• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

J. Teknik Analisis Data

Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik analisis data dari Miles dan Huberman dalam Sugiyono (2013: 246) yaitu pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

Aktivitas dalam analisis data, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.

1. Reduksi Data

Mereduksi data berarti merangkum, yaitu proses pemilihan, pemusatan, perhatian, pada penyederhanaan, abstrak, dan transformasi data kasar yang diperoleh di lapangan studi (Sugiyono, 2009: 92).

Reduksi data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dengan merangkum data, memilih hal-hal pokok, disusun lebih sistematis, sehingga data dapat memberkan gambaran yang lebih jelas tentang hasil pengamatan dan mempermudah penulis dalam mencari kembali data yang di peroleh dan di perlukan. Langkah ini di maksudkan agar data yang di peroleh dan di kumpulkan lebih mudah untuk dikendalikan.

47 2. Penyajian Data

Penyajian data ini dapat dilakukan dengan bentuk table, grafik, phie card, pictogram, dan sejenisnya (Sugiyono, 2009: 95). Dengan melihat sajian data, penulis akan dapat memahami apa yang sedang terjadi dan apa yang harus di lakukan yang memungkinkan untuk menganalisis dan mengambil tindakan lain berdasarkan pemahaman.

3. Pengambilan atau Penarikan Kesimpulan

Kesimpulan yang di verifikasi adalah berupa suatu pengulangan sebagai pemikiran kedua yang timbul melintas pada penulis waktu menulis. Penarikan kesimpulan dan verifikasi yang di kemukakan masih bersifat sementara, dan akan berubah bila tidak di temukakn bukti-bukti yang kuat yang mendukung pada tahap pengumpulan data berikutnya (Sugiyono, 2009: 99).

48 BAB IV

GAMBARAN UMUM OBYEK WISATA

A. Sejarah Obyek Wisata

Masyarakat sekitar memiliki ide untuk menjadikan desa wisata Blue Lagoon atau yang dulunya bernama Mata Air Tirta Budi Dalem di awali oleh beberapa mahasiswa/i yang sedang melakukan kegiatan KKN di sekitar desa Widodomartani, Ngempak, Sleman yang sedang berjalan-jalan dan mengambil beberapa foto di sekitar Blue Lagoon lalu di upload ke internet sehinga banyak masyarakat luar yang mengenal. Melihat potensi itulah Pak Suhadi dan beberapa masyarakat yang lainnya memiliki ide dan gagasan untuk menjadikan desa wisata dengan mengumpulkan seluruh warga masyarakat dengan memanfaatkan sumber daya alam dan sumber daya manusia yang ada untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekiat Blue Lagoon melalui terbentuknya sebuah desa wisata. Blue Lagoon mulai dikelola pada bulan September tahun 2014 dan diresmikan menjadi desa wisata oleh pemerintah Kabupaten Sleman yaitu Drs. H. Sri. Purnomo, M.SI. selaku Bupati Sleman periode 2010-2021 pada tanggal 22 Maret 2015 sehingga menjadi hari jadi Blue Lagoon sekaligus juga memperingati hari air sedunia.

Blue Lagoon merupakan salah satu obyek wisata pemandian mata air yang muncul dari permukaan tanah kolam Blue Lagoon dan juga kumpulan dari 11 sumber mata air yang terdiri dari air laut utara, air laut

49

selatan, air yang diambil dari sumber para wali dan raja-raja, air hujan yang jatuh pada malam hari.

Dalam melestarikan mata air serta melestarikan budaya lokal (jawa), masyarakat sekitar Blue Lagoon selalu mengadakan upacara Murti Sumber setahun sekali setiap tanggal 25 Sha’ban atau sambil menyambut bulan suci ramadhan sekaligus ucapan syukur karena mata air yang berada di Blue Lagoon bisa menimbulkan kesejahteraan bagi warga masyarakat sekitar.

Upacara Murti Sumber menggelar seni dan budaya selama 2 minggu dan pada puncak acara terdapat penuangan 11 sumber mata air yang sudah di tuang ke dalam satu kendi kemudian tamu-tamu VVIP yang akan menuangkan ke kolam desa wisata Blue Lagoon.

Terdapat berbagai seni dan budaya yang ditampilkan dalam upacara Murti Sumber seperti seni tari, jatilan, ketoprak dan berbagai kesenian jawa yang merupakan suatu budaya kearifan lokal. Setelah itu di ikuti dengan empat gunungan Gunungan Nasi Wiwit, Gunungan Cara, Gunungan Sayuran, Gunungan Hasil Bumi untuk dijadikan rayahan masyarakat (dalam adat jawa).

Mayoritas masyarakat yang ikut mengelola desa wisata Blue Lagoon adalah masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan diluar dan warga masyarakat yang berprofesi sebagai petani sehingga hanya mengandalkan penghasilan dari Blue Lagoon saja. Namun ada pula beberapa masyarakat yang sudah memiliki pekerjaan namun tetap ikut mengelola desa wisata

50

Blue Lagoon sehingga hanya dijadikan sebagai sambilan / pekerjaan sampingan.

B. Susunan Pengurus Wisata Blue Lagoon

Ketua : Suhadi

Wakil : Sunar

Sekertaris : Yuda Pratama

Bendahara : Hariyanto

Seksi Pembangunan : Sukarto Seksi Pedagang dan Koperasi : Bu Gandung

Seksi Keamanan : Dodo Bayu

Seksi Humas : Widodo

51 BAB V

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Lokasi Penelitian 1. Pelaksanaan Pengambilan Data

a. Waktu Penelitian : Penelitian ini dilakukan pada bulan Juli 2020 hingga bulan Agustus 2020.

b. Tempat Penelitian : Penelitian ini berlangsung di desa wisata Blue Lagoon Area Sawah, Widodomartani, Kec Ngemplak, Kab Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55584.

2. Keadaan Umum Desa Wisata Blue Lagoon

Blue Lagoon merupakan pemandian alam mata air yang berada di Area Sawah, Widodomartani, Kec Ngemplak, Kab Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta 55584. Daya tarik desa wisata ini adalah lokasi yang mudah ditemukan serta dapat diakses dengan kendaraan roda dua maupun roda empat, airnya yang jernih, aliran air yang cukup tenang, dan suasana alam yang masih sangat asri dan sejuk.

3. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Analisis dalam penelitian ini berdasarkan kepada pendapat Miles dan Hubberman (1992) yang menjelaskan bahwa analisis data terdiri dari tiga alur kegiatan, yaitu :

52

a. Reduksi Data, yaitu proses pemilihan data-data yang muncul dari catatan yang tertulis di lapangan. Reduksi data dilakukan terus-menerus selama kegiatan penelitian berlangsung

b. Penyajian Data, yaitu data berupa sekumpulan informasi tersusun yang memberikan penarikan kesimpulan dan pengambilan tindakan.

Dalam bentuk yang sederhana penyajian data merupakan uraian deskriptif yang merupakan kumpulan dari sejumlah data yang diperoleh peneliti dan siap untuk dianalisis menuju pada kesimpulan-kesimpulan.

c. Menarik Kesimpulan yaitu kegiatan menyimpulkan makna-makna yang muncul dari data yang harus dijui kebenarannya.

B. Reduksi Data

Reduksi data yang dimaksud dalam penelitian ini adalah dengan merangkum data, memilih hal-hal pokok, disusun lebih sistematis, sehingga data yang diperoleh dapat memberikan gambaran yang lebih jelas tentang hasil pengamatan dan mempermudah penulis dalam mencari kembali data yang di peroleh dan di perlukan. Berikut adalah hasil dari data yang diperoleh:

1. Masyarakat yang ikut berpartisipasi (Pengeola Blue Lagoon)

Kontribusi dapat diberikan dalam berbagai bidang yaitu pemikiran, kepemimpinan, profesionalisme, finansial, dan lainnya.

Kontribusi adalah suatu keterlibatan yang dilakukan oleh seseorang atau organisasi yang kemudian memposisikan dirinya terhadap peran dalam

53

masyarakat sehingga memberikan dampak yang kemudian dinilai dari beberapa obyek. Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan kontribusi dalam Desa Wisata Blue Lagoon ialah sumbangan dan keterlibatan masyarakat dalam mengembangkan obyek wisata.

a. Pak Suadi (ketua sekaligus pendiri desa wisata Blue Lagoon) Respon atau partisipasi masyarakat sekitar saat terbentuknya desa wisata Blue Lagoon sangat antusias. Sejak awal hingga saat ini kebetulan memang saya dan bersama masyarakat disini untuk menggerakkan serta mengelola keseluruhan desa wisata ini. Pada awalnya kami sudah membentuk atau merekrut masyarakat ibu-ibu untuk membuat ciri khas batik sini untuk souvenir khas Blue Lagoon, terdapat tiga macam jenis batik yang ada namun setelah terbentuk kelompok membatik tersebut mereka malah tidak mau mengembangkan justru malah mempunyai ide sendiri padahal sudah diresmikan untuk menjadi souvenir batik ciri khas di sini. Jadi sebenarnya sudah ada tiga macam batik dan mungkin juga kedepan akan ada gantungan kunci dan buku, karena rencana saya mau membuat buku. Sementara batik tetap produksi namun mereka tidak membuat untuk ciri khas sini padahal dari awal kita yang sudah mengadakan pelatihan serta membelikan alat-alatnya.

Setelah 6 bulan kita kelola saya langsung minta Blue Lagoon untuk diresmikan ke Bupati Sleman, 1 tahun setelahnya saya kembangkan ke arah seni budaya dan adat sdengan membentuk upacara adat

54

Murti Sumber dan sekaligus untuk mensyukuri tempat ini. Kita selalu mengadakan acara seni dan budaya setahun sekali yaitu adat Murti Sumber setiap tanggal 25 Sha'ban atau sambil menyambut bulan suci ramadhan, kita menggelar seni dan budaya selama 2 minggu dan pada puncak acara kita menuangkan 11 sumber mata air yang terdiri dari air laut utara, air laut selatan, air yang diambil dari sumber para wali dan raja-raja, air hujan yang jatuh pada malam hari lalu kita tuang ke dalam satu kendi kemudian tamu-tamu VVIP lah yang menuangkan kesini. Beberapa seni dan budaya yang ditampilkan dalam acara adat Murti Sumber ada seni tari, jatilan, ketoprak dan macem-macem yang pasti kesenian jawa yang merupakan suatu seni dan adat budaya kearifan lokal. Adapun beberapa kendala dalam masa pembangunan dan perkembangan Blue Lagoon namun menurut saya hanya kendala kecil-kecil.

Kendala paling utama adalah keuangan karena dari awal kita adalah swadaya tanpa modal sedikitpun, kalau kendala manusia memang ada yang pro dan kontra itu hal yang wajar bagi saya lalu kendala alam dengan adanya bencana alam seperti banjir dimusim penghujan itu adalah hal yang wajar.

Jumlah pengunjung sendiri ditahun 2018 sekitar 70.000 orang setahun jika dijumlah total dengan adanya desa wisata ini dan diuangkan dari tiket wisatawan harian saja belum dari kegiatan homestay, camping, pedagang, dan lain-lain sekitar 700jt setahun.

55

Kalau total keseluruhan rata-rata dengan adanya desa wisata ini masuknya perputaran uang di dusun ini sekitar hampir 1Milyar sudah termasuk kegiatan homestay, camping, pedagang, dan lain-lain. Uang yang diterima dengan adanya desa wisata ini kembali lagi ke warga, setiap minggu saya bagi hasil perputaran uang di dusun ini untuk tenaga kerja, anak yatim, tempat ibadah (infaq), dana sosial, asuransi, dana pembangunan, dana untuk warga yang terkena musibah dan lain-lain.

b. Pak Sunar (wakil ketua Blue Lagoon)

Partisipasi masyarakat sekitar sangat antusias pada saat awal memiliki gagasan atau ide untuk mengembangkan desa wisata Blue Lagoon ini sampai dalam masa pembagunan saat ini, namun memang tidak semua masyarakat ikut mengelola karena banyak warga masyarakat sekitar sini yang sudah memiliki pekerjaan lain.

Adapula masyarakat yang sudah memiliki pekerjaan lain namun tetap membantu untuk mengelola desa wisata Blue Lagoon ini, kebanyakan masyarakat yang ikut mengelola desa wisata Blue Lagoon ini adalah masyarakat yang tidak memiliki pkerjaan lain sehingga hanya menggantungkan hasil mata pancahariannya dari sini saja.

Banyak kontribusi yang diberikan masyakarat apalagi memang sudah dibagi dalam bagian-bagiannya tapi ya bukan berarti sudah ada bagian-bagiannya lalu tidak memperhatikan pekerjaan lainnya.

56

Seperti saya kalau memang toilet atau bagian tiket tidak ada yang jaga ya saya yang jaga, walaupun memang bukan tugas saya namun bukan berarti saya tidak peduli. Saat adanya pandemi covid-19 sepeti ini sebagian waktu kita gunakan untuk mengembangkan tempat ini seperti membangun gapura dan lain-lain sehingga pada saat pandemi sudah selesai dan tempat wisata sudah resmi di buka kembali tempat ini sudah siap di kunjungi dan sudah lebih bagus dari sebelumnya.

Saya sebagai warga yang hanya menggantungkan hasil mata pancaharian dari Blue Lagoon saja merasa mendapatkan dampak yang sangat baik dengan adanya Blue Lagoon ini karena saya bisa menghidupi keluarga saya dengan bekerja disini. Kita juga sering mengadakan acara kesenian dan budaya untuk mengembangkan serta melestarikan budaya terutama budaya lokal.

c. Mas Gandung dan Pak Yatno

Respon masyarakat sekitar dengan adanya desa wisata Blue Lagoon sedang-sedang saja, dalam artian ada yang pro dan sangat antusias dengan ikut mengelola guna mengembangkan desa wisata ini namun ada pula yang kontra. Sebagai pengelola banyak kontribusi yang diberikan baik itu sesuai dengan yang sudah dibagikan sesuai dengan struktur organisasi ataupun bila ada sesuatu yang perlu dikerjakan walaupun itu bukan bidangnya `tetap kita kerjakan contohnya seperti pembangunan gapura dan pendopo/ gazebo. Saat awal-awal terbentuknya desa wisata Blue Lagoon memang warga disini harus

57

diberi tahu terlebih dahulu karena masyarakat sekitar juga tida tahu kalau tidak ada woro-woro (pengumuman) terlebih dahulu. Desa wisata Blue Lagoon tidak memaksa masyarakat sekitar untuk mengeluarkan dana pribadi melainkan masyarakat mendapatkan banyak keuntungan. Sebagai contohnya kami, kami tidak perlu mencari pekerjaan dimana-mana karena disini sudah tersedia pekerjaan yang harus dijaga dan dikelola. Kalaupun sudah terlanjur bekerja diluar tidak apa-apa dan tetap bekerja disini sebagai sambilan, hanya saja rata-rata kami yang menjadi pengelola disini merupakan masyarakat yang tidak memiliki dan tidak ingin mencari pekerjaan diluar. Dari segi sosial budaya, makin kesini makin maju karena yang dulunya tidak hidup dan hilang saat ini dihidupkan lagi seperti kesenian jathilan dan kesenian lokal lainnya. Kesenian budaya ini sebenarnya sudah cukup lama mulai berjalan kembali karena awal mula desa wisata ini terbentuk kami sudah mengadakan acara kesenian tersebut.

d. Mas Yanto

Masyarakat disekitar Blue Lagoon, khususnya warga yang tinggal disekitar sini cukup antusias dalam membantu pengembangan tempat wisata ini. Tetapi pada saat pandemi seperti ini ada sebagian warga yang sebelumnya ikut bantu-bantu disini sekarang lebih memilih untuk tinggal dirumah terlebih dahulu. Kalau dari segi pengelola semua sudah dibentuk secara terstruktur, ada yang berjaga

58

di pos masuk, ada petugas kebersihan, keamanan, pelayanan souvenir, dan lain-lain. Sebelum adanya pandemi ada sekitar 30 orang, sekarang bisa dihitung jari orang yang berpartisipasi secara langsung. Bagi saya sendiri yang saya rasakan dari segi ekonomi adalah saya bisa mendapatkan penghasilan disini, jadi tidak perlu mencari pekerjaan diluar lagi. Jadi dapat dikatakan bahwa Blue Lagoon membantu perekonomian warga sekitar sini. Dari segi budaya ada berbagai kesenian yang ditampilkan sekali dalam setahun, antara lain seni tari, jathilan, dan ketoprak. Sebagai puincaknya ada upacara Murti Sumber yang diadakan pada tanggal 25 Sha’ban. Kalau untuk pedagang sebenarnya ada yang berjualan makanan, snack, dan minuman. Sebelum pandemi (pedagang) boleh berjualan didalam area Blue Lagoon yang didekat parkir motor itu, hanya saja untuk sementara tidak boleh dulu mengingat keadaan sekarang.

2. Masyarakat yang tidak berpatisipasi langsung

Pada penelitian ini yang menjadi subyek adalah masyarakat yang ikut berpartisipasi dalam mengelola desa wisata Blue Lagoon (pengelola) dan masyarakat yang tidak ikut berbartisipasi (pedagang).

59

a. Ibu Lanjar pedagang bakso dan sempol

Saya kan juga seorang perempuan jadi saya lebih memilih berdagang dan tidak kerja fisik. Selain itu saya juga memang sudah lama berdagang bahkan sebelum adanya Blue Lagoon saya sudah berdagang, dan memang orang tua saya dari dulu juga pedagang berjualan bakso. Kalau untuk tanggapan masyarakat lainnya memang semua ada yang pro dan kontra. Apalagi saya kan tidak mempunyai warung permanen di Blue Lagoon karena memang saya sudah berdagang keliling sebelum adanya desa wisata ini jadi saya berjualan menggunakan motor, namun sejauh ini tanggapannya semua baik-baik saja dan tetap boleh berdagang di lokasi Blue Lagoon.

b. Ibu Rika pedagang ayam geprek

Mungkin karena saya istri dan seorang perempuan sehingga tidak ikut kerja fisik, karena suami juga ketua disana istilahnya saya juga mendukung ajalah gitu dengan berjualan disana. Kalau pengelola sebenarnya semua tanggapannya baik ke masyarakat, baik yang mendukung maupun yang tidak mendukung semuanya baik. Semua warga masyarakat sekitar boleh berjualan disana karena itu juga milik bersama dan milik warga kampung juga, jadi yang namanya untuk bersama pasti mereka juga yang merasakan kalau yang mendukung kalau tapi kalau yang tidak mendukung ya terserah gitu.

Tapi kalau pengelola walaupun tidak mendukung sekalipun tetap

60

baik dan tetap usaha merangkul walaupun aslinya tidak mendukung.

Jadi secara garis besar semua dianggap saja mendukung semua karena kan memang untuk bersama juga dan hasilnya juga mereka juga yang merasakan. Kalau yang tidak mendukung ya terserah monggo (silahkan) karena masih banyak yang mendukung dari pada yang tidak mendukung sampai maju seperti ini kan juga karena pengelola dan warga masyarakat yang mendukung-mendukung itu sehingga bisa jadi seperti ini bisa maju dan bisa terkenal juga.

Apalagi kalau liburan kebanyakan pengunjungnya dari luar kota semua.

c. Ibu Samsyah pedagang minuman ringan

Saya tidak bisa kalau disuruh ikut mengelola karena saya bisanya hanya bergadang saja dan saya kurang pengalaman juga dalam mengelola hal-hal seperti itu, sehingga saya lebih memilih berdagang saja. Sejauh ini masyarakat lainnya menerima dengan baik semua.

d. Ibu Heni pedagang minuman dan makanan ringan

Saya bisanya hanya berjualan pada hari sabtu minggu, karena suami saya juga bekerja sehingga saya hanya dirumah dan tidak bisa berjualan. Karena suami saya kan 5 hari kerja sehingga hanya bisa di hari sabtu dan minggu saja. Sejauh ini pihak pengelola tidak merasa bermasalah malah saling membantu dan menerima dengan baik. Bapaknya (suami bu Heni) kerja dan saya mempunyai

61

sambilan menjahit dirumah dan bapaknya kalau libur hanya hari sabtu dan minggu, kalau disuruh full jualan gitu tidak bisa jadi cuma pas tanggal merah dan hari libur saja baru bisa berjualan.

e. Bu Iis pedagang tempura

Saya seorang pensiunan guru dan untuk menjadi pengelola sudah dipilih dari ketua pengelola. Menurut saya pengelola ditempat ini seperti ingin menguasai sendiri, seperti yang tadinya yang berdagang didalam area wisata disuruh naik dan hanya bisa berjualan di pintu masuk area wisata. Maka dari itu banyak pedagang yang kurang suka dengan manajemen desa wisata ini, padahal seharusnya menurut saya kalau tempat wisata itu kan seharusnya yang berjualan banyak dan tidak jauh dari lokasi wisata sehingga pengunjung senang.

Padahal sebelumnya saya punya warung bakso di depan lapangan dan sekarang tidak boleh berjualan disitu, akhirnya tidak berjualan disitu dan saya berjualan tempura disini. Disini semua mengeluh karena harus berjualan seperti ini dan dulu kalau lebaran semua warga masyarakat sekitar diberi bingkisan, tidak terlalu di pikirkan harganya tetapi rutin. Kalau pengelola sendiri diberi THR dan bingkisan yang cukup besar namun itu khusus hanya untuk pengelola saja.

62 3. Pengunjung

a. Vega dan Mita

Ini baru pertama kali kami datang ke sini (Blue Lagoon), sebenarnya kalau dilihat dari foto terlihat seperti lebih bagus jadi yang kita lihat di internet ada air terjunnya disebelah sana (bagian ujung sungai yang lumayan dalam) cuman ini terlalu sedikit ya, tapi menurut kami ini bagus sih karena ternyata airnya sangat jernih. Pokoknya kesannya banyak sih dan senang bisa dateng sama teman-teman kesini karena dekat juga dari Jogja (kota). Kami mendapatkan informasi dari teman-teman yang udah pernah kesini namun karena terlalu banyak orang (pengunjung) jadi gazebonya full di pakai dan karena covid jadi di batasi untuk setiap gazebonya (ada jumlah maksimal tiap gazebo). Blue Lagoon airnya sangat jernih dan lumayan untuk sekedar mandi-mandi (berendam) dan refreshing.

b. Tama

Saya kan baru pertama kali kesini (Blue Lagoon), menurut saya tempatnya sih oke cukup hijau tapi masalahnya kalau pas saya datang hari ini masih banyak toko makanan yang tutup (warung), jadi kalau misalkan mau beli makanan atau minuman harus keluar dulu. Sebenarnya ada sih didepan pintu masuk akan tetapi terasa lumayan jauh . Dapat informasi sama pacar saya dan menurut saya so far so good, hanya saja kamar mandi atau toiletnya terlalu jauh dari gazebo pengunjung. Menurut saya akan lebih bagus kalau ada

63

tempat ganti baju / kamar mandi yang tidak jauh dari objek wisata dan gazebo pengunjung. Tempatnya yang hijau, asri dan kebetulan saya juga suka outdoor serta suara deruan air kalinya membuat saya suka aja gitu.

c. Jihan

Menurut saya mungkin gara-gara airnya kering sehingga airnya kurang deras dan menjadi kurang menarik. Setau saya dulu Blue Lagoon pernah masuk keacara TV lokal (Jogja) tapi kalau sekarang saya kesini karena diajak adik. Fasilitas yang di sediakan disini menurut saya cukup nyaman seperti gazebonya lumayan nyaman untuk sekedar duduk-duduk dan bersantai tapi mungkin karena covid-19 jadi tidak ada orang yang berjualan di sekitar sini. Kalau saya tidak bisa berenang jadi hanya ikut-ikutan saja, tapi daya tarik Blue Lagoon sehingga banyak yang berwisata disini karena airnya jernih dan nyaman untuk sekedar berendam dan bermain.

d. Cindy

Blue Lagoon sangat menyenangkan karena airnya jernih dan dingin.tempatnya pun tidak sulit dicari dan pendoponya(gazebo) juga cukup banyak dan muat banyak serta nyaman. Sangat senang

Blue Lagoon sangat menyenangkan karena airnya jernih dan dingin.tempatnya pun tidak sulit dicari dan pendoponya(gazebo) juga cukup banyak dan muat banyak serta nyaman. Sangat senang

Dokumen terkait