• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III. METODE PENELITIAN

3.8 Teknik Pemeriksaan Keabsahan Data

Dalam penelitian kualitatif pada dasarnya dibutuhkan teknik pemeriksaan keabsahan data sebagai usaha untuk meningkatkan derajat kepercayaan data. Apabila upaya melaksanakan pemeriksaan terhadap keabsahan data secara cermat sesuai dengan teknik yang digunakan, maka hasil upaya penelitiannya benar-benar dapat tercapai dengan baik. Setelah diperoleh data yang sudah disusun secara sistematis dalam rangkuman yang jelas, maka langkah selanjutnya memeriksa keabsahan data, hal ini dilakukan dengan kategorisasi data yang ada.

Dari hasil yang didapat kemudian penulis mengurutkan sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Setelah data yang diperoleh tersebut dikelompokkan, maka penulis memeriksa dan mengoreksi kembali keabsahan data tersebut dengan menggunakan teknik triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data yang

6 Ibid Hal: 72

memanfaatkan sesuatu yang lain di luar data itu untuk keperluan pengecekan atau pembanding terhadap data itu.

Triangulasi data merupakan usaha untuk meningkatkan derajat kepercayaan data. Apabila penelitian melaksanakan pemeriksaan terhadap keabsahan data secara cermat sesuai dengan teknik yang digunakan, maka hasil upaya penelitiannya benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. Setelah diperoleh data yang sudah disusun secara sistematis dalam rangkuman yang jelas, maka langkah selanjutnya memeriksa keabsahan data yang ada. Hal ini dilakukan dengan kategorisasi data yang ada.

Dari data yang sudah dikategorikan tersebut, kemudian dilakukan pengelolaan data sedemikian rupa yaitu dengan memanipulasi data agar data yang ada mempunyai makna sebagaimana yang tergambar dalam permasalahan, mulai dari menelaah dan mengelompokkan data yang diperoleh baik primer maupun sekunder serta menganalisanya dilihat dari permasalahan dari kebijakan Pemerintah Daerah dalam menyediakan ruang terbuka Hijau di Kota Kediri. Dari hasil yang didapat kemudian penulis mengurut-urutkan sesuai dengan permasalahan yang diteliti. Setelah data yang diperoleh tersebut dikelompokkan, maka penulis memeriksa dan mengoreksi kembali keabsahan data tersebut dengan menggunakan dua dari empat kriteria teknik pemeriksaan yaitu kepercayaan dan kepastian. Hal ini dilakukan sebelum sampai pada kesimpulan.

BAB IV

GAMBARAN UMUM PENELITIAN

4.1 Gambaran Umum Ruang Terbuka Hijau Kota Kediri 4.1.1 Kondisi Ruang Terbuka Hijau Kota Kediri

Polemik keharusan menyediaan RTH oleh pemerintah daerah pada kawasan perkotaan sebenarnya telah lama ada. Undang-Undang Nomor 24 Tahun 1992 tentang Penataan Ruang dan Instruksi Menteri Dalam Negeri Nomor 14 Tahun 1998 tentang Penatan Ruang Terbuka Hijau di Wilayah Perkotaan sebenarnya telah mengatur hal tersebut. Namun pelaksanaannya belum sesuai dengan kondisi yang diinginkan.Pasal 1 Undand-Undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, RTH didefinisikan sebagai area memanjang/jalur dan/atau mengelompok, yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanam. Lebih lanjut pada pasal 29 disebutkan bahwa Ruang terbuka hijau terdiri dari ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka hijau privat, dimana proporsi ruang terbuka hijau kota paling sedikit 30% dari luas wilayah kota, sedangkan proporsi ruang terbuka hijau publik paling sedikit 20% dari luas wilayah kota.

Sedangkan permasalahan di Kota Kediri banyak penyediaan RTH yang menjadi tempat berdagang para pedagang kaki lima selain itu banyak juga masyarakat yang kurang perduli dengan keberadaan Ruang Terbuka Hijau. Padahal ruang terbuka hijau sangatlah penting untuk kelangsungan hidup manusia. Kota Kediri termasuk salah satu kota yang sedang giat untuk melakukan

pembangunan di segala bidang. Termasuk juga pembenahan tata kota, seperti yang tercantum dalam perda Kota Kediri Nomor 1 tahun 2012. Pemerintah daerah dalam peraturan daerah tersebut sendiri telah mencanangkan program tentang tata ruang di wilayah strategis Kota Kediri. Walaupun demikian sampai saat ini penyediaan ruang terbuka Hijau di Kota Kediri belum tercapai secara optimal.

Uraian mengenai masalah RTH yang ada di Kota Kediri pada khususnya, memerlukan penanganan secara struktural melalui berbagai kajian dan kebijakan mengingat RTH merupakan pengendali ekosistem suatu lingkungan khususnya bagi daerah yang sedang berkembang, karena RTH sebagai penyeimbang kualitas lingkungan. Pokok persoalannya adalah apakah pemerintah Kota Kediri melalui perangkat pemerintahannya telah merealisasikan penyediaan ruang terbuka hijau sebesar 30% sesuai dengan yang diamanatkan dalam UUPR, menilik dari perkembangan kota-kota di Indonesia yang notabene terbentuk secara alami, bukan melalui suatu perencanaan yang matang dan menyeluruh. Kalaupun ada beberapa kota dan desa yang direncanakan, semacam city planning dalam perkembangannya tumbuh dan berkembang secara tak terkendali.1

Seperti halnya kasus pengosongan eks-Lokalisasi Semampir yang nampak telah menjadi ruang terbuka hijau. Hal ini dapat dilihat dari peran Walikota Kediri bersama 200 orang yang berasal dari komunitas Earth Hours, komunitas FKH, komunitas 3R, Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Kota Kediri dan warga RW 5 Kelurahan Semampir melakukan penghijauan di area eks-lokalisasi Semampir. Penghijauan ini merupakan langkah awal pembangunan Ruang Terbuka Hijau

1 Tim Evaluasi Hukum. 2007. Analisis dan Evaluasi Hukum Tentang Pengelolaan Kawasan

Perkotaan dan Pedesaan. Jakarta : Badan Pembinaan Hukum Nasional Departemen Hukum dan

(RTH) di kawasan ini. Telah dijadikannya taman di kawasan ini diharapkan dapat membuang persepsi negatif terhadap kawasan ini. Juga nanti setiap orang yang akan berkunjung ke lokasi ini akan berfikir positif tidak lagi berfikiran negatif. Selain itu, kedepan kawasan ini akan dijadikan RTH yang representatif dan sustainable yang akan terlihat indah dari atas jembatan.

Pemerintah Kota Kediri telah memiliki skema yang akan dikerjakan di tahun 2018-2019. Untuk 2017 masih berada pada pra desain yang masuk di PAK. Pra desain yang akan dibuat adalah taman yang ramah anak. Nantinya akan menjadi keramaian. Dari keramaian ini lah yang akan memberikan dampak positif bagi warga sekitar. Perekonomian di kawasan ini pasti akan bergerak. Aksi penghijauan yang diawali dengan apel bersama ini, menanam 670 batang pohon, dengan tujuh jenis pohon yakni, ketapang kencana, tabe puya kuning, tabe puya putih, sepatu dea, trembesi, kigelia dan pule.

4.1.2 Program Pengembangan Kota Hijau

Kota Kediri seiring dengan laju pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan penduduknya tentu memiliki implikasi terhadap keberlangsungan adanya RTH di Kota Kediri. Dalam meningkatkan kebutuhan akan RTH di Kota Kediri saat ini, Pemerintah Kota Kediri telah melakukan berbagi usaha, salah satunya adalah membangun taman taman tematik di berbagai wilayah di Kota Kediri melalui P2KH atau Progam Pengembangan Kota Hijau.

Program Pengembangan Kota Hijau atau lebih disingkat dengan nama P2KH merupakan salah satu program peningkatan penataan kawasan berupa RTH melalui anggaran kewenangan Dirjen Penataan Ruang Kementerian Pekerjaan

Umum RI. Program ini sebagai implemetasi pola penataan ruang sekaligus reward bagi Kabupaten/Kota yang telah menyelesaikan RTRW Kabupaten/Kota sebagai lokasi P2KH. Program ini dilaksanakan melalui mekanisme dekonsentrasi dan tugas pembantuan. Misi kota hijau sebenarnya tidak hanya sekedar “menghijaukan” kota. Lebih dari itu, kota hijau dengan visinya yang lebih luas dan komprehensif, yaitu kota yang ramah lingkungan, memiliki misi antara lain memanfaatkan secara efektif dan efesien sumberdaya air dan energi, mengurangi limbah, menerapkan sistem transportasi terpadu, menjamin kesehatan lingkungan Kegiatan-kegiatan yang dapat dilakukan dalam penataan RTH/Hutan Kota yaitu2: a. Optimalisasi kawasan berfungsi lindung;

b. Meminimalkan dampak pemasan global;

c. Sebagai kawasan pelestarian lingkungan hidup sesuai penataan ruang; d. Sebagai kawasan tempat berkembangnya keanekaragaman hayati;

e. Menjaga dan mengendalikan ekosistem kota yang serasi, selaras dan seimbang dengan lingkungannya;

f. Penataan kawasan hijau agar memiliki nilai estetika yang tinggi (ekowisata dan pendidikan lingkungannya);

g. Mempertahankan kawasan resapan air; h. Sarana rekreasi;

i. Sebagai wahana pendidikan dan budaya; j. Sebagai wahana usaha

2 http://www.kompasiana.com/rizkifitri/opini-rth-ruang-terbuka-hijau-kota-kediri_57ad3dbe1197739e2b0d4942

Program pengembangan Kota Hijau (P2KH) yang telah dirintis ole Kementerian Pekerjaan Umum dan Direktorat Jenderal Penataan Ruang, merupakan salah satu langkah nyata Pemerintah Pusat bersama-sama dengan pemerintah provinsi dan pemerintah kota/kabupaten dalam memenuhi ketetapan UUPR, terutama terkait pemenuhan luasan RTH perkotaan, sekaligus menjawab tantanngan perubahan iklim di Indonesia. P2KH merupakan inovasi program perwujudan RTH perkotaan yang berbasis komunitas.

4.1.3 Kualitas Ruang Terbuka Hijau Kota Kediri

Keberadaan RTH di Kota Kediri masih jauh dari kata layak baik dari segi kualitas maupun kuantitas. Dari segi kualitas misalnya, beberapa RTH di Kota Kediri masih kurang tertata dan terawat dengan baik misalnya taman sekartaji dan sekitarnya, walaupun beberapa RTH seperti taman kota di Kota Kediri dapat dikatakan layak seperti taman ngronggo yang memang baru keberadaanya, namun masih ada beberapa RTH seperti kurang terpelihara keberadaanya. Namun pastinya dinas-dinas terkait sudah melakukan tugas pokok dan fungsinya untuk melakukan penataan dan pemeliharaan RTH tersebut dengan baik. Dari segi kuantitas, RTH di Kota Kediri masih jauh dari kata ideal (IMHO), banyak factor yang mempengaruhinya, dan alasan yang paling klasik adalah alasan anggaran. Sebenanya banyak spot-spot yang dapat difungsikan sebagai RTH/ taman kota yang tersebar di Kota Kediri.

Seharusnya Pemerintah daerah mampu memanfaatkan RTH dengan lebih baik lagi sehingga mempu memberikan manfaat bagi masyarakat. Manfaat dari adanya RTH tidak hanya dari segi lingkungan/ekologi, akan tetapi dapat juga

berdampak pada sosial dan ekonomi, dari segi sosial contohnya, masyarakat memiliki ruang public yang dapat digunakan untuk berinteraksi dengan lingkungan maupun antar masyarakat, dari segi ekonomi sebagai contohnya, apabila pemerintah daerah mampu membangun RTH/Taman kota dengan konsep yang baik, seperti kota besar lainya di Indonesia (Malang, Surabaya, Bandung) maka akan menambah nilai jual bagi pemerintah daerah untuk menjadikanya sebagai icon wisata baru dan kebanggaan bagi masyarakat maupun pemerintah daerah setempat.

Dokumen terkait