• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

F. Teknik Pengolahan dan Analisis Data

Pengolahan data dalam penelitian ini digunakan untuk mengumpulkan data yang bersifat penelitian kualitatif untuk menemukan yang di inginkan oleh peneliti. Pengolahan data yang ada selanjutnya diinterpretasikan dalam bentuk konsep yang dapat mendukung objek pembahasan. Analisis data dapat dilakukan sepanjang proses penelitian dengan menggunakan teknik analisis sebagai berikut :

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Data yang diperoleh dari lapangan jumlahnya cukup banyak, untuk itu maka perlu dicatat secara teliti dan rinci.59 Informasi dari lapangan sebagai bahan mentah diringkas, disusun lebih sistematis, dan ditonjolkan pokok-pokok yang penting sehingga lebih mudah dikendalikan.

2. Penyajian Data (Data Display)

Penyajian data yang diperoleh dari lapangan terkait dengan seluruh permasalahan penelitian dipilih antara yang dibutuhkan dan yang tidak dibutuhkan, lalu dikelompokkan kemudian diberi batasan masalah.60 Bentuk penyajian data kualitatif dapat berupa teks naratif, maupun matrik, grafik, jaringan dan bagan.

59Sugiyono, Memahami Penelitian Kualitatif, h. 92

3. Penarikan Kesimpulan

Upaya penarikan kesimpulan atau verifikasi dilakukan peneliti secara terus menerus selama berada di lapangan. Dari permulaan pengumpulan data, mulai mencari arti benda-benda, mencatat keteraturan pola-pola (dalam catatan teori), penjelasan-penjelasan, konfigurasi-konfigurasi, yang mungkin, alur sebab akibat, dan proposal.61

Berdasarkan penjelasan tentang penarikan kesimpulan di atas, dapat dipahami bahwa penarikan kesimpulan adalah menyederhanakan kalimat, arti benda-benda, alur sebab-akibat yang menjadi inti pembahasan dalam penelitian berdasarkan data yang diperoleh selama berada dilapangan.

61 Lihat Mile, M.B. dan Huberman, Analisis Data Kualitatif, Penerjemah Tjetjep Rohendi (Cet. 3; Jakarta: UI Press, 1992), h. 32.

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum Desa Ulidang Kecamatan Tammerodo’ Sendana

Kabupaten Majene

Desa Ulidang yang terletak di pesisir pantai dengan luas wilayah 12,0 km

merupakan salah satu Desa di Kecamatan Tammerodo’ Sendana yang pada dasarnya

sudah lama terbentuk yakni sejak tahun 1987. Secara administratif, Desa Ulidang awalnya adalah bagian integral dari wilayah Kecamatan Sendana, kemudian pada tahun 2003 pemerintah Kabupaten Majene mengambil kebijakan untuk memasukkan

Desa Ulidang kedalam wilayah Kecamatan Tammerodo’ Sedana. Dalam

perkembangannya, seiring kebijakan pemerintah Kabupaten Majene memekarkan 40 Desa/ Kelurahan menjadi 82 Desa/ Kelurahan. Maka Desa Ulidang turut mengalami pemekaran sebahagian wilayahnya menjadi dua wilayah Desa otonom yakni Desa Ulidang dan Desa Awo berdasarkan peraturan daerah Kabupaten Majene. Kebijakan tersebut mengukuhkan kedaulatan Desa Ulidang sebagai sebuah Desa otonom di

Kecamatan Tammerodo’ Sendana dalam menyelenggarakan pemerintahan,

pembangunan, dan pelayanan masyarakat di Desanya.62

Desa Ulidang yang berstatus Desa Swakarya, saat ini dipimpin oleh seorang Kepala Desa yakni Rusdi yang mulai menjabat sejak tahun 2013 sampai sekarang, dan diperkirakan akan berakhir pada tahun 2018. Sejak terbentuknya Desa tersebut,

tercatat sudah empat kali mengalami riwayat pergantian kepemimipinan pemerintahan.

Kebijakan pemerintah Kabupaten Majene memekarkan Desa Ulidang tersebut memberikan implikasi terhadap dinamika politik dan pemerintahan serta stabilitas penyelenggaraan pemerintahan Desa, kehidupan bermasyarakat dan berdesa yang tentram dan damai, terpeliharanya keamanan dengan baik, penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan serta pelayanan masyarakat yang tertib dan lancar, serta terciptanya tatanan kehidupan yang lebih baik. Eksistensi Kepala Desa yang memimpin di Desa Ulidang secara langsung ataupun tidak langsung memiliki hubungan emosional dan psikologi sosial yang positif dengan masyarakat yang dipimpinnya, memiliki pengaruh yang besar, dihormati dan dihargai, serta berperan sebagai motivator.

Penyelenggaraan pemerintahan Desa, Peraturan Daerah (PERDA) Kabupaten Majene Nomor 2 tahun 2009 tentang pedoman penyusunan organisasi dan tata kerja pemerintahan Desa dan peraturan Bupati Kabupaten Majene nomor 25 tahun 2009 tentang petunjuk pelaksanaan pedoman penyusunan organisasi dan tata kerja pemerintahan Desa menetapkan struktur organisasi pemerintah Desa Ulidang. Struktur organisasi pemerintah Desa Ulidang terdapat Badan Pertimbangan Desa (BPD) dan LKMD sebagai mitra kerja Kepala Desa dan mempunyai hubungan kelembagaan dalam proses pengambilan keputusan terkait berbagai persoalan di wilayahnya.

No. JUMLAH DUSUN di DESA ULIDANG 1. Dusun Ulidang 2. Dusun Labuang 3. Dusun Waigamo 4. Dusun Saburre 5. Dusun Petudang

Sumber data : Profil Desa dan Kelurahan

Terkait otoritas wilayah, berdasarkan PERDA Kabupaten Majene Nomor 7 tahun 2010 maka secara administratif wilayah Desa Ulidang mempunyai batas-batas wilayah pemerintahan. Desa Ulidang berada di sebelah utara Desa Onang, disebelah

selatan Desa Tammerodo’, di sebelah timur Desa Awo dan diseblah barat Selat

Makassar.63 Dalam kaitan itu, juga telah terbentuk organisasi rukun warga (ORW) dan 11 organisasi rukun tetangga (ORT).64

Kedudukan wilayah administratif demikian mengindikasikan bahwa desa ulidang merupakan desa pantai dengan posisi yang cukup strategis sebab berada pada jalur transportasi darat yang utama yakni trans-sulawesi dan akses transportasi laut melalui selat makassar. Desa Ulidang berjarak 2 km dari Ibukota Kecamatan Tammerodo’ Sendana dan 51 km dari Ibukota Kabupaten Majene. Hal ini berarti bahwa penduduk membutuhkan waktu beberapa menit untuk menjangkau pusat pelayanan di pemerintahan Kecamatan. Sedangkan untuk menjangkau pusat

63

Kecamatan Tammerodo’ Sendana, Profil Desa dan Kelurahan (Tammerodo’: 22 Februari

2016). h. 82.

pelayanan di Ibukota Kabupaten Majene penduduk harus menempuh perjalanan jauh dengan jarak tempuh 30-40 menit.65

Letak geografi Desa Ulidang adalah antara 2 derajat 38’ 45”- 30 38’15” lintang selatan antara 118 derajat 45’ 00”-119 derajat 4’ 45” bujur timur, dan

wilayahnya berada pada ketinggian 0,5 m diatas permukaan laut (data BPS

Kecamatan Tammerodo’ Sendana dalam angka, 2014). Hal ini mengindikasikan

bahwa sebagian wilayahnya adalah pesisir pantai dan perairan laut dan sebagian topografi wilayah daratannya adalah daratan rendah disepanjang daerah pesisir pantai sangat memerlukan pembangunan talud atau bronjong atau tanggul untuk mencegah abrasi atau pengikisan daratan oleh pasang air laut.66 pantai perairan laut dan sebagian daratan tersebut mengisyaratkan besarnya potensi wilayah di Desa tersebut baik hasil-hasil laut dan perikanan maupun hasil-hasil pertanian, perkebunan, kehutanan, peternakan, tambang dan energi, yang kesemuanya memerlukan pengelolaan dan pengembangan secara baik dan maksimal. Potensi geografi dan topografi wilayah tersebut memerlukan arahan kebijakan pembangunan jangka pendek, jangka menengah dan jangka panjang dalam perencanaan pembangunan Desa Ulidang.67

Terkait dengan iklim, secara umum iklim musim yang berlaku di Kabupaten Majene juga berlaku di Desa Ulidang, yaitu musim hujan dan musim kemarau pada bulan Juni sampai dengan September, arus angin bertiup dari Australia dan tidak

65

Kecamatan Tammerodo’ Sendana, Profil Desa dan Kelurahan, h. 84. 66Kantor Desa Ulidang, Letak Geografi, Ulidang: 21 Februari 2016.

banyak mengandung uap air dan mengakibatkan musim kemarau. Sebaliknya pada bulan Desember sampai dengan Maret, arus angin yang banyak mengandung uap air berhembus dari Asia dan Samudera Pasifik sehingga terjadi musim hujan. Kedua musim tersebut silih berganti sepanjang tahun. Musim hujan dimanfaatkan oleh penduduk Desa untuk bercocok tanam atau mengelola lahan pertanian dan perkebunan, melakukan budidaya ikan dan berbagai kegiatan lainnya.

Curah hujan tertinggi pada bulan Desember sebesar 456,4 mm kubik dengan hari hujan 26, sedangkan curah hujan terendah terjadi pada bulan Juli sebesar 1,6 mm kubik dengan jumlah hari hujan 24. Kelembaban udara berkisar antara 73 %sampai 82 % atau rata-rata kelembaban udara berkisar 79%. Temperatur rata-rata sepanjang tahun sekitar 27, 60 derajat celcius, dengan suhu minimum 24,75 derajat dan suhu maksimum 31,64 derajat celcius. Curah hujan tersebut sangat bermanfaat bagi pemenuhan berbagai kebutuhan penduduk atas sumber air untu melancarkan aktivitas dan memelihara kelangsungan hidup dan pola pencaharian.68

Dinamika aktivitas masyarakat dan pembangunan di Desa Ulidang telah mendorong peningkatan pemanfaatan wilayah perairan (pesisir pantai dan laut) dan penggunaan lahan darat untuk memenuhi berbagai keperluan. Secara umum, pemanfaatan ruang cukup potensial pemanfaatan ruang wilayah perairan seiring dengan dinamika perkembangan aktifitas masyarakat yang membutuhkan permukiman dan tambak di daerah persisir dan pantai, berkembangnya kegiatan penangkapan ikan dan budidaya hasil laut serta jalur transportasi laut, termasuk

kemungkinan penggunaan lahan untuk lokasi obyek wisata termasuk kawasan hutan bakau. Demikian hal kemungkinan kebutuhan pembangunan prasarana seperti dermaga laut, pelabuhan samudera dan tempat pelelangan ikan (TPI), termasuk tempat penambatan perahu.

Pemanfaatan ruang wilayah daratan seiring dengan dinamika perkembangan aktivitas masyarakat yang membutuhkan permukiman, perkantoran (baik kantor pemerintah maupun kantor swasta), lahan untuk fasilitas umum dan fasilitas sosial (seperti sekolah, taman, ruang terbuka, ruang terbuka hijau/ RTH, pusat pelayanan kesehatan, kolam renang, lapangan olahraga, tempat parkir), lahan untuk fasilitas perekonomian dan perdagangan (seperti lokasi pabrik), lahan pertanian (sawah, lahan tanaman, hortikultura/ pengairan, irigasi), lahan perkebunan, lahan peternakan (seperti tempat pengembalaan, kandang ternak), lahan perikanan (seperti kolam ikan, tambak, tempat pembibitan, lokasi usaha), kawasan hutan, infrastruktur jalan dan saluran drainase. Adapun Sekolah yang terdapat di Desa Ulidang tertera pada tabel berikut :

No. NAMA SEKOLAH JUMLAH

1. TK 5

2. SD 1

3. SMP/TSANAWIYAH 1

4. SMA 1

Pasca pemekaran, penduduk di Desa Ulidang tersebar pada lima dusun, dan mengalami perkembangan dari tahun ketahun. Berdasarkan data BPS Kecamatan

Tammerodo’ Sendana dalam angka tahun 2014 bahwa, jumlah penduduk Desa

Ulidang tahun 2014 adalah 1.710 jiwa (terdiri 847 jiwa laki-laki dan 863 perempuan dengan rasio jenis kelamin 98,15) atau 358 KK dengan rata-rata setiap rumah tangga mempunyai lima jiwa anggota, serta dengan tingkat kepadatan penduduk 310 jiwa.69 Adapun jumlah penduduk pada masing-masing dusun terdapat pada tabel berikut :

NO. NAMA DUSUN JUMLAH PENDUDUK

1. Dusun Ulidang 437 2. Dusun Labuang 360 3. Dusun Waigamo 415 4. Dusun Saburre 273 5. Dusun Petudang 225 JUMLAH 1.170

Sumber Data : Profil Desa dan Kelurahan

Keberadaan sejumlah penduduk di Desa Ulidang yang tergolong angkatan kerja, terbagi menjadi kelompok penduduk yang bekerja pada sektor lapangan usaha atau pekerjaan yang ada dan kelompok yang belum/ tidak bekerja. Secara keseluruhan, ada enam sektor lapangan usaha/ pekerjaan yang menyerap penduduk bekerja. Sebagian besar penduduk bekerja di sektor pertanian, dan sebagian kecil di

69Kecamatan Tammerodo’ Sendana, Profil Desa dan Kelurahan, h. 88.

sektor kesehatan. Dominannya penduduk bekerja pada sektor pertanian kiranya cukup beralasan sebab Desa Ulidang mempunyai lahan pertanian yang luas. Mencermati lebih jauh, pendduduk yang terserat di sektor kelautan dan perikanan lebih rendah dari sektor perdagangan dan swasta. Dalam kaitan itu, selain terdapat sejumlah penduduk bekerja, juga terdapat 56 (atau 3,1%) jiwa penduduk yang tidak atau belum terserat dibeberapa sektor lapangan usaha.70

Secara umum, dari sejumlah jiwa penduduk, terbagi dalam kelompok angkatan kerja (66,9%) dan non angkatan kerja (33,1%) penduduk yang tergolong angkatan kerja sebagian besar sudah bekerja, kecuali sebagian kecil yang tidak mempunyai pekerjaan tetap ataukah sebagian masih tergolong usia belum sekolah serta ada yang usia sekolah namun tidak bersekolah atau putus sekolah termasuk ada yang buta aksara. Hal ini berarti bahwa potensi non angkatan kerja menjadi angkatan kerja yang cukup besar, yang menjadi tantangan bagi pemerintah Kabupaten Majene/ Instansi terkait termasuk pemerintah Desa untuk menyediakan lapangan kerja bagi sejumlah angkatan kerja yang belum memiliki pekerjaan tetap amupun penduduk yang akan memasuki usia angkatan kerja.71

Desa Ulidang hingga tahun 2014 pola pencaharian yang paling banyak ditekuni oleh penduduk adalah petani yakni 94 % dari total jumlah penduduk yang bekerja, kemudian 3% penduduk menekuni pola pencaharian sebagai pedagang/

70Kecamatan Tammerodo’ Sendana, Profil Desa dan Kelurahan, h. 89. 71Kantor Desa Ulidang, Data Desa, Ulidang: 21 Februari 2016.

wiraswasta dan 2% nelayan, serta 1% sisanya sebagai pegawai pemerintah, guru dan tenaga kesehatan.

1. Petani

Penduduk yang bekerja sebagai petani, yang merupakan kelompok terbanyak di Desa Ulidang, terdiri atas petani sawah, petani yang mengelola usaha pertanian dan perkebunan termasuk petani ikan yang mengelola tambak. Hal ini berarti bahwa, sektor pertanian masih menjadi plihan dan harapan utama bagi banyak penduduk untuk memperoleh pekerjaan atau bekerja guna memperoleh pendapatan dan mempertahankan kelangsungan hidup keluarganya.

2. Pedagang/ wiraswasta

Penduduk yang bekerja sebagai pedagang atau wiraswasta mengelola usaha atau berjualan dipasar atau berjualan barang campuran atau melakukan jual beli dan pemasaran hasil-hasil bumi dan jasa, termasuk pengelola usaha jasa keuangan. Kelompok ini mengalihkan perhatiannya kepada sektor usaha, jasa dan keuangan, dan tidak bergantung pada sumber daya alam yang terbatas

3. Nelayan

Penduduk yang bekerja sebagai nelayan merupakan kelompok kedua terbanyak, memanfaatkan potensi wilayah pesisir pantai dan perairan laut untuk menangkap ikan dengan menggunakan alat tangkap atau armada penangkapan tertentu, kemudian hasil tangkapan dijual kepada lokal atau punggawa untuk memperoleh pendapatan dan kebutuhan hidup keluarga.

4. Guru

Penduduk yang bekerja sebagai guru merupakan kelompok kerja terbesar keempat, dan merupakan kelompok terpelajar, terdiri atas guru yang telah diangkat mejadi pegawai negeri sipil (PNS), dan guru yang masih berstatus sebagai tenaga honorer. Mereka melaksanakan tugas belajar mengajar di sekolah yang ada di Desa Ulidang maupun di Desa/ Kelurahan lain.

5. Pegawai Pemerintah

Penduduk yang bekerja sebagai pejabat pemerintah, dan yang berstatus PNS dan ada pula yang masih berstatus tenaga honorer/ kontrak dan bekerja pada instansi pemerintah seperti kantor desa, kantor cabang dinas dan instansi terkait.

6. Tenaga Kesehatan

Penduduk yang bekerja sebagai tenaga kesehatan, ada yang berstatus sebagai pegawai dan adapula yang berstatus bidan dan dukun bersalin. Diantara mereka ada yang berstatus PNS dan ada pula yang masih berstatus tenaga honorer. Mereka bekerja di pusat-pusat pelayanan kesehatan yang ada di Desa Ulidang seperti, Poskesdes, Pustu, posyandu dan lainnya untuk melayani kebutuhan pelayanan kesehatan penduduk yang mebutuhkan.72

Pilihan profesi atau pekerjaan sulit dilepaskan dari tingkat pendidikan, kehalian dan pengalaman serta life skill yang dimiliki oleh penduduk. Tingkat pendidikan dan keahlian yang rendah dan hanya mengandalkan pengalaman usaha tertentu, menyebabkan penduduk seolah tidak punya pilihan lain untuk menekuni

pekerjaan yang dianggap lebih mudah dan tidak memerlukan persyaratan yang banyak.

Perspektif budaya di Desa Ulidang yang mencakup nilai-nilai budaya, komposisi etnis dan agama, kelmbagaan adat istiadat, serta bahasa yang kesemuanya membentuk satu kesatuan budaya dan memberikan ciri atau performance terhadap eksistensi kebudayaan di Desa tersebut. Secara umum, struktur atau komposisi etnis masyarakat yang homogen dengan nilai-nilai budaya yang berlaku, bahasa, kepercayaan dan agama, derta dukungan sarana dan prasarana ibadah, kesemuanya berbentuk satu kesatuan bingkai budaya yang berlangsung secara terus menerus dalam interaksi sosial budaya dan pergaulan sehari-hari di Desa Ulidang. Etnis mandar sebagai pendukung asli yang mayoritas masih sangat kuat eksistensinya baik dalam hal-hal nilai budaya dan tradisi-adat istiadat maupun bahasa.

Kultur masyarakat yang bercir ikan kecendrungan mempertahankan nilai-nilai budaya dan leluhurnya, mendapatkan nilai-nilai-nilai-nilai religius. Etnis mandar sangat menjunjung nilai-nilai religius Islam yang telah melebur kedalam budaya nilai-nilai mandar seperti nilai kejujuran, kegotong royongan (semangatnya terutama sangat nampak dan kegiatan menurunkan perahu kelaut dan bilamana ada keluarga mendirikan sebuah rumah atau tempat tinggal), kesopanan, saling menghargai dan menghormati, saling tolong menolong, saling bekerja sama dan bahu membahu, menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan, saling menghargai pendapat, serta sikap keterbukaan termasuk dalam menerima etnis pendatang dan memelihara kerukunan hidup, toleransi kehidupan yang harmonis dan damai.

Penduduk yang mayoritas beragama Islam, aktif memanfaatkan fasilitas yang ada yakni lima buah masjid untuk kegiatan ibadah, pengajian, tadarrus al-Qur’an

maupun kegiatan organisasi kemasyarakatan serta perayaan hari-hari besar keagamaan dan acara ritual keagamaan seperti perayaan maulid Nabi Muhammad

saw, Isra’ mi’raj, khatam Qur’an, pelaksanaan taraweh dan acara ritual keagamaan

yang lainnya.

B. Keberadaan Majelis Taklim Annisa’ dalam Meningkatkan Kesadaran

Beragama pada Ibu Rumah Tangga di Desa Ulidang Kecamatan Tammerodo’ Sendana Kabupaten Majene

Perkembangan era globalisasi saat ini, majelis taklim tumbuh dan berkembang dikalangan masyarakat Islam yang Kepentingannnya adalah untuk kemaslahatan umat manusia. Keberadaan majelis taklim merupakan suatu komunitas muslim yang secara khusus menyelenggarakan pembinaan dan pengajaran tentang agama Islam yang kemudian mampu meningkatkan kesadaran beragama masyarakat, khususnya bagi ibu rumah tangga yang termasuk dalam anggota majelis taklim

Annisa’ tersebut. Majelis taklim dikenal diberbagai tempat dengan istilah yang berbeda-beda, seperti pengajian, taman pendidikan al-Quran dan lain-lain.

Menurut Asmiati sebagai ketua, majelis taklim Annisa’ di Desa Ulidang

Kecamatan Tammerodo’ Sendana Kabupaten Majene didirikan pada tanggal 20

November 2008 oleh para para pengurus dan anggota dari majelis taklim tersebut dan khususnya di pelopori oleh alm. Mardiyah. Sepeninggalnya almarhumah pada tahun 2012, Asmiati yang kemudian menjabat sebagai ketua dari majelis taklim

majelis taklim yakni Majelis Taklim Uswatun Hasanah, Majelis Taklim

Nahdatunnisa’, Majelis Taklim Sirajul Munir, Majelis Taklim Khaerah Ummah dan

Majelis Taklim Annisa’ Sendiri. Jumlah majelis taklim beradasarkan jumlah Dusun,

karena di Desa Ulidang mempunyai lima Dusun dan masing-masing Dusun mempunyai satu majelis taklim. Adapun nama dari majelis taklim yang tergabung antar masing-masing dusun yakni Majelis Taklim Permata.73 Majelis Taklim Permata inilah yang kemudian menjadi majelis taklim pusat yang berada di Desa Ulidang karena merupakan gabungan dari majelis taklim antar dusun. Namun yang menjadi pusat perhatian bagi peneliti untuk meneliti lebih lanjut mengenai majelis taklim,

ialah majelis taklim Annisa’ yang tepatnya berada di Dusun Labuang, karena Majelis Taklim Annisa’ ini telah menunjukkan eksistensinya dalam meningkatkan

kesadaran beragama pada ibu rumah tangga.

Majelis taklim dalam melakukan operasinya tentu memiliki susunan personalia sebagaimana dengan lembaga-lembaga lainnya sehingga aktivitasnya dapat dikontrol dan terlaksana dengan baik, kepengurusan majelis taklim dilengkapi oleh ketua, sekertaris, bendahara dan anggota. Adapun struktur kepengurusannya seperti yang tertera pada struktur organisasi berikut :

73Asmiati (48 Tahun), Ketua Majelis Taklim Annisa’, Wawancara di Majene, Tanggal 16 Februari 2016.

STRUKTUR ORGANISASI MAJELIS TAKLIM ANNISA’

SumberData: Sekretariat Majelis Taklim Annisa’.

KETUA ASMIATI WAKIL KETUA RAHMATIA SALEH SEKERTARIS SUMARNI BENDAHARA ASLIAH NUR WAKILBENDAHARA RUHANIA ANGGOTA Hartati Haisa Nurlinang Halijah Haniah Rusnah Zakiyah Harusia Darmawati Erni Nurlina Nurhayati Mariamah Husnah Sarah Herna Suriati Serli Nurlaila Maslia Nurdalia Jumuria Sahariah Rusmania Herliana Yusriana Masriani Nursiah Rohani Haerani Nurjannah Jumani Masdalia Hartina Nurmia

Perkembangan Majelis taklim di kota-kota besar maupun di pedesaan baik yang di prakarsai oleh umat yang membutuhkannya , maupun yang terbentuk atas prakarsa tokoh agama, tokoh politik maupun lembaga keagamaan menunjukkan betapa pentingnya dakwah dan pendidika n keaagamaan masyarakat. Berbagai kegiatan yang dilaksanakan oleh majelis taklim, bukan saja dalam upaya untuk menambah pengetahuan ibu rumah tangga tentang Islam, tetapi ia juga berperan dalam meningkatkan wawasan keberagamaan,74 sehingga ibu rumah tangga yang termasuk dalam anggota tersebut semakin sadar akan pentingnya beragama.

Perkembangan teknologi dan informasi seperti sekarang ini, keberadaan majelis taklim sangatlah penting sebagai benteng dalam menghadapi pengaruh negatif dari perkembangan zaman tersebut. Untuk itu dibentuklah Majelis taklim

Annisa’ yang berlokasi di Desa Ulidang Kecamatan Tammerodo’ Sendana

Kabupaten Majene. Majelis taklim ini terbentuk atas dasar kesepakatan bersama serta kesadaran dari ibu-ibu rumah tangga di Desa Ulidang untuk membentuk sebuah organisasi/ lembaga majelis taklim yang akan mampu mewadahi untuk belajar secara mendalam mengenai ajaran agama Islam, dalam hal ini juga sesuai kebutuhan masyarakat Desa Ulidang akan siraman-siraman rohani, kebutuhan ajaran agama yang menjadi acuan hidup, aturan atau norma-norma yang mengatur hidup dan kehidupan masyarakat sehingga bentuk kesadaran ibu rumah tangga tersebut semakin matang.

74Lihat Rosehan Anwar dkk, Majelis Taklim dan Pembinaan Umat (Cet. 1; Jakarta: Rifqi Jaya Jakarta, 2002), h. 1-2.

Keberadaan majelis taklim Annisa’ sangat potensial dalam memecahkan

berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat dewasa ini, karena melalui majelis taklim sebagian masalah yang dihadapi oleh para anggota seperti hal-hal yang merusak akidah dan masalah yang berkaitan dengan kehidupan, akhirnya bisa diatasi melalui dialog/ tanya jawab yang berkesinambungan antara penceramah/ muballigh dengan ibu-ibu rumah tangga yang termasuk dalam anggota.

Majelis taklim dalam hal ini mampu memberikan gagasan dan ide-ide yang membangun terhadap Pemerintah dan Negara, melalui siraman-siraman rohani yang diberikan oleh para penceramah/ muballigh diharapkan akan dapat membangun kebutuhan psikis (jiwa) menjadi tenang dan damai yang pada akhirnya membentuk manusia-manusia yang tangguh dan handal, menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi serta beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Adapun kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Majelis taklim Annisa’ dalam

meningkatkan kesadaran beragama ibu rumah tangga di Desa Ulidang75 tersebut antara lain:

1. Pengajian Rutin

Menurut Asmiati bahwa salah satu langkah yang dilakukan majelis taklim

Annisa’ dalam meningkatkan kesadaran beragama adalah dengan mengadakan

Dokumen terkait