• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB 3. METODOLOGI PENELITIAN

3.7. Teknik Analisis Data

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memulai penelitian, selama penelitian dan setelah selesai penelitian. Untuk menganalisis data dalam penelitian ini digunakan analisis deskriptif yang berfungsi memberikan gambaran tentang data yang diperoleh. Pada penelitian ini gambaran yang akan

dianalisis adalah mengenai pelaksanaan program gizi dan gangguan pertumbuhan anak di Kabupaten Karo. Gambaran umum puskesmas akan dianalisa melalui dokumen-dokumen yang terkait. Analisis yang diberikan terutama mengenai hasil pencapaian program. Data dokumentasi ini akan di cros chek dengan data hasil wawancara.

Hasil analisis deskriptif ini akan ditampilkan dengan menggunakan narasi dan grafik sehingga tergambarkan lebih jelas. Data sekunder dan data primer akan digabungkan untuk membantu mengidentifikasi, menganalisa secara kualitatif.

Analisis data kualitatif dilakukan pada saat pengumpulan data berlangsung maupun pada saat setelah selesai dilakukan pengumpulan data. Adapun komponen dalam analisis data ini meliputi data reduction, data display, dan conclusions. Pada proses data reduction dilakukan kegiatan merangkum, memilih hal-hal yang pokok, menfokuskan pada hal-hal penting, dan mencari tema maupun polanya. Pada proses data display, dilakukan pemaparan data melalui uraian singkat, hubungan antar kategori, dan sebagainya. Penyajian data ini bertujuan untuk memudahkan pemahaman terhadap apa yang terjadi dalam penelitian, dan merencanakan kerja selanjutnya dari apa yang telah dipaparkan. Proses terakhir yang dilakukan adalah penarikan kesimpulan dan verifikasi. Kesimpulan yang dihasilkan dapat berupa kesimpulan awal yang bersifat sementara dan akan berubah bila tidak ditemukan bukti-bukti yang mendukung. Namun kesimpulan awal ini dapat menjadi kesimpulan yang tetap bila kesimpulan ini didukung oleh bukti-bukti yang valid dan konsisten.

BAB 4

HASIL PENELITIAN

4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian

Kabupaten Karo terletak di dataran tinggi Bukit Barisan dan sebagian besar wilayahnya merupakan dataran tinggi. Sebelah Utara Kabupaten Karo berbatasan dengan Kabupaten Langkat dan Deli Serdang, sebelah Selatan berbatasan dengan Kabupaten Dairi dan Toba Samosir, sebelah Timur berbatasan dengan Kabupaten Deli Serdang dan Kabupaten Simalungun dan sebelah Barat berbatasan dengan Aceh Tenggara. Secara administrasi Kabupaten Karo terdiri dari 17 Kecamatan dan 19 Puskesmas yang terdiri dari 259 desa dan 10 kelurahan dengan luas wilayah 2.127,25 km2

Tabel 4.1. Nama Kecamatan, Luas Wilayah, Jumlah Penduduk, Rumah Tangga, Desa dan Kelurahan di Kabupaten Karo Tahun 2013

atau 212.725 Ha atau 2,97% dari luas Propinsi Sumatera Utara. Jumah penduduk Kabupaten Karo sebesar 358.823 jiwa dengan jumlah KK sebanyak 98.301 KK.

Adapun nama kecamatan, luas wilayah serta jumlah penduduk dapat dilihat pada tabel berikut:

Tabel 4.1. (Lanjutan)

Kabupaten Karo untuk sarana kesehatan telah dilengkapi dengan sarana pelayanan kesehatan seperti rumah sakit umum/swasta, puskesmas, poskesdes dan posyandu serta tenaga medis di setiap puskesmas. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.2. Sarana Pelayanan Kesehatan dan Tenaga Kesehatan di Kabupaten Karo Tahun 2013

No Kecamatan Puskesmas Poskesdes /Desa/Kel

Posyandu Bidan Tenaga Gizi

Tabel 4.2. (Lanjutan) No Kecamatan Puskesmas Poskesdes

/Desa/Kel

Posyandu Bidan Tenaga Gizi

15. Juhar Juhar 25 24 14 1

16. Tigabinanga Tigabinanga 21 29 19 1

17. Kutabuluh Kutabuluh 16 15 11 1

18. Laubaleng Laubaleng 15 32 22 2

19. Mardingding Mardingding 12 30 25 1

Jumlah 269 377 368 25

Lembaga pendidikan yang tersedia SD sampai Universitas dengan jumlah SD ada sebanyak 285 sekolah, SLTP ada 65 sekolah dan SLTA ada 36 sekolah. Tingkat pendidikan warga terbanyak adalah SD sebesar 75.019 orang (27,5%), kemudian diikuti oleh SMA sebesar 69.987 orang (25,7%). Kabupaten Karo terkenal sebagai daerah penghasil berbagai buah-buahan, sayuran dan bunga-bungaan sehingga mata pencaharian penduduk terutama adalah usaha pertanian pangan, holtikultura dan perkebunan rakyat. Sebagian besar penduduk beragama Kristen Protestan sebanyak 54,04%, Islam 23,67%, Katolik 19,07%, Hindu 1,97%, Budha 0,23% dan lain-lain 1,02%.

4.2. Karakteristik Informan

Informan dalam penelitian ini berjumlah 22 orang, terdiri dari 2 orang Pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten Karo yaitu Kepala Bidang Bina Program dan Kepala Seksi Gizi dan Usila, 4 orang Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas dan 16 orang ibu yang mempunyai anak balita. Kepada seluruh informan dilakukan wawancara mendalam.

4.2.1.Karakteristik Pejabat Dinas Kesehatan Kabupaten Karo

Kepala Bidang Bina Program berusia 52 tahun, berpendidikan S2 (magister kesehatan masyarakat) dan telah bekerja sebagai PNS selama 20 tahun. Menjabat sebagai Kepala Bidang Bina Program selama 10 tahun yang membawahi seksi data dan informasi, perencanaan dan promosi kesehatan.

Kepala Seksi Gizi dan Usila berusia 42 tahun, berpendidikan S2 (magister Kesehatan Masyarakat) dan telah bekerja sebagai PNS selama 15 tahun. Menjabat sebagai Kepala Seksi Gizi dan Usila masih baru selama kurang lebih 6 bulan.

Sebelumnya pernah sebagai staf seksi gizi da usila selama kurang lebih 10 tahun dan terakhir sebagai staf seksi data dan informasi sebelum diangkat menjadi Kepala Seksi Gizi dan Usila.

4.2.2. Karakteristik Tenaga Pelaksana Gizi Puskesmas (TPG Puskesmas)

TPG Puskesmas sebayak 4 orang yaitu TPG Puskesmas Tigapanah, Puskesmas Berastagi, Puskesmas Munthe dan Puskesmas Laubaleng, berusia antara 45 sampai 50 tahun, berpendidikan D1 sampai D3 Gizi, satu orang berpendidikan Sarjana Kesehatan Masyarakat, lama bekerja di Puskesmas antara 19 sampai 28 tahun. Untuk lebih jelasnya karakteristik masing-masing informan dapat dilihat pada tabel dibawah ini.

Tabel 4.3. Karakteristik Informan Wawancara Mendalam TPG Puskesmas Tigapanah, Berastagi, Munthe dan Laubaleng

No Informan Uraian

1 TPG Puskesmas Tigapanah Umur

Tatalaksana Gizi Buruk, Pemantauan Pertumbuhan

2 TPG Puskesmas Berastagi Umur

Kadarzi, Tatalaksana Gizi Buruk, Pemantauan Petumbuhan

3 TPG Puskesmas Munthe Umur

Pemantauan Pertumbuhan, Tatalaksana Gizi Buruk

4 TPG Puskesmas Laubaleng Umur

Pemantauan Pertumbuhan, Tatalaksana Gizi Buruk

4.2.3. Karakteristik Ibu

Ibu yang menjadi informan dalam penelitian ini adalah ibu yang mempunyai anak balita atau anak kelas 1 SD berjumlah 16 orang. Informan berusia antara 19 sampai 38 tahun sampai berpendidikan SD sampai SMA. Pekerjaan informan bervariasi, ada Petani, PNS, Wiraswasta dan Ibu Rumah Tangga (IRT). Adapun karakteristik masing-masing informan dapat dilihat pada tabel berikut ini:

Tabel 4.4. Karakteristik Informan Wawancara Mendalam pada Ibu yang Mempunyai Anak Balita atau Anak Kelas 1 SD

Puskesmas Tigapanah

Puskesmas Berastagi

Puskesmas Munte Puskesmas Laubaleng Ibu 1

4.3. Pelaksanaan Program Gizi

Pelaksanaan program gizi dilakukan untuk menciptakan derajat kesehatan masyarakat yang merupakan bagian integral dari program kesehatan. Program ini harus dilaksanakan secara terus menerus dan berkesinambungan melalui kegiatan program perbaikan gizi untuk mengatasi masalah gizi yang ada seperti Kurang Energi Protein (KEP) dan Kurang Vitamin A (KVA). Adapun program-program tersebut adalah program pemantauan pertumbuhan, pemberian ASI Ekskusif, tatalaksana gizi buruk dan pemberian kapsul vitamin A.

Kegiatan program perbaikan gizi dalam pencegahan dan penanggulanagn masalah gizi dapat terlaksana dengan baik bila tersedia sumber daya yang cukup.

Sumber daya ini merupakan masukan (input) sedangkan pelaksanaan kegiatan program perbaikan gizi merupakan proses yang bertujuan untuk menghasilkan keluaran (output) dalam bentuk cakupan hasil kegiatan program dan selanjutnya dapat memberikan dampak sesuai yang diharapkan (outcome).

4.3.1. Masukan (Input)

Masukan (input) merupakan semua hal yang diperlukan untuk terselenggaranya pelayanan gizi yang dalam hal ini meliputi tenaga gizi, sarana dan prasarana penunjang program gizi yang dapat dilihat pada uraian berikut ini:

4.3.1.1. Tenaga Gizi

Kebutuhan tenaga gizi di puskesmas berdasarkan hasil wawancara mendalam berbeda persepsinya antara Pejabat Dinas Kesehatan dengan TPG Puskesmas.

Menurut Kepala Bidang Bina Program kebutuhan TPG di Puskesmas sudah cukup 1 per puskesmas karena rata-rata 1 TPG di Puskesmas pasti ada bahkan ada yang lebih dari 1. Pernyataan ini senada dengan pendapat Kepala Seksi Gizi dan Usila bahwa cukup 1 TPG perpuskesmas dan kebutuhannya belum berdasarkan jumlah penduduk seperti disampaikan oleh informan dibawah ini :

“Iyaa...jadi kalau kita berbicara tenaga itukan ada 2 sisi ya...dari sisi kuantitas dan kualitas....jadi saya pikir dari segi kuantitas jumlahnya saya pikir sudah cukup karena rata-rata di puskesmas 1 pasti ada tenaga gizi malah ada yang lebih...jadi saya pikir jumlahnya sudah cukup...” (Kepala Bidang Bina Program)

“Menurut saya untuk disetiap puskesmas saya rasa cukup satu orang perpuskesmas, untuk soal kebutuhannya itu mungkin ibu lebih jelasnya bisa bertanya ke kepegawaian, tetapi setahu saya kalau berdasarkan jumlah penduduk itu setahu saya mungkin saya salah bisa dikonfirmasi kekepegawaian itu belum ada dilaksanakan misalkan 1 ahli gizi untuk penduduk sekian belum

ada. Cuma gambarannya untuk satu puskesmas satu TPG malah ada 2 TPG untuk satu puskesmas.”(Kepala Seksi Gizi dan Usila)

Lain halnya menurut TPG Puskesmas, mereka menyatakan tidak cukup kalau 1 saja TPG di Puskesmas dilihat dari luasnya wilayah, banyaknya jumlah penduduk dan kegiatan program yang ada di puskesmas. Kalau cuma 1, petugas gizi kewalahan untuk mengunjungi semua posyandu yang ada di wilayahnya jadi menurut mereka paling tidak 2 oranglah tenaga gizi di puskesmas agar dapat berbagi tugas, seperti ungkapan berikut ini :

“Itukan tergantung luas wilayahnya kalau di Puskesmas Berastagi ini sebernanrnya kalau cukup ya cukup 1 cuma tidak terpantau secara keseluruhan karena luas wilayah berastagi kan agak luas sampai ke doulu sana....cocoknya 2...”(TPG Puskesmas Berastagi)

“Sebernarnya melihat dari kegiatan dari program keseluruhan kurasa kurang mencukupi karena melihat wilayah kita jugakan, wilayah kami sangat luas 22 Desa, bayangkan itu beberapa posyandu juga untuk perdesa luas memang jadi untuk di puskesmas munte ini saya rasa perlu juga ditambah tenaga ...diperlukan perencanaan kebutuhan tenaga gizi...”(TPG Puskesmas Munte)

Jenis pendidikan yang tepat bagi TPG Puskesmas untuk menjalankan tugasnya semua informan sepakat minimal D3 Gizi. Tapi meskipun begitu menurut Kepala Bidang Bina Program dan TPG Puskesmas Tigapanah petugas gizi harus tetap mengupdate pengetahuannya dan belajar dari hari ke hari apa yang harus diketahuinya selaku tenaga gizi jangan hanya mengandalkan pengalamannya saja agar dapat menanggulangi permasalahan gizi di masyarakat, sebagaimana ungkapan berikut:

“Pendidikan....ini menyangkut kualitas ya....saya pikir tenaga gizi di puskesmas itu D3 sudah cukup tapi dia harus belajar dari hari kehari apa yang harus

diketahuinya selaku tenaga gizi bukan hanya dengan pendidikan tapi harus mempelajari pogram gizi itu...selain itu mereka ini harus tetap mengupdate pengetahuannya, apa tuntutan sekarang ini...jadi kalau dia hanya berharap daripada pengalamannya saja tanpa ada satu upaya yang diharapkan untuk menanggulangi permasalahan gizi dimasyarakat yang berkembang pada saat ini....mungkin tidak akan selesai...”(Kepala Bidang Bina Program)

“Idealnya gimana kubilang yaa...D3 memang sudah pas...tapi kalau memang sebenarnya ya harusnya memang sampai S1kan bisanya tapikan tergantung orangnya juga....harus belajar terus tah pelatihan...tergantung orangnyalah tapi itupun harusnya sebenarnya sekolah gitu lo....ya biar lebih pintar kita mengasi apa ceramah...apalagi seperti gizi-gizi buruk itu...”(TPG Puskesmas Tigapanah)

4.3.1.2. Sarana dan Prasarana

Beberapa informan menyatakan bahwa sarana timbangan khususnya timbangan dacin yang ada di posyandu kurang, awalnya timbangan ini cukup jumahnya tapi karena ada laporan dari beberapa bidan desa dacin mereka rusak jadi kurang baru-baru ini. Selain itu, yang adapun sebenarnya tidak optimal karena tidak pernah dilakukan evaluasi apakah alat tersebut masih berfungsi dengan baik atau tidak seperti pernyataan berikut ini:

“Saya melihatnya...eee...sebenarnya kurang tapi yang adapun tidak optimal...jadi katakanlah tadi timbangan...untuk pengadaan, sebenarnya kita pernah adakan itu untuk kebutuhan kita secara cukup tapi apakah sekarang kondisinya sudah ada yang rusak ya...ini yang kita tidak tau...apakah memang masih tersedia dengan baik jumlah dan....aaaaa...berfungsi atau tidak....inikan harus dievaluasi dari waktu kewaktu, pernahkah kita evalalusi saya ragu juga apakah setiap posyandu alatnya itu masih berfungsi dengan baik atau tidak...”(Kepala Bidang Bina Program)

“Timbangan disini kurang karena banyak yang rusak....awalnya pasnya hanya karena kemaren ada bidan yang melapor rusak jadi kurang...ada 5 bidan yang melapor...karena ada laporan bidan makanya tau rusak ...hari itu dokter bilang nanti kita ajukan ke dinas...ternyata belum datang barangnya...

taunya waktu rapat bulan lalu...3 atau 4 bidan yang ngelapor...”(TPG Puskesmas Laubaleng)

Tapi ada juga informan yang menyatakan timbangan cukup jumlahnya, semua poayandu sudah memiliki timbangan dacin. Tapi untuk alat pengukur tinggi dan panjang badan anak menurut TPG Puskesmas tidak ada di posyandu, yang ada hanya di puskesmas, itupun cuma 1 sehingga jika ada program pengukuran panjang dan tinggi badan anak, alat itu harus dibawa-bawa sehingga agak menyusahkan juga.

Sebagaimana ungkapan dibawah ini:

“Kalau timbangan dacin sudah memadai ...itu yang kurang pengukur tinggi badan....panjang badan dan tinggi badan hanya ada satu di puskesmas...alat panjang badan agak sulit dibawa ke posyandu....kalau bisa diganti jenisnya....kalau alat pengukur tinggi badan susah juga karena harus ada tempat cantolannya...”(TPG Puskesmas Berastagi)

“Kalau dibidang sarana timbangan mencukupi tapi kalau alat pengukur tinggi dan panjang badan cuma 1 ada, jadi kami buat di puskesmas....”(TPG Puskesmas Munte)

Begitu juga halnya dengan Kartu Menuju Sehat (KMS) semua TPG mengatakan kurang tidak mencukupi lagi untuk semua posyandu karena perannya telah digantikan oleh buku KIA yang oleh petugas disebut buku merah dan menurut informan jumlahnya mencukupi tapi tidak terdistribusi dengan baik ke masyarakat, seperti pernyataan berikut ini:

“KMS yang kurang sekarang karena KMS kan tidak diadakan lagi, yang diadakan buku kia....kalau daerahnya yang jauh ke kota dia tidak speksi (periksa kehamilan) ke petugas jadi tidak dikasi buku kia otomatis buku kianya ngak ada...kadang dia speksi ke swasta ...di swasta tidak dikasi...buku kia sampai sekarang cukup...”

Untuk prasarana khususnya posyandu baik pejabat dinas kesehatan maupun TPG sama-sama menyatakan bahwa jumlah posyandu sudah mencukupi. Yang tidak mencukupi adalah alat penunjang posyandu seperti kursi, meja, dll. Berikut petikannya :

“Yaaa...kalau berbicara posyandu jumlah saya bilang itu sudah cukup karena banyak posyandu kita...dari jumlah desa kita 260 atau 269 sementara tercatat jumlah posyandu kita kan ada 400 kalau ngak salah....ini menunjukkan bahwa semua desa kita sudah lebih daripada 1 posyandunya...”(Kepala Bidang Bina Program)

“Untuk posyandu tidak ada masalah sudah cukup, semua desa sudah ada posyandunya tempatnya juga sudah layaklah...hanya perlengkapannya yang kurang seperti meja, kursi....”(TPG Puskesmas Munte)

Meskipun begitu TPG tidak mengeluhkan kekurangan ini dan mereka menganggap itu biasa saja. Ini sejalan dengan pernyataan Kepala Bidang Bina Program bahwa tenaga lapangan harus mengetahui perencanaan juga agar dapat merencanakan kebutuhan programnya. Berikut petikannya :

“...soal perlengkapannya enggak pernah kepikiran...memang ngak kepikiranlah gitu.... karena bisa ...ngak jadi masalah soal meja...lain tadi jadi masalah gitukan bisa juga kita usulkan, inikan ngak jadi masalah....lagipula yang melaksanakan disitu bidannya 1 kader....enggak 5 orang disitu, kadang 2 orang merangkap yang 5 tadi jadi untuk apa meja terbuang sampai 5 gitu..."(TPG Puskesmas Laubaleng)

“Kalau soal perlengkapan posyandu...yaa..saya bilang tadikan ini menyangkut pada kualitas tenaga kita...kalau sipelaksana lapangan sendiri tidak pernah merasa perlu mungkin kita di Dinas pun tidak tahu sebesar berapa itu keperluan kita...oleh karena itu saya pikir kembali kepada tenaga-tenaga kita di lapangan, secara kualitas harus memang tahu fungsinya untuk apa saja, fungsi perencanaan pun harus tahu untuk merencanakan apa yang kurang untuk pelaksanaan tugasnya sebagai tenaga gizi dilapangan...”(Kepala Bidang Bina Program)

Tempat penyimpanan sarana penunjang program gizi seperti MP-ASI, alat-alat timbangan semua informan mengatakan tidak masalah. Memang tidak ada ruangan khusus yang disiapkan tapi jika diperlukan ada disediakan ruangan meskipun kadang-kadang harus bergabung dengan gudang penyimpanan obat. Berikut petikannya:

“Kalau gudang penyimpanan ...yaa...istilahnya khusus tidak ada hanya kalau perlu ada disediakan...jadi tidak masalah.”(TPG Puskesmas Berastagi)

“Soal tempat penyimpanan barang gizi....gabung aja sama itu ruang obat...cukup karena 2 gudang obat kami...itu tidak ada masalah.”(TPG Puskesmas Laubaleng)

4.3.2. Proses

Proses merupakan semua tindakan yang dilakukan dalam pelayanan gizi yang meliputi perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pelaksanaan, pengawasan dan pengendalian. Dalam hal ini proses merupakan pelaksanaan program yang terdiri dari program pemantauan pertumbuhan, program pemberian ASI Eksklusif, program tatalaksana gizi buruk dan program pemberian kapsul vitamin A, seperti uraia berikut ini:

4.3.2.1. Pelaksanaan Program Pemantauan Pertumbuhan

Pelaksanaan kegiatan pemantuan pertumbuhan menurut kepala bidang bina program diperlukan perencanaan terus menerus agar kebutuhan kegiatan program dapat dianggarkan biayanya sehingga kekurangan-kekurangan yang ada dapat disediakan. Selanjutnya kepala bidang bina program juga mengatakan jangan sampai waktu pengusulan pengelola program di dinas tidak mengetahui apa kebutuhan dan permasalahan puskesmas. Tetapi berdasarkan wawancara dengan Kepala Seksi Gizi

dan Usila perencanaan kegiatan pemantauan pertumbuhan tidak ada dilakukan karena kegiatan ini dianggap semacam kegiatan rutin yang berjalan setiap bulan. Begitu juga halnya dengan TPG Puskesmas mereka menyatakan tidak ada perencanaan. Berikut petikannya:

“Yang dilaksanakan selama ini artinya tidak lagi dengan perencanaan karena kegiatan ini sudah rutin dilaksanakan setiap bulan di posyandu....tapi walaupun begitu adanya direncanakan...”(Kepala Seksi Gizi dan Usila)

“Tidak ada direncakan...berjalan secara rutin setiap bulan...”(TPG Puskesmas Berastagi)

Pelaksanaan pemantauan pertumbuhan di posyandu menurut Kepala Seksi Gizi dan Usila dilakukan oleh bidan di desa dibantu dengan kader dan ini senada dengan pernyataan TPG Puskesmas. Dalam hal turun ke posyandu, setiap puskesmas bervariasi. Ada TPG yang turun ke posyandu setiap bulan untuk melaksanakan kegiatan pemantauan pertumbuhan tapi tidak semua posyandu dikunjungi, alasanya transport untuk turun tidak mencukupi, seperti kutipan berikut:

“Itukan yang memantaukan bidan...turun juga kami...dibagilah....enggak semua didatangi setiap bulan...cuma 11 posyandu setiap bulan....11 posyandu bulan ini...bulan depan tukar lagi dengan posyandu yang berbeda, begitu setiap bulan...karena transportnya dari mana kami ambil...yang melakukan bidan sama perangkat desa (kader)...kadang ada kadernya kadang bidan sendiri, cuma 2 atau 1 yang aktif tapi 5 yang terdaftar...ya diapanya saja...ditimbangnya...”(TPG Puskesmas Tigapanah)

Ada yang turun dalam bentuk tim bergantian dengan teman sesama TPG yang ada 2 TPG dalam satu puskesmas tapi tidak semua posyandu dikunjungi karena jumlah posyandu yang banyak jadi bisa dalam sehari 2 atau 3 posyandu berbarengan

pelaksanaannya tapi meskipun begitu petugas kesehatan yang lain ada yang turun, seperti pernyataan berikut ini:

“...tidak semua posyandu didatangi setiap bulan...kan bergantian...walaupun petugas gizi tidak turun tapi ada petugas yang lain...tapi ada nya selalu laporannya ke puskesmas...ada tim turun dari puskesmas....sudah diatur sama kapusk...jadi semua posyandu terpantau...petugas yang lain ngerti juga karena sudah diajarin dan yang diukur kan hanya berat badan...setiap posyandu ada kader...ada yang 2 atau 1...terdaftar 5...mereka bergantian...”

“Karena begini...disinikan 30 posyandu...kadang-kadang satu hari itu ada 3 posyandu ada yang 2...jadi ngak bisa...agak sulit membagi karena kalau istilahnya tiap hari turun TPG kan kosong di puskesmas....”(TPG Puskesmas Berastagi)

Ada TPG yang dulunya turun setiap bulan ke posyandu tapi sekarang tidak lagi karena semua desa sudah ada bidan sehingga pelaksanaan posyandu diserahkan kepada bidan desa dan TPG turun kalau diperintah Kepala Puskesmas, seperti pernyataan berikut ini:

“Itukan tergantung kepala...kalau diarahkan kita kan yahh...turun gitu...ngak mungkin kita turun sendiri ...ngak mungkinkan...posyandu kita kuje nina (kesini katanya) posyandu kami...jadwal tetap nge lit (ada)...tapi pelaksana nggo (sudah) didesalah...bidan desa...karena tiap desa, dusun udah lengkap bidan...jadi orang itu melaksanakan posyadu...turun nge kami rusur (turunnya kami selalu) tapi lanai (tidak) tiap posyandu bage lanai (gitu tidak) tiap bulan....lanai bage sibarenda (tidak seperti dulu)....2 posyandu bulan ini 4 posyandu bulan depan gitu...ngak lagi semua posyandu kami kunjungi gitu...udah dijadwal...bicara turun tiap bulan bisanya...yang membantu bidan kader....udah dianjurkan memang...kaderkan selalu ada....5 perposyandu tapi ngak limanya sekali posyandu, diapun udah dijadwalkannya lagi sama kadernya, 2 gitu hadir tiap posyandu bukan lima-limanya disitu, nantikan ngak terkasi bidan itu uang sabunnyalah gia...”(TPG Puskesmas Laubaleng)

Ada juga yang sama sekali tidak pernah lagi turun ke posyandu karena pelaksanaannya sudah dilakukan oleh bidan setempat. Berikut kutipannya:

“Kalau sekarang...kalau sekarang tidak turun karena memang bidan sudah mengadakan kegiatan posyandu ditempatnya....cuma kami hanya mengkoordinir saja dari puskesmas pelaksanaannya...orang puskesmas merencanakan, pelaksanaannya bidan-bidan didesa.”(TPG Puskesmas Munte)

Pernyataan ini sejalan dengan pertanyaan masyarakat melalui wawancara dengan ibu yang mempunyai anak balita atau anak kelas 1 SD yang menyatakan bahwa ada petugas kesehatan yang selalu datang pada saat posyandu, ada yang sama sekali tidak pernah datang, ada yang sekali-sekali datang, seperti pernyataan berikut ini :

“Puskesmas nari sung-sung lit ka sung-sung lang ka (dari puskesmas kadang-kadang ada kadang-kadang-kadang-kadang tidak)...”(Ibu 2)

“Selalu datang dari puskesmas...”(Ibu 6)

“Petugas puskesmas tidak pernah sekalipun datang...”(Ibu 11-13)

“Sanga si nda lit kang arah puskesmas (ada juga dulu dari puskesmas)...adi sigundari ia ngenca sisada (kalau sekarang dia aja sendiri), usuren lalit (lebih sering tidak ada).”(Ibu 14)

Kegiatan posyandu dilakukan setiap bulan tapi tahapan pelaksanaannya

Kegiatan posyandu dilakukan setiap bulan tapi tahapan pelaksanaannya