Bab 2 Landasan Teori
2.8 Teknik Pengambilan Keputusan
2.7 Teori Keputusan
Teori keputusan adalah suatu area studi yang berhubungan dengan para ahli matematik, orang-orang statistik, ahli ekonomi, ahli filsafat, para manajer, politikus, psikolog, dan siapapun yang tertarik dalam analisis keputusan. Teori keputusan dalam matematika dan statistika adalah yang berhubungan dengan mengidentifikasi nilai, ketidakpastian, dan masalah lain yang relevan yang memberikan keputusan dan menghasilkan keputusan yamg optimal.
Formalisme dasar dari teori keputusan adalah tabel payoff , yang memetakan keputusan yang mutually exclusive. Misalnya, “keputusan X mengarah pada hasil Y”, “keputusan Y mengarah pada hasil Z”, dan seterusnya. Bila set hasil yang sesuai untuk suatu keputusan yang tidak dikenal, maka situasi seperti ini disebut sebagai keputusan di bawah ketidakpastian, inilah studi yang mendominasi pada teori keputusan.
Teori keputusan memberikan sejumlah saran bagaimana cara untuk mengestimasi probabilitas yang kompleks dalam keadaan ketidakpastian, yang sebagian besar berasal dari teorema Bayes.
Teori keputusan dapat berupa normatif atau deskriptif. Teori keputusan normatif adalah teori yang mengarah pada bagaimana harus membuat keputusan jika kita ingin memaksimalkan utility yang diharapkan. Sedangkan teori keputusan deskriptif dicapai berdasarkan hasil dari pengamatan, percobaan, dan biasanya dikuatkan dengan statistik.
2.8 Teknik Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan adalah memilih satu atau lebih diantara sekian banyak alternatif keputusan yang mungkin. Suatu keputusan dibuat dalam rangka untuk memecahkan permasalahan atau persoalan, Setiap kaputusan yang dibuat pasti ada tujuan yang akan dicapai. Keputusan bisa berulang kali dibuat secara rutin dan dalam bentuk persoalan yang sama sehingga mudah dilakukan.
Situasi keputusan lainnya yang dihadapi mungkin serupa dengan situasi yang dialami masa lampau, akan tetapi suatu ciri khusus dari permasalahan yang timbul baru mungkin agak berbeda dalam beberapa aspek penting bahwa mungkin unik (satu-satunya ciri yang terkait pada permasalahan tersebut). Intuisi dan pertimbangan dari orang-oarang yang mempunyai pengalaman seperti tipe persoalan tersebut merupakan nara sumber yang sangat penting dalam suatu organisasi di mana keputusan akan diambil, mengingat persoalan baru mungkin jauh berbeda dengan persoalan-persoalan sebelumnya dan perlu cara pengambilan keputusan yang unik.
Inti dari pengambilan keputusan ialah terletak dalam perumusan berbagai alternatif tindakan sesuai dengan yang sedang dalam perhatian dan dalam pemilihan alternatif yang tepat setelah suatu evaluasi (penilaian) mengenai efektivitasnya dalam mencapai tujuan yang dikehendaki pengambil keputusan. Salah satu komponen terpenting dari proses pembuatan keputusan adalah kegiatan pengumpulan data dari mana suatu apresiasi mengenai situasi keputusan dapat dibuat.
Apabila informasi yang cukup dapat dikumpulkan guna memperoleh suatu spesifikasi yang lengkap dari semua alternatif dan tingkat keefektivannya dalam situasi yang sedang dalam perhatian. Proses pembuatan atau pengambilan keputusan relatif sangatlah mudah. Akan tetapi di dalam prakteknya sangat tidak mungkin untuk mengumpulkan informasi secara lengkap, mengingat terbatasanya waktu, dana dan tenaga.
Pada dasarnya ada empat kategori keputusan, yaitu :
a. Keputusan dalam keadaan ada kepastian (certainty). Suasana di katakan certainty jika semua informasi yang di perlukan untuk membuat keputusan diketahui secara sempurna dan tidak berubah.
b. Keputusan dalam keadaan ada resiko (risk). Suasana di katakan risk jika informasi sempurna tidak tersedia, tetapi seluruh peristiwa yang akan terjadi beserta probabilitasnya tersedia.
c. Keputusan dalam keadaan ketidakpastian (uncertainty). Pengambilan keputusan dalam keadaan ketidakpastian menunjukkan suasana keputusan dimana probabilitas hasil-hasil potensial tidak diketahui (tidak diperkirakan). Dalam suasana ketidakpastian pengambil keputusan sadar akan hasil-hasil alternatif dalam bermacam-macam peristiwa, namun pengambil keputusan tidak dapat menetapkan probabilitas peristiwa.
d. Keputusan dalam keadaan ada konflik (conflick). Suasana konflik muncul jika kepentingan dua atau lebih pengambil keputusan berada dalam situasi yang saling bertentangan. Satu pihak pengambil keputusan tidak hanya memikirkan pada tindakannya sendiri, tetapi juga tertarik pada tindakan lawannya.
2.8.1 Pilihan Langsung
Salah satu cara yang umum digunakan dalam menentukan pengambilan keputusan diantara dua alternatif adalah membandingkan keduanya secara langsung, kemudian menentukan pilihan berdasarkan proses intuisi. Tetapi persoalan yang kompleks akan sulit untuk mengelola seluruh informasi dalam pikiran kita.
Contoh :
Seorang Produsen ingin menambah jenis produksinya. Untuk maksud tersebut ada dua pilihan ; pertama produk A, ia yakin staf engeneringnya mampu mempersiapkan peralatan untuk produk A dengan pertimbangan keberhasilan 0,5. Produk kedua, memproduksi B dengan kemungkinan gagal 0,2. Jika produk A berhasil perusahaan akan memperoleh laba Rp. 200 juta, dan jika gagal akan rugi Rp. 20 juta. Sedangkan produk B, jika berhasil akan memperoleh laba Rp. 80 juta dan jika gagal kan rugi Rp. 2 juta. Karena keterbatasan dana, maka hanya satu diantaranya yang akan diproduksi. Tentukan produksi mana sebaiknya yang akan diproduksi oleh perusahaan agar perusahaan memperoleh laba yang optimal.
Model keputusan ini dapat digambarkan dalam diagram keputusan sebagai berikut :
Berhasil + Rp. 200 juta 0,5
Produk A
Gagal - Rp. 20 juta 0,5
Tidak memproduksi Rp. 0 juta
Berhasil + Rp. 80 juta 0,8
Produk B
Gagal - Rp. 2 juta 0,2
Gambar 2.2 Diagram Keputusan Pilihan Langsung
Persoalan ini kelihatannya sederhana namun ada kesulitan untuk memilih secara langsung karena kita harus secara serentak memperoleh informasi tentang kemungkinan berhasil dan bagaimana hasil yang mungkin diperoleh. Pada dasarnya pilihan langsung dapat dilakukan dengan mudah jika terdapat dominasi satu alternatif atas alternatif lainnya.
2.8.2 Dominasi Nilai
Misalkan pada persoalan diatas, jika produk A gagal hasil yang akan diperoleh bukan – Rp. 20 juta, melainkan Rp. 80 juta sehingga keadaannya dapat digambarkan seperti pada diagram berikut :
Berhasil + Rp. 200 juta 0,5
Produk A
Gagal + Rp. 80 juta 0,5
Tidak memproduksi Rp. 0 juta
Berhasil + Rp. 80 juta 0,8
Produk B
Gagal - Rp. 2 juta 0,2
Dari diagram ini, maka secara langsung dapat dinyatakan bahwa lebih baik memilih produk A, karena walaupun gagal hasilnya masih sama dengan produk B jika berhasil. Dalam hal ini dikatakan alternatif A mendominasi alternatif B.
2.8.3 Dominasi Stokastik
Bentuk lain dari dominasi tetapi sedikit lebih lemah dibandingkan Dominasi Nilai adalah Dominasi Stokastik atau Dominasi Probabilistik, yang digunakan untuk pilihan langsung.
Contoh :
Sebagai seorang manager produksi, Tuan Y diharapkan untuk memilih satu diantara tiga jenis produk baru untuk dipasarkan. Produksi pendahuluan untuk ketiga produk tersebut telah selesai dilakukan, demikian pula studi tentang harganya. Hasilnya seperti terlihat pada tabel berikut :
Tabel 2.3 Produk Yang Dapat Dihasilkan
Produk Harga (unit) Ongkos (unit) Kontribusi (unit) A Rp. 25.000 Rp. 15.000 Rp. 10.000 B Rp. 60.000 Rp. 40.000 Rp. 20.000 C Rp. 37.500 Rp. 22.500 Rp. 15.000
Selanjutnya dari penelitian pasar dapat pula diketahui distribusi kemungkinan tingkat penjualan yang mungkin dicapai untuk masing-masing produk seperti pada tabel berikut :
Tabel 2.4 Distribusi Kemungkinan Tingkat Penjualan
Tingkat Kemungkinan
Penjualan A B C
10.000 0 0,2 0,3
20.000 0,1 0,2 0,3
30.000 0,1 0,4 0,2
40.000 0,2 0,1 0,1
50.000 0,6 0 0
Dan selain itu Pimpinan perusahaan telah memutuskan bahwa hanya satu jenis produk baru dapat dipasarkan.
Jika keadaan tersebut digambarkan dalam diagram keputusan maka hasilnya adalah sebagai berikut : Kontribusi Penjualan : Rp. 200 juta 0,1 20.000 Rp. 300 juta Produk A 0,1 30.000 Rp. 400 juta 0,2 40.000 Rp. 500 juta 0,6 50.000 Penjualan : Rp. 0 juta 0,1 0 Rp. 200 juta Produk B 0,2 10.000 Rp. 400 juta 0,2 20.000 Rp. 600 juta 0,4 30.000 Rp. 800 juta 0,1 40.000 Penjualan : Rp. 0 juta
0,1 0 Rp. 150 juta Produk C 0,3 10.000 Rp. 300 juta 0,3 20.000 Rp. 450 juta 0,2 30.000 Rp. 600 juta 0,1 40.000
Gambar 2.4 Diagram Keputusan Tiga Jenis Produk
2.8.4 Tingkat Aspirasi
Dalam menghadapi situasi keputusan, pengambil keputusan mungkin mempunyai suatu target yang harus dicapai, suatu tingkat aspirasi. Bila keadaannya seperti itu, maka pilihan langsung dapat dilakukan dengan membandingkan tingkat aspirasi.
Misalkan dalam persoalan diatas pengambil keputusan merasa bahwa yang penting adalah menghasilkan tidak kurang dari Rp. 300 juta. Maka kemungkinan untuk memperoleh Rp. 300 juta adalah untuk produk A sebesar 0,9; produk B sebesar 0,7 dan produk C sebesar 0,6. Produk A mempunyai kemungkinan terbesar untuk mencapai tingkat aspirasi yang ditentukan, sehingga produk A adalah pilihan yang terbaik.
2.8.5 Nilai Ekspektasi
Jika pilihan langsung sukar dilakukan, maka dapat digunakan nilai ekspektasi. Nilai ekspektasi mencerminkan harga rata-rata memilih nilai ekspektasi tertinggi.
Dari persoalan diatas, dapat diperoleh nilai ekspektasinya sebagai berikut : Produk A :
Nilai Ekspektasi = (0,1)(Rp. 200 juta) + (0,1)(Rp. 300 juta) + (0,2)(Rp.400 juta) + (0,6)(Rp.500 juta)
= Rp. 430 juta Produk B :
Nilai Ekspektasi = (0,1)(Rp. 0) + (0,2)(Rp. 200 juta) + (0,2)(Rp.400juta) + (0,4)(Rp.600 juta) + (0,1)(Rp. 800 juta)
= Rp. 440 juta Produk C :
Nilai Ekspektasi = (0,1)(Rp. 0) + (0,3)(Rp. 150 juta) + (0,3)(Rp.300 juta) + (0,2)(Rp.450 juta) + (0,1)(Rp. 600 juta)
= Rp. 285 juta
Jadi keputusannya adalah memproduksi produk B karena nilai ekspektasinya yang tertinggi.
2.8.6 Nilai Ekivalen Tetap
Nilai ekivalen tetap dari suatu kejadian tidak pasti adalah nilai tertentu yang kita tetapkan sendiri dimana kita merasa tidak berbeda antara menerima hasil yang tercermin dalam ketidakpastian tersebut, atau menerima dengan kepastian suatu hasil dengan nilai tetentu. Besar nilai yang ditentukan tersebut dinamakan nilai ekivalen tetap.