• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

G. Teknik Analisis Data

Semua data yang berasal dari sumber data dalam penelitian ini adalah subjek yang menjadi informan, yaitu orang yang memberikan informasi atau menjawab pertanyaan peneliti berupa wawancara, observasi, wawancara dan dokumentasi. Oleh karena peneliti ini bersifat kualitatif, maka anallisis datanya adalah menggunakan metode kualitatif pula. Semua data yang telah terkumpul dianalisis dan disajikan secara deskriptif melalui proses berikut.

Proses analisis data dimulai dari seluruh data yang berasal dari observasi, wawancara dan dokumentasi pribadi, dan dokumen resmi. Langkah selanjutnya mengadakan reduksi data yang dilakukan dengan membuat rangkuman, satuan-satuan dan dikategorikan.

Proses analisis data mengenai “Pembuatan tas dari Daun Pandan” dilakukan dengan cara yaitu, membaca, bertanya, mempelajari, menelaah data yang bersifat umum yang ada dalam sumber kepustakaan mengenai pengertian proses pembuatan, unsur-unsur yang berpengaruh pada kerajinan anyaman. Kemudian penulis mempelajari dan menelaah data yang berhasil dikumpulkan melalui observasi, wawancara mengenai hal-hal yang menyangkut proses pembuatan seni kerajinan anyaman tas dan selanjutnnya data tersebut disusun menjadi rangkuman berisi tentang proses pembuatan anyaman tas dari daun pandan yang meliputi:

1. Alat dan bahan yang digunakan dalam pembuatan anyaman tas.

2. Proses pengolahan bahan baku dalam pembuatan anyaman tas.

3. Proses penganyaman tas.

4. Proses penyelesaian akhir.

5. Faktor-faktor yang ada dalam pembuatan anyaman tas.

6. Bentuk dan ciri khas dari anyaman tas

Setelah data direduksi lalu diperiksa kembali keabsahannya, kemudian dikonfirmasikan kembali keresponden untuk menghindari akan terjadinya keganjilan.

28

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini disajikan hasil-hasil penelitian berdasarkan permasalahan dan akan dilanjutkan dengan pembahasan melalui analisis antara temuan dan teori yang telah dikembangkan dalam hasil penelitian ini.

A. Penyajian hasil penelitian

Pada bagian ini akan diuraikan penyajian hasil penelitian yang telah dilakukan dilapangan mengenai proses Pembuatan Kerajinan Tas dari daun Pandan di Desa Kaluppini Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang .

Sebagaimana yang telah diketahui bahwa sampel yang terlibat di bidang kerajinan tas dari daun pandan sebanyak 5 orang perajin. Dalam uraian ini akan diuraikan datanya berdasarkan metode deskriptif, yaitu penggambaran data secara apa adanya berdasarkan kenyataan di lapangan.

Untuk memperoleh data yang sistematis dan terarah, maka berikut ini akan diuraikan penggambaran data tersebut.

1. Gambaran Umum Daerah Penelitian

Gambaran umum dimaksudkan untuk memperkenalkan secara sepintas daerah penelitian, sehingga yang diperoleh dalam hasil penelitian ini akan mendapat kejelasan.

Desa Kaluppini Kecamatan Enrekang berada di wilayah administrasi Kabupaten Enrekang dengan luas wilayah 13,30 km2 yang terdiri atas 5 dusun.

Jarak dari kantor Desa ke Kota Kecamatan yang sekaligus merupakan Ibu Kota Kabupaten adalah 9 km. Dilihat dari batas wilayah administrasi, Desa Kaluppini

28

berbatasan dengan sebelah Utara Desa Tongkonan, sebelah Selatan Desa Ranga, sebelah Barat Desa Lembang, dan sebelah Timur Desa Karueng. (Data Desa Kaluppini, 2015)

Secara geografis, Desa Kaluppini merupakan wilayah pegunungan/dataran dengan ketinggian yang terdiri dari persawahan, dan perkebunan.

Masyarakat desa Kaluppini pada umumnya hidup dari lahan pertanian disamping pengusaha dan sebagian kecil pegawai negeri. Dari segi penghasilan rakyat, masyarakatnya masih sangat dipengaruhi oleh keberhasilan pertanian dan sebagian dari hasil kerajinan daun pandan.

2. Profil Usaha a. Lokasi Usaha

Lokasi usaha ini berada di Desa Kaluppini Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang. Desa ini berjarak 9 kilometer dari kota Enrekang, desa ini memiliki 5 dusun, yakni dusun Tondon, Kaluppini, Samima, Datte dan Kajoa. Desa ini terkenal dengan penghasilan berbagai macam kerajinan anyaman dari daun pandan. Semua dusun yang terdapat di Desa Kaluppini melakukan usaha anyaman, salah satunya Dusun Kaluppini.

Kerajinan anyaman di Desa Kaluppini dilakukan oleh kebanyakan ibu rumah tangga sebagai pekerjaan tambahan, namun karena sifatnya yang masih tradisional sehingga usaha kerajinan yang dilakukan hanya bersifat industri rumahan (home industry). Pemasaran hasil usaha kerajinannya juga hanya dititipkan di Koperasi Desa dan sebagian dipasarkan lewat informasi masyarakat setempat (dari teman ke teman).

30

b. Tenaga Kerja

No Nama Responden L/P Usia Pendidikan

Terakhir Lama bekerja 1. Sumina

(pimpinan) P 52 tahun SD 20 tahun

2. Siama

(Perajin) P 50 tahun SD 20 tahun

3. Hariana

(perajin) P 39 tahun SMP 15 tahun

4. Nursia

(Perajin) P 36 tahun SMA 10 tahun

5. Muliana

(Perajin) P 35 tahun SMP 8 tahun

Tabel 1 : Data perajin di Desa Kaluppini (Hasil Wawancara, 23 April 2015)

c. Alat dan bahan yang digunakan dalam kerajinan tas

Adapun berbagai alat yang digunakan perajin dalam mengolah bahan sampai pada proses pembuatan, hingga menjadi suatu barang jadi dapat dilihat pada tabel berikut ini :

No Jenis Alat Kegunaan Bentuk yang dihasilkan

32

No Jenis Alat Kegunaan Bentuk yang dihasilkan

5.

Tabel 2 : Alat-alat yang digunakan dalam proses anyaman (Dokumentasi Habibi, 23 April 2015)

Beberapa alat yang digunakan dalam penyediaan bahan baku untuk kerajinan anyaman dari daun pandan, yaitu :

Gambar 9.

Parang : untuk memotong daun pandan.

(Dokumentasi. Habibi, 23 April 2015)

Gambar 10.

Pisau : untuk membuang duri di bagian tulang belakang daun (Dokumentasi. Habibi, 23 April 2015)

3. Penyediaan Bahan

Dalam tahapan penyediaan bahan baku dalam proses pembuatan kerajinan tas dari daun pandan di Desa Kaluppini Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang, maka berdasarkan hasil pengamatan yang telah dikumpulkan, untuk mengambil bagian dari daun pandan, pengambilan

34

dilakukan pada daun yang sudah tua. Walaupun pada dasarnya semua jenis daun pandan dapat dimanfaatkan untuk anyaman, akan tetapi ada beberapa kriteria yang harus diperhatikan dalam memilih daun pandan tersebut. Kriteria-kriteria yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Umur pohon dari daun pandan minimal berumur 3 sampai dengan 4 bulan atau setelah keluar daun 19-15 lembar, dan makin tua pohon daun pandan makin baik pula mutu daun yang dihasilkannya.

2. Berdaun banyak dan panjang akan menghasilkan anyaman yang lebih baik.

Gambar 11. Pohon Daun Pandan (Dokumentasi. Habibi, 23 April 2015)

Daun pandan dengan ciri-ciri tersebut di atas sudah bisa dipisahkan dari batang pohon dengan cara di potong dengan menggunakan parang.

4. Proses pengambilan dan pengolahan bahan baku

Langkah-langkah pengambilan dan pengolahan daun pandan diuraikan sebagai berikut:

a. Pengambilan daun pandan.

Langkah pertama yang dilakukan, yaitu pengambilan daun pandan dilakukan pada daun yang sudah tua yang terletak pada bagian bawah. Daun yang tidak layak untuk dianyam juga ikut dipanen dengan tujuan untuk membersihkan rumpun pandan, sehingga pada pengambilan berikutnya menghasilkan daun pandan yang berkualitas baik. Pengambilan dilakukan dengan memotong bagian bawah daun memakai pisau. Cara ini masih dianggap efektif dan efisien, karena pengambilan bersifat selektif hanya untuk daun yang sudah tua. Pengambilan daun pandan sebaiknya dilakukan pada pagi atau sore hari, dan daun pandan tidak boleh basah. Daun pandan yang sudah dipanen langsung dipisahkan sesuai ukuran untuk memudahkan dalam penyortiran. Penyortiran perlu dilakukan karena produk anyaman ditentukan oleh ukuran panjang daun pandan.

Gambar 12. Pengambilan Daun Pandan (Dokumentasi. Habibi, 23 April 2015)

36

b. Pembuangan duri daun pandan.

Pembuangan duri perlu dilakukan secara hati-hati karena duri daun pandan cukup tajam. Pembuangan duri dilakukan dengan menggunakan pisau dan dilakukan untuk memudahkan proses penganyaman.

Gambar 13. Pembuangan Duri Daun Pandan (Dokumentasi. Habibi, 23 April 2015) c. Pembelahan daun pandan

Setelah duri daun pandan telah dibuang selanjutnya dilakukan pembelahan. Pembelahan dilakukan hampir seragam, 0.3-0.5 cm. Pembelahan dilakukan sebaiknya pada saat daun masih segar untuk memudahkan pengerjaan dan menjaga kualitas daun.

Gambar 14. Pembelahan Daun Pandan (Dokumentasi. Habibi, 23 April 2015)

5. Alat dan bahan yang digunakan dalam proses penganyaman

Berbicara tentang bahan dalam pembuatan kerajinan anyaman daun pandan juga mempengaruhi peran alat sebab alat berfungsi untuk mempermudah dan memperlancar pekerjaan. Teknik pekerjaan tertentu memerlukan alat khusus pula.

Adapun alat yang digunakan dalam proses pembuatan anyaman tas adalah tali papole. Tali papole ini digunakan sebagai alat bantu pembuatan anyaman tas agar pada saat memulai anyaman model tas tidak miring

38

. Gambar 15. Tali Papole

(Dokumentasi. Habibi, 23 April 2015)

Bahan yang digunakan dalam anyaman kerajinan tas adalah daun pandan.

6. Proses penganyaman tas

Dalam pembuatan anyaman tas dilakukan suatu teknik menganyam. Adapun teknik-teknik anyaman dasar kerajinan tas adalah teknik anyaman langkah satu.

Teknik menganyam langkah satu atau menganyam rangkap rata maksudnya iratan serat lontar yang berfungsi sebagai pakan mempunyai satu buah lungsi dan ditumpangi satu lungsi atau dapat dikatakan angkat satu tumpang satu.

Gambar 16. Teknik anyaman langkah satu (Dokumentasi. Habibi, 23 April 2015)

Yang pertama dilakukan dalam penganyaman tas adalah membuat dasar anyam yang akan berfungsi sebagai lungsi, 4 helai iratan lungsi yang panjangnya sama kemudian disilangkan, lalu masing-masing lungsi tersebut dianyam dengan anyaman satu-satu

Gambar 17. Dasar anyaman tas (Dokumentasi. Habibi, 23 April 2015)

40

Dalam pembuatan anyaman tas dimulai dari bagian alas dulu kemudian di bagian sudut untuk yang bagian ke atasnya ditekuk jadi bolongnya segitiga, lalu diteruskan menganyam sampai ukuran yang dikehendaki.

Gambar 18. Proses pembuatan tas di bagian alas (Dokumentasi. Habibi, 23 April 2015)

Untuk merapikan bagian atasnya ditekuk ke bagian dalam lalu di lem atau bisa juga disisipkan saja ke dalam bagian atasnya. Untuk bagian talinya dianyam satu lalu digulung dan direkatkan dibagian pinggiran tas, sebla menyeblah di bagian kanan dan kiri.

Menurut penjelasan dari Sumina (pimpinan), sebenarnya dalam proses pemasaran anyaman tas dari daun pandan di desa ini, masih sangat tradisional yaitu berawal dari teman keteman saja. Anyaman tas ini juga biasanya dibuat pada saat menjelang peringatan adat tahunan di desa kaluppini. Tas ini juga diperkenalkan lewat koperasi Desa.

Gambar 18. Produk Tas (Dokumentasi. Habibi, 23 April 2015)

B. Faktor Pendukung dan Penghambat Pembuatan Kerajinan Tas di Desa Kaluppini

1. Faktor Pendukung

Beberapa faktor yang mendukung pembuatan kerajinan tas dari daun pandan di Desa Kaluppini, Kecamatan Enrekang kabupaten Enrekang yaitu, a. Masih tersedianya bahan baku

b. Pekerjaan atau pembuatan kerajinan anyaman tas ini ditujukan untuk membuka lapangan kerja bagi para remaja yang terkadang tidak mempunyai kegiatan.

c. Tas yang dibuat dari daun pandan ini sering digunakan pada waktu pelaksanaan upacara adat yang diadakan sekali dalam 4 tahun.

d. Lingkungan area usaha ini sangatlah efisien, karena lokasinya cukup luas dan mudah serta aman dari pembuatan dari limbah industri.

42

2. Faktor Penghambat

Beberapa faktor yang menjadi penghambat pembuatan kerajinan tas dari daun pandan di Desa Kaluppini, Kecamatan Enrekang kabupaten Enrekang adalah bagaimana mengembangkan usaha dan mempertahankan usaha ini agar tetap bisa mengalami peningkatan secara berkelanjutan.

Dari hasil pengamatan langsung di lapangan bahwa perajin di daerah ini kadang kala mengalami pasang surut dalam megembangkan usahanya. Adapun permasalahan yang merupakan faktor penghambat sebagai berikut:

a. Modal

Modal adalah yang paling utama dalam mengembangkan usaha apa saja. Dengan adanya modal yang memadai dan mencukupi sesuai dengan kebutuhannya, maka perajin akan leluasa mengembangkan usahanya.

b. Sumber Daya Manusia

Sumber Daya Manusia masih rendah. Para perajin hanya meneruskan warisan nenek moyang mereka dengan tidak pernah mengubah model dan warna atau corak dari hasil kerajinan yang dihasilkan, karena pengetahuan para perajin tentang anyaman masih sangat tradisional.

c. Pemasaran

Pemasaran adalah kunci utama dalam kesuksesan dalam suatu usaha, dengan pemasaran yang baik, maka usaha ini akan berjalan dengan lancar.

Namun pemasaran kerajinan tas di Desa Kaluppini ini hanya sebatas teman ke teman, atau dibawa ke kopersi untuk dijual, karena jarak dari desa ke kota yang jauh dan membutuhkan biaya yang banyak.

C. Pembahasan Hasil Penelitian

Pada bagian ini penulis menguraikan hasil penelitian yang telah diperoleh di lapangan dengan mengaitkan teori-teori yang telah dikemukakan terdahulu dengan kenyataan yang diperoleh di lapangan.

1. Penyediaan alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan tas dari daun pandan.

Alat dan bahan yang digunakan telah dipaparkan pada penyajian hasil penelitian dan peralatan serta proses pekerjaannya masih sangat tradisional.

Alat dan bahan yang digunakan dalam proses pembuatan tas adalah sebagai berikut.

Bahan digunakan dalam proses pembuatan tas adalah daun pandan dan tidak menggunakan bahan tambahan lain karena sifatnya masih sangat tradisional.

2. Proses pengambilan dan pengolahan bahan baku

Langkah pertama yang dilakukan, yaitu mengambil daun pandan dengan cara memotong daun pandan dibagian pangkal bawah menggunakan

44

parang. Langkah selanjutnya adalah membuang duri daun pandan lalu dibelah.

Pembelahan dilakukan hampir seragam, 0.3-0.5 cm.

3. Proses penganyaman

Yang pertama dilakukan dalam penganyaman tas adalah membuat dasar anyam yang akan berfungsi sebagai lungsi. 4 helai iratan lungsi yang panjangnya sama kemudian pertengahan lungsi disilangkan lalu masing-masing lungsi dinyaman dengan anyaman satu satu. Pembuatan anyaman tas dimulai dari bagian alas dulu kemudian di bagian sudut untuk yang bagian ke atasnya ditekuk jadi bolongnya segitiga, lalu diteruskan menganyam sampai ukuran yang dikehendaki.

Untuk merapikan bagian atasnya ditekuk ke bagian dalam lalu di lem atau bisa juga disisipkan saja ke dalam bagian atasnya. Untuk bagian talinya dianyam satu lalu digulung dan direkatkan dibagian pinggiran tas, sebla menyeblah di bagian kanan dan kiri.

4. Faktor yang mendukung pembuatan kerajinan tas dari daun pandan di Desa Kaluppini, Kecamatan Enrekang kabupaten Enrekang yaitu,

a. Masih tersedianya bahan baku

b. Pekerjaan atau pembuatan kerajinan anyaman tas ini ditujukan untuk membuka lapangan kerja bagi para remaja yang terkadang tidak mempunyai kegiatan.

c. Tas yang dibuat dari daun pandan ini sering digunakan pada waktu pelaksanaan upacara adat yang diadakan sekali dalam 4 tahun.

d. Lingkungan area usaha ini sangatlah efisien, karena lokasinya cukup luas dan mudah serta aman dari pembuatan dari limbah industri.

5. Faktor yang menjadi penghambat pembuatan kerajinan tas dari daun pandan di Desa Kaluppini, Kecamatan Enrekang kabupaten Enrekang adalah bagaimana mengembangkan usaha dan mempertahankan usaha ini agar tetap bisa mengalami peningkatan secara berkelanjutan.

Dari hasil pengamatan langsung di lapangan bahwa perajin di daerah ini kadang kala mengalami pasang surut dalam megembangkan usahanya.

Adapun permasalahan yang merupakan faktor penghambat sebagai berikut:

a. Modal adalah yang paling utama dalam mengembangkan usaha apa saja.

Dengan adanya modal yang memadai dan mencukupi sesuai dengan kebutuhannya, maka perajin akan leluasa mengembangkan usahanya.

b. Sumber Daya Manusia masih rendah. Para perajin hanya meneruskan warisan nenek moyang mereka dengan tidak pernah mengubah model dan warna atau corak dari hasil kerajinan yang dihasilkan, karena pengetahuan para perajin tentang anyaman masih sangat tradisional.

c. Pemasaran adalah kunci utama dalam kesuksesan dalam suatu usaha, dengan pemasaran yang baik, maka usaha ini akan berjalan dengan lancar. Namun pemasaran kerajinan tas di Desa Kaluppini ini hanya sebatas teman ke teman, atau dibawa ke kopersi desa untuk dijual, karena jarak dari desa ke kota yang jauh dan membutuhkan biaya yang banyak.

46

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang proses pembuatan kerajinan tas dari daun pandan di Desa Kaluppini Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang maka ditarik kesimpulan sebagai berikut:

1. Proses kerajinan tas dari daun pandan di Desa Kaluppini Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang yang bahan dasarnya dari daun pandan dan diproduksi dengan menggunakan alat yang tradisional. Untuk memperoleh bahan dan alatnya ini tidak sulit karena masih sangat banyak tersedia pohon dari pandan ini di Desa tersebut dan alatnya pun mudah diperoleh karena merupakan alat rumah tangga yang digunakan sehari-hari.

2. Proses pembuatan tas dari daun pandan ini meliputi: persiapan bahan dan alat, proses pengambilan dan pengolahan bahan, sampai proses penganyaman.

3. Faktor pendukung pembuatan kerajinan tangan di Desa Kaluppini Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang yaitu masih tersedianya bahan baku, ditujukan untuk membuka lapangan kerja bagi para remaja yang terkadang tidak mempunyai kegiatan, hasil kerajinan sering digunakan pada waktu pelaksanaan upacara adat yang diadakan sekali dalam 4 tahun, lingkungan area usaha ini sangatlah efisien, karena lokasinya cukup luas dan mudah serta aman dari pembuatan dari limbah industri.

4. Faktor penghambat pembuatan kerajinan tangan di Desa Kaluppini Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang, adalah kurangnya modal para perajin, sumber

46

daya manusia masih rendah, karena pengetahuan para perajin tentang anyaman masih sangat tradisional, pemasaran hanya sebatas teman ke teman, atau dibawa ke kopersi untuk dijual, karena jarak dari desa ke kota yang jauh dan membutuhkan biaya yang banyak.

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan di atas tentang proses kerajinan tas dari daun pandan di Desa Kaluppini Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang, maka disarankan sebagai berikut:

1. Mengharapkan kepada instansi-instansi yang terkait agar dapat memberikan pembinaan yang lebih mapan, baik berupa bantuan dana maupun dalam hal pembinaan pengelolaan upah dan pemasaran dalam usaha kecil menengah khususnya dibidang kerajinan anyaman tas ini.

2. Diharapkan pada pemerintah, agar memberikan sarana atau fasilitas agar perajin dapat bekerja lebih efektif dan efisien serta mendorong sifat kreatif dalam memproduksi karya kerajinan tas dari daun pandan.

3. Diharapkan kepada masyarakat setempat supaya selalu melestarikan hasil kerajinan yang berbentuk tradisional.

4. Diharapkan kepada para perajin agar hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbanagn atau acuan kreativitas dan produktivitas anyaman tas.

5. Dengan keterbatasan waktu, tenaga dan dana penelitian, sehingga penelitian ini hanya dibatasi pada proses pembuatan kerajinan anyaman, olehnya itu kepada

48

para peneliti yang berminat untuk mengembangkannya, terutama mengenai keberadaan tas tersebut diharapkan agar dapat mengadakan penelitian yang lebih spesifik.

DAFTAR PUSTAKA

Alifika. 2013. Bisnis Kerajinan Tangan. https://bisniskerajinantangan.

wordpress.com. 25 Januari 2015

Anonim, 2015. Pandan Wangi. Wikipedia Bahasa Indonesia. Jakarta.

http://id.wikipedia.org. 23 Januari 2015

Anonim, 2014. Proses. Wikipedia Bahasa Indonesia. Jakarta.

http://id.wikipedia.org. 23 Januari 2015

Arikunto, Suharsimi, 2010. Prosedur Penelitian Pendekatan Suatu Praktik.

Cetakan ke empat belas. Jakarta: Rineka cipta

Departemen Pendidikan Nasional, 2008.Kamus Besar Bahasa Indonesia. Pusat Bahasa. Jakarta: Edisi Ke empat

http://google.map.com/Diakses tanggal 23 Januari 2015

http://memori-kedah.com/page_pengenalan. Diakses tanggal 23 Januari 2015 http://www.kamusq.com, diakses tanggal 31 Maret 2015

Nurhanim. 2008. Anyaman. http://nurh4nim.tripod.com/anyaman.htm.

23 Januari 2015

Poerwadarminta, W.J.S, 1982. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cetakan Kedua Jakarta: Balai Pustaka.

Setyosari, Punaji, 2010. Metode Penelitian Pendidikan dan Pengembangan.

Jakarta

Sugiono, Slamet. 1974. Keterampilan Anyaman Bambu dan Rotan. Semarang:

Aneka Ilmu

Sumiati, St. UMM, 1958, Berkreasi dengan Bambu 1. Cetakan Kedua, Jakarta:

Balai Pustaka

Syamsuri. Sukri. A, dkk. 2012. Pedoman Penulisan Skripsi. Makassar: FKIP UNISMUH Makassar

Undang Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945

49

50

Wahyudi, S. Darmowijono Magimin. 1979. Pengetahuan Teknologi Kerajinan Anyaman. Jakarta: Depdikbud

Zaini MA, Muh. 2011. Karya Seni Rpa Anyaman. http://makpunk.blogspot.com.

23 Februari 2015

Lampiran 1.

Format Observasi

Observasi ini dilakukan untuk mengetahui latar belakang sejarah keberadaan kerajinan anyaman tas dari bahan daun pandan sebagai pelengkap data mengenai proses pembuatan kerajinan anyaman tas.

1. Bagaimanakah cara memperoleh bahan baku?

2. Alat dan bahan apa saja yang disiapkan?

3. Bagaimana proses penganyaman?

4. Bagaimana proses pemasaran produk anyaman tas?

5. Sejak kapan kerajinan anyaman tas tersebut terkenal dan digunakan oleh masyarakat Desa Kalupini Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang?

6. Dari mana asal usulnya kerajinan anyaman tas tersebut?

7. Pada kegiatan apa saja kerajinan anyaman tas tersebut digunakan?

8. Berapa macam tas yang ada di Desa Kalupini Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang?

9. Apakah pada mulanya kerajinan anyaman tas tersebut hanya dikenal dan digunakan oleh masyarakat Desa Kalupini?

10. Apakah ada produk lain selain kerajinan anyaman tas?

52

Lampiran 2.

Format Wawancara

Wawancara ini dilakukan dalam rangka pengumpulan data dalam penelitian yang berjudul “Proses Pembuatan Kerajinan Tas Dari Daun Pandan di Desa Kalupini Kecamatan Enrekang Kabupaten Enrekang” wawancara ini dilakukan pada usaha anyaman kerajinan tas dari daun pandan.

A. Cara perolehan bahan

1. Bagaimanakah cara memperoleh bahan yang digunakan dalam pembuatan kerajinan tas?

2. Alat-alat apa saja yang digunakan untuk memperoleh bahan?

3. Kapan sebaiknya pangambilan bahan?

4. Daun pandan bagaimanakah yang baik diambil untuk dijadikan sebagai bahan untuk membuat tas ditinjau dari segi umur Daun pandan?

5. Bagaimanakah cara membedakan daun dari daun pandan yang bisa digunakan dalam pembuatan anyaman tas?

6. Kesulitan-kesulitan apa saja yang ditemukan untuk memperoleh bahan tersebut?

B. Proses pengolahan bahan

1. Bahan apa saja yang dapat atau bisa digunakan untuk membuat anyaman tas?

2. Bagaimanakah proses pengolahan bahan hinga menjadi bahan yang kuat untuk di anyam?

3. Bagaimanakah cara membedakan antara Daun pandan yang bagus dan yang tidak ,terutama untuk bahan baku anyaman ?

4. Apakah pengelolahan bahan ini masih bersifat tradisional atau sudah dikembangkan ke cara yang lebih modern?

5. Alat-alat apa saja yang digunakan dalam mengolah bahan tersebut?

C. Proses penganyaman

1. Apa saja yang perlu diperhatikan oleh perajin sebelum mulai menganyam tas?

2. Berapakah jumlah iratan yang perlu dipersiapkan untuk mulai menganyam?

3. Bagaimanakah cara mengatur iratan-iratan tersebut pada saat mulai menganyam?

4. Kapankah perajin mulai menambah lungsi dan pakan?

5. Kesulitan-kesulitan apa yang biasa dialami oleh perajin dalam pemasaran produk?

54

Lampiran 3

DOKUMENTASI

Gambar 20. Proses pengambilan daun pandan

Gambar 20. Proses pengambilan daun pandan

Dokumen terkait