BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
METODOLOGI PENELITIAN A.Lokasi Penelitian
G. Teknik Analisis Data
Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis persentase. Teknik analisis ini digunakan untuk menginterpretasikan data yang berbentuk angka atau yang bersifat sistematis. Rumus yang digunakan yakni:
P= � � % Dengan :
P = Persentase (%) yang dicari
f = jumlah responden yang memilih alternatif jawaban N = Jumlah keseluruhan responden
Tabel 3.5.
Kriteria Penilaian Persentase
Persentase Kriteria
0 % Tidak ada/tak seorang pun
1 % - 24 % Sebagian kecil
25% - 49% Kurang dari setengahnya
50 % Setengahnya
51 % - 74 % Lebih dari setengahnya
75 % - 99% Sebagian besar
100 % Seluruhnya
128
Syifa Utami H, 2015
TINGKAT KESIAPAN PETANI DALAM MENGHADAPI PENGEMBANGAN AGROPOLITAN DI KECAMATAN CISURUPAN KABUPATEN GARUT
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
BAB V PENUTUP A. SIMPULAN
Berdasarkan pengolahan dan hasil penelitian yang telah penulis lakukan dalam penelitian Tingkat Kesiapan Petani dalam Menghadapi Pengembangan Agropolitan di Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut, maka penulis dapat menarik kesimpulan diantaranya:
1. Karakteristik petani di Kecamatan Cisurupan Kabupaten Garut dapat dilihat melalui usia, pendidikan formal dan nonformal, pengalaman berusaha tani, luas dan status kepemilikan lahan, modal serta pendapatan, dan komoditas yang ditanam. Petani di kecamatan Cisurupan sebagian besar berusia 31 sampai 50 tahun. Pendidikan formal yang ditempuh oleh petani sebagian besar berpendidikan terakhir SD. Selain itu, petani mengikuti pendidikan nonformal berupa penyuluhan. Sehingga petani disamping mendapatkan pengetahuan dari pendidikan formal petani juga mendapat wawasan dari penyuluhan yang telah diikutinya. Sebagian besar petani memiliki pengalaman berusaha tani lebih dari 15 tahun dan menjadikan pertanian sebagai mata pencaharian utama. Lahan yang dimiliki petani sebagian besar memiliki luas 0,5 Ha. Sehingga petani di Kecamatan Cisurupan ini termasuk kedalam petani gurem karena memiliki lahan yang sempit. Sebagian besar lahan yang digarapnya merupakan lahan milik pribadi, hanya sebagian kecil yang melakukan sistem sewa dan bagi hasil. Modal yang dikeluarkan petani kurang dari Rp.5.000.000,-/musim. Modal tersebut digunakan oleh petani untuk memelihara tanaman, membayar upah tenaga kerja, membeli pupuk dan obat-obatan. Jumlah modal yang dikeluarkan oleh petani tergantung kepada luas lahan yang dimiliki serta komoditi yang ditanam. Penghasilan yang didapat oleh petani berkisar antara Rp.5.000.000,- sampai Rp.10.000.000,-. Penghasilan tersebut digunakan oleh petani untuk budidaya hortikultura kembali serta untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya. Petani sebagian besar menanam komoditi hortikultura unggulan berupa
129
Syifa Utami H, 2015
TINGKAT KESIAPAN PETANI DALAM MENGHADAPI PENGEMBANGAN AGROPOLITAN DI KECAMATAN CISURUPAN KABUPATEN GARUT
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
kubis, kentang, cabai, terung, tomat, daun bawang, bawang merah, dan wortel yang sebagian besar merupakan produk hortikultira unggulan. Hasil produktifitas rata-rata untuk kubis 25 ton/Ha, kentang 16 ton/Ha, tomat 40 ton/Ha, daun bawang 2 ton/Ha, bawang merah 6 ton/Ha, cabe 5 ton/Ha, terung 4 ton/Ha, dan wortel 3 ton/Ha.
2. Berdasarkan hasil pengolahan data dapat disimpulkan bahwa dilihat dari usahanya mencari informasi baru, petani dapat dikatakan cukup siap dalam menghadapi pengembangan agropolitan ini. Petani yang cukup siap tersebut meliputi petani berusia 41 sampai 50 tahun dengan pendidikan terakhir SMA dan pengalaman bertani kurang dari 15 tahun.
3. Kesiapan petani dalam menghadapi pengembangan agropolitan berdasarkan kerjasama petani dikatakan belum siap dalam menghadapi pengembangan agropolitan di Kecamatan Cisurupan ini.
4. Kesiapan petani dalam menghadapi pengembangan agropolitan berdasarkan pengelolaan budidaya petani dapat dikatakan siap karena petani mengetahui pengelolaan budidaya hortikultura seperti kubis, kentang, cabai dan tomat. Petani yang menanam kentang yang siap tersebut sebagian besar berusia 31 sampai 40 tahun dengan pendidikan terakhir SD, SMP dan SMA serta memiliki pengalaman lebih dari 15 tahun. Petani yang menanam kubis yang siap tersebut berusia 41 sampai 50 tahun dengan pendidikan terakhir SMA dan pengalaman berusaha tani lebih dari 15 tahun. Petani yang menanam tomat siap yakni berusia 31 sampai 50 tahun dengan pendidikan terakhir SD dan pengalaman lebih dari 15 tahun. Petani yang menanam cabai yang cukup siap yaitu petani dengan usia 41 sampai 50 tahun dengan pendidikan terakhir SD dan pengalaman bertani lebih dari 10 tahun.
5. Kesiapan petani dalam menghadapi pengembangan agropolitan berdasarkan aspek pemasaran produk petani siap dalam menghadapi pengembangan agropolitan. Petani yang siap tersebut meliputi petani dengan usia 41 sampai 50 tahun dengan pendidikan terakhir SD dan pengalaman bertani lebih dari 15 tahun.
Syifa Utami H, 2015
TINGKAT KESIAPAN PETANI DALAM MENGHADAPI PENGEMBANGAN AGROPOLITAN DI KECAMATAN CISURUPAN KABUPATEN GARUT
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
B. SARAN
Berdasarkan hasil penelitian maka penulis memberikan rekomendasi bagi pihak-pihak yang terkait, diantaranya:
a. Bagi petani,
Petani harus diberikan pelatihan jiwa kewirausahaan dan wawasan yang lebih luas lagi mengenai manajemen agrobisnis dan cara-cara meningkatkan hasil produksi pertanian. Selain itu, setiap petani harus lebih aktif lagi dalam bekerjasama dengan penyuluh maupun UPTD pertanian agar tercipta hubungan kerjasama yang baik sehingga diharapkan dapat mempengaruhi jalannya sistem agrobisnis yang terus berlanjut di kawasan agropolitan kecamatan Cisurupan ini.
b. Bagi pihak penyuluh
Penyuluh sebagai perantara diharapkan menyelenggarakan pertemuan rutin bersama petani pada saat waktu luang seperti hari jumat atau minggu dan dilakukan secara merata di kelompok tani di Kecamatan Cisurupan ini. Agar petani dapat menceritakan keluh kesahnya untuk diberi saran kearah yang lebih baik. Dalam pertemuan rutin dengan penyuluh juga dapat membicarakan mengenai perubahan harga komoditi yang informasinya didapat dari pemerintah. Selain itu, penyuluh lapangan harus meningkatkan kualitas sumber daya manusianya agar memiliki wawasan lebih luas lagi untuk disampaikan kepada petani dalam usahanya untuk meningkatkan produksi tanaman pertanian. Peningkatan daya intelektual tersebut dapat melalui pendidikan dan pelatihan sesuai dengan kebutuhan pertanian di kecamatan Cisurupan ini.
c. Bagi intansi terkait
Agropolitan seharusnya didukung oleh sarana dan prasarana serta infrastruktur yang baik sehingga memberikan kemudahan kepada petani
131
Syifa Utami H, 2015
TINGKAT KESIAPAN PETANI DALAM MENGHADAPI PENGEMBANGAN AGROPOLITAN DI KECAMATAN CISURUPAN KABUPATEN GARUT
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu
dalam usahanya untuk memproduksi pertanian. Sarana dan prasarana tersebut seperti teknologi panen, pascapanen, serta teknologi lain yang sesuai dengan usaha tani di Kecamatan Cisurupan. Serta pembangunan infrastruktur seperti jalan dari ladang menuju pabrik agar petani tidak banyak mengeluarkan biaya transportasi. Maka dari itu, pengembangan agropolitan melibatkan banyak intansi pemerintah dalam pelaksanaannya. Diantaranya seperti Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura, Dinas Kehutanan, Dinas Pekerjaan Umum, dan lain sebagainya. Sehingga dibutuhkan kerjasama yang konsisten antar intansi tersebut serta realisasi program yang nyata agar terwujud Kecamatan Cisurupan dan sekitarnya sebagai kota pertanian yang unggul.
d. Bagi penulis yang lain
Bagi peneliti lain yang tertarik untuk mengambil tema yang sama, disarankan untuk melakukan penelitian dengan objek yang berbeda seperti subsistem hulu, subsistem hilir, mitra usaha tani, intansi terkait, dan lain sebagainya.
132 Syifa Utami H, 2015
TINGKAT KESIAPAN PETANI DALAM MENGHADAPI PENGEMBANGAN AGROPOLITAN DI KECAMATAN CISURUPAN KABUPATEN GARUT
Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu