BAB III METODE PENELITIAN
3.4 Teknik Analisis Data
Data di dalam penelitian ini dianalisis menggunakan pendekatan sosiologi sastra.
Berikut ini adalah teknik analisis data novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata.
1) Data awal yaitu novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata dibaca berulang-ulang dan teliti untuk menemukan data yang diinginkan dengan didukung dari data sekunder yang berhubungan dengan penelitian.
2) Ungkapan atau kalimat yang berhubungan dengan interaksi sosial di dalam novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata dicatat dan digarisbawahi.
3) Ungkapan atau kalimat yang berhubungan dengan penelitian dibagi dan dikelompokkan berdasarkan pembagiannya.
4) Setelah itu peneliti menarik kesimpulan dari hasil analisis tersebut.
BAB IV
INTERAKSI SOSIAL DALAM NOVEL ORANG-ORANG BIASA KARYA ANDREA HIRATA
4.1 Bentuk Interaksi Sosial Asosiatif dalam Novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata
Interaksi sosial adalah suatu hubungan sosial yang terjadi antara suatu individu dengan individu atau kelompok dengan kelompok lain demi mencapai suatu tujuan.
Menurut Soekanto, bentuk interaksi sosial terbagi ke dalam dua bagian, bentuk asosiatif dan disosiatif. Berikut ini adalah bentuk interaksi sosial asosiatif menurut pandangan Soekanto.
4.1.1 Kerja Sama (Cooperation)
Kerja sama merupakan suatu bentuk interaksi sosial yang melibatkan suatu individu atau kelompok dengan individu atau kelompok lain dalam mencapai suatu tujuan bersama. Menurut Soekanto (2017:65) mengatakan bahwa kerja sama merupakan suatu usaha bersama yang dilakukan individu atau kelompok dengan individu atau kelompok lain demi mewujudkan suatu atau beberapa tujuan bersama.
Dalam novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata, tokoh Inspektur Abdul Rojali adalah seorang polisi yang sangat gigih dalam mengabdi kepada negaranya. Ditemani oleh Sersan P.Arbi, ia selalu bersemangat dalam menjalani tugasnya kapanpun dan di manapun. Setiap menjalani tugas, maka keduanya akan bekerja sama demi menuntaskan pekerjaan sebagai pemberantas kejahatan di kota Belantik. Perilaku
interaksi sosial Inspektur Abdul Rojali tergambar dalam kutipan dari novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata di bawah ini.
“Boi! Dapatkah kau pertanggungjawabkan seandainya kuberi kau surat kelakuan baik ni?” anak-anak itu pergi, Inspektur selalu berpesan, “Kalau ada pelanggaran hukum, sekecil apa pun, atau apa saja yang mencurigakan, segera laporkan! Jangan ragu, laporkan! Aku dan Sersan Muda P.Arbi siap membantu!” (Hirata, 2019:4)
Berdasarkan kutipan di atas, tokoh Inspektur Abdul Rojali bersiap untuk bekerja sama dengan Sersan P.Arbi dalam memberantas kejahatan di kota Belantik. Hal itu dibuktikan ketika Inspektur Abdul Rojali meminta untuk melaporkan kejahatan yang terjadi kepadanya sehingga dapat segera teratasi. Bukti lain kerja sama yang terjadi di antara tokoh terdapat pada kutipan berikut ini.
“Sejurus kemudian polisi yang hebat itu telah memelesat di atas jalan raya.
Tampaklah pemandangan unik. Sersan tampak terlalu besar di boncengan motor bebek mungil kumendannya. Inspektur sendiri berbobot berat. Motor bebek tahun
’80-an itu berdengik-dengik.” (Hirata, 2019:23-24)
Kutipan di atas menunjukan bahwa Inspektur Abdul Rojali selalu bekerja sama dengan Sersan P.Arbi ketika mendatangi lokasi kejadian perkara. Dengan mengendarai sepeda motor, keduanya tampak saling membantu. Kemudian, pada tokoh lain bentuk kerja sama tergambar pula pada kutipan berikut ini.
“Jungkir baliklah Dinah berdagang mainan di kaki lima demi menghidupi 4 anak.
Kerap dia diuber-uber polisi pamong praja. Kadangkala putri sulungnya, Aini, membantunya. Dinah juga suka mengajak kawan lamanya Sobri kalau mau ngobral dagangan, sebab Sobri bisa berteriak nyaring, tanpa perlu pakai mik.”
(Hirata, 2019:29)
Pada kutipan di atas menggambarkan bentuk kerja sama yang dilakukan Dinah dengan Aini anaknya demi membantunya berjualan. Dinah juga meminta bantuan
Sobri untuk melariskan dagangannya. Kemudian bentuk kerja sama lain terdapat pada kutipan berikut ini.
“Selama ini Inspektur dan istrinya telah sedikit demi sedikit mencicil membeli gelas, piring, teko dan sebagainya untuk rencana membuka warung kopi itu.
Berbinar-binar mata Inspektur saat menceritakan rencananya itu.” (Hirata, 2019:47)
Pada kutipan di atas merupakan bentuk kerja sama Inspektur dengan istrinya demi membangun sebuah warung kopi yang kelak akan digunakan untuk mencukupi biaya pendidikan anak-anaknya kelak ketika dirinya sudah pensiun. Kemudian tergambar bentuk kerja sama lain pada kutipan berikut ini.
“Jika ada masalah, dia bicara dengan Inspektur, yang punya suatu cara tertawa yang aneh, yaitu tertawanya itu pandai menular. Demikian setiap hari. Karena Inspektur, Sersan merasa pekerjaan merupakan kombinasi yang menarik antara tanggung jawab, amanah, dan kegembiraan.” (Hirata, 2019:48)
Kutipan di atas menunjukan kerja sama antara Sersan dengan Inspektur dalam menjalani tugas, sehingga Sersan sering kali menceritakan masalahnya kepada Inspektur demi menemukan jalan keluar. Kerja sama lain tergambar pula pada kutipan berikut ini.
“Boron dan Bandar jelas lebih sejahtera dari sepuluh sekawan itu. Mereka punya usaha pabrik es di pasar ikan. Bersama Bandar, dua hari sekali Boron menyetir truk mengangkut peti-peti es berisi hasil laut ke pelabuhan, untuk kemudian diangkut naik kapal ke ibu kota mana pun.” (Hirata, 2019:51)
Kutipan tersebut digambarkan tokoh lain yitu Boron dan Bandar yang bekerja sama berjualan ikan di pasar. Terlihat mereka melakukan hal tersebut demi mencapai suatu tujuan bersama. Bentuk kerja sama lain terdapat juga pada kutipan berikut ini.
“Semua uang di dunia ini ada di bank! Anakmu harus masuk Fakulta Kedokteran itu! Apa pun yang akan terjadi! Seorang ibu rela memotong tangan demi anaknya! Hapus air matamu, Dinah! Siapkan dirimu! Siapkan dirimu baik-baik!
Karena kita akan merampok bank itu!” (Hirata, 2019:79)
Kutipan di atas menerangkan bentuk kerja sama yang direncanakan tokoh Debut kepada Dinah untuk merampok bank demi mendapatkan uang untuk biaya pendidikan Aini. Kemudian tergambar pula bentuk kerja sama lain pada kutipan berikut ini.
“Handai dan Debut lalu menempelkan bekas kemasan telur pada seantero dinding salah satu kamar di rumah itu. Tujuannya supaya kedap suara. Mirip ruang sewa alat musik di kampung-kampung. Jendela-jendela kamar dipaku sehingga tak bisa dibuka. Sebab kamar itu akan dijadikan ruang rapat rahasia untuk merencanakan perampokan bank. Ruang itu diterangi satu bohlam 10 watt, remang-remang.” (Hirata, 2019:94)
Kutipan di atas menggambarkan bentuk kerja sama yang dilakukan tokoh Handai dan Debut untuk menyiapkan ruangan yang akan digunakan sebagai markas rapat mereka. Pada kutipan lain tergambar pula kerja sama antar tokoh seperti berikut ini.
“Baiklah, Guru. Sekali lagi, terima kasih atas kerja samanya. Informasi yang kami perlukan dari Guru kiranya sudah cukup.”
“Sudah cukup?!”
“Ya, Guru, sudah cukup.” (Hirata, 2019:233)
Pada kutipan di atas menunjukan kerja sama antara tokoh Inspektur Abdul Rojali dengan Pak Akhirudin seorang guru sekolah di kota Belantik. Mereka berdua bekerja sama menggali informasi terhadap kasus perampokan yang terjadi demi mengusut siapa pelakunya. Kemudian bentuk kerja sama kembali terlihat pada kutipan berikut ini.
“Tersenyum lega pimpinan koperasi yang kemarin kusut kalut karena terancam kena pecat majikannya. Salut dia pada Inspektur yang dapat mengungkap kasus itu secepat kilat.
“Karena kerja sama tim, dukungan sersan saya, dan dukungan masyarakat,” kata inspektur diplomatis.” (Hirata, 2019:242)
4.1.2 Akomodasi (Acomodation)
Akomdasi merupakan salah satu bentuk interaksi sosial asosiatif yang dalam penerapannya merupakan upaya untuk meredakan pertentangan demi mencapai suatu
kestabilan. Menurut Soekanto (2017:68) akomodasi merupakan suatu usaha yang dilakukan untuk meredakan pertentangan seperti suatu usaha untuk mencapai kestabilan. Akomodasi dilakukan ketika suatu individu atau kelompok terlibat pertentangan, maka akan dilakukan suatu upaya untuk meredakannya. Dalam novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata, ada beberapa bentuk akomodasi yang dilakukan tokoh-tokoh di dalamnya demi meredakan masalah yang terjadi. Pada kutipan berikut ini tergambar bentuk akomodasi yang dilakukan tokoh Ibu Tri Wulan kepada Salud seperti berikut ini.
“Salud! Mulai sekarang kau duduk di bangku paling belakang sana!”
“Baiklah, Bu.”
Seperti biasa, Salud pasrah saja atas keputusan siapa pun dalam hidupnya.
Kasihan Salud, ke mana-mana selalu sendiri. Sepanjang waktu selalu kena ejek, kesepian, dan ketakutan. Namun, di bangku paling belakang itulah , nun di pojok kelas itu, nasib mempertemukannya dengan Tohirin sebagai kawan sebangku.” (Hirata, 2019:10-11)
Kutipan di atas menggambarkan bentuk akomodasi yang dilakukan tokoh Ibu Tri Wulan kepada tokoh Salud demi menghindarinya dari bulian teman-teman kelas yang tidak suka terhadap wajahnya. Bentuk akomodasi lain tergambar juga pada kutipan berikut ini.
“Seharusnya sudah sejak dulu kita kompak, Boi!” kata Nihe.
“Iya, seharusnya sudah sejak dulu kita kompak, Boi!” sambung Junilah.
“Supaya kita tak jadi bulan-bulanan Bastardin dan Boron, Boi!” kata Nihe lagi.
“Supaya kita tak jadi bulan-bulanan Bastardin dan Boron, Boi!” sambung Junilah.
“Jumlah kita sepuluh! Banyak, kompak, kuat! Takkan berani lagi Bastardin dan Boron sama kita!” kata Sobri, nyaring suaranya.” (Hirata, 2019:17)
Kutipan di atas menunjukkan bentuk akomodasi yang dilakukan tokoh Nihe kepada teman-temannya demi mengurangi pertentangan terhadap Trio Bastardin yang
suka mengganggu mereka sesukanya. Dengan begitu, semangat teman-temannya pun bangkit. Bentuk akomodasi lain dapat pula di lihat pada kutipan berikut ini.
“Silih berganti kawan-kawannya mencurahkan aneka rupa masalah dan kesulitan. Debut berusaha menjadi pendengar yang baik. Ajaib, satu demi satu masalah itu terurai dengan sendirinya, terobati waktu, tak disinggung lagi, atau pasang badan, ditanggungkan saja dengan getir.” (Hirata,2019:76)
Bentuk akomodasi tergambar pada kutipan di atas dimana tokoh Debut mencoba menjadi pendengar yang baik bagi masalah yang dihadapi teman-temannya. Sehingga Debut sudah mengurangi pertentangan yang terjadi di dalam hidup para tokoh.
Selanjutnya bentuk akomodasi dapat dilihat pada kutipan berikut ini.
“Mereka semakin bersedia merampok karena kata Debut sesungguhnya mereka tidak merampok, tetapi meminjam uang bank itu. Dengan teori itulah, Debut meyakinkan Dinah tadi siang sehingga dia setuju pada ide perampokan itu.”
(Hirata, 2019:86)
Kutipan di atas menunjukan bentuk akomodasi yang dilakukan Debut untuk mengurangi pertentangan yang dialami Dinah, ketika hampir tidak ingin merampok bank seperti rencana mereka sebelumnya. Kemudian setelah Debut mengatakan hal itu, Dinah akhirnya setuju. Bentuk akomodasi lain terdapat pula pada kutipan berikut ini.
“Mereka yang berada di belakang senjata belum tentu sekubu dengan hukum!
Mereka yang berada di depan senjata, segaris dengan maut!” kata Handai.
Semua terdiam, kalah teori sama Debut idealis dan Handai pembicara motivasi.” (Hirata, 2019:113)
Kutipan di atas dijelaskan bentuk akomodasi yang dilakukan tokoh Handai kepada teman-temannya demi meredakan pertentangan yang terjadi. Hla itu dilakukan Handai karena teman-temannya hampir tidak ingin menggunakan senjata, dimana itu merupakan salah satu rencana Debut dalam perampokan ini. Bentuk akomodasi yang lain dapat dilihat pada kutipan berikut ini.
“Bagaimana kalau kita yel-yel dulu, Bos?” tanya Handai.
“Baiklah, Dai, tapi yang versi tidak lengkap, ya.”
Mereka pun meneriakkan yel-yel dan bertepuk tangan dan Rusip terinspirasi.” (Hirata, 2019:114)
Bentuk akomodasi tergambar pada kutipan di atas yang mana tokoh Handai mengajak teman-temannya untuk lebih rileks dengan meneriakkan yel-yel. Hal itu bertujuan mengurangi pertentangan karena mereka ternyata menemukan jalan buntu untuk melakukan perampokan. Kemudian terdapat bentuk akomodasi lain seperti kutipan di bawah ini.
“Kami akan lebih merasa bersalah jika anakmu yang cerdas itu tidak kuliah, Dinah!” kata Junilah; yang lain sepakat dengannya.
“Meskipun kita tak tahu cara merampok bank, tapi semangat kita tetap tinggi!
Sukses atau gagal itu urusan nanti! Yang penting semangat! Selama kita punya kuku, tangan, kaki, dan hape, kita takkan segampang itu dikalahkan!
Aku semangat! Aku tidak cemas! Aku gembira!” sambung Nihe.
“Aku juga gembira!” kata Junilah.” (Hirata, 2019:116-117)
Dari kutipan di atas menunjukkan akomodasi yang dilakukan tokoh Nihe untuk membakar semangat Dinah yang kembali ragu untuk merampok. Hal itu dilakukan sehingga pertentangan yang terjadi pada Dinah akhirnya mulai reda.
4.1.3 Asimilasi (Assimilation)
Menurut Soekanto (2017:73) asimilasi merupakan bentuk interaksi sosial yang ditandai dengan usaha-usaha mengurangi perbedaan demi mencapai suatu tujuan bersama. Asimilasi digunakan untuk mengurangi perbedaan yang terdapat di dalam suatu peristiwa antar individu maupun kelompok demi meredakan pertentangan. Di dalam novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata beberapa tokoh melakukan asimilasi untuk mengurangi perbedaan yang terjadi sehingga menemukan jalan keluar untuk mencapai suatu tujuan bersama.
“Usah cemas, Tap, mulai sekarang Bastardin dan Borron takkan berani lagi meninju mukamu sebab aku akan membelamu, secara habis-habisan!”
(Hirata. 2019:16)
Bentuk asimilasi terlihat pada kutipan di atas dimana tokoh Debut mengatakan akan melindungi temannya dari Bastardin dan Boron yang suka membuli.
Hal ini dilakukan untuk mengurangi perbedaan yang terjadi demi mempertinggi sikap.
Bentuk asimilasi lain terdapat pula pada kutipan di bawah ini.
“Namun, dia terkejut tak kepalang karena ternyata putrinya menegakkan badan di depannya, membetulkan jilbabnya, tersenyum lebar, dan mengatakan sangat bangga akan keputusan yang diambil ayahnya. Kata anaknya, dia akan masuk SMA saja di Belantik. Anak beranak itu lalu pulang, Inspektur dibonceng putrinya.” (Hirata, 2019:67)
Kutipan di atas tergambar bentuk asimilasi yang terjadi pada tokoh Inspektur dan putrinya. Putrinya melakukan asimilasi dengan menerima untuk bersekolah di SMA Belantik saja karena tidak lulus sekolah keperawatan di kota. Hal ini dilakukan untuk mengurangi perbedaan yang dirasakannya karena merasa SMA Belantik tidak begitu bagus selain keperawatan. Bentuk asimilasi lain dibuktikan juga pada kutipan di bawah ini.
“Cerita tentang seorang lelaki lemah syahwat yang punya tongkat, tongkat itu disentuhkan pada kodok buruk rupa, bim sala bim, kodok kudisan itu menjelma menjadi pangeran tampan. Seandainya aku punya tongkat ajaib itu, sudah lama kepala bola bekelmu itu kuhantam pakai tongkat itu, Lud.”
Terharu Salud.
“Terima kasih atas perhatianmu, But.” (Hirata, 2019:76)
Kutipan di atas menggambarkan asimilasi yang dilakukan tokoh Debut kepada Salud yang sangat ingin memiliki seorang istri, namun karena fisiknya yang tidak mendukung ia selalu meminta dicarikan. Namun Debut mengatakan suatu hal yang membuat Salud akhirnya merasa berterima kasih dan mulai melupakan permintaannya. Bentuk asimilasi lain terdapat pada kutipan di bawah ini.
“Debut menjelaskan pada Salud bahwa mereka merampok bank untuk mencari dana demi membayar uang kuliah anak Dinah yang mau masuk Fakultas Kedokteran, bukan untuk hal lain. Salud tersenyum.
“O, itu alasan yang jauh lebih baik, solderitas! Aku tetap ikut!” (Hirata, 2019:135-136)
Dapat dilihat pada kutipan di atas tokoh Debut akhirnya menjelaskan rencana perampokan kepada Salud, hal ini dilakukan sebagai bentuk asimilasi untuk mengurangi perbedaan yang terjadi di antara mereka, karena Salud memiliki wajah yang buruk dan sudah direncanakan untuk tidak ikut perampokan tetapi pada akhirnya dia tetap ikut. Bentuk lain dari asimilasi tergambar juga pada kutipan berikut ini.
“Boleh dikata, sejak kehadiran 1.000 topeng monyet itu, hidup Guru Akhir berubah total. Dia yang selama ini selalu pendiam, murung, dan mendung tiba-tiba sumringah, banyak bicara, dan sering tersenyum meski tanpa alasan yang jelas. Penampilannya juga berubah dari penampilan macam carik kantor desa kembali seperti seniman. Cincin-cincin batu akik, gelang-gelang, dan kalung antik kembali dipakai, tas tenteng jatah workshop peningkatan mutu guru itu dicampakkannya ke Sungai Linggang dan kini dia rajin mengunjungi kebon binatang.” (Hirata, 2019:140)
Kutipan di atas menggambarkan asimilasi yang sebenarnya dilakukan tokoh Debut kepada Guru Akhir dengan memberikan topeng-topeng monyet untuk mengalihkan perhatian. Namun siapa sangka itu ternyata berdampak kepada Guru Akhir dengan menjadikan ia lebih baik dan tidak merasa kekurangan seni seperti sebelumnya.
4.2 Bentuk Interaksi Sosial Disosiatif dalam Novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata
Interaksi sosial sangat dekat kaitannya dengan kehidupan sosial masyarakat. Dalam perkembangan komunikasi dan hubungan antar individu maupun kelompok, keterlibatan dengan orang lain sangat mungkin terjadi karena manusia adalah makhluk sosial. Namun interaksi sosial memiliki bentuk-bentuk sesuai dengan pembagiannya.
Menurut pandangan Soekanto, bentuk interaksi sosial terbagi dua yaitu asosiatif dan disosiatif. Berikut ini adalah bentuk interaksi sosial disosiatif.
4.2.1 Persaingan (Competition)
Menurut Soekanto (2017:82) persaingan merupakan suatu bentuk interaksi sosial disosiatif yang terjadi dengan ditandai adanya individu atau kelompok manusia yang bersaing mencari keuntungan dan di saat tertentu menjadi pusat perhatian umum tanpa menggunakan kekerasan. Dalam novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata, ada beberapa persaingan yang terjadi di antara tokoh seperti berikut ini.
“Siang itu, saat pulang sekolah, tiba-tiba, tak tahu dari mana, Bastardin, Jamin, dan Tarib mengadang sepuluh sekawan. Gawat, Boron dan Bandar juga bergabung dengan mereka. Maka, mereka macam kawanan singa dan kawanan serigala bekerja sama mengepung ayam-ayam kampung.
“O, jadi kalian sudah punya geng juga, ya, sekarang?” gertak Bastardin.
“Siapa kepala geng kalian, siapa yang paling jago?” (Hirata, 2019:18)
Pada kutipan di atas digambarkan bahwa Trio Bastardin dan Duo Boron mengalami persaingan terhadap sepuluh sekawan yang berisi Debut dan kawan-kawannya. Hal itu terjadi karena Trio Bastardin dan Duo Boron tidak ingin ada yang tidak patuh kepada mereka atau lebih unggul, itulah sebabnya persaingan terjadi.
Bentuk persaingan lain terdapat pula pada kutipan di bawah ini.
“Trio Bastardin, malah lebih berjaya lagi dari Duo Boron. Faktanya, sekali zalim cenderunglah manusia tetap zalim. Mereka pembuli waktu masih sekolah, sekarang dewasa kian menjadi. Tak dapat dihapus perangainya, bak harimau yang tak dapat menghapus belangnya.” (Hirata, 2019:52)
Kutipan di atas menggambarkan persaingan yang terjadi kembali pada Trio Bastardin dan Duo Boron. Watak semasa kecil hingga dewasa tidak menutup kemungkinan keduanya menjadi lebih bersaing dari sebelumnya. Adapun persaingan lain yang kembali terjadi dapat dilihat pada kutipan berikut ini.
“Trio Bastardin yang dulu telah berbahaya, kini semakin berbahaya karena membentuk tiga serangkai persekongkolan pengusaha, politisi dan birokrat.
Itulah segitiga emas kejahatan. Bastardin kini pengusaha, Jamin wakil rakyat, Tarib PNS, dan pada dasarnya, ketiganya adalah maling.” (Hirata, 2019:52-53)
Terlihat pada kutipan di atas bahwa Trio Bastardin tetap melanjutkan usaha mereka dengan memperluas jangkauan pekerjaan mereka. Proses persaingan masih tetap berlanjut bagi mereka kepada siapapun targetnya, terutama Kota Belantik yang masih kecil dan mudah untuk mengembangkan usaha.
4.2.2 Kontravensi (Contravention)
Kontravensi merupakan salah satu bentuk interaksi sosial disosiatif yang mana ditandai dengan adanya perasaan tidak suka, keraguan ataupun gejala ketidakpastian yang dialami suatu individu atau kelompok terhadap individu atau kelompok lain.
Menurut Soekanto (2017:87) kontravensi merupakan gejala yang dialami oleh suatu individu atau kelompok yang ditandai dengan adanya perasaan tidak suka atau kebencian terhadap orang lain atau kelompok lain. Gejala ini biasanya tersembunyi dan tidak menimbulkan pertikaian. Dalam novel Orang-Orang Biasa karya Andrea Hirata, terdapat kontravensi yang dialami tokoh di dalamnya. Bentuk kontravensi tersebut dapat dilihat pada kutipan di bawah ini.
Kian hari Bastardin dan Boron kian brutal pada Salud karena percaya pada anggapan mistik segelintir orang udik bahwa semakin macam setan wajah seseorang, semakin macam setan tabiatnya. Bahwa, orang semacam itu terkutuk, pembawa sial untuk kampung sehingga harus dimusuhi, bahkan diusir.
“Hantu akar! Hantu akar!” Demikian Bastardin mengejek Salud setiap kali melihatnya. Kerap pula Salud dikata-katainya.(Hirata, 2019:20)
Pada kutipan di atas dapat dilihat bahwa tokoh Bastardin dan Boron mengalami kontravensi kepada tokoh Salud sehingga selalu membenci dan mengolok-olok Salud.
Hal ini dilakukan karena Bastardin dan Boron bersaing terhadap sepuluh kawanan tersebut sehingga kontravensi mungkin saja terjadi. Bentuk lain dari kontravensi dapat dilihat pada kutipan berikut ini.
“Salud mengawali langkahnya di SMA itu sebagai anak yang sering dipukuli dan mengakhirinya sebagai anak yang babak belur. Sekolahnya hanya sampai kelas 2 SMA karena dia tak kuat menghadapi kebrutalan Trio Bastardin dan
Duo Boron. Terpukul raganya, tertindas jiwanya oleh para pembuli itu.”
(Hirata, 2019:35)
Terlihat pada kutipan di atas Salud akhirnya mengalami kontravensi terhadap Trio Bastardin dan Duo Boron dikarenakan seringnya mengalami perlakuan tidak menyenangkan dari mereka. Akibatnya dia sering memendam perasaan takut dan tidak suka terhadap Trio Bastardin dan Duo Boron baik ketika mereka berada di dekat Salud maupun tidak. Pada kutipan lain dapat dilihat bentuk kontravensi yang dialami tokoh seperti berikut ini.
“Miris, hingga dewasa sekarang, Trio Bastardin dan Duo Boron tetap memusuhi Salud. Daya tarik Salud sebagai sasaran cemooh tak pernah lindap di mata mereka. Salud tetap saja godaan yang tertahankan bagi hati-hati yang keruh dan
“Miris, hingga dewasa sekarang, Trio Bastardin dan Duo Boron tetap memusuhi Salud. Daya tarik Salud sebagai sasaran cemooh tak pernah lindap di mata mereka. Salud tetap saja godaan yang tertahankan bagi hati-hati yang keruh dan