• Tidak ada hasil yang ditemukan

2 2 CACING PARASITIK

3 METODOLOGI PENELITIAN 1 Waktu dan Tempat

3.3 Metode Penelitian

3.3.2 Pengamatan Sampel

3.3.2.2 Uji Kuantitatif

3.3.2.2.1 Teknik McMaster

Uji ini berdasarkan pada metode yang digunakan Whitlock (1960). Uji ini bertujuan untuk mempertunjukkan dan menghitung jumlah telur cacing pada sampel tinja. Metode pengujian ini dilakukan dengan memasukkan larutan sampel yang telah dibuat (seperti pada uji kualitatif) ke dalam kamar hitung McMaster dengan pipet sampai penuh. Selanjutnya dilakukan pengamatan di bawah mikroskop pada perbesaran 100×.

Gambar 7 Titik pengambilan sampel pada feses kerbau. Ada lima titik yang diambil sampel yaitu atas (A), bawah (B), tengah (T), kanan (Ka) dan kiri (Ki) (Sumber: Pribadi).

Ka

B T A Ki

10

3.3.2.2.2 Teknik Filtrasi Bertingkat

Tinja sebanyak 3 gram ditambahkan ke dalam 50 ml air dan diaduk sampai homogen. Setelah itu, larutan sampel disaring 2-3 kali. Sampel hasil saringan difiltrasi dengan saringan bertingkat, berturut-turut 400 μm, 100μm dan 45 μm. Sedimen dari saringan pertama disemprot dengan sprayer sehingga terkumpul pada saringan ketiga. Sedimen pada saringan ketiga dimasukkan ke dalam cawan petri hitung dengan cara menyemprotkan sprayer ke arah cawan petri hitung dengan posisi mulut saringan ke arah cawan. Selanjutnya sedimen dicampur air secukupnya, lalu diamati dengan mikroskop pada perbesaran 40× (Soulsby 1986). 3.3.3 Pengukuran Telur Cacing

Telur cacing yang ditemukan diambil sampling 10 buah per jenis telur dari sampel yang berbeda. Pengukuran telur menggunakan mikroskop cahaya Nikkon Eclipse E600 dengan perbesaran 100× dan dibantu dengan sebuah monitor untuk menampilkan gambar.

3.3.4 Analisis Data

Perhitungan telur cacing menggunakan metode Faecal Egg Counts (FEC) serta uji ANOVA untuk mengevaluasi infestasi telur cacing pada tinja. Perhitungan FEC Trematoda berdasarkan Palmer dan Lyon (2011) dengan menggunakan rumus:

n = jumlah telur yang ditemukan dalam cawan petri hitung bt = bobot tinja (g)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini berhasil mengidentifikasikan jenis-jenis telur cacing pada kerbau. Adapun jenis telur cacing yang telah teridentifikasi yaitu telur genus Fasciola dan genus Paramphistomum dari kelas Trematoda. Berdasarkan hasil pengamatan pada penelitian ini, tidak ditemukan adanya telur cacing dari kelas Cestoda maupun Nematoda. Hasil penelitian ini memperkuat beberapa penelitian sebelumnya yang memiliki keterkaitan baik pada kerbau maupun ruminansia lainnya. Mukhlis (1985), Widjajanti (2004) dan Purwanta et al. (2006) menyatakan bahwa Fasciola sp. dan Paramphistomum sp. adalah spesies trematoda yang umum ditemukan di Indonesia. Fasciola hepatica dan F. gigantica adalah dua spesies parasit trematoda yang menginfeksi ruminansia domestik seperti domba, sapi dan kerbau. Infeksi F. gigantica pada kerbau di negara-negara tropis di Asia sering terjadi dan menimbulkan kerugian ekonomi yang berat (Zhang et al. 2006). Penelitian yang dilakukan Balitvet pada tahun

10

3.3.2.2.2 Teknik Filtrasi Bertingkat

Tinja sebanyak 3 gram ditambahkan ke dalam 50 ml air dan diaduk sampai homogen. Setelah itu, larutan sampel disaring 2-3 kali. Sampel hasil saringan difiltrasi dengan saringan bertingkat, berturut-turut 400 μm, 100μm dan 45 μm. Sedimen dari saringan pertama disemprot dengan sprayer sehingga terkumpul pada saringan ketiga. Sedimen pada saringan ketiga dimasukkan ke dalam cawan petri hitung dengan cara menyemprotkan sprayer ke arah cawan petri hitung dengan posisi mulut saringan ke arah cawan. Selanjutnya sedimen dicampur air secukupnya, lalu diamati dengan mikroskop pada perbesaran 40× (Soulsby 1986). 3.3.3 Pengukuran Telur Cacing

Telur cacing yang ditemukan diambil sampling 10 buah per jenis telur dari sampel yang berbeda. Pengukuran telur menggunakan mikroskop cahaya Nikkon Eclipse E600 dengan perbesaran 100× dan dibantu dengan sebuah monitor untuk menampilkan gambar.

3.3.4 Analisis Data

Perhitungan telur cacing menggunakan metode Faecal Egg Counts (FEC) serta uji ANOVA untuk mengevaluasi infestasi telur cacing pada tinja. Perhitungan FEC Trematoda berdasarkan Palmer dan Lyon (2011) dengan menggunakan rumus:

n = jumlah telur yang ditemukan dalam cawan petri hitung bt = bobot tinja (g)

4 HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini berhasil mengidentifikasikan jenis-jenis telur cacing pada kerbau. Adapun jenis telur cacing yang telah teridentifikasi yaitu telur genus Fasciola dan genus Paramphistomum dari kelas Trematoda. Berdasarkan hasil pengamatan pada penelitian ini, tidak ditemukan adanya telur cacing dari kelas Cestoda maupun Nematoda. Hasil penelitian ini memperkuat beberapa penelitian sebelumnya yang memiliki keterkaitan baik pada kerbau maupun ruminansia lainnya. Mukhlis (1985), Widjajanti (2004) dan Purwanta et al. (2006) menyatakan bahwa Fasciola sp. dan Paramphistomum sp. adalah spesies trematoda yang umum ditemukan di Indonesia. Fasciola hepatica dan F. gigantica adalah dua spesies parasit trematoda yang menginfeksi ruminansia domestik seperti domba, sapi dan kerbau. Infeksi F. gigantica pada kerbau di negara-negara tropis di Asia sering terjadi dan menimbulkan kerugian ekonomi yang berat (Zhang et al. 2006). Penelitian yang dilakukan Balitvet pada tahun

11 1991 terhadap sampel tinja kerbau lumpur di Kalimantan Selatan menemukan infeksi cacing hati (Fasciola sp.) dan trematoda rumen (Paramphistomum sp.), serta tidak ditemukan infeksi cacing nematoda dalam saluran pencernaan (Suhardono 2000). Menurut Rohaeni et al. (2008), kejadian infeksi pada Kalimantan Selatan bahkan menjadi salah satu penyebab tingginya mortalitas ternak kerbau. Penelitian Estuningsih (2006) dengan uji capture-ELISA untuk deteksi antigen dalam tinja menyimpulkan bahwa sebanyak 60,28% dari 141 sampel tinja sapi di RPH Jakarta yang diteliti positif Fasciola sp.

Ukuran telur genus Fasciola pada penelitian ini yaitu 126.60-179.0 µm × 89-106.70 µm dengan rataan 155.60 ± 15.68 µm × 97.03 ± 6.03 µm (Tabel 1). Ukuran telur genus Fasciola di Indonesia umumnya yaitu 118.80-158.40 µm × 66-105 µm (Mukhlis 1985). Ukuran ini lebih mirip telur F.hepatica yang berukuran 130-150 µm × 63-90 µm (Levine 1994). Hasil ini juga sejalan dengan pendapat Chen (1990) dalam Abdel-Nasser et al. (2010) yang menyatakan bahwa ukuran telur genus Fasciola di Asia tidak jauh berbeda dari F. hepatica yaitu 130-150 µm × 63-90 µm. Namun, ukuran telur genus Fasciola penelitian ini lebih kecil daripada ukuran telur genus Fasciola asal Afrika. Menurut Lapage (1962) ukuran telur genus Fasciola asal Afrika berkisar 156-197 µm × 90-104 µm. Ukuran telur genus Paramphistomum pada penelitian ini adalah 135.30 -152.20 µm × 72.90-100 µm dengan rataan 145.34 ± 6.38 µm × 83.08 ± 9.49 µm (Tabel 1). Hasil ini mendukung keterangan Foreyt (2001) yang mengutarakan bahwa telur genus Paramphistomum memiliki ukuran 150 µm × 75 µm. Hasil ini juga menguatkan penelitian Burgu (1981) yang mengemukakan bahwa ukuran telur genus Paramphistomum 121-169 µm × 68-95 µm. Hasil rataan perhitungan Faecal Egg Counts (FEC) genus Fasciola dengan teknik filtrasi adalah 2.07 ± 4.30 per gram tinja sedangkan rataan FEC genus Paramphistomum adalah 1.76 ± 2.24 per gram tinja. Berdasarkan standar infeksi, infestasi telur trematoda pada kerbau atau sapi tergolong patogenik apabila terdapat 100-200 telur per gram tinja (Soulsby 1986). Hal ini menunjukkan bahwa ternak kerbau yang diteliti mengalami infeksi Fasciola dan Paramphistomum yang tergolong tidak patogenik.

Tabel 1 Hasil pengukuran rataan panjang dan lebar telur cacing genus Fasciola dan genus Paramphistomum pada tinja kerbau

Jenis telur (genus) Ukuran rataan (µm)

Panjang Lebar

Fasciola 155.60 ± 15.68 97.03 ± 6.03 Paramphistomum 145.34 ± 6.38 83.08 ± 9.49

12

Gambar 2 dan 3 menunjukkan perbandingan infestasi kedua jenis telur cacing pada keempat kerbau. Data tersebut menggambarkan bahwa masing- masing kerbau memiliki derajat infeksi cacing yang berbeda. Secara umum infeksi Paramphistomum hampir merata pada semua kerbau. Rataan telur genus Paramphistomum pada kerbau 1, 2 dan 4 lebih tinggi dibandingkan telur genus Fasciola. Namun, kerbau 3 mengalami hal yang sebaliknya, rataan telur genus Fasciola yang ditemukan lebih tinggi daripada telur genus Paramphistomum.

Perbedaan derajat infeksi dapat disebabkan oleh beberapa faktor baik faktor intrinsik maupun ekstrinsik. Faktor intrinsik terdiri atas umur, jenis kelamin dan

Gambar 8 Grafik perbandingan infestasi telur cacing genus Fasciola pada kerbau 1-4 (K1-K4) selama 4 minggu (M1-M4) 0.00 2.00 4.00 6.00 8.00 10.00 12.00 14.00 16.00 18.00 M1 M2 M3 M4 J u m l a h t e l u r Waktu K1 K2 K3 K4

Gambar 9 Grafik perbandingan infestasi telur cacing genus Paramphistomum pada kerbau 1- 4 (K1-K4) selama 4 minggu (M1-M4)

0.00 0.50 1.00 1.50 2.00 2.50 3.00 3.50 4.00 4.50 5.00 M1 M2 M3 M4 J u m l a h t e l u r Waktu K1 K2 K3 K4

13 breed (Putri 2008; Sayuti 2007). Zhang et al. (2006) menyatakan bahwa salah satu faktor intrinsik yang berpengaruh terhadap derajat infeksi adalah imunitas individu kerbau. Menurut Tuasikal & Suhardono (2006), peningkatan daya tahan tubuh ternak dapat menurunkan patogenisitas cacing. Faktor intrinsik yang diduga mempengaruhi derajat infeksi pada penelitian ini adalah imunitas individu kerbau. Dugaan ini didasarkan pada asumsi bahwa pengaruh faktor intrinsik lain dapat diabaikan karena dianggap sama pada semua kerbau. Kerbau yang memiliki imunitas yang baik maka akan dapat menghambat aktivitas parasitik cacing (Zhang et al. 2006). Hal ini akan menurunkan fekunditas cacing. Penurunan fekunditas ini akan mengurangi produksi telur cacing. Sebaliknya, kerbau yang memiliki imunitas yang rendah terhadap cacing tertentu akan mengalami infeksi yang tinggi. Faktor ekstrinsik yang mempengaruhi derajat infeksi meliputi iklim, karakteristik geografis dan manajemen pemeliharaan (Putri 2008). Faktor ekstrinsik yang berpengaruh terhadap derajat infeksi pada penelitian ini adalah pemberian anthelmintika albendazol. Obat yang diberikan diduga memberikan efektivitas yang berbeda terhadap keempat kerbau. Sebagaimana yang dijelaskan Alvarez et al. (2009), albendazol hanya peka terhadap jenis–jenis cacing tertentu saja diantaranya Fasciola namun tidak peka terhadap Paramphistomum.

Infestasi telur cacing dari M1-M4 mengalami fluktuasi dan tidak sama antar kerbau. Terjadinya fluktuasi ini dipengaruhi oleh beberapa faktor. Pertama, banyaknya tinja yang dikeluarkan setiap hari oleh hewan seringkali berbeda. Kedua, produksi telur harian tiap jenis cacing berbeda. Ketiga, produksi telur cacing tua dan muda berbeda (Kusumamihardja 1995 dalam Chrisnawaty 2008). Keempat, konsistensi tinja yang lembek lebih berat dibandingkan dengan tinja yang padat (Soulsby 1986).

Tabel 3 menunjukkan hasil perhitungan rataan produksi harian telur cacing pada berbagai titik. Berdasarkan data tersebut, jumlah telur tidak berbeda nyata antar titik (p>0.05). Hal ini membuktikan pada titik manapun dapat dilakukan pengambilan sampel karena hasilnya tidak berbeda nyata.

Tabel 2 Hasil perhitungan FEC pada beberapa titik dari sampel tinja

Titik Kode kerbau

K1 K2 K3 K4

Nilai rataan FEC (TTGT)

A 1,97 ± 2.37a 0,94 ± 1.02a 3,62 ± 3.77a 0,86 ± 0.85a

B 2,26 ± 2.36a 0,67 ± 0.86a 3,94 ± 3.10a 0,78 ± 0.76a

T 2,31 ± 2.64a 0,49 ± 0.78a 2,94 ± 2.80a 0,96 ± 1.19a

Ka 2,36 ± 2.55a 0,27 ± 0.39a 4,15 ± 4.57a 0,85 ± 1.02a

Ki 2,10 ± 2.12a 0,49 ± 0.53a 5,13 ± 5.62a 1,10 ± 1.60a

Keterangan: Angka-angka pada kolom yang sama yang diikuti oleh huruf yang sama tidak berbeda nyata pada taraf uji 5%(p>0.05).

A : Titik pada bagian atas tinja Ka: Titik pada bagian kanan tinja

B : Titik pada bagian bawah tinja Ki: Titik pada bagian kiri tinja

14

5 SIMPULAN DAN SARAN

5.1 Simpulan

Jenis telur cacing yang ditemukan dalam penelitian ini adalah telur trematoda genus Fasciola dan genus Paramphistomum. Berdasarkan nilai FEC yang diperoleh tingkat infeksi kedua spesies cacing masih tergolong tidak patogenik. Infeksi Paramphistomum lebih tinggi dibandingkan infeksi Fasciola pada ketiga kerbau. Sebaliknya, infeksi Fasciola lebih menonjol dibandingkan infeksi Paramphistomum pada satu kerbau. Jumlah telur cacing pada kelima titik pengambilan tinja tidak berbeda nyata.

5.2 Saran

Saran penulis untuk penelitian selanjutnya yaitu perlu dilakukannya penelitian dengan menggunakan beberapa anthelmintik untuk mengamati khasiat obat terhadap cacing parasit.

6 DAFTAR PUSTAKA

Abdel-Nasser AH, Ismael MH, Refaat MAK. 2010. Development and hatching mechanism of Fasciola eggs, light and scanning electron microscopic studies. Saud J Biol Sci 17: 247-251. doi: 10.1016/j.sjbs.2010.04.010.

Alvarez L, G Moreno, L Moreno, L Ceballos, L Shaw, I Fairweather, C Lanusse. 2009. Comparative assessment of albendazole and triclabendazole ovicidal activity on Fasciola hepatica eggs. Vet Parasitol 164:211–216. doi: 10.1016/j.vetpar.2009.05.014.

Bamualim AM, Muhammad Z. 2007. Situasi dan Keberadaan Ternak Kerbau di Indonesia. Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha ternak Kerbau 2007. Bogor. hlm 32-39.

Burgu A. 1981. Studies on the Biology of Paramphistomum Schrank, 1970 in the Sheepin the District of Eskisehir Ciftelerstrate Farm. A O Vet Fak Derg 28(1-4): 50-71.

Bustami, E Susilawati. 2007. Sistem Pemeliharaan Ternak Kerbau di Propinsi Jambi. Makalah Seminar dan Lokakarya Nasional Usaha ternak Kerbau 2007. Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Jambi. Hal 90-94.

Cheng TC. 1973. General Parasitology. Florida: Academy Press.

Chrisnawaty D. 2008. Infeksi Cacing Saluran Pencernaan pada Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Pulau Tinjil [skripsi]. Bogor: Fakultas kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

De Waal. 2008. Paramphistomum, a brief review. Irish Vet J 63 (5): 313-315. Dorny P, Valérie S, Johannes C, Sothy M, San S, Bunthon C, Davun H, Dirk Van

A, Jozef V. 2011. Infections with gastrointestinal nematodes, Fasciola and Paramphistomum in cattle in Cambodia and their association with morbidity parameters. Res Vet Sci 175: 293-299. doi:10.1016/j.vetpar.2010.10.023

INFESTASI TELUR CACING PARASITIK PADA TINJA

Dokumen terkait