• Tidak ada hasil yang ditemukan

Teknik Operasional dan Teknologi Daur Ulang

• Pengumpulan

Pengumpulan bahan material daur ulang umumnya dilakukan oleh pemulung dan tukang loak baik yang dilakukan di daerah pemukiman maupun Tempat penampungan sementara (TPS) dan Tempat penampungan Akhir (TPA). Dalam memulung sampah para pemulung menggunakan peralatan berupa kait yang terbuat dari baja keras dengan ujung runcing. Bentuk kait dianggap sebagai bentuk yang paling ideal untuk mengambil material sampah karena tinggal menusukannya pada benda yang ingin diambil saja. Peralatan ini hanya bisa digunakan pada material ”lunak” sementara untuk benda-benda keras semacam logam dan kaca diambil langsung dengan tangan. Peralatan lain yang digunakan adalah keranjang untuk menampung hasil pulungan terkadang keranjang terbuat dari rotan atau karung bekas. Tetapi ada juga pemulung yang menggunakan gerobak bahkan beca untuk menampung barang pulungannya seperti yang dilakukan oleh pemulung di Sabuga yang menggunakan beca atau pemulung di jalan Suci yang menggunakan gerobak.

• Pemilahan

Setelah material daur ulang dikumpulkan kemudian dilakukan pemilahan berdasarkan kelompok jenis material. Di tingkat pemulung pemilahan ini biasanya hanya mengelompokan berdasarkan kelompok besarnya saja seperti kertas, plastik, kaca, aluminium dan besi.

Proses pemilahan selanjutnya oleh para lapak. Mereka memilah dan menggolongkan setiap jenis material secara spesifik untuk dijual per jenisnya sebagaimana yang diinginkan oleh bandar atau suplier. Pemilahan yang dilakukan pada tingkat ini masih sangat sederhana (manual). Mereka memilih material berdasarkan tampilan fisik semata. Sebelum bekerja para pekerja baru dilatih oleh lapak untuk melakukan pemilahan seperti yang diinginkan.

Jenis pemilahan yang mereka lakukan dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel III.6. Jenis material daur ulang setelah dipilah Material Pulungan Komoditas setelah dipilah

Plastik LD PVC PE PK

Ember PET Mainan Impek

Naso Paralon Kristal ABS

Kerasan Ember hitam

Kertas Karton duplek Kertas Arsip

Campuran Kertas Koran

Kaca Beling Hijau

Beling Coklat Beling bening

Botol

Besi Biasa Super

Aluminium Rongsokan BBT (aluminium Tebal)

Seng Krepek

Tembaga Kabel super

Sumber : Data sekunder Tugas akhir Bainah Wati, Teknik Industri ITB 2002 Pada pemilahan kertas tidak terjadi masalah karena untuk kertas pola pembedaan sangat mudah yaitu kertas koran, kertas arsip (HVS), kertas duplek dan kertas karton dengan perbedaan antar jenis kertas yang cukup mencolok. Pemilahan yang agak rumit terjadi pada material plastik. Jenis-jenis plastik kadang tidak cukup dibedakan hanya dari tampilan fisiknya semata. Dalam hal ini yang paling berperan besar adalah bandar besar yang pada umumnya melakukan pra proses.

Bandar besar ini rata-rata menguasai teknologi pemilahan plastik dan kemudian memberikan contoh hasil pemilahannya kepada lapak di bawahnya untuk mendapatkan material yang diinginkannya, seperti yang terjadi pada bandar besar PK Group di Jl. Riung yang pemisahan jenis plastiknya menggunakan bahan bensin, bila material tersebut lengket maka termasuk jenis Impact atau bila menggunakan aseton material tersebut lengket berarti termasuk jenis ABS, sedangkan pada bandar bapak Joko pemisahan material plastik dilihat dari jenis

serat plastiknya atau dari sifat plastiknya itu sendiri, bila di pencet permukaannya membalik maka itu termasuk jenis PP bila tidak maka termasuk jenis HD

Ditingkat bandar sendiri seringkali pula masih dilakukan proses pemilahan terutama jika mereka melakukan proses selanjutnya (membuat flakes atau pellet) seperti yang terjadi pada bandar besar PK Group di Jl. Riung. Pada awalnya mereka memilah sampah plastik dengan menggunakan prinsip perbedaan berat jenis dengan memasukan plastik ke dalam cairan tertentu bisa berupa air, minyak tanah maupun bensin. Hasilnya mereka hapalkan dan meneruskan hal serupa kepada para pekerjanya. Selanjutnya proses pemilahan dilakukan secara manual.

Untuk masuk ke proses berikutnya plastik selain dibedakan berdsarkan jenisnya juga dilihat dari warnanya.

• Kompaksi

Proses kompaksi adalah proses memanpatkan material agar mudah diangkut ke tempat yang diinginkan. Dalam bahasa sehari-hari proses ini disebut pengepressan. Proses ini dilakukan pada material kertas dan logam yang berbentuk rongga (bulky) seperti yang dilakukan oleh bandar kertas PD. Anugerah ( Bapak Usep )21 di jalan Ahmad Yani. Pengepressan juga dilakukan pada plastik karung seperti yang dilakukan oleh bandar plastik bapak Joko.

Alat yang digunakan dalam pengepressan kertas dan karung plastik secara manual adalah cetakan pengepress bisa terbuat dari kayu atau besi dengan ukuran yang bervariasi. Sebelum diisi kertas, pada kotak dipasang tali melintang untuk mengikat dan mengangkat kertas yang sudah dipress. Di bagian paling bawah dan paling atas umumnya dipasang kertas ukuran besar untuk isisnya ukuran bisa bervariasi. Gundukan diinjak-injak sampai kepadatan yang diinginkan kemudian diikat dan dikeluarkan dari cetakan dengan cara mengikat cetakannya.

Sedangkan pengepressan secara mekanik dengan menggunakan pengepress hidrolik.

21 Hasil wawancara dengan Bapak Usep ( PD. Anugerah ) pada tanggal 11 Juni 2007

• Prefabrikasi

Prefabrikasi adalah proses yang dilakukan terhadap material daur ulang sebelum diproses menjadi prosuk tertentu. Proses ini berupa pencucian, penghancuran dan pelelehan (melting), di mana proses ini terjadi pada material daur ulang plastik.

Proses inilah yang dilakukan di CV. Fajat22, PK. Group dan Bandar Plastik Bapak Joko23.

Pada proses flakes umumnya plastik yang akan di giling tidak di cuci terlebih dahulu melainkan dicuci setelah di giling. Cara ini lebih efektif karena lebih mudah prosesnya dan tidak membutuhkan tempat pencucian yang tidak terlalu besar. Setelah dicuci flakes dikeringkan dengan blower hangat sedangkan untuk flakes yang lebih tebal (misalnya flakes LDPE dan PVC ) lebih dikeringkan lagi dengan dijemur di panas matahari. Di PK Group24 untuk mengeringkan semula menggunakan oven namun karena terlalu mahal maka memodifikasi alat sentrifugal seperti ’mesin cuci’ untuk mengeringkannya. Dengan menggunakan alat modifikasi tersebut biaya operasional yang harus dikeluarkan bisa ditekan hingga 50%nya.

Terdapat kesamaan teknologi yang digunakan anatar bandar yang satu dengan bandar yang lainnya. Mesin yang digunakan oleh para bandar ini bukanlah mesin standar yang dijual di pasaran (kecuali diesel penggeraknya ). Umumnya didesain dan dibuat sendiri dengan mencontoh mesin aslinya dengan modifikasi di sana-sini. Bahan-bahan yang digunakan pun umumnya terbuat dari besi bekas sehingga harganya menjadi lebih murah. Sedangkan untuk proses daur ulang sampah organik menjadi kompos telah dipergunakan berbagai teknologi seperti mesin pencacah, komposter baik skala rumah tangga maupun kawasan dan mesin ayakan.

22 Hasil wawancara dengan perwakilan Bapak H. Ujo ( CV. Fajat ) pada tanggal 15 Juli 2007

23 Hasil wawancara dengan Bapak Joko pada tanggal 18 Juli 2007

24 Hasil wawancara dengan perwakilan PK. Group pada tanggal 22 Juni 2007

Dokumen terkait