BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
B. Pembahasan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemanfaatan media berbasis TIK guru dalam meningkatkan pembelajaran Pendidikan Jasmani di SMP N 3 Turi, Kabupaten Sleman. Google form digunakan dalam penyebaran kuisioner kepada responden. Setelah kuesioner google form dibuat, maka kuesioner tersebut mengalami validasi dari ahli materi menunjukkan hasil baik/layak serta mendapatkan saran untuk susunan tulisannya diperbaiki. Teknik pengambilan data one shoot dan sampel yang digunakan adalah keseluruhan data yang masuk atau total sampling.
Berdasarkan deskripsi data hasil penelitian, diketahui bahwa secara keseluruhan tingkat pemanfaatan media pembelajaran berbasis TIK oleh guru Pendidikan Jasmani di SMP N 3 Turi, Kabupaten Sleman berada pada kategori Rendah. Dari 31 responden yang merupakan para peserta didik SMP Negeri 3 Turi, Kabupaten Sleman, 17 responden (55%) menyatakan kurangnya pemanfaatan media berbasis TIK dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani, 12 responden (39%) menyatakan pemanfaatan media berbasis TIK dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani dirasa dalam kategori cukup, 2 responden (6%) menyatakan tingginya pemanfaatan media berbasis TIK dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani.
Minimnya kemampuan guru Pendidikan Jasmani di SMP Negeri 3 Turi dalam memanfaatkan teknologi berdampak pada pemanfaatan fasilitas yang tersedia yang juga minim. Termasuk dalam proses pembelajaran yang
dipraktikkan di dalam kelas juga mengikuti model konvensional atau model manual dan cenderung monoton.
Terdapat beberapa kendala yang dihadapi selama melakukan kegiatan pengajaran dalam pemanfaatan teknologi dan informasi komunikasi di SMPN 3 Turi, Kabupaten Sleman diantaranya:
a. Faktor Peserta Didik
Hasil evaluasi menunjukkan bahwa hambatan berdasarkan faktor peserta didik merupakan yang terbesar dan dapat disimpulkan faktor peserta didik cukup menghambat dalam pelaksanaan pembelajaran berbasis TIK. Pada pembelajaran pemanfaatan media TIK khususnya dalam pembelajaran daring, kemampuan peserta didik kurang baik dalam melakukan gerak dapat terlihat pada saat proses pembelajaran yang berkaitan dengan gerak peserta didik melakukan gerak dengan ragu-ragu karena merasa takut terhadap kesalahan gerak sesuai arahan dari guru Pendidikan Jasmani. Hal ini dikarenakan koneksi internet yang kurang stabil dari para peserta didik, sehingga pada saat proses pembelajaran tidak berjalan dengan baik. Lebih lanjut, peserta didik belum memiliki tanggung jawab yang tinggi terhadap pelaksanaan pembelajaran secara daring menggunakan platform digital seperti zoom, google meet. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara dari total 30 peserta didik, kurang dari 50% yang mengikuti pembelajaran menggunakan platform digital dalam pembelajaran.
b. Faktor Sarana Prasarana
Hasil analisis menunjukkan bahwa hambatan berdasarkan faktor sarana dan prasarana disimpulkan cukup menghambat dalam pelaksanaan pembelajaran
Pendidikan Jasmani berbasis TIK. Kondisi sarana dan prasarana yang dimiliki oleh sekolah sudah cukup memadai dalam pemanfaatan pembelajaran berbasis TIK. Ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai ini tidak diimbangi dengan program peningkatan pengetahuan dan kemampuan guru dalam pemanfaatan media berbasis TIK. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara dengan guru Pendidikan Jasmani, dimana guru mengalami beberapa hambatan dalam pemanfaatan media berbasis TIK karena kurangnya pengetahuan.
Lebih lanjut, di satu sisi kondisi sarana dan prasarana yang dimiliki peserta didik dianggap masih kurang memadai karena tidak semua peserta didik memiliki peralatan olahraga yang memadai, koneksi internet, dan perangkat yang kurang memadai, sehingga dalam proses pembelajaran berjalan dengan kurang baik.
Dengan sarana dan prasarana yang seadanya membuat peserta didik kurang bersemangat dalam pembelajaran Pendidikan Jasmani. Hal ini dapat dilihat dari hasil wawancara dimana peserta didik mengalami kendala dalam koneksi internet, dan tidak semua peserta didik memiliki smartphone atau laptop yang digunakan untuk pembelajaran berbasis TIK. Dalam hal ini diperlukan kreativitas peserta didik dalam memanfaatkan segala barang-barang yang ada di sekitar guna membantu proses pembelajaran gerak agar berjalan dengan baik. Selain itu, banyak peserta didik yang tidak memiliki halaman yang cukup luas untuk melaksanakan pembelajaran gerak yang bersifat kelompok, sehingga peserta didik harus mencari lapangan terlebih dahulu dengan jarak tempuh lumayan jauh dari rumah.
c. Faktor Materi
Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan faktor materi termasuk cukup menghambat dalam pelaksanaan meningkatkan keterampilan motorik di SMPN 3 Turi, Kabupaten Sleman. Hal ini karena guru PJOK belum mengetahui cara memberikan bahan ajar yang efektif kepada peserta didik yang dilaksanakan di rumah. Selain itu, dengan alokasi waktu yang kurang guru hanya bisa menyampaikan materi yang dianggap perlu. Hal ini menjadikan hambatan dalam meningkatkan keterampilan motorik peserta didik dalam pembelajaran pendidikan jasmani.
d. Faktor Lingkungan
Hasil penelitian menunjukkan bahwa hambatan berdasarkan faktor lingkungan cukup menghambat dalam pelaksanaan meningkatkan keterampilan motorik di SMPN 3 Turi, Kabupaten Sleman. Kondisi lingkungan dari pihak keluarga peserta didik membatasi gerak pada saat pembelajaran gerak yang dilaksanakan di rumah karena dianggap berbahaya tanpa ada pengawasan dari bapak/ibu guru secara langsung. Hal tersebut menjadi hambatan dalam meningkatkan keterampilan motorik peserta didik dalam kondisi belajar di rumah.
Berdasarkan hasil observasi dan komunikasi yang penulis lakukan ditemukan bahwa kompetensi guru Pendidikan Jasmani di SMP Negeri 3 Turi dalam mengakses sumber pembelajaran dari internet masih rendah. Rendahnya kompetensi guru tersebut disebabkan oleh minimnya pengetahuan dan pelatihan yang diterima oleh para guru terkait pemanfaatan internet sebagai sumber referensi maupun pendukung pembelajaran. Guru yang ada pada akhirnya tetap mempraktikkan model pembelajaran klasik yang cenderung monoton. Hal ini
dapat dilihat dari data yang terdapat pada gambar 1 dimana sebagian besar responden menyatakan masih rendahnya pemanfaatan media teknologi informasi dan komunikasi dalam pembelajaran mata pelajaran Pendidikan Jasmani di SMP N 3 Turi, Kabupaten Sleman.
Dampaknya dinamika kelas menjadi kurang menarik dan kreativitas maupun partisipasi peserta didik tidak meningkat. Secara teoritik, pengalaman dalam pelatihan menjadi faktor yang paling besar yang memengaruhi profesionalisme guru Pendidikan Jasmani dalam proses mengajar maka pada dasarnya guru dapat memanfaatkan waktunya semaksimal mungkin untuk menambah pengetahuan dan keterampilan dalam mengajar. Salah satunya dengan mekanisme pelatihan.
Adapun jumlah guru yang mengajar mata pelajaran Pendidikan Jasmani hanya ada satu orang dengan berstatus PNS. Guru yang mengampu mata pelajaran Pendidikan Jasmani termasuk generasi 70-an atau kelahiran di bawah tahun 80-an.
Faktor usia ini kemudian berpengaruh pada kemampuan mereka dalam memanfaatkan teknologi terkini. Bahkan, sebagian besar guru hanya memiliki kemampuan rendah dalam mengoperasikan komputer atau laptop, meskipun mereka memiliki perangkat teknologi tersebut. Dampaknya hampir semua perangkat pembelajaran diselesaikan secara manual dan sisanya harus dikerjakan oleh orang lain.
Berdasarkan deskripsi data hasil penelitian, diketahui bahwa secara keseluruhan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi guru Pendidikan Jasmani dalam di SMPN 3 Turi, Kabupaten Sleman terdiri atas :
1. Faktor kemampuan dalam melihat masalah yang berhubungan dalam meningkatkan pembelajaran Pendidikan Jasmani melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi.
Kemampuan guru Pendidikan Jasmani dalam melihat masalah yang berhubungan dalam meningkatkan pembelajaran melalui daring termasuk dalam kategori rendah. Hal ini dibuktikan dengan pengisian angket dimana terdapat point-point pertanyaan mengenai penggunaan media komunikasi dan teknologi guru Pendidikan Jasmani memberikan jawaban tidak setuju. Guru Pendidikan Jasmani lebih tertarik terhadap pengajarak konvensional. Bahkan terdapat beberapa point pertanyaan mengenai pembelajaran secara online guru Pendidikan Jasmani memberikan jawaban sangat tidak setuju. Hal ini disebabkan karena guru pendidikan jasmani di SMPN 3, Kecamatan Turi, Kabupaten Sleman memiliki pengetahuan tentang teknologi informasi dan komunikasi yang rendah dan guru Pendidikan Jasmani memiliki beban kerja tinggi sehingga tidak sesuai dengan tugas pokok dan fungsinya.
Melihat kondisi yang tidak memungkinkan untuk bertatap muka guru perlu mempunyai kreativitas agar peserta didik dapat mengikuti pembelajaran Pendidikan Jasmani dengan baik dirumah. Sebagai contoh ketika guru menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran, guru tidak menyesuaikan alat yang digunakan peserta didik pada saat melakukan praktik dan juga tidak merancang bagaimana ketika dipergunakan untuk mengajar. Memanfaatkan alat yang ada untuk digunakan sebagai keperluan belajar mengajar yang
berarti menunjukkan bahwa setiap guru telah melakukan langkah antisipasif terhadap proses pembelajaran melalui daring pendidikan jasmani.
2. Faktor Kemampuan Guru dalam Menciptakan dan Menerapkan Ide untuk Meningkatkan Pembelajaran Melalui Teknologi Informasi dan Komunikasi Kemampuan guru dalam menciptakan dan menerapkan ide untuk meningkatkan pembelajaran daring termasuk dalam kategori rendah, hal ini bisa disebabkan kurangnya kemauan dari dalam guru itu sendiri karena pada dasarnya kemauan dari diri sendiri sangatlah penting, dengan mencari solusi, menciptakan ide yang kemudian dilanjutkan dengan menerapkan ide tersebut untuk meningkatkan pembelajaran Pendidikan Jasmani melalui daring akan sangat membantu terciptanya pembelajaran yang lebih baik sehingga dapat meningkatkan kualitas dan mutu pembelajaran pendidikan jasmani. Hal ini dibuktikan dengan pengisian angket dimana terdapat beberapa point mengenai pemanfaatan internet dalam pengembangan ilmu dan materi yang diberikan memberikan jawaban sangat tidak setuju.
Sebagai contoh dalam pembelajaran yang membutuhkan alat peraga berupa bola, guru dapat membuat video langkah-langkah teknik gerakannya dengan memodifikasi medianya, karena tidak semua peserta didik mempunyai prasarana yang ada. Guru dapat mengganti dengan bola plastik atau guru memberikan contoh membuat bola modifikasi yang digunakan peserta didik dari gabus styrofoam sehingga tujuan pembelajaran bisa dicapai secara optimal, namun hal ini belum dilakukan oleh guru Pendidikan Jasmani di SMPN 3 Turi, Kabupaten Sleman. Dalam hal ini guru harus menyadari
betapa pentingnya menumbuhkan sikap tahu dan mau untuk meningkatkan kemampuannya agar kemampuan dalam menciptakan dan menerapkan ide untuk meningkatkan pembelajaran melalui daring dapat meningkat lebih baik.
3. Faktor Sikap Terbuka dan Mau Menerima Hal-Hal Baru untuk Kemajuan Pembelajaran Pendidikan Jasmani
Sikap terbuka dan mau menerima hal-hal baru untuk kemajuan pembelajaran pendidikan jasmani termasuk dalam kategori sedang. Hal ini bisa disebabkan dari kesadaran dari guru dan pro aktif guru Pendidikan Jasmani di SMPN 3 Turi, Kabupaten Sleman untuk berkonsultasi, kerjasama dan tukar pendapat dengan teman sejawat sangat penting, serta dapat menjalin hubungan atau kerjasama dengan masyarakat untuk mengatasi masalah yang ada termasuk masalah dalam meningkatkan pembelajaran melalui daring. Selain itu bisa juga guru dapat memanfaatkan informasi-informasi terkait pandemi untuk dijadikan bahan ajar, guru juga dapat mencari sumber bahan ajar seperti media elektronik untuk mencari permainan-permainan yang bisa dilakukan oleh peserta didik selama di rumah dan sumber inspirasi dalam menemukan ide untuk memecahkan masalah.