• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.4 Teknik Analisis Data

Metode yang digunakan dalam teknik analisis data ini adalah metode padan. Metode padan adalah sebuah metode yang alat penentunya di luar, terlepas, dan tidak menjadi bagian dari bahasa (langue) yang bersangkutan (Sudaryanto, 2015:15).

Data yang akan diteliti berupa dialog yang dilakukan oleh beberapa narasumber yang dipancing oleh pembawa acara. Dalam dialog yang akan dilakukan oleh para narasumber, peneliti akan menganalisis percakapan yang mereka tuturkan. Peneliti akan menganalisis pelanggaran kerja sama yang dilakukan oleh narasumber tersebut yang kemudian akan dideskripsikan dan dicocokkan ke dalam maksim-maksim yang terdapat dalam prinsip kerja sama.

Kemudian peneliti akan mendeskripsikan makna tambahan yang diperoleh atau yang disebut dengan implikatur.

Contoh metode analisis data yang terdapat dapat dalam dialog dalam Acara Indonesia Lawyers Club-Setelah 0102 Sepiring Berdua di TVONE.

Karni Ilyas : “Bagaimana Pak Qodari membaca peta politik hari ini?”

M. Qodari : “Baik. Terima kasih, Bang Karni. pertama-tama kita mengucapkan selamat kepada Pak Jokowi dan Abah Makruf Amin yang telah dilantik pada hari minggu yang lalu dan masing-masing udah mulai melaksanakan tugasnya.

Pertama, Pak Jokowi melakukan audisi calon menteri dan Abah Makruf Amin mewakili Republik Indonesia menghadiri penobatan kaisar baru Jepang, Naruhito.

Tolong jangan tertukar dengan naruto. Hati-hati dengan naruto karena pisau naruto belakangan sangat terkenal. Kedua, mungkin saya belum masuk kepada

dinamika politik pada hari ini. Izin Bang Karni, untuk prespek sedikit kebelakang kebetulan di ruang ini ada teman-teman kita yang duduk di parlemen, yaitu orang-orang yang membuat bertanggung jawab membuat UU pemilu.”

Berdasarkan data di atas, M. Qodari telah memberikan informasi yang lebih informatif dari yang diminta sehingga dengan hal ini M. Qodari telah melanggar prinsip kerja sama, yaitu maksim kuantitas. Maksim kuantitas menegaskan bahwa jangan membuat percakapan lebih informatif dari yang diminta. Implikatur yang diperoleh bahwa M. Qodari mengetahui pekerjaan yang telah dilakukan oleh presiden dan wakil presiden.

3.5 Teknik Penyajian Analisis Data

Menurut Sudaryanto (2015:241) Hasil analisis data dibedakan menjadi dua macam, yaitu metode yang bersifat informal dan formal. Metode penyajian informal adalah perumusan dengan kata-kata biasa, sedangkan penyajian data formal adalah perumusan dengan apa yang umum dikenal sebagai tanda dan lambang-lambang. Dalam penelian ini, peneliti menggunakan teknik penyajian data informal, yaitu data yang disajikan berupa kata-kata biasa yang berasal dari dialog yang telah dianalisis.

BAB IV PEMBAHASAN

Pembahasan ini berisi mengenai hasil penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti yang kemudian diaplikasikan kepada permasalahan yang telah dipaparkan dalam bab sebelumnya. Prinsip kerja sama terdiri atas empat maksim, yaitu maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim hubungan/relevansi, dan maksim cara. Dalam acara Indonesia Lawyers Club, narasumber-narasumber yang hadir dalam acara tersebut akan memberikan berbagai pendapat yang akan disampaikan.

Para narasumber akan memaparkan hasil pemikiran mereka mengenai dinamika politik yang terjadi saat itu.

Proses yang terjadi dalam acara tersebut merupakan objek penelitian yang telah dilakukan peneliti, yaitu mengenai implikatur percakapan. Bagaimana implikatur percakapan itu dapat menjelaskan maksud dari apa yang disampaikan.

Dalam hal ini, penelitian ini akan menggunakan maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim hubungan/relevansi, dan maksim cara sebagai jalan untuk menentukan implikatur percakapan tersebut. Dengan adanya pelanggaran yang ditemukan, maka akan memudahkan peneliti dalam menentukan makna tersirat yang disampaikan oleh narasumber tersebut.

Indikator yang digunakan adalah berupa konteks. Konteks dibedakan menjadi empat macam, yaitu (1) konkteks fisik, (2) konteks epistemis, (3) konteks linguistik, dan (4) konteks sosial. Dalam hal ini, peneliti menggunakan konteks linguistik, yakni terdiri atas kalimat-kalimat atau tuturan-tuturan yang mendahului satu kalimat atau tuturan tertentu dalam peristiwa komunikasi.

4.1 Implikatur Percakapan

Implikatur percakapan terjadi karena adanya percakapan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih. Percakapan pada dasarnya adalah peristiwa lisan yang dilakukan beberapa orang untuk berinteraksi. Dalam penelitian ini, implikatur dapat diketahui jika menggunakan pelanggaraan prinsip kerja sama yang terdiri atas maksim kuantitas, maksim kualitas, maksim hubungan, dan maksim cara.

4.1.1 Maksim Kuantitas

Maksim kuantitas menetapkan bahwa setiap peserta percakapan/pembicaraan memberikan kontribusi yang secukupnya atau sesuai dengan yang diperlukan. Maksim kuantitas berkaitan dengan jumlah informasi yang diberikan. Oleh karena itu, ada dua tuturan khusus, yaitu (1) sumbangan Anda seinformatif yang dibutuhkan; dan (2) jangan memberikan sumbangan atau keterangan lebih informatif dari apa yang diperlukan.

DATA 1

M. Qodari :

“Jadi, minta tulung ya bukan tolong lagi karena tulung itu setingkat di atas tolong agar pemilu tahun 2024 itu bagaimana caranya di tata ulang di tahun 2019 ini, kita punya kekhawatiran dan punya konsen bahwa pemilunya kalau serentak itu penanggung jawab utamanya ada sebelah saya yang menghasilkan pemilu serentak itu ternyata menghasilkan sebuah proses secara teknis tidak diduga. Ada yang menyatakan jumlah yang meninggal petugas TPS yang meninggal lebih banyak daripada seharusnya.”

Dari data (1) terlihat bahwa M. Qodari melanggar maksim kuantitas karena telah memberikan pernyataan yang lebih informatif daripada yang diperlukan. M. Qodari memberikan penjelasan yang lebih informatif dengan mengatakan, “Ada yang menyatakan jumlah yang meninggal petugas TPS yang meninggal lebih banyak daripada seharusnya.” Hal tersebut sudah didengar oleh banyak orang karena sudah disiarkan oleh beberapa berita di stasiun TV lainnya.

Implikatur yang diperoleh adalah M. Qodari menginginkan agar kejadian serupa tidak terjadi pada pemilu mendatang. Oleh sebab itu, M. Qodari mengingatkan kembali kepada pendengar mengenai kejadian pemilu tahun ini walaupun sudah banyak yang mengetahuinya.

DATA 2

M. Qodari :

“Yang pertama, tentu saja kabinet akan ditugaskan atau berfungsi untuk mengimplementasikan visi misi dari presiden dan wakil presiden. Sorry, visi dan misi presiden terpilih pada saat itu. Kemudian menteri-menteri yang dipilih menjadi anggota kabinet harus orang-orang memiliki kompetensi untuk bisa menjalankan, melaksanakan, mewujudkan visi misi dari presiden istilahnya pak jokowi itu, tipenya tipe eksikotor. Fungsi yang kedua adalah tentu saja dukungan politik yang menyusun kabinet tidak sama dengan yang memilih kabinet, anggota kabinet tidak sama dengan memilih anggota komisi informasi atau komisi KPK, misalnya.”

Dari data (2) terlihat bahwa M. Qodari melanggar maksim kuantitas karena telah memberikan pernyataan yang lebih informatif daripada yang

diperlukan. M. Qodari memberikan penjelasan yang lebih informatif dengan mengatakan bahwa “….menteri-menteri yang dipilih menjadi anggota kabinet harus orang-orang memiliki kompetensi untuk bisa menjalankan, melaksanakan, mewujudkan visi misi dari presiden istilahnya pak Jokowi itu, tipenya tipe eksikotor.”. Dengan memberikan informasi yang lebih informatif daripada yang diperlukan dapat mengakibatkan pendengar menjadi tidak fokus dengan masalah yang akan dibahas.”

Implikatur yang diperoleh adalah adanya beberapa fungsi kabinet yang harus dijalankan setelah terpilih.

DATA 3

Masinton Pasaribu :

“Nah, PDI-Perjuangan punya pengalaman sepuluh tahun sebagai partai di luar pemerintah, tentu di luar pemerintah itu juga ada bagian dari membangun dari demokrasi yang sehat bagian dari membangun sistem kontrol terhadap kekuasaan. Nah, maka dalam sepuluh tahun PDI-Perjuangan berada di luar pemerintahan, yaitulah sikap politik yang kemudian diimplementasikan berupa gagasan-gagasan alternatif terhadap pemerintah atau rulling party.”

Dari data (3) terlihat bahwa Masinton Pasaribu melanggar maksim kuantitas karena telah memberikan pernyataan yang lebih informatif dari yang diperlukan. Pernyataan tersebut dapat dilihat pada kalimat berikut. “Nah, PDI-Perjuangan punya pengalaman sepuluh tahun sebagai partai di luar pemerintah, tentu di luar pemerintah itu juga ada bagian dari membangun dari demokrasi yang

sehat bagian dari membangun sistem kontrol terhadap kekuasaan.” Pernyataan ini seharusnya tidak perlu dikatakan karena pendengar telah mengetahui bahwa PDI-Perjuangan merupakan partai di luar pemerintahan.

Implikatur yang diperoleh adalah adanya kontribusi PDIP terhadap pemerintah walaupun PDIP merupakan partai di luar pemerintahan.

DATA 4

Masinton Pasaribu :

“Ya. Jadi, dalam politik itukan tidak semuanya harus berada di dalam pemerintahan maupun di luar, seperti itu ya. Nah, kalau yang tergambar hari ini ada beberapa tentu yang belum diajak. Nah, tentu ini kan juga harus kita hormati, baik itu pilihan presiden dan juga sikap politik tentunya baik dia berada dia ikut dalam pemerintahan maupun di luar pemerintahan. Tentu ini sama-sama diabdikan dalam konteks membangun bangsa karena apapun pengalaman kami PDI-Perjuangan selama sepuluh tahun itu, kami di luar pemerintahan diberikan satu alternatif-alternatif kebijakan pada pemerintah yang berkuasa pada saat itu.”

Dari data (4) terlihat bahwa Masinton Pasaribu melanggar maksim kuantitas karena telah memberikan pernyataan yang lebih informatif dari yang diperlukan. Pernyataan tersebut dapat dilihat pada kalimat “Tentu ini sama-sama diabdikan dalam konteks membangun bangsa karena apapun pengalaman kami PDI-Perjuangan selama sepuluh tahun itu, kami di luar pemerintahan diberikan satu alternatif-alternatif kebijakan pada pemerintah yang berkuasa pada saat itu.”.

Implikatur yang diperoleh adalah partai di luar pemerintahan bukan hanya PDIP saja, melainkan ada partai-partai lain yang belum diajak dalam pertemuan ini.

DATA 5

Nasir Jamil :

“Oleh karena itu, saya tidak mau masuk sebagai pengamat politik seperti Prof. Qodari tadi ya menyatakan ini menyatakan itu dan lainnya dan sebagainya. Tapi ini adalah realita politik ya realita politik yang harus kami sadari dan memang dalam politik tidak boleh pakek baperan ya, ngak boleh bawak perasaan. Dalam politik kita bawa perubahan. Nah, oleh karena itu, dalam situasi ini kadang-kadang kita dihadapkan dengan sebuah realita ya kadang kita tidak inginkan di DPR bang karni biasa itu lagi-lagi kita sama-sama tiba-tiba balik ya lagi, sama-sama tiba-tiba balik.”

Dari data (5) terlihat bahwa Nasir Jamil melanggar maksim kuantitas karena telah memberikan pernyataan yang lebih informatif dari yang diperlukan.

Pernyataan tersebut dapat dilihat pada kalimat, “Tapi ini adalah realita politik ya realita politik yang harus kami sadari dan memang dalam politik tidak boleh pakek baperan ya, ngak boleh bawak perasaan. Dalam politik kita bawa perubahan.”. Tentu kalimat itu sudah diketahui oleh banyak orang dan tidak perlu diutarakan kembali.

Implikatur yang diperoleh adalah dalam dunia politik tidak boleh terlalu membawa perasaan. Yang diperlukan dalam berpolitik adalah membuat perubahan yang lebih baik.

DATA 6

Nasir Jamil :

“Bang Karni, biar Pak Rizal yang menyampaikan itu. Saya tidak mau menyampaikan itu ya. Maka saya katakan, biarlah rakyat Indonesia yang menilai walaupun memang ya kalau kita lihat tadi, Pak Masinton katakan bahwa ada sepuluh tahun waktunya yang dilakukan oleh PDI-Perjuangan puasa di luar pemerintahan semasa SBY ya PKS juga puasa kemaren lima tahun yang lalu puasa. Nah, sekarang barang kali ya lima tahun lagi ke depan itu puasa dan mudah-mudahan saja ya orang berpuasakan ada pahalanya ya ada pahalanya jadi ini ada puasa ritual ada puasa sosial ya mungkin ya ada puasa yang kemudian mendapatkan pahala mudahan saja.”

Dari data (6) terlihat bahwa Nasir Jamil melanggar maksim kuantitas karena telah memberikan pernyataan yang lebih informatif dari yang diperlukan.

Pernyataan tersebut dapat dilihat pada kalimat “Nah, sekarang barang kali ya lima tahun lagi ke depan itu puasa dan mudah-mudahan saja ya orang berpuasakan ada pahalanya ya ada pahalanya jadi ini ada puasa ritual ada puasa sosial ya mungkin ya ada puasa yang kemudian mendapatkan pahala mudahan saja.” Hal ini tidak perlu diungkapkan karena sudah merujuk kepada kegiatan keagamaan.

Implikatur yang diperoleh adalah adanya partai yang tidak terlibat dalam pemerintah pada masa-masa tertentu.

DATA 7

Sugeng Suprawoto :

“Saya kira iya jelas itu nah ...itu tuduhan serius ... itu tuduhan serius.

Saya pikir tidak tepat ya kalau kemudian ya apalagi teman-teman apa ee teman-teman komnas HAM temuan-temuan dari mana dari teman-teman kontrak dan segala macem itu disuruh belum diselesaikan. Saya fikir ndak eloklah dia tau tuduhan itu kemudian dialamatkan kepada 02 pada saat itu, apa lagi di tengah upaya kita kemudian mendorong penegakkan hukum yang adil dan berkeadilan.”

Dari data (7) terlihat bahwa Sugeng Suprawoto melanggar maksim kuantitas karena telah memberikan pernyataan yang lebih informatif dari yang diperlukan. Sugeng Suprawoto memberikan informasi yang lebih informatif mengenai teman-teman komnas HAM yang harus menyelesaikan kontrak. Dalam hal ini, Sugeng Suprawoto seharusnya tidak perlu menyampaikan itu karena itu merupakan hal yang tidak penting bagi sebagian pendengar.

Implikatur yang diperoleh adalah adanya ketidaksukaan Sugeng Suprawoto terhadap segala tuduhan yang dialamatkan kepada 02 karena saat itu dengan ada upaya kita kemudian mendorong penegakkan hukum yang adil dan berkeadilan.

DATA 8

Fahri Hamzah :

“Saya setiap bulan sedang membuat buku yang kira-kira salah satu agenda ke depan yang harus diperbaiki adalah independennya sih parlemen.

Bagaimana agar parlemen itu tiap hari kalau nanya itu. Anda bayangkan nanti Prabowo Subianto, kemenkumham iyakan minta yen koposisi satu dia akan dihajar sebagai menteri karena dia akan membawa semua kepala staf untuk rapat komisi satu.”

Dari data (8) terlihat bahwa Fahri Hamzah menyampaikan bahwa ia setiap bulan sedang membuat buku yang kira-kira salah satu agenda ke depan yang harus diperbaiki adalah independennya sih parlemen. Tentu, Fahri Hamzah telah melanggar maksim kuantitas, yaitu jangan memberikan sumbangan atau keterangan yang lebih informatif dari apa yang diperlukan. Fahri Hamzah telah menyampaikan mengenai kepentingan diri sendiri, yaitu membuat buku.

Seharusnya hal itu tidak perlu disampaikan di dalam forum ini.

Implikatur yang diperoleh adalah Fahri Hamzah orang yang ingin menyampaikan agenda-agenda yang harus diperbaiki di dalam parlemen melalui buku yang sedang ia tulis. Dalam hal ini, Fahri ingin menunjukkan bahwa ia adalah orang yang senang menulis dan menyampaikan aspirasinya melalui tulisan yang dia buat serta agar orang membaca bukunya terutama orang yang berada di dalam parlemen.

DATA 9

Ali Moktar Ngabalin :

“Saya dipanggil atau tidak, saya selalu di istana. Artinya, datuk juga tahu bahwa ada jabatan tidak ada jabatan saya selalu ada di samping Jokowi Widodo. Jadi, bagi saya ruang publik ada Ali Moktar untuk menjaga diksi yang menyesatkan publik atau masyarakat. Saya harus meluruskan umpama BPJS untuk rumah sakit. BPJS itu ada 2 kategori. Pertama adalah penerima bantuan iuran bagi mereka ekonomi rendah atau tidak mampu.

Kedua BPJS kesehatan itu adalah bagi mereka yang mampu membayar kesadaran sendiri. Apa logika? Logikanya adalah iuran bapak Said Dido iuran DPR dengan iuran bapak petani atau nelayan itu berbeda mereka mendapatkan bantuan iuran diksi dan narasi. Ini harus diluruskan supaya masyarakat tidak boleh tersesat di jalan dan di ruang terang benderang itu.”

Dari data (9) terlihat bahwa Ali Moktar Ngabalin menyampaikan informasi mengenai kategori BPJS. Hal ini seharusnya tidak perlu disampaikan karena ia terlalu memberikan keterangan yang terlalu informatif. Ali Moktar Ngabalin telah melanggar maksim kuantitas, yaitu jangan memberikan sumbangan atau keterangan lebih informatif dari apa yang diperlukan.

Implikatur yang diperoleh adalah Ali Moktar merupakan orang yang sangat penting, ia selalu ada di samping Jokowi walaupun ada atau tidak kedudukanya di dalam pemerintah.

DATA 10

Ali Moktar Ngabalin :

“Saya pernah menjadi direktur kualisi merah putih pada waktu 2009 berapa gitu, dengan 2004 berapa, kemaren 2009 saya pernah menjadi direktur kualisi merah putih pada waktu mahkamah konstitusi mengatakan pada waktu itu pemenangnya adalah presiden Joko Widodo dan wakilnya Yusuf Kalla. Saya orang pertama yang bilang semua gagasan-gagasan terbaik yang kita fikirkan untuk kemajuan bangsa dan Negara.”

Dari data (10) terlihat bahwa Ali Moktar Ngabalin telah memberikan informasi yang lebih informatif, di mana informasi ini tidak perlu dia sampaikan di dalam forum ini karena hal itu sangat tidak diperlukan. Sehingga Ali Moktar Ngabalin telah melanggar maksim kuantitas, yaitu jangan memberikan sumbangan atau keterangan lebih informatif dari apa yang diperlukan.

Implikatur yang diperoleh adalah adanya sifat bangga yang disampaikan oleh Ali Moktar Ngabalin. Ali ingin agar semua orang mengetahui kedudukan yang pernah dia dapatkan selama bergabung di pemerintahan.

DATA 11

Danil Amzar Simanjuntak :

“Ya. Saya tidak usah ngomong lagi.Tetapi, saya mau bilang gini, Datok.

Saya sudah bilang di depan Pak Joko Widodo semoga beliau nonton hari ini. Bukan saja nyawa, bukan saja ilmu, bukan saja pengalaman yang saya

persembahkan ke bapak. Tapi, kalau negara suatu saat membutuhkan nyawa kupersembahkan untuk negara dan kehormatan bapak Presiden.”

Dari data (11) terlihat bahwa Danil Amzar telah melanggar maksim kuantitas, yaitu jangan memberikan informasi yang lebih informatif dari yang diperlukan. Danil telah melanggar maksim ini karena ia menyampaikan niat mengabdinyabterhadap Pak Joko Widodo dengan kalimat-kalimat yang berlebihan. Ia mengatakan bahwa “Bukan saja nyawa, bukan saja ilmu, bukan saja pengalaman yang saya persembahkan ke bapak. Tapi, kalau negara suatu saat membutuhkan nyawa kupersembahkan untuk negara dan kehormatan bapak Presiden.”

Implikatur yang diperoleh adalah Danil Amzar Simanjuntak siap mengabdi kepada Pak Joko Widodo dan berharap Pak Joko Widodo mendengarkan perkataan yang Danil sampaikan dalam forum ini.

4.1.2 Maksim Kualitas

Maksim atau tuturan kualitas menetapkan bahwa peserta pembicara harus mengatakan hal yang sebenarnya. Kontribusi peserta pembicara harus didasarkan bukti dan fakta yang memadai. Oleh karena itu, (1) jangan Anda katakan apa yang Anda anggap salah, dan (2) jangan Anda katakan apa yang tidak dapat mendukung dengan bukti yang cukup.

DATA 12

M. Qodari :

“Barangkali kita nanti pasti bisa mendengarkan analisa bang Rizal Ramli bagaimana penantian sepanjang empat belas bulan ini barang kali

mempengaruhi keputusan-keputusan dari pada investor. Misalnya, daripada pelaku usaha untuk mau investasi atau tidak, mau belanja atau tidak. Sehingga, periode empat belas bulan itu sebetulnya buat barang kali larinya perekonomian kita agak tersendak-sendak. Jadi, jangan-jangan bukan pelaku ekonomi termasuk pelaku politik itu sendiri seperti Pak Sugeng Suprawoto, Masinton Pasaribu, termasuk bang Fahri dan bang Nasir Jamil pun menunda investasinya karena mereka sendiri belum yakin menang, begitu.”

Dari data (12) terlihat bahwa M. Qodari memberi tanggapan bahwa dia telah mengetahui analisa yang akan disampaikan oleh Rizal Ramli mengenai penantian sepanjang empat belas bulan mempengaruhi keputusan-keputusan dari investor. Kalimat yang disampaikan M. Qodari sebenarnya telah melanggar maksim kualitas yang kedua, yaitu jangan mengatakan sesuatu jika tidak memiliki bukti yang memadai. Hal itu ditandai dengan adanya kata “barangkali”. Seperti yang diketahui, kata “barangkali” itu berarti “mungkin”. Artinya, belum tentu benar-benar akan terjadi.

Implikatur yang diperoleh adalah M. Qodari seorang yang merasa bahwa dia mengetahui poin-poin apa saja yang akan disampaikan oleh Rizal Ramli. Hal ini dapat mengakibatkan pendengar merasa bahwa M. Qodari orang yang serba tahu.

DATA 13

Nasir Jamil :

“Ini memang bukan pilihan ideal bang Karni bukan pilihan ideal, ini pilihan yang berat ya apalagi memang kalau sendiri dengar-dengar PAN juga akan di luar pemerintahan, dengar-dengar demokrat juga akan di luar pemerintahan ya. Ini bukan pilihan yang ideal, ini pilihan yang berat yang bagaimana kami hanya punya lima puluh kursi di parlemen bang Karni, lima puluh kursi dibandingkan yang lainnya jumlahnya ratusan itu.”

Dari data (13) terlihat bahwa Nasir Jamil mengatakan “dengar-dengar PAN akan berada di luar pemerintahan, dengar-dengar demokrat juga akan di luar pemerintahan. Kata “dengar-dengar” membuktikan bahwa perkataannya belum ada kebenaran yang pasti. Berdasarkan penyataan tersebut, Nasir Jamil telah melanggar maksim kualitas yang kedua, yaitu jangan mengatakan sesuatu jika tidak memiliki bukti yang memadai.

Implikatur yang diperoleh adalah Nasir Jamil mengetaui adanya dua partai yang akan berada di luar pemerintahan namun belum memiliki bukti untuk menentukan partai yang akan keluar itu.

DATA 14

Karni Ilyas :

“Saya dengar tawaran jadi menteri itu yang duluan sebelum pertemuan di MRT. Setelah itu baru Prabowo mau bertemu dengan pak Jokowi.”

Dari data (14) terlihat bahwa Karni Ilyas melanggar maksim kualitas yang kedua, yaitu jangan mengatakan sesuatu jika tidak memiliki bukti yang memadai.

Dalam pertanyataan di atas, ia sama sekali tidak memiliki bukti yang memadai. Ia hanya mengatakan apa yang pernah dengar dan ia tidak mengatakan dari mana

Dalam pertanyataan di atas, ia sama sekali tidak memiliki bukti yang memadai. Ia hanya mengatakan apa yang pernah dengar dan ia tidak mengatakan dari mana

Dokumen terkait