• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODOLOGI PENELITIAN

D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data

Dalam pengumpulan data penelitian, peneliti menggunakan metode angket dan dokumentasi.

a) Angket

Angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data melalui daftar pertanyaan, yang harus dijawab secara tertulis oleh responden. Cholid Narbuko dan Abu Achmadi (2010: 76) mengemukakan bahwa metode kuesioner adalah suatu daftar yang berisikan rangkaian pertanyaan mengenai suatu masalah atau bidang yang akan diteliti.

Sedangkan Suharsimi Arikunto (2010: 194) mengatakan bahwa angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal- hal yang ia ketahui.

Dalam penelitian ini angket digunakan untuk memperoleh data dari variabel bebas yaitu lingkungan belajar dan kesiapan belajar.

b) Dokumentasi

Data dokumentasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah prestasi belajar fisika siswa kelas X yang berupa nilai fisika akhir semester genap tahun ajaran 2011/2012.

2. Instrumen Pengumpulan Data

Instrumen pengumpulan data lingkungan belajar dan kesiapan belajar berupa angket. Angket atau kuesioner merupakan teknik pengumpulan data melalui daftar pertanyaan, yang harus dijawab secara tertulis oleh responden. Menurut Suharsimi Arikunto (2010: 194), angket adalah sejumlah pertanyaan tertulis yang digunakan untuk memperoleh informasi dari responden dalam arti laporan tentang pribadinya, atau hal- hal yang ia ketahui.

a. Instrumen Lingkungan Belajar

Dalam penyusunan angket lingkungan belajar, peneliti mengambil beberapa item angket tersebut dari research bertajuk Caring and Learning

Environments (Goelman, 2000: 147-148) dan tesis bertema The Influence of Classroom Environment on High School Student (Taylor, 2004: 148-149).

Dalam penelitian tersebut, Goelman menggunakan The Caregiver

Interaction Scale (CIS) sebagai sarana untuk mengumpulkan informasi tentang

afektif dan interaksi antara orang tua dan anak. CIS telah digunakan dalam penelitian lain untuk menilai tiga dimensi spesifik dari perilaku guru. Sub-skala CIS yang pertama fokus pada sensitivitas guru, yang didefinisikan sebagai perilaku guru yang hangat, penuh perhatian dan terlibat. Sub-skala yang kedua fokus pada tingkat ketegasan guru, sejauh mana guru menunjukkan perilaku kritis, mengancam atau menghukum. Sub-skala yang ketiga yaitu detasemen, atau rendahnya tingkat interaksi dan pengawasan oleh guru. Tiga sub-skala melibatkan total 23 deskripsi perilaku. Setiap deskripsi diranking pada sejauh mana ia mencerminkan perilaku guru, dengan menggunakan skala empat poin berikut: "tidak sama sekali," "agak", "cukup sedikit," dan " Sangat banyak".

Sedangkan untuk penelitian yang akan dilakukan ini, ketiga sub-skala di atas masih hampir sama, dengan penyesuaian untuk menilai hubungan siswa dan orangtua di rumah. Dalam penyusunan angket, diambil 18 item dari tiga dimensi di atas dengan 7 item dari dimensi sensitivitas, 7 item dari dimensi ketegasan dan 4 item dari dimensi detasemen. Setelah dilaksanakan try out, terdapat 3 item yang tidak valid, sehingga selanjutnya 15 item yang valid akan commit to user

disertakan dalam angket penelitian bersama dengan angket lingkungan sekolah. Item angket lingkungan keluarga tersebut dimasukkan pada nomor item awal, yaitu nomor item 1-15.

Sedangkan Taylor dalam penelitiannya menggunakan survei

lingkungan belajar What is Happening in this Class? (WIHIC) yang disusun oleh Fraser, McRobbie, and Fisher (dalam paper Zandvliet, 2007: 3) yang terdiri dari dimensi interaksi siswa, dukungan guru, keterlibatan, orientasi tugas, keadilan, penyelidikan, dan kerjasama. Fraser (dalam paper Zandvliet, 2007: 4) menjelaskan penelitian tentang lingkungan belajar sebagai deskriptif kelas dan prediksi belajar siswa. Saat ini, studi tentang lingkungan belajar memiliki peran yang penting, antara lain: di pra-pelatihan guru, pengembangan profesional dan evaluasi kurikulum baru.

Sejak mulai hampir 30 tahun yang lalu, instrumen lingkungan pembelajaran telah dikembangkan, diuji dan divalidasi dalam berbagai pengaturan dan dalam berbagai negara. Instrumen ini telah terdiri dari skala yang digunakan untuk mengidentifikasi konstruksi tertentu dalam lingkungan belajar. Contoh ini meliputi: interaksi siswa, keterlibatan guru, lingkungan material, kerja sama, orientasi tugas dan keadilan. Setiap skala biasanya terdiri dari item yang dirancang untuk mengevaluasi aspek tertentu dari lingkungan belajar. WIHIC telah digunakan dan divalidasi dalam beberapa studi penelitian besar (Fraser, 1998: 1). Hasil WIHIC memiliki validitas faktorial dan reliabilitas yang baik.

Pada penelitian yang akan dilakukan, skala yang digunakan masih sama yaitu interaksi siswa, keterlibatan guru, lingkungan material, kerja sama, orientasi tugas dan keadilan. Dalam penyusunan angket, diambil 42 item dari tujuh dimensi di atas dengan masing-masing 6 item tiap dimensi. Setelah dilaksanakan try out, terdapat 5 item yang tidak valid, sehingga selanjutnya akan diambil 35 item yang valid dengan masing-masing 5 item tiap dimensi yang akan disertakan dalam angket penelitian bersama dengan angket lingkungan keluarga. Item angket lingkungan sekolah tersebut dimasukkan pada nomor item selanjutnya, yaitu nomor item 16-50. commit to user

b. Instrumen Kesiapan Belajar

Sedangkan dalam penyusunan angket kesiapan belajar, peneliti mengambil dari tesis bertajuk Readiness For Self-Directed Learning And The

Cultural Values Of Individualism/Collectivism Among American And South Korean College Students Seeking Teacher Certification In Agriculture (In

Heok Lee, 2004: 155-156) dan disertasi bertema Self-Directed Learning

Readiness (Lori Rice-Spearman, 2010: 59-62) yang telah dipublikasikan

dalam format pdf. Hal ini dapat digunakan oleh siswa dan guru untuk menilai sikap pembelajar, keterampilan, dan perilaku berkenaan pertanggungjawaban untuk pembelajaran mereka sendiri.

Dalam diri siswa dengan kesiapan belajar mandiri tinggi terdapat seorang pelajar yang sangat mandiri yang menunjukkan inisiatif, kemandirian, dan ketekunan dalam belajar, salah satu yang menerima tanggung jawab untuk belajar sendiri dan melihat masalah sebagai tantangan─bukan hambatan, salah satunya yang mampu disiplin diri dan memiliki derajat yang tinggi dari rasa ingin tahu; orang yang memiliki keinginan yang kuat untuk belajar atau berubah dan percaya diri; orang yang dapat menggunakan keterampilan belajar dasar, mengatur waktunya dan mengatur kecepatan yang sesuai untuk belajar, dan untuk mengembangkan rencana untuk menyelesaikan pekerjaan; orang yang menikmati belajar dan memiliki kecenderungan untuk berorientasi pada tujuan. Dari karakteristik pembelajar dengan kesiapan belajar mandiri di atas, dapat disimpulkan bahwa indikator yang digunakan dalam penelitian yaitu: senang belajar, belajar sepanjang hayat, konsep diri, pemahaman diri, toleransi ambiguitas dalam pengalaman belajar, tanggung jawab berkaitan dengan belajar, inisiatif mengatur kegiatan belajar dan pendekatan kreatif dalam belajar.

Pada uji coba awal, korelasi product moment Pearson belah dua dengan koreksi Spearman-Brown menghasilkan koefisien reliabilitas 0,94. Pada penelitian ini, skala yang digunakan masih sama yaitu senang belajar, belajar sepanjang hayat, konsep diri, pemahaman diri, toleransi ambiguitas dalam pengalaman belajar, tanggung jawab berkaitan dengan belajar, inisiatif commit to user

mengatur kegiatan belajar dan pendekatan kreatif dalam belajar. Dalam penyusunan angket, diambil 5 item dari tesis In Heok Lee dan 45 item dari Disertasi Rice-Spearman. Setelah dilaksanakan try out, terdapat 7 item yang tidak valid, sehingga selanjutnya akan diambil 40 item yang valid. Item angket kesiapan belajar tersebut dimasukkan pada nomor item 1-40.

Dalam penyusunan angket, terdapat urutan penyusunan hampir sama dengan angket sebelumnya. Tujuan penyusunan angket untuk memperoleh data tentang lingkungan belajar dan kesiapan belajar siswa. Aspek-aspek dalam lingkungan belajar dan kesiapan belajar mengikuti aspek dalam angket sebelumnya.

Aspek-aspek tersebut sudah dijabarkan dalam bentuk kisi spesifikasi data agar permasalahan pada setiap aspek yang akan dituangkan dalam angket menjadi lebih jelas. Lampiran 1 berisi kisi angket lingkungan belajar dan lampiran 2 berisi kisi angket kesiapan belajar. Kisi spesifikasi data berisi tentang batasan konsep yang akan diteliti dan indikator-indikator yang perlu diidentifikasi dan diukur.

Langkah selanjutnya yaitu menyusun petunjuk pengisian angket untuk mempermudah pengisian angket dalam pengambilan data. Penyusunan pernyataan menggunakan rating-scale atau skala bertingkat. Nilai jawaban angket dari masing-masing pertanyaan yang diajukan menggunakan skala Likert.

Skala Likert merupakan skala yang digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atau sekelompok orang tentang fenomena atau gejala sosial yang terjadi. Suharsimi Arikunto (2010: 284) berpendapat bahwa untuk alternatif jawaban yang berupa pendapat, alternatif jawaban yang disediakan adalah “Sangat Setuju”, “Setuju”, “Abstein”, “Kurang Setuju”, dan “Tidak Setuju”. Alternatif jawaban ragu-ragu dapat dihilangkan karena alternatif jawaban tersebut menimbulkan kecenderungan responden untuk memilih alternatif jawaban tersebut. Hal ini sesuai dengan pendapat Suharsimi Arikunto (2010: 284) yang menyatakan bahwa :

Jika pembaca berpendapat bahwa ada kelemahan dengan lima alternatif karena responden cenderung memilih alternatif yang ada di tengah (karena dirasa aman dan paling gampang karena hampir tidak berpikir) dan alasan itu memang ada benarnya. Maka memang disarankan alternatif pilihannya commit to user

hanya empat saja. Alternatif “Sangat Setuju”, dan “Setuju” ada di sisi atau kubu awal (atau akhir) sedang dua pilihan lain, yaitu ”Tidak Setuju” dan “Sangat Tidak Setuju” di sisi atau kubu akhir (atau awal). Dalam hal ini dapat kita pahami karena “Sangat Setuju” dan “Setuju” sebetulnya berada pada sisi “Setuju”, tetapi dengan gradasi yang menyangatkan. Demikian juga dengan pilihan ”Sangat Tidak Setuju” yang pada dasarnya adalah juga ”Tidak Setuju”.

Deskripsi respon yang digunakan dalam penelitian ini pada angket lingkungan belajar dan kesiapan belajar menggunakan skala Likert yang dimodifikasi menjadi skala 1 sampai 4. Item yang mengarahkan jawaban positif pemberian skor ditunjukkan dengan skor 4 untuk jawaban “Selalu”, skor 3 untuk jawaban “Sering”, skor 2 untuk jawaban “Kadang-kadang”, dan skor 1 untuk jawaban “Tidak Pernah”. Sedangkan item yang mengarahkan jawaban negatif pemberian skor ditunjukkan dengan skor 4 untuk jawaban “Tidak Pernah”, skor 3 untuk jawaban “Kadang-kadang”, skor 2 untuk jawaban “Sering”, dan skor 1 untuk jawaban “Selalu”.

E. Validitas dan Reliabilitas Instrumen

Dokumen terkait