G. Kerangka Konsep
1. Teknik Pemilihan Informan
Dalam penelitian ini, sumber atau pelaku fenomena diposisikan sebagai
“informan”. Informan merupakan individu-individu yang dapat memberikan informasi yang sesuai sebagai sumber data dalam penelitian.
Dalam penelitian etnografi, peneliti menggunakan pendekatan kepada objek penelitian secara umum untuk dapat melakukan observasi. Seiring berjalannya penelitian, objek penelitian akan dikerucutkan sesuai dengan kebutuhan penelitian.43 Untuk memilih informan penelitian, peneliti berbaur dengan objek penelitian, yaitu pembaca K-POP slash fanfiction di Indonesia.
Setelah berbaur dan melakukan observasi partisipan, peneliti memilih beberapa informan yang dirasa dapat memberikan informasi yang dibutuhkan dalam penelitian ini.
Pemilihan informan dalam penelitian ini akan menggunakan salah satu teknik dari nonprobability sampling, yaitu purposive sampling. Purposive sampling (teknik purposif) adalah teknik pengambilan sampel sumber data dengan pertimbangan tertentu.44 Peneliti membuat kriteria-kriteria tertentu yang sesuai dengan tujuan penelitian. Kriteria-kriteria inilah yang kemudian dijadikan pedoman oleh peneliti untuk memilih informan. Dengan demikian data yang sesuai dengan tujuan penelitian dapat diperoleh.
Terdapat tiga situasi yang dikemukakan oleh Neuman mengenai alasan seorang peneliti menggunakan teknik purposive sampling. Pertama adalah karena penelitian yang akan dilakukan adalah penelitian dengan kasus khusus yang informatif. Kedua adalah karena penelitian mencari objek yang sulit untuk dijangkau, yaitu populasi yang spesial. Ketiga adalah karena peneliti
43 David M. Fetterman. 2010. Ethnography: Step-by-Step. Third Edition. California: SAGE Publications, Inc. Hlmn 35.
44 Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D. Bandung: Alfabeta. Hlmn 218-219.
30
ingin mengidentifikasi kasus tertentu yang membutuhkan investigasi secara mendalam.45
Ketiga situasi tersebut sesuai dengan penelitian ini, sehingga penelitian ini dapat menggunakan teknik purposive sampling dalam memilih informan.
Kriteria pemilihan informan ditentukan sesuai dengan tujuan penelitian.
Pemilihan informan dalam penelitian ini akan didasarkan pada kriteria-kriteria sebagai berikut:
a. Informan telah menjadi pembaca aktif slash fanfiction selama lebih dari satu tahun.
b. Informan memiliki keikutsertaan dan aktif di komunitas yang menyediakan slash fanfiction. Kriteria ini diperlukan untuk melihat interaksi informan dengan teks yang dibacanya.
c. Informan memiliki kedekatan dengan peneliti sehingga bersedia memberikan informasi dan mau membuka akses kepada peneliti terhadap akun-akun yang mereka miliki di komunitas slash fanfiction.
d. Informan berdomisili di wilayah Indonesia, terutama di Pulau Jawa.
Kriteria ini diperlukan agar informan mudah dijangkau oleh peneliti, sehingga mempermudah proses observasi yang dilakukan.
e. Informan berusia di atas 17 tahun. Mulai usia tersebut seseorang sudah dapat dikatakan dewasa sehingga perkataan dan pemikirannya dapat dipertanggungjawabkan.
Teknik purposive sampling dipilih untuk penelitian yang lebih mengutamakan kedalaman data daripada tujuan representatif yang dapat digeneralisasikan.46 Penelitian ini akan meneliti informan secara mendalam sesuai dengan pertanyaan penelitian. Dengan demikian teknik ini dirasa sesuai dengan penelitian.
45 Lawrence W. Neuman. 2000. Social Research Methods: Qualitative and Quantitative Approaches. Boston: Allyn and Bacon. Hlmn 195.
46 Rachmat Kriyantono. 2007. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana (Prenada Media Group). Hlmn 155.
31 2. Teknik Pengumpulan Data
Untuk menunjang keberhasilan penelitian ini, terdapat dua teknik pengumpulan data yang dilakukan, yaitu:
a. Wawancara mendalam
Wawancara adalah komunikasi yang memiliki maksud tertentu.
Pewawancara selalu menjadi bagian dari proses wawancara sekaligus menjadi pengamat dalam jalannya proses wawancara, sehingga wawancara berhubungan dengan observasi partisipan.47 Peneliti dapat menemukan ide, pikiran, opini, sikap, dan motivasi informan melalui wawancara.
Penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam (in depth interview) karena sifatnya yang fleksibel dan memiliki validitas data yang lebih akurat. Wawancara mendalam adalah suatu cara mengumpulkan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan agar mendapatkan data yang lengkap dan mendalam.48 Teknik ini memungkinkan peneliti untuk membaca perilaku non-verbal secara lebih detail dan memperoleh kedalaman riset. Dalam metode ini diperlukan iklim wawancara yang kondusif, yaitu dengan membangun keakraban antara peneliti dengan informan.
Wawancara akan dilakukan berulang-ulang kali secara intensif namun tetap memperhatikan kenyamanan informan dalam memberikan informasi.
Sifat wawancara akan dibuat sedemikian rupa hingga terkesan santai seperti mengobrol. Dengan demikian informan akan bersedia memberikan jawaban-jawaban secara lengkap, mendalam, dan bila perlu tidak ada yang disembunyikan.
Pertanyaan dalam wawancara melingkupi pertanyaan mengenai opini informan terhadap slash fanfiction, riwayat membaca slash fanfiction, latar belakang informan yang dapat mempengaruhi proses resepsi informan terhadap slash fanfiction, serta pengaruh membaca slash fanfiction dalam kehidupan informan.
47 Ina Bertrand and Peter Hughes. 2005. Media Research Methods. New York: Palgrave Macmilan.
Hlmn 74.
48 Kriyantono. Op.Cit. Hlmn 98.
32 b. Observasi partisipan
Observasi dalam konteks penelitian tidak hanya merupakan aktivitas melihat. Observasi adalah pengamatan yang memiliki maksud tertentu dan mencatat hasilnya.49 Observasi bisa diartikan sebagai kegiatan mengamati secara langsung suatu objek untuk melihat dengan dekat kegiatan yang dilakukan objek tersebut. Observasi membantu peneliti memahami konteks yang menjelaskan apa yang dilakukan oleh seseorang.
Penelitian ini akan menggunakan metode observasi partisipan. Metode ini memungkinkan peneliti mengamati kehidupan individu atau kelompok dalam situasi riil, dimana terdapat setting yang riil tanpa dikontrol atau diatur secara sistematis. Metode ini memungkinkan peneliti terjun langsung menjadi bagian yang diriset. Pada metode ini peneliti berperan sebagai partisipan sekaligus sebagai peneliti.50
Dalam penelitian ini observasi dilakukan untuk mengamati perilaku informan dalam membaca dan meresepsi slash fanfiction. Peneliti akan terjun langsung menjadi bagian dari fan yang membaca slash fanfiction untuk memahami konteks pembaca slash fanfiction. Peneliti juga akan berinteraksi langsung dengan informan karena dalam penelitian ini metode observasi partisipan juga dilengkapi dengan wawancara mendalam yang membutuhkan keakraban antara peneliti dan informan.
Observasi pada penelitian analisis resepsi adalah untuk melihat interaksi antara informan dengan teks yang dibaca. Dalam penelitian ini hal-hal yang akan diamati antara lain reaksi informan saat dan setelah membaca slash fanfiction, termasuk melihat apakah membaca slash fanfiction membawa efek pada kehidupan nyata informan. Observasi juga akan dilakukan secara online, yaitu melihat interaksi informan dengan slash fanfiction yang dibaca.
Slash fanfiction apa saja yang dibaca, komentar apa saja yang disampaikan tentang slash fanfiction tersebut, dan apakah informan juga menulis slash fanfiction adalah hal-hal yang akan dilihat dalam observasi ini.
49 Ibid. Hlmn 82.
50 Ibid. Hlmn 108.
33 3. Teknik Analisis Data
Geertz (1973) menyebutkan bahwa proses analisis data merupakan tahap interpretasi peneliti terhadap fenomena yang ditelitinya. Dia menuliskan bahwa dalam menganalisis data, “we begin with our own interpretations of what our informants are up to, or think they are up to, and then systematize‖.51 Atau jika merujuk pada Lull, dia lebih membahasakan proses analisis data sebagai proses menarik kesimpulan (draw inference) dari fenomena yang sedang diteliti.
Dalam penelitian etnografi, data disajikan untuk memberikan gambaran tentang kehidupan objek penelitian sedetail mungkin. Untuk menyajikan data, para peneliti etnografi mengelompokkan data-data yang ditemukannya ke dalam beberapa bagian. Data yang ditemukan dipaparkan sesuai dengan bagian-bagian yang telah dibuat oleh peneliti.52
Penyajian data dalam penelitian ini dikelompokkan ke dalam beberapa bagian, yaitu eksposur, penerimaan, negosiasi antara membaca dan menulis, keterbukaan, tingkat kepercayaan, serta internalisasi makna. Data yang diperoleh dari informan dikelompokkan untuk melihat perbandingan antar audiens yang telah diteliti.
Pada penelitian ini, data yang terkumpul tersebut akan dianalisis dengan menggunakan analisis resepsi, dimana dalam penelitian ini audiens dilihat sebagai komunitas interpretatif yang akan selalu memproduksi makna dan pemaknaan pesan yang disampaikan media tidak hanya sebagai individu yang pasif yang menerima apa saja yang diproduksi oleh media.53 Penelitian resepsi memiliki fokus pada makna pesan dan hubungannya dengan audiens yang mengintepretasikan pesan tersebut dengan cara yang berbeda-beda.
Penelitian ini akan menggunakan perspektif sosio-kultural. Hal ini dikarenakan perilaku dari audiens tidak hanya terbentuk karena paksaan atau
51 Jensen dan Jankowski. Op.Cit. Hlmn 156.
52 Gerald D. Berreman. 2004. “Ethnography: Method and Product” Dalam Vinay Kumar Srivastava (ed.). 2004. Methodology and Fieldwork. New Delhi: Oxford University Press. Hlmn 187.
53 Op cit. Hlmn 19.
34
kebiasaan namun juga dipengaruhi oleh keadaan sosial dan struktural di sekitarnya.
Analisis resepsi melihat audiens sebagai audiens aktif yang memaknai pesan. Meneliti dengan metode analisis resepsi berarti meneliti interaksi antara teks dan pembaca. Analisis resepsi merupakan komparasi analisis tekstual wacana media dan wacana audiens yang hasil interpretasinya merujuk pada konteks, seperti latar belakang kultural dan konteks atas ini media lain.54 Dalam penelitian ini metode analisis resepsi digunakan untuk membandingkan analisis tekstual yang disampaikan dalam slash fanfiction dan wacana yang dimiliki oleh pembaca slash fanfiction.
Penelitian ini akan mengulas proses resepsi audiens terhadap slash fanfiction, faktor yang melatarbelakangi resepsi tersebut, dan respon/tindakan yang mengikuti resepsi tersebut. Analisisnya akan dilakukan berdasar data yang digali melalui wawancara dan observasi. Proses analisis yang dilakukan akan didasarkan pada sundut pandang pembaca atau informan. Kalimat atau ungkapan langsung dari informan selama proses wawancara akan dikutip untuk memperkuat sudut pandang informan dan meminimalisir subjektivitas peneliti.
Analisis data dilakukan sesuai dengan pola dari teori analisis resepsi yang dikemukakan oleh Stuart Hall. Data yang telah dikelompokkan akan dibahas dari tiga hal, yaitu framework of references, relations of production, dan technical infrastructure. Hasil data dari penelitian etnografi dianalisis dengan teori resepsi Stuart Hall sehingga akan telihat bagaimana resepsi audiens terhadap teks homoerotika dalam slash fanfiction.
54 Jensen Jankowski. Op.Cit. Hal 189.