METODE PENELITIAN
F. Teknik Analisis Data
Adapun langkah-langkah yang dilakukan dalam analisis data adalah dengan cara reduksi dan menerapkan data yaitu memilih, menyederhanakan, dan mengkomunikasikan data kasar di lapangan.
1. Menghitung Nilai Tes Kemampuan Menyelesaikan Soal.
Hasil tes kemampuan menyelesaikan soaltemasuk ke dalam kemampuan pemecahan masalah diperiksa dan diberi skor. Pemberian skor berdasarkan indikator yang telah disebutkan pada Tabel 3.2. Selanjutnya dihitung persentase tes kemampuan menyelesaikan soal dengan rumus
= × 100%
(Arikunto, 2016: 27) Keterangan:P = Persentase kemampuan menyelesaikan soal n = Jumlah skor yang diperoleh
N = Jumlah skor maksimal yang diharapkan 2. Membuat tabulasi dari data yang telah diperoleh 3. Memasukkannya ke dalam rumus deskriptif persentase 4. Membuat tabel rujukan dengan cara sebagai berikut.
Menetapkan persentase tertinggi = × 100%
= × 100% = 100%
= × 100% = 0% Menetapkan rentangan persentase = 100% − 0% = 100% Menetapkan kelas interval = 4
Interval = 100% ∶ 4 = 25,00%
Berdasarkan perhitungan di atas, tabel kriteria kemampuan menyelesaikan soal siswa adalah
Tabel 3.3
Kriteria Tingkat Kemampuan Menyelesaikan Soal Siswa
No Rentang Skor Krieteria
1 75,03 % - 100 % Sangat Baik
2 50,02 % - 75,02% Baik
3 25,01 % - 50,01 % Cukup Baik
4 0,00 % - 25,00 % Kurang Baik
5. Menghitung nilai akhir (NA)
Nilai akhir = nilai soal + nilai tes hasil kemampuan menyelesaikan soal 2 (Arikunto, 2016: 28)
6. Menghitung persentase ketuntasan siswa secara klasikal
Ketuntasan Klasikal =Jumlah siswa yang tuntas belajar ≥ 75 Jumlah seluruh siswa x 100% (Aqib,(2016: 28) Berdasarkan kriteria ketuntasan belajar, jika kelompok secara klasikal tersebut terdapat 75 % siswa yang mencapai nilai ketuntasan sebesar 75, maka ketuntasan secara klasikal terpenuhi (Trianto dalamkriteria-ketuntasan-individu-dan-klasikal-siswa).
48 1. Pra Tindakan (Pra Siklus)
Kegiatan prasiklus dilaksanakan pada hari Sabtu tanggal 22 Januari 2018. Kegiatan prasiklus dilakukan dengan mengambil data tentang hasil belajar awal siswa. Penelitian berlangsung dalam dua siklus dan direncanakan dengan merancang penelitian, dan peneliti berkolaborasi dengan guru kelas. Peneliti berperan sebagai observer dan juga berperan sebagai pelaksana tindakan atau pelaksana pembelajaran. Pada saat peneliti melakukan observasi pada bulan November 2017, peneliti melihat bahwa penyampaian pembelajaran matematika di SMP Muhammadiyah 7 Medan, guru belum menggunakan model pembelajaran modelling the way. Selain itu, guru juga melakukan pembelajaran secara konvensional, hanya menggunakan metode tertentu yang bersifat monoton pada pembelajaran matematika. Oleh karenanya dalam hal ini siswa tidak terlalu antusias dan merasa jenuh atau bosan dalam mengikuti pembelajaran matematika. Kurangnya keantusiasan siswa dalam pembelajaran matematika ini mengakibatkan nilai siswa menjadi rendah.
Tabel 4.1
Hasil Evaluasi Observasi Awal Siswa Kelas VII-1 SMP Muhammadiyah 7 Medan
No Hasil Pra Siklus Pencapaian
1 Rata-Rata 57,1
2 Nilai Tertinggi 85
3 Nilai Terendah 20
4 Persentase Tuntas 13,33%
5 Persentase Tidak Tuntas 86,66%
6 Jumlah Siswa 30
7 Jumlah Siswa Yang Tuntas 4
8 Jumlah Siswa Yang Tidak Tuntas 26
9 KKM 75
Lampiran 14
Berdasarkan kondisi dan data awal tersebut diperlukan adanya tindakan untuk membantu siswa dalam memahami materi untuk meningkatkan hasil belajar. Langkah yang diambil dalam penelitian ini adalah dengan menerapkan model pembelajaran modelling the way yang diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar siswa.
2. Siklus I
Penelitian tindakan kelas yang telah dilaksanakan ini terdiri dari dua siklus, yang setiap siklusnya terdiri dari empat tahapan yaitu perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, dan refleksi. Siklus I dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan yaitu pada tanggal 6 dan 8 Februari 2018 dengan masing−maing alokasi waktu 2 x 40 menit pada setiap pertemuannya. Peneliti berperan sebagai pengajar dan sekaligus observer yang berperan dan bertanggung jawab penuh terhadap
penelitian tindakan ini. Adapun kegiatan yang dilakukan selama proses pembelajaran siklus I adalah sebagai berikut.
a. Perencanaan Tindakan
Data yang diperoleh pada tahap studi awal dijadikan sebagai acuan dalam melaksanakan tindakan pada siklus pertama, dengan tujuan agar diperoleh suatu peningkatan dalam memahami matematika. Pada tahap perencanaan, peneliti menyusun rencana tindakan yang dilaksanakan yaitu sebagai berikut:
1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan materi yang akan diajarkan dan memuat serangkaian kegiatan dengan menggunakan model pembelajaran modelling the way pada materi Segitiga dan Segiempat. 2) Menyusun soal-soal evaluasi yang diberikan kepada siswa untuk mengukur
keberhasilan siswa dalam memahami pembelajaran matematika. b. Pelaksanaan Tindakan
Pada tahap pelaksanaan, guru memulai pembelajaran dengan memberikan apersepsi sebagai upaya untuk memberikan rangsangan kepada siswa agar lebih siap belajar. Selanjutnya guru menyampaikan topik pembelajaran mengenai Segitiga dan Segiempat, ini dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran modelling the way.
Adapun kegiatan yang dilaksanakan terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.
Pada kegiatan tes awal, guru memberikan pertanyaan kepada siswa siapa yang mengetahui bentuk-bentuk segitiga dan bentuk bentuk dari segiempat, dan ternyata banyak siswa yang antusias menjawab pertanyaan guru.
b) Kegiatan Inti
Pada kegiatan ini, siswa melaksanakan langkah-langkah pembelajaran menggunakan model pembelajaran modelling the way sebagai implementasi skenario pembelajaran. Langkah pertama yaitu penyajian materi. Siswa diberikan penjelasan oleh guru tentang contoh segitiga dan segiempat yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari. Langkah selanjutnya siswa berkelompok secara heterogen. Setiap kelompok beranggotakan 6 siswa. Pada siswa kelas VII-1, karena jumlahnya ada 30 siswa sehingga terbentuk menjadi 5 kelompok dengan setiap kelompok beranggotakan 6 siswa dan 1 kelompok beranggotakan 5 siswa. Guru membagikan bahan ajar berupa contoh-contoh dari bentuk-bentuk segitiga dan segiempat Kemudian siswa mendengarkan penjelasan dari guru permasalahan untuk dibahas bersama kelompoknya. Langkah selanjutnya adalah dalam kelompok siswa dapat menuliskan apa yang diketahui dan apa yang ditanya pada soal (tahap memahami masalah). Selanjutnya siswa bersama kelompoknya dapat menuliskan sebuah cara untuk menyelesaikan soal yang diberikan (tahap merencanakan pemecahan masalah). Setelah menentukan cara untuk mengerjakan soal, siswa kemudian menyelesaikan soal sesuai dengan cara yang telah ditentukan (tahap melaksanakan rencana pemecahan masalah). Selanjutnya pada tahap refleksi siswa menguji kembali jawaban yang telah diperoleh dan membuat kesimpulan berdasarkan masalah yang diberikan (tahap
memeriksa kembali solusi yang diperoleh). Dalam kegiatan mengkomunikasikan, perwakilan dari kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Teman yang lain mengomentari hasil dari kelompok lain. Guru menguatkan kesimpulan yang diperoleh sesuai hasil kerja kelompok yang dilakukan.
c) Kegiatan Akhir
Adapun kegiatan yang dilakukan adalah guru menanyakan hal-hal yang belum jelas, menyimpulkan materi pembelajaran. Setelah seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan, guru pun menutup pertemuan pada hari itu dengan memberi pekerjaan rumah dan mengucap salam. Berdasarkan uraian kegiatan di atas, maka kegiatan pembelajaran pada pertemuan pertama siklus 1 sudah selesai.
Pada akhir tindakan siklus I ini diakhiri dengan memberikan evaluasi belajar siswa untuk mengetahui seberapa besar kemampuan menyelesaikan soal matematika siswa secara individu dalam memaknai soal yang diberikan.
Tabel 4.2
Hasil Evaluasi Siklus I Siswa Kelas VII-1 SMP Muhammadiyah 7 Medan
No Hasil Pra Siklus Pencapaian
1 Rata-Rata 66,6
2 Nilai Tertinggi 90
3 Nilai Terendah 30
4 Persentase Tuntas 56,66%
5 Persentase Tidak Tuntas 43,33%
6 Jumlah Siswa 30
7 Jumlah Siswa Yang Tuntas 17
8 Jumlah Siswa Yang Tidak Tuntas 13
9 KKM 75
Lampiran 15
Selama siklus I berlansung peneliti mengamati keterampilan menyelesaikan soal siswa terhadap 30 siswa. Terdapat 17 siswa yang memiliki nilai di atas KKM dengan persentase 56,66% dan 13 siswa yang masih memiliki nilai di bawah KKM dengan persentase 43,33%. Dikarenakan nilai ketuntasan masih di bawah 75% maka peneliti akan melaksanakan pertemuan ke siklus berikutnya.
c. Observasi Siklus I
Observasi yang dilakukan oleh peneliti dilihat berdasarkan jawaban dari soal-soal yang diberikan untuk menyesuaikan dengan langkah-langkah pada model belajar modelling the way sebagai upaya meningkatkan kemampuan menyelesaikan soal
Penelitian siklus I ini juga untuk mengetahui persentase ketuntasan siswa secara klasikal yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.3
Persentase Ketuntasan Tes Kemampuan Menyelesaikan Soal Matematika Pada Siklus I
No Hasil Test
Pra
Siklus Siklus I Ketuntasan Klasikal 1 Nilai
Tertinggi 85 90 =Jumlah siswa yang tuntas Jumlah seluruh siswa x 100% =
x 100% = 56,66 % (Kategori Cukup Baik) 2 Nilai
Terendah 20 30
3 Nilai
Rata-Rata 57,1 69,4
Lampiran 13
Dari data di atas dapat disimpulkan bahwa, antara nilai siswa pada prasiklus yang belum dikenai tindakan dengan siklus I yang telah dikenai tindakan mengalami kenaikan. Nilai rata-rata kelas pada saat prasiklus 57,1. Sedangkan pada saat siklus I
Mencapai 69,4. Persentase siswa yang belum tuntas pada prasiklus adalah 78%. Sedangkan pada siklus I persentase siswa yang belum tuntas adalah 43,33%. Berdasarkan data hasil dari siklus I, nilai rata-rata kelas belum mencapai kriteria penelitian sehingga penelitian dilanjutkan ke siklus II. Pelaksanaan siklus I juga mengukur seberapa banyak siswa yang memiliki kemampuan menyelesaikan soal ketika mengikuti pembelajaran Matematika Kelas VII dengan menerapkan model belajar modelling the way yang ditunjukkan melalui tabel di bawah ini :
Tabel 4.4
Hasil Observasi Kemampuan Menyelesaikan Soal Siswa Siklus I
No Kategori Jumlah Siswa Persentase 1 Sangat Baik 8 26,66% 2 Baik 7 23,33% 3 Cukup Baik 7 23,33% 4 Kurang Baik 8 26,66% Lampiran 15
Berdasarkan data tabel 4.4 di atas dapat diketahui pelaksanaan siklus I terdapat 8 siswa memiliki kemampuan menyelesaikan soal sangat baik dengan persentase 27,59%, 7 siswa memiliki kemampuan menyelesaikan soal baik dengan persentase 24,14%, 7 siswa memiliki kemampuan menyelesaikan soal cukup baik dengan persentase 24,14%, dan 8 siswa memiliki kemampuan menyelesaikan soal kurang baik dengan persentase 24,14%.
d. Refleksi I
Dilihat dari hasil pengamatan, proses pembelajaran pada materi Segitiga dan Segiempat menggunakan model belajar modelling the way sudah cukup baik walaupun masih adanya kekurangan-kekurangan dalam pelaksanaannya. Adapun tes kemampuan menyelesaikan soal matematika pada siklus I diperoleh rata-rata sebesar 66,6 dari 29 siswa terdapat 17 siswa (50,00%) yang berhasil mencapai tingkat ketuntasan belajar, karena sebagian siswa masih banyak yang masih kurang dalam memahami masalah dan melakukan pemeriksaan kembali solusi yang diperoleh. Sehingga peningkatan kemampuan menyelesaikan soal matematika siswa belum sesuai dengan tingkat ketuntasan klasikal yang telah ditetapkan yaitu ≥ 85 %, sehingga perlu diadakan perbaikan dalam siklus II yang
dapat memaksimalkan hasil belajar siswa dengan menggunakan model belajar Modelling The Way.
3. Siklus II
Pada pelaksanaan siklus I, indikator penelitian yang telah ditetapkan belum tercapai sehingga dilanjutkan ke siklus II. Siklus II dilaksanakan dalam 2 kali pertemuan yaitu 20 dan 22 Februari 2018 dengan alokasi waktu 2 x 40 menit setiap pertemuannya. Adapun kegiatan yang dilakukan adalah sebagai berikut. a. Perencanaan Tindakan
Data yang diperoleh pada tahap studi awal dijadikan sebagai acuan dalam melaksanakan tindakan pada siklus kedua, dengan tujuan agar diperoleh suatu peningkatan kemampuan menyelesaikan soaln matematika. Pada tahap perencanaan, peneliti menyusun rencana tindakan yang dilaksanakan yaitu sebagai berikut:
1) Menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) sesuai dengan materi yang akan diajarkan dan memuat serangkaian kegiatan dengan menggunakan model belajar Modelling The Way.
2) Menyusun soal-soal evaluasi. b. Pelaksanaan Tindakan
Pembelajaran dengan materi segitiga dan segiempat tentang menyelesaikan soal matematika yang terkait dengan materi, ini dilakukan dengan menggunakan model belajar Modelling The Way.
Materi pada pembelajaran ini tentang menyelesaikan soal yang berkaitan dengan Segitiga dan segiempat. Adapun kegiatan yang dilaksanakan terdiri dari kegiatan awal, kegiatan inti, dan kegiatan akhir.
a) Kegiatan Awal
Kegiatan awal berisi beberapa kegiatan rutin seperti pembukaan (salam), tes penjajagan, acuan dan apersepsi. Kegiatan awal yang dilaksanakan hampir sama dengan kegiatan awal pada pertemuan pertama.
b) Kegiatan Inti
Secara keseluruhan, proses atau langkah-langkah pembelajaran pada pertemuan kedua sama seperti langkah-langkah yang dilakukan pada pertemuan pertama. Yang membedakan adalah materi pembelajaran. Materi pembelajaran pada pertemuan kedua ini yaitu menyelesaikan soal yang berkaitan dengan Segitiga dan Segiempat. Langkah pertama yaitu penyajian materi. Pada kegiatan ini, siswa diberikan masalah nyata tentang soal yang berkaitan dengan Segitiga dan Segiempat yang terjadi di kehidupan sehari-hari. Langkah selanjutnya siswa berkelompok secara heterogen. Setiap kelompok beranggotakan 5 siswa. Pada siswa kelas VII-1, karena jumlahnya ada 30 siswa sehingga terbentuk menjadi 6 kelompok dengan setiap kelompok beranggotakan 5 siswa dan 1 kelompok beranggotakan 5 siswa. Kemudian siswa mendengarkan penjelasan dari guru permasalahan untuk dibahas bersama kelompoknya. Langkah selanjutnya adalah dalam kelompok siswa harus memahami soal yang diberikan yaitu menentukan apa yang diketahui dan apa yang ditanya untuk menyelesaikan soal yang diberikan (tahap memahami masalah). Selanjutnya siswa bersama kelompoknya harus
menunjukkan hubungan antara yang diketahui dan yang ditanyakan serta menentukan strategi atau cara yang akan digunakan dalam menyelesaikan soal yang diberikan. (tahap merencanakan pemecahan masalah). Setelah alternatif jawaban ditentukan, siswa melaksanakan rencana yang telah ditetapkan pada tahap merencanakan Menyelesaikan Soal, dan mengecek setiap langkah yang dilakukan (tahap melaksanakan rencana pemecahan masalah). Selanjutnya pada tahap refleksi siswa mengecek atau menguji solusi yang telah diperoleh (tahap memeriksa kembali solusi yang diperoleh). Dalam kegiatan mengkomunikasikan, perwakilan dari kelompok mempresentasikan hasil diskusinya di depan kelas. Teman yang lain mengomentari hasil dari kelompok lain. Guru menguatkan kesimpulan yang diperoleh sesuai hasil kerja kelompok, kemudian siswa menentukan sendiri cara yang mudah dalam menyelesaikan soal. c) Kegiatan Akhir
Kegiatan akhir pada siklus II ini sama juga dengan kegiatan akhir pada siklus I. Pada kegiatan akhir ini, siswa juga diberi soal evaluasi sebanyak 5 soal untuk dikerjakan secara kelompok. Setelah seluruh rangkaian kegiatan dilaksanakan, guru menutup pertemuan pada hari itu dengan mengucap salam.
Pada akhir tindakan siklus II ini dilakukan evaluasi belajar siswa dengan memberikan tes individu sebanyak 5 soal uraian untuk mengetahui seberapa besar kemampuan menyelesaikan soal secara indiviu. Berikut tes hasil evaluasi pada siklus II :
Tabel 4.6
Hasil Evaluasi Siklus II Siswa Kelas VII-1 SMP Muhammadiyah 7 Medan
No Hasil Pra Siklus Pencapaian
1 Rata-Rata 88,72
2 Nilai Tertinggi 100
3 Nilai Terendah 70
4 Persentase Tuntas 73,33%
5 Persentase Tidak Tuntas 26,66%
6 Jumlah Siswa 30
7 Jumlah Siswa Yang Tuntas 22
8 Jumlah Siswa Yang Tidak Tuntas 8
9 KKM 75
Lampiran 16
Selama siklus II berlansung peneliti mengamati keterampilan menyelesaikan soal siswa terhadap 30 siswa. Terdapat 22 siswa yang memiliki nilai di atas KKM dengan persentase 75,86% dan 8 siswa yang masih memiliki nilai di bawah KKM dengan persentase 24,14%. Terdapat kenaikan persentase ketuntasan hasil belajar pada siklus II yaitu di atas 75%, sehingga penelitian yang dilakukan cukup sampai siklus II.
c. Observasi Siklus II
Observasi yang dilakukan oleh peneliti mulai dari awal pelaksanaan tindakan sampai berakhirnya tindakan pembelajaran dengan menggunakan model belajar Modelling The Way sebagai upaya meningkatkan kemampuan menyelsaikan soal matematika siswa pada pokok bahasan Segitga dan segiempat.
Hasil observasi Kemampuan Menyelesaikan Soal siswa dapat dilihat pada tabel berikut ini.
Tabel 4.7
Hasil Observasi Kemampuan Menyelesaikan Soal Siswa pada tes awal
No Aspek yang Diamati Skor Kategori
1 Memahami masalah 75,86% Sangat Baik
2 Merencanakan pemecahan masalah 89,66% Sangat Baik 3 Melaksanakan rencana pemecahan
masalah 80,17% Sangat Baik
4 Memeriksa kembali solusi yang diperoleh 75,86% Sangat Baik
Total Skor 321,55%
Rata-Rata 80,30%
Keterangan Sangat Baik
Lampiran 14
Dari tabel 4.7 di atas maka dapat disimpulkan hasil obsevasi kemampuan menyelesaikan soal matematika siswa pada siklus II meningkat 48,00 % menjadi 80,30 % yang mengidentifikasikan bahwa rata-rata kemampuan menyelesaikan soal matematika dalam model belajar Modelling The Way termasuk dalam kategoti sangat baik dan sudah memenuhi indikator keberhasilan 75%. Pada penelitian siklus II ini juga untuk mengetahui persentase ketuntasan siswa secara klasikal yang dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 4.8
Persentase Ketuntasan Tes Kemampuan Menyelesaikan Soal Matematika Pada Siklus I
N o Hasil Test Pra Siklu s Siklu s I Siklu s II Ketuntasan Klasikal 1 Nilai
Tertinggi 85 90 100 = Jumlah siswa yang tuntas Jumlah seluruh siswa x 100% =
x 100% = 73,33 % (Kategori Sangat Baik) 2 Nilai
Terendah 20 30 70
3 Nilai
Rata-Rata 57,1 69,4 88,72 Lampiran 11
Berdasarkan data di atas dapat disimpulkan bahwa, hasil belajar siswa pada pembelajaran Matematika termasuk dalam kategori sangat baik terbukti dari ketuntasan klaskilal sebesar 75,86 % dengan nilai rata-rata 85,72. Pelaksanaan siklus II juga mengukur seberapa banyak siswa yang memiliki kemampuan menyelesaikan soal ketika mengikuti pembelajaran matematika menggunakan model belajar Modelling The Way, yang ditunjukkan melalui tabel di bawah ini.
Tabel 4.9
Hasil Observasi Kemampuan Menyelesaikan Soal Siswa Siklus II No Kategori Jumlah Siswa Persentase
1 Sangat Baik 17 56,66%
2 Baik 4 13,33%
3 Cukup Baik 9 30,00%
4 Kurang Baik 0 0,00%
Bersarkan data tabel 4.9 dapat diketahui pelaksanaan siklus II terdapat 17 siswa yang memiliki kemampuan menyelesaikan soal yang sangat baik dengan persentase 56,66%, 4 siswa yang memiliki kemampuan menyelesaikan soal yang baik dengan persentase 13,33%, 9 siswa yang memiliki kemampuan menyelesaikan soal yang cukup baik dengan persentase 30,00%, dan tidak terdapat siswa yang memiliki kemampuan yang kurang baik dalam menyelesaikan soal matematika.
d. Refleksi II
Dari hasil data dapat ditarik kesimpulan terjadinya perubahan hasil belajar yang meningkat dari tes siklus I ke siklus II. Adapun tes kemampuan menyelesaikan soal matematika pada siklus II diperoleh rata-rata 85,72, dari 30 siswa terdapat 22 siswa (73,33%) yang berhasil mencapai tingkat ketuntasan belajar dan hanya 8 siswa (26,66%) belum mencapai tingkat ketuntasan belajar. Jadi dapat disimpulkan bahwa pada siklus II kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model belajar Modelling The Way menunjukkan keberhasilan dalam pembelajaran. Peningkatan klasikal telah tercapai maka pembelajaran tidak dilanjutkan ke siklus berikutnya dan berhenti pada siklus II.