BAB II DASAR TEORITIK DAN METODE PENELITIAN
B. Metode Penelitian
5. Teknik Pengolahan dan Analisis Data
Teknik pengolahan data yang dipergunakan untuk kajian bersifat kualitatif dan kuantitatif. Teknik kualitatif dilakukan dengan mendeskripsikan data yang bersifat kualitatif, terutama untuk analisis kebijakan program serta hasil-hasil wawancara mendalam. Pengolahan data kuantitatif dilakukan dengan cara editing, coding dan tabulating.
Analisis data bertaraf deskriptif, ditujukan kepada aspek-aspek: latar belakang, sebab-sebab dan akar permasalahan terjadinya tindak pidana kejahatan konvensional dan kejahatan yang berimplikasi kontijensi di wilayah hukum Polres Pemalang.
Untuk menganalisis data yang sudah diperoleh melalui kuisioner, agar sesuai dengan tujuan penelitian ini maka data dianalisis secara kualitatif untuk mengukur tingkat pengaruh antara data yang diperoleh dengan menggunakan alat bantu Komputer program SPSS-PC 10.01 dan selanjutnya dianalisis menggunakan uji statistik.
a. Analisis Regresi Berganda
Untuk mengukur pengaruh antara variabel X1, X2,dan X3 terhadap variabel Y, digunakan analisis statistik Regresi Berganda Karena Variabel X terdiri dari tiga Sub variabel. Adapun rumus Regresi Berganda menurut Algifari (2000 : 64) adalah :
Y = a + b1X1+ b2X2+ b3X3+ b4X4
Dimana :
Y = Tindak Pidana
a = Intersep (titik potong kurva terhadap sumbu Y)
b1 = Kemiringan kurva liniear yang berhubungan dengan Sub variabel X1
b2 = Kemiringan kurva liniear yang berhubungan dengan Sub variabel X2
b3 = Kemiringan kurva liniear yang berhubungan dengan Sub variabel X3
X1 = Kesadaran Hukum
X2 = Kinerja Polres
X3 = Resosialisasi
Karena jawaban responden adalah data ordinal maka sebelum dimasukan kedalam perhitungan regresi, maka terlebih dahulu data tersebut diubah kedalam data interval. Adapun cara yang digunakan adalah melalui Method of Successive Interval ( Al Rasyid 1993 : 131 ). Hal tersebut bertujuan untuk merubah skala yang ada kedalam skala pengukuran yang tingkatnya lebih tinggi, yaitu dari skala ordinal menjadi skala interval sehingga dihasilkan data yang memenuhi asumsi yang dituntut dalam perhitungan statistik parametrika.
Langkah-langkah transformasi tersebut adalah sebagai berikut :
1) Didasarkan hasil jawaban responden untuk setiap pertanyaan dihitung frekuensi setiap pilihan jawaban.
2) Berdasarkan frekuensi yang diperoleh untuk setiap jawaban.
3) Berdasarkan proporsi tersebut untuk setiap pertanyaan dihitung proporsi komulatif untuk setiap jawaban.
4) Untuk setiap pertanyaan, ditentukan nilai batas z untuk setiap pilihan jawaban.
5) Menghitung scale value (nilai interval rata-rata) untuk setiap pilihan jawaban dengan persamaan :
kepadatan batas bawah - kepadatan batas bawah Scale =
Daerah dibawah batas atas–daerah dibawah batas bawah
6) Menghitung score (nilai hasil transformasi ) untuk setiap pilihan jawaban dengan persamaan :
Score = Scale value = Scale valueMin1
b. Uji Koefesien regresi (Uji parsial)
Uji Parsial atau Uji t-statistik digunakan untuk menguji kebeartian koefisien regresi secara parsial, dengan menggunakan rumus hipotesis sebagai berikut :
Ho : bi = 0
Ha : bi 0
Pengujian melalui uji t atau dengan membandingkan t hitung (observasi) ( th) dengan t tabel ( tt) pada = 0,05. apabila hasil pengujian menunjukan :
1) th tt maka Ho ditolak, Ha diterima
Artinya : - Variabel independent dapat menerangkan variabel dependent
- Ada pengaruh diantara dua variabel yang diuji.
2) th tt maka Ho diterima, Ha ditolak
Artinya : - Variabel independent tidak dapat menerangkan variabel dependent
- Tidak ada pengaruh diantara dua variabel yang diuji.
c. Uji pengaruh semua variabel independen di dalam model terhadap nilai variabel dependen (uji simultan).
Uji Simultan atau Uji f-statistik adalah untuk menguji keberartian koefisien regresi secara keseluruhan, dengan rumus hipotesis sebagai berikut :
Ho : b1= b2= b3= 0
Ha : b1 b2 b3 0
Pengujian melalui uji F atau variansinya adalah dengan membandingkan F hitung ( observasi / Fh) dengan F table ( Ft) pada a = 0,05. apabila hasil perhitungan menunjukan :
b1= b2= b3
1) Fh Ft maka Ha diterima
Artinya, variasi dari model regresi berhasil menerangkan variasi variabel independent secara keseluruhan, sejauh mana pengaruhnya terhadap variabel dependentnya.
2) FhFt maka Ho diterima, Ha ditolak
Artinya, variasi dari model regresi tidak berhasil menerangkan variasi variabel independent secara keseluruhan, sejauh mana pengaruhnya terhadap variabel independennya.
d. Persentase pengaruh semua variabel independen secara bersama-sama (simultan) terhadap nilai variabel dependen.
Pengukuran ini berguna untuk melihat kemampuan variabel independent dalam menerangkan variabel dependent dapat diketahui dari besarnya koefisien determinasi berganda (R2). Jika R2yang diperoleh dari hasil perhitungan semakin besar (mendekati satu), maka dapat dikatakan bahwa sumbangan variabel independent terhadap variasi variabel dependen semakin besar. Sebaliknya jika R2 semakin kecil (mendekati nol), maka dapat dikatakan bahwa sumbangan variabel independen terhadap variasi nilai variabel dependen semakin kecil. Hal ini berarti model yang digunakan semakin lemah untuk menerangkan variasi variabel independent. Secara umum dikatakan bahwa besarnya koefisien determinasi berganda ( R2) berada antara 0 dan 1 atau 0 R2 1.
Untuk mengetahui pengaruh yang paling besar diantara fasilitas dan pelayanan terhadap kepuasan konsumen digunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan :
Ej = Elastisitas ke-j
Bj = Koefisien regresi ke-j Y
j Bj X Ej
Xj = Rata-rata variabel independen ke-j
Y = Rata-rata variabel dependen
Pengaruh yang paling dominan ditunjukan oleh nilai Ej yang paling besar.
Hasil analisis dijadikan dasar pengajuan rekomendasi dan usulan penyempurnaan kebijakan program untuk tahun-tahun yang akan datang, terutama dari sisi kebijakan program dan implementasi di lapangan.
BAB III
DESKRIPSI OBJEK PENELITIAN
A. Deskripsi Wilayah
1. Keadaan Umum Kabupaten Pemalang
Kabupaten Pemalang merupakan salah satu dari 35 Kabupaten dan Kota di Propinsi Jawa Tengah yang terletak di kawasan pantai utara Pulau Jawa. Secara geografis Kabupaten Pemalang berada pada 1090 17’ 30” - 1090 40’ 30” Bujur Timur dan 80 52’ 30” - 70 20’ 11” Lintang Selatan dan mempunyai batas-batas wilayah sebagai berikut :
a. Sebelah Utara : Laut Jawa
b. Sebelah Selatan : Kabupaten Purbalingga c. Sebelah Timur : Kabupaten Pekalongan d. Sebelah Barat : Kabupaten Tegal
Secara administratif, Kabupaten Pemalang terbagi atas 14 Kecamatan dan 222 desa/kelurahan. Sedangkan luas secara keseluruhan Kabupaten Pemalang adalah 111.530 Ha yang sebagian besar berupa lahan kering seluas 72.836 Ha (65,31 persen) dan lahan persawahan seluas 38.694 Ha (34,69 persen).
Kabupaten Pemalang kondisi topografi yang bervariasi, mulai dari wilayah pantai dengan rata-rata ketinggian 1 – 5 meter di atas permukaan laut dan dataran rendah dengan rata-rata ketinggian 6 – 15 meter di atas permukaan laut di bagian utara.
Wilayah dataran tinggi dengan rata-rata ketinggian 16 – 212 meter di atas permukaan laut terletak di bagian tengah dan selatan. Sedangkan wilayah pegunungan dengan rata-rata ketinggian 212 - 925 meter di atas permukaan laut terletak di bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Purbalingga dan Kabupaten Tegal. Pemanfaatan tanah sebagian besar untuk pertanian tanaman pangan, perkebunan dan perikanan yakni seluas 59.105,032 Ha atau 51,26 persen dari luas wilayah. Sedangkan seluas 29.972,88 Ha (26 persen) merupakan areal hutan Negara dan hutan rakyat serta sisanya seluas
24.881,74 Ha (22,74 persen) digunakan untuk bangunan perumahan serta pekarangan, padang rumput dan lain-lain.
Berdasarkan jenis tanah, Kabupaten Pemalang terdiri atas tanah alluvial yang pada umumnya terdapat di dataran rendah, regosol batu-batuan pasir dan intermedier yang terdapat terutama di daerah perbukitan sampai pegunungan. Tanah letosol yang terdiri dari batu bekuan pasir banyak terdapat di daerah perbukitan dan wilayah pegunungan.
Sumber daya yang ada di Kabupaten Pemalang meliputi padi, sayur-sayuran, minyak astiri, melati emprit, perikanan tangkap dan budi daya, teh dan obyek wisata alam yang meliputi pantai, telaga, pemandian umum dan pegunungan. Selain sumber daya alam tersebut terdapat industri tekstil, tenun dan konveksi, di samping itu lokasi yang dihimpit 2 (dua) Kabupaten yang bergerak di sektor industri (Tegal dan Pekalongan) memberikan peluang bagi pengembangan sektor ekonomi di Kabupaten Pemalang.
Wilayah Kabupaten Pemalang beriklim tropis, dengan suhu udara rata-rata 260 - 280 Celcius. Curah hujan tercatat rata-rata sekitar 3.572 mm dalam setahun, dengan jumlah haru hujan 164 hari dalam setahun. Curah hujan terbanyak terjadi pada bulan Januari hingga April dan Nopember hingga Desember dengan rata-rata hari hujan sebanyak 20 hari sebulan. Sedangkan kelembaban udara terendah tercatat pada bulan September yaitu sebesar 76 persen dan tertinggi pada bulan Oktober sebesar 84 persen.
2. Keadaan Penduduk
Laju pertumbuhan penduduk di Kabupaten Pemalang dari tahun ke tahun meningkat, dengan rata-rata peningkatan 0,41 persen. Sedangkan jumlah penduduk di Kabupaten Pemalang pada tahun 2008 sebanyak 1.302.838 jiwa yang terdiri dari 643.489 orang laki-laki dan 659.349 orang perempuan (Data BPS Kabupaten Pemalang, 2008).
Memperhatikan data tersebut di atas, dapat diketahui bahwa penduduk usia produktif setiap tahunnya rata-rata sebesar 58 persen dari jumlah penduduk (asumsi usia produktif 15 – 59 tahun), dengan jumlah penduduk usia produktif rata-rata sebesar 58 persen tersebut diharapkan akan memberikan kontribusi positif dalam upaya peningkatan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kabupaten Pemalang khususnya Pajak Daerah.
B. Deskripsi KAMTIBMAS di Wilayah POLRES Pemalang
Wilayah hukum Polres Pemalang terdiri dari empat belas kecamatan yang berada dibawah tugas pengamanan dari seluruh jajaran sektor (POLSEK). Kantor Polres Pemalang berada di jalan Jenderal Soedirman 54 Pemalang. Polsek-polsek yang masuk dalam jajaran Polres Pemalang terdiri dari Polsek Pemalang, Polsek Taman, Polsek Petarukan, Polsek Ampelgading, Polsek Comal, Polsek Ulujami, Polsek Bodeh, Polsek Bantarbolang, Polsek Randudongkal, Polsek Moga, Polsek Belik, Polsek Watukumpul dan Polsek Warungpring.
Apabila dilihat dari struktur komando maka terlihat hierarki Kapolres Pemalang selaku pimpinan tertinggi terhadap jajaran dibawahnya. KAPOLRES bertugas Memimpin, membina dan mengawasi/mengendalikan satuan-satuan organisasi dalam lingkungan Polres serta memberikan saran pertimbangan dan melaksanakan tugas lain sesuai perintah Kapolda.
WAKA POLRESTA bertugas membantu Kapolres dalam melaksanakan tugasnya dengan mengendalikan pelaksanaan tugas-tugas staf seluruh satuan organisasi dalam jajaran Polres dan dalam batas kewenangannya memimpin Polres dalam hal Kapolres berhalangan serta melaksanakan tugas lain sesuai perintah Kapolres.
BAG OPS bertugas menyelenggarakan administrasi dan pengawasan operasional, perencanaan dan pengendalian operasi kepolisian, pelayanan fasilitas dan perawatan tahanan dan pelayanan atas permintaan perlindungan saksi/korban kejahatan dan permintaan bantuan pengamanan proses peradilan dan pengamanan khusus lainnya.
BAG BINAMITRA bertugas mengatur penyelenggaraan dan mengawasi/mengarahkan pelaksanaan penyuluhan masyarakat dan pembinaan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa oleh satuan-satuan fungsi yang berkompeten, membina hubungan kerja sama dengan organisasi/lembaga/tokoh sosial/kemasyarakatan dan instansi pemerintah, khususnya instansi Polsus/PPNS dan pemerintah daerah dalam kerangka otonomi daerah, dalam rangka peningkatan kesadaran dan ketaatan warga masyarakat pada hukum dan peraturan perundang-undangan, pengembangan pengamanan swakarsa dan pembinaan hubungan Polri – Masyarakat yang kondusif bagi pelaksanaan tugas Polri.
BAG MIN bertugas menyelenggarakan penyusunan rencana/program kerja dan anggaran, pembinaan dan administrasi personel, pelatihan serta pembinaan dan administrasi logistik.
UR TELEMATIKA bertugas menyelenggarakan pelayanan telekomunikasi, pengumpulan dan pengolahan data serta penyajian informasi termasuk informasi kriminal dan pelayanan multimedia.
UNIT P3D bertugas menyelenggarakan pelayanan pengaduan masyarakat tentang penyimpangan perilaku dan tindakan anggota Polri dan pembinaan disiplin dan tata tertib, termasuk pengamanan internal, dalam rangka penegakan hukum dan pemuliaan profesi.
TAUD bertugas melaksanakan ketatausahaan dan urusan dalam meliputi korespondensi, ketatausahaan perkantoran, kearsipan, dokumentasi, penyelenggaraan rapat, apel/upacara, kebersihan dan ketertiban serta urusan perbengkelan/pemeliharaan kendaraan roda 2 (dua) maupun roda 4 (empat) dan urusan persenjataan.
SPK bertugas memberikan pelayanan kepolisian kepada warga masyarakat yang membutuhkan, dalam bentuk penerimaan dan penanganan pertama laporan/pengaduan, pelayanan permintaan bantuan/pertolongan kepolisian, penjagaan markas termasuk penjagaan tahanan dan pengamanan barang bukti yang berada di Mapolres dan penyelesaian perkara ringan/perselisihan antar warga, sesuai ketentuan hukum dan peraturan/kebijakan dalam organisasi Polri.
SAT INTELKAM bertugas menyelenggarakan/membina fungsi Intelijen bidang keamanan, termasuk persandian, dan pemberian pelayanan dalam bentuk surat izin/keterangan yang menyangkut orang asing, senjata api dan bahan peledak, kegiatan sosial/politik masyarakat dan surat keterangan rekaman kejahatan (SKRK)/Criminal Record) kepada warga masyarakat yang membutuhkan serta melakukan pengawasan/pengamanan atas pelaksanaannya.
SAT RESKRIM bertugas menyelenggarakan/membina fungsi penyelidikan dan penyidikan tindak pidana, dengan memberikan pelayanan/perlindungan khusus kepada korban/pelaku, remaja, anak dan wanita, serta menyelenggarakan fungi identifikasi, baik untuk kepentingan penyidikan maupun pelayanan umum, dan menyelenggarakan koordinasi & pengawasan operasional dan administrasi PPNS, sesuai ketentuan hukum dan perundang-undangan.
SAT SAMAPTA bertugas menyelenggarakan/membina fungsi kesamaptaan kepolisian/tugas polisi umum dan pengamanan obyek khusus, termasuk pengambilan tidakan pertama di tempat kejadian perkara dan penanganan tindak pidana ringan, pengendalian massa dan pemberdayan bentuk-bentuk pengamanan swakarsa masyarakat dalam rangka pemeliharaan keamaan dan ketertiban masyarakat.
SAT LANTAS bertugas menyelenggarakan/membina fungsi lalulintas kepolisian yang meliputi penjagaan, pengaturan, pengawalan dan patroli, pendidikan masyarakat dan rekayasa lalulintas, registrasi dan identifikasi pengemudi/kendaraan bermotor, penyidikan kecelakaan lalulintas dan penegakan hukum dalam bidang lalulintas, guna memelihara keamanan, ketertiban dan kelancaran lalulintas.
POLSEKTA bertugas menyelenggarakan tugas pokok polri dalam pemeliharaan keamanan dan ketertiban masyarakat, penegakan hukum dan perlindungan, pengayoman dan pelayanan kepada masyarakat serta tugas-tugas Polri lain dalam wilayah hukumnya, sesuai ketentuan hukum dan peraturan/kebijakan yang berlaku dalam organisasi Polri.
Dalam hal situasi Kamtibmas di wilayah hukum Polres Pemalang sepanjang tahun 2008 secara umum berada dalam kondisi aman terkendali. Apabila dikategorikan
dalam dua kelompok tindak kejahatan, yaitu tindak kejahatan konvensional dan tindak kejahatan kontijensi, ternyata di wilayah hukum Polres Pemalang sepanjang tahun 2008 lebih didominasi kejahatan konvensional.
Tabel 3.1 Angka Kejadian Kejahatan di wilayah POLRES Pemalang tahun 2007/2008 Tahun 2007 JENIS KEJADIAN Tahun 2008
L S L S
239 208 JUMLAH KEJ/PEL 274 254
Sumber: Satreskrim, 2008
Mencermati data sebagaimana di atas terlihat adanya kecenderungan meningkat dalam tindak kejahatan konvensional. Jenis kejahatan konvensional yang dominan tersebut umumnya berasal dari curat (pencurian dengan pemberatan) dan curanmor (pencurian kendaraan bermotor). Rangkaian kasus yang dilaporkan itu (L) itu lebih banyak terselesaikan (S) pada tahun 2008 daripada tahun 2007. Adapun tindak kejahatan kontijensi tidak terlalu menonjol.
C. Deskripsi Responden
Penelitian Kajian Evaluatif Tindak kejahatan Konvensional dan Kejahatan Berdimensi Kontijensi di wilayah hukum Polres Pemalang ini memiliki responden dari
tiga kalangan, yaitu aparat POLRI, Tokoh Masyarakat dan Narapidana/Mantan Narapidana. Ketiga kategori responden itu mewakili dua karakteristik wilayah geografis di kabupaten Pemalang, yaitu karakteristik masyarakat pantai, dan masyarakat pegunungan.
1. Responden dari kalangan POLRI
Responden yang berasal dari kalangan POLRI didapat dari personil-personli polsisi yang ertugas di seluruh wilayah polsek di Polres pemalang. Jumlah total responden POLRI adalah 80 orang. Selain itu informasi juga didapat dari responden Kejaksaan negeri dan pengadilan Negeri Pemalang sebagai pelengkap.
a. Responden POLRI berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 3.2 Responden POLRI berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Prosentase
Laki-laki
Sumber: Data Primer Yang Diolah
Berdasarkan data di atas terlihat bahwa seluruh responden dari kalangan POLRI berasal dari kelompok laki-laki. Dalam kenyataannya proporsi personil POLRI berjenis kelamin laki-laki lebih besar daripada personil POLRI berjenis kelamin perempuan.
b. Responden POLRI berdasarkan Pendidikan
Tabel 3.3 Responden POLRI berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pendidikan Jumlah Prosentase
Sumber: Data Primer Yang Diolah
Berdasarkan data di atas terlihat bahwa sebagian besar responden dari kalangan POLRI berpendidikan SMA/SMK sebanyak 56,25%. Sebagian responden POLRI berasal dari jenjang pendidikan SMP sebanyak 31,25%. Sedangkan sebagian kecil responden Polri berpendidikan SD dan jenjang S1, yaitu sebesar 6,25%.
c. Responden POLRI berdasarkan Domisili
Tabel 3.4 Responden POLRI berdasarkan Domisili
Kecamatan Jumlah Prosentase
Sumber: Data Primer Yang Diolah
Mangacu pada data di atas terlihat bahwa sebagian besar responden dari kalangan POLRI berdomisili di kecamatan Taman yaitu sebanyak 19 orang (23,75%). Sisanya sebagian responden POLRI itu berasal dari kecamatan Pemalang sebanyak 10 orang (12,50%). Jumalh responden Polri dari wilayah-wilayah kecamatan lain lebih kecil. Hal ini dimungkinkan karena posisi kecamatan Taman dan Pemalang sebagai puast pemerintahan dan kegiatan ekonomi di kabupaten Pemalang.
2. Responden Dari Kalangan Tokoh Masyarakat
Responden yang berasal dari kalangan Tokoh Masyarakat didapat dari tokoh masyarakat dari seluruh wilayah di kabupaten Pemalang. Jumlah total responden Tokoh Masyarakat adalah 80 orang. Responden ini mewakili tokoh masyarakat dari kalangan pemuda, pemuka agama, dan pamongpraja.
a. Responden Tokoh Masyarakat berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 3.5 Responden Tokoh Masyarakat berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Prosentase
Laki-laki
Sumber: Data Primer Yang Diolah
Berdasarkan data di atas terlihat bahwa seluruh responden dari kalangan tokoh masyarakat berasal dari kelompok laki-laki. Kondisi ini menggambarkan figur laki-laki sebagai panutan masyarakat.
b. Responden Tokoh Masyarakat berdasarkan Pendidikan
Tabel 3.6 Responden Tokoh Masyarakat berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pendidikan Jumlah Prosentase
Sumber: Data Primer Yang Diolah
Berdasarkan data di atas terlihat bahwa sebagian besar responden dari kalangan tokoh masyarakat berpendidikan SMA/SMK sebanyak 50%. Sisanya sebagian responden tokoh masyarakat itu berasal dari jenjang pendidikan S1 sebanyak 18,75%. Kondisi ini menggambarkan tingkat pendidikan responden dari tokoh masyarakat relatif baik.
c. Responden Tokoh Masyarakat berdasarkan Pekerjaan
Tabel 3.7 Responden Tokoh Masyarakat berdasarkan Pekerjaan
Kecamatan Jumlah Prosentase
Sumber: Data Primer Yang Diolah
Mangacu pada data di atas terlihat bahwa sebagian besar responden dari kalangan tokoh masyarakat memiliki mata pencaharian atau pekerjaan sebagai wiraswasta yaitu sebanyak 37,50%. Sisanya sebagian responden tokoh masyarakat itu memiliki pekerjaan sebagai perangkat desa, yaitu sebanyak 25%.
Jumlah responden dari kelompok pekerjaan yang lain lebih kecil..
3. Responden dari kalangan Narapidana/Mantan Narapidana
Responden yang berasal dari kalangan Napi/Mantan Napi didapat dari mereka yang pernah mendapat putusan pengadilan atas tindak kejahatan pidana yang dilakukan, baik konvensional maupun kontijensi. Para mantan napi ini didapat dari lingkungan masyarakat di semua kecamatan. Sedangkan para napi didapat dari lingkungan Lembaga pemsyarakatan kabupaten Pemalang. Jumlah total responden napi/mantan napi seluruhnya adalah 80 orang.
a. Responden Napi/mantan Napi berdasarkan Jenis Kelamin
Tabel 3.8 Responden Napi/mantan Napi berdasarkan Jenis Kelamin
Jenis Kelamin Jumlah Prosentase
Laki-laki
Sumber: Data Primer Yang Diolah
Berdasarkan data di atas terlihat bahwa mayoritas responden dari kalangan napi/mantan napi berasal dari kelompok laki-laki yaitu sebesar 97,50%.
Adapun dari kelompok perempuan terdapat 2,5%. Responden perempuan ini masih berstatus napi di lembaga pemasyarakatan kabupaten Pemalang.
b. Responden Napi/mantan Napi berdasarkan Tingkat Pendidikan
Tabel 3.9 Responden Napi/mantan Napi berdasarkan Tingkat Pendidikan
Pendidikan Jumlah Prosentase
Sumber: Data Primer Yang Diolah
Berdasarkan data di atas terlihat bahwa sebagian besar responden dari Napi/mantan Napi berpendidikan SD sebanyak 43,75%. Sisanya sebagian responden Napi/mantan Napi itu berasal dari jenjang pendidikan SMA sebanyak 15,00%. Kondisi ini menggambarkan rendahnya tingkat pendidikan responden dari para napi/Mantan Napi.
c. Responden Napi/mantan Napi berdasarkan Pekerjaan
Tabel 3.10 Responden Napi/mantan Napi berdasarkan Pekerjaan
Kecamatan Jumlah Prosentase
Sumber: Data Primer Yang Diolah
Mangacu pada data di atas terlihat bahwa sebagian besar responden dari kalangan napi/mantan napi memiliki mata pencaharian atau pekerjaan sebagai buruh yaitu sebanyak 28,75%. Sisanya sebagian responden napi/mantan napi itu tercatat sebagai pengangguran, yaitu sebanyak 15%. Jumalh responden dari kelompok pekerjaan yang lain lebih kecil.
d. Responden Napi/mantan Napi berdasarkan Domisili
Tabel 3.11 Responden Napi/mantan Napi berdasarkan Domisili
Kecamatan Jumlah Prosentase
Luar daerah kab. Pemalang
4
Sumber: Data Primer Yang Diolah
Mangacu pada data di atas terlihat bahwa sebagian besar responden dari kalangan napi/mantan napi berdomisili di tiga wilayah kecamatan kota (pantura) yaitu kecamatan Ulujami (22,50%), kecamatan Taman (21,25%) dan kecamatan Pemalang (15,00%). Sisanya sebagian responden napi/mantan napi itu berdomisili di kecamatan-kecamatan lain.
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
A. Latar Belakang, Sebab-sebab dan Akar Permasalahan Terjadinya Tindak Pidana Kejahatan
Dalam usaha mewujudkan kesejahteraan dan kebahagiaan masyarakat, tanggung jawab pemerintah Republik Indonesia tidaklah semudah yang kita duga.
Banyaknya gangguan yang melanda kehidupan masyarakat. Berbagai ragam kejahatan yang dapat terjadi dan ditemui di masyarakat pada setiap saat maupun pada semua tempat. Para pelaku kejahatan selalu berusaha memanfaatkan waktu yang luang dan tempat yang memungkinkan untuk menjalankan aksinya. Tujuan yang ingin mereka capai hanya satu yaitu memperoleh benda atau uang yang diinginkan dengan kejahatannya.
Tindak pidana dan kejahatan yang semakin pelik dan rumit dengan dampak yang luas, dewasa ini menuntut penegak hukum oleh aparat yang berwenang menerapkan sanksi hukum dan kebijakan penegkalan yang tepat guna, sesuai hukum yang berlaku yang dampaknya diharapkan dapat mengurangi sampai batas minimum tindak pidana dan pelanggaran hukum. Penegakan hukum terhadap ketentuan undang-undang hukum pidana tujuannya untuk mendukung kesejahteraan masyarakat dengan menekan semaksimal mungkin adanya pelanggaran hukum dan tindak pidana yang merugikan masyarakat, baik moril maupun materiil bahkan jiwa seseorang.
Faktor-faktor yang melatarbelakangi Kejahatan , menurut Mulyana W.
Kusumah (1991) pada dasarnya dapat dikelompokkan kedalam 4 (empat) golonga n faktor, yaitu:
1. Faktor dasar atau faktor sosio-struktural, yamg secara umum mencakup aspek budaya serta aspek pola hubungan penting didalam masyarakat.
2. Faktor interaksi sosial, yang meliputi segenap aspek dinamik dan prosesual didalam masyarakat, yang mempunyai cara berfikir, bersikap dan bertindak individu dalam hubungan dengan kejahatan
3. Faktor pencetus (precipitating factors), yang menyangkut aspek individu serta situasional yang berkaitan langsung dengan dilakukannya kejahatan
4. Faktor reaksi sosial yang dalam ruang lingkupnya mencangkup keseluruhan respons dalam bentuk sikap, tindakan dan kebijaksanaan yang dilakukan secara melembaga oleh unsur-unsur sistem peradilan pidana khususnya dan variasi respons, yang secara
“informal” diperlihatkan oleh warga masyarakat.
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan metode wawancara mendalam (indepth interview) terhadap responden (anggota POLRI, tokoh masyarakat, dan Napi/amantan Napi) dengan substansi : sebab, latarbelakang dan akar masalah pelaku
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan dengan metode wawancara mendalam (indepth interview) terhadap responden (anggota POLRI, tokoh masyarakat, dan Napi/amantan Napi) dengan substansi : sebab, latarbelakang dan akar masalah pelaku