• Tidak ada hasil yang ditemukan

F. Metodologi Penelitian

4. Teknik Analisis Data

Teknik analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan

menggunakan metode analisis wacana. Analisis yang digunakan adalah model

analisis wacana untuk editorial milik Teun A Van Dijk. Langkah dalam melakukan

a. Jenis isi Tajuk Rencana

Mengidentifikasi skema konvensional untuk pers editorial dalam tiga macam kategori

fungsional yang menonjol pada judul tajuk rencana yaitu: (definisi, penjelasan dan

evaluasi, serta moral).53

1) Definisi

Laporan pendapat dapat mendefinisikan situasi, yaitu memberikan penjelasan peringkasan ‘Apa yang terjadi’. Informasi ini berfokus pada masa

kini (atau sangat baru-baru masa lalu).

2) Penjelasan atau Evaluasi

Laporan pendapat dapat menjelaskan situasi, yaitu menjelaskan penyebab

peristiwa dan alasan tindakan: Mengapa hal itu bisa terjadi?

Pernyataan-pernyataan ini sering tentang peristiwa masa lalu dan circumates, atau sekitar

konteks saat ini lebih umum.

3) Moral

Banyak editorial memiliki kategori prediksi atau rekomendasi, yang kita

dapat menggolongkan dalam kategori yang lebih luas dari kesimpulan atau

moral dan berfokus pada masa depan: Apa yang akan terjadi? atau Apa yang

harus dilakukan?

b. Struktur dan Strategi Argumentatif

Menganalisis teks tajuk rencana berdasar struktur dan strategi argumentasi.

Seperti penggunaan ironi, metafora, perbandingan, understatements dan

overstatements, kontras dan lain-lain serta aspek gaya-gaya leksibel dan bentuk

sintatik merupakan bagian dari analisis tersebut.54 Unsur yang dianalisis dalam

struktur dan strategi argumentasi adalah:

1) Koherensi55

Koherensi adalah pertalian atau jalinan antarkata, atau kalimat dalam teks.

Dua buah kalimat yang menggambarkan fakta yang berbeda dapat

dihubungkan sehingga tampak koheren. Contohnya adalah kalimat “demonstrasi mahasiswa” dan “ nilai tukar rupiah melemah” adalah dua buah

fakta yang berlainan. Dua kalimat tersebut menjadi berhubungan sebab akibat ketika dihubungkan dengan kata hubung “mengakibatkan” sehingga

kalimatnya menjadi “demonstrasi mahasiswa mengakibatkan nilai tukar

rupiah melemah”. Dua buah kalimat itu menjadi tidak berhubungan ketika

dipakai kata hubung “dan”, dimana kalimatnya kemudian menjadi

“demonstrasi mahasiswa dan nilai tukar ruiah melemah”. Dalam kalimat ini,

antara fakta banyaknya demonstrasi dan nilai tukar rupiah dipandang tidak

54 Ibid., h. 232

saling berhubungan, kalimat satu tidak menjelaskan kalimat lain atau menjadi

penyebab kalimat lain.

Koherensi merupakan elemen wacana untuk melihat bagaimana seseorang

secara strategis menggunakan wacana untuk menjelaskan suatu fakta atau

peristiwa. Apakah peristiwa itu dipandang saling terpisah, berhubungan, atau

malah sebab akibat. Pilihan pilihan mana yang diambil ditentukan sejauh

mana kepentingan komunikator terhadap peristiwa tersebut.

Koherensi ini secara mudah dapat diamati diantaranya dari kata hubung

(konjungsi) yang dipakai untuk menghubungkan fakta. Apakah dua kalimat

dipandang sebagai hubungan kausal (sebab akibat), hubungan keadaan, waktu,

kondisi, dan sebagainya.

2) Kata Ganti56

Kata ganti merupakan alat yang dipakai oleh komunikator untuk menunjukkan

dimana posisi seseorang dalam wacana. Dalam mengungkapkan sikapnya, seseorang dapat menggunakan kata ganti “saya” dan “kami” yang

menggambarkan bahwa sikap tersebut merupakan sikap resmi komunikator

semata-mata. Akan tetapi, ketika memakai kata ganti “kita” menjadikan sikap

tersebut sebagai representasi dari sikap bersama dalam suatu komunitas

tertentu. Batas antara komunikator dengan khalayak dengan sengaja

dihilangkan untuk menunjukkan apa yang menjadi sikap komunikator juga

menjadi sikap komunitas secara keseluruhan.

Pemakaian kata ganti yang jamak seperti “kita” (atau “kami”) mempunyai

implikasi menumbuhkan solidaritas, aliansi, perhatian publik, serta

mengurangi kritik dan oposisi (hanya) kepada diri sendiri. Kalau kata ganti

“kita” dipakai untuk menunjukkan tidak ada batas antara

wartawan/komunikator dengan khalayak, kata ganti “kami” dan “mereka”

justru untuk menciptakan jarak dan memisahkan antara pihak “kami” dengan

“mereka”. Untuk yang sependapat dengan wartawan dipakai kata ganti “kami”

sedangkan dengan pihak yang tidak sependapat dipakai kata ganti “mereka”.

3) Leksikon57

Pada dasarnya elemen ini menandakan bagaimana seseorang melakukan

pemilihan kata atas berbagai kemungkinan kata yang tersedia. Suatu fakta

umumnya terdiri atas beberapa kata yang merujuk pada fakta. Kata “meninggal”, misalnya, mempunyai kata lain: mati, tewas, gugur, meninggal,

terbunuh, menghembuskan nafas terakhir, dan sebagainya. Di antara beberapa

kata itu seseorang dapat memilih di antara pilihan yang tersedia. Dengan

demikian pilihan kata yang dipakai tidak semata hanya karena kebetulan,

tetapi juga secara ideologis menunjukkan bagaimana pemaknaan seseorang

tehadap fakta/realitas.

4) Metafora58

Pemakaian metafora tertentu bisa menjadi petunjuk utama untuk mengerti

makna suatu teks. Metafora tertentu dipakai oleh wartawan secara strategis

sebagai landasan berpikir, alasan pembenar atas pendapat/gagasan tertentu

kepada publik. Wartawan menggunakan kepercayan masyarakat, ungkapan

sehari-hari, peribahasa, pepatah, petuah leluhur, kata-kata kuno, dan bahkan

mungkin ungkapan yang diambil dari ayat-ayat suci yang semuanya dipakai

untuk memperkuat pesan utama.

5) Eksplisit59

Informasi yang tidak disembunyikan oleh komunikator di dalam teks karena

dianggap mendukung pendapat yang diungkapkan dalam wacana. Informasi

tersebut disajikan secara jelas dengan kata-kata yang tegas, dan menunjuk

langsung pada fakta. Contoh penyajian informasi secara eksplisit:

“Begitu mendarat di Timor Timur, Interfet langsung melakukan operasi

militer, diantaranya dengan melakukan penggeledahan, penahanan,

penodongan, dan membekuk milisi yang dicurigai membuat kekacauan.

Tindakan Interfet ini sesuai dengan mandat yang diberikan oleh PBB untuk

melakukan segala cara demi terciptanya perdamaian di Timor Timur.”

58 Ibid., h. 259

Dalam contoh diatas secara eksplisit ditegaskan apa yang dilakukan Interfet

sesuai dengan wewenang yang dipunyainya.

6) Implisit60

Informasi yang sengaja disembunyikan oleh komunikator yang ada di dalam

teks karena dianggap tidak mendukung pendapat yang diungkapkan dalam

wacana. Informasi tersebut disajikan dengan kata yang tersamar, eufemistik,

dan berbelit-belit. Contoh penyajian informasi secara implisit:

“Begitu mendarat di Timor Timur, Interfet langsung melakukan operasi

militer, diantaranya dengan melakukan penggeledahan, penahanan,

penodongan, dan membekuk orang yang dicurigai sebagai milisi”

Dalam contoh tersebut digambarkan tindakan yang dilakukan oleh Interfet,

termasuk membekuk, melakukan penahanan, penodongan, dan penggeledahan

terhadap orang yang dianggap menganggu. Akan tetapi, pada saat yang

bersamaan, kenapa Interfet melakukan itu dan wewenang apa yang dipunyai

Interfet tidak diuraikan. Hal ini berakibat pada makna yang akan diterima

khalayak bisa jadi berbeda.

7) Overstatement

Pendapat yang berisi kalimat-kalimat positif/pujian yang ditujukan kepada

suatu pihak. Kalimat-kalimat tersebut biasanya menunjukkan keberpihakan

atas tindakan atau perkataan yang dilakukan oleh suatu pihak.

8) Understatement

Pendapat yang berisi kalimat-kalimat negatif yang ditujukan kepada suatu

pihak. Kalimat-kalimat tersebut menunjukkan ketidaksetujuan ataupun

perbedaan pendapat terhadap tindakan maupun perkataan suatu pihak.

c. Kesimpulan

Penarikan kesimpulan berdasarkan hasil analisis teks tajuk rencana yang telah

Dokumen terkait