• Tidak ada hasil yang ditemukan

METODE PENELITIAN

F. Teknik Analisis Data

Dalam penelititan kualitatif, peneliti tidak boleh menunda dan membiarkan data penelitian menumpuk untuk nanti dianalisis. Setelah melakukan observasi atau

interview, peneliti harus segera melakukan analisis lapangan dan menulis laporannya

dengan segera. Menurut Glaser (1978) apabila analisis tersebut ditunda maka peneliti tidak akan memperoleh theoretical sensitivity, yaitu kepekaan teoritis terhadap data yang dikumpulkan (Alwasilah, 2002).

Pendapat lain mengenai analisis data kualitatif disampaikan oleh Bogdan & Biklen (dalam Moleong, 2008), yang menyatakan bahwa teknik analisis data

39

kualitatif yaitu upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari dan menemukan pola, menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain.

Teknik analisis data yang digunakan adalah grounded theory atau disebut juga penyusunan Teori-Dari-Bawah (TDB). Analisis data dalam penelitian kualitatif bersifat induktif dan berkelanjutan yang tujuan akhirnya menghasilkan pengertian-pengertian, konsep-konsep, dan pembangunan suatu teori baru, hal ini dapat kita sebut sebagai grounded theory yang di dalamnya terdapat tiga unsur yaitu konsep, kategori, dan proposisi (Moleong, 2008; Sarwono, 2006).

Strauss & Corbin (dalam Emzir, 2008, hlm. 192) munyampaikan bahwa:

pendekatan grounded theory adalah suatu metode penelitian kualitatif yang menggunakan suatu prosedur yang sistematis untuk mengembangkan teori secara induktif yang memperoleh teori dasar tentang suatu fenomena. Temuan penelitian merupakan suatu perumusan teoritis menyangkut kenyataan dibawah penyelidikan, bukan terdiri atas serangkaian angka-angka, atau suatu kelompok yang terlepas berhubungan dengan tema-tema. melalui metodologi ini, konsep dan hubungan antarkonsep tidak hanya dihasilkan, tetapi juga untuk sementara di uji.

Menurut Emzir (2008, hlm. 210) proses analisis data dalam penelitian grounded

theory bersifat sistematis dan mengikuti format standar sebagai berikut:

1. Dalam pengodean terbuka (open coding), peneliti membentuk kategori awal dari informasi tentang fenomena yang dikaji dengan pemisahan kategori menjadi segmen-segmen. Di dalam setiap kategori, peneliti menemukan beberapa propertics, atau subkategori, dan mencari data untuk membuat dimensi (to demansionalize), atau memperlihatkan kemungkinan ekstrem pada kontinum property tersebut.

2. Dalam pengodean poros (axial coding), peneliti merakit dalam cara baru setelah open coding. Rakitan data ini dipresentasikan menggunakan paradigma pengodean atau diagram logika dimana peneliti mengidentifikasi fenomena sentral (yaitu kategori sentral tentang fenomena), menjajaki kondisi kausal (yaitu kategori yang memengaruhi fenomena), menspesifikasikan

40

Ayu Wulandari, 2015

PROFIL KARAKTER COURAGE ANAK USIA DINI PADA KONDISI KELUARGA SINGLE PARENTS

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

strategi (yaitu tindakan atau interaksi yang dihasilkan dari fenomena sentral), mengidentifikasi konteks dan kondisi yang menengahinya (yaitu kondisi luas dan sempit yang memengaruhi strategi), dan menggambarkan konsekuensi (yaitu hasil dari strategi).

3. Dalam pengodean selektif (selective coding), peneliti mengidentifikasi “garis cerita” dan menulis cerita yang mengintegrasikan kategori dalam model pengodean poros. Dalam fase ini, proposisi bersyarat (conditional

proposition) atau hipotesis biasanya disajikan.

4. Akhirnya, peneliti dapat mengembangkan dan menggambarkan secara visual suatu matrik kondisional yang menjelaskan kondisi sosial, historis dan ekonomis yang memengaruhi fenomena sentral. Fase analisis ini tidak sering ditemukan dalam studi grounded theory.

Tabel 3.2 Tabel Coding

Waktu Wawancara Hasil Wawancara Koding

6 Juni 2015 P : Usia berapa pak? R : 33 tahun

14. Sikap responsive orang tua

P : Kelas berapa sekarang? R : Yang kesatu kelas 3 SMP (16 tahun), sama baru masuk SD (6-7 tahun).

34. Usia

P : Oia kan katanya bapa sudah pisah ya sama istrinya?

R : Muhun.

14. Sikap responsive orang tua

P : Sudah berapa lama bapa bercerai?

R : Udah 2 tahun aja.

34, Usia (Lamanya bercerai, ketika anak berusia 4-5 tahun) P : Oh gitu..oia bapa kan sendiri

ya mengasuh anak? R : Iya sendiri.

50. Peran single parent

P : Kalo menurut bapa berat engga sih mengasuh sendiri? R : Alhamdulillah, berat sih engga. Cuma ya sedikit berbeda, yang tadinya ada jadi ngga ada. Alhamdulillahnya anak-anak

41. Ungkapan perasaan single parent

11. Tanggung jawab orang tua

41

juga ada semua sama saya.

P : Oh Alhamdulillah ya. Kalo bapak kerja dimana?

R : Kerja di pasar (kuli panggul).

39. Pekerjaan

P : Kalo jam kerjanya sendiri itu gimana pak?

R : Kalo kerja sih sebentar, cuma dari ashar jam 3 sampe jam 9.

39. Pekerjaan (Jam kerja ayah single parent)

P : Nah bapak kan sendiri, harus berperan sebagai ayah juga ibu. Gimana bapa menjalankan peran ibu?

R : Ya kalo saya, gimana ya? Udah biasa sih.

50. Peran single parent

P : Kalo untuk komunikasi sendiri? Bapa suka nanya tentang sekolah, atau temannya atau yang lainnya?

R : Kalo komunikasi ada, sampe beli buku segala mah gitu….ya kalo untuk beli, eh beli

hehe..nanyain temen pelajaran apa sama beli masalah

perlengkapan ini itu ini itu, ya ada.

20 Diskusi orientasi keinginan anak

14. Sikap responsive orang tua

P : Kalo belanja kebutuhan kaya gitu, suka sama bapa?

R : Iya.

50. Peran single parent

P : Wah bagus yah..kalo lagi di rumah bapa suka marah nggak kalo anak berbuat salah?

R : Ya engga, da udah biasa tuh. Jadiiii….gimana yah, istilahnya udah kebaca karakter anak tuh, pengennya gimana..Ya ngga mungkin kan satu keturunan bener (lurus) semua, pasti ada salah satunya yang salah tuh dulu-dulunya.

8. Emosional orang tua (orang tua tidak marah ketika anak melakukan kesalahan)

5. Sikap penerimaan orang tua

P : Kalo menurut bapa, yang kecil itu karakternya seperti

42

Ayu Wulandari, 2015

PROFIL KARAKTER COURAGE ANAK USIA DINI PADA KONDISI KELUARGA SINGLE PARENTS

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

apa?

R : Yaa lempeng-lempeng aja, biasa aja gitu.

P : Prestasinya gimana? Hubungan sama temennya gimana?

R : Ya hubungan sama

temennya Alhamdulillah deket, akrab.Pelajaran agak khusu, suka ngerjain PR, selesai itu baru main gitu!

29. Kemampuan sosial subjek

30. Prestasi subjek

24. Sikap tanggung jawab subjek

P : Kalo masalah main gimana pak? Dibolehkan terus atau gimana?

R : Kalo masalah main mah, gimana ya..nggak bisa ngebates gitu. Gimana pengen si anak teh.

1. Kontrol orang tua (Kontrol kurang dan cenderung membebaskan anak)

P : Nah kalo bapa suka mengontrol nggak? Misalnya ade ngga boleh main selesai sekolah atau gimana gitu? R : Ya kalo seperti itu mah ada aja, kalo salah, tapi selama itu untuk kebaikan ya saya sih nggak masalah gitu.

1. Kontrol orang tua (Kontrol kurang dan cenderung membebaskan anak)

P : Bapak pernah marah sampe mukul, nyubit atau jewer gitu? R : Alhamdulillah belum pernah.

7. Hukuman fisik (tidak adanya penerapan fisik dari orang tua)

P : Wah sabar sekali ya pak heheeee,…(bersama)

R : Jadi gini The, makanya anak ikut sama saya tuh ya, jadi istilahna sapotong bapa sapotong ibu. Jadi, saya mah mau pengen ngasih yang terbaik gitu.

41. Ungkapan perasaan single parent

50. Peran single parent (ingin melakukan peran single parent dengan maksimal)

P : Alhamdulillah, bagus ya pak. R : yaa sampe sekolah manapun ya di stok terus gitu.Saya pribadi belum kepikiran buat nikah lagi gitu.

50. Peran single parent (ingin melakukan peran single parent dengan maksimal)

57. Peran anak dalam keluarga (anak merupakan

43

prioritas bagi ayah single parent)

P : Jadi untuk sekarang fokus ke anak gitu ya pak?

R : Ya iya, besok naik lagi ke SMA, nanti yang kecil juga kan sekolah SMP. Ya minimal 6 tahunan lah.

57. Peran anak dalam keluarga (anak merupakan prioritas bagi ayah single parent)

53. Aspek pendidikan (Ayah single parent mementingkan pendidikan bagi anak-anaknya)

P : Jadi sekarang fokus buat tabungan anak ya?

R : Ya muhun.. Jadi saya fokusnya kesitu aja sih, takut nanti terganggu. Memang kita bisa nyari lagi, mending kalo enak ke anaknya kalo engga. Nah itu yang saya jaga.

Yaa..takut nanti ada ‘saya udah ikut ke bapa, tapi bapanya kaya gitu’, gitu.

57. Peran anak dalam keluarga (anak merupakan prioritas bagi ayah single

parent)

P : Jadi dua-duanya ikut ke bapa? Ngga ada yang ikut mamahnya?

R : Ya nggak ada, sekolahnya juga disini semua.

4. Nurturance

P : Kalo mamahnya dimana? R : Ya pulang kekampungnya.

35. Broken home P : Oh gitu.. Oia pak balik lagi

ke karakter anak ya pak.. sekarang kan bapa mengasuh sendiri, gimana caranya supaya anak punya karakter yang baik? R : Yaaa, nomer satu sekarang yang dipengen sama anak, ya kita cuma bisa mencari, istilahnya gitu.Tapi kita ya harus minta

pertanggungjawabannya gitu. Misalnya kan sekarang pengen sepatu baru gitu, kaos baru, atau buku, atau mainan dirumah. Ya saya sebagai orang tua, pengen liat gimana hasil di sekolah gitu.

14. Sikap responsive orang tua

1. Kontrol orang tua

44

Ayu Wulandari, 2015

PROFIL KARAKTER COURAGE ANAK USIA DINI PADA KONDISI KELUARGA SINGLE PARENTS

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Hasil sekolah ranking yang bagus gitu aja.

P : Jadi m..

R : Perilaku, masalah perilaku

jangan sampai istilahnya orang lain, gimana ya? orang lain

kecewa gitu. Yang penting kita

sama-sama saling akrab gitu..

2. Maturity demands dari orang tua (ayah ingin anaknya bisa meyesuaikan diri dengan orang lain sehingga tida membuat kekecewaan)

29. Kemampuan sosial subjek (hubungan akrab dengan orang lain)

P : Bapa sama anak-anak juga akrab? Sejalan gitu?

R : Ya akrab. Ya soalnya kan, ya semua juga pengen kan ngikutin bapa.Istilahnya ya nggak sama kaya waktu dulu, waktu masih bareng, sering dicegat jatahnya dibelakang saya tuh.

20. Diskusi orientasi keinginan anak (anak bebas memilih untuk ikut dengan ayah atau ibu) 36. Faktor perceraian (ibu kurang manajemen keuangan)

P : Wah sama ibunya?

R : Iya, jadi anak pengen beli anu, pengen beli anu, ini itu, bilangnya ngga ada. Sedangkan saya tuh ngasih uang, buat di rumah, mana buat makan, mana buat jajan, mana buat beli peralatan gitu langsung tuh.Jadi hak si anak pengen beli ini itu, alasan uang ngga ada gitu, padahal udah dikasih.

11. Tanggung jawab orang tua (kurangnya tanggung jawab ibu terhadap

manajemen keuangan dan pemenuhan kebutuhan anak)

11. Tanggung jawab orang tua (tanggung jawab ayah dalam pemenuhan

keuangan)

36. Faktor perceraian

P : Kurang manajemennya juga ya ibunya?

R : Iya, iya. Kan istilahnya kalo orang tuanya bener gitu ya, belum tentu saya juga, ngga tau udah bener apa masih salah. Yang penting mah sekarang saya nyari uang, buat anak, udah dikasih, asalkan anak mau nurut sama saya.Disuruh shalat, apa ngaji, apa sekolah jalaan. Dibalik semua itu, udah sekolah udah shalat, udah ngaji, main

41. Ungkapan perasaan single parent

50. Peran single parent 1. Maturity demand dari orang tua (ayah menuntut kemandirian dari anak) 13. Sikap tegas orang tua (orang tua membebaskan anak setelah mengerjakan tugas mereka)

11. Tanggung jawab orang tua (tanggung jawab orang tua dalam pemenuhan

45

yaudah saya mah bebas. Pengen apapun saya kasih, walaupun nggak ada juga, ya saya ada-adain.

kebutuhan dan keinginan anak)

P : Kalau menurut bapa anak yang kecil, itu punya percaya diri yang tinggi nggak? R : Ya Alhamdulillah.

25. Percaya diri anak.

Tabel 3.3 Axial Coding

TEMA SUBTEMA KODE

Character Courage

Keberanian anak yang tinggal dengan single parents

Berani melakukan segala sesuatu sesuai

keinginannya sendiri Berani melakukan sendiri, sesuai kegiatan yang ingin dilakukannya

Percaya diri di depan orang banyak

Berani menyampaikan pendapatnya sendiri Berani membela dirinya sendiri

Kegigihan anak yang tinggal dengan single parents

Selalu ingin memenuhi rasa ingin tahunya Fokus terhadap sesuatu yang sedang dilakukan Menyelesaikan sesuatu yang telah dimulai olehnya Tidak menyerah ketika mengalami kesulitan

46

Ayu Wulandari, 2015

PROFIL KARAKTER COURAGE ANAK USIA DINI PADA KONDISI KELUARGA SINGLE PARENTS

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

Integritas anak yang tinggal dengan

single parents

Tidak memilih teman ketika bermain

Menolong teman yang mengalami kesulitan Kemandirian dalam memenuhi kebutuhannya Memiliki jiwa yang kompetitif

Mampu bersosialisasi dengan baik

Berperilaku dengan baik, tidak merugikan orang lain Tanggung jawab terhadap tugasnya

Leadership subjek

Kejujuran subjek

Vitality anak yang tinggal dengan single parents

Aktif dalam melakukan kegiatan

Ceria dalam melakukan kegiatan

Antusias dalam melakukan kegiatan yang dilakukan Respon single parents terhadap

anak

Empati single parents terhadap perasaan anak Menemani anak bermain Menemani anak belajar

47

Adanya kontak fisik seperti memeluk,

mencium, menggendong ketika bersama dengan anak

Mendengarkan pendapat anak

Diskusi orientasi keinginan anak

Sikap penerimaan orang tua terhadap karakter anak Intensitas kebersamaan Kontrol single parents terhadap

anak

Membatasi kegiatan anak Menerapkan aturan pada anak

Ketegasan terhadap aturan yang telah dibuat

Penerapan sanksi bagi anak

Maturity demands dari

orang tua

Reward yang diberikan

pada anak

Nurturance Joint custody dengan ayah

Joint custody dengan ibu

Peran Significant Other Nenek Kakek Bibi Metode single parent dalam

pengembangan character courage

Memberikan nasihat dengan penjelasan tentang

48

Ayu Wulandari, 2015

PROFIL KARAKTER COURAGE ANAK USIA DINI PADA KONDISI KELUARGA SINGLE PARENTS

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

pada anak dampak dari perbuatan

baik atau buruk atau memberikan dorongan pada anak

Membiasakan anak terhadap hal-hal yang mampu mengembangkan karakternya.

Memberikan keteladanan pada anak untuk menjadi contoh yang baik bagi anak

Melakukan pengawasan dan pengamatan terhadap kegiatan anak

Table 3.4 Selective Coding

NO KODE

1 Keberanian anak yang tinggal dengan single parents 2 Kegigihan anak yang tinggal dengan single parents 3 Integritas anak yang tinggal dengan single parents 4 Vitality anak yang tinggal dengan single parents

5 Respon single parents terhadap anak 6 Kontrol single parents terhadap anak 7 Nurturance

8 Peran Significant Other

49

Dokumen terkait