• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN

G. Metode Penelitian

6. Teknik Pemilihan Informan

Dalam memilih sampel lebih tepat dilakukan secara sengaja (purposive sampling). Memilih siapa yang akan diambil sebagai anggota sampel, kemudian akan dipertimbangkan untuk pengumpulan data yang menurut peneliti sesuai dengan tujuan penelitian. Pemilihan informan sebagai sumber data dalam penelitian ini sebagai berikut:

20

Tabel 1.1 Rancangan Informan Subjek dan Informan Penelitian

Sumber: Olahan Data Pribadi 7. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data kedalam kategori, menjabarkan kedalam unit-unit, menyusun kedalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat

Total Informan 5 orang

21

kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri dan orang lain (Sugiyono, 2014: 244).

Miles dan Hubermen sebagaimana yang dikutip oleh Lexy j Moelong (2003) ada berbagai cara untuk menganalisis data, tetapi secara garis besarnya dengan langkah-langkah sebagai berikut:

a) Reduksi data, yaitu suatu proses pemilihan, pemusatan perhatian pada penyederhanaan, pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan tertulis dilapangan. Selama pengumpulan data berlangsung, terjadilah tahapan reduksi selanjutnya (membuat ringkasan, mengkode, menelusur tema, membuat gugus-gugus, membuat partisi, membuat memo).

b) Penyajian data, Setelah data direduksi, maka kegiatan menyajikan data akan mempermudah peneliti untuk memahami apa yang terjadi selama penelitian berlangsung. Penyajian data yaitu proses pengumpulan informasi yang disusun berdasarkan pengelompokan data yang diperlukan. Paling sering digunakan untuk menyajikan data dalam bentuk naratif atau statistik.

Untuk menyajikan suatu data, dapat juga menggunakan seperti table, bagan, grafik, matriks, dan lain sebaginya.

c) Penyimpulan data, pengambilan kesimpulan yang menjurus pada jawaban dari pertanyaan penelitian yang diajukan dan mengungkap sebuah pertanyaan dari temuan penelitian tersebut, sehingga memudahkan untuk menarik kesimpulan.

22

8. Teknik Keabsahan Data

Teknik Keabsahan Data Dalam penelitian kali ini maka peneliti menggunakan teknik triangulasi. Tringulasi sumber informan untuk menguji kredibilitas data yang telah diperoleh melalui beberapa sumber, membandingkan dari hasil pengamatan yang telah dilakukan. (Sugiyono, 2007) Hal ini peneliti perlu menggunakan triangulasi karena yang dicari adalah kata-kata yang diperoleh dari beberapa sumber yang kredibilitas dan data diperika oleh kelengkapan data.

9. Pedoman Penulisan Skripsi

Berdasarkan Keputusan Rektor UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Nomor 507 tahun 2017 tentang pedoman penulisan karya ilmiah (skripsi, tesis, dan disertasi) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Peneliti menggunakan teknik penulisan berdasarkan panduan buku “Pedoman Penulisan Karya Ilmiah”

H. Sistematika Penulisan

Penulisan penelitian ini disajikan dalam 6 (enam) BAB dengan gaya penulisan menggunakan Chicago 1: Bidang Ilmu Sosial (author-datesystem) sistematika sebagai berikut:

BAB I PENDAHULUAN

Bab ini terdiri dari latar belakang, batasan dan perumusan masalah, tujuan dan manfaat, metode penelitian, tinjauan kajian terdahulu, dan sistematika penulisan.

BAB II KAJIAN PUSTAKA

23

Bab ini berisi tentang landasan teori-teori yang digunakan yang berkaitan dengan penelitian, yaitu teori rehabilitasi sosial

BAB III GAMBARAN UMUM LEMBAGA

Bab ini berisi tentang gambaran secara umum lembaga penelitian yang diteliti meliputi profil, visi misi, struktur kepengurusan, dan lain sebagainya.

BAB IV DATA DAN TEMUAN PENELITIAN Bab ini berisi tentang uraian penyajian data dan temuan penelitian yang didapat peneliti selama melakukan penelitian.

BAB V PEMBAHASAN

Pada bab ini berisi tentang uraian terkait analisa hasil penelitian yang ditemukan, hasil data, maupun temuan peneliti di lapangan.

BAB VI PENUTUP

Bab ini terdiri dari kesimpulan, implikasi, dan saran hasil penelitian dari tiap-tiap bab sebelumnya.

24

BAB II

LANDASAN TEORI A. Implementasi

1. Pengertian Implementasi

Implementasi merupakan tindakan pelaksanaan dari suatu rencana yang telah disusun dengan matang. Arti implementasi menurut Mazmanian dan Sabatier adalah pemahaman yang akan terjadi setelah menetapkan suatu program yang menjadi fokus perhatian pemerintah yang merancang implementasi kebijakan. Dikatakan juga bahwa implementasi merupakan kejadian yang terjadi setelah dibuat dan disahkan pedoman kebijakan negara (Solichin Abdul Wahab 2008, 65). Pengertian ini memfokuskan impelementasi pada kebijakan pemerintah.

Implementasi ini tidak hanya aktivitas, tetapi suatu kegiatan yang direncanakan dan dilaksanakan dengan serius yang mengacu pada norma-norma tertentu dalam mencapai tujuan kegiatan. Oleh karena itu, pelaksanaan tidak berdiri sendiri tetapi dipengaruhi oleh objek berikutnya. Van Meter dan Van Horn (Agustino 2006, 124) mendefinisikan implementasi sebagai tindakan-tindakan yang dilakukan baik oleh individu-individu atau pejabat-pejabat atau kelompok-kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan-tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijaksanaan.

Tindakan-tindakan yang dimaksud mencakup usaha untuk mengubah keputusan menjadi sebuah tindakan

25

operasional dalam rentang waktu tertentu yang telah ditentukan maupun dalam rangka melanjutkan usaha-usaha untuk mencapai perubahan besar dan kecil yang ditetapkan oleh program.

2. Tujuan Implementasi

Tujuan Implementasi merupakan aktivitas yang dilakukan secara sistematis dan terikat oleh mekanisme untuk mencapai tujuan tertentu.

Adapun beberapa tujuan implementasi sebaagi berikut (Pengertian Implementasi, n.d.):

1. Untuk melaksanakan rencana yang sudah disusun, baik oleh individu maupun kelompok.

2. Untuk menguji atau mendokumentasikan suatu prosedur dalam penerapan rencana atau kebijakan.

3. Untuk mengetahui kemampuan masyarakat dalam menerapkan sesuatu kebijakan atau rencana sesuai dengan yang diharapkan.

4. Untuk mengetahui tingkat keberhasilan suatu kebijakan atau rencana yang telah dirancang demi perbaikan atau peningkatan mutu.

3. Variabel Implementasi

Dalam pelaksanaan suatu kegiatan diperlukan beberapa variabel untuk mempengaruhi keberhasilan proses implementasi. Menurut Van Meter dan Van Horn ada 6 variabel yang bisa memengaruhi kinerja implementasi, yaitu sebagai berikut:

26

1. Standar kebijakan serta sasaran kebijakan, kedua sub variabel ini harus jelas serta harus terukur agar dapat terwujudnya tujuan. Apabila standar implementasi dan sasaran kebijakan implementasi tidak berjalanan sesuai prosedur, maka akan menimbulkan kesalahpahaman.

2. Sumber daya, implementasi tidak dapat berjalan dengan benar dan lancar tanpa adanya sumberdaya, baik SDA, SDM maupun sumber daya lainnya.

3. Hubungan antar organisasi, implementasi dapat berjalan lancar apabila ada komunikasi dan koordinasi yang baik dari perencana implementasi.

4. Agen pelaksana implementasi harus memiliki karakteristik yang dapat mencakup suatu stuktur birokrasi dan norma serta pola hubungan yang terjadi dalam birokrasi.

5. Kondisi politik, sosial, dan ekonomi. Ketiga sub variabel ini juga dapat mempengruhi implementasi suatu program yang dapat mempengaruhi SDA, SDM, dan sumber daya lainnya.

6. Disposisi atau tanggapan implementor kebijakan yang dapat mempengaruhi pelaksanaan implementasi kebijakan. Termasuk pemahaman tentang isi dan tujuan kebijakan, sikap atas kebijakan tersebut serta intensitas sikap tersebut. (Herabudin 2016, 135)

Selain itu ada juga menurut Edwards III dalam (Herabudin 2016, 137) merumuskan empat faktor yang merupakan syarat utama keberhasilan proses implementasi yakni:

27

1. Komunikasi, keberhasilan kebijakan mensyaratkan agar implementor mengetahui yang harus dilakukan, mengetahui sasaran kebijakan (target group) sehingga akan mengurangi distorsi implementasi.

2. Sumber daya, walaupun isi kebijakan sudah dikomunikasikan secara jelas dan konsistensi, tetapi apabila implementor kekurangan sumber daya untuk melaksanakan, implementasi tidak akan berjalan efektif.

Sumber daya tersebut dapat berwujud sumber daya manusia sebagai implementor dan sumber daya finansial.

3. Disposisi, adalah watak dan karakteristik atau sikap yang dimiliki oleh implementor seperti komitmen, kejujuran, sifat demokratis.

4. Struktur birokrasi yang bertugas mengimplementasikan kebijakan memiliki pengaruh yang signifikan terhadap implementasi kebijakan salah satu dari aspek struktur yang penting dari setiap organisasi adalah adanya prosedur operasi yang standar (standard operating procedures) atau SOP.

Implementasi dapat disimpulkan keberhasilan pelaksanaan sebuah program bergantung pada proses yang berlangsung dan yang telah direncanakan. Selama masa proses pelaksaannya berjalan dengan baik maka akan terwujud keberhasilan program yang sesuai dengan tujuan dari program tersebut. Namun ketika sebuah pelaksaan program tidak sesuai dengan tahapan yang di tentukan

28

karena terkendala sesuatu yang dapat menghambat kinerja program maka program dapat dikatakan tidak berhasil.

Maka dari itu, untuk mencapai keberhasilan dari sebuah proses implementasi, pelaksana yang dalam hal ini dapat berupa pemerintah, organisasi atau kelompok maupun komunitas perlu memerhatikan hal-hal yang dapat memengaruhi berhasil atau tidaknya proses impelementasi tersebut seperti faktor pendukung dan penghambat, pengaruh unsur-unsur satu sama lain serta teknis dalam pelaksaannya.

B. Program

1. Pengertian Program

Secara umum program seringkali dikaitkan dengan sebuah perencanaan, persiapan atau rancangan. Dalam hal ini program merupakan bagian dari perencanaan dan sering pula diartikan sebagai kerangka dasar dari pelaksanaan suatu kegiatan. Westra mengatakan bahwa program adalah rumusan yang memuat gambaran pekerjaan yang akan dilaksanakan beserta petunjuk cara-cara pelaksanaannya (Westra 1989, 236). Jadi suatu program baru dapat dilaksanakan apabila telah ditetapkan suatu rumusan yang dirancang secara sistematis dan detail serta memiliki cara-cara dalam melaksanakan program tersebut.

Siagian menyebutkan bahwa “penyusunan program adalah penjabaran suatu rencana yang telah ditetapkan sedemikian rupa sehingga program kerja itu memiliki ciri-ciri operasional tertentu” (Westra 1989, 124). Lebih lanjut

29

lagi ia menjelaskan bahwa suatu program dapat dikatakan baik jika program tersebut memiliki ciri-ciri sebagai berikut:

1) Tujuan yang dirumuskan secara jelas.

2) Penentuan peralatan yang terbaik untuk mencapai tujuan.

3) Suatu kerangka kebijaksanaan yang konsisten atau proyek yang saling berkaitan untuk mencapai tujuan program dengan seefektif mungkin.

4) Pengukuran ongkos-ongkos yang diperkirakan dan keuntungan-keuntungan yang diharapkan akan dihasilkan program tersebut.

5) Hubungan dengan kegiatan lain dalam usaha pembangunan dan program pembangunan lainnya, karena suatu program tidak dapat berdiri sendiri.

6) Berbagai upaya dibidang menajemen, termasuk penyediaan tenaga, pembiayaan, dan lain-lain untuk melaksanakan program tersebut. (Bintoro 1987, 181).

Ada pendapat lain dari seorang ahli, yaitu Jones ia berpendapat bahwa “program adalah unsur pertama yang harus ada demi terciptanya suatu kegiatan”. Jones pun menjelaskan bahwa di dalam program terdapat beberapa aspek, yaitu:

1) Tujuan kegiatan yang akan dicapai.

2) Kegiatan yang diambil dalam mencapai tujuan.

3) Aturan yang harus dipegang dan prosedur yang harus dilalui.

4) Perkiraan anggaran yang dibutuhkan.

5) Strategi pelaksanaan.

30

Program dapat dikatakan sebagai ujung tombak dari sebuah kegiatan yang akan dilaksanakan. Melalui program maka segala bentuk rencana atau rancangan akan lebih terorganisir dan lebih mudah untuk diimplementasikan.

Dengan demikian peneliti menyimpulkan program merupakan sebuah rencana yang dirancang dengan memerhatikan aspek-aspek yang menunjang sebuah kegiatan. Sebelum program dilaksanakan maka kita perlu menentukan masalah sosial yang ingin diatasi dan dapat dilakukan dengan melakukan intervensi. Dalam hal ini, hasil intervensi dapat digunakan untuk menyimpulkan bagaimana dan mengapa masalah itu terjadi dan apa yang akan menjadi solusi terbaik, jadi dalam menentukan program harus dirumuskan secara matang dan yang paling penting yaitu harus sesuai dengan kebutuhan agar dapat tercapai tujuan yang diinginkan melalui partisipasi dari pelaksanaan program tersebut.

C. Implementasi Program

Penerapan suatu program yang berjalan dengan baik ditentukan oleh keberhasilan proses implementasi atau pelaksanaan programnya. Implementasi program merupakan langkah-langkah pelaksanaan kegiatan dalam upaya mencapai tujuan dari program itu sendiri, Jones (Rohman 2009, 101) menyebutkan implementasi program merupakan suatu komponen dalam suatu kebijakan. Juga merupakan upaya yang berwenang untuk mencapai tujuan. Menurut Charles O. Jones (Suryana 2009, 28) ada tiga pilar aktivitas dalam mengoperasikan program yaitu:

31

1. Pengorganisasian

Struktur organisasi yang jelas diperlukan dalam mengoperasikan program sehingga tenaga pelaksana dapat terbentuk dari sumber daya manusia yang kompeten dan berkualitas.

2. Interpretasi

Para pelaksana harus mampu menjalankan program sesuai dengan petunjuk teknis dan petunjuk pelaksana agar tujuan yang diharapkan dapat tercapai.

3. Penerapan atau Aplikasi

Perlu adanya pembuatan prosedur kerja yang jelas agar program kerja dapat berjalan sesuai dengan jadwal kegiatan sehingga tidak berbenturan dengan program lainnya.

Implementasi program merupakan suatu hal yang kompleks, karena banyak faktor yang saling berpengaruh dalam proses pelaksanaan suatu program agar berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai. Dalam tahap implementasi program menurut P.Warwick dalam bukunya Syukur Abdullah, terdapat dua faktor yang memengaruhi keberhasilan suatu program yaitu faktor pendorong (Faciliating conditions), dan faktor penghambat (Impending conditions) (Abdullah 1988, 17).

Lebih lanjut Syukur menjelaskan mengenai pengertian dan unsur-unsur pokok dalam proses implementasi sebagai berikut:

1. Proses implementasi program ialah rangkaian kegiatan tindak lanjut yang terdiri atas pengambilan keputusan, langkah-langkah yang strategis maupun operasional yang ditempuh guna mewujudkan suatu program atau

32

kebijaksanaan menjadi kenyataan, guna mencapai sasaran yang ditetapkan semula.

2. Proses implementasi dalam kenyataan yang sesungguhnya dapat berhasil, kurang berhasil ataupun gagal sama sekali ditinjau dari hasil yang dicapai “outcomes” serta unsur yang pengaruhnya dapat bersifat mendukung atau menghambat sasaran program.

3. Dalam proses implementasi sekurang-kurangnya terdapat empat unsur yang penting dan mutlak yaitu:

a. Implementasi program atau kebijaksanaan tidak mungkin dilaksanakan dalam ruang hampa. Oleh karena itu faktor lingkungan (fisik, sosial, budaya dan politik) akan memengaruhi proses implementasi program pada umumnya.

b. Target grup yaitu kelompok yang menjadi sasaran dan diharapkan akan menerima manfaat program tersebut.

c. Adanya program yang akan dilaksanakan

d. Unsur pelaksanaan atau implementer, baik organisasi atau perorangan yang bertanggungjawab dalam pengelolaan, pelaksanaan dan pengawasan dalam pelaksanaan proses implementasi program (Syukur 1988, 398).

Kesimpulannya implementasi program mempunyai unsur-unsur penunjang dalam proses pelaksanaan kegiatan.

Dalam hal ini banyak hal yang bersifat teknis dan pelaksana harus memahami langkah serta konsep dalam pelaksanaan program sebagai upaya pencapaian target dengan tujuan awal yang diinginkan.

33

D. Kesejahteraan Keluarga 1. Pengertian Kesejahteraan

Menurut Purwana (2014) pengertian kesejahteraan menurut kamus bahasa Indonesia berasal dari kata sejahtera yang mempunyai makna aman, sentosa, makmur, dan selamat (terlepas dari segala macam gangguan, kesukaran, dan sebagainya). Kata sejahtera mengandung pengertian bahasa sansekerta “catera” yang berarti payung. Catera dalam konteks kesejahteraan berarti orang yang sejahtera, yakni orang yang dalam hidupnya bebas dari kemiskinan, kebodohan, ketakutan, atau kekhawatiran sehingga hidup aman dan tentram, baik lahir maupun batin (Astuti 2017).

Kesejahteraan dapat di definisikan yaitu tolak ukur yang digunakan untuk mengukur kualitas hidup seseorang yang diukur melalui kepuasan dan kebahagiaan. Keadaan sejahtera bersifat relatif, berbeda pada setiap individu atau keluarga yang ditentukan oleh pedoman hidup masing-masing demi untuk hidup yang sejahtera.

Di Indonesia, konsep kesejahteraan merujuk pada konsep pembangunan kesejahteraan sosial, yakni sebuah program yang terlaksana secara melembaga dan terencana untuk meningkatkan standar dan taraf hidup manusia (Suharto 2005). Dalam konteks pembangunan nasional, maka pembangunan kesejahteraan dapat di definisikan dapat dilakukan oleh pemerintah, civil society dan dunia usaha dalam mengatasi masalah sosial dan memenuhi kebutuhan hidup manusia melalui pendekatan pekerja sosial. Dalam penjelasan yang ada diatas, maka dapat dihubungkan dengan program Jakpreneur yang dilakukan

34

oleh Suku Dinas Sosial untuk memenuhi kebutuhan hidup sehingga taraf hidup penerima manfaat meningkat melalui pendekatan seorang pendampingan.

2. Pengertian Keluarga

Keluarga merupakan pranata sosial yang sangat penting bagi kehidupan sosial di negara manapun. Keluarga dalam hal ini merupakan wadah mulai sekak dini masyarakat dikondisikan dan dipersiapkan untuk kelak dapat melakukan peranan-peranannya pada masa akan datang.

Dalam konteks Indonesia, keluarga menjadi basis terpenting dalam perkembangan kehidupan manusia.

Keluarga merupakan lingkungan hidup primer dan dasar tempat terbentuknya kepribadian yang dapat mengalami banyak warna kehidupan manusia. Perlu diingat bahwa keluarga merupakan suatu sistem yang yang terdiri atas elemen-elemen yang saling terkait antara satu dengan lainnya dan memiliki hubungan yang kuat. Oleh karena itu, untuk mewujudkan suatu fungsi tertentu tidak begitu saja bisa tercapai dengan alami. Hal itu bisa terwujud melainkan dengan adanya kekuatan keluarga seperti nilai-nilai, norma dan tingkah laku serta faktor-faktor lain yang ada dimasyarakat. Dengan demikian keluarga dapat dinilai sebagai sub sistem dalam masyarakat (unit terkecil dalam masyarakat) yang saling berinteraksi dengan sub sistem lainnya yang berada di dalam masyarakat, seperti system agama, ekonomi, politik, dan pendidikan untuk mempertahankan fungsinya dalam memelihara keseimbangan sosial dalam masyarakat (Sjafari 2014)

35

3. Konsep Kesejahteraan Keluarga

Untuk mencapai kesejahteraan sebuah keluarga harus berusaha terus menerus, karena tuntutan hidup juga terus berkembang dan meningkat (Dra. Fitriana, 2018).

Keluarga sejahtera adalah keluarga yang dibentuk berdasarkan atas perkawinan yang sah, lalu mampu memenuhi kebutuhan hidup spiritual dan materiil yang layak, bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, memiliki hubungan yang serasi, memiliki satu tujuan dan seimbang antar anggota dan antar keluarga dengan masyarakat dan lingkungan.

Lalu menurut Anonymous (2003) kesejahteraan keluarga merupakan upaya keluarga dalam mendapatkan terpenuhinya kebutuhan fisik, sosial, spiritual dan psikologi (Sjafari 2014). Kesejahteraan keluarga dipengaruhi oleh faktor sosial ekonomi, jumlah anggota keluarga, pendapatan keluarga, dan posisi di masyarakat. Tingkat kesejahteraan keluarga dapat diukur dengan beberapa indikator, beberapa indikator operasional telah dikembangkan untuk menggambarkan tingkat pemenuhan kebutuhan dasar, kebutuhan sosial psikologis dan kebutuhan pengembangan.

Sedangkan, Kesejahteraan keluarga menurut Departemen Sosial adalah suatu kondisi yang dinamis bagi keluarga untuk memenuhi kebutuhan fisik, spiritual, materil dan sosial yang memungkinkan keluarga untuk hidup secara wajar sesuai dengan lingkungannya, memungkinkan anak tumbuh dan berkembang, serta memperoleh perlindungan yang diperlukan untuk membentuk mentalitas

36

dan kepribadian yang stabil yang menjadi sumber daya manusia yang berkualitas tinggi (Departemen Sosial RI, 1995).

Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa keluarga sejahtera merupakan dimana kondisi terpenuhinya kebutuhan primer dan kebutuhan sekunder dalam kehidupan suatu keluarga dalam masyarakat. Kesejahteraan keluarga adalah suatu upaya untuk membantu keluarga dalam memenuhi kebutuhan dasar, jasmani, rohani dan sosial yang dapat dikatakan sebagai indikator kesejahteraan keluarga dan agar bisa mencapai kesejahteraan.

Undang-Undang Nomor 52 Tahun 2009, terhadap perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga Pasal 1 ayat 11 mendefinisikan kesejahteraan keluarga adalah: “kondisi keluarga yang memiliki keuletan dan ketangguhan serta mengandung kemampuan fisik dan materil guna hidup mandiri dan mengembangkan diri dan keluarganya untuk hidup harmonis dalam meningkatkan kesejahteraan kebahagiaan lahir dan batin”. Indikator keluarga sejahtera dan tahapan keluarga sejahtera berdasarkan dari BKKBN (2016) adalah sebagai berikut (Telaumbanua 2018):

1. Keluarga Prasejahtera yaitu keluarga yang tidak memenuhi salah satu dari 6 (enam) Indikator Keluarga Sejahtera 1 (KS 1) atau indikator “kebutuhan dasar keluarga” (basic needs) minimal seperti kebutuhan akan pangan, sandang, papan, kesehatan dan pendidikan.

37

2. Keluarga Sejahtera 1 (KS 1) belum bisa memenuhi keseluruhan indikator KS II dan secara minimal sudah memenuhi indikator sebagai berikut:

a. Pada umumnya anggota keluarga makan dua kali sehari atau lebih.

b. Anggota memiliki pakaian yang berbeda dirumah, bekerja, sekolah, dan berpergian.

c. Rumah yang ditempatkan keluarga mempunyai atap, lantai, dinding yang baik.

d. Bila ada anggota keluarga yang sakit dibawa sarana kesehatan.

e. Bila pasangan usia subur ingin ber KB pergi ke sarana pelayanan kontrasepsi.

f. Semua anak umur 7-15 tahun dalam keluarga bersekolah.

3. Keluarga Sejahtera II

a. Pada umumnya anggota keluarga melaksanakan ibadah sesuai dengan agama dan kepercayaannya.

b. Paling kurang sekali seminggu seluruh anggota keluarga makan daging atau ikan atau telur.

c. Seluruh anggota keluarga memperoleh paling kurang satu stel pakaian dalam setahun.

d. Luas lantai rumah paling kurang 8 m2 persegi untuk tiap penghuni satu rumah.

e. Tiga bulan terakhir keluarga dalam keadaan sehat sehingga dapat melaksanakan tugas dan fungsi masing-masing.

f. Ada seseorang atau lebih anggota keluarga yang bekerja untuk memperoleh penghasilan.

38

g. Seluruh anggota keluarga umur 10-60 tahun bisa baca tulis latin.

h. Pasangan usia subur dengan anak dua atau lebih menggunakan alat atau obat kontrasepsi.

4. Keluarga Sejahtera III

a. Keluarga berupaya untuk meningkatkan pengetahuan agama.

b. Sebagian penghasilan keluarga di tabung dalam bentuk uang maupun barang.

c. Kebiasaan keluarga makan bersama paling kurang seminggu sekali di manfaatkan untuk berkomunikasi.

d. Keluarga sering ikut dalam kegiatan masyarakat di lingkungan tempat tinggal.

e. Keluarga memperoleh informasi dari surat kabar, majalah, radio, dan TV

5. Keluarga Sejahtera III Plus

a. Keluarga secara teratur dengan sukarela memberikan sumbangan materiil untuk kegiatan sosial.

b. Ada anggota keluarga yang aktif sebagai pengurus perkumpulan sosial, yayasan atau institusi masyarakat.

39

E. Kerangka Berpikir

Bagan 2.1. Kerangka Berpikir

Seperti masa saat pandemik covid-19 ini banyak sekali pengangguran terjadi baik di perusahaan-perusahaan besar.

Pengangguran ini terjadi jika seseorang yang telah mendapatkan pekerjaan tetapi selang beberapa waktu dia telah di PHK atau Putus Hubungan Kontrak, lalu dia tidak bekerja. Seperti yang kita ketahui pengangguran dan kemiskinan sangat saling terkait yaitu apabila pengangguran banyak sekali di suatu Negara, maka tingkat angka kemiskinan semakin naik di suatu Negara tersebut. Oleh karena itu diperlukan upaya untuk penanggulangan pengangguran dan kemiskinan khususnya pada saat masa pandemi. Kemudian

Fenomena Pengangguran

Program Jakprenenur

Implementasi Program Jakpreneur

Keluarga Prasejahtera

Keluarga Sejahtera 1

Kesejahteraan Keluarga Konsep George

Edwards III

40

Pemerintah DKI Jakarta mempunyai adanya program Jakpreneur.

Program ini salah satu tujuannya untuk menanggulangi pengangguran dan kemiskinan melalui peningkatan kesempatan berwirausaha.

Dengan meningkatkan kapasitas wirausaha binaannya, program Jakpreneur mempunyai 7 tahapan. Pelaksanaan 7 tahapan itu berupa pendaftaran, pelatihan, pendampingan, perizinan, pemasaran, pelaporan keuangan dan permodalan. Dalam

Dengan meningkatkan kapasitas wirausaha binaannya, program Jakpreneur mempunyai 7 tahapan. Pelaksanaan 7 tahapan itu berupa pendaftaran, pelatihan, pendampingan, perizinan, pemasaran, pelaporan keuangan dan permodalan. Dalam

Dokumen terkait