1.7. Metode Penelitian
1.7.5. Teknik Pengolahan Dan Analisis Bahan Hukum
Bahan hukum yang telah dikumpulkan tersebut, baik yang berupa bahan
hukum primer , bahan hukum sekunder maupun ba han hukum tertier, dianalisis dengan menggunakan tehnik deskripsi interprestasi,
argumentasi, evaluasi, dan sistematis.
- Tehnik deskripsi, adalah uraian apa adanya terhadap suatu kondisi atau proposisi – proposisi hukum maupun non hukum.
- Tehnik interprestasi, adalah penggunaan jenis – jenis penafsiran dalam ilmu hukum, terutama penafsiran kontekstualnya.
- Tehnik argumentasi, adalah penilaian yang didasarkan pada alasan – alasan yang bersifat penalaran hukum.
- Tehnik evaluasi, adalah penilaian tepat atau tidak tepat, benar atau salah, sah atau tidak sah terhadap suatu pandangan atau proporsi, pernyataan rumusan norma, keputusan, baik yang tertera dalam bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder.
- Tehnik sistematisasi, adalah upaya mencari kaitan rumusan suatu konsep hukum atau proposisi hukum antara peraturan perundang – undangan yang sederajat maupun yang tidak sederajat.66
65 Romy Hanitijo Soemitro, 1988, Metodelogi Penelitian Hukum dan Yurimetri, Ghalia Indonesia, Jakarta, h. 98
66 Program Studi Magister Ilmu Hukum UNUD, op.cit, h. 9-10
Berdasarkan teknik – teknik tersebut dan sebagai kegiatan akhir untuk mendapatkan simpulan atas pokok permasalahan yang dibahas dalam tulisan ini.
B A B II
TINJAUAN UMUM TENTANG PERJANJIAN
2.1. Pengertian Dan Pengaturan Perjanjian A. Pengertian perjanjian pada umumnya
Pesatnya perkembangan tehnologi, mengharuskan kepada setiap orang/negara menerimanya secara selektif, agar tidak bertentangan dengan nilai – nilai yang hidup dalam masyarakat. Tingkat pergaulan juga semakin luas antara satu bangsa dengan bangsa lain, sehingga saling mempengaruhi antara budaya satu dengan budaya bangsa lain tidak dapat dihindari. Disamping itu, sering juga terjadi perisyiwa – peristiwa hukum baik yang disengaja maupun tidak disengaja.
Peristiwa hukum yang tidak disengaja maksudnya adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh seseorang tanpa disadari menimbulkan akibat hukum seperti timbulnya hak dan kewajiban para pihak. Sedangkan peristiwa atau perbuatan hukum yang disengaja adalah perbuatan yang memang dilakukan untuk memperoleh hak dan kewajiban para pihak dalam suatu ikatan seperti membuat perjanjian.
Disamping itu ada juga peristiwa yang tidak menimbulkan akibat hukum, seperti peristiwa yang terjadi karena peristiwa alam, yang akibatnya tidak diatur oleh hukum. Karena itu, peristiwa hukum dapat dibagi menjadi dua jenis yaitu peristiwa yang dilakukan oleh subyek hukum dan peristiwa lain yang bukan merupakan perbuatan yang berhubungan dan saling berkaitan dengan subyek
hukum. Perbuatan subyek hukum merupakan perbuatan yang dikehendaki oleh yang melakukan disebut dengan perbuatan hukum.
Perbuatan hukum inipun terbagi menjadi dua jenis yaitu perbuatan yang bersegi satu dan perbuatan yang bersegi dua. Suatu perbuatan hukum yang bersegi satu adalah setiap perbuatan yang mengakibatkan timbulnya suatu akibat hukum, karena dikehendaki olah mereka yang membuatnya. Misalnya perbuatan seperti yang diatur dalam Pasal 875 KUHPerdata, yang menyebutkan : ”adapun yang dimaksud dengan surat wasiat atau tentament ialah suatu akte yang memuat pernyataan seseorang tentang apa yang dikehendakinya akan terjadi setelah ia meninggal dunia dan yang olehnya dapat dicabut kembali”.
Sedangkan perbuatan hukum yang bersegi dua adalah setiap perbuatan yang berakibat hukum yang ditimbulkan oleh kehendak dua subyek hukum yaitu dua pihak atau lebih. Perbuatan hukum bersegi dua ini sering disebut dengan perjanjian, karena kedua belah pihak saling berjanji untuk melakukan suatu hal yang telah mereka sepakati bersama
Begitu juga, pembahasan terhadap perjanjian nominee tidak dapat dilepaskan dengan perjanjian pada umumnya, karena segala bentuk/jenis perjanjian selalu berpedoman kepada perjanjian secara umum. Kerena hal itu, maka akan dikemukakan beberapa pendapat tentang perjanjian tersebut.
Diantara para sarjana belum adanya kesatuan pendapat , dimana mereka mengemukakan pendapatnya sesuai dengan sudut pandang meraka masing – masing Hal ini menyebabkan sulitnya memberikan definisi yang tepat untuk mencakup apa yang diamksud secara keseluruhan.
Menurut M. Yahya Harahap, ”Perjanjian atau verbintenis mengandung pengertian : suatu hubungan hukum kekayaan/harta benda antara dua orang atau lebih yang memberi kekuatan hak pada satu pihak untuk memperoleh prestasi dan sekaligus mewajibkan pada pihak lain untuk menunaikan prestasi”.67
A.Pitlo ( dikutip dari bukunya R.Setiwan ) yang memakai istilah Perikatan untuk verbentenis berpendapat; ”Perikatan adalah suatu hubungan hukum yang bersifat harta kekayaan antara dua orang atau lebih, atas dasar mana pihak yang satu berhak (kreditur) dan pihak yang lain berkewajiban ( Debitur ) atas sesuatu prestasi”.68
Selanjutnya Subekti berpendapat; ” Perikatan adalah suatu hubungan hukum ( mengenai kekayaan harta benda ) antara dua orang, yang memberi hak pada yang satu untuk menuntut barang sesuatu dari yang lainnya, sedangkan yang lainnya ini diwajibkan memenuhi tuntutan itu”.69
Kemudian Sudikno Mertokusumo, mengartikan perjanjian adalah suatu hubungan hukum antara dua pihak atau lebih yang didasarkan pada kata sepakat untuk menimbulkan akibat hukum.70
Sedangkan Wirjono Prodjodikoro, mengartikan Perjanjian sebagai suatu perbuatan hukum mengenai harta kekayaan antara dua pihak, dalam mana satu pihak berjanji atau dianggap berjanji untuk melakukan sesuatu hal atau tidak
67 M.Yahya Harahap, 1986, Segi –segi Hukum Perjanjian, Cetakan kedua, Alumni, Bandung, h.6
68 R. Setiawan, , Op.Cit, h.2.
69 R. Subekti, 1989, Pokok – Pokok Hukum Perdata, Cetakan XXII, Intermasa, Jakarta,(selanjutnya disebit R. Subekti I), h. 122
70 Sudikno Mertokusumo I, h. 97.
untuk melakukan sesuatu hal, sedangkan pihak lain berhak menuntut pelaksanaan janji itu.71
Lebih lanjut Sri Soedewi Masjchoen Sofwan mengemukan, perjanjian itu adalah suatu perbuatan hukum, dimana seseorang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap seorang lain atau lebih.72
Berdasarkan beberapa pandangan dari para sarjana tersebut diatas, bahwa perjanjian adalah suatu peristiwa yang timbul dari suatu hubungan antara dua orang atau lebih yang saling mengikatkan dirinya untuk melaksanakan suatu hal dalam lapangan harta kekayaan.
Dan, apabila pengertian tersebut dihubungkan dengan pengertian yang ditentukan oleh Pasal 1313 KUHPerdata menyatakan, bahwa perjanjian adalah suatu perbuatan dengan mana satu orang atau lebih mengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih.
Pengertian perjanjian yang diberikan oleh pasal 1313 KUHPerdata, mengandung beberapa kelemahan, yakni :
1. Hanya menyangkut satu pihak saja, hal ini dapat diketahui dari rumusan ”satu orang atau lebihmengikatkan dirinya terhadap satu orang atau lebih lainnya”.
Dengan kata ”mengikatkan” sifatnya hanya datang dari satu pihak saja sehingga perumusan itu seharusnya ”saling mengikatkan diri”, jadi ada kesepakatan/konsensus antara pihak – pihak
71Wiryono Prodjodikoro, 1985,Hukum Perdata tentang Persetujuan Tertentu, Sumur, Bandung, h. 11
72 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan, 1972, Kumpulan Kuliah Hukum Perdata, Penerbit Yayasan Gajah Mada, Yogyakarta, ( selanjutnya disebut Sri Soedewi Masjchoen Sofwan I), h. 25
2. Kata ”perbuatan” meliputi juga hal – hal yang tanpa konsensusu, sedang pengertian ”perbuatan” dalam hal ini dimaksudkan juga/termasuk tindakan melaksanakan tugas tanpa kuasa (zaak waarneming), perbuatan melawan hukum (onrechtmatige daad) yang tidak mengandung suatu konsensus, sehingga karenanya seharusnya dipakai kata ”persetujuan”.
3. Pengertian ”perjanjian” dalam rumusan pasal tersebut dipandang terlalu luas, karena meliputi juga melangsungkan perkawinan, perjanjian kawin, dinmana perjanjian – perjanjian tersebut termasuk/diatur dalam lapangan hukum keluarga sedang yang dimaksud dan yang dikehendaki oleh Buku III KUHPerdata adalah perjanjian antara kreditur dengan debitur, yakni perjanjian dalam lapangan harta kekayaan saja.
Dari pendapat – pendapat sarjana diatas tentang perjanjian dan pengertian perjanjian yang diberikan oleh pasal 1313 KUHPerdata dengan segala kekurangannya, maka akhirnya dapatlah dikemukakan bahwa perjanjian adalah suatu hubungan hukum dalam bidang harta kekayaan antara dua pihak dimana pihak yang satu (kreditur) berhak atas prestasi sedang pihak yang lain (debitur) berkewajiban untuk memenuhi prestasi dan pada umumnya bertanggungjawab atas prestasi tersebut.
Sedangkan penggunaan istilah perjanjian maupun persetujuan menurut Abdulkadir Muhamad tidaklah dipermasalahkan, karena menurut beliau perjanjian yang dimaksud tiada lain adalah persetujuan yang terdapat dalam pasal 1313 KUH Perdata atau lebih lengkapnya beliau mengatakan : ”Perjanjian adalah suatu
persetujuan dengan mana dua orang atau lebih saling mengikatkan diri untuk saling/malaksanakan suatu hal dalam lapangan harta kekayaan”.73
Dari beberapa pengertian perjanjian tersebut diatas dapat ditarik unsur – unsur perjanjian, yaitu : Ada pihak – pihak sedikitnya dua orang, ada persetujuan, adanya tujuan yang ingin dicapai dan ada prestasi yang dilaksanakan. Adanya pihak – pihak maksudnya yaitu adanya subyek perjanjian yang dapat berupa orang dan atau badan hukum. Subyek haruslah yang mampu melaksanakan perbuatan hukum yang ditetapkan dalam undang – undang. Adanya persetujuan maksudnya adalah apa yang ditawarkan oleh pihak yang satu diterima oleh pihak yang lain, sedangkan tujuan yang hendak dicapai/yang dimaksud adalah untuk memenuhi kebutuhan pihak – pihak malaui perjanjian – perjanjian, undang – undang dan kesusilaan. Kemudian prestasi yang dilaksanakan merupakan kewajiban yang harus dipenuhi pihak – pihak sesuai dengan syarat – syarat untuk sahnya perjanjian.
B. Pengaturan perjanjian
Sistem pengaturan dari pada perjanjian (kontrak) adalah menganut sistem terbuka (open system) artinya bahwa setiap orang bebas untuk mengadakan perjanjian, baik yang sudah diatur maupun yang belum diatur di dalam undang – undang. Hal ini dapat disimpulkan dari ketentuan yang tercantum dalam Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata, yang berbunyi ”Semua perjanjian yang dibut secara sah berlaku sebagai undang – undang bagi mereka yang membuatnya”.
73 Abdulkadir Muhamad, 1992, Hukum Perikatan, Alumni, Bandung, h. 77.
Ketentuan Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata memberikan kebebasan kepada para pihak untuk :
1. membuat atau tidak membuat perjanjian, 2. mengadakan perjanjian dengan siapa pun,
3. menentukan isi perjajian, pelaksanaan, dan persyaratannya, dan 4. menentukan bentuknya perjanjian, yaitu tertulis atau lisan.74
Dalam sejarah perkembangannya, hukum kontrak pada mulanya menganut sisten tertutup, artinya para pihak terikat pada pengertian yang tercantum dalam undang – undang. Ini disebabkan adanya pengaruh ajaran legisme yang memandang bahwa tidak ada hukum di luar undang – undang. Hal ini dapat dilihat dan dibaca dalam berbagai putusan Hoge Raad dari tahun 1910 sampai dengan tahun 1919.
Putusan Hoge Raad yang paling penting adalah putusan HR 1919, tertanggal 31 Januari 1919 tentang penafsiran perbuatan melawan hukum, yang diatur dalam Pasal 1365 KUH Perdata. Di dalam putusan HR 1919 definisi perbuatan melawan hukum, tidak hanya melawan undang – undang, tetapi juga melanggar hak – hak subyektif orang lain, kesusilaan, dan ketertiban umum.
Menurut HR 1919 yang diartikan dengan perbuatan melawan hukum adalah perbuatan atau tidak berbuat yang :
1. melanggar hak orang lain
Yang dimaksud dengan hak orang lain, bukan semua hak, tetapihanya hak – hak pribadi, seperti i9ntegritas tubuh, kebebasan, kehormatan, dan lain – lain.
74Salim H.S., 1993, Bayi Tabung : Tinjauan aspek Hukum, Sinar Grafika, Jakarta, ( selanjutnya di sebut Salim H. S. III ), h. 100.
Termasuk dalam hal ini hak – hak absolut, seperti hak kebendaan, hak atas kekayaan intelektual (HAKI), dan sebagainya
2. bertentangan dengan kewajiban hukum pelaku;
Kewajiban hukum hanya kewajiban yang dirumuskan dalam aturan undang – undang;
3. bertentangan dengan kesusilaan, artinya perbuatan yang dilakukan oleh seseorang itu bertentangan dengan sopan santun yang tidak tertulis yang tumbuh dan berkembang dalam masyarakat;
4. bertentangan dengan kecermatan yang harus diindahkan dalam masyarakat;
Aturan tentang kecermatan terdiri atas dua kelompok, yaitu :
a. aturan – aturan yang mencegah orang lain terjerumus dalam bahaya, dan b. atuan – aturan yang melarang merugikan orang lain ketika hendak
menyenggarakan kepentingan sendiri
Putusan HR 1919 tidak lagi terikat kepada ajaran legisme, namun telah secara bebas merumuskan pengertian perbuatan melawan hukum, sebagaimana yang dikemukakan di atas, Sejak adanya putusan HR 1919, maka sistem pengaturan hukum kontrak adalah bersifat terbuka. Hal ini didasarkan pada Pasal 1338 ayat (1) KUH Perdata dan HR 1919.75