akhirnya berakibat pada pemenuhan biologis yang dilakukan warga binaan pemasyarakatan baik secara formal, informal dan menyimpang agar dapat mengurangi rasa sakit dan penderitaan yang dirasakan oleh narapidana. Secara tidak langsung hukuman yang dijatuhkan membuat narapidana sebaai manusia berujung pada penyimpangan yang membuatnya melanggar norma agama, norma kesusilaan bahkan norma hukum.

Akibat buruk yang timbul akibat tidak dipenuhinya hak biologis ini menunjukkan Lembaga Pemasyarakatan tidak memposisikan manusia secara utuh dengan tidak memperlakukannya secara manusiawi dan merendahkan martabat manusia. Kebutuhan seks ditempatkan sebagai kebutuhan fisiologis yang sama dengan kebutuhan bernafas, air, tidur dan olahraga dalam hierarki kebutuhan menurut Maslow. Kebutuhan fisiologis ini merupakan kebutuhan fisiologis bersifat neostatik yaitu usaha menjaga keseimbangan unsur-unsur fisik agar mempertahankan kehidupan dan kesehatan. Sehingga pemenuhan secara menyimpang melalui inovasi seksual dilakukan untuk menjaga keseimbangan unsur fisik. Kebutuhan fisiologis ini sangat kuat dan dalam kondisi absolut semua kebutuhan lain ditinggalkan dan orang mencurahkan semua kemampuannya untuk memenuhi kebutuhan ini. Berikut tingkat kebutuhan manusia yang digambarkan dalam piramida kebutuhan yang dicetuskan oleh Abraham Maslow.

69 Gambar 2. Hierarki Kebutuhan Maslow

Sumber: Bahan Hukum Sekunder

Manusia memiliki perbedaan penting dibandingkan makhluk lain, seperti tumbuhan dan binatang. Perbedaan itu tak sekedar perbedaan semata, tetapi membawa konsekuensi bahwa manusia harus mendapatkan perlakuan yang berbeda dengan makhluk lainnya. Prinsip ini tentu saja membawa konsekuensi lain, sebab untuk mewujudkan nilai kemanusiaan sebagai manifestasi (menjunjung tinggi martabat manusia) dibutuhkan sejumlah syarat agar bisa dijalankan.6 Narapidana adalah bagian dari komunitas warga negara sehingga keberadaan narapidana harus diakui dan kebutuhannya sebagai manusia tetap harus dipenuhi baik jasmani dan rohani. Unsur dari negara hukum adalah perlindungan hak asasi manusia, sehingga implikasi Indonesia sebagai negara hukum wajib memperhatikan yang melekat terhadap narapidana termasuk hak biologisnya saat berada di Lembaga Pemasyarakatan. Pemenuhan hak-hak asasi manusia membutuhkan peran aktif negara. Kewajiban dan tanggung jawab

6 Wibawanto. Jalan Kemanusiaan: Panduan untuk Memperkuat Hak Asasi Manusia.

Yogyakarta: Lapera Pustaka Utama. 1999

70 pemerintah termuat dalam Pasal 71 dan Pasal 72 UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia yang menyebutkan bahwa

“Pemerintah wajib dan bertanggung jawab menghormati, melindungi, menegakkan, dan memajukan hak asasi manusia yang diatur dalam undang-undang ini, peraturan perundang-undangan lain dan hukum internasional tentang hak asasi manusia yang diterima oleh negara Republik Indonesia.” (Pasal 71 UU HAM)

“Kewajiban dan tanggung jawab pemerintah sebagaimana diatur Pasal71, meliputi langkah implementasi yang efektif dalam bidang hukum, politik, ekonomi, sosial, budaya, pertahanan, keamanan negara, dan bidang lain.”

(Pasal 72 UU HAM)

Dari Pasal tersebut dapat dimaknai bahwa pemerintah memiliki tanggung jawab terhadap pemenuhak hak asasi warga negaranya yang diwujudkan dalam bentuk usaha-usaha tertentu untuk menghormati (to respect), memenuhi (to fulfill) dan melindungi (to protect). Martabat manusia tidak bisa dilepaskan dari usaha menegakkan martabat manusia itu sendiri. Dibutuhkan usaha berupa peraturan dan penegakkan agar manusia dapat hidup dengan menjunjung tinggi martabat dan kemanusiannya. Bahwa sila kedua Pancasila kemanusiaan yang adil dan beradab mengakui dan menuntut manusia harus diperlakukan sesuai dengan harkat dan martabatnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa.

Jika manusia adalah subyek dalam upaya menegakkan harkat kemanusiaan, maka syarat yang dimaksud tidak lain dari suatu kondisi obyektif tertentu yang memungkinkan manusia mencapai tingkat kehidupan yang sesuai dengan martabat kemanusiaannya. Yang disebut sebagai kondisi obyektif (syarat untuk merealisasikan nilai-nilai kemanusiaan) dengan demikian merupakan kondisi yang menjadi hak manusia, agar ia bisa “menjadi manusia”7 Dalam

7 Ibid.

71 rangka perlindungan hak sipil seseorang, sudah menjadi prinsip hukum, bahwa hukuman yang diberikan kepada seseorang tidak boleh menghilangkan hak keperdataan seseorang.8 Hal ini sejalan dengan Pasal 10 Konvensi Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik yang menegaskan bahwa “setiap orang yang dirampas kebebasannya wajib diperlakukan secara manusiawi dan dengan menghormati martabat yang melekat pada diri manusia.”.9 Bahwa dari pasal ini dapat dilihat komitmen dunia internasional bahwa dalam penghukuman dengan merampas hak kebebasannya tetap harus diperlakukan secara manusiawi sebagai wujud penghormatan martabat manusia yang diberikan kepada Tuhan. Hal ini semakin dikuatkan dalam Komentar Umum Pasal 21 mengenai Pasal 10 ayat (1) yang menjelaskan bahwa:10

Pasal 10 ayat (1) mewajibkan Negara-negara Pihak akan suatu kewajiban positif terhadap orang-orang yang rentan karena status mereka sebagai orang-orang yang dirampas kemerdekaannya, dan sebagai tambahan dari hak mereka untuk bebas dari penyiksaan, perlakuan atau penghukuman lain yang kejam, tidak manusiawi, atau merendahkan martabat manusia yang dilarang oleh Pasal 7 Kovenan. Oleh karena itu, tidak hanya orang-orang yang dirampas kebebasannya tidak boleh manjadi subyek perlakuan yang bertentangan dengan Pasal 7, termasuk eksperiman medis atau ilmiah, tetapi mereka juga tidak boleh menjadi subyek penderitaan atau pembatasan lain dari selain yang diakibatkan oleh perampasan kemerdekaannya; penghormatan atas martabat manusia harus dijamin dalam kondisi yang sama sebagaimana dengan orang-orang yang bebas.

Orang-orang yang dirampas kemerdekaannya harus dapat menikmati semua hak yang dijamin oleh Kovenan, dengan pembatasan yang tidak

8Anonim, Negara Wajib Fasilitasi Hak Dasar Biologis Narapidana.

http://forumkeadilan.com/wawancara/dr-zulfirman-sh-mh-akademisi-universitas-pembinaan-masyarakat-indonesia-upmi-medan/. Diakses 9 Juni 2017

9 Komentar Umum 21 Pasal 10 ayat (1) Konvensi Hak-Hak Sipil dan Politik ini berlaku bagi setiap orang yang dirampas kemerdekaannya atas dasar hukum dan kewenangan Negara yang ditahan di penjara-penjara, rumah-rumah sakit – khususnya rumah sakit jiwa – kamp-kamp penahanan atau lembaga-lembaga pemasyarakatan atau dimanapun. Negara-negara Pihak harus menjamin bahwa prinsip yang tercantum di dalam pasal ini diberlakukan di semua institutsi dan tempat penahanan yang berada di bawah yurisdiksinya.

10 Komnas HAM, Komentar Umum Kovenan Internasional Hak Sipil dan Politik, Kovenan Internasional Hak Ekonomi Sosial dan Budaya (Komentar Umum 21 Pasal 10 ayat (1) Nomor 2 Sesi Keempat Puluh Empat), Komnas HAM. Jakarta: 2009 Hlm. 47

72 dapat dihindari dalam kondisi mereka yang berada dalam lingkungan yang tertutup.

Kebutuhan dasar manusia dalam perspektif hak asasi manusia, merupakan sesuatu yang mutlak diberikan kepada setiap manusia tanpa pengecualian.

Namun, pada tataran praktik, pranata peraturan negara dan tata nilai yang hidup di masyarakat tidak selalu sejalan dengan ide dari perlindungan hak asasi manusia.

Bahkan menurut WHO, dalam implementasinya perlu ada: pemberian hak yang sama bagi napi wanita dan napi pria, ada prosedur yang tidak merendahkan napi di mata staf, dan ada tersedia kondom.11 Mengenai kriteria pengurangan hak asasi manusia yang ditujukkan kepada narapidana dapat dilihat dari sisi yuridis dengan menggunakan berbagai instrumen hukum nasional dan internasional bahwa pengurangan hak kepada narapidana hanya hak kemerdekaan. Sebagaimana prinsip pemasyarakatan yang kesembilan bahwa satu-satunya derita yang dialami adalah dijatuhi pidana hilangnya kemerdekaan, kemudian prinsip ini dimanifestasikan dalam Pasal 1 angka 7 UU Pemasyarakatan menyebutkan bahwa

“narapidana adalah terpidana yang menjalani pidana hilang kemerdekaan di Lapas”. Narapidana dibina dengan menerapkan sistem pembinaan pemasyarakatan dilaksanakan berdasarkan asas:12

a. pengayoman;

b. persamaan perlakuan dan pelayanan;

c. pendidikan;

d. pembimbingan;

e. penghormatan harkat dan martabat manusia;

f. kehilangan kemerdekaan merupakan satu-satunya penderitaan; dan g. terjaminnya hak untuk tetap berhubungan dengan keluarga dan

orang-orang tertentu.

11 World Health Organization, World Health Organization Guidelines on HIV Infection and AIDS in Prisons. Copenagen: Who. 2001. Hlm. 233

12 Lihat Pasal 5 UU Nomor 12 Tahun 1995 tentang Pemasyarakatan

73 Penjelasan Pasal 5 huruf UU Pemasyarakatan menjelaskan bahwa kehilangan kemerdekaan adalah satu-satunya penderitaan yang dapat ditimpakan kepada narapidana, sehingga narapidana harus berada dalam Lapas dalam jangka waktu tertentu agar negara memiliki kesempatan penuh untuk memperbaikinya. Hak asasi bukanlah pemberian dari penguasa tetapi merupakan konsekuensi kodrati sebagai manusia yang berbeda dengan makhluk lainnya.

Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik menjamin dalam Pasal 10 ayat (1) bahwa “setiap orang yang dirampas kebebasannya wajib diperlakukan secara manusiawi dan dengan menghormati martabat yang melekat pada diri manusia.” Selanjutnya dalam Pasal 10 ayat (4) dijelaskan bahwa “sistem pemasyarakatan harus memiliki tujuan utama memperbaiki dan melakukan rehabilitasi dalam memperlakukan narapidana.” Selain itu prinsip kelima dari Basic Principles for the Treatment for Prisoners mewajibkan semua tahanan harus mempertahankan hak asasi manusia dan kebebasan fundamental yang telah ditetapkan dalam Deklarasi Universal tentang Hak Asasi Manusia, Kovenan Internasional mengenai Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, Kovenan Internasional mengenai Hak Ekonomi, Sosial dan Budaya, Konvensi Hak Sipil dan Politik dan Protokol Opsional itu, serta hak lainnya sebagaimana diatur dalam perjanjian Perserikatan Bangsa-Bangsa lainnya dimana berbagai instrumen hukum internasional tersebut menjamin kebutuhan biologis seperti yang telah dijelaskan oleh penuis sebelumnya.

Dari kerangka hukum internasional dapat dilihat bahwa dunia internasional telah menunjukkan komitmen yang nyata untuk mengubah tujuan pemidanaan dari pembalasan menjadi rehabilitasi sosial agar memperbaiki narapidana dengan

74 memperlakukan narapidana secara manusiawi dan menghormati martabatnya.

Pemerintah telah menunjukkan komitmen dan langkah nyatanya melalui pembentukan UU Pemasyarakatan yang menggantikan Peraturan Kepenjaraan di Indonesia sebagai bentuk reorientasi pemidanaan dan pengakuan serta penghargaan martabat manusia. Batasan norma susila dalam pemenuhan kebutuhan biologis haruslah sesuai dengan norma yang berkembang dalam masyarakat, yaitu pemenuhan kebutuhan seksual yang normal dan bertanggung jawab, maka hal ini mewajibkan melakukan hubungan seks dalam satu ikatan yang teratur yaitu dalam ikatan perkawinan yang sah.13

Pemenuhan kebutuhan biologis ini bertujuan untuk melindungi agama, perkawinan dan moral seorang narapidana karena menjaga imannya, sebagai usaha untuk mempertahankankan ikatan perkawinannya dan melindungi dirinya dari hal yang bertentangan dengan nilai dan kesusilaan yang ada di masyarakat.

Lebih lanjut perhatian dan keseriusan pemerintah dalam pemenuhan hak biologis dimulai dari regulasi, fasilitas sampai pengawasan merupakan upaya konkrit dalam mencapai tujuan pemasyarakatan dan membuat narapidana menjadi manusia seutuhnya. Pemenuhan kebutuhan biologis yang tetap dibatasi dengan agama, nilai dan moral yang hidup di masyarakat adalah bentuk pengejawantahan Negara dalam memberikan perlindungan dan pemenuhan mengenai hak-hak sipil dari narapidana yang merupakan bagian dari warga negara.

B. Reformulasi Model Pemenuhan Hak Biologis Narapidana di Lembaga Pemasyarakatan di Indonesia

13 Zamilul Hannah, Tinjauan Yuridis Terhadap Kebutuhan Seksual Narapidana Perempuan (Studi Kasus Lapas Kelas IIA Yogyakarta). Skripsi. UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. 2016.

Hlm. 22

75 B.1 Tujuan Pemidanaan

Pidana penjara merupakan salah satu pidana pokok berdasarkan Pasal 10 KUHP. Menurut P.A.F Lamintang menyatakan bahwa:14

Bentuk pidana penjara adalah suatu pidana berupa pembatasan kebebasan bergerak dari seorang terpidana, yang dilakukan dengan menutup orang tersebut dalam sebuah Lembaga Pemasyarakatan dengan mewajibkan orang itu untuk mentaati semua peraturan tata tertib yang berlaku di Lembaga Pemasyarakatan yang dikaitkan dengan suatu tindakan tata tertib bagi mereka yang telah melanggar peraturan tersebut.

Dahulu pemidanaan bertujuan untuk melakukan pembalasan terhadap narapidana.

Pidana dijatuhkan karena seseorang telah melakuan sebuah kejahatan sehingga akibatnya ia harus menerima pidana sebagai reaksi pembalasan kejahatan yang telah ia lakukan. Penderitaan yang ditimpakan kepada narapidana dibenarkan karena alasan ia pun telah membuat penderitaan bagi orang lain. Walaupun pandangan pemidanaan melalui teori pembalasan ini terbagi menjadi berbagai tipe seperti vindicative, fairness, proportionality dan lainnya namun tujuan dari pemidanaan ialah satu untuk pembalasan dan menimbulkan penderitaan.

Seiring berjalannya waktu tujuan pemidanaan berupa pembalasan pun dianggap tidak lagi sesuai dengan perkembangan zaman. Perlakuan yang hanya dititikberatkan untuk menimbulkan penderitaan sebagai pembalasan membuat posisi narapidana seringkali diperlakukan tidak manusiawi bahkan mengabaikan hak-hak dasarnya sebagai seorang narapidana. Sadar bahwa hukuman yang diberikan dengan maksud penderitaan ini tidak dapat memperbaiki narapidana akhirnya teori pembalasan ini pun ditinggalkan oleh hampir semua negara-negara di dunia. Tujuan pemidanaan pun bergeser dari sebuah pembalasan menjadi

14 P.A.F Lamintang, Hukum Penitensier Indonesia. Bandung: Amrico. 1988. Hlm. 69

76 prevensi terjadinya kejahatan. Teori preventif ini bertujuan untuk menakut-nakuti seseorang agar tidak melakukan kejahatan yang merugikan orang lain.

Teori pencegahan dianggap belum mampu mengakomodir tujuan pemidanaan sehingga lahirlah teori gabungan sebagai adopsi dari tujuan pemidanaan yaitu pembalasan dan pencegahan. Pembalasan dibenarkan dalam sebuah pemidanaan sebagai alat untuk mencegah kejahatan agar terciptanya ketertiban di masyarakat. Sementara itu seiring dengan gerakan reformasi penjara, timbul teori baru bahwa tujuan pemidanaan adalah untuk perawatan dan perbaikan. Teori ini berangkat dari pemikiran bahwa seorang penjahat merupaan seseorang yang sakit sehingga dibutuhkan tindakan treatment (perawatan) dan perbaikan. Selain itu alasan seseorang melakukan kejahatan ialah karena dipengaruhi berbagai faktor baik dari dalam dirinya maupun dari faktor lingkungan yang mendukung ia melakukan kejahatan sehingga tidak dapat dipersalahkan dan dipidana sehingga dibutuhkan perawatan agar dapat memperbaiki narapidana. Perawatan sebagai tujuan pemidanaan dari teori ini melakukan pendekatan secara kemanusiaan sehingga menempatkan narapidana sebagai objek bukan sebagai subjek.

Sementara di Indonesia peraturan kepenjaraan di Indonesia merupakan produk warisan Pemerintahan Hindia Belanda dengan sistem kepenjaraan yang berorientasi pembalasan terhadap narapidana. Peraturan-peraturan seperti

Sementara di Indonesia peraturan kepenjaraan di Indonesia merupakan produk warisan Pemerintahan Hindia Belanda dengan sistem kepenjaraan yang berorientasi pembalasan terhadap narapidana. Peraturan-peraturan seperti

Dokumen terkait