• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Keabsahan Data

Dalam dokumen Membangun pendidikan efektif (Halaman 64-69)

METODE KAJIAN

3. Teknik Keabsahan Data

Pengecekan keabsahan data adalah pengecekan tentang ter-penuhi atau tidaknya standar kriteria validitas dan reliabilitas suatu data. Menurut Lincoln dan Guba (1985), bahwa untuk

54

memperoleh data yang valid dapat ditempuh teknik pengecekan data melalui: (1) observasi yang dilakukan secara terus-menerus (persistent observation), (2) trianggulasi (triangulation) sumber data, metode dan peneliti lain; (3) pengecekan anggota (member check), diskusi teman sejawat (peer reviewing); dan (4) pengecekan mengenai kecukupan referensi (referencia adequacy check).

Menurut Moleong (2007: 173), keabsahan suatu data apabila telah terpenuhi empat kriteria: derajat kepercayaan (credibility), keteralihan (transferability), ketergantungan (dependability) dan kepastian (confirmability). Secara rinci, masing-masing kriteria itu adalah sebagai berikut:

b. Derajat Kepercayaan (credibility)

Penerapan konsep kriteria derajat kepercayaan dimaksudkan sebagai pengganti konsep validitas internal dari penelitian non kualitatif. Kriteria ini berfungsi: a) melaksanakan inkuiri sedemikian rupa sehingga tingkat kepercayaan penemuannya dapat dipercaya. b) Mempertunjukkan derajat kepercayaan hasil-hasil penemuan dengan jalan pembuktian oleh peneliti.

Menurut S. Nasution (2008: 114), ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mendapatkan derajat kepercayaan hasil penelitian itu. a) Memperpanjang masa observasi, maksudnya adalah untuk mendapatkan keuntungan-keuntungan antara lain peneliti dapat mempelajari kebenaran dan dapat mempelajari ketidakbenaran informasi yang disampaikan oleh pihak-pihak yang bertanggungjawab. b) Pengamatan yang terus menerus, dengan maksud agar peneliti dapat melakukan pengamatan secara cermat dan mendalam terhadap subyek yang diamati, se-lanjutnya akan didapatkan bahan penelitian yang otentik dari pelaku utamanya. c) Triangulasi, adalah pengecekan keabsahan data dengan membandingkan satu data dengan data lain yang di-peroleh dari sumber lain (informan) pada berbagai fase penelitian

55 lapangan dengan waktu dan tempat berbeda dan sering juga menggunakan metode yang berbeda.

a. Keteralihan (transferability)

Keteralihan sebagai persoalan empiris bergantung pada kesa-maan antara konteks pengirim dan penerima. Untuk melakukan penelitian tersebut peneliti berusaha mencari dan mengumpul-kan data kejadian empiris dalam konteks yang lama dan terjadi di Kabupaten Jepara. Keteralihan hasil kajian biasanya berkenaan dengan hasil pertanyaan sampai sejauh manakah hasil penelitian ini dapat digunakan dalam situasi-situasi lain. Dalam penelitian ini peneliti berusaha memberikan deskripsi yang rinci tentang bagaimana penelitian ini, melaksanakan dan mendapatkan kes-impulan tertentu. Dengan demikian penelitian ini akan mendapatkan sesuatu yang sekiranya ada, dilaksanakan di obyek kajian lain dan hal ini merupakan salah satu manfaat praktis dari kajian ini.

c. Ketergantungan (dependability)

Ketergantungan menurut istilah konvensional disebut relia-bilitas. Sedangkan reliabilitas ini merupakan syarat validitas da-lam suatu kajian. Ketergantungan dilakukan untuk menanggu-langi kesalahan-kesalahan dan konseptualisasi rencana penelitian, pengumpulan data, interpretasi temuan, dan pelaporan hasil penelitian. Untuk itu diperlukan dependent auditor atau para ahli dibidang pokok persoalan kajian ini. Pemerik-sanaan dependabilitas ini dilakukan oleh para pemanggku pen-didikan di Kabupaten Jepara. Peran para Stakeholder/pemangku pendidikan sebagai dependent auditor sangan penting dalam penelitian ini. Dengan melakukan review atas proses penelitian yang dimaksudkan, temuan penelitian dapat dipertahankan dan dipertanggungjawabkan hasilnya secara ilmiah melalui keabsa-han akademik selama proses penelitian di lapangan.

56

Alat utama dalam penelitian kualitatif adalah peneliti sendiri, oleh karena itu untuk menjamin ketergantungan dengan kepas-tian penelikepas-tian yaitu dengan cara memeriksa dan melacak suatu data sehingga diperoleh kebenaran yang faktual.

d. Kepastian/dapat dikonfirmasi (confirmability)

Kepastian diperlukan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh obyektif atau tidak. Hal ini tergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap pandangan, pendapat, dan temuan seseorang. Jika telah disepakati oleh beberapa atau ban-yak orang dapat dikatakan obyektif, namun penekanannya tetap pada bertanya. Untuk menentukan kepastian data dalam penelitian ini dilakukan dengan cara mengkonfirmasikan data dengan para informan.

Kepastian mengenai tingkat obyektifitas hasil penelitian san-gat tergantung pada persetujuan beberapa orang terhadap pen-dapat atau temuan kajian.

Dalam kajian ini pengujian kredibilitas data kajian dilakukan dengan cara:

(a) Perpanjangan pengamatan

Maksudnya adalah memperpanjang kajian sampai tiga kali, karena pada periode I dan II, data yang diperoleh dirasa belum memadai dan belum kredibel. Belum memadahi karena belum semua rumusan masalah dan fokus terjawab melalui data, belum kredibel karena sumber data masih ragu-ragu dalam memberikan data, sehingga data yang diperoleh pada tahap I dan II ternyata masih belum konsisten, masih berubah-ubah. Dengan perpanjan-gan pengamatan sampai dua kali, maka data yang diperoleh dirasa telah jenuh.

(b) Meningkatkan ketekunan

Maksudnya adalah melakukan pengamatan secara lebih cer-mat dan berkesinambungan. Dengan cara ini, maka kepastian

57 data dan urutan peristiwa akan dapat direkam secara pasti dan sistematis.

Pengujian kredibilitas dengan meningkatkan ketekunan ini dilakukan dengan cara meneliti membaca seluruh catatan hasil penelitian secara cermat, sehingga dapat diketahui kesalahan dan kekurangannya. Demikian juga dengan meningkatkan ketekunan, maka peneliti dapat memberikan deskripsi data yang akurat dan sistematis tentang apa yang diamati.

Sebagai bekal peneliti untuk meningkatkan ketekunan ada-lah dengan cara membaca berbagai referensi buku maupun hasil penelitian atau dokumentasi-dokumentasi yang terkait dengan temuan yang diteliti. Dengan membaca ini, maka wawasan peneliti akan semakin luas dan tajam, sehingga dapat digunakan untuk memeriksa data yang ditemukan itu benar/dipercaya atau tidak.

(c) Triangulasi

Triangulasi dilakukan dengan cara triangulasi teknik, sumber data dan waktu. Triangulasi teknik dilakukan dengan cara me-nanyakan hal yang sama dengan teknik yang berbeda, yaitu dengan wawancara, observasi dan dokumentasi. Triangulasi sumber, dilakukan dengan cara menanyakan hal yang sama me-lalui sumber yang berbeda, dalam hal ini sumber datanya adalah studi kepustakaan dengan mengumpulkan data-data dari berbagai sumber. Triangulasi waktu artinya pengumpulan data dilakukan pada berbagai kesempatan.

Dengan triangulasi dalam pengumpulan data tersebut, maka dapat diketahui apakah nara sumber memberi data yang sama atau tidak. Kalau nara sumber memberi data yang berbeda, maka berarti datanya belum kredibel.

(d) Diskusi teman sejawat

Diskusi teman sejawat dilakukan dengan mendiskusikan hasil kajian yang masih bersifat sementara pada teman-teman dan

58

kolega Dewan Riset Daerah Kabupaten Jepara. Melalui diskusi ini banyak pertanyaan dan saran. Pertanyaan yang berkenaan dengan data yang belum bisa terjawab, maka peneliti kembali ke lapangan untuk mencarikan jawabannya. Dengan demikian data menjadi semakin lengkap.

Dalam dokumen Membangun pendidikan efektif (Halaman 64-69)

Dokumen terkait