• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

1.7 Metodologi penelitian

1.7.7 Teknik Analisis Data

Penelitian ini bersifat deskriptif dengan tujuan memberi gambaran mengenai situasi atau kondisi yang terjadi dengan menggunakan analisa kualitatif. Data-data yang telah dikumpul, baik data primer maupun data sekunder yang diperoleh dari lapangan yang akan diekplorasi secara mendalam, selanjutnya akan menghasilkan suatu kesimpulan yang menjelaskan masalah yang akan diteliti.

BAB II

DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN

2.1 Sejarah Patumbak

Setelah konsesi Onderneming Tandjong Merawa tahun 1873 diberikan kepada Carl Fürchtegott Grob dan Hermann Näher. Pada tanggal 16 Agustus 1876, Grob dan Naher mendapatkan lagi konsesi untuk Onderneming Patoembah (Patumbak) di wilayah landschap Senembah.

Dalam beberapa catatan kolonial juga disebutkan bahwa onderneming ini awalnya bernama Onderneming Marolan, pada tahun 1885 baru berganti nama menjadi Onderneming Patoembah (Patumbak).19

Sedikit cerita tentang asal usul nama Patumbak ini dahulu kala, telah terjadi konflik antara masyarakat Melayu yang konon membuka hutan dengan masyarakat Jawa. Kepemilikan tanah waktu itu dilakukan dengan cara sederhana 19 https://id.wikipedia.org/wiki/Patumbak,_Deli_Serdang

yaitu dengan melemparkan biji pinang sejauh mungkin. dimana pinang jatuh maka sampai disanalah batas tanah kepemilikan seseorang pada waktu itu.

Konflik semakin meruncing, ketika seseorang bernama Si Gara-gara bukan melemparkan biji pinang, tapi sebuah tombak. Si Gara-gara melemparkan tombaknya sangat jauh sekali sehingga banyak masyarakat yang tidak senang akan hal itu. Konflik berlangsung cukup lama hingga suatu saat didapatkanlah sebuah kesepakatan damai. Dari hasil kesepakatan itu, maka tempat Si Gara-gara melempar tombak itu disebut dengan kampung Si Gara-gara, tempat dimana menjadi lintasan dari tombak disebut Kampung Lantasan, tempat dimana jatuhnya tombak tersebut disebut Kampung Patumbak. Serta tempat dimana dicapainya suatu mufakat disebut Timbang Deli.

Onderneming ini dipimpin oleh administratornya E.Ruegg. Pada tahun 1881, hasil tembakau yang diperoleh sebesar 235.746 (in Amst.ponden). Jumlah kuli tetap sebanyak 375 orang.

Pada tahun 1885, Administratornya dipimpin oleh Ruegg dan A.Tobler. Luas tanah konsesi yang diberikan seluas 1700 in bouws. hasil tembakau yang diperoleh sebanyak 437 800 (In Ams.ponden) dengan kuli tetap sebanyak 406 orang dan 31 orang tidak tetap.

Pada tahun 1886, E.Ruegg pensiun dan administrator langsung dipegang A.Tobler. Hasil yang diperoleh menurun mencapai 300.000 (in Amst.ponden) dengan jumlah kuli tetap juga menurun menjadi 395 orang dan 60 orang yang tidak tetap.

Dari hasil perkebunan di Sumatera membuat Grob menjadi orang yang kaya raya. Pada tahun 1883 hingga 1885, Grob mendapat tanah di Zollikerstrasse 128 di Zurich dengan luas 13.000m2. Dia mempercayakan kepada Chiodera dan Tschudy untuk membangun sebuah villa yang megah ala Renaissance dengan taman yang lengkap, Dan air mancurnya pada waktu itu dipercayakannya kepada Evariste Mertens. Villa ini diberinama Patumbah. Bahkan pada tahun 2006 dibentuklah Yayasan Patumbah yang gunanya untuk melestarikan dan menjaga keindahan taman dari villa ini. Pada tahun 1891, Onderneming ini masuk dalam grup Senembah Maatschappij dengan luas tanah konsesi sebesar 3436 in bouws dengan 225 bidang yang sudah ditanami. Tercatat sebagai kontrak Serdang no. 21 yang berakhir pada tanggal 11 Januari 1950. Pada masa ini diangkatlah J.H.E. De Voogt sebagai Administrator. Jumlah kuli kontrak terdiri dari China 410 orang, Java 95 orang, Keling 45 orang dan Bawean 20 orang. Sementara Kuli tetap dari suku Batak terdiri dari 46 Orang. Di tahun ini pada tanaman tembakau pertama tidak menghasilkan daun yang baik, tapi cukup berpuas hati. Tanaman Padi mendapat hasil yang lumayan. Pada tahun ini de Voogt dapat menghasilkan 480 000 in Amst. ponden.

Pada tahun 1892, Luas bidang tanaman meningkat mencapai 299 bidang.

Jumlah kuli kontrak China sebanyak 402, Java 98 orang dan Keling 471 orang serta Bawean 2 orang. Kuli Batak 128 orang. Hasil pada tahun ini sebanyak 462 100 in. Ams ponden.

Pada tahun 1896, de Voogt digantikan dengan H.Klein sebagai administrator.

Luas tanah yang sudah digarap sebesar 305 dari 6700 bidang dengan hasil sebesat 3500 pikol. Jumlah kuli China 425 orang, Jawa 65, Klings 35 dan Bawean 18 orang. Sedang kuli lokal Bandjar 19 orang, Batak 50 dan Melayu 25 orang.

Pada tahun 1906, jumlah tanah yang sudah digarap seluas 311 dari 7200 bidang. Hasil yang diperoleh pada saat itu sebesar 3100 pikol dengan jumlah kuli kontrak sebanyak 672 dan kuli tetap lokal sebanyak 50 orang.

Pada tahun 1919, Onderneming Patoembak bergabung dengan Namusuru.

Onderneming ini menjadi Patoembak Namoesoeroe. Luas hamparan tanah di akhir tahun seluas 10.653 bidang. Dengan hasil sebesar 6149 pikols serta 1006 jumlah kuli.

Patumbak pernah menjadi ibu negeri dari Urung (negeri/kerajaan) Senembah yang merupakan salah satu Negeri Urung Karo di wilayah Pesisir Timur Sumatra, yang dipimpin oleh seorang raja urung ber-merga Karo-karo Barus dengan gelar perbapan urung dan setelah menguatnya pengaruh Islam dan Aceh di Sumatra Timur berganti menjadi raja urung ataupun datuk urung.

Penduduk asli Patumbak (Senembah) adalah Suku Karo dan Melayu, kemudian datang kaum migran dari berbagai suku bangsa di nusantara yang didominasi oleh suku Simalungun dan Jawa yang pada dasarnya datang atau didatangkan sebagai buruh perkebunan dan buruh tani, kemudian disusul oleh Minang dan Batak, serta suku lainnya.20

21 https://patumbak.deliserdangkab.go.id/detail-profil-1-sejarah.html

Menurut hasil survei 2011 dari Badan Pusat Statistik Kabupaten Deli Serdang, populasi penduduk Patumbak telah mencapai 20795 rumah tangga, dengan jumlah penduduk 88961 jiwa, dimana terdiri dari 45123 jiwa penduduk laki-laki dan 43838 penduduk wanita.

2.2.Kuta Karo/Kampung Karo Patumbak

Kuta Karo ataupun Kampung Karo demikian penuturan masyarakat Melayu setempat kepada permukiaman Karo di Dusun IV, Desa Sigara-gara, Kecamatan Patumbak, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara ini.

Kampung Karo, merupakan salah satu permukiman masyarakat Karo di Kecamatan Patumbak, yang diyakini dipanteki (didirikan/dibuka) pertama kali oleh Tala Barus dan sangkep nggeluh (sanak keluarga) -nya. Tidak diketahui pasti mulai kapan daerah ini dihuni, namun, dari penuturan warga setempat dan cerita yang beredar, kalau di tahun 1953 daerah ini telah berpenghuni, yakni Tala Baru dan sangkep nggeluhnya yang merupakan masih keturunan dari Sibayak (si kaya, yang besar, yang mulis, raja, dlsb) Peria-ria, dan, masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Raja Urung Senembah Deli yang notabene-nya juga dari merga Karo-karo Baru.

Kampung yang oleh orang-orang Karo biasanya disebut Sigara-gara Kuta Karo ini dulunya terisolasi karena jalannya buntu, tapi kini telah memiliki jalan tembus. Adanya jalan tembus mencuatkan wacana untuk memberi nama jalan.

Salah satu usulan adalah Jalan Tala Barus sehubungan beliaulah orang pertama yang tinggal di Kampung Karo. Disayangkan, wacana ini kembali meredup.

Jalan sepanjang Kampung Karo yang dulunya buntu kini menjadi jalan alternatif penghubung antara Kecamatan Patumbak dengan Kecamatan Tanjungmerawa. Bahkan, jalan yang dikatakan jalan alternatif ini kini ramai karena warga dari kecamatan lain seperti Sibiru-biru, Delitua, Namorambe, Pancurbatu, Kutalimbaru, dan Sibolangit lebih memilih melewati jalur ini jika hendak menuju Lubukpakam (ibu kota Kabupaten Deliserdang). Selain lebih dekat dan lebih aman, juga dapat terhindar dari kemacetan dibandingkan bila melewati jalan-jalan di Kota Medan.

Tidak ada yang tahu pasti kapan pertama kali Dusun IV Sigara-gara - Kampung Karo ini dihuni. Namun, dari beberapa kesaksian penduduk asli (yang setidaknya mendiaminya sejak tahun 1960-an), para penduduk lama Kampung Karo ini adalah pemindahan dari kawasan yang disebut oleh penduduk setempat Asahan (Sungai Asahan) yang letaknya sekitar Medan Amplas; sekarang antara Medan Denai, Simpang Marindal, hingga batas antara Kecamatan Patumbak dengan Kota Medan. Sekitar tahun 1950-an, penduduk yang awalnya membuka perjuman (perladangan) di sekitar Asahan ini ditawari oleh Raja Urung Senembah Patumbak (Barus Mergana) untuk pindah ke lahan yang baru dengan kesepakatan konpensasi akan menerima dua kali lipat dari lahan garapan semula.

Selain itu, dijanjikan kebebasan menggarap lahan jaluren dari Lau Sibenang (batas

Desa Sigara-gara dengan Desa Lantasan Lama) – Lau Batang Kuis(batas kecamatan Patumbak – Tanjung Merawa), hingga jalan besar Patumbak.

Namun, dibelakang hari, banyak timbul permasalahan antara lahan jaluren ini. Kebebasan menggarap tidak kunjung dirasakan. Begitu juga dengan isu-isu pengambilalihan kembali lahan yang sudah ditempati ini oleh pihak-pihak yang mengaku lebih berhak. Namun, permasalahan ini dapat diredam dengan jalan kekeluargaan dan adat Karo. Permasalahan kembali muncul diawali saat meletusnya Reformasi di akhir tahun 1997. Masyarakat berbondong-bondong kembali menggarap lahan yang selama ini dikelola dan dikuasai oleh pihak PTPN yang hingga kini belum ada solusi penyelesaiannya.

Saat hendak memasuki Kampung Karo atau dalam penuturan masyarakat Karo setempat dikatakan Sigara-gara Kuta Karo, tepat di pertigaan antara jalan besar Patumbak(Jl. Pertahanan) yang sempat juga muncul wacana untuk mengusulkan nama Tengku Wan Epen Barus yang merupakan Raja Urung penguasa daerah itu(Patumbak bekas ibu kota negeri Urung Senembah) dengan jalan menuju Kampung Karo, kita akan disambut oleh sebuah bangunan tua yang cukup megah di zamannya, yang pastilah kita akan berfikir itu adalah bekas kediaman petinggi Belanda atau setidaknya pegawai perkebunan Belanda.

Masyarakat setempat menyebut bagunan tua bercatkan putih itu dengan sebutan sapo(rumah) mbelin(rumah besar, istana). Memang bangunan itu merupakan rumah kediaman dari Raja Urung Senembah – Barus Mergana, yang dulunya penguasa dari Patumbak dan seluruh wilayah yang dulunya masuk dalam

negeri(kerajaan) Urung Senembah. Bahkan, hingga sampai saat ini beberapa anggota keluarga dari raja urung masih mendiami bangunan tua bergaya art-deco tersebut.

Jika kita masuk melalui Jalan Besar Patumbak(Jl. Pertahanan) disaat pagi hari dimana matahari mulai beranjak, maka kita seakan berjalan menuju matahari.

Karena memang untuk menuju Kampung Karo dari pertigaan Jalan Besar Patumbak kita akan menghadap ke arah Timur. Sedangkan bangunan di sepanjang badan jalan Kampung Karo dari sisi kanan badan jalan(melalui Jalan Besar Patumbak) mengahadap ke arah selatan dengan menyampingi Timur dan Barat, dan tentunya bangunan di sisi kiri jalan pastilah menghadap ke Utara.

Sekitar ± 300 merter dari pertigaan, kita akan menjumpai pertigaan jalan lagi di sebelah kanan sisi jalan arah Selatan yang dalam penuturan masyarakat setempat disebut Kuta Mbaru(Kuta Baru) atau Jalan SMP karena diujung jalan lurus Kuta Baru ini akan diakhiri pertigaan lagi dan tepat di depan jalan lurus Kuta Baru ini berdiri bangunan SLTP(dulu SMP) Negeri I Patumbak.

Tepat dimulai dari pertigaan jalan ke Kuta Baru menuju arah Timur ke Kampung Karo, berdiri Perumahan Griya Prima Patumbak di kedua belah sisi jalan sepanjang ± 100 meter dan sekitar 50 meter dari pertigaan itu kita akan menjumpai Gereja Methodis Kyung Yie di sisi kiri dan sebuah Mesjid di sisi kanan jalan yang letaknya tepat di ujung komplek perumahan tersebut.

Meninggalkan Perumahan Griya Prima Patumbak, kita disambut perjumaan(perladangan) dan persabahen(persawahan) di kedua belah

sisi jalan sepanjang ± 100 meter. Dan di ujung persawahan itu ada persimpangan kecil di arah kiri yang dalam penuturan masyarakat setempat disebut pendawan atau jalan kenangen yang adalah merupakan komplek pendonen(pemakaman) bagi masyarakat Karo. Dari simpang pendawan jalan agak menanjak dan di puncaknya sebelah kiri sisi jalan kita akan disambut sebuah bangunan yang cukup megah, yakni Greja Katolik St. Theresia dan sekitar 50 meter dari situ kita juga akan menemukan jalan menanjak dimana di puncaknya sebelah kanan sisi jalan kita akan disambut oleh bangunan Greja GBKP – Patumbak yang halamannya cukup luas ditumbuhi rumput hijau. GBKP – Patumbak ini merupakan gereja pertama yang berdiri di Kecamatan Patumbak sekitar tahun 1958. Dari simpang pendawan hingga ± 1 km ke Timur di kedua sisi jalan dipenuhi rumah-rumah masyarakat yang sudah berlapis hingga ke gang-gang kecil.

Sampai tahun 1999, Kampung Karo – Patumbak yang dipanteki(dibuka, didirikan, atau pertama kali dihuni) oleh Tala Barus dan sangkep nggeluhna(keluarga) dihuni mayoritas masyarakat etnis Karo dan beberapa dari etnis Simalungun dan Jawa, namun kedua etnis ini juga telah berbaur dan bahkan telah fasih dengan cakap(bahasa) Karo dan adat Karo, bahkan sudah menggunakan identitas Karo, dengan menggunakan merga Karo(Merga Silima) dibelakang namanya yang tampak pada KTP-nya.

Sejak tahun 1997 jalan Kampung Karo yang semula buntu mulai dirintis untuk tembus ke Kecamatan Tanjungmerawa. Awalnya hanya sampai di ujung perjuman

antara masyarakat Kampung Karo dan masyarakat Ujung Serdang, Kecamatan Tanjungmerawa yang dibatasi oleh sebuah anak sungai yang dalam penuturan masyarakat setempat disebut Lau Batangkuis, dan inilah ujung jalan yang hingga sekitar tahun 2010 baru dibangunkan jembatan yang menandai tersambungnya jalan Kampung Karo – Patumbak dengan jalan Ujung Serdang – Tanjungmorawa.

Mulai tahun 1999 berdatangan pendatang etnis Toba yang sebagian besar mereka merupakan korban gusuran dari daerah Mandala, Medan. Sehingga ujung dari Kampung Karo yang dulunya perladangan kini sudah dipenuhi permukiman warga.21

Peta Kampung Karo Patumbak

21http://tembakaudeli.blogspot.com/2014/12/1876-onderneming-patoembah-patumbak.html

2.3 Masyrakat Karo di Kampung Karo

Tidak ada yang tahu pasti kapan pertama kali Dusun IV Sigara-gara - Kampung Karo ini dihuni. Namun, dari beberapa kesaksian penduduk asli (yang setidaknya mendiaminya sejak tahun 1960-an), para penduduk lama Kampung Karo ini adalah pemindahan dari kawasan yang disebut oleh penduduk setempat Asahan (Sungai Asahan) yang letaknya sekitar Medan Amplas; sekarang antara Medan Denai, Simpang Marindal, hingga batas antara Kecamatan Patumbak dengan Kota Medan. Sekitar tahun 1950-an, penduduk yang awalnya membuka perjuman (perladangan) di sekitar Asahan ini ditawari oleh Raja Urung Senembah Patumbak (Barus Mergana) untuk pindah ke lahan yang baru dengan kesepakatan konpensasi akan menerima dua kali lipat dari lahan garapan semula.

Selain itu, dijanjikan kebebasan menggarap lahan jaluren dari Lau Sibenang.(batas Desa Sigara-gara dengan Desa Lantasan Lama) – Lau Batang Kuis(batas kecamatan Patumbak – Tanjung Merawa), hingga jalan besar Patumbak.

Diyakini, Kampung Karo yang dalam penuturan masyarakat setempat dengan sebutan Kuta Karo adalah wilayah permukiman yang dipanteki(dibuka pertama kali/didirikan) oleh Tala Karo-karo Barus dan sangkep nggeluhnya(sanak keluarga) sekitar tahun 1940 s/d 1950-an dan merupakan pemindahan permukiman dari kawasan Asahan yang sekarang merupakan wilayah Medan Amplas. Dari cerita orangtua setempat, hal ini merupakan kesepakatan antara Raja Urung Senembah dengan masyarakat, mengingat masyarakat Karo adalah

masyarakat petani sehingga hidup berebelahan langsung dengan kota bukan-lah pilihan yang tepat dan solusinya adalah Kampung Karo.

Seperti halnya Kecamatan Patumbak yang merupakan bekas ibu kota negeri Urung Senembah dibawah pimpinan Raja Urung Karo-karo Barus Mergana, tentulah Patumbak dan juga Kampung Karo(Dusun IV) ini berpenduduk asli dari Suku Karo dan Melayu hingga sekitar tahun 2000-an setelah jalan menuju Kampung Karo yang dulunya hanya sepanjang +/- 1 km kemudian diperpanjang dan kini sudah tembus ke Kecamatan Tanjungmerawa, berdatanganlah penduduk yang mayoritas dari etnis Batak. Pada umunnya mereka merupakan korban penggusuran dari Kota Medan yang sebahagian besar dari kawasan Mandala - Medan.22

Secara keseluruhan, penduduk di Kampung Karo Patumbak bermata pencarian sebagai petani dan buruh pabrik, dan sebahagian ada sebagai pegawai negeri, pedagang, ataupun sektor formal dan non-formal lainnya. Hingga tahun 2000 wilayah ini dikelilingi oleh perkebunan milik pemerintah, dimana disisi Selatan merupakan kawasan perkebunan kelapa sawit dan disisi Utara merupakan perkebunan kakao(coklat). Jadi, Kampung Karo ini permukiman penduduk awalnya hanya disepanjang jalan, dimana dari kedua belah sisi jalan hanya menyisakan sekitar 100 meter untuk permukiman dan selebihnya merupakan areal perkebunan.

BAB III

22 https://patumbak.deliserdangkab.go.id/detail-profil-1-sejarah.html

ANALISIS DATA

Pada bab ini akan dianalisis data yang diperoleh melalui penyebaran kuesioner kepada para responden serta hasil wawancara.

Data yang disajikan dan dianalisis adalah karakteristik umum responden dan Partisipasi Politik Masyarakat Karo pada pemilihan Presiden dan Wakil Presiden periode tahun 2019-2024.

3.1 .Karakteristik Responden

Berikut ini akan disajikan data yang berkaitan dengan identitas responden yaitu: Umur, jenis kelamin, agama, pendapatan perbulan dan pendidikan.

Jika dilihat darikarakteristik umur responden pada tabel di atas maka, yang paling banyak jumlahnya adalah responden yang berusia muda. Suatu hal yang dapat dinarasikan dari hasil tabel di atas adalah banyaknya responden muda karena berada

pada usia yang produktif. Artinya responden pada usia sebagaimana dijelaskan di atas memiliki suatu idealisme yang sangat baik dalam hal menentukan dan berpartisipasi pada pelaksanaan pilkada. Responden pada usia di atas juga dapat dijelaskan sangat berkarakter dalam menggunakan hak pilihnya, tidak sedemikian mudah terpengaruh dan lebih menunjukkan idealismenya.

Tabel 3.2

Karakteristik responden berdasarkan jenis kelamin

No Jenis Kelamin Jumlah Persentase(%)

1 Pria 43 54.43

2 Wanita 36 45.56

Jumlah 79 100

Sumber: Kuesioner 2020

Perbedaan jenis kelamin tidak menjadi penghambat bagi masyarakat untuk ikut serta berpartisipasi dalam pemilihan presiden dan wakil presiden, dimana adanya persamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Dilihat dari tabel di atas dapat dilihat bahwa jumlah responden yang berjenis kelamin laki-laki lebih besar jumlahnya jika dibandingkan dengan yang berjenis kelamin perempuan, meskipun perbedaannya tidak begitu jauh. Oleh karena itu, komposisi berdasarkan jenis kelamin masih dianggap berimbang. Sangat dipahami jika perbedaan jenis kelamin juga dapat mempengaruhi keikutsertaan masyarakat di dalam pemilihan umum. Untuk itu, agar

penelitian ini dapat mewakili atau menggambarkan masyarakat pemilih berdasarkan

karakteristik jenis kelamin dilakukan. Pengambilan sampel berdasarkan jenis kelamin ini diambil secara acak sesuai dengan hasil data yang diperoleh di lapangan.

Tabel 3.3

Karakteristik responden berdasarkan pendidikan

No Pendidikan Jumlah Persentase

(%)

1 SD 11 13.92

2 SMP 23 29.11

3 SMA 35 44.30

4 Diploma/Sarjana 10 12.65

Jumlah 79 100

Sumber: Kuesioner 2020

Pendidikan merupakan faktor penting untuk meningkatkan sumber daya manusia baik pendidikan formal maupun pendidikan non-formal.

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa mayoritas responden memiliki pendidikan terakhir yaitu SMA (sederajat). Pada responden yang pendidikan terakhirnya SMA (sederajat) terdapat beberapa responden yang merupakan mahasiswa. Kemudian pada urutan kedua terbesar yaitu responden dengan pendidikan terakhir SMP (sederajat).

Sementara itu, jumlah responden yang pendidikan terakhirnya sarjana

sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan responden berada pada tingkat sedang. Tingkat pendidikan juga sangat memberikan kontribusi terhadap partisipasi politiknya. Semakin baik tingkat pendidikan seseorang maka akan memberikan suatu pandangan betapa pentingnya partisipasi politik tersebut diberikan. Demikian juga apabila tingkat pendidikan responden rendah maka partisipasi politik juga akan rendah.

Tabel 3.4

Karakteristik koresponden berdasarkan pekerjaan

No Pekerjaan Jumlah Persentase (%)

1 Petani 25 31.64

2 Supir 15 19.00

3 Pegawai Swasta 14 17.72

4 Wiraswasta 11 13.92

5 PNS 5 6.32

6 Pelajar/Mahasiswa 9 11.40

Jumlah 79 100

Sumber: Kuesioner 2020

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa masyarakat karo yang bertempat tinggal di Kampung Karo terdiri dari beraneka ragam jenis pekerjaan. Berdasarkan tabel di atas maka dapat dilihat responden dalam penelitian ini semuanya memiliki pekerjaan dan sebagian pelajar/mahasiswa. Pekerjaan ini sangat mempengaruhi kesempatan

responden untuk berpartisipasi politik dalam pelaksanaan pilkada.

Tentunya apabila pekerjaan yang dijalani oleh responden menyita waktu mereka bukan tidak mungkin mereka tidak akan berpartisipasi dalam pelaksanaan pemilihan presiden dan wakil presiden di Kampung Karo Tahun 2019.

Tabel 3.5

Karakteristik koresponden berdasarkan penghasilan

No Penghasilan/Rp Jumlah Persentase

(%) bawah. Hal ini dapat dilihat dari data yang diambil dari 79 responden.

Dari tabel di atas dapat dilihat bahwa, bahwa responden dalam penelitian ini memiliki karakteristik hidup yang sederhana. Hal ini juga dilandasi dari tabel jenis pekerjaan yang dilakukan oleh responden yang identik dengan penghasilannya. Pendapatan responden setiap bulannya juga memberikan kontribusi terhadap partisipasi responden dalam pelaksanaan presiden dan wakil presiden di Kampung Karo tahun 2019.

3.2 Analisa Partisipasi Masyarakat Karo Pada Pemilihan Presiden dan wakil Presiden tahun 2019

3.2.1 Peran serta politik masyarakat didasarkan kepada kegiatan politik Masyarakat Karo pada prose pemilihan presiden dan wakil presiden Tahun 2019

Abramson dan Hardwick membedakan partisipasi politik menjadi dua jenis, yaitu konvensional dan tidak

konvensional.49Bentuk partisipasi politik konvensional dalam pemilihan umum misalnya adalah memberikan suara dalam pemilu, ikut ambil bagian dalam kegiatan-kegiatan kampanye, bergabung dalam kelompok kepentingan tertentu, melakukan lobi- lobi untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu, serta menjadi kandidat.

Bentuk partisipasi politik yang paling lazim terjadi di negara- negara demokratis yaitu memberikan suara dalam pemilihan umum baik di tingkat nasional maupun daerah.

Tabel 3.6

Jawaban responden apakah anda pendukung atau salah satu tim sukses dari salah satu pasangan calon presiden dan wakil presiden

N o

Jawaban Jumlah Persentase (%)

1 Ya 0 0 bawasannya masyarkat karo tidak memiliki peran politik dalam proses pemenangan salah satu pasangan calon. Dalam hal ini masyarakat karo yang bertempat tinggal kampung karo termasuk partisipasi pasif.

Tabel 3.7

Jawaban responden apakah anda merupakan anggota partai politik tertentu

N o

Jawaban Jumlah Persentase (%)

1 Ya 0 0

2 Tidak 79 100

Jumlah 79 100

Sumber: Kuesioner 2020

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa tidak ada responden yang menjadi anggota partai politik tertentu. Berdasarkan temuan peneliti di lapangan, adapun alasan masyarakat kampung karo untuk tidak

bergabung menjadi anggota partai politik tertentu adalah karena

bergabung menjadi anggota partai politik tertentu adalah karena

Dokumen terkait