• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METEDOLOGI PENELITIAN

F. Teknik Analisis Data

Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2007) menyatakan bahwa

“ aktivitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung terus menerus sampai tuntas, sehingga datanya jenuh” . kegiatan tersebut yaitu reduksi data, visualisasi data, dan penarikan/verifikasi kesimpulan.

Dapat disimpulkan bahwa teknik analisis data kualitatif dilakukan langsung oleh peneliti dan pengumpulan data dilakukan secara terus menerus sampai ditemukan titik jenuh atau hasil yang diinginkan. Dan melalui tiga tahap operasi. Diantaranya adalah:

a. Data Reduction (Reduksi Data)

Setelah data lapangan dikumpulkan dan dianalisis, langkah selanjutnya adalah mereduksi klasifikasi data, untuk memperoleh data yang lebih mungkin memberikan gambaran yang lebih jelas. Sebagaimana Sugiyono (2010, p.338) menjelaskan bahwa “ mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, mencari tema dan pola” . Reduksi data dimaksudkan untuk memudahkan dalam memahami data yang dikumpulkan dari kerja lapangan. Data yang diperoleh dilapangan ditulis dalam bentuk uraian rinci, kemudian uraian singkat, pemilihan faktor utama, fokus pada faktor-faktor penting sesuai dengan rumusan masalah yang berkaitan dengan masalah. Peningkatan Keterampilan Kewarganegaraan Siswa Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler.

43

Dengan ini data yang sudah direduksi untuk diberikan gambaran yang lebih jelas, dan memudahkan penelitian yang akan melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya apabila dibutuhkan.

b. Data Display (Penyajian Data)

Setelah data direduksi, maka selanjutnya adalah mendisplaykan data.

Menurut Miles dan Hubeman (dalam Sugiyono, 2012, hlm. 249) “ The most frequnt from of display data for qualitative research data in the past has been narrative text” . Menurut pendapat tersebut bahwa yang paling sering digunakan dalam penyajian data penelitian kualitatif adalah teks yang bersifat naratif.

Penyajian ini dapat memberikan gambaran hasil penelitian secara terperinci dan menyeluruh sesuai dengan pola hubungannya. Penyajian data merupakan hasil wawancara dengan kepala sekolah, Guru PPKn, Pembina Ekstrakurikuler Pramuka, ketua/anggota ekstrakurikuler pramuka Di SMKN 1 Bantaeng. Sementara itu observasi lapangan berisikan hasil pengamatan penulis selama berada dilapangan. Kemudian ada pula dokumentasi yang berisikan data-data yang berhubungan dengan penelitian.

Keseluruhan data tersebut dipahami secara terpisah, kemudian disatukan dan di interpretasikan sesuai dengan rumusan masalah.

c. Conclusion Drawing/verification

Langkah terakhir dalam analisis data kualitatif adalah menarik kesimpulan dan memverifikasi. Seperti yang dikemukakan oleh Sugiyono (2010, halaman. 245) bahwa “ temuan-temuan dari penelitian kualitatif dapat menjawab masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi ini juga mungkin tidak benar, karena seperti yang akan dinyatakan bahwa rumusan masalah dan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang begitu peneliti berada di lapangan berubah sewaktu-waktu jika telah ditemukan bukti-bukti yang kuat ditemukan untuk mendukung tahap pengumpulan data selanjutnya Bukti yang valid dan konsisten saat peneliti kembali ke lapangan untuk mengumpulkan data yang kesimpulannya dapat dikatakan reliabel diperoleh hasil penelitian yang dilakukan berupa

44

pertanyaan singkat dan mudah dipahami untuk menyimpulkan tentang gambaran kegiatan ekstrakurikuler Pramuka.

45

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Deskripsi lokasi penelitian hasil penelitian ini dilakukan di SMK Negeri 1 Bantaeng. Sekilas tentang SMK Negeri 1 Bantaeng yang terletak di Jl.

Elang No. 7, Pallantikang, Kec. Bantaeng, Kab. Bantaeng, Sulawesi Selatan.

SMK Negeri 1 Bantaeng salah satu satuan pendidikan jenjang SMK di Kab.

Bantaeng, Sulawesi Selatan. Dalam menjalankan kegiatannya SMK Negeri 1 Bantaeng berada dalam naungan Kementrian Pendidikan Dan Kebudayaan.

Penelitian yang dilakukan memuat tentang strategi peningkatan keterampilan kewarganegaraan (civic skill) siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka di SMK Negeri 1 Bantaeng dengan indikator ada 2 yaitu; Keterampilan intelektual dan Keterampilan partisipasi.

A. Hasil Penelitian

Penelitian ini akan diuraikan berdasarkan rumusan masalah umum dan khsusus, yang termasuk rumusan masalah umum yaitu; Bagaimana strategi peningkatan keterampilan kewarganegaraan (civic skill) siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka di SMK Negeri 1 Bantaeng?.

Dan yang termasuk rumusan masalah khusus yaitu Bagaimana peningkatan keterampilan kewarganegaraan dalam indikator keterampilan intelektual dan keterampilan partisipasi siswa melalui ekstrakurikuler pramuka?. Sebagaimana diuraikan hasil penelitian keterampilan kewarganegaraan siswa melalui ekstrakurikuler pramuka.

Melalui observasi, untuk memperkuat substansi data hasil observasi

46

maka dilakukan wawancara dan penelusuran terhadap dokumen dan arsip yang ada. Semua data hasil penelitian ini diuraikan berdasarkan fokus penelitian mengenai Strategi Peningkatan Keterampilan Kewarganegaraan (Civic Skill) Siswa Melalui Kegiatan Ekstrakurikuler Pramuka yaitu sebagai berikut:

1. Hasil Observasi

Dari hasil observasi dapat disimpulkan beberapa penemuan yang ditemukan dilokasi oleh peneliti ada dua indikator yaitu Keterampilan Intelektual dan Keterampilan Partisipasi seperti yang dijelaskan dibawah ini:

a. Keterampilan Intelektual (intelectual skill)

Keterampilan intelektual dapat dilihat melalui 3 sub indikator yaitu;

mengidentifikasi dan mendeskripsikan, menjelaskan dan menganalisis, mengevaluasi dan mengambil pendapat melalui kegiatan pramuka seperti yang diuraikan dibawah ini:

Keterampilan

47 Tabel 4.1 Hasil observasi

Keterangan : rumus menentukan persentase dari hasil kuesioner

p=f/n × 100

p : Persentase

f : Frewkuensi dari jawaban angket

n : Jumlah responden

T : Terlihat

TT : Tidak Terlihat

 Deskripsi Hasil Observasi keterampilan intelektual yaitu sebagai berikut:

1. Mengidentifikasi dan mendeskripsikan

Mengidentifikasi dan mendeskripsikan hasil yang ditemukan dalam penelitian adalah siswa diminta menjabarkan materi sempahore, terlihat dihari pertama (23/05/2022) siswa menggunakan kode huruf sebagai alat komunikasi jarak jauh dan menjadi cara mengirim sandi – sandi rahasia sehingga tidak diketahui oleh orang lain atau orang awam. Hasil observasi yang peneliti lakukan terhadap siswa yang ikut pramuka dari jumlah 56 siswa terdiri dari kelas X dan IX, menghasilkan siswa dari hasil mengidentifikasi dan mendeskripsikan dengan jumlah responden 7 anggota pramuka yaitu yang terlihat sebanyak 3 siswa dengan persentase

48

43% dan yang tidak terlihat sebanyak 4 siswa dengan jumlah persentase 57%. Dari hasil presentase tersebut terlihat siswa kurang mampu untuk mengidentifikasi dan mendeskripsikan materi yang diberikan karena masih banyak siswa yang keliru memberi kode huruf dalam semaphore.

2. Menjelaskan dan menganalisis

Menjelaskan dan menganalisis adapun hasil yang ditemukan dalam penelitian yaitu siswa diarahkan untuk menjelaskan kembali materi semaphore yang telah diajarkan oleh pemateri. Pada hari pertama (23/05/2022) hasil observasi yang peneliti lakukan terhadap siswa yang ikut pramuka dari jumlah 56 siswa terdiri dari kelas X dan IX, dalam pemberian materi semaphore menghasilkan siswa dengan jumlah responden sebanyak 7 anggota pramuka yang mampu terlihat menjelaskan dan menganalisis materi semaphore sebanyak 5 siswa dengan jumlah persentase 71% yang dihasilkan dan yang tak terlihat sebanyak 2 siswa dengan jumlah persentase 29%. Dari jumlah persentase yang dihasilkan dapat disimpulkan bahwa siswa sudah mampu menjelaskan dan menganalisis materi yang mereka dapatkan dengan bisa memahami, menyampaikan dan mengembangkan materi tersebut.

3. Mengevaluasi dan mengambil pendapat

Hasil observasi mengevaluasi dan mengambil pendapat yang dihasilkan dalam penelitian yaitu siswa berkesempatan untuk bertanya dan menjawab pertanyaan yang diberikan sesuai dengan apa yang mereka pahami. Di hari kedua (24/05/2022) hasil observasi yang peneliti

49

lakukan terhadap siswa yang mengikuti pramuka dari jumlah 56 siswa terdiri dari kelas X dan IX, dalam pemberian materi peraturan baris berbaris menghasilkan siswa yang terlihat mampu mengevaluasi dan mengambil pendapat sebanyak 3 siswa dengan jumlah persentase 43%

dan siswa yang tidak terlihat mampu mengevaluasi materi dan mengambil pendapat sebanyak 4 siswa dengan jumlah persentase 57%.

Dapat disimpulkan bahwa dalam pramuka keterampilan siswa untuk mengevaluasi dan mengambil pendapat kurang mampu karena beberapa siswa hanya diam dan tidak merespon saat berjalannya proses pembelajaran.

b. Keterampilan Partisipasi

Keterampilan partisipasi dapat dilihat melalui 4 sub indikator yaitu;

Kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan dan keputusan untuk bekerja sama, memaparkan tugas dengan suatu masalah, membangun hubungan kerja sama, negosiasi, kompromi, dan mencari kesepakatan, serta mengelolah konflik atau masalah melalui kegiatan pramuka seperti yang diuraikan dibawah ini:

Keterampilan

50 Tabel 4.2 Hasil Observasi

Keterangan : rumus menentukan persentase dari hasil kuesioner

p=f/n × 100

p : Persentase

f : Frewkuensi dari jawaban angket

n : Jumlah responden

T : Terlihat

TT : Tidak Terlihat

 Deskripsi hasil observasi keterampilan partisipasi adalah sebagai berikut:

51

a. Kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan dan keputusan untuk bekerja sama.

Kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan dan keputusan untuk bekerja sama dilihat dari proses siswa dimana mereka mampu bertindak dan usaha bersama dalam mengarahkan kegiatan dalam organisasi. Terlihat di hari kedua (24/05/2022) dalam materi baris berbaris siswa mengatur barisan dengan baik dan kompak, hasil observasi yang peneliti lakukan terhadap siswa yang mengikuti pramuka dari jumlah 56 siswa terdiri dari kelas X dan IX, menghasilkan siswa yang mampu membangun usaha untuk saling bekerja sama agar barisan dari regu atau kelompok mereka tetap rapi sesuai peraturan baris berbaris. Dari hasil observasi kemampuan siswa dalam mempengaruhi kebijakan dan keputusan bekerja sama dengan jumlah responden 7 anggota pramuka dan siswa yang memiliki prosentase siswa yang terlihat mampu yaitu 6 siswa dengan jumlah persentase 86% dan siswa yang tidak terlihat mampu membangun kerja sama dan mempengaruhi kebijakan yaitu sebanyak 1 orang dengan jumlah persentase 14%.

Kesimpulan dari hasi observasi yaitu disini siswa sangat mampu untuk membentuk hubungan bekerja sama dan saling mempengaruhi kebijakan mereka terlihat teratur saat kegiatan baris berbaris, hanya saja ada siswa yang belum mampu menguasai peraturan baris berbaris.

b. Memaparkan tugas dengan suatu masalah

52

Memaparkan tugas dengan suatu masalah dimana siswa dapat menjelaskan dan menganalisis tugas dengan persoalan yang ada tetapi di hari ketiga (16/06/2022) hasil observasi yang peneliti lakukan saat berada dalam ruang kelas tidak ditemukan proses yang menggambarkan siswa memaparkan tugas dengan suatu masalah. Dan ketika siswa ditemui secara personal latihan di lapangan oleh peneliti ditemukan ada beberapa siswa yang mampu memaparkan tugas dengan suatu masalah contohnya dalam latihan pionering dimana siswa mampu membuat tandu untuk keperluan darurat semisal bencana dan kecelakaan sewaktu perkemahan maupun dalam masyarakat. Terhadap siswa yang mengikuti pramuka dari jumlah 56 siswa terdiri dari kelas X dan IX, menghasilkan siswa yang mampu memaparkan tugas dengan suatu masalah dengan jumlah responden 7 anggota pramuka dan siswa yang mampu terlihat memaparkan tugas dengan suatu masalah dalam kegiatan keterampilan tongkat sebanyak 4 siswa dengan jumlah persentase 57% dan siswa yang tidak mampu terlihat sebanyak 3 siswa dengan jumlah persentase 43%.

Jadi bisa disimpulkan dari hasil observasi yang dilakukan siswa cukup mampu memaparkan sebuah tugas dengan suatu masalah seperti yang diuraikan diatas.

c. Membangun hubungan kerja sama, negosiasi,kompromi dan mencari kesepakatan

Dalam membangun hubungan kerja sama, negosiasi, kompromi dan mencari kesepakatan dapat terjadi ketika sebuah tim atau kelompok bisa saling berkomunikasi dengan baik dan adanya umpan balik. Di hari

53

keempat (17/06/2022) hasil observasi yang peneliti lakukan terhadap siswa yang mengikuti pramuka dari jumlah 56 siswa terdiri dari kelas X dan IX, menghasilkan siswa yang diberikan pelatihan materi keterampilan gotong royong. Keterampilan gotong royong merupakan kegiatan untuk bekerja sama untuk mencapai suatu hasil yang didambakan. Dari hasil observasi tersebut dapat disimpulkan bahwa jumlah presentase siswa yang mampu terlihat sebanyak 3 orang dengan jumlah persentase 43% dan yang tidak terlihat sebanyak 4 orang dengan jumlah persentase 57% artinya siswa belum mampu membangun hubungan kerja sama, negosiasi, kompromi dan mencari kesepakatan.

d. Mengelolah konflik atau masalah

Mengelolah konflik atau masalah dalam kehidupan berorganisasi adalah sesuatu yang alamiah. Di mana siswa akan sering berhadapan dengan sebuah konflik terutama dengan sesama pengurus pramuka contohnya dalam kemah gabungan dan di hari kelima (18/06/2022) hasil observasi yang peneliti lakukan terhadap siswa yang mengikuti pramuka dari jumlah 56 siswa terdiri dari kelas X dan IX, menghasilkan dengan jumlah responden 7 anggota pramuka dalam kemah gabungan yang merupakan salah satu kegiatan dalam membentuk realisasi dari keputusan bersama anggota dan pembina ekskul untuk mengaplikasikan hasil pembinaan dari ektrakurikuler pramuka. Dari hasil observasi yang terlihat mampu mengelolah konflik atau masalah sebanyak 2 siswa dengan jumlah presentase 29% dan yang tidak terlihat sebanyak 5 siswa 71%. Dilihat dari hasil tersebut bahwa siswa belum mampu atau

54

menguasai cara mengelolah konflik atau masalah, karena ketika siswa dihadapkan dengan masalah seperti pemikiran yang tidak searah sesama pengurus maka disitu mulai muncul masalah yang membuat hubungan keduanya tidak harmonis tetapi beberapa siswa mampu mencairkan suasana atau mencari solusi untuk masalah yang muncul sebelum meninggalkan area perkemahan.

2. Hasil wawancara

Hasil wawancara yang dilakukan sebagai penguat hasil observasi yang peneliti lakukan dalam peningkatan keterampilan kewarganegaraan (civic skill) siswa melalui ekstrakurikuler pramuka, dapat dilihat dari

pernyataan beberapa informan hasil wawancara di sekolah adalah sebagai berikut:

1) Informan pertama bapak SS, selaku kepala sekolah di SMK Negeri 1 Bantaeng, mengatakan bahwa:

“ Kalau yang saya tahu mengenai Keterampilan kewarganegaraan itu mencakup dua hal yaitu pengetahuan dan partisipasi. Kalau dalam proses belajar kita memberi muatan materi yang sesuai kurikulum. Perlu diperhatikan dalam pembelajaran siswa jangan dituntut untuk langsung paham dengan apa yang dijelaskan” .

2) Informan kedua bapak M, selaku guru PPKn di SMK Negeri 1 Bantaeng, mengatakan bahwa:

55

“ keterampilan intelektual sebenarnya mencakup proses pembelajaran dalam kelas bagaimana siswa itu menerima materi, mendengarkan dan memahami materi tersebut” .

3) Informan ketiga I, ketua ambalan putra dalam pramuka dan merupakan salah satu siswa SMK Negeri 1 Bantaeng, mengatakan bahwa:

“ kak kalau yang saya ketahui keterampilan kewarganegaraan dilihat dari pramuka itu muatannya ada materi atau teori yang membahas pramuka didalamnya kak, kan intelektualnya kak” .

4) Informan pertama A, selaku wakil kepala sekolah bagian kesiswaan SMK Negeri 1 Bantaeng, mengatakan bahwa:

“ Keterampilannya seperti biasa ada teori,demonstrasi, diskusi, dan tutor sebaya. Dalam arti kita sesuaikan antara pengetahuan dan partisipasi.

Dalam metode pembelajaran kita tidak mutlak menekan siswa dengan beban materi dan mengedepankan nilai keterampilan dan pendidikan akhlaknya, sehingga dengan sendirinya materi tercapai tanpa paksaan” .

5) Informan kedua AA, selaku pembina pramuka SMK Negeri 1 Bantaeng, mengatakan bahwa:

“ Kami selalu berpandangan positif terhadap siswa yang lambat dalam pembelajaran, serta berusaha untuk berprasangka baik bahwa Allah SWT menciptakan manusia dengan berbagai kelebihan dan kekurangan masing-masing, begitupun dengan siswa ada kurang dan lebihnya” .

3. Dokumentasi

Untuk memperkuat hasil observasi dan hasil wawancara peneliti juga mengambil arsip dan dokumen dari kegiatan ekstrakurikuler pramuka salah satunya yaitu kegiatan semaphore seperti yang diuraikan dibawah ini:

a. Kegiatan semaphore

56

Muatan materi tentang kegiatan semaphore yaitu salah satu bentuk isyarat menggunakan sebuah bendera yang biasa digunakan ketika perang sipil di Amerika Serikat. Waktu itu bendera yang digunakan adalah bendera berwarna oranye dan putih serta hanya terdiri dari satu bendera. Orang yang bertugas melakukan isyarat bendera umumnya berdiri di sebuah tempat yang tinggi atau di lantai yang tingginya sekitar 2-3 M dari permukaan tanah. Adapun sandi atau simbol yang digunakan yaitu:

b. Program kerja ekstrakurikuler pramuka

Adapun program kerja yang didapatkan oleh peneliti yaitu :

 Program Kerja Inti

57

Wirausaha Untuk pemasukan uang

Bank Sampah Mengurangi Maksimal 1 Lingkungan sekitar

58

Tabel 4.3 Program Kerja Inti

Salah satu program kerja inti dari tabel 4.3 salah satunya yaitu Kegab (Kemah Gabungan) merupakan kegiatan yang dilaksanakan pada tanggal 10/06/2022 bertempat di SMA Negeri 4 Bantaeng yang bertujuan agar rasa kekeluargaan antar penegak di daerah semakin terjalin erat dan juga memperluas wawasan serta menambah keterampilan dalam tukar informasi antar peserta.

 Program Wajib

NO NAMA

KEGIATAN

TUJUAN WAKTU/TEMPAT SASARAN

1 Latihan Wajib Menambah wawasan

59 Tabel 4.4 program kerja wajib

c. Struktur Organisasi

 Struktur dewan ambalan KH. Agus Salim SMK Negeri 1 Bantaeng

Gambar 4.1

60

61

Gambar 4.2

 Deskripsi dewan ambalan SMK Negeri 1 Bantaeng

Dari bagan diatas dijelaskan bahwa adapun struktur organisasi atau struktur dewan ambalan KH. Agus Salim SMK Negeri 1 Bantaeng dalam ekstrakurikuler pramuka yaitu sebagai berikut:

 Ketua pradana/i adalah sosok yang memiliki peran penting dalam

berjalannya roda organisasi di ambalan. Tugasnya yaitu sebagai pemimpin untuk mengkoordinasikan dan mengontrol semua pengurus juga bertanggung jawab atas semua kegiatan yang dilaksanakan.

 Pemangku adat merupakan salah satu sosok sentral dalam ambalan

penegak atau pendega yang bertugas untuk menjaga kelestarian adat, corak kehidupan dan tradisi ambalan yang berlaku.

 Kerani atau biasa disebut sekretaris adalah orang yang menangani

pengelolaan administrasi di ambalan yang bertugas untuk mengadakan, menyampaikan, mencatat dan mengarsip persuratan.

 Juru uang merupakan orang yang mengatur pengelolaan anggaran dalam ambalan yang tugasnya yaitu mengaturpengeluaran dana dengan persetujuan pradana/i dan pembina pramuka.

62

 Bidang teknik kepramukaan merupakan pengembangan program

pendidikan kepramukaan dalam ambalan. Tugas utamanya yaitu membuat perencanaan program pendidikan kepramukaan selama satu tahun bersama pembina gugus depan.

 Bidang kegiatan operasional merupakan salah satu bidang yang ada dan

dikembangkan di Indonesia, bidang ini memiliki tugas yaitu menjalankan semua program kerja dan program pendidikan kepramukaan di ambalan.

 Bidang kesekretariatan yaitu salah satu bidang yang mewadahi penataan

dan pengelolaan kegiatan administrasi bertugas untuk melakukan pendataan terhadap pengarsipan surat baik yang masuk maupun keluar bidang ini juga membantu tugas dari kerani atau sekretaris.

B. Pembahasan

Proses peningkatan keterampilan kewarganegaraan siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler pramuka terdiri dari keterampilan intelektual dan keterampilan partisipasi. Keterampilan intelektual mencakup mengidentifikasi dan mendeskripsikan, menjelaskan dan menganalisis, mengevaluasi dan mengambil pendapat, dan Keterampilan partisipasi mencakup kemampuan untuk mempengaruhi kebijakan dan keputusan untuk bekerja sama, memaparkan tugas dengan suatu masalah, membangun hubungan kerja sama, kompromi dan mencari kesapakatan, mengelolah konflik atau masalah.

63

Dalam ekstrakurikuler pramuka terlihat strategi peningkatan keterampilan kewarganegaraan dalam beberapa kegiatan yaitu semaphore, keterampilan tongkat, peraturan baris berbaris, kemah gabungan keterampilan gotong royong.

Keterampilan kewarganegaraan yang perlu ditingkatkan dalam ekstrakurikuler pramuka tertuang dalam dhasa darma pramuka dan try satya pramuka.

 Dasa dharma pramuka yaitu :

1. Takwa kepada tuhan Yang Maha Esa

2. Cinta alam dan kasih sayang sesama manusia

3. Patriot yang sopan dan ksatria

4. Patuh dan suka bermusyawarah

5. Rela menolong dan tabah

6. Rajin terampil dan gembira

7. Hemat, cermat dan bersahaja

8. Disiplin, berani dan setia

9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya

10. Suci dalam pikiran, perbuatan dan perkataan

 Try satya berbunyi:

64

“ demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh dalam menjalankan kewajibanku kepada tuhan Yang Maha Esa dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, menolong sesama makhluk hidup dan mempersiapkan diri membangun masyarakat serta menepati dasa dharma.

Hal diatas mengindikasikan bahwa kemampuan atau keterampilan untuk menjadi warga negara yang baik diajarkan di sekolah melalui kegiatan ekstrakurikuler salah satunya adalah pramuka.

Hal tersebut membuktikan bahwa kegiatan ekstrakurikuler pramuka di SMK Negeri 1 Bantaeng dalam menyelenggarakan kegiatan ekstrakurikuler sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor 39 Tahun 2008 tentang pembinaan kesiswaan, pada pasal 1 menyatakan bahwa tujuan pembinaan kesiswaan adalah sebagai berikut:

a. Mengembangkan potensi siswa secara optimal dan terpadu meliputi bakat, minat dan kreativitas.

b. Memantapkan kepribadian siswa untuk mewujudkan ketahanan sekolah sebagai lingkungan pendidikan sehingga terhindar dari usaha dan pengaruh negatif yang bertentangan dengan tujuan pendidikan.

c. Mengaktualisasikan potensi siswa dalam pencapaian prestasi unggulan sesuai bakat dan minat.

65

d. Menyiapkan siswa agar menjadi warga negara dan masyarakat yang berakhlak mulia, demokratis, menghormati hak-hak asasi manusia dalam rangka mewujudkan masyarakat madani (civil society).

Hal tersebut disebabkan bahwa dampak dari adanya kegiatan ekstrakurikuler pramuka dan aktifnya siswa dalam kegiatan ekstrakurikuler pramuka memberikan tempat dan wahana yang baik bagi siswa dalam mengembangkan bakat dan keahliannya sesuai dengan minat yang sesuai keinginan mereka, sehingga memberikan kegiatan positif yang mengarah kepada kebaikan siswa serta melatih dan mengembangkan kemampuan siswa agar bisa menjadi warga negara yang baik yang nantinya bakal menjadi bekal dalam kehidupannya di masyarakat.

Sebagai strategi dalam meningkatkan keterampilan kewarganegaraan siswa melalui kegiatan ekstrakurikuler pramuka, maka pembina melakukan berbagai terobosan dan langkah-langkah sehingga kegiatan ekstrakurikuler pramuka tetap dapat berjalan sesuai dengan jadwal yang telah ditentukan. Berdasarkan analisis peneliti selain peran kegiatan ekstrakurikuler pramuka dalam meningkatkan keterampilan kewarganegaraan yang dapat terwujud, maka ada hal yang lebih penting dari kegiatan ini, yaitu bagaimana seorang pembina mampu memberikan contoh sikap disiplin yang baik kepada siswa ketika melaksanakan latihan, kepala sekolah dan guru beserta elemen-elemen sekolah lainnya ketika jam formal,sehingga terjadinya sinergi antara jam formal dan non formal.

66

Dengan demikian antara sekolah dan ekstrakurikuler pramuka akan menghasilkan siswa yang betul-betul mampu menerapkan keterampilan intelektual dan keterampilan partisipasinya sebagai kebiasaan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan kewarganegaraan akan terwujud jika muncul dari dalam diri sendiri, karena jika terbentuk dari diri siswa maka keterampilan kewarganegaraan siswa dapat dibiasakan terutama di lingkungan sekolah untuk diajarkan pentingnya keterampilan kewarganegaraan itu. Jadi wujud nyata keterampilan kewarganegaraan siswa dilihat dari cara siswa berpakaian rapi sesuai dengan tata tertib yang telah ditentukan dilingkungan pramuka dan bertutur kata yang baik kepada bapak ibu guru, teman-temannya, diharapkan sudah seharusnya siswa yang berperilakuan baik juga dapat

Dengan demikian antara sekolah dan ekstrakurikuler pramuka akan menghasilkan siswa yang betul-betul mampu menerapkan keterampilan intelektual dan keterampilan partisipasinya sebagai kebiasaan siswa dalam kehidupan sehari-hari. Keterampilan kewarganegaraan akan terwujud jika muncul dari dalam diri sendiri, karena jika terbentuk dari diri siswa maka keterampilan kewarganegaraan siswa dapat dibiasakan terutama di lingkungan sekolah untuk diajarkan pentingnya keterampilan kewarganegaraan itu. Jadi wujud nyata keterampilan kewarganegaraan siswa dilihat dari cara siswa berpakaian rapi sesuai dengan tata tertib yang telah ditentukan dilingkungan pramuka dan bertutur kata yang baik kepada bapak ibu guru, teman-temannya, diharapkan sudah seharusnya siswa yang berperilakuan baik juga dapat

Dokumen terkait